“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Rabu, 27 Februari 2019

Muqqadimah - Tauhid Asma wa Shifat

Al-'Alamah Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah berkata :
"Akan tetapi yang sering terjadi perselisihan diantara Ahlul Kiblat (kaum muslimin) adalah macam tauhid ketiga, yaitu tauhid Asma wa Shifat. Ini adalah perkara yang banyak manusia terjerumus padanya. Manusia terbagi atas 3 kelompok (dalam masalah ini).
Mereka yaitu: Mumatsil (menyerupakan Alloh dengan makhlukNya), Mu'athil (yang meniadakan sifat-sifat Alloh), Mu'tadil (pertengahan, yaitu Ahlus Sunnah), dan Muathil baik dengan mendustakan (sifat-sifat Alloh) atau merubah-rubahnya (tahrif).
Awal bid'ah yang terjadi di tengah umat ini adalah bid'ah Khawarij di mana pemimpin mereka telah khuruj (keluar) dari ketaatan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam yaitu Dzul Khuwaisiroh dari bani Tamim.

Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam membagikan emas-emas yang datang (dari harta rampasan perang -pent.) kepada orang-orang, Dzul Khuwaisiroh berkata: "Wahai Muhammad berlaku adillah!". Maka ini adalah awal pembangkangan, yang keluar dari Syariat Islam. Kemudian menjadi besar fitnah mereka di akhir-akhir khalifah Utsman -radhiyallohu 'anhu- dan ketika terjadi fitnah antara Ali dan Muawiyah -radhiyallohu 'anhuma-. mereka mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah-darah mereka.
Kemudian muncul bid'ahnya Qodariyah -Majusinya umat ini- , mereka berkata: Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala tidaklah menetapkan perbuatan hamba, dan perbuatan hamba tidak masuk dalam kehendak Allah dan bukan pula ciptaan-Nya. Bahkan tokoh-tokoh mereka dan orang-orang yang ghuluw (berlebihan) di antara mereka mengatakan takdir itu tidaklah dengan pengetahuan Allah dan tidaklah tertulis di dalam Lauh Mahfudz dan Allah tidaklah mengetahui apa yang akan dikerjakan oleh manusia kecuali jika telah terjadi. Mereka berkata: Sesungguhnya perkara-perkara itu (amal perbuatan hamba -pent) adalah sesuatu yang baru (tanpa didahului takdir & ilmu Alloh) yaitu sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Mereka ini muncul di akhir masa shahabat. Mereka sempat menjumpai zaman Abdullah bin Umar radhiyallahu'anhu Ubadah bin As-Shamit dan sejumlah sahabat lainnya, akan tetapi mereka muncul di akhir-akhir masa sahabat.

Kemudian muncul bid'ahnya Irja'(Murji'ah), dan mereka menjumpai kebanyakan dari tabi'in. Murji'ah adalah mereka yang mengatakan: Bahwasannya maksiat tidak berpengaruh terhadap Iman. (Mereka akan bertanya) "engkau seorang mukmin?". Jika engkau mengatakan: Iya. Dia akan berkata kepadamu: "Maksiat tidak akan mempengaruhi keimananmu, engkau berzina, mencuri, meminum khomer, dan membunuh, selama engkau seorang mukmin, maka engkau adalah orang mukmin yang sempurna imannya, meskipun engkau melakukan semua kemaksiatan tersebut.

Akan tetapi menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: "Perkataan Qodariyah dan Murji'ah pada zaman shahabat masih hidup, lalu kemudian para sahabat membantah mereka adalah dalam perkara taat dan maksiat, mukmin dan fasiq, mereka belum berbicara mengenai Rabb (Alloh) dan shifat-shifatNya".
Kemudian muncul kaum cendekia yang mendakwakan bahwa akal didahulukan dari pada wahyu. Mereka menyatakan pendapat diantara dua pendapat -yaitu pendapat Murjiah dan pendapat Khawarij-. Mereka mengatakan: "Orang yang melakukan dosa besar bukanlah seorang mukmin sebagaimana yang dikatakan Murjiah dan bukan pula kafir sebagaimana yang dikatakan Khawarij, akan tetapi dia berada di suatu tempat antara dua tempat, sebagaimana seorang yang bepergian dari suatu kota ke kota lainnya. Tatkala ia berada di tengah perjalanan, maka dia tidaklah di kotanya, juga tidak berada di tempat yang ditujunya. Akan tetapi ia berada di suatu tempat di antara dua tempat. Ini menurut hukum di dunia, adapun di akhirat, maka dia kekal di neraka. Jadi mereka mencocoki khawarij mengenai status di akhirat, akan tetapi status di dunia mereka menyelisihi Khawarij".
Bid'ah ini muncul dan tersebar. Kemudian muncul bid'ah Dzulmah dan Jahmiyah, yaitu bid'ahnya Jahm bin Shofwan dan para pengikutnya yang disebut Jahmiyyah. Muncullah bid'ah ini dan bid'ahnya bukan dalam masalah penamaan (istilah-istilah) dan hukum-hukum, apakah mukmin, kafir atau pun fasiq, atau dalam masalah "almanzilatu baina manzilatain" (Suatu tempat di antara dua tempat), akan tetapi bid'ahnya berkaitan dengan Dzat Kholiq.

