“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Tampilkan postingan dengan label Fathul Majid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fathul Majid. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juni 2026

Fathul Majid 346-348: Takut Hanya Kepada Allah (bag 3) - Tafsir Surat Al 'Ankabut Ayat 10


Allah ta'ala berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ
"Dan di antara manusia ada sebagian yang berkata, "Kami beriman kepada Allah,” tetapi apabila dia disakiti (karena dia beriman) kepada Allah, dia menganggap cobaan manusia itu sebagai siksaan Allah" (QS Al Ankabut: 10)
Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata:
Allah ta'ala berfirman dalam rangka mengkhabarkan sifat-sifat suatu kaum yang mendustakan yang lisan-lisannya mengaku dirinya telah beriman namun iman itu tidak menetap kokoh di hati-hati mereka:
Bahwasannya jika datang ujian dan cobaan di dunia kepada mereka, mereka menganggap bahwa itu adalah   kemurkaan Allah kepada mereka sehingga mereka murtad (keluar) dari Islam. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: Yakni fitnahnya adalah mereka murtad dari agamanya jika mereka disakiti karena berada di jalan Allah".

Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata: Kondisi manusia tatkala diutus Rasul kepadanya ada dua keadaan:
Bisa jadi salah satunya berkata: 'Kami telah beriman' dan bisa jadi tidak mengatakan demikian. Bahkan tetap dalam keburukan dan kekufuran. Barang siapa berkata: Kami telah beriman, maka Rabbnya akan menguji, menimpakan cobaan, dan fitnah kepadanya. Fitnah adalah cobaan dan ujian agar terlihat orang yang jujur dan orang yang dusta. Adapun orang yang tidak berkata "Kami telah beriman", maka janganlah dia mengira bisa melemahkan Allah, bisa lepas dariNya, dan bisa mendahului ketetapanNya.
Barang siapa yang beriman kepada para Rasul, mentaatinya maka musuh-musuh para rasul akan memusuhinya, menyakitinya, dan dia akan diuji dengan hal yang menyakitinya. Namun barang siapa yang tidak beriman kepada mereka (para Rasul), tidak mau taat kepada mereka maka dia akan dihukum di dunia dan akhirat dan akan mendapatkan perkara yang menyakitkannya. Dan sakit ini lebih pedih dan lebih lama dari pada sakit karena mentaati para Rasul.
Maka setiap jiwa pasti akan merasakan sakit, baik yang beriman maupun yang tidak beriman. Akan tetapi orang yang beriman akan mendapatkan sakit di dunia pada permulaannya kemudian dia akan mendapatkan kesesudahan yang baik di dunia dan akhirat. Sedangkan orang yang berpaling dari iman maka dia akan mendapatkan kenikmatan pada awalnya kemudian dia akan merasakan sakit yang terus menerus.
Manusia tidak akan bisa hidup sendiri sedangkan manusia memiliki berbagai keinginan dan pandangan. Mereka menuntut dia untuk menyetujui keinginan dan pandangan tersebut. Jika dia tidak menyetujuinya, mereka menyakiti dan menyiksanya. Namun jika dia menyetujui mereka, dia akan tetap mendapatkan siksaan, kadang dari mereka dan kadang dari selain mereka. Seperti halnya orang yang memiliki Dien (agama) dan ketakwaan yang tinggal di tengah-tengah kaum fajir (banyak berbuat dosa dan maksiat) dan dzalim yang mereka tidak akan tenang melakukan perbuatan fajir dan dzalimnya kecuali kalau dia menyetujuinya atau mendiamkan mereka. Jika dia menyetujui mereka atau mendiamkan mereka, maka awalnya dia akan selamat dari kejahatan mereka. Kemudian mereka akan menguasainya dengan kehinaan dan siksaan yang berlipat ganda seperti siksaan yang pada awalnya dia takutkan jika mengingkari dan menyelisihi mereka.
Sekalipun dia bisa selamat dari mereka, tetap saja dia mendapat kehinaan dan hukuman dari selain mereka.
Sikap yang paling bijak dan tepat adalah sebagaimana yang disampaikan Ummul Mu'minin 'Aisyah radhiyallahu 'anha kepada Mu'awiyyah radhiyallahu 'anhu:
من أرضى الله بسخط الناس كفاه الله مئونة الناس، ومن أرضى الناس بسخط الله لم يغنوا عنه من الله شيئا
"Barang siapa yang mencari keridhaan Allah dengan dengan mendapat kemarahan manusia maka Allah akan mencukupinya dari urusan manusia. Namun barang siapa yang mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah, maka mereka tidak akan bisa membelanya di hadapan Allah sedikit pun "¹
Maka barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, dianugerahi bimbingan yang benar, dan dijaga dari keburukan dirinya, maka dia akan menolak untuk menyetujui perbuatan yang haram dan sabar atas gangguan musuh-musuhnya. Kemudian dia akan mendapatkan kesesudahan yang baik di dunia dan di akhirat sebagaimana yang didapatkan oleh para rasul dan pengikutnya.
Kemudian Allah ta'ala mengkhabarkan kondisi orang yang memasuki keimanan tanpa landasan ilmu yang kuat. Apabila dia disakiti di jalan Allah dia menganggap fitnah manusia kepadanya -berupa gangguan dan hal  tidak disukai yang ditimpakan kepadanya, berupa rasa sakit yang sudah pasti dialami oleh para rasul dan pengikutnya dari orang yang menyelisihinya- hal itu dijadikannya alasan untuk lari dan meninggalkan sebab yang membuatnya mengalami gangguan itu. Ujian manusia itu dia anggap seperti siksa Allah yang menjadikan orang-orang beriman lari dengan keimanannya.
Orang-orang beriman, karena sempurnanya pemahaman mereka, mereka lari dari pedihnya adzab Allah kepada iman dan mereka rela menanggung sakit yang sementara dan akan segera berakhir. Adapun orang ini, karena lemahnya pemahamannya, dia lari dari sakit yang ditimpakan musuh para rasul dengan menyetujui dan mengikuti mereka. Maka dia menghindari sakitnya siksa mereka menuju pedihnya siksa Allah. Dia jadikan sakitnya fitnah manusia yang ingin dihindari setara dengan adzab Allah.
Dia telah mengalami kerugian yang paling fatal karena dia berlindung dari teriknya matahari menuju api, dan lari sakit yang sesaat menuju pedih yang abadi. Jika Allah menolong tentara dan para waliNya dia berkata: Sesungguhnya aku bersama kalian. Dan Allah lebih mengetahui kemunafikan yang tersembunyi dalam dadanya" -Selesai.

