“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Rabu, 29 Januari 2020

Memahami Asma Alloh: Al-Awwal Al-Akhir Adz-Dzohir Al-Bathin

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 180 - 184

Perkataan Penulis:
Dan firman Alloh -subhanahu wa ta'ala-:
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu". (QS Al-Hadid: 3)

Penjelasan:
* "Dan firman Alloh -subhanahu wa ta'ala-" ini adalah athaf (kelanjutan) kepada lafadz 'surah' pada perkataan penulis: ما وصف نفسه في سورة الإخلاص "Dan yang Alloh sifati diriNya dalam surat Al-ikhlash".

* FirmanNya الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ (Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin). Ini adalah 4 nama; masing-masingnya saling berlawanan, pada waktu dan pada tempat. Memberi faidah akan pengetahuan Alloh -subhanahu wa ta'ala- meliputi segala sesuatu baik yang awal maupun yang akhir, demikian pula terhadap tempat. Maka di dalamnya ada pengetahuan yang meliputi waktu dan tempat.

*FirmanNya هُوَ الْأَوَّلُ (Dialah Yang Awal): Al-Awwal; Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- menjelaskan dengan sabdanya: الذي ليس قبله شيء "Yang tidak ada sesuatu pun yang mendahuluiNya"(1).
Di sini beliau menjelaskan penetapan dengan penafikan (peniadaan). Beliau mejadikan sifat subutiyah menjadi sifat salbiyah. Dan telah kami sebutkan sebelumnya bahwa sifat-sifat Subutiyah lebih sempurna dan lebih banyak; kenapa (Nabi mejadikan sifat subutiyah menjadi sifat salbiyah -pent)?
Kita katakan: Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam menjelaskan hal itu sebagai penekanan terhadap Al-Awwaliyah (Sifat Al-Awwal). Yakni sifat ini adalah mutlak. Awwaliyah yang bukan awwaliyah yang disandarkan (pada sesuatu yang lain/relatif).
Dikatakan: Ini adalah awwal ditinjau dari yang setelahnya dan padanya ada sesuatu yang lain sebelumnya. Sehingga penafsirannya dengan peniadaan  lebih bisa menjelaskan secara umum bahwa itu adalah awwaliyah yang mutlak. Oleh karenanya beliau bersabda: "Yang tidak ada sesuatu pun yang mendahuluiNya". Dan ini ditinjau dari pendahuluan dari sisi zaman/waktu.

* FirmanNya وَالْآخِرُ (dan Dia Yang Akhir) dijelaskan oleh Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dengan sabdanya: الذي ليس بعده شيء (yang tidak ada sesuatu pun setelahNya). Dan tidaklah bahwa ini menunjukkan akan batas akhir Alloh; sebab di sana ada hal-hal yang abadi sedangkan mereka adalah makhluk; seperti surga dan neraka. Sehingga makna وَالْآخِرُ (dan Dia Yang Akhir) bahwa ilmuNya meliputi segala sesuatu; maka tidaklah adz-dzuhur yang berarti tinggi. Sebagaimana firman Alloh ta'ala:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ
"Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama" (QS At-Taubah: 33)
Yakni (لِيُظْهِرَهُ) maksudnya agar Dia meninggikannya.
Misal lain ظهر الدابة (punggung binatang melata) karena ada dibaian atasnya.
Diantaranya juga firman Alloh -ta'ala-:
فَمَا اسْطَاعُوا أَن يَظْهَرُوهُ
"Maka mereka tidak bisa mendakinya" (QS Al-Kahfi: 97)
yakni melampauinya.
Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- berkata dalam menafsirkannya:
الذي ليس فوقه شيء
"Yang tiada sesuatu pun di atasNya"
Dia tinggi di atas segala sesuatu.

* Makna وَالْبَاطِنُ (AlBathin): Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- menjelaskannya:
الذي ليس دونه شيء
"Tiada sesuatu pun di bawahNya"
Ini adalah kinayah (kiasan) akan pengetahuanNya yang meliputi segala sesuatu.
Namun maknanya bahwasannya Dia (Alloh) -'azza wa jalla- bersamaan dengan ketinggianNya Dia Bathin; sehingga ketinggianNya tidaklah menafikkan kedekatanNya -azza wa jalla-. Al-Bathin lebih dekat kepada makna Al-Qorib (dekat).

Perhatikanlah empat Nama ini; engkau mendapatinya saling berpasangan dan semuanya adalah khabar dari Mubtada' yang satu namun dengan peghubung huruf athaf. Dan khabar-khabar dengan penghubung huruf athaf lebih kuat dari pada khabar-khabar yang yang tidak berpenghubung huruf athaf. Misalnya:
وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ * ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ * فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ

"Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang mempunyai 'Arsy, lagi Maha Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya." (QS Al-Buruj: 14-16)
Ini adaah khabar-khabar yang tidak berpenghubung huruf athaf. Namun terkadang asma-asma Alloh dan shifat-shifatNya bergandengan dengan wawu athaf, faidahnya:
Pertama: Penekanan terhadap (kata) yang sebelumnya; sebab tatkala engkau menghubungkan(kata yang mengikuti -pent) dengannya, maka engkau menjadikannya (kata pertama yang diikuti -pent) sebagai pokok. Dan sesuatu yang pokok adalah kuat.
Kedua: Memiliki faidah pengumpulan; namun tidak berkonsekwensi banyaknya yang disifati. Tidakkah engkau melihat firman Alloh -ta'ala-:
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى * الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ * وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ
"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi, yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk," (QS Al-A'la: 1-3)
Maka yang Maha Tinggi adalah Dia yang telah Menciptakan dan menyempurnakan dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.
Jika engkau berkata: Umumnya athaf itu berkonsekwensi berbeda-beda (beragam).
Jawabnya: Betul. Akan tetapi perbedaan yang terkadang pada individunya, terkadang pada shifat-shifatnya. Dan ini adalah perbedaan pada shifat. Terkadang perbedaan secara lafadz bukan maknanya; sebagaimana perkataan penyair:
فالقى قولها كذبا و مينا
"Maka dia melontarkan perkataan dusta dan bohong".
Maka al-mainu(bohong) adalah al-kadzibu(dusta), namun bersamaan dengan itu di athafkan kepadanya karena perbedaan lafadz namun maknanya sama. Perbedaan bisa karena 'aini (perindividunya), maknawi atau lafadz. Jika engkau katakan: Telah datang Zaid yang mulia, pemberani lagi 'alim. Ini adalah perbedaan secara makna. Namun jika engkau katakan: Ucapan ini dusta dan bohong. Maka ini adalah perbedaan lafadz.
Ayat yang mulia ini memberikan kesimpulan kepada kita penetapan empat nama Alloh; yaitu: Al-Awwal, Al-Akhir, Adz-Dzohir dan Al-Bathin.
Dan memberikan kesimpulan kepada kita lima shifat yaitu: shifat awaliyah (yang awal), akhiriyah (yang akhir), dzohiriyah (yang dzohir), bathiniyah (yang bathin) dan keumuman ilmu (Alloh).
Dan dari penggabungan nama-nama ini memberikan faidah: Alloh -ta'ala- ilmunya meliputi waktu dan tempat; sebab terkadang penggabungan shifat-shifat itu terdapat tambahan shifat.
Apabila ada yang berkata: Apakah nama-nama ini saling melazimkan (mengandung konsekwensi sebaliknya-pent); maksudnya tatkala engkau mengatakan: Al-Awwal maka harus engkau katakan Al-Akhir, atau boleh menyendirikan antara satu dengan yang lain?
Yang nampak bahwa sifat-sifat yang berpasangan ini saling melazimkan. Jika engkau katakan: Al-Awwal; maka katakan Al-Akhir. Jika engkau katakan Adz-Dzohir maka katakanlah Al-Bathin agar tidak meniadakan shifat yang berpasangan yang menunjukkan akan ilmu Alloh.

* FirmanNya:
وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu". (QS Al-Hadid: 3)
Ini menyempurnakan empat sifat yang sebelumnya; yakni, bersamaan dengan itu Dia Mengetahui segala sesuatu.
Ini dengan bentuk umum yang tidak bisa dikhususkan selamanya. Keumuman ini mencakup perbuatan-perbuatanNya dan perbuatan para hamba; baik secara keseluruhannya maupun sebagiannya. Dia mengetahui apa yang terjadi dan akan terjadi. Mencakup perkara yang wajib, yang jaiz dan yang mustahil. Ilmu Alloh -ta'ala- luas, mencakup dan meliputi (segala sesuatu). Tidak ada sesuatu pun yang terkecualikan. Adapun ilmu Alloh tentang hal yang wajib adalah seperti ilmuNya tentang diriNya dan tentang sifat-sifatNya yang sempurna.
Adapun ilmuNya tentang hal yang mustahil misalnya dalam firmanNya:
لَوْ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ
"Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa".(QS Al-Anbiya': 22)
إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخْلُقُوا۟ ذُبَابًۭا وَلَوِ ٱجْتَمَعُوا۟ لَهُۥ ۖ
"Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya". (QS Al-Hajj: 73)
Adapun ilmuNya mengenai hal yang jaiz maka seluruh yang Alloh khabarkan tentang makhluk-makhukNya maka ini termasuk yang jaiz:
يعلم ما تسرون وما تعلنون
"Dia mengetahui yang yang kalian sembunyikan dan yang kalian nampakkan" (QS An-Nahl: 19)
Dengan demikian, ilmu Alloh -ta'ala- meliputi segala sesuatu.

Dan buah yang diperoleh dari keimanan bahwa Alloh mengetahui segala sesuatu adalah kesempurnaan muroqobatulloh (merasa diawasi oleh Alloh -azza wajalla-) dan takut kepadaNya; yang menjadikan dia tidak mengabaikan perintahNya dan tidak ada keinginan pada perkara yang dilarangNya.


Note:
1). Riwayat Muslim 2713 dari hadits Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu.

Faidah Ayat Kursi

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 180

Perkataan Penulis:
ولهذا كان من قرأ هذه الآية في ليلة؛ لم يزل عليه من الله حافظ وﻻ يقربه شيطان حتى يصبح
"Oleh karenanya, orang yang membaca ayat ini di malam hari senan senantiasa dia akan mendapatkan penjagaan dari Alloh dan tidak akan di dekati oleh syaiton".