Perhatikanlah bagaimana bid'ah muncul bertahap pada awal-awal Islam hingga sampai pada (permasalahan terkait) Sang Pencipta (Al Kholiq) jalla wa 'ala. Dan mereka memposisikan Al Kholiq pada kedudukan makhluq. Mereka berpendapat sekehendaknya. Mereka berkata: Ini tetap (tsabit) untuk Alloh, dan yang ini tidak tetap. Ini masuk akal untuk dishifatkan kepada Alloh, dan yang ini tidak masuk akal untuk ditetapkan untukNya. Terkait bid'ahnya Jahmiyyah dan Mu'tazilah, maka mereka menjadi beberapa kelompok terkait masalah Asma-asma Alloh dan Sifat-sifatNya sebagai berikut :

PERTAMA, mereka menyatakan: Tidak boleh sama sekali menshifati Alloh, baik dengan wujud (ada) maupun dengan adam (ketiadaan). Karena, jika dishifati dengan wujud maka serupa dengan sesuatu yang ada (makhluk). Dan jika dishifati dengan adam (ketiadaan) maka serupa dengan yang tidak ada. Sehingga wajib meniadakan sifat wujud dan adam dariNya. Dan apa yang mereka nyatakan ini adalah menyerupakan Al Kholiq dengan sifat yang terlarang dan mustahil, sebab menerima sesuatu yang tidak ada dan ada adalah menerima dua hal yang bertolak belakang. Dan dua hal yang bertolak belakang tidak mungkin dikompromikan dan terangkat. Setiap anak Adam yang berakal mengingkari hal ini dan tidak bisa menerimanya. Maka lihatlah bagaimana mereka lari dari sesuatu dan mereka jatuh kepada yang lebih buruk darinya.

KEDUA: Mereka berkata: Kami mensifati Allah dengan peniadaan dan tidak mensifatNya dengan penetapan, yaitu mereka membolehkan untuk meniadakan dari Allah subhanahu wa ta'ala berbagai sifat akan tetapi tidak menetapkan (sifat Alloh), yakni (mereka berkata:) Kami tidak mengatakan Dia Hidup hanya saja kami mengatakan Dia tidak mati dan kami tidak mengatakan dia Maha Mengetahui akan tetapi kami mengatakan Dia tidaklah bodoh dan demikian seterusnya. Mereka berkata: Seandainya engkau menisbatkan Dia (Alloh) dengan sesuatu maka engkau telah menyerupakanNya dengan sesuatu yang ada karena menurut pandangan mereka segala sesuatu yang maujud (ada) adalah serupa. Maka engkau tidaklah menetapkan sesuatu pun untuknya. Adapun peniadaan maka itu adalah sesuatu yang tidak ada.
(Padahal) bersamaan dengan itu, sifat maujud di dalam Al Qur'an dan Sunnah terkait sifat-sifat Allah yang diitsbat (ditetapkan) lebih banyak daripada yang dinafi'kan (ditiadakan). Dikatakan kepada mereka: Sesungguhnya Allah berkata tentang DzatNya "Samii' Bashiir" (Maha Mendengar dan Maha Melihat).
Maka mereka berkata: Ini adalah karena 'penyandaran', maknanya disandarkan kepadaNya pendengaran, bukannya Dia disifati dengannya (yaitu mendengar -pent). Akan tetapi Dia memiliki makhluk yang mendengar ini adalah bab idhofiyah( penyandaran ). Maka Samii'(Maha Mendengar) yaitu bukanlah Dia memiliki pendengaran, akan tetapi dialah yang didengar.
Dan muncul kelompok yang kedua, mereka berkata: "Sifat-sifat ini adalah untuk makhluk-makhlukNya dan bukan (ditetapkan) kepadaNya. Adapun Allah maka tidaklah ditetapkan untuknya suatu sifat pun.

KETIGA: Mereka berkata: Ditetapkan bagi Alloh nama-nama tanpa sifat. Mereka inilah mu'tazilah, mereka menetapkan nama-nama Allah. Mereka berkata: Sesungguhnya Allah (memiliki nama) Sam'i (Maha Mendengar), Bashir (Maha Melihat), Qadir (Maha Kuasa), Aliim (Maha Mengetahui), Hakiim (Maha Bijaksana).
Akan tetapi Qodiir (Maha Kuasa) tanpa qudroh(kuasa), Samii' (Maha Mendengar) tanpa pendengaran, Bashir (Maha Melihat) tanpa penglihatan, 'Aliim (Maha Mengetahui) tanpa ilmu, dan Hakiim (Maha Bijaksana) tanpa hikmah/kebijaksanaan.

