“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Kamis, 14 Maret 2019

At-Tuhfah - Ketinggian Alloh di atas Arsy-Nya

Penulis -hafidzahulloh- berkata:
Dimana Alloh?

Alloh ta'ala berfirman:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

"(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy" (QS Ta-Ha:5)
Dan firmanNya:
ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

"lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy" (QS Al-A'raf: 54)

Penjelasan:
Penulis -hafidzahulloh ta'ala- bermaksud dengan memasukkan bab ini untuk menetapkan ketinggian Alloh -azza wa jalla- di atas makhlukNya dan keterpisahanNya dari mereka serta beristiwa' di atas ArsyNya. Makna istiwa' yaitu على (tinggi) dan ارتفع (naik), صعد واستقر (naik dan menetap). Ini adalah perkataan yang dinukil dari salaf dan dari ahli bahasa. Dan tidak sahih dalam istilah bahasa kecuali ini.

Tentang ketinggian Alloh telah ditetapkan dalam Al Qur'an dan As Sunnah, akal, fithrah dan ijma' salaf (pendahulunya) umat ini.

✔ Adapun dari Al Qur'an:
Pertama: Bahwasannya Alloh ada di langit. Alloh ta'ala berfirman:
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

"Sudah merasa amankah kamu, pada Dia yang di langit" (QS Al-Mulk: 16)

Kedua: Alloh menjelaskan tentang fauqiyah (di atas seluruh makhlukNya). Alloh ta'ala berfirman:

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ

"Mereka takut kepada Tuhan yang (berkuasa) di atas mereka" (QS An-Nahl: 50)

Ketiga: Alloh menjelaskan tentang para malaikat yang naik padaNya. Alloh ta'ala berfirman:
تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ

"Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan" (QS Al-Ma'arij: 4)

Keempat: Al Qur'an turun dari sisiNya. Allah -ta'ala- berfirman:
تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

"(Al-Qur'an ini) diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang". (QS Fussilat: 2)

Kelima: (Nabi 'Isa -alaihis salam) Naik kepadaNya. Allah -ta'ala- berfirman:
بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ

"Tetapi Allah telah mengangkat Isa ke hadirat-Nya". (QS An-Nisa': 158)

Keenam: Bersemayam di atas 'Arsy. Alloh -ta'ala- berfirman:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

"(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy".(QS Ta-Ha: 5)

Ketujuh: Naik kepadaNya. Alloh -ta'ala- berfirman:
ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ

"Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik". (QS Fatir: 10)

Kedelapan: Lafadz Al-Aliyil A'la (Alloh Maha Tinggi). Alloh -ta'ala- berfirman:
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi" (QS Al-A'la: 1)
Dan firmanNya:
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

"dan Dia Mahatinggi, Mahabesar".(QS Al-Baqarah: 255)

✔ Dari As-Sunnah
Ketinggian Alloh 'azza wa jalla telah ditetapkan dengan As-Sunnah dengan tiga bentuk (pendalilan):

PERTAMA: Dengan perkataan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Telah tetap dalam kitab Shahihain bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
ألَّا تَأْمَنُونِي وَأَنَا أمِينُ مَنْ فِي السَماء
"Apakah kalian tidak beriman kepadaku padahal aku ini kepercayaan Dzat yang ada di langit" (HR Bukhari & Muslim)

Dan dalam kitab keduanya juga hadits Abu Hurairah bahwasannya rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:

لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ، كَتَبَ فِي كِتَابِه، فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ: إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي "

"Tatkala Alloh menciptakan makhluk, Dia telah menuliskan dalam kitabNya yang berada di sisiNya di atas 'Arsy: Sesungguhnya rahmatKu mendahului kemarahanKu".

KEDUA: Dengan perbuatan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam sebagaimana yang di dalam shahih Bukhari dari hadits Ibnu Abbas dan yang selainnya dalam khutbah wada' dan beliau bersabda di akhir khutbahnya:
الا هل بلغت؟ اللهم فاشهد
"Apakah aku sudah menyampaikannya (kepada kalian)? Ya Alloh, saksikanlah" (HR Bukhari)

Dan beliau berisyarat dengan jari telunjuknya ke langit. Dan di kitab ini juga tatkala datang seorang Arab Baduwi meminta diturunkan hujan kepada mereka maka beliau mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa:
اللهمَّ اسْقِنَا
"Ya Alloh turunkanlah hujan kepada kami".

KETIGA: Dari taqrir (ketetapan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam) sebagaimana yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim dari hadits Mu'awiyyah bin Hakam as-Sulamy bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bertanya (untuk menguji -pent) kepada budak perempuan: Dimana Alloh? Budak itu menjawab: Di langit. Lalu beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Merdekakanlah dia, karena dia seorang mukminah".

✔ Dari Fithrah yang selamat: hal itu karena hati para hamba difithrahkan untuk menetapkan sifat ketinggian bagi Alloh dan menghadapkan (hati) kepadaNya saat berdo'a. Alloh ta'ala berfirman:
ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ

"(sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah" (Ar-Rum: 30)

Dan dalam kitab Shahihain dari Abu Hurairah bahwa Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
كل مولود يولد على الفطرة
"Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fithah" (HR Bukhari & Muslim)

✔ Akal. Hal itu karena sifat al-'uluw (tinggi) adalah sifat yang sempurna secara akal sedangkan rendah adalah sifat yang kurang (sempurna). Berdasarkan kesepakatan akal bahwa kesempurnaan ditetapkan untuk Alloh.

✔ Ijma Salaf. Dan telah dinukilkan (tentang ijma' salaf -pent)lebih dari satu orang seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa para Salaf mereka ijma' menetapkan sifat 'uluw (tinggi) untuk Alloh.

Dari penjelasan ini maka menjadi jelas bahwa dakwahnya ahlul hulul wal ittihad (Alloh bersatu dengan makhlukNya) menyelisihi Al Qur'an, As Sunnah, Ijma', Akal dan Fithrah.

Note:
Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh- hal. 12-16.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)