“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Tampilkan postingan dengan label Tafsir Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir Qur'an. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 April 2020

Tafsir Surat Ali Imron ayat 133 - 136 Bagian 4

Tafsir QS Ali Imron Ayat 136
Firman Alloh -ta'ala_ selanjutnya:

أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

"Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal". (QS Ali Imron: 136)

* Lafadz أُولَٰئِكَ di sini adalah isim isyarat dan khitob. Isyarah dari lafadz 'ula' dan khitob dari huruf kaf. Dan harus kita ketahui bahwa dari sisi bahasa Arab bahwa isim isyarah tergantung pada musyaru ilaih (yang ditunjuk). Adapu kaf Khitob sesuai dengan mukhatab (yang diajak bicara). Lalu jika sesuai dengan mukhotob maka apakah tetap mufrod berfathah dan mabni dengan fathah, atau sesuai dengan mukhotob mudzakkar, muannats, tasniyah, jama' dan mufrod, atau tetap dengan fathah untuk mudzakkar secara mutlak meski jama' atau mutsanna?
Dalam masalah ini ada 3 bahasan dalam bahasa Arab:

PERTAMA: bahwasannya tetap fathah karena mukhotob adalah isim jenis. Jika engkau berkata: ذلك  engkau berbicara kepada dua orang. Artinya engkau berbicara kepada keduanya dari jenis laki-laki atau dari jenis manusia.

KEDUA: Fathah untuk mudzakkar secara mutak. Kasrah untuk muannats secara mutlak. Makna mutlak yaitu sesuai dengan tatsniyah, jama' dan mufrodnya.

KETIGA: ini yang paling fasih bahwasannya tergantung kepada yang diajak bicara secara mutlak. Jika mukhotob mufrod mudzakkar maka dengan fathah mufrod. Jika mutsanna dengan tastniyah. Jika jama' mudzakkar maka ditambah dengan mim. Jika jama' muannats maka bersambung dengan nun. Sebagaimana perkataan wanita: فَذَلِكُنَّ (QS Yusuf: 32)sebab dia (istri Aziz) berbicara kepada jamaah wanita. Dan perkataan Yusuf -alaihis salam-: ذَ‌ٰلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِى رَبِّىٓ ۚ (Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku).(QS Yusuf: 37) karena beliau berbicara kepada dua orang laki-laki. Dan perkataan Musa -alaihis salam-:  ذَ‌ٰلِكُمْ خَيْرٌۭ لَّكُمْ  "dan itu adalah lebih baik bagimu"(QS Al-Baqarah: 54) sebab beliau berbicara kepada jamaah laki-laki. Ini yang lebih tepat.
Di sini Alloh berfirman: أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ khitob kepada satu orang yaitu "mereka itulah wahai fulan (mukhottob)". Dan isyarah kepada jama' yaitu أُولَٰئِكَ "Orang-orang yang bertaqwa itu wahai fulan(mukhottob)".

* Makna جَزَاؤُهُمْ  yakni pahala mereka dan balasan atas amalan-amalan mereka adalah ampunan Robb mereka sehingga menjadi penyelamat dari neraka. -Dan وَجَنَّاتٌ (surga) - dengan ampunan itu mendapatkan yang diinginkan di surga yang penuh kenikmatan.

* Makna مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ yakni dimaafkan dan diampuni dosa-dosanya dan ditutupi dari para makhlukNya

* Makna وَجَنَّاتٌ (surga-surga)adalah bentuk jama' karana surga memiliki tingkatan-tingkatan yang banyak dan kedudukan yang berbeda-beda. Manusia berbeda-beda di dalamnya sesuai dengan amal-amal mereka. Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam- telah mengkhabarkan bahwa penduduk surga saling memandang kamar-kamar (di surga) sebagaimana kita melihat bintang kejora yang bekilauan di langit timur. Para shahabat bertanya: Ya Rasululloh, itu adalaah kedudukannya para nabi yang tidak didapatkan oleh selain mereka? Beliau mejawab: "Benar, demi yang jiwaku ditanganNya, (dan juga)para laki-laki yang beriman kepada Alloh dan membenarkan para Rasul"(HR Bukhari dan Muslim).
Inilah kedudukan mereka. Kami memohon karuniaMu, Ya Alloh. Ya Alloh jadikanlah kami termasuk golongan mereka.

Kedudukan ini manusia bertingkat-tingkat di dalamnya. Penghuni surga saling melihat kamar-kamar tersebut sebagaimana kita meihat bintang kejora yang berkilauan di langit timur. Sangat jauh sekali. Bukanlah di atas setinggi kepala-kepala mereka namun sangat jauh sekali.
Surga itu bertingkat-tingkat oleh karenanya (datang dengan lafadz) jama'. Dan yang paling tinggi adalah Firdaus karena di atasnya adalah Arsy Alloh -azza wa jalla-, letaknya di tengah-tengah surga, surga tertinggi dan darinya mengalir sungai-sungai surga. Alloh mensifatinya dengan jannah (taman surga) sebab di dalamnya terdapat berbagai macam kenikmatan yang tak pernah terbayangkan oleh angan. Surga adalah negeri yang esensi dan hakikatnya tidak mungkin bisa dijangkau oleh (akal)manusia sebab surga terlalu agung untuk bisa dijangkau oleh imajinasi kita. Alloh -ta'ala- berfirman:
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌۭ مَّآ أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍۢ
"Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang" (QS As-Sajdah: 17)
Alloh -ta'ala- berfirman dalam hadits Qudsi:
أعددت لعبادي الصالحين ماﻻ عين رأت وﻻ أذن سمعت وﻻ خطر على قلب بشر
"Aku telah sediakan bagi para hambaku yang sholih sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, belum pernah di dengar telinga dan tidak pernah terlintas di hati manusia" (HR Bukhari dan Muslim)

* Firman Alloh: جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا "surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai".
"Di bawahnya..." kata ulama: yaitu di bawah istana-istana dan pepohonan surga bukan dibawah tanah surga sebab seandainya di bawah tanahnya niscaya adanya di dasarnya. Namun sungai-sungai ini mengair di tanah dataran surga di bawah istana-istana dan pepohonannya. Dan telah datang riwayat bahwa sungai-sungai ini mengalir tanpa butuh parit dan selokan (diriwayatkan At-Thobrony dalam tafsirnya dari Masyruq dan para perawinya adalah tsiqah). Dalam hal ini Ibnul Qayyim-rahimahulloh- berkata dalam Nuniyahnya:
أنهارها في غير أخدود جرت ، سبحان ممسكها عن الفيضان
"Sungai-sungainya mengalir tanpa parit-parit;
Alloh -yang Maha Suci- menahannya agar tidak banjir"

Mengalir di atas tanah tanpa parit-parit yaitu irigasi namun megalir kemana pun diiginkan manusia.

FirmanNya: الْأَنْهَارُ  adalah jama' dari nahr. Alloh -ta'ala- telah menjelaskan dalam surat Muhammad bahwa sungai surga ada 4 macam:
فِيهَآ أَنْهَـٰرٌۭ مِّن مَّآءٍ غَيْرِ ءَاسِنٍۢ وَأَنْهَـٰرٌۭ مِّن لَّبَنٍۢ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُۥ وَأَنْهَـٰرٌۭ مِّنْ خَمْرٍۢ لَّذَّةٍۢ لِّلشَّـٰرِبِينَ وَأَنْهَـٰرٌۭ مِّنْ عَسَلٍۢ مُّصَفًّۭى ۖ
"di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring" (QS Muhammad: 15)

فِيهَآ أَنْهَـٰرٌۭ مِّن مَّآءٍ غَيْرِ ءَاسِنٍۢ
"di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya" yakni tidak menjadi payau berbeda dengan air di dunia yang terkadang menjadi payau atau berubah (rasa dan baunya). Air di dunia jika telah lama dan menggenang maka berubah. Ada pun air surga maka tidak berubag.

نٍۢ وَأَنْهَـٰرٌۭ مِّن لَّبَنٍۢ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ
"sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya" berbeda dengan susu di dunia yang menjadi berubah dan rusak jika telah lama.

وَأَنْهَـٰرٌۭ مِّنْ خَمْرٍۢ لَّذَّةٍۢ لِّلشَّـٰرِبِينَ
"sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya"
lezat karena;

لَا فِيهَا غَوْلٌۭ وَلَا هُمْ عَنْهَا يُنزَفُونَ
"Tidak ada dalam khamar itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya"(As-Shaffat: 47)
Tidak membuat pusing kepala dan tidak membunuh akal dan sangat lezat. Keempat:
وَأَنْهَـٰرٌۭ مِّنْ عَسَلٍۢ مُّصَفًّۭى

"sungai-sungai dari madu yang disaring" yakni sungai-sungai dari madu. Bukan dari madu tawon yang sebagiannya atau kebanyakannya bercampur lilin. Akan tetapi ini adalah dari madu yang telah dibersihkan.

*FirmanNya: خَالِدِينَ فِيهَا "mereka kekal di dalamnya"; yakni mereka tinggal di dalamnya sangat lama sekali. Dan dalam ayat yang lain menunjukkan bahwa kekalnya ini adalah kekal yang abadi. Para ulama Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa surga ini dikekalkan dengan kenikmatan yang ada di dalamnya.