Dalam ayat ini terdapat bantahan terhadap Murjiah dan Karamiyah. Sisi bantahannya: Bahwasannya tidak bermanfaat ucapan mereka: 'Kami beriman kepada Allah' karena mereka tidak bersabar terhadap gangguan dari orang yang memusuhinya karena Allah. Ucapan dan pembenaran tidak ada artinya tanpa amalan. Iman yang syar'i seorang insan tidaklah benar kecuali dengan terkumpulnya tiga hal: Pembenaran dengan hati dan amalan hati, ucapan dengan lisan, amalan dengan anggota badan. Ini adalah pendapat ahlus sunnah wal jamaah yang terdahulu maupun belakangan. Allah subhanahu wa ta'ala yang Maha Tahu.

Dalam ayat ini juga ada peringatan untuk takut terjatuh pada sikap mudahanah (berkompromi dengan mengorbankan atau menyembunyikan kebenaran demi mendapat ridha makhluk).  Orang yang terjaga adalah orang yang dijaga Allah.

https://shamela.ws/book/2386/364#p1

Senin, 25 Mei 2026

Fathul Majid 345-346: Takut Hanya Kepada Allah (bag 2) - Tafsir Surat At Taubah Ayat 18



Penulis berkata:
Allah ta'ala berfirman:
 إِنَّمَا یَعۡمُرُ مَسَـٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡیَوۡمِ ٱلۡـَٔاخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمۡ یَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ فَعَسَىٰۤ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ أَن یَكُونُوا۟ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِینَ 
"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk".[Surat At-Taubah: 18]

Allah ta'ala mengkhabarkan bahwa masjid-masjid Allah yang memakmurkannya hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, yaitu orang-orang yang beriman dengan hati-hati mereka, beramal dengan anggota badannya, dan mereka memurnikan rasa takut hanya kepadaNya bukan pada selainNya. Maka Allah ta'ala menetapkan sifat pemakmuran masjid bagi mereka setelah sebelumnya Allah meniadakan sifat itu dari orang-orang musyrik karena memakmurkan masjid adalah dengan ketaatan dan amal shalih. Adapun orang musyrik meski doa beramal namun amal mereka :
كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئاً
"perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi tidak ada apa pun" (QS An Nur: 39)
Atau
كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ
"perbuatan mereka seperti abu yang ditiup oleh angin keras pada suatu hari yang berangin kencang" (QS Ibrahim: 18)
Amalan yang seperti itu, ketiadaannya lebih baik baginya. Maka, tidak ada masjid yang benar-benar makmur kecuali dengan keimanan yang inti teragungnya adalah tauhid dengan amal shalih yang murni dari kotoran-kotoran syirik dan bid'ah. Semuanya ini masuk dalam sebutan iman yang sempurna menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah. 
Firman Allah:
وَلَمۡ یَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ
"Dan dia tidak takut kecuali hanya kepada Allah"
Ibnu 'Athiyyah berkata:
" يريد خشية التعظيم والعبادة والطاعة، ولا محالة أن الإنسان يخشى المحاذير الدنيوية، وينبغي أن يخشى في ذلك كله قضاء الله وتصريفه".
"Yang dimaksud adalah rasa takut yang disertai pengagungan, peribadahan, dan ketaatan. Adapun manusia maka tidak akan lepas dari takut terhadap bahaya-bahaya dunia. Namun dalam semua itu, sepatutnya yang dia takutkan adalah ketetapan dan pengaturan Allah"
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
الخوف عبودية القلب، فلا يصلح إلا لله، كالذل والإنابة والمحبة والتوكل والرجاء وغيرها من عبودية القلب
"Khauf (takut) adalah ibadah hati, hanya boleh ditujukan kepada Allah, sebagaimana merasa hina, kembali bertaubat, cinta, tawakkal, rasa harap, dan ibadah hati lainnya".