KEEMPAT, mereka berkata: Kita menetapkan bagi Allah nama-nama secara hakikatnya (sesuai lafadz sebenarnya) dan kita menetapkan baginya sifat-sifat tertentu yang sesuai akal dan kita mengingkari yang selainnya. Kita menetapkan baginya 7 sifat saja dan sisanya kita menolaknya dengan tahrif dan tidak dengan mendustakannya. Karena jika mereka mengingkarinya dengan pendustaan artinya mereka telah kafir oleh karenanya mereka mengingkarinya dengan tah'rif (merubah lafadz) yang mereka sebut dengan Takwil.
Sifat yang 7 ini mereka kumpulkan dalam perkataan mereka:

له الحياة و الكلام و البصر *** سمع ارادة علم و اقتدر
"Baginya hidup, berbicara, dan melihat.
Mendengar, berkehendak, mengetahui dan berkuasa".

Ini adalah sifat-sifat yang kita menetapkannya karena akal sesuai dengan hal itu. Dan sisanya, kita tidak menetapkan sifat-sifat yang tidak sesuai akal. Dan kita menolak sifat-sifat yang tidak cocok dengan akal. Mereka inilah 'Asyairoh yang mengimani sebagian sifat dan menolak sebagian yang lainnya.
Ini adalah pembagian ta'thil (peniadaan) dalam permasalahan asma' dan shifat Alloh.

و من سن في الإسلام سنة سيئة فعليه وزرها و وزر من عمل بها الى يوم القيامة
"Barang siapa yang menggagas sunnah yang buruk dalam Islam, maka dia mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengikutinya sampai hari kiamat". (HR Muslim, Nasai, Al Humaidi, Ad Darimi, Ibnu Majah, At Tirmidzi, Ahmad, Abdur Razaq, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hiban, dan Al Baihaqy dari jalan Jarir bin Abdillah dari bapaknya secara marfu').

Kesimpulannya, kalian wahai para ikhwah jika kalian menelaah kitab-kitab kelompok yang fokus pada pengumpulan pendapat-pendapat mereka niscaya engkau akan melihat keajaiban yang luar biasa, yang kalian akan mengatakan: "Bagaimana mungkin seorang yang berakal -terlebih seorang mukmin- mengucapkan seperti ini?" Akan tetapi...siapa pun yang tidak Alloh jadikan cahaya untuknya maka tidak ada cahaya baginya. Orang yang Alloh butakan mata batinnya seperti orang yang Alloh butakan matanya. Sebagaimana orang yang buta mata matanya seandainya dia berdiri di depan matahari yang bisa menyilaukan cahaya penglihatan dia tidak akan melihatnya. Demikian pula orang yang telah Alloh butakan bashirohnya seandainya ia berdiri dihadapan cahaya-cahaya kebenaran tidaklah ia melihatnya. Wal 'iyadzu billah.

Oleh karenanya, sudah semestinya kita senantiasa memohon kepada Alloh untuk tetap teguh dalam masalah ini, dan agar Dia tidak menggelincirkan hati-hati kita setelah Dia memberi hidayah kepada kita, sebab ini adalah perkara yang sangat penting. Dan syaithon masuk ke Bani Adam dari setiap sisi dan arah dan memberikan keraguan padanya dalam masalah aqidahnya, agamanya, kitab Alloh dan sunnah rosulNya. Demikianlah hakekat bid'ah yang menyebar di tengah umat Islam.

Namun -walhamdulillah- tidaklah seseorang membuat-buat bid'ah kecuali Alloh telah menakdirkan baginya -dengan karunia dan kemurahanNya- orang yang akan menjelaskan bid'ah tersebut dan membantahnya.
Dan ini merupakan kesempurnaan yang ditunjukkan oleh firman Allah tabaraka wa ta'ala:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya". (QS Al Hijr: 9)

Ini merupakan penjagaan Allah kepada agama ini. Dan ini juga sesuai hikmah Allah 'azza wa jalla karena Allah ta'ala menjadikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai penutup para nabi dan risalah ini tidak bisa tidak harus tetap ada di bumi kalaulah tidak demikian niscaya manusia akan punya hujjah dihadapan Allah. Dan ketika risalah harus senantiasa ada di bumi, melazimkan bahwa Allah menakdirkan -sesuai dengan HikmahNya- setiap bid'ah akan ada orang yang menjelaskannya dan menyingkap aurotnya (kesesatannya). Dan ini adalah kesimpulannya.
Oleh karenanya aku senantiasa sampaikan kepada kalian: bersemangatlah dalam menuntut ilmu. Sesungguhnya di negeri ini -di masa mendatang- jika kita tidak bersenjatakan ilmu yang dibangun diatas Al Kitab dan As Sunnah maka nyaris akan terjadi kepada kita sebagaimana yang telah terjadi kepada selain kita di negari-negari Islam. Negari ini sekarang ini menjadi target musuh-musuh Islam. Mereka mengarahkan anak panahnya dengan tujuan untuk menyesatkan penduduknya. Oleh karena itu bersenjatalah kalian dengan ilmu, sampai kalian berada diatas kebenaran dalam agama kalian dan sampai kalian menjadi mujahidin-mujahidin dengan lisan-lisan dan dengan pena-pena kalian untuk (melawan) musuh-musuh Allah subhanahu wa ta'ala.