* FirmanNya: وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ "Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal"
Ini adalah kalimat insyaiyah untuk sanjungan dan pujian. Pujian untuk pahala yang agung ini " أَجْرُ الْعَامِلِينَ" yakni pahala mereka. Alloh pemilik Anugerah dan kebaikan menjadikannya sebagai pahala agar manusia menjadi tenang mendapatkannya tatkala dibawakan balasannnya. Namun jika tidak demikian, maka anugerah itu adalah milik Alloh -azza wa jalla- awal dan akhirnya. Akan tetapi, Alloh memberikan anugerah kepada kita -alhamdulillah- untuk beramal, kemudian Alloh memberikan anugerah selanjutnya dengan pahala. Alloh berfirman:
هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَـٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَـٰنُ
"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)".(QS Ar-Rahman: 60)
Seakan-akan kita adalah orang-orang yang berbuat kebaikan secara mandiri. Apabila kita berbuat baik maka balasan akan baik untuk kita padahal Alloh -subhanahu wa ta'ala- yang membaguskan pahala itu untuk kita dari awal hingga akhir. Alloh -jalla wa 'ala- berfirman:
إِنَّ هَـٰذَا كَانَ لَكُمْ جَزَآءًۭ وَكَانَ سَعْيُكُم مَّشْكُورًا
"Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)".(QS Al-Insan: 22)
Subhanalloh!!! Alloh yang telah mengkaruniai kita beramal, memberi taufiq kepada kita, menolong kita untuk mengerjakan amalan tersebu kemudian Alloh memberi pahala kepada kita karenanya. Inilah, demi Alloh, Dia adalah Maha Pemberi Karunia dan Kebaikan, bagiNya segala pujian dan rasa syukur dipanjatkan.
FirmanNya:  وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ "Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal" yaitu orang-orang yang beramal untuk mendapatkan pahala yang agung ini.
FirmanNya:   وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ "Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal" kita katakan menurut i'rabnya: أَجْرُ adalah fa'il (pelaku). Dan yang dikhususkan dihilangkan taqdirnya:  وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ هو atau Al-Jannah (surga).

Faidah Ayat ini antara lain:
1. Penjelasan balasan bagi orang-orang yang bertaqwa bahwasannya balasan itu tidaklah bisa bayangkan manusia, sebab balasan itu lebih agung dari pada apa yang dibayangkan.
2. Bahwasannya balasan itu mencakup diperolehnya apa yang diharapkan dan dijauhkan dari hal yang dibenci. Ini disimpulkan dari firmanNya: الْمَغْفِرَةٌ (ampunan) dan الجنة (surga). Dengan ampunan dijauhkan dari perkara yang dibenci, dan dengan jannah (surga) diperoleh hal yang diharapkan.
3. Bahwasannya ampunan Alloh kepada seseorang adlah sebesar-besar pahala. Janganlah lalai untuk memperbanyak minta ampunan. Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- tatkala turun surat An-Nashr beliau memperbanyak dalam ruku' dan sujudnya dengan bacaan:
سبحانك اللهم ربنا وبحمدك اللهم اغفرلي
"Maha Suci Engkau ya Alloh, Tuhan kami. Dan dengan memujiMu ya Alloh ampunilah aku" (HR Bukhari dan Muslim)
4. Penjelasan keadaan surga-surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa dan yang digambarkan dengan firmanNya:  تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ "mengalir di bawahnya sungai-sungai" berupa nikmat yang agung.
5. Bahwasannya penduduk surga kekal di dalamnya, berdasarkan firmanNya:  خَالِدِينَ فِيهَا "mereka kekal di dalamnya". Dan dalil-dalil menunjukkan bahwa kekekalan ini abadi.
6. Besarnya pahala ini; sebab Alloh yang Maha Agung apabila memuji sesuatu menunjukkan agungnya sesuatu tersebut. Alloh -subhanahu wa ta'ala- adalah Maha Agung dan Dia telah memuji nikmat ini.
7. Penjelasan karunia Alloh -'azza wa jalla- kepada para hamba-hambaNya yang telah menjadikan balasan ini sebagai pahala yang diharuskan yang pasti akan didapatkan hamba.
Apabila ada yang berkata: Bagaimana kita mengkompromikan ayat-ayat ini dengan sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam:
لن يدخل أحدا عمله الجنة،قالوا: وﻻ أنت يارسول الله؟ قال: ﻻ وﻻ أناإﻻ أن يتغمدني الله بفضل و رحمة
"Amalan seseorang sekali-kali tidak akan bisa memasukkannya ke surga". Para shahabat bertanya "Tidak juga engkau wa hai Rasululloh?" Beliau menjawab: "Tidak. Bahkan tidak pula aku, kecuali karena Alloh melimpahkan karunia dan rahmatNya kepadaku" (HR Bukhari dan Muslim)
Sedangkan dzahir ayat yang kita bahas ini bahwa surga ini yang disediakan untuk mereka adalah sebagai balasan dan pengganti terhadap apa yang telah mereka kerjakan?

Jawaban dari pertanyaan ini kita katakan: bahwasannya perkataan Rasulullah -shollallohu 'alaihi wa sallam-: "Amalan seseorang sekali-kali tidak akan bisa memasukkannya ke surga" yakni sebagai bentuk imbalan yang setara; yakni bahwa pahalanya adalah sebagai pengganti amalannya. Adapun amal itu hanyalah di antara sebab-sebab (mendapatkan pahala); akan tetapi Alloh dengan karuniaNya menjadikan pahala tersebut sebagai penggantinya. Ini yang tepat. Maka amalan-amalan kita adalah sebab (mendapat pahala) meski seandainya dbandingkan dengan nikmat Alloh tidak ada apa-apanya. Seandainya engkau kumpulkan semua nikmat Alloh yang ada pada dirimu dan engkau sandingkan dengan amalanmu niscaya amalanmu sangatlah kecil sekali dan sama sekali tidak bisa menyamainya. Sebagian penyair berkata:
إذا كان شكري نعمة الله نعمة     عليَّ له في مثلها يجب الشكر
فكيف بلوغ الشكر إﻻ بفضله        وإن طالت الأيام واتصل العمر
"Apabila syukurku adalah nikmat Alloh yang menjadi nikmat bagiku,
maka syukurku ini adalah nikmat serupa yang mengharuskan syukur,
Bagaimana bisa syukur ini terealisasi kecuali dengan karuniaNya,
meskipun hari-hari telah berlalu dan telah habis usia"

Seandainya seseorang tertimpa sesak nafasnya niscaya dia akan mengorbankan apa pun yang dimiliki supaya hilang musibah itu. Demikian pula dengan kencing, buang air besar, pendengaran, penglihatan, dan lain sebagainya. Nikmat yang besar yang tidak sebanding dengan amalan.
Apabila engkau diberi taufiq untuk bersyukur maka syukurmu kepada Alloh adalah nikmat; karena Alloh -ta'ala- berfirman:
وَقَلِيلٌۭ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ
"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih" (QS Saba': 13)
Betapa banyak orang yang kufur atas nikmat Alloh. Kemudian jika engkau bisa bersyukur kepada Alloh, maka itu adalah nikmat yang butuh kepada syukur juga. Jika engkau diberi taufik untuk mensykuri syukurmu maka itu adalah nikmat ketiga yang membutuhkan syukur lagi dan demikian seterusnya, oleh karenanya penyair berkata:
"Bagaimana bisa syukur ini terealisasi kecuali dengan karuniaNya,
meskipun hari-hari telah berlalu dan telah habis usia"

Al Mushirru (orang yang terus menerus berbuat maksiat) yaitu orang yang tetap melakukan dosa dan seolah-olah dia tidak berdosa. Adapun manusia yang bertaubat kemudian dia dikalah oleh nafsunya di kemudian hari dan melakukan maksiat maka ini tidak (dikatakan) terus menerus berbuat dosa. Hal ini telah datang (hadits) dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
أن رجلا أذنب فاستغفر، ثم أذنب فاستغفر،ثم أذنب فاستغفر،ثم أذنب فاستغفر،فقال الله تعلى: علم عبدي أن له ربًّا يغفر الذنب ويأخذ به، قد غفرت لعبدي فليعمل ما شاء

"Sesungguhnya seseorang berbuat dosa lalu minta ampun kepada Alloh, kemudian berbuat dosa lagi lalu meminta ampun kepada Alloh, kemudian berbuat dosa lagi lalu meminta ampun kepada Alloh, kemudian berbuat dosa lagi lalu meminta ampun kepada Alloh; kemudian Alloh -ta'ala- berfirman: "Hambaku ini mengetahui bahwa dia memiliki Rabb (Tuhan) yang mengampuni dosa dan menyiksa karena dosanya. Sungguh aku telah mengampuni hambaku ini; silahkan dia melakukan sekehendaknya" (HR Bukhari dan Muslim)

Seseorang yang tatkala berbuat dosa lalu beristighfar (memohon ampunan), dan tatkala beristigfar dia mengulangi berbuat dosa maka tidaklah membatalkan taubatnya yang sebelumnya.
Seseorang yang bertaubat dari suatu dosa namun dia masih melakukan dosa yang lain apakah taubatnya ini diterima ataukah tidak?
Telah kami sebutkan bahwa pada permasalahan ini terdapat khilaf di antara para ulama -rahimahumulloh-. Di antara mereka ada yang berkata: Tidak diterima. Di antara mereka ada yang berpendapat: Ditrima secara mutlak. Dan ada yang berpenapat: Jika dosa yang masih dia lakukan dari jenis dosa yang dia bertaubat darinya, maka tobatnya tidak diterima. Namun jika bukan dari dosa yang sejenis maka diterima. Misal: Jika bertaubat dari menipu manusia saat jual beli namun dia masih menipu manusia saat sewa-menyewa maka tidak diterima taubatnya, sebab dua dosa ini dari satu jenis dosa meskipun berbeda tempat menipunya. Namun yang benar adalah bahwa taubatnya diterima jika dia bertaubat dari dosa meskipun dia masih melakukan dosa yang sama atau sama jenisnya. Namun dia tidaklah mendapatkan kesempurnaan sifat secara mutlak dalam pujian terhadap orang-orang yang bertaubat; yakni dia tidaklah termasuk pada firmanNya:
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّ‌ٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri" (QS Al-Baqarah: 222)
Hanya saja dikatakan: Ini adalah taubat yang muqayyad (terkait pada kondisi tertentu).