FirmanNya:
فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
"Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk".[Surat At-Taubah: 18]
Ibnu Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas -radhiyallahu 'anhuma: Ia berkata: 
إن أولئك هم المهتدون، وكل " عسى " في القرآن فهي واجبة
"Sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. Setiap kata عسى dalam Al Qur'an dalam Al Qur'an maknanya adalah wajib (pasti terjadi)".¹

Dan dalam sebuah hadits:
" إذا رأيتم الرجل يعتاد المسجد فاشهدوا له بالإيمان " قال الله تعالى: {إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِر ِ}
"Jika kalian melihat seorang laki-laki yang sering mendatangi masjid (dalam rangka ibadah) maka persaksikanlah dia memiliki iman. Allah ta'ala berfirman (yang artinya): Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian"² (Diriwayatkan Ahmad dan At Tirmidzi dan Al Hakim dari Abu sa'id Al Khudry)

Note:
1. Ibnu Katsir berkata: Ibnu Abbas berkata: Ini seperti firman Allah kepada nabiNya -shallallahu 'alaihi wa sallam- : 
عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا
"mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji"(QS Al Isra': 79) yaitu Syafaat. Muhammad bin Ishaq bin Yasar berkata: Kata وعسى dalam Al Qur'an jika dari Allah adalah pasti benarnya.
2. Dha'if. Ahmad (3/68, 76) dan at Tirmidzi : Kitabut Tafsir (3093): Bab wa min suratit Taubah. Al Hakim (1/212, 213, 2/332). Sanadnya lemah. Di dhaifkan Al Albany dalam Al Misykah (723) dan dhaiful Jami' (608).


https://shamela.ws/book/2386/362#p1

Jumat, 22 Mei 2026

Fathul Majid 344-345: Takut Hanya Kepada Allah (bag 1)


Allah ta'ala berfirman:

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang yang beriman. (QS Ali Imran: 176)
Khauf (takut kepada Allah) termasuk kedudukan agama yang paling utama dan paling mulia serta merupakan  ibadah yang paling mencakup jenis ibadah lainnya yang wajib mengikhlaskannya hanya untuk Allah ta'ala. 
Allah ta'ala berfirman:
وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ
"dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya." (QS Al Anbiya: 28)
Dan firmanNya:
يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ
"Mereka takut kepada Tuhan yang (berkuasa) di atas mereka"(QS An Nahl: 50)
 Dan firmanNya:
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ
"Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga."(QS Ar Rahman: 46)
Dan firmanNya:
فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ
"Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.”(QS An Nahl: 51)
Dan firmanNya:
فَلا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ
"Maka janganlah kalian takut pada manusia dan takutlah padaKu"(QS Al Maidah: 44)
Dan ayat-ayat semacam ini di Al Qur'an sangat banyak.

Khauf dari segi hakikatnya terbagi tiga:
PERTAMA:
Khauf Sirr (tersembunyi) yaitu takut kepada selain Allah berupa takut kepada berhala, Thaghut bahwa dia bisa menimpakan sesuatu yang tidak disukainya. Sebagaimana firman Allah ta'ala tentang kaum Nabi Hud alaihis salam bahwa mereka berkata:
إِنْ نَقُولُ إِلا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِ جَمِيعًا ثُمَّ لا تُنْظرُونِ
"Kami hanya mengatakan bahwa sebagian sesembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” Dia (Hud) menjawab, “Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku, dan saksikanlah, bahwa aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan, Selain-Nya, sebab itu jalankanlah semua tipu daya kamu terhadapku dan jangan kamu tunda lagi." (QS Hud: 54-55)
Allah ta'ala berfirman:
وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ
"Mereka menakut-nakutimu dengan sembahan-sembahan yang selain Dia?" (QS Az Zumar: 36)
Dan ini terjadi pada penyembah kubur dan berhala semisalnya. Mereka takut kepada benda-benda itu. Dan mereka menakut-nakuti Ahlu Tauhid dengannya jika ahlu tauhid mengingkari penyembahannya dan memerintahkan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah saja. Dan hal ini menghapuskan tauhid.
 