Semua bid'ah ini tersebar setelah masa sahabat. Para sahabat radhiyallahu anhum tidak pernah mereka membicarakan masalah-masalah ini, karena mereka Langsung bertalaqqi (mengambil langsung) dari Al Kitab dan As-Sunnah sesuai dengan dzohirnya dan sesuai yang dikehendaki fitrah. Dan fitrah yang selamat maka dia akan selamat. Akan tetapi datang para pelaku bid'ah ini mereka mengada-adakan bid'ah didalam agama Alloh ta'ala: entah karena sedikitnya ilmu mereka, atau kurangnya pemahaman mereka, atau karena ada tujuan-tujuan buruk mereka. Mereka membuat kerusakan dalam urusan dunia dengan bid'ah yang mereka adakan.
Akan tetapi sebagaimana yang kami katakan: Sesungguhnya Allah ta'ala dengan -hikmahNya, pujianNya, kebaikanNya dan fadilahNya- tidaklah suatu bid'ah muncul kecuali Allah telah menakdirkan baginya orang yang akan membantahnya dan menjelaskannya.
Dan dari sekian banyak orang-orang yang telah menjelaskan bid'ah dan tegak dengan sempurna dalam membantahnya yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh -- dan aku memohon kepada Allah untukku dan untuk kalian untuk mengumpulkan kita dengannya di surga yang penuh kenikmatan.
Beliau ini -yang dengannya Allah telah memberikan manfaat dengan keutamaan yang ada pada beliau- dan memberikan karunia kepada umat ini dengan yang semisalnya- menulis kitab "Al-Aqidah" ini sebagaimana aku katakan sebagai jawaban terhadap orang yang memintanya dari salah satu penduduk Wasith yang telah mengadukan kepada beliau tentang kondisi manusia yang bergelimang dalam bid'ah dan meminta kepada beliau untuk menuliskan kitab aqidah ini dan beliau pun menuliskannya.


Diterjemahkan oleh Abu Unais Pati dengan beberapa editan ust Abu Sa'id hafidzohulloh

Muqadimah - Tauhid Uluhiyyah

Al-'Alamah Muhammad bin Shalih al-utsaimin rahimahullah berkata :
Pembagian Kedua, yakni Tauhid Uluhiyah adalah mengesakan Allah Azza wa Jalla dalam ibadah. Agar engkau tidak menjadi hamba kepada selain Allah. Engkau tidaklah beribadah kepada malaikat, nabi, wali, manusia, ibu ataupun bapak dan engkau tidak beribadah kecuali kepada Allah saja. Engkau mengesakan Allah 'azza wa jalla dengan penghambaan dan peribadatan. Oleh karenanya Tauhid Uluhiyah disebut juga dengan tauhid ibadah. Dari sisi penyandarannya kepada Allah disebut dengan Tauhid Uluhiyah, dan dari sisi penyandarannya kepada hamba dia disebut tauhid ibadah.
Ibadah dibangun di atas 2 perkara yang agung yaitu kecintaan dan pengagungan. Hal itu diperoleh dari firman Allah ta'ala:
ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا
"Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas".(QS Al-Anbiya': 90)