Penjelasan:
Ini adalah petikan dari hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu- pada kisah Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- memintanya untuk menjaga zakat dan syaiton mengambil zakat itu. Dan ucapannya kepada Abu Hurairah: Jika engkau beranjak ke tempat tidurmu; maka bacalah ayat kursi اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ""Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah dengan benar) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)" sampai akhir ayat; maka senantiasa engkau mendapat penjagaan dari Alloh dn syaiton tidak akan mendekatimu sampai subuh. Lalu Abu Hurairah mengkhabarkan hal itu kepada nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Maka beliau bersabda: "Sesungguhnya telah jujur kepadamu padahal dia adalah pendusta".

Minggu, 26 Januari 2020

Dalil Puasa dan Haji

Dalil Puasa

Pertanyaan:
Apa dalil Puasa?

Jawab:
Alloh -ta'ala- berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian" (QS Al-Baqarah: 183)

FirmanNya:
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
"Barang siapa di antara kalian menjumpai bulan (Ramadhan) maka berpuasalah" (QS Al-Baqarah: 185)

Pada hadits orang Arab Baduwi:
أخبرني ما فرض الله عليّ من الصيام. فقال: «شهر رمضان إلا أن تطوع شيئا
"Kabarkan kepadaku apa yang diwajibkan Alloh kepadaku dari perkara puasa". Beliau bersabda: "(Puasa) bulan Ramadhan; kecuali jika engkau mau puasa tatawwu' (puasa sunnah)"

Dalil Haji

Pertanyaan:
Apa dalil haji?

Jawab:
Alloh -ta'ala- berfirman:
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ
"Sempurnakanlah haji dan umrah karena Alloh" (QS Al-Baqarah: 196)

Firman Alloh:
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
"mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah"(QS Ali Imran: 97)

Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
"Sesungguhnya Alloh ta'ala mewajibkan haji atas kalian"(HR Muslim dan Ahmad)
Hadits dalam Shahihain, dan telah terdahulu hadits Jibril dan hadits: "Islam di bangun di atas 5 hal". Dan hadits-hadits selainnya banyak.

[دليل الصوم]
س: ما دليل الصوم؟
جـ: قال الله تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ} [البقرة: ١٨٣] وقال تعالى: {فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ} [البقرة: ١٨٥] الآيات، وفي حديث الأعرابي: أخبرني ما فرض الله عليّ من الصيام. فقال: «شهر رمضان إلا أن تطوع شيئا» . الحديث.

[دليل الحج]
س: ما دليل الحج؟
جـ: قال الله تعالى: {وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ} [البقرة: ١٩٦] وقال تعالى: {وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا} [آل عمران: ٩٧] وقال النبي صلى الله عليه وسلم: «إن الله تعالى كتب عليكم الحج» (١) . الحديث في الصحيحين، وتقدم حديث جبريل وحديث: «بني الإسلام على خمس» (٢) وغيرها كثير.

(١) رواه مسلم (الحج / ٤١٢) ، وأحمد (١ / ٣٧١، ٢ / ٥٠٨) .
(٢) تقدم تخريجه.

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

&&&&&&&

Tafsir QS Al Hujurat Ayat 15

Firman Alloh -ta'ala-:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar". (QS Al-Hujurat: 15)

FirmanNya: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ "Sesungguhnya orang-orang mukmin"; yakni yang hakiki.
الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأمْوَالِهِمْ وَأنْفُسِهُم في سبيل الله
"adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah"

Yakni orang yang bisa menggabungkan antara iman dan jihad di jalan Alloh. Sesungguhnya orang yang berjihad terhadap orang-orang kafir hal itu menunjukkan iman yang sempurna dalam hati. Sebab, orang yang berjihad kepada orang lain kepada Islam dan untuk menegakkan syariat-syariatNya, maka jihadnya ini ditujukan untuk dirinya kepada hal itu lebih layak dan lebih utama.
Dan orang yang tidak menguatkan (tekadnya -pent) untuk jihad menunjukkan lemahnya iman. Alloh ta'la mensyaratkan iman dengan tanpa kebimbangan, yaitu keraguan. Sebab iman yang bermanfaat adalah keyakinan yang mantab dengan perkara yang Alloh perintahkan mengimaninya, yang tidak tercampuri keraguan dari sisi mana pun.
FirmanNya: أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (Mereka itulah orang-orang yang benar), yakni mereka yang telah membuktikan keimanannya dengan amal-amal mereka yang baik. Ash-Shidq (kejujuran) adalah klaim yang besar pada segala sesuatu yang diklaim; pelakunya membutuhkan hujah dan bukti. Dan yang paling besar adalah klaim keimanan yang merupakan porosnya kebahagiaan dan keberuntungan yang abadi dan kemenangan yang langgeng. Barang siapa yang mengakui iman dan mengerjakan kewajiban-kewajibannya dan konsekwensi-konsekwensinya maka dia adalah oraang yang shodiq(benar) dan mukmin yang sebenarnya. Dan barang siapa yang tidak demikian maka diketahui bahwa dia tidaklah jujur dengan pengakuannya. Dan tidak ada faidah dari pengakuannya. Sesungguhnya keimanan dalam hati tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh -ta'ala-. Maka menetapkannya dan menafikkannya adalah mengajari Alloh dengan perkara yang tersimpan dalam hati. Dan ini adalah adab dan prasangka yang buruk kepada Alloh.

﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ﴾ أي: على الحقيقة ﴿الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأمْوَالِهِمْ وَأنْفُسِهُم في سبيل الله﴾ أي: من جمعوا بين الإيمان والجهاد في سبيله، فإن من جاهد الكفار، دل ذلك، على الإيمان التام في القلب، لأن من جاهد غيره على الإسلام، والقيام بشرائعه، فجهاده لنفسه على ذلك، من باب أولى وأحرى؛ ولأن من لم يقو على الجهاد، فإن ذلك، دليل على ضعف إيمانه، وشرط تعالى في الإيمان عدم الريب، وهو الشك، لأن الإيمان النافع هو الجزم اليقيني، بما أمر الله بالإيمان به، الذي لا يعتريه شك، بوجه من الوجوه.
وقوله: ﴿أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ﴾ أي: الذين صدقوا إيمانهم بأعمالهم الجميلة، فإن الصدق، دعوى كبيرة في كل شيء يدعى يحتاج صاحبه إلى حجة وبرهان، وأعظم ذلك، دعوى الإيمان، الذي هو مدار السعادة، والفوز الأبدي، والفلاح السرمدي، فمن ادعاه، وقام بواجباته، ولوازمه، فهو الصادق المؤمن حقًا، ومن لم يكن كذلك، علم أنه ليس بصادق في دعواه، وليس لدعواه فائدة، فإن الإيمان في القلب لا يطلع عليه إلا الله تعالى.
فإثباته ونفيه، من باب تعليم الله بما في القلب، وهذا سوء أدب، وظن بالله.

Jumat, 24 Januari 2020

Tafsir QS Al Hujurat ayat 15: Di antara sifat-sifat orang yang beriman

Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar".
(QS Hujurat: 15)

Orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang membenarkan Alloh dan rasulNya, beramal dengan syariatNya kemudian mereka tidak ragu dalam keimanannya. Mereka mencurahkan harta-harta berharga mereka dan jiwa-jiwa mereka untuk berjihad di jalan Alloh, untuk mentaatiNya dan mendapatkan keridhoanNya. Merekalah orang-orang yang benar keimanannya. (Tafsir Muyassar)

Orang-orang yang beriman adalah mereka yang beriman kepada Alloh dan rasulNya, kemudian mereka tidak mencampurkan iman mereka dengan keraguan. Mereka berjihad dengan harta-harta mereka dan jiwa-jiwa mereka di jalan Alloh. Mereka tidak sedikit pun kikir dari hartanya. Merekalah orang-orang yang dishifati dengan shifat-shifat  tersebut. Mereka adalah orang-orang yang benar dalam keimanannya.
(Tafsir Mukhtashar)


إنما المؤمنون الذين صدَّقوا بالله وبرسوله وعملوا بشرعه، ثم لم يرتابوا في إيمانهم، وبذلوا نفائس أموالهم وأرواحهم في الجهاد في سبيل الله وطاعته ورضوانه، أولئك هم الصادقون في إيمانهم.

إنما المؤمنون هم الذين آمنوا بالله وبرسوله، ثم لم يخالط إيمانَهم شكٌّ، وجاهدوا بأموالهم وأنفسهم في سبيل الله، لم يبخلوا بشيء منها، أولئك المتصفون بتلك الصفات هم الصادقون في إيمانهم.

Rabu, 22 Januari 2020

Taisir (60): Dua rekaat Sunnah Fajar Lebih Baik Dari Pada Dunia dan Seisinya

Hadits 60:
عنْ عائِشَةَ رضِيَ اللهُ عنْها قالَتْ : (( لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ( على شيءٍ منَ النَّوافِلِ تَعاهُدَاً منْهُ على ركْعَتَي الفَجْرِ )) .
وفي لفْظٍ لِمُسْلِمٍ : (( رَكْعَتا الفَجْرِ خيرٌ منَ الدُّنيا وما فيها )) .

Dari 'Aisyah -radhiyallohu 'anha- berkata: "Tidak pernah Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- memperhatikan satu sunnah nafilah pun melebihi sunnah 2 rekaat fajar".
Dalam riwayat Muslim: "Dua rekaat (sunnah) fajar lebih baik dari pada dunia dan seiisinya" (HR Bukhari 1169 dan Muslim 724 dan 725)

Makna Global:
Dalam hadits ini ada penjelasan akan pentingnya dan penekanan dua rekaat sunnah fajar. Aisyah -radhiyallohu anha- telah menyebutkan bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- menekankannya dan menaruh perhatian besar padanya dengan perbuatan dan ucapan beliau; Aisyah berkata: Tidak pernah Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- memperhatikan dan merutinkan satu sunnah nafilah pun melebihi sunnah 2 rekaat fajar. Dan beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda: Keduanya lebih baik dari pada dunia dan seisinya.

Kesimpulan hadits:
1. Sunnah yang ditekankan pada (sholat sunnah) dua rekaat fajar. Maka tidak selayaknya mengabaikannya.
2. Keutamaannya yang agung dimana dua rekaat sunnah fajar dijadikan pahalanya lebih baik dari pada dunia dan seisinya.
3. Adalah Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- memberikan perhatian yang lebih dari pad sunnah selainnya.
4. Sesungguhnya orang yang mengabaikannya -padahal hal itu mudah, besar pahalanya dan motivasi dari Pembuat Syariat untuk mengerjkannya- menunjukkan lemahnya agamanya dan terhalangnya dari kebaikan yang agung.

