Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 180 - 184
Perkataan Penulis:
Dan firman Alloh -subhanahu wa ta'ala-:
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu". (QS Al-Hadid: 3)
Penjelasan:
* "Dan firman Alloh -subhanahu wa ta'ala-" ini adalah athaf (kelanjutan) kepada lafadz 'surah' pada perkataan penulis: ما وصف نفسه في سورة الإخلاص "Dan yang Alloh sifati diriNya dalam surat Al-ikhlash".
* FirmanNya الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ (Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin). Ini adalah 4 nama; masing-masingnya saling berlawanan, pada waktu dan pada tempat. Memberi faidah akan pengetahuan Alloh -subhanahu wa ta'ala- meliputi segala sesuatu baik yang awal maupun yang akhir, demikian pula terhadap tempat. Maka di dalamnya ada pengetahuan yang meliputi waktu dan tempat.
*FirmanNya هُوَ الْأَوَّلُ (Dialah Yang Awal): Al-Awwal; Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- menjelaskan dengan sabdanya: الذي ليس قبله شيء "Yang tidak ada sesuatu pun yang mendahuluiNya"(1).
Di sini beliau menjelaskan penetapan dengan penafikan (peniadaan). Beliau mejadikan sifat subutiyah menjadi sifat salbiyah. Dan telah kami sebutkan sebelumnya bahwa sifat-sifat Subutiyah lebih sempurna dan lebih banyak; kenapa (Nabi mejadikan sifat subutiyah menjadi sifat salbiyah -pent)?
Kita katakan: Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam menjelaskan hal itu sebagai penekanan terhadap Al-Awwaliyah (Sifat Al-Awwal). Yakni sifat ini adalah mutlak. Awwaliyah yang bukan awwaliyah yang disandarkan (pada sesuatu yang lain/relatif).
Dikatakan: Ini adalah awwal ditinjau dari yang setelahnya dan padanya ada sesuatu yang lain sebelumnya. Sehingga penafsirannya dengan peniadaan lebih bisa menjelaskan secara umum bahwa itu adalah awwaliyah yang mutlak. Oleh karenanya beliau bersabda: "Yang tidak ada sesuatu pun yang mendahuluiNya". Dan ini ditinjau dari pendahuluan dari sisi zaman/waktu.
* FirmanNya وَالْآخِرُ (dan Dia Yang Akhir) dijelaskan oleh Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dengan sabdanya: الذي ليس بعده شيء (yang tidak ada sesuatu pun setelahNya). Dan tidaklah bahwa ini menunjukkan akan batas akhir Alloh; sebab di sana ada hal-hal yang abadi sedangkan mereka adalah makhluk; seperti surga dan neraka. Sehingga makna وَالْآخِرُ (dan Dia Yang Akhir) bahwa ilmuNya meliputi segala sesuatu; maka tidaklah adz-dzuhur yang berarti tinggi. Sebagaimana firman Alloh ta'ala:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ
"Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama" (QS At-Taubah: 33)
Yakni (لِيُظْهِرَهُ) maksudnya agar Dia meninggikannya.
Misal lain ظهر الدابة (punggung binatang melata) karena ada dibaian atasnya.
Diantaranya juga firman Alloh -ta'ala-:
فَمَا اسْطَاعُوا أَن يَظْهَرُوهُ
"Maka mereka tidak bisa mendakinya" (QS Al-Kahfi: 97)
yakni melampauinya.
Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- berkata dalam menafsirkannya:
الذي ليس فوقه شيء
"Yang tiada sesuatu pun di atasNya"
Dia tinggi di atas segala sesuatu.
* Makna وَالْبَاطِنُ (AlBathin): Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- menjelaskannya:
الذي ليس دونه شيء
"Tiada sesuatu pun di bawahNya"
Ini adalah kinayah (kiasan) akan pengetahuanNya yang meliputi segala sesuatu.
Namun maknanya bahwasannya Dia (Alloh) -'azza wa jalla- bersamaan dengan ketinggianNya Dia Bathin; sehingga ketinggianNya tidaklah menafikkan kedekatanNya -azza wa jalla-. Al-Bathin lebih dekat kepada makna Al-Qorib (dekat).
Perhatikanlah empat Nama ini; engkau mendapatinya saling berpasangan dan semuanya adalah khabar dari Mubtada' yang satu namun dengan peghubung huruf athaf. Dan khabar-khabar dengan penghubung huruf athaf lebih kuat dari pada khabar-khabar yang yang tidak berpenghubung huruf athaf. Misalnya:
وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ * ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ * فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ
"Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang mempunyai 'Arsy, lagi Maha Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya." (QS Al-Buruj: 14-16)
Ini adaah khabar-khabar yang tidak berpenghubung huruf athaf. Namun terkadang asma-asma Alloh dan shifat-shifatNya bergandengan dengan wawu athaf, faidahnya:
Pertama: Penekanan terhadap (kata) yang sebelumnya; sebab tatkala engkau menghubungkan(kata yang mengikuti -pent) dengannya, maka engkau menjadikannya (kata pertama yang diikuti -pent) sebagai pokok. Dan sesuatu yang pokok adalah kuat.