Mahabbah (kecintaan) akan melahirkan rughbah (harapan), sedangkan pengagungan akan melahirkan ruhbah (rasa segan) dan takut. Oleh karenanya ibadah mencakup perintah-perintah dan larangan-larangan. Adapun perintah dibangun di atas rughbah (harapan) dan permintaan untuk sampai kepada Dzat yang memerintahkan. Sedangkan larangan dibangun diatas pengagungan dan rasa takut kepada Yang Maha Agung.
Apabila engkau mencintai Allah azza wa jalla maka engkau berharap apa yang ada di sisi-Nya dan engkau berharap bisa sampai kepadaNya dengan mencari jalan yang mengantarkan kepadaNya. Dan engkau mengerjakan ketaatan dengan ketaatan yang paling sempurna. Lalu apabila engkau mengagungkannya, engkau akan takut padaNya. Tatkala engkau ada keinginan untuk melakukan maksiat maka engkau merasakan keagungan Alloh Maha Pencipta azza wa jalla sehingga engkau pun menjauhinya.
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ
"Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian". (QS Yusuf: 24).
Ini adalah nikmat Allah kepadamu, tatkala Engkau ingin berbuat maksiat engkau mendapati Allah di hadapanmu, lalu engkau takut dan menjauhi maksiat karena engkau beribadah kepada Allah dengan rasa harap dan rasa takut.
APAKAH ARTI IBADAH?
Ibadah dimutlakkan kepada dua hal yaitu fi'il (perbuatan) dan maf'ul (obyek yang diibadahi).
Dimutlakkan kepada perbuatan yaitu At-Ta'abbud "peribadahan", sebagaimana dikatakan: عبد الرجل ربه عبادة و تعبدا "Seseorang beribadah kepada Tuhannya dengan peribadatan dan penghambaan".
Pemutlakannya kepada at-ta'abbud (peribadahan) dari sisi pemutlakan isim masdar kepada masdar.
Kita mengetahui sisi pemutlakannya kepada fi'il (perbuatan) bahwasanya ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah azza wa jalla dengan kecintaan dan pengagungan dengan mengerjakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Setiap orang yang merendahkan diri dihadapan Allah maka dia mendapatkan kemuliaan Allah.
ۚ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ
Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya. (QS Al-Munafiqun: 8).
Sedangkan ibadah dimutlakkan kepada maf'ul (obyek untuk ibadah) yaitu al-mutta'abud bih (amalan-amalan ibadah) yang makna ini didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan perkataan beliau -rahimahulloh-:
العبادة اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الظاهرة والباطنة
"Ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah berupa perkataan dan perbuatan, baik yang nampak maupun yang tersembunyi"(Risalah Al-Ubudiyyah Majmu' Fatawa, 10/149)
Ini adalah amalan-amalan yang kita beribadah kepada Alloh dengan kewajiban mengesakanNya. Tidak boleh memalingkan ibadah-ibadah tadi kepada selain-Nya, seperti shalat, puasa, zakat, haji, doa, nadzar, rasa takut dan tawakal dan selain itu dari bentuk-bentuk ibadah.
Jika engkau tanyakan: "Apa dalilnya bahwasannya Allah itu Esa di dalam Uluhiyyah?".
Jawabannyanya : "banyak sekali dalil-dalil tentang hal itu, diantaranya:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلاّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُون
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku"(QS Al Anbiya': 25).
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thagut”
(QS An Nahl: 36).
Dan juga firman Alloh -ta'ala-:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاّ هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْم
Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu". (QS Ali Imron: 18)
Seandainya tidak ada keutamaan ilmu kecuali kebaikan ini (niscaya sudah cukup), yang mana Alloh telah mengkhabarkan bahwa tidaklah seseorang mempersaksikan tentang Uluhiyah kecuali dia adalah seorang ahli ilmu. Kita memohon kepada Alloh agar memasukkan kita kedalam golongan mereka.
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِماً بِالْقِسْط
Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan".
(QS Ali Imron: 18)
Kemudian Alloh ta'ala menetapkan persaksian ini dengan firmanNya:
لا إِلَهَ إِلاّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم
"Tiada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Dia. Dan dia adalah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana"(QS Ali Imron: 18)
Maka ini adalah dalil yang jelas bahwasanya tiada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah azza wa jalla. Aku bersaksi bahwasannya tidak ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah. Dan kalian pun bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Ini adalah persaksian yang benar.
Apabila ada orang yang berkata: "Bagaimana engkau menetapkan persaksian tersebut (tiada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Alloh)?, bersamaan dengan itu Allah ta'ala menetapkan adanya tuhan-tuhan selainnya sebagaimana firmanNya:
وَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ
"Dan janganlah engkau menyeru bersama Allah dengan Tuhan yang lain" (QS. Al Qoshos: 88).
Demikian juga firmanNya:
وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِه
Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu". (QS Al Mukminun: 117)
فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ شَيْ
"Karena itu tidak bermanfaat sedikit pun bagi mereka sesembahan yang mereka sembah selain Allah" (QS Huud: 101).
Sebagaimana firmannya juga:
أَإِفْكاً آلِهَةً دُونَ اللَّهِ تُرِيدُون
"Apakah kamu menghendaki kebohongan dengan sesembahan selain Allah itu?". (QS As Shofat: 86).
Dan ayat-ayat lainnya. Bagaimana engkau menggabungkan antara nash-nash tersebut dengan bahwasannya "tiada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah".
Bahwasanya sesembahan selain Allah adalah bathil, itu hanya sekedar penamaan saja (dengan menyebut mereka sebagai tuhan, pent.).
إِنْ هِيَ إِلاّ أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ
"Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)nya". (QS An Najm: 23).
Maka ketuhanannya adalah batil, meskipun diibadahi dan orang-orang yang sesat menyembahnya, karenan sesembahan tadi tidak layak untuk diibadahi. Benar mereka adalah tuhan-tuhan yang diibadahi akan tetapi mereka adalah tuhan yang bathil.
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِل
" Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang sebenarnya dan apa saja yang mereka seru selain Allah adalah batil". (QS Luqman: 30).
Keduanya (Rububiyah dan Uluhiyah)ini adalah termasuk dalam macam tauhid, tidaklah ada yang menentangnya dan tidak pula mengingkarinya seorang pun dari ahlul qiblat yang mengaku Islam karena Allah Ta'ala esa dalam rububiyah dan uluhiyahNya. Akan tetapi ada setelahnya orang yang mendakwahkan ketuhanan manusia. Seperti Rafidhah yang ghuluw (melampaui batas)misalnya yang mereka mengatakan: Sesungguhnya Ali adalah tuhan. Sebagaimana yang dilakukan pemimpin mereka Abdullah bin Saba dimana ketika ia datang kepada Ali bin Abi Tholib radhiyallahu anhu dan berkata kepadanya: "Engkau adalah Allah yang haq".
Akan tetapi Abdullah bin Saba ini asalnya adalah seorang Yahudi, masuk agama Islam dengan mengaku pengikut Ahlul Bait untuk merusak agama orang-orang Islam sebagaimana hal itu dikatakan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: "Sesungguhnya orang ini melakukan (kerusakan) sebagaimana yang dilakukan oleh Paulus ketika dia masuk ke dalam agama Nasrani untuk merusak agama Nasrani".
Orang ini -yakni Abdullah bin Saba- berkata kepada Ali Bin Abi Thalib radhiallahu anhu: "Engkau adalah Allah yang sebenarnya". Dan Ali bin Abi Tholib tidak Ridho ada seseorang yang memposisikan beliau melebihi kedudukannya. Sampai kemudian, beliau radhiallahu anhu karena kejujuran, keadilannya, keilmuannya dan keluasan pengetahuannya beliau berkata di atas mimbar Kuffah: "Sebaik-baik umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar kemudian Umar". Beliau menggumumkan hal itu saat berkhotbah. Dan telah banyak dinukil dari beliau mengenai hal ini. Dan orang yang mengatakan demikian, yang mengakui keutamaan ahli ilmu dari kalangan manusia, lalu bagaimana beliau bisa ridha untuk dikatakan kepada beliau: "Sesungguhnya engkau adalah Allah". Oleh karenanya beliau mencela mereka dengan celaan yang paling buruk dan memerintahkan untuk menggali parit-parit, kemudian diisi oleh kayu bakar, kemudian dinyalakan api. Kemudian beliau datang membawa orang-orang ini dan melemparkan mereka ke dalam api dan membakarnya, karena kebohongan mereka sangatlah besar, sehingga tidak diperlakukan dengan persuasif -Wal 'iyadzu billah-
Ada yang berpendapat bahwa Abdullah bin Saba menyelamatkan diri dan para sahabat tidak berhasil menangkapnya. Intinya bahwa Ali bin Abi Tholib radhiyallahu anhu membakar Saba'iyyah dengan api karena mereka menyerukan ketuhanan kepadanya.
Maka kami katakan setiap orang dari kalangan Ahlul qiblah tidak mengingkari kedua macam tauhid ini yaitu tauhid rububiyah dan Tauhid uluhiyah, meskipun kita didapati pada sebagian Ahlul Bid'ah, sampai ada yang menyembah manusia.
Diterjemahkan oleh Abu Unais Pati dengan beberapa editan Ust Abu Sa'id -hafizhahulloh-.

