“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Kamis, 28 November 2019

Tuhfah: Pembagian Mahabbah (Kecintaan) Ada Empat

Pertama: Mahabbah Ibadah; yaitu cinta kepada Alloh dan mencintai segala yang dicintai Alloh. Alloh -ta'ala- berfirman:
ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ
"Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah". (QS Al-Baqarah: 165)

Penjelasan:
Mahabbah (kecintaan) adalah ibadah hati. Macam mahabbah jenis ini jika dipalingkan kepada selain Alloh adalah syirik. Mahabbah yang merupakan ibadah adalah untuk Alloh dan karena Alloh. Mahabbah yang karena Alloh diantaranya yang ditujukan kepada manusia, waktu maupun tempat. Misalnya kepada orang-orang sholih, kecintaan kepada bulan Ramadhan, dan kecintaan kepada rumah-rumah Alloh. Asal dari seluruh amalan mahabbah - bahwa manusia tidaklah mencintai kecuali untuk sesuatu yang ingin didapatkannya atau sesuatu yang memotivasinya. Dan tidaklah dicintai karena dzatnya kecuali Alloh sebagaimana yang ditegaskan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Oleh karenanya orang yang merealisasikan kecintaan kepada Alloh dan mecintai hal yang dicintai Alloh serta membenci apa yang tidak diridhoi Alloh maka sungguh dia akan mendapatkan manisnya iman dalam hatinya sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dalam As-Shahihain dari Anas secara marfu':

 ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَبِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
"Tiga hal yang jika ada pada diri seseorang maka dia akan merasakan manisnya iman: Seseorang yang menjadikan Alloh dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. Seseorang mencintai orang lain karena Alloh. Dan seseorang yang membenci kembali kepada kekufuran setelah Alloh menyelamatkannya darinya sebagaimana dia tidak suks untuk dilemparkan ke neraka" (HR Bukhari & Muslim).

Tidaklah bersatu kecintaan kepada Alloh dan kecintaan kepada perkara yang dimurkai Alloh dalam hati seorang mukmin yang memiliki keimanan yang sempurna. Adapun keimanan yang kurang sempurna terkadang terkumpul padanya kecintaan kepada sebagian maksiat, sebagaimana yang diriwayatkan dalam shahih Bukhari bahwa ada seorang laki-laki yang dihadirkan ke hadapan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dalam masalah minum khomer. Sebagian shahabat berkata: Semoga Alloh melaknatnya. Betapa seringnya dia dibawa kepada beliau. Maka Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
لا تلعنوه، فإنه يحب الله ورسوله
"Janganlah kalian melaknatnya karena sesungguhnya dia mencintai Alloh dan rasulloh".

Berkata penulis -hafidzahulloh-:
Kedua: Mahabbah Syirkiyah (Kecintaan yang membawa kesyirikan) yaitu cinta kepada selain Alloh seperti cinta kepada Alloh atau lebih sangat lagi. Alloh ta'ala berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ
"Dan di antara manusia ada orang yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah" (QS Al-Baqarah: 165)

Penjelasan:
Kecintaan ini meniadakan pokok keimanan. Kecintaan kepada selain Alloh mencakup manusia dan berhala dan selainnya yang dijadikan tandingan selain Alloh.
Dan firman Alloh dalam ayat: وَمِنَ النَّاس (Dan di antara manusia ) huruf من di sini untuk tab'idh (menunjukkan sebagian) yakni sebagian manusia.

Dan firman Alloh:
مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ
"orang yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah".
Alloh menjelaskan bahwa bentuk tandingan yang mereka jadikan dari selain Alloh adalah kecintaan mereka kepada tandingan-tandingan tersebut. Tandingan-tandingan tersebut terkadang dari manusia atau berhala atau selainnya.

FirmanNya: يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّه "mereka cintainya seperti mencintai Allah" Ibnul Qayyim berkata dalam Madarijus Salikin, ini ada dua penafsiran:
Pertama: Mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut sebagaimana orang-orang mukmin mencintai Rabbnya.
Kedua: mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut sebagaimana mereka mencintai Alloh.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menguatkan pendapat kedua, dan inilah yang benar -in sya Alloh. Sisi yang menjadikan kecintaan ini sebagai syirik adalah bahwa pelakunya memalingkan peribadahan kepada selain Alloh, dan karena taqarrub kepada tandingan-tandingan ini berakibat kepada (melakukan)sebagian amalan yang di antaranya adalah kesyirikan. Dan cukuplah dikatakan mahabbah ini sebgai kesyirikan karena ini adalah ibadah yang ditujukan kepada selain Alloh.