Minggu, 19 Januari 2020

Dalil Sholat dan Zakat

Pertanyaan:
Apakah dalil sholat dan zakat?

Jawab:
Alloh -ta'ala- berfirman:
فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ

"Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan". (QS At-Taubah: 5)

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat".(QS Al-Bayyinah: 5)
Dan ayat-ayat selainnya.

[دليل الصلاة والزكاة]
س: ما دليل الصلاة والزكاة؟
جـ: قال الله تعالى: {فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ} [التوبة: ٥] وقال تعالى: {فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ} [التوبة: ١١] وقال تعالى: {وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ} [البينة: ٥] الآية، وغيرهما.

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Syarat Syahadat Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- Rasululloh

Pertanyaan:
Apa syarat syahadat "Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- utusan Alloh". Apakah diterima syahadat yang pertama (lailaha illalloh) tanpa syahadat ini?

Jawab:
Telah kami jelaskan kepada engkau sebelumnya bahwa seorang hamba tidaklah masuk ke dalam agama ini kecuali dengan dua syahadat ini; dan bahwasannya kedua syahadat ini saling terkait. Maka syarat syahadat yang pertama adalah syarat syahadat yang kedua; sebagaimana syarat-syarat itu menjadi syarat yang pertama.

 
[شروط شهادة أن محمدا رسول الله صلى الله عليه وسلم]
س: ما شروط شهادة أن محمدا رسول الله صلى الله عليه وسلم، وهل تقبل الشهادة الأولى بدونها؟
جـ: قد قدمنا لك أن العبد لا يدخل في الدين إلا بهاتين الشهادتين وأنهما متلازمتان، فشروط الشهادة الأولى هي شروط في الثانية، كما أنها هي شروط في الأولى.

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Makna Syahadat Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- Rasul Alloh

Pertanyaan:
Apa Makna Syahadat bahwasannya "Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam adalah utusan Alloh"?

Jawab:
Yaitu pembenaran yang yakin dari hati nurani, yang diucapkan dengan lisan bahwa Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- adalah hambaNya dan utusannya kepada seluruh manusia; baik manusia dan jin:
شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا - وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا
"Jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi" (QS Al-Ahzab: 45-46)
Maka wajib membenarkan seluruh yang dikhabarkannya tentang apa yang telah terdahulu dan apa yang akan terjadi, dan apa yang dia halalkan dari perkara-perkara yang halal dan yang beliau haramkan dari perkara-perkara yang beliau haramkan. Mentaati dan tunduk pada perkara yang beliau perintahkan. Menahan diri dan meninggalkan perkara-perkara yang beliau larang. Mengikuti syariatnya. Berpegang teguh pada sunnahnya baik dalam kesendirian maupun dalam keramaian dengan penuh keridhaan terhadap ketetapannya dan tunduk kepadanya. Ketaatan kepada beliau adalah ketaatan kepada Alloh dan memaksiati beliau adalah bermaksiat kepada Alloh, sebab beliau adalah penyampai risalah dari Alloh dan tidaklah Alloh mewafatkannya sampai Alloh sempurnakan agama ini dengan beliau. Dan beliau telah menyampaikan dengan penyampaian yang jelas dan meninggalkan umatnya pada keadaan terang benderang yang malamnya seperti siangnya. Tidaklah ada orang yang yang menyimpang darinya kecuali akan binasa. Pada bab ini akan ada permasalahan-permasalahan. Akan datang In sya Alloh.

[معنى شهادة أن محمدا رسول الله صلى الله عليه وسلم]
س: ما معنى شهادة أن محمدا رسول الله صلى الله عليه وسلم؟
جـ: هو التصديق الجازم من صميم القلب المواطئ لقول اللسان بأن محمدا عبده ورسوله إلى كافة الناس إنسهم وجنهم {شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا - وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا} [الأحزاب: ٤٥ - ٤٦] فيجب تصديقه في جميع ما أخبر به من أنباء ما قد سبق وأخبار ما سيأتي، وفيما أحل من حلال وحرم من حرام، والامتثال والانقياد لما أمر به، والكف والانتهاء عما نهى عنه، واتباع شريعته والتزام سنته في السر والجهر مع الرضا بما قضاه والتسليم له، وأن طاعته هي طاعة الله ومعصيته معصية الله؛ لأنه مبلغ عن الله رسالته ولم يتوفه الله حتى أكمل به الدين وبلغ البلاغ المبين وترك أمته على المحجة البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها بعده إلا هالك، وفي هذا الباب مسائل ستأتي إن شاء الله.

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Sabtu, 18 Januari 2020

Taisir (59): Bab Sholat Sunnah Rawatib dan Perhatian Sholat Sunnah Dua Rekaat Fajar.