Muqadimah - Tauhid Rububiyah

Al-'Alamah Muhammad bin Shalih al-utsaimin rahimahullah berkata :
Para ulama rohimahumullah membagi tauhid menjadi tiga:
Pertama: Tauhid Rububiyah yaitu mengesakan Allah subhanahu wa taala dalam tiga perkara yaitu dalam penciptaan, kepemilikan dan pengaturan. Dalilnya adalah firman Allah ta'ala:
ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ
"Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya."(QS Al-A'raf: 54).
Pendalilan dari ayat tersebut bahwasanya : didahulukannya khobar yang seharusnya diakhirkan. Dalam kaidah balaghah mendahulukan yang seharusnya diakhirkan memberikan faedah pembatasan.
Kemudian perhatikanlah pembukaan ayat ini dengan (الا) "ingatlah" menjadi dalil akan tanbih (peringatan) dan taukid (penegasan).
ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ
"Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya."(QS Al-A'raf: 54) bukan kepada selainNya. Maka penciptaan adalah Dia -Allah- dan al-amru(urusan) adalah tadbir (pengaturan).
Adapun 'kepemilikan' maka dalilnya sebagaimana firman Allah ta'ala:
و لله ملك السموات والارض
"Dan milik Allahlah kerajaan langit dan bumi" (QS Al Jatsiyah:27).