KEDUA:
Seseorang meninggalkan kewajiban yang dibenankan kepadanya karena takut kepada sebagian manusia. Ini terlarang. Ini termasuk salah satu bentuk syirik kepada Allah yang menghapuskan kesempurnaan tauhid. Dan inilah sebab turunnya ayat ini. Sebagaimana firman Allah ta'ala: 
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَاناً وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ
"(Yaitu) orang orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang yang mengatakan kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana dan mereka mengikuti keridaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar. Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya" (QS Ali Imran: 173-175)
Dan dalam riwayat hadits:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَ الْمُنْكَرَ أَنْ لَا تُغَيِّرَهُ؟ فَيَقُولُ: رَبِّ، خَشْيَةَ النَّاسِ. فَيَقُولُ: إِيَّايَ كُنْتَ أَحَقَّ أَنْ تَخْشَى.
"Sesungguhnya Allah ta'ala berkata kepada hambaNya pada hari kiamat: Apa yang menghalangimu ketika engkau melihat kemungkaran tidak mencegahnya?
Dia menjawab: Tuhanku, karena aku takut kepada manusia.
Allah berfirman: Padahal Aku-lah yang berhak engkau takuti"¹ ²

KETIGA:
Khauf Thabi'i (takut tabiat) yaitu takut kepada musuh atau binatang buas atau pun selainnya. Ini takut yang tidak tercela, sebagaimana firman Allah ta'ala dalam kisah Musa aalaihis salam.
فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفاً يَتَرَقَّبُ
"Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya)" (QS Al Qashash: 21)
Dan makna firmanNya: 
إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ
"Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya"
Yaitu menakut-nakuti kalian dengan teman-teman setianya.
فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ
"Maka janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kepadaKu "
Allah ta'ala melarang orang-orang beriman takut pada selainNya dan memerintahkan mereka untuk takut hanya kepada Allah sehingga mereka tidaklah takut kecuali hanya kepadaNya. Dan ini adalah ikhlas yang diperintahkan Allah kepada para hambanya dan Allah meridhai ini untuk mereka. Jika mereka memurnikan khauf dan seluruh ibadah maka Allah akan memberikan apa yang mereka inginkan dan akan menjadikan mereka aman dari ketakutan di dunia dan di akhirat. Ini sebagaimana firman Allah ta'ala: 
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ
"Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya? Mereka menakut-nakutimu dengan sembahan-sembahan yang selain Dia?" (QS Az Zumar: 36)
 
Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata: "Di antara tipu muslihat musuh Allah adalah dia menakut-nakuti orang-orang beriman dengan bala tentaranya dan teman-teman setianya adalah agar kaum mukminin tidak memeranginya, tidak memerintahkan kepada yang ma'ruf dan tidak melarang dari kemungkaran. Dan Allah ta'ala mengkabarkan bahwa ini adalah makar dan teror setan. Allah melarang kita agar kita tidak takut kepada mereka.
Beliau berkata:
Makna ayat ini menurut seluruh ahli tafsir yaitu menakut-nakuti mereka (orang mukmin) dengan para pengikutnya. Qatadah berkata: "Dia membesarkan mereka di dada-dada kalian"
Sehingga tatkala kuat keimanan seorang hamba maka hilanglah rasa takut kepada wali-wali setan dari hatinya. Dan tatkala lemah imannya maka menjadi kuat rasa takut kepada mereka.
Ayat ini menunjukkan bahwa memirnikan khouf termasuk syarat-syarat kesempurnaan iman.

Note:
1. Shahih. Ahmad (3/27, 29, 77), Ibnu Hibban (1845) dan Ibnu Majah dalam Kitabul Fitan: (4008); Bab Al Amru bil Ma'ruf wa An Nahyu 'anil Munkar dari riwayat Abu Sa'id Al Khudry dan dishahihkan Al albany dalam shahih Jami' (1814)
2. Riwayat Ibnu Majah dari Abu Sa'id dengan lafadz:
لا يحقر أحدكم نفسه; قالوا: يا رسول الله, كيف يحقر أحدنا نفسه؟ قال: يرى أمرا لله فيه مقال ثم لا يقول فيه، فيقول الله يوم القيامة: ما منعك أن تقول في كذا: كذا وكذا؟ فيقول: خشيت الناس. فيقول: فإياي كنت أحق أن تخشى
"Janganlah salah seorang di antara kalian merendahkan dirinya sendiri. 
Shahabat bertanya: Wahai Rasulullah,  bagaimana salah seorang di antara kami merendahkan dirinya?
Beliau bersabda: Dia melihat sesuatu yang berkaitan dengan hak Allah yang dia mampu untuk menyampaikan namun kemudian dia tidak mengatakannya. Maka Allah ta'ala berkata kepadanya pada hari kiamat: Kenapa engkau tidak menyampaikan dalam masalah ini: demikian dan demikian?
Dia menjawab: Karena takut kepada manusia.
Allah berkata: Padahal Aku lah yang paling berhak untuk ditakuti".
Hadits ini dibawakan oleh Ibnu Katsir ketika menafsirkan firman Allah dalam surat Al maidah:
(لعن الذين كفروا من بني إسرائيل على لسان داود وعيسى ابن مريم) . 