Sumber Rujukan dari Tafsir Syaikh Utsaimin dengan mengambil point-point yang kami anggap penting.
Abu Unais Pati

_Selesai_

Tafsir Surat Ali Imron ayat 133 - 136 Bagian 3

Tafsir QS Ali Imron Ayat 135

Kemudian Aloh ta'ala berfirman pada ayat berikutnya yaitu:
 وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui" (QS Ali Imran: 134)

Fahisyah(فَاحِشَةً)"perbuatan keji" adalah sesuatu yang dianggap fahisyah secara syar'i dan secara 'urf (kebiasaan) seperti zina dan homosex. Sebagaimana perkataan Luth kepada kaumnya:
  أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ
"Mengapa kalian mendatangi (melakukan) perbuatan fahisyah ini?"(QS Al-A'raf: 80).
Demikian pula menikahi wanita yang telah dinikahi bapaknya juga perbuatan fahisyah secara syar'i sebagaimana yang Alloh firmankan:
وَلَا تَنكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُم مِّنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۚ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). (QS An-Nisa': 22)
Dan demikian pula perbuatan ini adalah fahisyah secara adat. Namun dalam permasalahan pahala dan hukuman kembalinya adalah menurut syariat. Oleh karenanya sebagian ulama berkata bahwa maksudnya fahisyah adalah dosa-dosa besar.
Dan firmanNya: أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ "atau menzhalimi diri sendiri" maksudnya adalah dosa dibawah fahisyah yaitu dosa-dosa kecil.
Syaikh Utsaimin -rahimahulloh- berkata: "Terkadang ada orang yang bertanya: "Bagaimana mungkin seseorang mendzalimi diri sendiri? Seseorang (biasanya) mencegah kedzaliman yang akan mencederai dirinya. Lalu bagaimana mungkin seseorang mendzalimi diri sendiri?
Jawabnya kita katakan: "Setiap orang yang menyelisihi perintah Alloh dengan mengerjakan keharaman atau meninggalkan kewajiban adalah mendzalimi diri sendiri. Alloh -ta'ala- berfirman:
وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ
"barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri". (QS Ath-Tholaq: 1)
Kenapa? Karena jiwamu adalah amanah yang harus engkau jaga. Alloh telah mewasiatkan hal ini dalam firmanNya:
وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ
"Dan janganlah kamu membunuh dirimu" (QS An-Nisa': 29)
Dan firmanNya:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu" (QS At-Taubah: 36)
Alloh melarang membunuh jiwa dan mendzalimi diri sendiri karena itu adalah amanat bagimu.
Dan yang sesuai dengan hal ini kami bawakan perkataan ulama: Sesungguhnya Alloh lebih menyayangimu dari pada bapakmu, anakmu dan dirimu sendiri. Adapun Alloh menyayangimu dari bapakmu, Alloh berfirman:
يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ ۖ
"Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu". (QS An-Nisa': 11)
Alloh mensyariatkan para bapak dan ibu tentang pembagian harta warisan kepada anak-anaknya, dengan demikian Alloh lebih menyayangi mereka dari pada bapak-bapak mereka dan ibu-ibu mereka. Sebaliknya, Alloh lebih mencintaimu dari pada anak-anakmu. Alloh berfirman:
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ

"Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya". (QS Al-Ankabut: 8)
Adapun Alloh lebih menyayangimu dari pada dirimu sendiri, Alloh berfirman:
 وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ۚ
"Dan janganlah kamu membunuh dirimu" (QS An-Nisa': 29)
 وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ
" dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan" (QS Al-Baqarah: 195)
Dengan demikian kita katakan: Bentuk kedzaliman manusia kepada diri sendiri adalah karena jiwamu adalah amanah. Apabila engaka mengabaikan amanah ini dengan menceburkan dirimu kepada larangan Alloh atau mengabaikan terhadap kewajiban yang dibebankan Alloh kepadamu maka engakau telah mendzolimi dirimu"-selesai ucapan beliau-

Syaikh Nashir As-Sa'dy berkata dalam kitab tafsirnya: "Kemudian Alloh menyebutkan udzur mereka kepada Rabb mereka terkait kejahatan dan dosa-dosa mereka. Aloh berfirman:
والذين إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم
""dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri" (QS Ali Imran: 134)
Yakni mereka melakukan amalan-amalan keburukan yang besar (dosanya) atau pun yang lebih ringan dari itu; mereka bersegera bertaubat dan mohon ampun serta mengingat Rabb mereka, mengingat ancaman yang disediakan bagi orang-orang yang bermaksiat dan janji Alloh untuk orang-orang yang bertaqwa. maka mereka meminta kepada Alloh ampunan terhadap dosa-dosa mereka, penutup terhadap kekurangan-kekuragan mereka dengan meninggalkan dosa-dosa tersebut dan menyesalinya. Oleh karenanya Alloh berfirman:
ولم يصروا على ما فعلوا وهم يعلمون
"Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui" (QS Ali Imran: 134)

Firman Alloh: ذَكَرُوا اللَّهَ "Mereka mengingat Alloh"; yakni mereka mengingat Alloh dengan lisannya, dengan anggota badannya dan dengan hatinya.

Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahulloh- berkata dalam tafsirnya: "Adapun dzikir dengan hati maka tatkala mereka mengerjakan perbuatan keji atau mendzolimi diri sendiri; mereka ingat akan keagungan Alloh dan hukuman bagi orang- orang yang menyelisihi (perintahNya). Demikian pula mereka ingat akan rahmat Alloh dan pahala yang dijanjikan kepada orang-orang yang taat. ini adalah mengingat dengan hati. Apabila mereka ingat Alloh dengan makna awal, dalam artian mereka ingat akan keagunganNya, maka mereka takut akan hukumanNya dan menegakkan dalam rangka agamaNya menghindari siksaNya. Apabila mereka ingat Alloh dengan makna kedua yaitu ingat akan rahmat dan pahalaNya maka mereka berusaha melaksanakan syariatNya agar bisa sampai kepadaNya. Maka mengingat yang pertama sebagai bentuk menghindar (dari siksaNya) dan mengingat yang kedua sebagai bentuk pengharapan (rahmatNya). Seorang hamba yang berharap rahmatNya lebih utama kedudukannya dari pada yang menghindar (takut) dari siksanya. Para ulama berkata: Karena orang yang berharap ia memurnikan (pengharapannya) baik ketika yang diharap tidak hadir maupun ketika hadir. Sedangkan orang yang menghindar (siksaNya) dia memurnikannya ketika hadir yang ditakuti sedangkan ketika tidak hadir (yang ditakuti) dia tidak memperdulikannya. Dan bisa jadi hal ini diambil dari perkataan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
ان تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك
"Engkau beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatNya sesungguhnya Dia melihatmu".
Dan dzikir dengan lisan bisa jadi maksdunya adalah dzikir khusus seperti: Lailaha illalloh sebagaimana yang disebutkan oleh Setan bahwa dia berkata:
أهلكت بني آدم بالمعاصي، وأهلكوني بلا اه الا الله والإستغفار
"Anak Adam telah binasa dengan kemaksiatan-kemaksiatan. Dan mereka membinasakanku dengan ucapan Lailaha illalloh dan istighfar"

Maka dzikir kepada Alloh -tanpa diragukan- merupakan sebab-sebab diampuni dosa-dosanya. Maka mereka mengingat Alloh dengan lisan-lisan mereka dengan mengucapkan: lailaha illalloh -ucapan pemurnian-. Jika seseorang mengucapkannya dengan ikhlas maka Alloh akan mengampuninya. Dan demikian pula dzikir kepada Alloh dengan istighfar: Allohummaghfirli atau astaghfirulloh atau yang semisal dengannya.

Dan dzikir dengan perbuatan yaitu mereka mengerjakan amal-amal yang bisa menutup dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan ini. Diantaranya yaitu shodaqah; sesungguhnya nabi -shollallohu alaihi wa sallam- bersabda:
الصدقة تطفئ الخطيئة كما يطفئ الماء النار
"Shodaqah itu menghapuskan kesalahan-kesalahan sebagaimana air yang memadamkan api" (HR Tirmidzi & Ibnu Majah)
Demikian pula sholat; seseorang apabila berwudhu dan menyempurnakan wudhu'nya kemudian sholat 2 rekaat dengan khusyu' maka Alloh akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Dan firmanNya:  فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ "lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya" yakni kemudian mereka mengingat Alloh dan beristighfar atas dosa-dosanya; yaitu memohon ampunan kepada Alloh -subhanahu wa ta'ala- atas dosa-dosanya. Dan telah berlalu bagi kita bahwa maghfiroh yaitu ditutupinya dosa-dosa dan dimaafkan. Dan firmanNya لِذُنُوبِهِمْ Adz-Dzunub yaitu maksiat-maksiat dan dosa-dosa. Maka mereka memohon kepada Alloh -ta'ala- agar mengampuni maksiat-maksiat dan dosa-dosa mereka. Apabila manusia memohon ampun kepada Robb-nya dengan niat yang benar dan merasa butuh kepadanya maka Alloh -ta'ala- akan mengampuninya. Oleh karenanya Alloh berfirman:  وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ "dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?" Dan مَنْ adalah isim istifham dan bukan isim syarat. Dalil bahwa ini adalah isim istifham dan bukan isim syarat adalah karena fi'il setelahnya marfu' وَمَنْ يَغْفِرُ. Kemudian adatul istbat (kata penetapan) datang setelahnya yaitu kata إِلَّا. Oleh karenanya kita katakan: مَنْ adalah isim istifham dengan makna penafikkan. Dan yang menunjukan bahwa مَنْ bermakna penafikkan yaitu datangnya penetapan setelahnya yaitu إِلَّا اللَّهُ.

Jika ada yang berkata: Apa faidah dari penafikkan dengan bentuk istifham (pertanyaan)? Lalu kenapa ayatnya tidak seperti pada hadits Abu Bakar -radhiyallohu 'anhu- yang diajari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- ketika beliau bersabda:
اللهم إني ظلمت نفسي ظلما كثيرا وﻻ يغفر الذنوب إﻻ أنت
"Ya Alloh, sesungguhnya aku telah mendzalimi diriku dengan kedzaliman yang banyak dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau".
Dan ayat ini datang dengan firmanNya:
 وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ
"dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?"?

Maka kita katakan: Sebab penafikkan dengan bentuk istifham(pertanyaan) lebih dalam maknanya dari pada sekedar penafikkan. Jika ada penafikkan dengan bentuk istifham berkesan menantang. Seolah-olah orang yang bertanya berkata: "Datangkan kepadaku begini dan begini. Datangkanah seseorang kepadaku yang bisa mengampuni dosa selain Alloh -azza wa jala-. Sehingga istifham di sini menunjukkan kepada penafikkan yang mengesankan tantangan.