Sholat-sholat fardhu memiliki sholat-sholat sunnah rawatib. Sunnah yang shahih telah menjelaskan hal ini, baik dengan anjuran maupun perbutan serta penetapan dari nash.
Sholat-sholat sunnah ini memiliki faidah-faidah yang agung,kebiasan yang utama berupa tambahan kebaikan meninggikan derajat, menghapus dosa-dosa, menyempurnakan kekurangan sholat fardhu dan menutup kekurangannya.
Oleh karenanya selayaknya untuk memberi perhatian hal ini dan benar-benar menjaganya.
Hal ini ketika sedang mukim, adapun ketika safar maka tidaklah dinukil dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau mengerjakan sholat-sholat rawatib ini kecuali dua rekaat sebelum shubuh. Beliau tidak pernah meninggalkannya baik ketika mukim maupun safar.

Hadits 59:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ : (( صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ( رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْجُمُعَةِ , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ )) .
"Dari Abdullah bin Umar -radhiyallohu 'anhuma- berkata: Aku sholat (sunnah) bersama Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dua rekaat sebelum dzuhur, dan dua rekaat etelahnya. Dua rekaat setelah jum'at, dua rekaat setelah maghrib dan dua rekaat setelah Isya'"
وَفِي لَفْظِ : (( فَأَمَّا الْمَغْرِبُ وَالْعِشَاءُ وَالْجُمُعَةُ : فَفِي بَيْتِهِ )) .
Dalam lafadz yang lain: adapun (rawatib) maghrib, Isya dan Jum'at di kerjakan dirumah beliau. (HR Bukhari 1165 dan 1172, Muslim 729)

وَفِي لَفْظٍ : أَنَّ ابْنَ عُمَرَ قَالَ : حَدَّثَتْنِي حَفْصَةُ : أَنَّ النَّبِيَّ ( : (( كَانَ يُصَلِّي سَجْدَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ بَعْدَمَا يَطْلُعُ الْفَجْرُ . وَكَانَتْ سَاعَةً لا أَدْخُلُ عَلَى النَّبِيِّ ( فِيهَا )) .

Dalam riwayat yang lain: bahwasannya Ibnu Umar berkata: Hafshoh telah mengkhabarkan kepadaku bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- sholat dua sujud (dua rekaat) yang ringan tatkala telah terbit fajar. Dan itu adalah waktu aku tidak bersama beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam-" (HR Bukhari 1173)

Makna Global:
Hadits ini memberikan penjelasan tentang sholat-sholat rawatib dari sholat lima waktu; yaitu bahwa sholat dzuhur ada rawatib 4 rekaat: dua rekaat sebelumnya dan dua rekaat setelahnya. Dua rekaat setelah sholat jum'at. Dua rekaat setelah maghrib. Dan dua rekaat setelah sholat Isya'. Dan bahwasannya dua sholat rawatib malam yaitu maghrib, dan rawatib subuh dan jum'at dikerjakan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- di rumahnya.

Ibnu Umar -radhiyallohu 'anhuma-mempunyai hubungan yang dekat rumah Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- karena kedudukan saudara perempuannya -yakni- Hashah pada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Dia masuk menemui Nabi pada waktu ibadah beliau. Namun dia memperhatikan adab sehingga tidak memasukinya pada waktu-waktu tertentu yang tidak boleh menemui nabi pada waktu-waktu tersebut, sebagai bentuk ketaatan kepada firman Alloh -ta'ala-:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ۚ مِّن قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ
"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh" (QS An-Nur: 58)
Sehingga dia tidak masuk menemui beliau pada waktu sebelum sholat Subuh untuk melihat beliau sholat.

Namun karena semangatnya untuk mendapatkan ilmu dia menanyakan kepada saudarinya -Hafshah- mengenai hal itu. Maka Hafshah menceritakan bahwa Nabi -shollallohu alaihi wa sallam- shalat ringan dua rekaat setelah terbit fajar, sholat sunnah fajar (qobliyah subuh).

Kesimpulan Hadits:
1. Disunnahkannya sholat-sholat rawatib yang telah disebutkan dan langgeng dalam mengerjakannya.
2. Bahwasannya sholat Ashar tidak ada sholat rawatib yang ditekankan.
3. Bahwasannya rawatib Maghrib, Isya', Subuh dan Jum'at secara asal dikerjakan di rumah.
4. Ringkas dalam mengerjakan dua rekaat sunnah fajar.
5. Telah datang pada sebagian hadits shahih bahwa dzuhur ada 6 rekaat sunnah rawatib; yaitu 4 rekaat sebelumnya dan 2 rekaat setelahnya; telah datang riwayat Tirmidzi dari hadits Ummu Habibah secara marfu': "Empat rekaat sebelum Dzuhur dan dua rekaat setelahnya"1
6. Sebagian shalat rawatib ini dikerjakan sebelum sholat wajib untuk membangkitkan semangat jiwa orang yang akan sholat untuk beribadah sebelum masuk sholat fardhu. Dan sebagian sunnah rawatib dikerjakan setelahnya untuk menambal kekurangannya.