https://shamela.ws/book/2386/361#p1

Rabu, 13 Mei 2026

Fathul Majid 356-357: Bertawakkal Kepada Allah (bag 5)

Penulis berkata:
وعن ابن عباس -رضي الله عنهما- قال: " حسبنا الله ونعم الوكيل ". قالهاإبراهيم صلى الله عليه وسلم حين ألقي في النار، وقالها محمد صلى الله عليه وسلم حين قالوا له: {إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَاناً وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ} ١ رواه البخاري.
"Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: Ucapan "Hasbunallah wa ni'mal wakil" "Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung" diucapkan oleh Ibrahim -shallallahu 'alaihi wa sallam- tatkala dilemparkan ke dalam api. Dan juga diucapkan oleh Muhammad -shallallahu 'alaihi wa sallam- tatkala dikatakan kepada beliau: “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” (Ali Imran: 173)
[HR Bukhari]
Firman Allah 'حسبنا الله' yaitu Cukuplah Allah (sebagai penolong) sehingga kami bertawakkal hanya kepadaNya. Allah ta'ala berfirman:
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
"Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya?"(QS Az Zumar: 36)
Firman Allah: وَنِعْمَ الْوَكِيلُ yakni Allah adalah sebaik-baik yang diserahkan urusan kepadaNya. Sebagaimana firman Allah ta'ala: 
وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ
"Dan berpegang teguhlah kalian kepada Allah. Dialah Pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong" (QS Al Hajj: 78.
Kata yang dikhususkan dengan ni'ma نعم dihilangkan yang taqdirnya (perkiraannya) adalah huwa هو.
Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata:
 هو حسب من توكل عليه وكافي من لجأ إليه، وهو الذي يؤمن خوف الخائف، ويجير المستجير، فمن تولاه واستنصر به وتوكل عليه; وانقطع بكليته إليه تولاه وحفظه وحرسه وصانه. ومن خافه واتقاه، أمنه مما يخاف ويحذر، ويجلب إليه ما يحتاج إليه من المنافع

"Dia adalah pencukup orang yang bertawakkal kepadaNya dan penjamin bagi orang yang berlindung kepadaNya. Dialah yang memberi aman dari rasa takut orang yang ketakutan. Dia melindungi orang yang meminta perlindungan (kepadaNya). Maka barang siapa yang meminta perlindungan kepadaNya, minta tolong kepadaNya, bertawakkal kepadaNya, dan menyerahkan seluruh urusan kepadaNya niscaya dia akan mengurus, menjaga, memelihara dan melindunginya. Barang siapa yang takut dan bertaqwa kepadaNya maka Dia akan memberinya keamanan dari hal yang dia takutkan dan khawatirkan serta mendatangkan untuknya manfaat-manfaat yang dia butuhkan.

Ucapan Penulis: "Nabi Ibrahim -shallallahu 'alaihi wa sallam- mengucapkan kalimat ini tatkala dilemparkan ke dalam api". Allah ta'ala berfirman:
قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الأَخْسَرِينَ
Mereka berkata, "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.” Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi. (QS Al Anbiya: 68-70)

Perkataan Penulis: Nabi Muhammad -shallallahu 'alaihi wa sallam- mengucapkan kalimat ini tatkala orang-orang berkata:
إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَاناً وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
"Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” (Ali Imran: 173)
Dan itu terjadi setelah Quraisy dan pasukan sekutu pulang dari Uhud. Sampai berita kepada beliau bahwa Abu Sufyan dan orang yang bersamanya telah menghimpun pasukan lagi untuk menghadapi kaum muslimin. Maka Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- berangkat dengan 70 penunggang kuda hingga sampai di Hamraul Asad. Lalu Allah melemparkan rasa takut ke hati Abu Sufyan. Maka dia pun kembali ke Makkah bersama pasukannya.  Dan sekelompok kafilah Abdul Qais melewati mereka. Abu Sufyan berkata:  "Hendak kemana kalian?". Mereka menjawab: "Kami hendak ke Madinah". Dia berkata: "Maukah kalian menyampaikan pesan dariku untuk Muhammad?" Mereka menjawab: "Tentu". Abu Sufyan berkata: "Apabila kalian bertemu dengannya, kabarkan kepadanya kami telah bersepakat bergerak menyerangnya dan menyerang para shahabatnya untuk memusnahkan sisa-sisa mereka. Kafilah itu pun bertemu Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- ketika beliau ada di Hamraul Asad. Mereka menyampaikan perkataan Abu Sufyan. Maka beliau berkata: 
حسبنا والله ونعم الوكيل
"Cukuplah Allah (sebagai penolong) bagi kami dan Dia lah sebaik-baik pelindung".

