الدين مبنيّ على المصالح # في جلبها والدرءللقبائ
#12 Agama dibangun di atas kemaslahatan-kemasahatan # untuk mendapatkannya dan menolak kerusakan-kerusakannya.
Penjelasan:
*Ini adalah ushul(pokok) yang agung dan kaidah umum yang tercakup di dalamnya seluruh permasalahan Dien. Semuanya dibangun diatas asas tercapainya kemaslahatan-kemaslahatan agama, dunia dan akhirat; dan di atas asas tercegahnya kemudharatan dalam agama, dunia dan akhirat. Tidaklah Alloh memerintahkan sesuatu kecuali di dalamnya ada maslahat-maslahat yang tidak bisa diketahui seluruhnya. Dan tidaklah Alloh melarang sesuatu kecuali di dalamnya ada kerusakan-kerusakan yang tidak bisa diketahui seluruhnya.
*Diantara perintah Alloh terbesar adalah At-Tauhid, yaitu mengesakan Alloh dalam ibadah. Tauhid ini mengandung kebaikan hati dan kelapangannya, cahanya dan kebahagiannya; dan hilangnya kotoran-kotorannya; yang di dalamnya ada maslahat bagi badan, dunia dan akhirat.
* Dan larangan Alloh terbesar adalah mempersekutukanNya dalam beribadah, yang hal itu adalah kerusakan dan musibah bagi hati dan badan, di dunia dan di akhirat. Setiap kebaikan di dunia dan akhirat maka hal itu adalah dari buah tauhid; dan setiap keburukan di dunia dan akhirat maka hal itu adalah dari buah kesyirikan.
* Di antara perkara yang diperintahkan Alloh adalah sholat, zakat, puasa dan haji yang diantara manfaatnya adalah kelapangan hati dan cahayanya, hilangnya kedukaan dan kegundahan, dan semangat dan ringannya badan, cahaya di wajah, luasnya rezeki serta mendapat kecintaan di hati-hati kaum mukminin. Dalam zakat dan shadaqah serta wajah yang ceria ada pembersih dan pensuci bagi jiwa dan sirnanya kotoran darinya; membantu memenuhi hajat saudaranya sesama muslim serta bertambahnya keberkahan dan berkembangnya hartanya; bersamaan dengan amalan ini pula ada pahala Alloh yang besar yang tidak mungkin dijelaskan; dan didapatkan keridhoanNya yang hal itu lebih agung dari apa pun; serta sirnanya kemurkaanNya.
* Demikian pula di syariatkan bagi hamba-hambanya untuk berkumpul beribadah di suatu tempat; seperti sholat-sholat 5 waktu, sholat Jum'at dan 'Ied, tempat-tempat pelaksanaan ibadah haji, serta berkumpul untuk mengingat Alloh dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat yang dengan bekumpulnya ada pembauran yang melahirkan rasa saling cinta dan keakraban; serta menghilangkan pemutusan hubungan dan kedengkian di antara mereka; dan melahirkan kebencian syaitan karena tidak suka mereka berkumpul di atas kebaikan; saling berlomba-lomba dalam kebaikan; saling memberikan keteladanan di antara mereka, saling memberikan pengajaran. Dan yang seperti demikian itu membuahkan pahala yang banyak yang tidak bisa diperoleh ketika sendirian; dan hikmah-hikmah lainnya.
* Dan Alloh -subhanahu wa ta'ala- memperbolehkan jual beli dan akad-akad yang mubah selama adil dan karena adanya kebutuhan manusia padanya.
* Dan Alloh Mengharamkan Riba dan seluruh akad-akad yang rusak karena padanya ada kedzaliman dan kerusakan dan karena tidak adanya hajat manusia padanya.
* Dan Alloh memperbolehkan hal-hal yang baik berupa berbagai macam makanan, minuan; pakaian dan munakahat karena padanya ada kemaslahatan dan karena kebutuhan manusia padanya serta tidak adanya kerusakan di dalamnya.
* Dan Alloh mengharamkan hal-hal yang buruk dari berbagai makanan, minuman, pakaian dan pernikahan karena di dalamnya terdapat banyak keburukan dan kemudharatan baik di dunia maupun di akhirat. Maka, pengharamannya adalah bentuk penjagaan bagi hamba, perlindungan baginya bukan sebagai bentuk pengekangan atas mereka bahkan merupakan rahmat bagi mereka. Sebagaimana pemberianNya adalah rahmat, maka laranganNya juga rahmat. Misalnya diturunkan hujan dengan kadar tertentu yang dibutuhkan hamba-hambaNya adalah rahmat Alloh -ta'ala-. Apabila bertambah sedemikian rupa sehingga menjadi bermudharat penambahannya, maka pengurangannya adalah rahmat.
* Secara umum, perintah-perintah Alloh adalah penguat hati dan nutrisinya, dan larangan-laranganNya adalah penyakit dan racunnya.
* Demikian pula berbagai permasalahan warisan, waqaf, wasiat dan apa pun yang ada dalam cakupannya; semuanya mengandung kemaslahatan dan kebaikan yang paling tinggi. Dan tidak mungkin untuk menguraikan seluruh hikmah dan masalahat pada satu bab ilmu yang ada, lebih-lebih untuk menguraikan seluruhnya.
* Ibnul Qayyim -rahimahulloh- berkata: Apabila engkau merenungkan hikmah yang demikian menakjubkan pada agama yang lurus ini dan Dien yang hanif ini serta syariat yang terpuji yang tidak mampu diungkapkan kesempurnaannya, tidak bisa digambarkan keindahannya, dan tidak bisa diungguli oleh akal-akal para pemikir -meski mereka semuanya berkumpul dan meski kecerdasan mereka seperti kecerdasan orang yang paling cerdas di antara mereka-.
Dan cukuplah bagi akal-akal yang sempurna dan mulia untuk memikirkan keindahannya dan menjadi saksi baginya. Tidak ada di alam ini suatu syariat yang lebih sempurna, lebih agung dan lebih mulia dari Isam. Maka di dalamnya ada yang menyaksikan dan disaksikan, yang berhujjah dan diberikan hujah kepadanya, dan ada dalil dan ada petunjuk. Seandainya tidak ada Rasul yang menjelaskannya niscaya cukuplah dengannya sebagai petunjuk dan saksi bahwasannya agama ini dari sisi Alloh -ta'ala-. Seluruhnya menjadi bukti bagi Alloh akan kesempurnaan ilmuNya, kesempurnaan hikmahNya, luasnya rahmatNya, kebaikanNya, ihsanNya, dan ilmunya yang meliputi hal yang ghaib dan yang nampak, dan ilmu tentang prinsip-prinsip ajaran dan hukuman-hukuman. Dan bahwasannya hal itu adalah sebesar-besar nikmat Alloh yang dianugerahkan kepada para hambaNya. Maka, tidaklah Alloh menganugerahkan suatu nikmat kepada para hambanya melebihi hidayah untuk mereka; dan menjadikan mereka sebagai ahlinya, dan termasuk orang yang Alloh ridhai untuk mendapat petunjuk tersebut, dan Alloh meridhai petunjuk tersebut untuk mereka. Sebagaimana firman Alloh ta'ala:
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ [٣:١٦٤]
"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata". (QS Ali Imran: 164)
Kemudian beliau -rahimahulloh- berpanjanglebar menjelaskan hal ini1.
Catatan:
1. Miftah Daris Sa'adah (2/308 - cet. Dar Ibnu Affan)