FirmanNya:
وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui"
FirmanNya: وَلَمْ يُصِرُّوا (Dan mereka tidak meneruskan) adalah athaf dari firmanNya: ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ ((segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya).
Makna  يُصِرُّوا yakni terus menerus dan tetap di atas dosa yang dia kerjakan, sebab orang yang meminta ampunan tidak mungkin meneruskan perbuatan dosanya. Dia berucap "Ya Alloh Ampunilah aku" sedangkan dia tetap pada maksiatnya; ini adalah olok-olokan dan ejekan. Oleh karenanya Alloh berfirman:مَا فَعَلُوا (perbutan yang dia kerjakan) dari perbuatan keji dan kedzoliman atas diri sendiri.

FirmanNya: وَهُمْ يَعْلَمُونَ (sedangkan mereka mengetahui).
Mengandung kemungkinan menjadi istisnaiyah dari وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا (Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu). Yakni,artinya ini datang sebagai kalimat baru. Maka maknanya: mereka ini mengetahui besarnya besarnya dosa-dosanya, dan mereka mengetahui agungnya Dzat yang dia maksiati. Oleh karenanya mereka tidak terus-menerus atas perbuatannya.
Mungkin juga adalah wawu sebagai haal, yakni: Mereka tidak terus menerus melakukan perbuatan dosanya dalam keadaan mereka mengetahui bahwa terus menerus meakukan dosa tidak akan mendapatkan ampunan.
Atau mereka mengetahui bahwa hal itu adalah dosa.
Ayat ini maknanya tidak lepas dari ketiga kemugkinan ini. Maka kita katakan berdasarkan kaidah bahwa ayat ini mengandung semua kemungkinan ini. Setiap makna yang terkandung dalam ayat dan tidak bertentangan di antara makna-maknanya maka wajib menerima seluruh maknanya. Jika makna-maknanya ada yang bertentangan maka dicari yang rajih (kuat); sebab tidak mungkin menggabungkan suatu makna tertentu dengan makna lain yang bertentangan.

Di antara faidah ayat yang mulia ini:
1. Bahwasannya orang yang bertaqwa itu tidak maksum dari berbuat fahisyah (kekejian) atau mendzalimi diri sendiri; sebab dalam ayat ini Alloh tidak berkata: Dan mereka tidak berbuat kekejian atau mendzalimi diri sendiri, bahkan Alloh berfirman:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ
"dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri"
Sehingga perbuatan fahisyah tidaklah menciderai ketaqwaan apabila pelakunya telah meminta ampunan dan bertaubat. Telah datang hadits dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bahwasannya beliau bersabda:
كل بني آدم خطاء وخير الخطائين التوابون
"Setiap anak adam pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat" (HR Ibnu Majah dan Ad-Darimi)
Dan telah shahih bahwa beliau -'alaihi sholatu wa sallam- bersabda:
 لو لم تذنبوا لذهب الله بكم، ولجاء بقوم يذنبون فيستغفرون الله فيغفر لهم
"Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Alloh akan melenyapkan kalian lalu mendatangkan suatu kaum yang mereka berbuat dosa lalu mereka meminta ampun kepada Alloh dan Alloh mengampuni mereka". (HR Muslim)
Jadi, yang jadi masalah bukanlah bagaimana seseorang tidak berbuat dosa sebab setiap orang pastilah berbuat dosa, namun yang jadi masalah adalah jika berbuat dosa segera kembali (bertaubat) kepada Alloh.
2. Bahwasannya dosa terbagi atas dua macam: fahisah dan yang di bawahnya. Berdasarkan firmanNya:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ
"dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri"
Dan أَوْ di sini menunjukkan tanwii'(ragam). Ini disepakati oleh para ulama bahwa dosa terbagi atas dosa kecil dosa besar. Namun apa definisi dikatakan dosa besar dan dosa kecil? Sebagian ulama berpendapat: bahwasannya dosa-dosa esar itu berbilang. Maka mereka mulai menghitungnya dengan mengatakan dosa besar pertama, dosa besar kedua, kesepuluh....sampai selesai sesuai dengan pengetahuannya tentang dosa-dosa besar.
Sebagian ulama lagi berkata: dosa-dosa besar itu terbatas dan tidaklah berbilang. Makna terbatasi yakni terkait pada sifat bukan pada jumlah. Mereka berkata misalnya: dosa yang ada hadnya di dunia, maka itu adalah dosa besar seperti zina, mencuri dan menuduh berzina. Setiap yang ada hukum had-nya di dunia maka itu adalah dosa besar. Dan setiap dosa yang menyebabkan terlaknat pelakunya adalah dosa besar, misal: "Alloh melaknat orang yang melindungi pelaku kejahatan"(HR Muslim). Misal lain: "Alloh melaknat pelaku suap dan yang disuap" (HR Ahmad) dan yang semisalnya.
Dan setiap dosa yang menyebabkan kemurkaan Alloh maka itu adalah dosa besar. Misalnya firman Alloh -ta'ala- tetang pembunuh:
و غضب الله عليه
"Dan Alloh murka kepadanya" (QS An-Nisa': 93)
Dan setiap dosa yang mendapat ancaman di akhirat dengan dikatakan: Barang siapa yang berbuat demikian maka dia di neraka, da yang semisalnya. Misal:
ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار
"Pakaian yang berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka" (HR Bukhari)

Dan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh-: Setiap yang menyebabkan hukuman secara khusus baik hukuman dunia maupun akhirat maka itu adalah dosa besar. Sedangkan larangan yang tidak disebutkan hukumannya maka itu doa kecil. Beliau berkata misalnya: Menipu adalah dosa besar; sebab Syari (yang menetapkan syariat ini) menjadikan hukuman yang khusus padanya. من غشنا فليس منا "barangsiapa yang menipu kami maka bukan termasuk golongan kami" (HR Muslim 101).
Menykiti tetangga termasuk dosa besar berdasarkan perkataan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره
"Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir maka janganlah ia menyakiti tetangganya"(HR Bukhari dan Muslim).
Batasan yang ditetapkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- ini masuk padanya dosa-dosa yang sangat banyak. Akan tetapi -tidak dipungkiri- bahwa apa yang dikatakan oleh beliau -rahimahulloh- bukanlah artinya bahwa dosa-dosa besar itu hanya satu tingkatan; bahkan dosa-dosa besar pun ada yang paling besar dan ada yang paling ringan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih: أﻻ أنبئكم بأكبر الكبائر "Maukah kamu aku tunjukkan dosa besar yang paling besar". Dengan demikian kita katakan: dosa terbagi atas dosa kecil dan dosa besar berdasarkan ayat ini. Kemudian, dosa-dosa besar ini berbeda-beda tingkatannya sesuai dengan dampak yang disebabkannya baik berupa dosa maupun kerusakan.

3. Cepatnya perhatian mereka ketika melakukan dosa-dosa; berdasarkan firmanNya:
إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ
"orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah"
mereka segera bertaubat. Dan bersegera bertaubat adalah sifatnya orang-orang ang bertakwa. Apakah ini wajib?
Jawabnya: Iya. Wajib segera bertaubat; sebab taubat jika datang ajal tidak akan diterima dan manusia tidak pernah tahu kapan ajalnya datang. Dengan demikian wajib bagi manusia bertaubat dari dosa-dosanya dengan segera dan tidak mengundur-undurnya.

4. Bahwasannya mengingat Alloh -azza wa jalla- menjadi sebab taubat dan kembali kepada Alloh; berdasarkan firmanNya:ذَكَرُوا اللَّهَ "mereka mengingat Alloh".

5. Bahwasannya mereka bersegera bertaubat dan permohonan ampun orang-orang yang bertaqwa untuk dosa-dosa mereka; berdasarkan firmanNya: فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ "lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya". Dan bercabang (pembahasan) berdasarkan faidah ini cacatnya kaum yang mengatakan: "Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun dan Maha Penyayang" namun mereka tidaklah memohon ampun kepada Alloh. Sesungguhnya sebagian orang yang berbuat dosa apabila engkau melarangnya dari dosanya, dia berkata: "Alloh Maha Pengampun dan penyayang" namun dia sendiri tidak minta ampun. Padahal orang-orang mulia mereka minta ampun kepada Rabb-nya bahkan Alloh memerintahkan Nabinya -'alaihis Sholatu wa sallam- untuk memohon ampun, maka bagaimana denganmu orang yang berada dibawah mereka. Alloh -ta'ala- berfirman:
 واستغفر لذنبك
"Mohonlah ampun kepada Rabb-mu" (QS Ghafir: 55)
وَٱسْتَغْفِرِ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا
"dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".(QS An-Nisa': 106)

6. Tidak ada seorang pun yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Alloh; berdasarkan firmanNya:
وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ
"dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?"
Dan bercabang pembahasan ini bahwa janganlah engkau bersandar kepada seorang pun dalam pengampunan dosa atau meminta ampunan. Dan hendaklah yang engkau tuju hanya Alloh -azza wa jalla-.


7. Bahwasannya penghulunya orang-orang yang bertaqwa tidaklah terus mnerus dalam melakukan perbuatan fahisyah(perbuatan keji) atau mendzalimi diri mereka sendiri dalam keadaan mereka mengetahuinya.

8. Bahwa seseorang apabila berbuat dosa kemudian mohon ampun, kemudian berbuat dosa lagi kemudian minta ampun, lalu berbuat dosa lagi lalu minta ampun maka Alloh mengampuninya meski berulang melakukan dosa karena Alloh berfirman:
 وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui"
dan Alloh tidak mengatakan: "Mereka tidak mengulangi perbuatan dosanya".
Manusia tatkala setiap kali berbuat dosa dia meminta ampun maka dia diampuni berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
 قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Az-Zumar: 53)
Dan haruslah tidak memohon ampun dengan lisannya sedaangkan hatinya menyelipkan keinginan untuk mengulangi. Jika demikian keadaannya maka permintaan ampunannya tidak bermanfaat baginya. Namun hendaklah istighfarnya dengan sebenar-benarnya dengan hati dan lisannya. Manusia mungkin saja terkalahkan oleh nafsunya pada waktu yang akan datang sehingga dia berbuat maksiat sedangkan dia telah memohon ampun dari dosanya itu. Maka kita katakan: meskipun engkau telah berbuat dan meskipun terulang perbuatan dosa itu pada dirimu selama engkau memohon ampun maka Alloh -ta'ala- akan mengampunimu.