Note:
1. Tidaklah seperti yang disebutkan pensyarah kitab ini. Yang datang pada hadits Ummu Habibah secara marfu' adalah delapan rekaat -bukan enam-: empat rekaat sebelumnya dan empat rekaat setelahnya. Lafadznya:
من صلى قبل الظهر أربعا و بعدها أربعا حرّم الله على النار

"Barang siapa yang sholat sebelum dzuhur empat rekaat dan setelahnya empat rekaat maka Alloh haramkan baginya masuk neraka"
Demikian yang dikeluarkan At-Tirmidzi (427, 428) sebagaimana yang disebutkan pensyarah; dan dia berkata Hasan Shahih dan gharib pada periwayatan ini.
Juga diriwayatkan Abu Dawud (1269), An-Nasa'i (1816, 1817), Ibnu Majah (1160), dan dishahihkan Al-Alamah Al-Albany dalam Shahih Al-jami' 6364.

Selasa, 14 Januari 2020

Taisir (58): Bolehnya Wanita Sholat di Masjid Bersama Jamaah

Hadits 58:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما عَنِ النَّبيِّ ( قَالَ : (( إذَا اسْتَأْذَنَتْ أَحَدَكُمْ امْرَأَتُهُ إلَى الْمَسْجِدِ فَلا يَمْنَعُهَا . قَالَ : فَقَالَ بِلالُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ : وَاَللَّهُ لَنَمْنَعَهُنَّ . قَالَ : فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ , فَسَبَّهُ سَبّاً سَيِّئاً , مَا سَمِعْتُهُ سَبَّهُ مِثْلَهُ قَطُّ , وَقَالَ : أُخْبِرُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ( وَتَقُولُ : وَاَللَّهُ لَنَمْنَعَهُنَّ؟ )) وَفِي لَفْظٍ (( لا تَمْنَعُوا إمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ )) .

"Dari Abdullah bin Umar -radhiyallohu 'anhuma- dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Apabila istri salah seorang di antara kalian minta izin untuk ke masjid maka janganlah kalian melarangnya". Berkata (Salim bin Abdullah) maka Bilal bin Abdullah berkata: "Demi Alloh, kami akan mencegah mereka (para wanita ke masjid)".
(Salim bin Abdullah) berkata: Maka Ibnu Umar mendatangnya (Bilal bin Abdullah) lalu dia mencercanya dengan cercaan yang sangat buruk yang aku belum pernah sama sekali aku dengar ia mencerca seperti itu. Dan dia berkata: Aku kabarkan kepadamu dari Rasululloh dan engkau berkata: Demi Alloh aku akan melarangnya (para wanita ke masjid)?"

Dalam riwayat Muslim: "Janganlah kalian mencegah para wanita hamba Alloh ke masjid-masjid Alloh".
(HR Bukhari 5238 dan Muslim 442)

Makna Global:
Ibnu Umar -radhiyallohu 'anhuma- meriwayatkan bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda menjelaskan hukum keluarnya wanita ke masjid untuk sholat: "Apabila istri salah seorang di antara kalian minta izin untuk ke masjid maka janganlah kalian melarangnya. Supaya dia tidak menghalanginya mendapat keutamaan berjamaah di masjid. Dan salah seorang anak Abdullah bin Umar (1) hadir ketika beliau mengkhabarkan hadits ini. Dan ia (anak Ibnu Umar ini) telah melihat kondisi zaman yang telah berbeda dari zamannya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dengan tersebarnya para wanita dengan perhiasannya. Maka kecemburuannya untuk menjaga para wanita telah mendorongnya untuk berucap -bukan bermaksud menentang Nabi- "Demi Alloh, kami akan melarang mereka".

Bapaknya memahami ucapannya bahwa dia menentang -dengan penolakannya ini- sunnah Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Maka kemarahannya karena Alloh dan RasulNya telah mendorongnya untuk mencelanya dengan celaan yang keras. Sembari dia berkata: Aku sampaikan dari Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan engkau berkata: Demi Alloh kami akan melarang mereka?.

Kesimpulan Hadits:
1). Bolehnya memberi izin bagi wanita untuk sholat di masjid jika dia menginginkannya.
2). Bahwasannya bolehnya memberikan izin bagi mereka dengan tanpa berhias dan aman dari fitnah, sebagaimana hal itu telah dijelaskan dalam hadits-hadits yang shahih.
3). Dan yang nampak bahwa bolehnya izin hanya untuk sholat. Adapun untuk mendengarkan nasehat dan khotbah 'Ied maka wajib menghadirinya, sebagaimana yang telah datang hadits dari Ummu 'Athiyah: Beliau memerintahkan kami untuk mengajak keluar pada hari raya para wanita yang sudah baligh dan gadis-gadis pingitan.
4). Kerasnya pengingkaran kepada orang yang enentang sunnah Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-.
5). Bahwa selayaknya bagi orang yang menginginkan untuk mengarahkan perkataan pembawa syariat kepada makna yang diyakininya hendaklah dengan adab dan penghormatan serta arahan yang baik.

Note:
1). Saya mengatakan dengan lafadz "salah satu anaknya' sebab datang dalam sebagian hadits-hadits shahih bahwa dia adalah Waqid, dan pada sebagiannya adalah Bilal, dan sebagian yang lain adalah: anaknya Abdullah.

Senin, 13 Januari 2020

Dalil Syahadat Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- utusan Alloh

Pertanyaan:
Apa dalil bahwa Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- adalah utusan Alloh?

Jawab:
Firman Alloh -ta'ala-:
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah" (QS Ali Imran: 164)
Dan firmanNya:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin" (QS At-Taubah: 128)

Dan firmanNya:
وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ
"Dan Alloh mengetahui bahwa engkau benar-benar utusanNya" (QS Al-Munafiqun: 1)
Dan ayat-ayat selainnya.