Dalam dua kisah ini terdapat keutamaan kalimat yang agung ini dan merupakan perkataan dua orang khalilullah -'alaihimas shalatu wa sallam- dalam kondisi genting. Terdapat dalam hadits:
إذا وقعتم في الأمر العظيم فقولوا: حسبنا الله ونعم الوكيل 
"Jika kalian menghadapi persoalan yang besar maka katakanlah: Hasbunallah wa ni'mal wakil"¹

Dalam bab ini ada beberapa permasalahan:
1. Tawakkal termasuk perkara fardhu.
2. Tawakkal adalah syarat iman.
3. Tafsir surat Al Anfaal.
4. Tafsir ayat bagian akhirnya.
5. Tafsir surat At thalaq.
6. Agungnya kalimat ini, bahwa kalimat ini adalah perkataan Ibrahim dan Muhammad -shallallahu 'alaihi wa sallam- dalam kondisi genting.

Note:
1. Hadits dhoif (lemah). Diriwayatkan Ahmad (1/326) dan Ibnu Mardawaih dari Abu hurairah secara marfu' sebagaimana di Jami' Shaghir. Di dhaifkan Al Munawy dalam Faidhul Qadiir (1/455) dan didhaifkan Al albany dalam Dhaif Jami' (829).

https://shamela.ws/book/2386/374#p1

Selasa, 12 Mei 2026

Fathul Majid 355-356: Bertawakkal Kepada Allah (bag 4)

Penulis berkata:

Dan firman Allah ta'ala:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
"Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya" (At Thalaq: 3)

Ibnul Qayyim -rahimahullah- dan lainnya berkata: Yakni Allah akan mencukupinya. Barang siapa yang dicukupi dan dijaga Allah maka musuhnya tidak ada harapan untuk menguasainya, dan tidak dapat membahayakannya kecuali gangguan yang memang pasti menimpanya seperti panas, dingin, lapar, dan haus.
Adapun musuh mencelakakannya  sampai tercapai tujuannya terhadap dirinya, maka itu tidak akan terjadi. Perbedaan antara gangguan yang secara lahir menyakitkan namun sebenarnya adalah kebaikan dan bahaya bagi musuh itu sendiri, dengan gangguan yang benar-benar memuaskan keinginan musuh terhadapnya.
Sebagian Salaf berkata: "Allah menjadikan setiap amalan balasan tersendiri. Dan Allah jadikan balasan tawakkal kepadaNya, Allah sendiri yang akan mencukupinya.
Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
"Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya" (QS At Thalaq: 3).
Dan Allah tidak mengatakan: "Maka dia demikian dan demikian, dengan menyebutkan pahala sebagaimana firmanNya tentang balasan amalan-amalan lainnya.

Bahkan Allah -Subhanahu wa ta'ala-  sendiri yang pencukup, penjamin, dan pelindung hamba yang bertawakkal kepadaNya. Seandainya seorang hamba bertawakkal kepadaNya dengan sebenar-benarnya dan langit-langit dan bumi beserta penghuninya berbuat makar kepadanya, niscaya Allah jadikan untuknya jalan keluar, mencukupinya, memberi rezeki kepadanya, dan menolongnya. Selesai.
Dalam atsar yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al Zuhd dari Wahb bin Munabbih, dia berkata: "Allah 'Azza wa jalla dalam sebagian kitab-kitabNya:

"Aku bersumpah dengan kemuliaanKu, sesungguhnya barang siapa yang berlindung dan berpegang teguh kepadaKu, sedangkan seluruh langit beserta siapa yang ada di dalamnya dan seluruh bumi beserta siapa yang ada di dalamnya berusaha mencelakakannya, niscaya Aku jadikan baginya jalan keluar. Namun barang siapa yang tidak mau berlindung kepadaKu niscaya Aku putuskan kedua tangannya dari sebab-sebab langit, Aku benamkan bumi di bawah kedua kakinya sehingga dia mengambang di udara; kemudian aku serahkan dia kepada dirinya sendiri. Cukuplah Aku menjadi tempat kembali bagi hambaKu. Jika hamba mentaatiKu maka Aku akan memberinya sebelum dia minta kepadaKu; Aku kabulkan sebelum dia minta kepadaKu. Aku lebih mengetahui kebutuhan hamba yang lebih baik baginya dari pada dia sendiri".