Berkata penulis:
Ketiga: Mahabbabah Maksiat (cinta maksiat); yaitu seperti mencintai keharaman, bid'ah, pelaku kemaksiatan dan pengikut hawa nafsu dan selainnya dari kecintaan yang menyelisihi syariat.

Penjelasan:
Dipersyaratkan 'mahabbah maksiat' adalah tidak menyamai kecintaannya  kepada Alloh atau melebihi, sebab yang demikian itu syirik. Kecintaan kepada maksiat menghilangkan kesempurnaan tauhid dan iman. Bahayanya menimpa pelakunya di dunia dan di akhirat. Dan seseorang bersama yang dicintainya, sebagaimana yang telah datang dari Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dalam As-Shahihain.

Berkata penulis -hafidzahulloh-:
Keempat: Mahabbah Tabi'iyyah (kecintaan karena tabiat) seperti kecintaan kepada anak-anak, keluarga, dirinya dan lain sebagainya dari yang dicintai. Namun haruslah sewajarnya.
Jika seseorang disibukan dari menjalankan ketaatan kepada Alloh lalu dia meninggalkan sebagian kewajibannya maka ini adalah mahabbah maksiat. Apabila berlebih-lebihan (kecintaan tersebut) pada hidupnya dan hatinya, dan dia mencintainya seperti dia mencintai Alloh atau lebih dari itu maka ini adalah mahabbah yang syirik.

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulohu ta'ala- hal 84-88.

Minggu, 24 November 2019

Bagaimana Kebenaran foto Pemuda yang diadzab dalam Kuburnya dan Hukum Menyebarkannya

Pertanyaan:
Tersebar di medan dakwah sebuah disket yang berisi foto-foto pemuda yang dikabarkan dia dikeluarkan dari kuburnya setelah tiga jam dikubur. Didapati pada jasadnya bekas siksaan yang dikatakan sebagai siksaannya di kubur. Mereka memberikan faidah hal itu karena si pemuda pelaku maksiat, meninggalkan sholat. Sebagian orang menyebarkannya. Apakah bekas-bekas tersebut adalah akibat dari adzab kubur? Dan bolehkah menyebarkan rekaman ini seperti untuk dakwah? Jazakallohu khoiron.

Jawab:

الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعد:
Keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa siksa kubur itu adalah benar adanya, wajib mengimaninya karana ditetapkan oleh dalil-dalil syar'i yang banyak dan mutawatir. Dan bahwa nikmat dan adzab terjadi atas ruh dan jasad dengan kesepakatan Ahlus Sunnah. Ruh mendapat nikmat dan diadzab secara terpisah dari badan dan juga secara bersamaan. Yakni bahwa ruh tetap tinggal setelah terpisah badan dengan mendapat nikmat maupun mendapat adzab dan terkadang ruh bersatu dengan badan. Sehingga badan bersama ruh mendapatkan nikmat atau pun adzab sama saja dia dikuburkan mau pun tidak. Namun karena keumuman orang yang meninggal dikubur maka dilekatkan penyebutannya (dengam adzab kubur -pent).

Maka orang yang tidak dikubur semisal disalib dan yang semisalnya dia tetap mendapatkan fitnah pertanyaan kubur dan juga himpitan kubur. Ibnul Qoyyim dalam kitab Ar-Ruh berkata: "di antara perkara yang mesti dipahami bahwa adzab kubur adalah adzab barzakh. Setiap orang yang mati dan dia layak untuk mendapat adzab maka dia akan merasakan bagiannya baik dikubur maupun tidak dikubur. Seandainya dia dimakan binatang buas, atau dibakar sampai menjadi abu dan dihamburkan ke udara, atau disalib  atau tenggelam di laut maka sampai juga adzab kepada ruh dan badannya sebagaimana dirasakan orang-orang yang dikubur".

Dengan demikian menjadi jelaslah bahwa orang yang berusaha menyebarkannya tanpa meneliti kebenaran foto orang yang diadzab dalam kuburnya dan meyakini kebenarannya ada beberapa penghalang:

Pertama: Sesungguhnya alam barzakh berkebalikan dengan alam dunia sebab ruh-ruh mengikuti badan dalam hukum-hukum dunia; dimana siksaan-siksaan dunia terjadi pada badan yang dzohir dan ruh merasakan menderita dengan mengikutinya. Adapun hukum-hukum alam barzakh terjadi pada ruh, dan jasad mengikutinya dalam merasakan kenikmatannya maupun siksaannya. Maka siksaan dan kenikmatan terjadi pada ruh secara asal dan badan mengikuti ruh sebagaimana yang ditegaskan Ibnul Qayyim -rahimahulloh-.

