Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 202-205
Firman Alloh -ta'ala-:
إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ
"Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki"(QS Adz-Dzariyat: 58)
Pada ayat ini terdapat penetapan sifat Kekuatan bagi Alloh -azza wa jalla-.
Ayat ini datang setelah firmanNya:
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ - مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍۢ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan". (QS Adz-Dzariyat: 56-57).
Manusia membutuhkan rezeki dari Alloh -ta'ala-. Alloh tidaklah membutuhkan rezeki dari manusia dan tidak pula menginginkan manusia memberiNya makan.
Lafadz: ٱلرَّزَّاقُ "Maha Pemberi Rezeki", shighah mubalaghah dari Rizq, yaitu pemberian. Alloh -ta'ala- berfirman:
وَإِذَا حَضَرَ ٱلْقِسْمَةَ أُو۟لُوا۟ ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَـٰمَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينُ فَٱرْزُقُوهُم مِّنْهُ
"Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya)"(QS An-Nisa': 8)
yakni berilah mereka. Manusia membinta kepada Alloh -ta'ala- di sholatya dengan berdo'a: "Allommurzuqnii" (Ya Alloh berilah aku rezeki).
Rezeki terbagi dua: umum dan khusus.
Rezeki yang umum adalah yang memberi manfaat bagi badan, baik yang halal maupun yang haram, dan apakah yang diberi rezeki orang muslim ataukah orang kafir. Oleh karenanya Safariny berkata:
"Rezeki adalah sesuatu yang memberi manfaat baik dari yang halal maupun sebaliknya(haram). Maka uraikanlah dari yang mustahil.
Sebab Dia adalah pemberi rezeki bagi setiap makhluk, dan bukanlah makhluk jika tanpa rezeki"
Sebab jika engkau katakan: sesungguhnya rezeki adalah pemberian yang halal. Niscaya semua yang makan dari sesuatu yang haram tidaklah mendapat rezeki padahal Alloh memberikan kepada mereka hal-hal yang bermanfaat bagi badan-badan mereka. Namun rezeki ada dua macam: yang baik dan yang buruk. Oleh karenanya Alloh berfirman:
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِىٓ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِۦ وَٱلطَّيِّبَـٰتِ مِنَ ٱلرِّزْقِ ۚ
"Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?" (QS Al-A'raf: 32).
Dan Alloh tidak berfirman: "dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki" saja. Adapun rezeki yang buruk-buruk maka itu haram.
Adapun rezeki yang khusus adalah yang agama tegak dengannya berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih serta rezeki yang halal yang membantu ketaatan kepada Alloh. Oleh karenanya ayat yang mulia ini datang dengan lafadz: ٱلرَّزَّاقُ "Maha pemberi rezeki" dan tidak mengatakan الرازق "yang memberi rezeki", karena banyaknya rezekiNya dan banyaknya yang makhluk yang Dia beri rezeki. Makhluk yang Alloh -azza wa jalla- beri rezeki tidaklah terhitung dari sisi jenisnya, lebih-lebih macamnya, terlebih lagi perindividunya sebab Alloh -ta'ala- berfirman:
۞ وَمَا مِن دَآبَّةٍۢ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya" (QS Huud: 6)
Dan Alloh memberikan rezeki sesuai keadaannya.
Adapun jika ada yang berkata: Oleh karena Alloh adalah Maha Pemberi Rezeki, apakah saya harus berusaha untuk mendapatkan rezeki atau saya tetap tinggal di rumah dan rezeki akan datang kepadaku?
Jawabnya: Kita katakan: berusahalah untuk mendapatkan rezeki. Sebagaimana Alloh adalah Maha Pengampun bukan berarti engkau tidak melakukan usaha untuk mendapatkan ampunan.
Adapun ucapan penyair:
"Gila engkau karena mencari rezeki padahal janin diberi rezeki (padahal)dalam selaputnya"
Ini adalah ucapan yang salah. Adapun perumpamaannya dengan janin; maka jawabnya: dikatakan: janin tidak mungkin diarahkan untuk mencari rezeki sebab dia tidak mampu berbedaa dengan orang yang mampu.
Oleh karenanya Alloh -ta'ala- berfirman:
هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًۭا فَٱمْشُوا۟ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا۟ مِن رِّزْقِهِۦ
"Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya" (QS Al-Mulk: 15)
Haruslah dengan usaha dan hendaklah usaha itu sesuai dengan syariat.
* FirmanNya: ذُو ٱلْقُوَّةِ "yang Memiliki Kekuatan". Al-Quwwah adalah sifat yang memungkinkan bagi pelakunya mengerjakannya(perbuatan) tanpa disertai kelemahan. Dalilnya adalah firman Alloh -ta'ala-:
ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍۢ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعْدِ ضَعْفٍۢ قُوَّةًۭ
"Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat" (QS Ar-Ruum: 54)
Dan Al-Quwwah (kuat) bukanlah Al-Qudrah (Kuasa/Mampu) berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعْجِزَهُۥ مِن شَىْءٍۢ فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَلِيمًۭا قَدِيرًۭا
"Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa". (QS Fathir: 44)
Qudrah (kuasa/mampu) lawannya 'ajz(tidak mampu) dan Quwwah(kuat) lawannya adalah dho'f (lemah). Perbedaan keduanya adalah: (pertama)bahwa qudrah sifat untuk yang memiliki perasaan, sedangkan quwwah adalah sifat untuk yang memiliki perasaan dan juga selainnya. Kedua: bahwa quwwah lebih khusus; setiap yang memiliki kekuatan dari yang memiliki perasaan maka dia kuasa, dan tidak setip yang quwwah (kuat) maka dia qoodir(kuasa). Contohnya adalah: engkau katakan: angin itu kuat; dan tidak engkau katakan: kuasa. Engkau katakan: Besi itu kuat; dan tidak engkau katakan: kuasa. Akan tetapi yang memiliki perasaan engkau katakan: dia kuat dan dia kuasa
Tatkala 'Aad berkata:
مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ
"Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?"
Alloh berfirman:
أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِى خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةًۭ ۖ
"Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka?" (QS Fushilat: 15)
FirmanNya: ٱلْمَتِينُ. Ibnu Abbas -radhiyalohu 'anhuma berkata: Yang Sangat Kokoh. Yakni kokoh kekuatanNya, kokoh dalam ketangguhanNya, dan kokoh dalam seluruh sifat keperkasaanNya. Sifat ini dari segi makna adalah taukid (penguat) dari Al-Qawiy (kekuatan).
Dan boleh bagi kita mensifati Alloh dengan syadid (kokoh/kuat) namun tidak boleh menamaiNya dengan Asy-Syadid, namun kita menamainya dengan Al-Matiin sebab Alloh menamai diriNya dengan nama ini.
Dalam ayat ini ada penetapan dua nama di antara nama-nama Alloh yaitu: Ar-Rozzaq (Yang Maha Pemberi Rezeki) dan Al-Matiin (Yang Maha Kokoh); dan terdapat penetapan tiga sifat yaitu: pemberian rezeki, kekuatan dan yang terkandung pada nama Al-Matiin.
Faidah maslakiyah di dalam mengimani Al-Quwwah dan Ar-Rizq adalah bahwasannya kita tidak akan mencari kekuatan dan rezeki kecuali dari Alloh -ta'ala-; dan kita mengiman bahwasannya setiap kekuatan bagaimanapun besarnya tidak akan mampu menghadapi kekuatan Alloh -ta'ala-.