9. Celaan pada orang yang terus menerus dalam perbuatan dosa sangkan dia mengetahuinya; berdasarkan firmanNya:
 وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui"
dan Alloh tidak mengatakan: "Mereka tidak mengulangi perbuatan dosanya".
Oleh karenanya para ulama berkata: "Sesungguhnya terus menerus melakukan kemaksiatan kecil akan menjadikannya besar karena terus menerusnya dia di atas dosa menunjukkan akan peremehannya terhadap yang dimaksiati (Alloh -ta'ala).

Bersambung ...

Sumber Rujukan dari Tafsir Syaikh Utsaimin dengan mengambil point-point yang kami anggap penting.
Abu Unais Pati






Tafsir Surat Ali Imron ayat 133 - 136 Bagian 2

Tafsir QS Ali Imron Ayat 134
Kemudian Alloh -ta'ala- menyebutkan sifat-sifat mereka:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ * وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ *
أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
"(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,
dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.
Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal". (QS Ali Imron: 134 - 136)

Sifat pertama mereka الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ "(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit". Infaq di sini disebutkan secara umum; tidak disebutkan infaq berupa apa dan kepada siapa. Sehingga infaq mencakup apa pun yang bisa diinfaqkan; bisa berinfaq dengan barang seperti pakaian ataupun dengan harta seperti uang ataupun dengan menghutangi orang yang membutuhkan; atau dengan kedudukan yang dia miliki dan lain sebagainya. Dalam kondisi lapang mereka memberikan infaqnya dan dalam kondisi sempit pun mereka juga berinfaq dan tidak meremehkan keaikan sekecil apa pun.
Kemudian, kepada siapa dia berinfaq? Alloh sebutkan dalam ayat yang lain:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ
"Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan".(QS Al-Baqarah: 215)

Bahkan memberikan suapan di mulut istrinya juga merupakan infaq, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
واعلم أنك لن تنفق نفقة تبتغي بها وجه الله الا أجرت عليها حتى ما تجعله في فم امرأتك
"Ketahuilah, sesungguhnya engkau tidaklah berinfaq dengan suatu infaq yang engkau harapkan wajah Alloh dengannya kecuali pasti engkau akan diberi balasan sampai pun suapan yang engkau berikan dimulut istrimu" (HR Bukhari)

Bahkan dalam kodisi yang sangat sulit seseorang tetap berinfaq untuk keluarganya, atau istrinya bahkan untuk dirinya sendiri.

Kemudian sifat orang yang bertaqwa selanjutnya: وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ "Dan orang-orang yang menahan amarahnya".
Al-ghoidz adalah puncak kemarahan; yaitu seseorang yang apabila sedang marang dengan kemarahan yang meletup-letup bisa menahan dirinya dan memenjarakan amarahnya.
Berapa banyak orang yang tidak bisa mengendalikan diri di kala marah. Ada di antara mereka yang mentalak istrinya, mencabik-cabik dirinya, menjatuhkan dirinya dari tempat yang tinggi dan sebagainya. Kemarahan adalah bara api syaitan yang dilemparkan ke dada anak adam. Dalam kondisi marah yang amat sangat maka seseorang tidak berlaku hukum baginya karena apa yang dia lakukan diluar kendali akalnya. Misalnya, tidak jatuh talak kepada istrinya ketika kondisinya sedang marah seperti ini.

Sifat selanjutnya yaitu: وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ "dan memaafkan (kesalahan) orang lain". Syaikh Utsaimin -rahimahulloh- emberikan penjelasan tentang ayat ini dengan mengatakan: "Memaafakan yaitu tidak memberikan hukuman terhadap kesalahan. Maksudnya, bahwa mereka ini jika ada orang menyakiti dirinya maka dia membalasnya dengan memberikan maaf. Dan yang lebih baik lagi adalah membalasnya dengan kebaikan dengan syarat dia (orang yang disakiti) memiliki keampuan untuk membalasnya. Ada pun orang yang yang memaafkan tanpa memiliki kemampuan untuk membalasnya, maka ini pemaafan dari orang yang lemah yang tidak dipuji atasnya. Bahkan pemberian maaf semacam ini adalah kelemahan yang tercela".
Lafadz ayat ini umum namun keumumannya tidak mutlak. Adakalanya kesalahan seseorang terkait dengan hak Alloh. Misal kasus perzinaan; tidak bisa seseorang yang berzina hanya minta maaf kepada si korban atau keluarganya karena Alloh ta'ala berfirman:
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ

"Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah"(QS An-Nuur: 2)

Adapun kesalahan yang berhubungan dengan hak manusia yang tidak ada keterkaitan dengan hak Alloh maka ini juga perlu dilihat. Jika memaafkannya ada maslahatnya maka memberikan maaf adalah lebih baik, namun jika dengan memberikan hukuman lebih bermaslahat maka memberikan hukuman adalah lebih baik. Namun jika sama-sama tidak memberikan konsekwensi apa-apa antara memberi maaf dan menjatuhkan sanksi maka memberi maaf adalah lebih baik. Dan perlakuan ini berlaku umum, baik untuk muslim maupun kafir selama bukan kafir harbi.

Dan firmanNya: وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ  "Dan Alloh mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan" yaitu orang-orang yang berbuat baik kepada manusia.
Syaikh Nashir As-Sa'dy dalam tafsirnya mengatakan terkait ayat ini:
 والإحسان نوعان: الإحسان في عبادة الخالق. [والإحسان إلى المخلوق، فالإحسان في عبادة الخالق]. فسرها النبي ﷺ بقوله: "أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك" وأما الإحسان إلى المخلوق، فهو إيصال النفع الديني والدنيوي إليهم، ودفع الشر الديني والدنيوي عنهم، فيدخل في ذلك أمرهم بالمعروف، ونهيهم عن المنكر، وتعليم جاهلهم، ووعظ غافلهم، والنصيحة لعامتهم وخاصتهم، والسعي في جمع كلمتهم، وإيصال الصدقات والنفقات الواجبة والمستحبة إليهم، على اختلاف أحوالهم وتباين أوصافهم، فيدخل في ذلك بذل الندى وكف الأذى، واحتمال الأذى، كما وصف الله به المتقين في هذه الآيات، فمن قام بهذه الأمور، فقد قام بحق الله وحق عبيده.

"Ihsan ada dua macam yaitu ihsan dalam peribadahan kepada Al-Kholiq dan ihsan kepada makhluk. Ihsan dalam beribadahan kepada Al-Khalik sebagaimana yang dijelaskan oleh nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-
أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك
"Yaitu engkau beribadah kepada Alloh seakan akan engkau melihatNya dan jika engkau tidak bisa maka sesungguhnya Dia melihatmu"(HR Bukhari dan Muslim).
Adapun ihsan kepada makhluk yaitu memberikan manfaat diniyyah maupun dunyawiyah kepada mereka; mencegah keburukan diniyah dan duniawiyah dari mereka. Termasuk di dalamnya memerintahkan mereka kepada yang ma'ruf dan mencegah mereka dari yang munkar, mengajari mereka yang bodoh, mengingatkan yang lalai, memberikan nasehat kalangan awamnya maupun khususnya, berupaya menyatukan kalimat mereka, menyampaikan shodaqoh dan infak baik yang wajib maupun yang sunah kepada mereka; dengan segala keragaman keadaan mereka dan perbedahan sifat-sifat yang ada pada mereka. Termasuk pula di dalamnya bersungguh-sungguh mengupayakan kebaikan bagi mereka, menolak gangguan dan (mencegah) kemungkinan adanya gangguan bagi mereka; sebagaimana yang disifatkan oleh Alloh mengenai keadaan orang-orang yang bertaqwa dalam ayat-ayat ini. Barang siapa yang menegakkan perkara-perkara ini maka ia telah menegakkan hak Alloh dan hak hambaNya" -selesai-

Syaikh Utsaimin -rahimahullah- menyebutkan beberapa faidah dari surat Ali Imron ayat 134 yang saya ringkas sebagai berikut:

1. Keutamaan infaq dalam segala kondisi; berdasarkan firman Alloh ta'ala:
 الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ
"(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit"; Infaq tidak harus kepada orang lain bahkan infaq kepada dirinya sendiri pun terhitung sedekah.

2. Pujian kepada orang yang berinfaq di saat lapang dan sempit. Seseorang yang berinfak disaat lapang maka ini mudah baginya namun berinfaq di saat sempit maka ini menunjukkan akan harapannya untuk mendapatkan pahala.

3. Selayaknya bagi manusia untuk bisa menahan diri dari amarah sebab yang demikian itu termasuk ciri-ciri penghuni surga.

4. Anjuran memberikan maaf kepada manusia jika ada maslahatnya.

5. Penetapan sifat mahabbah (cinta) bagi Alloh -azza wa jalla- bahwa Alloh mencintai (sesuai dengan keagunganNya kepada siapa yang dikehendakiNya).

6. Anjuran untuk berbuat baik berdasarkan firman Alloh yang artinya :"Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berbuat baik". Jika setiap orang mengetahui bahwa Alloh mencintai perbuatan baik maka ia akan berbuat ihsan dan mengutamakan perbuatan baik dan akan bersemangat padanya; sebab kecintaan Alloh kepada hambaNya adalah puncak yang diharapkan hamba.

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi". (QS Ali Imron: 31)
Puncaknya adalah bahwa Alloh akan mencintaimu; sebab perkara yang terpenting adalah Alloh mencintaimu.

Bersambung ...