Ayat ini menunjukkan tentang keesaan subhanahu wa taala dalam kepemilikan. Dan bentuk pendalilannya dari ayat ini -sebagaimana sebelumnya- mendahulukan khobar yang seharusnya diakhirkan.
Dengan demikian maka Ar-Robb (Alloh) azza wa jalla, Esa dalam penciptaan, kepemilikan dan pengaturan.
Jika engkau katakan: "Bagaimana cara engkau mengkompromikan antara apa yang engkau telah tetapkan diatas dengan kenyataan penetapan adanya penciptaan oleh selain Allah ta'ala sebagaimana firman Allah ta'ala:
ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
"Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik". (QS Al-Mu'minun: 14).
Dan sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam tentang para penggambar makhluk bernyawa:
"يقال لهم: أحيوا ما خلقتم"
"Dikatakan kepada mereka: "Hidupkan yang kamu ciptakan"(HR Bukhori dan Muslim)
Dan sebagaimana firman Allah ta'ala dalam hadis Qudsi:
ومن أظلم ممن ذهب يخلق كخلقي
"Siapakah yang lebih dzolim daripada orang yang berusaha menciptakan sebagaimana ciptaanku" (HR Bukhari & Muslim)
Bagaimana engkau mengkompromikan ucapanmu, bahwa Allah esa dalam penciptaan dengan nash-nash tersebut?
Jawabannya: "Bahwasanya penciptaan adalah mengadakan sesuatu, dan ini adalah kekhususan bagi Allah ta'ala. Adapun mengubah sesuatu dari suatu bentuk ke bentuk yang lain maka yang demikian ini bukanlah penciptaan yang sebenarnya, meskipun disebut sebagai penciptaan dilihat dari sudut pandang pembuatan. Akan tetapi dalam kenyataannya hal itu bukanlah penciptaan yang sempurna. Misalnya seorang tukang kayu membuat pintu dari kayu, maka dikatakan dia menciptakan pintu. Akan tetapi bahan-bahan pembuatannya, yang menciptakannya adalah Allah azza wa jalla. Manusia seluruhnya bahkan yang paling pakar sekalipun tidak akan mampu menciptakan kayu selamanya dan tidak akan mampu menciptakan biji-bijian dan juga tidak akan mampu menciptakan seekor lalat pun.
Simaklah firman Allah ta'ala berikut:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ
"Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah". (QS Al Hajj: 73)
Isim الَّذِينَ adalah isim maushul yang mencakup segala sesuatu yang diseru selain Allah baik berupa batu, manusia, malaikat dan selainnya. Semuanya yang mereka sembah selain Allah:
لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ
"Sekali-kali tidak akan mampu menciptakan seekor lalat meskipun mereka bersatu untuk menciptakannya".
Dan seandainya masing-masing bersendirian untuk melakukannya, maka lebih tidak mampu lagi.
وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ۚ
"Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu".
Sampai berhala-berhala yang mereka sembah selain Alloh, seandainya lalat itu mengambil sesuatu darinya maka mereka tidak akan mampu untuk menariknya kembali dari lalat yang lemah tersebut. Dan seandainya lalat tersebut berada pada raja yang paling kuat di bumi dan menghisap minyak wanginya, maka raja tersebut tidak akan mampu mengambil kembali minyak wanginya tersebut dari lalat tadi. Dan demikian pula seandainya lalat tersebut berada pada makanannya (tentu mereka tidak akan mampu merebutnya kembali). Maka dengan demikian Allah azza wa jalla adalah pencipta satu-satunya.
Kemudian seandainya engkau katakan: "Bagaimana engkau mengkompromikan antara ucapanmu bahwasannya Allah Esa dalam penguasaan, dengan adanya penetapan kepemilikan bagi makhluk-makhlukNya, sebagaimana firman Allah ta'ala:
أَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَفَاتِحَهُ
"Atau rumah-rumah yang kalian miliki kuncinya" (QS An Nur: 61).
إِلاّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ
"Kecuali kepada istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki".
Maka jawabannya:
"mengkompromikan antara keduanya ada dua bentuk:
✔Pertama, bahwasanya kepemilikan manusia terhadap sesuatu tidaklah mutlak dan menyeluruh. aku memiliki apa yang berada di tanganku, namun namun aku tidak memiliki apa yang berada di tanganmu, namun segala sesuatu adalah milik Allah azza wa jalla. Maka dari sisi cakupan, kepemilikan Allah 'azza wa jalla lebih mencakup dan lebih luas dan itu adalah kepemilikan yang sempurna.
✔Kedua: bahwasannya kepemilikanku terhadap sesuatu ini bukankah kepemilikan yang sebenarnya yang bisa aku pergunakan sebagaimana yang aku kehendaki, akan tetapi aku memanfaatkannya sebagaimana yang diperintahkan oleh syariat dan sebagaimana yang diizinkan oleh Pemilik yang Hakiki yaitu Allah azza wa jalla. Seandainya aku membeli satu dirham dengan dua dirham, aku tidaklah bisa memilikinya -secara syariat- dan hal itu tidak halal bagiku. Dengan demikian kepemilikanku terbatas.
Demikian pula aku tidak punya kepemilikan sedikit pun pada perkara-perkara yang telah ditetapkan, karena tasharuf(pengaturannya) adalah hak Alloh. aku tidak bisa mengatakan kepada Budakku yang sakit: "Sembuhlah! Lalu ia pun sembuh. Dan aku tidak mampu pula mengatakan kepada budakku yang sehat tapi pelit: "Sakitlah! Lalu ia pun jatuh sakit. Akan tetapi tasharruf yang sebenarnya adalah hak Allah 'azza wa jalla. Seandainya Dia berkata kepadanya: "Sembuhlah! Maka ia akan sembuh". Dan seandainya Dia berkata kepadanya: "Sakitlah! Maka ia pun jatuh sakit".
Dengan demikian aku tidak memiliki kemampuan untuk bertindak secara mutlak baik secara syar'i dan maupun qodari. Kepemilikanku disini terbatas dari sisi tasharruf (kewenangan dalam menggunakannya) dan kurang dari sisi cakupan dan keumumannya. Oleh karenanya menjadi jelas bagi kita bagaimana ke-Esaan Allah 'azza wa jalla dalam kepemilikan.
Adapun tadbir (pengaturan) Maka manusia juga bisa mengatur akan tetapi kita katakan pengaturannya adalah terbatas sebagaimana dua point diatas dalam keterangan tentang kepemilikan. Tidak setiap sesuatu aku mampu melakukan pengaturan padannya. Akan tetapi aku hanya mampu memberikan pengaturan kepada sesuatu yang berada dibawah genggamanku atau kepemilikanku. Demikian pula aku tidak mampu untuk memberikan pengaturan kecuali sesuai dengan ketentuan syariat yang diperbolehkan kepadaku di dalam pengaturannya.
Dengan demikian menjadi jelas bawa perkataan kami bahwa Allah 'azza wa jalla Esa dalam penciptaan, kepemilikan dan pengaturan secara umum, menyeluruh dan mutlak. Dan tidak ada pengecualian padanya sedikitpun karena setiap yang kami sampaikan tidaklah bertentangan dengan apa yang telah tetap dari Allah azza wa jalla dalam permasalahan tersebut.
Diterjemahkan oleh Abu Unais Pati dengan beberapa editan dari Ust Abu Sa'id At Tighaly -hafidzahulloh-