Dalam ayat ini terdapat dalil keutamaan tawakkal, bahwa tawakkal adalah sebab terbesar dalam menarik manfaat dan menolak bahaya. Oleh karena Allah ta'ala mengaitkan antara kalimat akhir dengan yang awal berupa pengaitan balasan terhadap syarat maka tidak mungkin adanya syarat dianggap seperti tidak adanya. Sebab, Allah ta'ala mengaitkan hukum dengan kriteria yang sesuai dengannya. Maka diketahui bahwa tawakkalnya itulah sebab Allah mencukupiNya".
Di sini ada sesuatu yang perlu diperhatikan untuk melakukan sebab-sebab bersamaan dengan tawakkal. Sebagaimana firman Allah ta'ala:
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
"Bertaqwalah kalian kepada Allah, dan hanya kepada Allahlah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal" (QS Al Maidah: 11)

Allah sandingkan antara tawakkal dan taqwa yang merupakan pelaksanaan sebab-sebab yang diperintahkan. Tawakkal tanpa melakukan sebab yang diperintahkan adalah murni kelemahan meskipun hal itu masih ada unsur tawakkal. Maka tidak selayaknya seorang hamba menjadikan tawakkalnya sebagai malas-malasan dan menjadikan kemalasannya sebagai tawakkal. Bahkan hendaknya dia menjadikan tawakalnya sebagai bagian dari sebab-sebab yang tujuannya tidak akan tercapai kecuali dengan terkumpul keseluruhannya. Disebutkan Ibnul Qayyim secara makna.
https://shamela.ws/book/2386/373#p1

Fathul Majid 354-355: Bertawakkal Kepada Allah (bag 3)

Penulis Kitab Tauhid berkata:
Dan firman Allah ta'ala: 
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

"Wahai Nabi (Muhammad)! Cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu"(QS Al Anfal: 64)

Ibnul Qayyim rahimahulloh berkata:
أي الله وحده كافيك وكافي أتباعك، فلا تحتاجون معه إلى أحد". وهذا اختيار شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله.
"Yaitu, Allah saja yang akan mencukupimu dan mencukupi orang-orang yang mengikutimu. Maka tidaklah kalian mengharapkan kepada seorang pun selain Allah".
Pendapat ini menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah-. 
Allah ta'ala berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
"Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya" (At Thalaq: 3)
Ada yang mengatakan bahwa maknanya cukuplah Allah (yang menjadi penolong) bagimu dan juga cukuplah orang-orang yang mengikutimu (yang akan menjadi penolongmu).
Ibnul Qayyim rahimahulloh berkata:
"Ini kesalahan yang jelas. Tidak boleh membawa penafsiran ayat kepada makna ini. Karena sesungguhnya pencukupan dan pemenuhan kebutuhan itu hanyalah  untuk Allah saja seperti halnya Tawakal, taqwa, dan ibadah. Allah ta'ala berfirman (yang artinya): 'Dan jika mereka hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu. Dialah yang memberikan kekuatan kepadamu dengan pertolongan-Nya dan dengan (dukungan) orang-orang mukmin' (QS Al Anfal: 62)
 
Beda antara hasb (pencukupan)  dan ta'yīd (penguatan); bahwasannya hasb hanya Allah nisbatkan untuk diriNya saja, sedangkan ta'yīd Allah nisbatkan pada diriNya dengan pertolonganNya dan juga pada hamba-hambaNya. Dan Allah memuji kepada Ahli Tauhid dari para hambaNya karena telah mengesakan Allah dalam masalah hasb (pencukupan kebutuhan).
Allah ta'ala berfirman yang artinya: 

"(Yaitu) orang orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang yang mengatakan kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” (QS Ali Imran:  173)
Mereka tidak berkata: Cukuplah Allah dan rasulNya. Dan yang serupa dengan ini adalah firman Allah ta'ala:
"... dan mereka berkata, “Cukuplah Allah bagi kami, Allah dan Rasul-Nya akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya kami orang-orang yang berharap kepada Allah.” (QS Taubah: 59)
Maka perhatikanlah bagaimana Allah menjadikan 'pemberian' itu oleh Allah dan RasulNya sedangkan hasb (pencukupan) hanya untuk Allah saja. Allah tidak mengatakan: "Dan mereka berkata: Cukuplah bagi kami, Allah dan rasulNya, namun Allah jadikan hasb itu hanya untukNya saja.  Sebagaimana firman Allah ta'ala: Dan berharaplah hanya kepada Tuhanmu (QS Al Insyirah:8)
Sehingga Raghbah (berharap), tawakal, inabah, dan hasb hanya untuk Allah saja sebagaimana Ibadah, taqwa, sujud, nadzar, dan sumpah tidak boleh kecuali hanya untuk Allah -Subhanahu wa ta'ala- " -selesai perkataan beliau-.