Sumber Rujukan dari Tafsir Syaikh Utsaimin dengan mengambil point-point yang kami anggap penting.
Abu Unais Pati



Tafsir Surat Ali Imron ayat 133 - 136 Bagian 1

Tafsir QS Ali Imron Ayat 133

Alloh -ta'ala- menurunkan Al-Qur'an kepada Rasululloh -sholallohu 'alaihi wa sallam- agar beliau menjelaskan kepada manusia jalan-jalan kebenaran dan memperingatkan mereka dari jalan-jalan kesesatan. Dengan Al-Qur'an, beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- mengentaskan manusia dari kegelapan kepada cahaya Rabb-Nya, membawa mereka dari kesesatan kepada petunjuk, mengeluarkan mereka dari kebodohan kepada agama Alloh yang lurus. Ini semua sebagai bentuk kasih sayang Alloh kepada para hambaNya yang tidak membiarkan mereka begitu saja setelah diciptakan, namun mereka diarahkan dan dibimbing agar  bisa meraih keselamatan dan kebahagiaan dalam kehidupan dunia dan kehidupan akhirat kelak.

Alloh -ta'ala- dalam firman-firmanNya menyeru manusia agar mereka mempersiapkan bekal kepada kehidupan setelah kematian dan memperingatkan mereka agar tidak tertipu dengan fatamorgana dunia yang melalaikan.


وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ *
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ * وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ *
أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,
(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,
dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.
Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal". (QS Ali Imron: 133 - 136)

Penjelasan Ayat:
Alloh ta'ala berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
""Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa". (QS Ali Imron: 133)
Syaikh Nashir As-Sa'dy -rahimahulloh- mengatakan: "Kemudian Alloh -ta'ala- memerintahkan mereka agar bersegera menuju ampunannya dan meraih surganya yang lebarnya selebar langit-langit dan bumi; -bagaimana pula panjangnya?- yang telah Alloh persiapkan untuk orang-orang yang bertaqwa. Merekalah pemiliknya dan amal ketaqwaan adalah wasilah untuk meraihnya".

Syaikh Utsaimin -rahimahulloh- menjelaskan bahwa makna maghfirah dalam ayat di atas bisa bermakna istighfar atau bermakna amal shalih. Bermakna istighfar misalnya dengan mengucapkan astaghfirolloh (Aku memohon ampun kepada Alloh) ataupun Allohummaghfirly (Ya Alloh ampunilah aku) dan lafadz-lafadz yang semisalnya. Ada pun amalan sholih karena dengan amalan shalih tersebut Alloh menghapuskan dosa-dosa; misal sholat lima waktu, dari satu jumat ke Jum'at berikutnya, dari satu Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, dari umrah ke umroh berikutnya. Dan amalan shalih menghapus amalan buruk.

Sedangkan Jannah (surga) adalah negeri yang dipersiapkan oleh Alloh untuk para wai-walinya dari kalangan orang-orang beriman dan bertaqwa. Suatu tempat yang Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- katakan tidak pernah ada mata yang pernah melihatnya, telinga yang mendengarnya dan tidak pula terlintas dalam hati manusia. Tidak mungkin ada manusia yang bisa melukiskan keindahan jannah.
Dan Jannah ini berada di atas langit dan di bawah 'Arsy, sebagaimana dalam sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ، فَاسْأَلُوهُ الفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الجَنَّةِ وَأَعْلَى الجَنَّةِ - أُرَاهُ - فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الجَنَّةِ
"Apabila kalian meminta kepada Alloh, maka memintalah jannah Al-Firdaus karena ia adalah paling tengah dan paling tingginya jannah -diperlihatkan kepadaku- di atasnya adalah 'Arsy Ar-Rahman dan darinya memancar sungai-sungai di jannah" (HR Bukhari).
Alloh berfirman:
 عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ
"(Jannah yang)lebarnyanya selebar langit dan bumi"

Syaikh Utsaimin -rahimahulloh- setelah menyebutkan pendapat sebagian ulama tentang panjangnya jannah yang sangat-sangat panjang, beliau berkata: "Namun yang benar bahwasannya lebarnya dan panjangnya sama, karena jannah tidak memiliki panjang dan lebar sebab berbentuk lingkarang bukan segi empat. Dengan demikian, lebarnya sama dengan panjangnya. Inilah yang benar yang dikuatkan oleh jamaah ulama". -selesai-

Firmannya  أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ "disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa".
Orang yang bertaqwa yaitu mereka yang menjaga diri dari siksa Alloh dengan mengerjakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Syaikh Utsaimin -rahimahullah- menyebutkan beberapa faidah dari surat Ali Imron ayat 133 yang saya ringkas sebagai berikut:

1. Pada ayat ini terdapat perintah musaro'ah (bersegera) kepada ampunan, rahmat dan surga Alloh. Ini juga dalil bahwa tidak sepantasnya seseorang lebih mengutamakan orang lain dalam masalah ibadah semisal mempersilahkan orang lain untuk menempati shof awal dalam sholat sedangkan dia sendiri memilih shof belakang.
Namun apabila dengan mengutamakan orang lain tersebut terdapat maslahat yang besar maka tidak terhitung sebagai berlambat-lambat dalam kebaikan sebab dia telah menempatkan sesuatu dari satu keutamaan kepada keutamaan yang lebih tinggi lagi dan ini pada hakikatnya tidaklah lebih mengutamakan orang lain (dari pada dirinya sendiri dalam ibadah).
Masalah ngutamakan orang lain jika dalam perkara yang wajib maka hukumnya haram, misalnya seseorang hanya memiiki harta yang cukup untuk berhaji untuk satu orang sedangkan dia berdua, lalu memberikan harta tersebut kepada orang lain agar berhaji dan dirinya sendiri tidak berhaji.
Adapun mengutamakan orang lain dalam perkara yang disunnahkan maka hukumnya makruh, semisal contoh di atas, seseorang mempersilahkan orang lain menempati shofnya di shof awal sedangkan dia sendiri berdiri dibelakangnya.

2. At-Takhliyah (yaitu membersihkan jiwa dari do-dosa) sebelum tahliyah (menghiasi diri dengan amalan-amalan sholih); sebab Alloh berfirman yang artinya "bersegaralah kepada ampunan dari Tuhanmu"; dengan ampunan adalah sebab keselamatan dari neraka yang disebabkan oleh dosa-dosa. "dan kepada surga" yakni masuk surga. Maka barang siapa yang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan jannah maka dia telah meraih kemenangan.

3. Bahwasannya ampunan hanyalah dari sisi Alloh berdasarkan firmanNya yang artinya "kepada ampunan dari Tuhanmu" sebab ampunan dosa dari selain Alloh tidaklah ada manfaatnya. Ampunan dan pemaafan manusia hanya bermanfaat jika terkait hak manusia secara khusus sebagaimana firman Allo -ta'ala-:
وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS Taghabun: 14)

4. Penjelasan tentang luasnya jannah (surga) berdasarkan firmanNya yang artinya "dan Surga yang luasnya seluas langit-langit dan bumi".

5. Bahwasannya surga sudah ada sejak sejak sekarang. Berdasarkan firman Alloh -ta'ala-: (أُعِدَّتْ) "yang telah disediakan". Banyak nash-nash yang menyebutkan bahwa surga telah ada sekarang.

6. Bahwa penduduk jannah (surga) adalah orang-orang yang bertaqwa. Berdasarkan firman Alloh -ta'ala-: أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ "yang disediakan kepada orang-orang yang bertaqwa". Sebagaimana juga dengan neraka Alloh berfirman: الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ " yang disediakan untuk orang-orang yang kafir".(QS Ali Imron: 131).

Bersambung ...

Sumber Rujukan dari Tafsir Syaikh Utsaimin dengan mengambil point-point yang kami anggap penting.
Abu Unais Pati







Rabu, 25 Maret 2020

Tafsir As-Sa'dy QS Al-Baqarah Ayat 115


وَلِلَّهِ ٱلۡمَشۡرِقُ وَٱلۡمَغۡرِبُۚ فَأَيۡنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجۡهُ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ

"Dan milik Allah timur dan barat. Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Mahaluas, Maha Mengetahui" (QS Al-Baqarah: 115)

Syaikh Nashir As-Si'dy berkata dalam tafsirnya:
"Dan milik Allah timur dan barat." Dikhususkan penyebuta keduanya karena keduanya adalah tempat ayat-ayat yang agung. Keduanyalah tempat terbitnya cahaya dan tenggelamnya. Jika Alloh adalah pemiliknya tentunya Dia juga pemilik semua arah.

"Kemanapun kamu menghadapkan" wajah-wajah kalian jika kalian menghadapkannya dengan perintah Alloh, apakah memerintahkan kalian menghadap ka'bah setelah kalian diperintahkan menghadap baitul maqdis, atau kalian diperintahkan sholat dalam safar di atas hewan tunggangan dan selainnya. Maka sesungguhnya kiblat adalah kemanapun hamba menghadap atau yang dikiranya sebagai kiblat, lalu melakukan sholat dengan menghadap ke arahnya kemudian nampak baginya kekeliruan, atau dia memiliki udzur karena disalib, atau sakit atau yang semisalnya. Maka perkara-perkara ini, bisa jadi karena seorang hamba diberikan udzur atau diperintahkan. Dalam segala keadaan, tidaklah seorang hamba menghadap ke suatu arah yang keluar dari kerajaan Rabb-Nya.

"di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Mahaluas, Maha Mengetahui" ini adalah penetapan wajah bagi Alloh -ta'ala- yang sesuai dengan keagungan Alloh -ta'ala-. Sesungguhnya Alloh memiliki wajah yang tidak diserupai oeh wajah apa pun. Alloh -ta'ala- sangat luas karuniaNya dan (memiliki) sifat-sifat yang agung. Maha mengetahui rahasia-rahasia kalian dan niat-niat kalian. Di antara keluasanNya dan ilmuNya; perintahNya meliputi kalian dan sebelum kalian. BagiNya seluruh pujian dan ucapan syukur.