Muqaddimah Penulis Syarah


Al-'Alamah Muhammad bin Sholih al-utsaimin rahimahullah berkata :
Kitab ini yang diberi judul "Al Aqidah Al Wasithiyah" yang ditulis oleh pembesar umat ini di zamannya: Abul Abbas Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim bin Abdissalam bin Taimiyah -rahimahullah- wafat tahun 728 H.
Beliau ini memiliki peranan -yang patut disyukuri dan kita berharap kepada Allah agar Allah memberikan ganjaran atas usaha-usaha beliau- dalam membela kebenaran dan menghancurkan pengusung kebatilan. Hal tersebut bisa diketahui oleh setiap orang yang menelaah dan meneliti kitab-kitab beliau. Ini pada hakekatnya adalah nikmat Allah kepada umat ini karena Allah Ta'ala telah mencukupkan dengannya perkara-perkara besar lagi penting dalam masalah aqidah Islamiyah.
Kitab ini adalah kitab yang ringkas yang diberi judul Al Aqidah Al Wasithiyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam karena telah mendatangi beliau, seorang laki-laki dari daerah Wasith. Dia menyampaikan kepada beliau kondisi manusia yang bahu-membahu diatas madzab kesesatan dalam masalah Asma dan sifat Allah. Maka ditulislah risalah aqidah ini yang termasuk sebagai pondasi utama bagi 'aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah terkait permasalahan-permasalahan yang banyak manusia terjerumus dalam perkara Bid'ah dan banyak beredar didalamnya pendapat-pendapat yang tidak jelas.r

Dan sebelum kami memulai pembahasan risalah yang agung ini, kami ingin menjelaskan bahwa keseluruhan risalah-risalah para rasul yang diawali oleh Nabi Nuh -'alaihis salam- dan yang terakhir Muhammad -shallallahu 'alaihi wasallam- semuanya menyeru kepada tauhid.
Allah ta'ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku".
(QS Al-Anbiya': 25)
Dan Allah ta'ala juga berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ
"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thagut”. (QS An-Nahl: 36).
Demikian itu karena makhluk diciptakan oleh Dzat yang Esa yaitu Allah 'azza wa Jalla. Mereka diciptakan untuk beribadah kepadaNya agar hati-hati mereka terikat kepadaNya dalam rangka penghambaan, pengagungan, khauf (takut), raja' (berharap), tawakal, rughbah (harapan) dan ruhbah (cemas), sampai mereka meninggalkan segala sesuatu dari urusan dunia yang tidak bisa membantu mereka dalam mentauhidkan Allah 'azza wa jalla dalam permasalahan ini. Karena engkau adalah makhluk yang sudah pasti engkau adalah milik penciptaMu. Engkau di bawah pengaturanNya dalam segala sesuatu. Oleh karenanya, dakwah para rasul alaihimussalam menyeru kepada perkara yang penting dan agung ini yaitu peribadahtan hanya kepada Allah saja dan tidak menyekutukanNya. Dan tidaklah para rasul yang diutus oleh Allah azza wa jalla kepada manusia menyerukan Tauhid Rububiyah sebagaimana seruan mereka kepada Tauhid uluhiyah. Hal itu karena orang yang mengingkari tauhid Rububiyah sedikit sekali bahkan orang yang mengingkarinya dalam keadaan mengakuinya dalam jiwa jiwa mereka, dan mereka tidak mampu untuk mengingkarinya, kecuali mereka telah hilang akal sehatnya, sehingga mengingkarinya karena kesombongannya.
Diterjemahkan oleh Abu Unais Pati dengan bebarapa editan dari Ust Abu Sa'id At-Tighaly -hafidzahulloh-

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)