Kedua: Memiliki faidah pengumpulan; namun tidak berkonsekwensi banyaknya yang disifati. Tidakkah engkau melihat firman Alloh -ta'ala-:
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى * الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ * وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ
"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi, yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk," (QS Al-A'la: 1-3)
Maka yang Maha Tinggi adalah Dia yang telah Menciptakan dan menyempurnakan dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.
Jika engkau berkata: Umumnya athaf itu berkonsekwensi berbeda-beda (beragam).
Jawabnya: Betul. Akan tetapi perbedaan yang terkadang pada individunya, terkadang pada shifat-shifatnya. Dan ini adalah perbedaan pada shifat. Terkadang perbedaan secara lafadz bukan maknanya; sebagaimana perkataan penyair:
فالقى قولها كذبا و مينا
"Maka dia melontarkan perkataan dusta dan bohong".
Maka al-mainu(bohong) adalah al-kadzibu(dusta), namun bersamaan dengan itu di athafkan kepadanya karena perbedaan lafadz namun maknanya sama. Perbedaan bisa karena 'aini (perindividunya), maknawi atau lafadz. Jika engkau katakan: Telah datang Zaid yang mulia, pemberani lagi 'alim. Ini adalah perbedaan secara makna. Namun jika engkau katakan: Ucapan ini dusta dan bohong. Maka ini adalah perbedaan lafadz.
Ayat yang mulia ini memberikan kesimpulan kepada kita penetapan empat nama Alloh; yaitu: Al-Awwal, Al-Akhir, Adz-Dzohir dan Al-Bathin.
Dan memberikan kesimpulan kepada kita lima shifat yaitu: shifat awaliyah (yang awal), akhiriyah (yang akhir), dzohiriyah (yang dzohir), bathiniyah (yang bathin) dan keumuman ilmu (Alloh).
Dan dari penggabungan nama-nama ini memberikan faidah: Alloh -ta'ala- ilmunya meliputi waktu dan tempat; sebab terkadang penggabungan shifat-shifat itu terdapat tambahan shifat.
Apabila ada yang berkata: Apakah nama-nama ini saling melazimkan (mengandung konsekwensi sebaliknya-pent); maksudnya tatkala engkau mengatakan: Al-Awwal maka harus engkau katakan Al-Akhir, atau boleh menyendirikan antara satu dengan yang lain?
Yang nampak bahwa sifat-sifat yang berpasangan ini saling melazimkan. Jika engkau katakan: Al-Awwal; maka katakan Al-Akhir. Jika engkau katakan Adz-Dzohir maka katakanlah Al-Bathin agar tidak meniadakan shifat yang berpasangan yang menunjukkan akan ilmu Alloh.
* FirmanNya:
وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu". (QS Al-Hadid: 3)
Ini menyempurnakan empat sifat yang sebelumnya; yakni, bersamaan dengan itu Dia Mengetahui segala sesuatu.
Ini dengan bentuk umum yang tidak bisa dikhususkan selamanya. Keumuman ini mencakup perbuatan-perbuatanNya dan perbuatan para hamba; baik secara keseluruhannya maupun sebagiannya. Dia mengetahui apa yang terjadi dan akan terjadi. Mencakup perkara yang wajib, yang jaiz dan yang mustahil. Ilmu Alloh -ta'ala- luas, mencakup dan meliputi (segala sesuatu). Tidak ada sesuatu pun yang terkecualikan. Adapun ilmu Alloh tentang hal yang wajib adalah seperti ilmuNya tentang diriNya dan tentang sifat-sifatNya yang sempurna.
Adapun ilmuNya tentang hal yang mustahil misalnya dalam firmanNya:
لَوْ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ
"Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa".(QS Al-Anbiya': 22)
إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخْلُقُوا۟ ذُبَابًۭا وَلَوِ ٱجْتَمَعُوا۟ لَهُۥ ۖ
"Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya". (QS Al-Hajj: 73)
Adapun ilmuNya mengenai hal yang jaiz maka seluruh yang Alloh khabarkan tentang makhluk-makhukNya maka ini termasuk yang jaiz:
يعلم ما تسرون وما تعلنون
"Dia mengetahui yang yang kalian sembunyikan dan yang kalian nampakkan" (QS An-Nahl: 19)
Dengan demikian, ilmu Alloh -ta'ala- meliputi segala sesuatu.
Dan buah yang diperoleh dari keimanan bahwa Alloh mengetahui segala sesuatu adalah kesempurnaan muroqobatulloh (merasa diawasi oleh Alloh -azza wajalla-) dan takut kepadaNya; yang menjadikan dia tidak mengabaikan perintahNya dan tidak ada keinginan pada perkara yang dilarangNya.
Note:
1). Riwayat Muslim 2713 dari hadits Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu.