أي: ﴿وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ﴾ خصهما بالذكر، لأنهما محل الآيات العظيمة، فهما مطالع الأنوار ومغاربها، فإذا كان مالكا لها، كان مالكا لكل الجهات.
﴿فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا﴾ وجوهكم من الجهات، إذا كان توليكم إياها بأمره، إما أن يأمركم باستقبال الكعبة بعد أن كنتم مأمورين باستقبال بيت المقدس، أو تؤمرون بالصلاة في السفر على الراحلة ونحوها، فإن القبلة حيثما توجه العبد أو تشتبه القبلة، فيتحرى الصلاة إليها، ثم يتبين له الخطأ، أو يكون معذورا بصلب أو مرض ونحو ذلك، فهذه الأمور، إما أن يكون العبد فيها معذورا أو مأمورا. وبكل حال، فما استقبل جهة من الجهات، خارجة عن ملك ربه.
﴿فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾ فيه إثبات الوجه لله تعالى، على الوجه اللائق به تعالى، وأن لله وجها لا تشبهه الوجوه، وهو - تعالى - واسع الفضل والصفات عظيمها، عليم بسرائركم ونياتكم. فمن سعته وعلمه، وسع لكم الأمر، وقبل منكم المأمور، فله الحمد والشكر.

()

Minggu, 26 Januari 2020

Tafsir QS Al Hujurat Ayat 15

Firman Alloh -ta'ala-:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar". (QS Al-Hujurat: 15)

FirmanNya: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ "Sesungguhnya orang-orang mukmin"; yakni yang hakiki.
الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأمْوَالِهِمْ وَأنْفُسِهُم في سبيل الله
"adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah"

Yakni orang yang bisa menggabungkan antara iman dan jihad di jalan Alloh. Sesungguhnya orang yang berjihad terhadap orang-orang kafir hal itu menunjukkan iman yang sempurna dalam hati. Sebab, orang yang berjihad kepada orang lain kepada Islam dan untuk menegakkan syariat-syariatNya, maka jihadnya ini ditujukan untuk dirinya kepada hal itu lebih layak dan lebih utama.
Dan orang yang tidak menguatkan (tekadnya -pent) untuk jihad menunjukkan lemahnya iman. Alloh ta'la mensyaratkan iman dengan tanpa kebimbangan, yaitu keraguan. Sebab iman yang bermanfaat adalah keyakinan yang mantab dengan perkara yang Alloh perintahkan mengimaninya, yang tidak tercampuri keraguan dari sisi mana pun.
FirmanNya: أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (Mereka itulah orang-orang yang benar), yakni mereka yang telah membuktikan keimanannya dengan amal-amal mereka yang baik. Ash-Shidq (kejujuran) adalah klaim yang besar pada segala sesuatu yang diklaim; pelakunya membutuhkan hujah dan bukti. Dan yang paling besar adalah klaim keimanan yang merupakan porosnya kebahagiaan dan keberuntungan yang abadi dan kemenangan yang langgeng. Barang siapa yang mengakui iman dan mengerjakan kewajiban-kewajibannya dan konsekwensi-konsekwensinya maka dia adalah oraang yang shodiq(benar) dan mukmin yang sebenarnya. Dan barang siapa yang tidak demikian maka diketahui bahwa dia tidaklah jujur dengan pengakuannya. Dan tidak ada faidah dari pengakuannya. Sesungguhnya keimanan dalam hati tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh -ta'ala-. Maka menetapkannya dan menafikkannya adalah mengajari Alloh dengan perkara yang tersimpan dalam hati. Dan ini adalah adab dan prasangka yang buruk kepada Alloh.

﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ﴾ أي: على الحقيقة ﴿الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأمْوَالِهِمْ وَأنْفُسِهُم في سبيل الله﴾ أي: من جمعوا بين الإيمان والجهاد في سبيله، فإن من جاهد الكفار، دل ذلك، على الإيمان التام في القلب، لأن من جاهد غيره على الإسلام، والقيام بشرائعه، فجهاده لنفسه على ذلك، من باب أولى وأحرى؛ ولأن من لم يقو على الجهاد، فإن ذلك، دليل على ضعف إيمانه، وشرط تعالى في الإيمان عدم الريب، وهو الشك، لأن الإيمان النافع هو الجزم اليقيني، بما أمر الله بالإيمان به، الذي لا يعتريه شك، بوجه من الوجوه.
وقوله: ﴿أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ﴾ أي: الذين صدقوا إيمانهم بأعمالهم الجميلة، فإن الصدق، دعوى كبيرة في كل شيء يدعى يحتاج صاحبه إلى حجة وبرهان، وأعظم ذلك، دعوى الإيمان، الذي هو مدار السعادة، والفوز الأبدي، والفلاح السرمدي، فمن ادعاه، وقام بواجباته، ولوازمه، فهو الصادق المؤمن حقًا، ومن لم يكن كذلك، علم أنه ليس بصادق في دعواه، وليس لدعواه فائدة، فإن الإيمان في القلب لا يطلع عليه إلا الله تعالى.
فإثباته ونفيه، من باب تعليم الله بما في القلب، وهذا سوء أدب، وظن بالله.

Jumat, 24 Januari 2020

Tafsir QS Al Hujurat ayat 15: Di antara sifat-sifat orang yang beriman

Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar".
(QS Hujurat: 15)

Orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang membenarkan Alloh dan rasulNya, beramal dengan syariatNya kemudian mereka tidak ragu dalam keimanannya. Mereka mencurahkan harta-harta berharga mereka dan jiwa-jiwa mereka untuk berjihad di jalan Alloh, untuk mentaatiNya dan mendapatkan keridhoanNya. Merekalah orang-orang yang benar keimanannya. (Tafsir Muyassar)

Orang-orang yang beriman adalah mereka yang beriman kepada Alloh dan rasulNya, kemudian mereka tidak mencampurkan iman mereka dengan keraguan. Mereka berjihad dengan harta-harta mereka dan jiwa-jiwa mereka di jalan Alloh. Mereka tidak sedikit pun kikir dari hartanya. Merekalah orang-orang yang dishifati dengan shifat-shifat  tersebut. Mereka adalah orang-orang yang benar dalam keimanannya.
(Tafsir Mukhtashar)


إنما المؤمنون الذين صدَّقوا بالله وبرسوله وعملوا بشرعه، ثم لم يرتابوا في إيمانهم، وبذلوا نفائس أموالهم وأرواحهم في الجهاد في سبيل الله وطاعته ورضوانه، أولئك هم الصادقون في إيمانهم.

إنما المؤمنون هم الذين آمنوا بالله وبرسوله، ثم لم يخالط إيمانَهم شكٌّ، وجاهدوا بأموالهم وأنفسهم في سبيل الله، لم يبخلوا بشيء منها، أولئك المتصفون بتلك الصفات هم الصادقون في إيمانهم.

Minggu, 01 Desember 2019

Tafsir Ali Imron Ayat 185: Setiap Jiwa Akan Merasakan Kematian

Alloh ta'ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya". (QS Ali Imron: 185)

Penulis tafsir Al Muyassar mengatakan:
Setiap jiwa pastilah akan merasakan kematian. Dengan ini seluruh makhluk akan kembali kepada Robb-Nya untuk Alloh perhitungkan (amalan) mereka. Dan pada hari kiamat sajalah disempurnakan balasan pahala atas amal-amal kalian dengan sempurna tanpa dikurangi. Maka barang siapa dimuliakan Rabb-nya dan diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke surga maka sungguh ia telah mendapatkan sebaik-baik yang dicari. Dan kehidupan dunia hanyalah kenikmatan yang akan sirna maka janganlah tertipu dengannya.

Syaikh Nashir As-Sa'dy -rahimahulloh- mengatakan dalam kitab tafsirnya:

Dalam ayat yang mulia ini terdapat kezuhudan terhadap dunia yang fana dan tidak kekal. Dan dunia adalah kesenangan yang menipu. Memfitnah dengan perhiasannya, menipu dengan tipudayanya, dan mengelabui dengan keindahannya. Kemudian dia pergi berpindah. Dan berpindah dari dunia kepada negeri abadi yang seluruh jiwa akan dibalas sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan di dunia ini, balasan baik maupun buruk. Maka فمن زحزح "barang siapa yang dijauhkan" yakni dikeluarkan  عن النار وأدخل الجنة فقد فاز  "dari neraka dan dimasukkan ke surga maka sungguh, dia memperoleh kemenangan". Yakni dia telah mendapatkan kemenangan yang besar terhindar dari siksa yang pedih dan masuk ke surga yamg penuh kenikmatan yang di dalamnya terdapat sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia.

Pemahaman dari ayat ini, bahwa barang siapa yang tidak dijauhkan dari neraka dan tidak dimasukkan ke surga maka dia tidak memperoleh kemenangan, justru dia sengsara dengan kesengsaraan yang abadi dan disiksa dengan siksaan yang tiada putus. Dan di dalam ayat ini juga terdapat isyarat yang lembut akan kenikmatan barzakh dan siksaannya. Dan bahwasannya mereka yang beramal akan diberi balasan di barzakh dengan sebagian balasan terhadap apa yang mereka kerjakan dan diperlihatkan untuk mereka contoh dari apa yang mereka amalkan. Ini dipahami dari firmanNya:
وإنما توفون أجوركم يوم القيامة
"Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu"
Yakni balasan amal yang sempurna hanya pada hari kiamat, adapun selain itu adalah di barzakh, bahkan kadang sebelum itu di dunia sebagaimana firman Alloh -ta'ala-:
ولنذيقنهم من العذاب الأدنى دون العذاب الأكبر
"Dan pasti Kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat)" (QS Sajdah: 21)

Maraji:
(Arabic Muyassar Tafseer)
كل نفس لا بدَّ أن تذوق الموت، وبهذا يرجع جميع الخلق إلى ربهم ليحاسبهم. وإنما تُوفَّون أجوركم على أعمالكم وافية غير منقوصة يوم القيامة، فمن أكرمه ربه ونجَّاه من النار وأدخله الجنة فقد نال غاية ما يطلب. وما الحياة الدنيا إلا متعة زائلة، فلا تغترُّوا بها.