Dengan demikian menjadi jelas korelasi antara ayat dengan judul bab ini. Jika Dialah yang mencukupi kebutuhan hambaNya maka wajib bertawakkal hanya kepadaNya. Kapan seseorang berpaling hatinya kepada selain Allah, maka Allah akan menyerahkan urusannya kepada yang ditawakalinya. Sebagaimana dalam hadits:
من تعلق شيئا وكل إليه
"Barang siapa yang bergantung kepada sesuatu, Allah akan menyerahkannya kepada sesuatu tersebut"

https://shamela.ws/book/2386/372#p1

Fathul Majid 353-354: Bertawakkal Kepada Allah (bag 2)


Allah ta'ala berfirman:
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinnya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal" (QS Al Anfal: 2)

Penjelasan:
Ibnu 'Abbas berkata tentang ayat ini: Orang-orang munafik tidak terdapat dalam hati mereka sedikit pun dari dzikir (ingat) kepada Allah ketika mengerjakan amalan-amalan fardhu. Mereka tidak beriman sedikit pun terhadap ayat-ayat Allah. Mereka tidak bertawakkal kepada Allah. Mereka tidak mengerjakan jika tidak ada yang melihat. Tidak mengeluarkan zakat dari harta mereka. Allah ta'ala mengkhabarkan bahwa mereka bukanlah orang yang beriman. Lalu Allah menyebutkan kriteria Orang-orang beriman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinnya"
Mereka mengerjakan kewajiban-kewajibannya.
Diriwayatkan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim.
Takutnya hati kepada Allah berkonsekwensi mengerjakan apa yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang Allah larang.
As Sudiy berkata:
الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ}
"Yaitu Orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinnya"
Seorang laki-laki yang ingin berbuat dzalim; atau berkeinginan untuk melakukan maksiat. Lalu dikatakan kepadanya: "Bertaqwalah kepada Allah!" Lalu hatinya pun menjadi gemetar (takut). Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Jarir.
Firman Allah ta'ala:
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً
"dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya"
Para shahabat radhiyallohu 'anhum, para Tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dari kalangan Ahlus Sunnah berdalil berdasarkan ayat ini dan ayat semacamnya tentang bertambah dan berkurangnya iman.
Umair bin Hubaib As Shahaby berkata:
إن الإيمان يزيد وينقص، فقيل له: وما زيادته ونقصانه؟ قال: إذا ذكرنا الله وخشيناه فذلك زيادته، وإذا غفلنا ونسينا وضيعنا فذلك نقصانه
"Sesungguhnya iman bertambah dan berkurang. Ditanyakan kepadanya: Bagaimana bertambah dan berkurangnya? Dia menjawab: Jika kita mengingat Allah kita takut kepadanya maka itulah bertambahnya. Jika kita lalai dan lupa serta mengabaikan maka itulah berkurangnya iman" (Diriwayatkan Ibnu Sa'id).
Al Mujahid berkata:
الإيمان يزيد وينقص وهو قول وعمل
"Iman itu bertambah dan berkurang dan iman adalah ucapan dan perbuatan"(Riwayat Ibnu Abi Hatim).
Dan Syafi'i,  Ahmad, Abu Ubaid dan yang selainnya -rahimahumullah- mengatakan adanya ijma' akan hal ini.
Firman Allah ta'ala:
وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
"dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal"
Yakni hati mereka bersandar kepada Allah dan mereka menyerahkan urusan-urusan mereka kepadaNya.  Mereka tidak berharap kepada selainNya dan mereka tidaklah menuju kecuali kepadaNya, dan mereka tidaklah menginginkan kecuali kepadaNya. Dia mengetahui bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan yang tidak Dia kehendaki tidak mungkin terjadi. Dialah saja yang mengatur kerajaanNya. Hanya Dia saja sesembahan yang berhak diibadahi yang tiada sekutu bagi-Nya.
Dalam ayat ini terdapat karakter mukmin sejati dengan tiga tingkatan di antara tingkatan-tingkatan ihsan, yaitu: Khouf (rasa takut kepada Allah), bertambahnya iman, dan bertawakkal kepada Allah saja. Tingkatan-tingkatan ini menuntut kesempurnaan iman dan terwujudnya amalan-amalan iman, yang batin maupun yang dzahir. Misalnya shalat, siapa yang menegakkan shalat dan menjaganya dan dia menunaikan zakat sebagaimana yang Allah perintahkan maka hal itu mengharuskan pelaksanaan kewajiban-kewajiban yang mampu dia kerjakan dan meninggalkan seluruh larangan. Sebagaimana firman Allah ta'ala:
إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
"Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuautan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain)" (QS Al Ankabut: 45).

https://shamela.ws/book/2386/371#p1

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)