Kedua: Sesungguhnya Alloh -ta'ala- menjadikan alam barzakh dan Akhirat perkara ghaib dan Alloh menutupinya dari jangkauan akal-akal di dunia. Hal itu merupakan kesempurnaan hikmahNya dan agar terbedakan antara orng-orang yang beriman terhadap perkara yang ghaib dengan yang selainnya. Dengan demikian tidak boleh ada qiyas kondisi-kondisi alam barzakh dan akhirat dengan kondisi dunia karena perbedaan kondisi keduanya.

Ketiga: dan sesungguhnya Alloh tidak memperdengarkan kepada manusia yang hidup suara-suara orang yang di adzab dalam kubur mereka berdasarkan sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa salam-:
"Sesungguhnya umat ini diuji dalam kubur mereka. Kalaulah tidak karena kalian akan lari bersembunyi niscaya aku akan berdoa kepada Alloh agar memperdengarkan kepada kalian siksa kubur sebagaimana yang aku dengar" (1)
Maka karena hikmah ilahiyah dan karena akan dikuasai kengerian jika mendengarnya maka Alloh menyembunyikannya dari kita agar tidak berlarian karena ketidakmampuan untuk mendengar sesuatu pun dari adzab Alloh di dunia ini. Demikian pula bentuk siksaan disembunyikan dari kita karena ketidaksanggupan untuk menyaksikan sesuatu pun dari adzab Alloh -ta'ala- di kehidupan dunia ini karena lemahnya kemampuan.
Hal ini -dengan tanpa melihat pada pengaruh foto tersebut terhadap khalayak dan menggunakannya untuk metode dakwah- sesungguhnya dakwah kepada kepada Alloh dengan rusaknya keyakinan tidaklah disyariatkan sebab tujuan tidaklah menghalalkan wasilah (sarana) dan niat yang baik tidaklah dengan menghalalkan yang haram. Oleh karena itu memperjualbelikannya dan menyebarkannya mengikuti hukum larangan sebab di dalamnya ada penyelewengan terhadap ajaran yang benar dan pemikiran yang shahih.
Dan ilmunya ada di sisi Alloh -ta'ala-.
وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصَلَّى الله على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلَّم تسليمًا.

######
في صحَّة صورة الشابِّ المعذَّب في قبره
وحكم ترويجها

السؤال:

انتشرَ في ساحةِ الدعوةِ قرصٌ يحتوي على صُوَرٍ لشابٍّ يقال أنَّه أُخرِج من قبرِه، بعد ثلاثِ ساعاتٍ من دفنِه، ووُجِدَ على جسدِه آثارُ تعذيبٍ نُسِبَتْ لعذابِه في القبرِ، وأرجعوا ذلك لكونِ الشابِّ منحرِفًا، تاركًا للصلاةِ، وقد قام البعضُ بنشرِه، فهل هذه الآثارُ يمكن أن تكونَ نتيجةَ عذابِه في القبرِ؟ وهل يجوز ترويجُ هذا القرصِ كأسلوبٍ دَعَوِيٍّ؟ جزاكم الله خيرًا.

الجواب:
الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعد

فمعتقَدُ أهلِ السُّنَّةِ والجماعةِ أنَّ عذابَ القبرِ حقٌّ، يجب الإيمانُ به، لثبوتِه بنصوصٍ شرعيةٍ مُتكاثِرةٍ ومتواتِرةٍ، وأنَّ النعيمَ والعذابَ يقع على الروحِ والبدنِ جميعًا باتِّفاقِ أهلِ السُّنَّةِ، وتُنَعَّمُ الروحُ وتُعَذَّبُ مفردةً عنِ البدنِ ومتَّصِلَةً به، أي: أنَّ الروحَ تبقى بعد مفارَقَةِ البدنِ منعَّمةً أو معذَّبةً، وأنها تتَّصلُ بالبدنِ أحيانًا، فيحصل معها النعيمُ والعذابُ سواء قُبِرَ الميِّتُ أو لم يُقْبَرْ، غيرَ أنه لَمَّا كان الغالبُ على الموتى أنهم يُقْبَرون كان ألصقَ في التسميةِ،
فمَنْ لم يُدْفَنْ مِن مصلوبٍ ونحوِه ينالُه نصيبُه من فتنةِ السؤالِ، وضغطةِ القبرِ أيضًا، قال ابنُ القيِّمِ في كتابِ «الروح»: «ممَّا ينبغي أن يُعْلَمَ أنَّ عذابَ القبرِ هو عذابُ البرزخِ، فكلُّ من مات وهو مستحِقٌّ للعذابِ ناله نصيبه منه قُبر أم لم يُقبر، فلو أكلته السباع، أو أُحْرِقَ حتى صار رمادًا ونُسِفَ في الهواءِ، أو صُلِبَ، أو غَرِقَ في البحرِ، وصل إلى روحِه وبدنِه من العذابِ ما يصل إلى المقبور».