Tafseer As-Sa'dy:
هذه الآية الكريمة فيها التزهيد في الدنيا بفنائها وعدم بقائها، وأنها متاع الغرور، تفتن بزخرفها، وتخدع بغرورها، وتغر بمحاسنها، ثم هي منتقلة، ومنتقل عنها إلى دار القرار، التي توفى فيها النفوس ما عملت في هذه الدار، من خير وشر.
﴿فمن زحزح﴾ أي: أخرج، ﴿عن النار وأدخل الجنة فقد فاز﴾ أي: حصل له الفوز العظيم من العذاب الأليم، والوصول إلى جنات النعيم، التي فيها ما لا عين رأت، ولا أذن سمعت، ولا خطر على قلب بشر. ومفهوم الآية، أن من لم يزحزح عن النار ويدخل الجنة، فإنه لم يفز، بل قد شقي الشقاء الأبدي، وابتلي بالعذاب السرمدي. وفي هذه الآية إشارة لطيفة إلى نعيم البرزخ وعذابه، وأن العاملين يجزون فيه بعض الجزاء مما عملوه، ويقدم لهم أنموذج مما أسلفوه، يفهم هذا من قوله: ﴿وإنما توفون أجوركم يوم القيامة﴾ أي: توفية الأعمال التامة، إنما يكون يوم القيامة، وأما ما دون ذلك فيكون في البرزخ، بل قد يكون قبل ذلك في الدنيا كقوله تعالى: ﴿ولنذيقنهم من العذاب الأدنى دون العذاب الأكبر﴾

Jumat, 08 November 2019

Tafsir An-Nisa ayat 80

Alloh ta'ala berfirman:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

"Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka". (QS. An-Nisa': 80)

Yaitu: setiap orang yang mentaati Rasululloh dalam perintah-perintahnya dan larangan-larangannya maka dia telah mentaati Alloh -ta'ala- sebab tidaklah beliau memerintah atau melarang kecuali dengan perintah Alloh, syariatNya, wahyuNya dan yang diturunkanNya. Dan di dalam perintah ini menunjukkan kemaksuman rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- sebab Alloh memerintahkan untuk mentaati beliau secara mutlak. Seandainya beliau tidak maksum dalam setiap perkara yang beliau sampaikan dari Alloh niscaya Alloh tidak akan memerintahkan mematuhi beliau secara mutlak dan memuji hal tersebut. Dan ini termasuk hak-hak yang ada bagi Alloh dan RasulNya.
Sesungguhnya hak-hak (Alloh dan RasulNya) ada tiga:
(1). Hak untuk Alloh -ta'ala- tidak diperuntukkan kepada seorang pun dari makhlukNya, yaitu beribadah kepada Alloh dan berharap kepadaNya, dan yang semisal itu.
(2). Bagian hak yang dikhususkan untuk Rasul yaitu dengan menguatkan, memuliakan dan menolong beliau.
(3). Bagian hak yang sama-sama ada bagi Alloh dan rasulNya yaitu keimanan kepada Alloh dan rasulNya, mencintai keduanya, mentaati keduanya sebagaimana Alloh mengumpulkan kedua hak ini dalam firmanNya:

﴿لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾
"agar kamu semua beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya pagi dan petang". (QS Al-Fath: 9)

Barang siapa yang mentaati Rasul maka dia telah mentaati Alloh. Dan dia mendapatkan pahala dan kebaikan sebagaimana yang didapatkan karena mentaati Alloh. Dan وَمَنْ تَوَلَّى "barang siapa yang berpaling" dari ketaatan kepada Alloh dan rasulNya maka tidaklah ia memudharatkan kecuali dirinya sendiri, dan tidaklah memudharatkan Alloh sedikit pun. فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا "maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka", yakni (tidaklah engkau diperintahkan) menjaga amal-amal mereka, keadaan-keadaan mereka bahkan Kami mengutusmu untuk menyampaikan, menjelaskan dan memberi nasehat dan engkau telah menunaikan kewajibanmu, dan pasti engkau mendapatkan pahala; sama saja apakah mereka mendapat petunjuk maupun tidak mendapat petunjuk; sebagaimana firman Alloh ta'ala:

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنتَ مُذَكِّرٌ
"Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan". (QS Al-Ghasyiyah: 21)

(Tafsir As-Sa'dy)

أي: كل مَنْ أطاع رسول الله في أوامره ونواهيه ﴿فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ﴾ تعالى لكونه لا يأمر ولا ينهى إلا بأمر الله وشرعه ووحيه وتنزيله، وفي هذا عصمة الرسول ﷺ لأن الله أمر بطاعته مطلقا، فلولا أنه معصوم في كل ما يُبَلِّغ عن الله لم يأمر بطاعته مطلقا، ويمدح على ذلك.

وهذا من الحقوق المشتركة فإن الحقوق ثلاثة: حق لله تعالى لا يكون لأحد من الخلق، وهو عبادة الله والرغبة إليه، وتوابع ذلك. وقسم مختص بالرسول، وهو التعزير والتوقير والنصرة. وقسم مشترك، وهو الإيمان بالله ورسوله ومحبتهما وطاعتهما، كما جمع الله بين هذه الحقوق في قوله:﴿لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾

فمَنْ أطاع الرسول فقد أطاع الله، وله من الثواب والخير ما رتب على طاعة الله ﴿وَمَنْ تَوَلَّى﴾ عن طاعة الله ورسوله فإنه لا يضر إلا نفسه، ولا يضر الله شيئًا ﴿فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا﴾ أي: تحفظ أعمالهم وأحوالهم، بل أرسلناك مبلغا ومبينا وناصحا، وقد أديت وظيفتك، ووجب أجرك على الله، سواء اهتدوا أم لم يهتدوا. كما قال تعالى: ﴿فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ﴾ الآية.

Selasa, 06 Agustus 2019

Tafsir Surat An-Naas

Alloh -ta'ala- berfirman:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ # مَلِكِ النَّاسِ # إِلَٰهِ النَّاسِ # مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ # الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ # مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

1). Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,
2). Raja manusia,
3). Sembahan manusia,
4). dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi,
5). yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
6). dari (golongan) jin dan manusia.”

Syaikh Nashir As-Sa'dy -rahimahulloh- berkata dalam kitab tafsirnya:
"Surat ini mengandung permintaan perlindungan kepada Rabb (Tuhannya) manusia, pemiliknya dan sesembahannya dari setan yang merupakan asal dan sumber dari seluruh keburukan; yang karena fitnah dan keburukannya ia membisikkan ke dalam dada-dada manusia. Sehingga dia menjadikan keburukan nampak bagus bagi mereka dan menampakkan keburukan tersebut dalam bentuk yang indah. Setan mengerahkan segenap kemampuannya untuk melakukannya.

Dan dia mengesankan kebaikan sebagai keburukan dan menghalang-halangi darinya. Setan menampakkan kebaikan tersebut berbeda dengan kenyataannya. Setan senantiasa seperti ini memberikan was-was dan bersembunyi, yakni menjauh jika seorang hamba berdzikir kepada Rabb-nya dan meminta tolong untuk menolaknya.

Maka selayaknya  bagi hamba untuk meminta pertolongan, perlindungan, dan penjagaan dengan Rububiyah Alloh untuk segenap manusia. Sesungguhnya seluruh makhluk berada di bawah Rububiyah dan kekuasaanNya. Setiap yang melata Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Dan karena uluhiyahNya Dia menciptakan mereka. Maka tidaklah sempurna bagi mereka kecuali dengan mencegah keburukan musuh mereka yang ingin memutuskan Uluhiyah (pengakuan bahwa Allohlah satu-satunya yang berhak diibadahi dengan benar) dari mereka dan berusaha memalingkan mereka darinya. Dan setan ingin menjadikan mereka termasuk golongannya agar menjadi penghuni neraka. Dan was-was sebagaimana bisa berasal dari Jin juga bisa dari manusia. Oleh karenanya Alloh berfirman: مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ "dari golongan jin dan manusia".

Segala puji bagi Alloh yang awal dan yang akhir, secara lahir dan batin. Dan kita memohon kepada Alloh agar menyempurnakan nikmatNya dan mengampuni dosa-dosa kita yang menghalangi antara kita dengan barakahNya yang banyak, dan (mengampuni juga) kesalahan dan hawa nafsu yang menjauhkan hati-hati kita dari mempelajari ayat-ayatNya. Kita mengharap dan berharap kepadaNya agar Dia tidak mengharamkan untuk kita kebaikan yang ada di sisiNya karena keburukan yang ada pada kita. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari berharap kepada Alloh kecuali orang-orang kafir. Dan tidak ada yang putus harapan dari rahmatNya kecuali orang-orang yang sesat.

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ # مَلِكِ النَّاسِ # إِلَٰهِ النَّاسِ # مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ # الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ # مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

وهذه السورة مشتملة على الاستعاذة برب الناس ومالكهم وإلههم، من الشيطان الذي هو أصل الشرور كلها ومادتها، الذي من فتنته وشره، أنه يوسوس في صدور الناس، فيحسن [لهم] الشر، ويريهم إياه في صورة حسنة، وينشط إرادتهم لفعله،
ويقبح لهم الخير ويثبطهم عنه، ويريهم إياه في صورة غير صورته، وهو دائمًا بهذه الحال يوسوس ويخنس أي: يتأخر إذا ذكر العبد ربه واستعان على دفعه.
فينبغي له أن [يستعين و] يستعيذ ويعتصم بربوبية الله للناس كلهم.
وأن الخلق كلهم، داخلون تحت الربوبية والملك، فكل دابة هو آخذ بناصيتها.
وبألوهيته التي خلقهم لأجلها، فلا تتم لهم إلا بدفع شر عدوهم، الذي يريد أن يقتطعهم عنها ويحول بينهم وبينها، ويريد أن يجعلهم من حزبه ليكونوا من أصحاب السعير، والوسواس كما يكون من الجن يكون من الإنس، ولهذا قال: ﴿مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ﴾.
والحمد لله رب العالمين أولًا وآخرًا، وظاهرًا وباطنًا.
ونسأله تعالى أن يتم نعمته، وأن يعفو عنا ذنوبًا لنا حالت  بيننا وبين كثير من بركاته، وخطايا وشهوات ذهبت بقلوبنا عن تدبر آياته.
ونرجوه ونأمل منه أن لا يحرمنا خير ما عنده بشر ما عندنا، فإنه لا ييأس من روح الله إلا القوم الكافرون، ولا يقنط من رحمته إلا القوم الضالون.

Diterjemah dari tafsir As-Sa'dy.

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)