&&&&&&&&&

[دليل شهادة أن محمدا رسول الله صلى الله عليه وسلم]
س: ما دليل شهادة أن محمدا رسول الله صلى الله عليه وسلم؟
جـ: قول الله تعالى: {لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ} [آل عمران: ١٦٤] الآية، وقوله تعالى: {لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ} [التوبة: ١٢٨] وقوله تعالى: {وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ} [المنافقون: ١] وغيرها من الآيات.

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Dalil Al-Wala' dan Mu'addah karena Alloh

Pertanyaan:
Apa dalil wala' (loyalitas) dan mu'addah (memusuhi) karena Alloh?

Jawab:
Alloh 'azza wa jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka". (QS Al-Maidah: 51)

Sampai pada firmanNya:
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا
"Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman" (QS Al-Maidah: 55) sampai akhir ayat.
Dan firman Alloh -ta'ala-:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ ۚ
"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan" (QS At-Taubah: 23)
Dan firmanNya:
لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya" (QS Al-Mujadilah: 22)

Dan FirmanNya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia" (QS Al-Mumtahanah: 1)
sampai akhir surat. Dan ayat-ayat selainnya.

[دليل الموالاة لله والمعاداة لأجله]
س: ما دليل الموالاة لله والمعاداة لأجله؟
جـ: قال الله عز وجل {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ} [المائدة: ٥١] إلى قوله: {إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا} [المائدة: ٥٥] إلى آخر الآيات، وقوله تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ} [التوبة: ٢٣] الآيتين، وقال تعالى: {لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ} [المجادلة: ٢٢] الآية، وقال تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ} [الممتحنة: ١] إلى آخر السورة، وغير ذلك من الآيات.

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Sabtu, 11 Januari 2020

Dalil Syarat Al-Mahabbah dari Al-Qur'an dan As-Sunnah

Pertanyaan:
Apa dalil dipersyaratkannya Al Mahabbah (kecintaan) dari Al-Qur'an dan As-Sunnah?

Jawab:
Alloh -ta'ala- berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ
"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya" (QS Al-Maidah: 54)

Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار
"Tiga hal yang bila seseorang memilikinya maka dia akan mendapatkan manisnya iman: hendaklah Alloh dan rasulNya paling dicintainya dari pada selainnya. Dan seseorang mencintai hanya karena Alloh. Dan dia membenci untuk kembali kepada kekufuran setelah Alloh menyelamatkannya darinya sebagaimana dia tidak suka untuk dilemparkan ke dalam neraka" (HR Bukhari no 16, 21, 6941 dan Muslim dalam Al-Iman 67 dan 68)

[دليل اشتراط المحبة من الكتاب والسنة]
س: ما دليل اشتراط المحبة من الكتاب والسنة؟
جـ: قال الله تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ} [المائدة: ٥٤]
وقال النبي صلى الله عليه وسلم: «ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار» (١) .

(١) رواه البخاري (١٦، ٢١، ٦٩٤١) ، ومسلم (الإيمان / ٦٧، ٦٨) .

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Dalil As-Sidqu dari Al-Qur'an dan As-Sunnah

Pertanyaan:
Apa dalil Ash-Shidqu (jujur/membenarkan) dari Al-Qur'an dan As-Sunnah?

Jawab:
Alloh -ta'ala- berfirman:
الم - أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ - وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
الم [٢٩:١]
"Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta'. (QS Al-Ankabut: 1-3) sampai akhir ayat.
Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
ما من أحد يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله صدقا من قلبه إلا حرمه الله على النار
"Tidaklah seseorang itu bersaksi lailaha illalloh (tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Alloh) jujur dari hatinya , kecuali Alloh akan haramkan dia masuk neraka" (HR Bukhari 128 dan Muslim dalam kitabul Iman 53)
Dan beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- katakan kepada Arab Baduwi yang telah beliau ajari tentang syariat Islam sampai orang Baduwi tersebut berkata:
«والله لا أزيد عليها ولا أنقص منها، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " أفلح إن صدق»
"Demi Alloh, aku tidak akan menambahi dan menguranginya". Maka Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Dia beruntung jika jujur" (HR Bukhari (46, 1891), Muslim dalam kitabul Iman 8-9, Ahmad 1/162 dan Abu Dawud 391).

[دليل الصدق من الكتاب والسنة]
س: ما دليل الصدق من الكتاب والسنة؟
جـ: قال الله تعالى: {الم - أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ - وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ} [العنكبوت: ١ - ٣] إلى آخر الآيات، وقال النبي صلى الله عليه وسلم: «ما من أحد يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله صدقا من قلبه إلا حرمه الله على النار» (٤) وقال للإعرابي الذي علمه شرائع الإسلام إلى أن قال: «والله لا أزيد عليها ولا أنقص منها، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " أفلح إن صدق» (٥) .

(٤) رواه البخاري (١٢٨) ، ومسلم (الإيمان / ٥٣) .
(٥) رواه البخاري (٤٦، ١٨٩١) ، ومسلم (الإيمان / ٨، ٩) ، وأحمد (١ / ١٦٢) ، وأبو داود (٣٩١) .

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)