وعليه، يتجلَّى واضحًا أنَّ الذي يحول دون تصديقِ صورةِ المعذَّبِ في قبرِه واعتقادِ صحَّتِها عدَّةُ موانعَ منها:

أوَّلاً: إنَّ دارَ البرزخِ عكسُ دارِ الدنيا، إذ الأرواحُ تابعةٌ للأبدانِ في أحكامِ الدنيا، حيث إنَّ العقوباتِ الدنيويةَ تقع على البدنِ الظاهرِ، وتتألَّم الروحُ بالتبعيةِ، أمَّا في أحكامِ البرزخِ فتقعُ على الأرواحِ، والأبدانُ تبعٌ لها في نعيمِها وعذابِها، فكان العذابُ والنعيمُ على الروحِ بالأصالةِ والبدنُ تابعٌ للروحِ كما قرَّره ابنُ القيِّم رحمه الله.

ثانيًا: إنَّ اللهَ تعالى جعل أمْرَ البرزخِ والآخرةِ غَيْبًا وحَجَبَهُ عن إدراكِ العقولِ في هذه الدارِ، وذلك من كمالِ حِكمتِه وليتميَّزَ الذين آمنوا بالغَيبِ عن غيرِهم، لذلك لا يجوز قياسُ أحوالِ البرزخِ والآخرةِ على أحوالِ الدنيا لافتراقِ أحوالِهما.

ثالثًا: ولأنَّ اللهَ تعالى لم يُسْمِعِ الأحياءَ من الآدميِّين أصواتَ المعذَّبين في قبورِهم، لقولِه صَلَّى اللهُ عليه وآلِه وسَلَّم: «إِنَّ هَذِهِ الأُمَّةَ تُبْتَلَى فِي قُبُورِهَا فَلَوْلاَ أَنْ لاَ تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ الَّذِي أَسْمَعُ مِنْهُ»(١)، فلِحِكمةِ اللهِ الإلهيةِ، وغَلَبةِ الخوفِ عند سماعِه، كتمه اللهُ عنَّا حتَّى نتدافنَ، لعدمِ القدرةِ على سماعِ شيءٍ من عذابِ اللهِ في هذه الدنيا، فكذلك صورةُ العذابِ أُخْفِيَتْ علينا لعدمِ وجودِ الطاقةِ على النظرِ إلى شيءٍ من عذابِ اللهِ تعالى في هذه الدارِ، لضعفِ القُوى.

هذا، وبغضِّ النظرِ عن تأثيرِ هذه الصورِ في العامَّةِ، واستعمالِها كأسلوبٍ دَعَوِيٍّ، فإنَّ الدعوةَ إلى اللهِ بفسادِ المعتقدِ لا تُشْرَعُ؛ لأنَّ الغايةَ لا تبرِّرُ الوسيلةَ، والنيَّةُ الحسنةُ لا تبرِّر الحرامَ، لذلك فالتجارةُ بها وترويجُها يتبعه في حُكْمِ المنعِ، لما فيها من القدحِ في سلامةِ الطويَّةِ وصحَّةِ السريرةِ.

والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصَلَّى الله على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلَّم تسليمًا.

http://ferkous.com/home/?q=fatwa-23

Kamis, 21 November 2019

Hukum menyertakan anak kecil yang belum Tamyiz ke dalam shof sholat

Pertanyaan:
Sebagian orang yang sholat dengan sengaja membawa anak-anak mereka ke masjid; umumnya umurnya antara 2 sampai 6 tahun. Jika sudah iqomah anak putra atau putri tersebut dibariskan bersama orang tuanya ke dalam shof laki-laki. Apakah ini boleh? Jazakumullohu khoiron.

Jawab:
الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على مَن أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدِّين، أمَّا بعد:
Anak kecil jika sudah sampai umur 7 tahun -yang merupakan awal dari usia tamyiz menurut pendapat yang shahih- maka boleh bershof bersama laki-laki sebab dia sudah diperintahkan sholat berdasarkan sabda nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ
"Perintahkanlah anak-anak kalian mengerjakan sholat ketika mereka berumur 7 tahun, dan pukullah (ketika mereka tidak mau mengerjakannya -pent) pada usia 10 tahun"(1)(2)
Ibnu Abbas -radhiyallohu 'anhuma- pernah sholat bersama Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- lalu beliau memegang kepalanya dan menggeser beliau ke sebelah kanan beliau (3). Demikian pula diimami anak kecil adalah sah apabila dia lebih hafal kitabulloh (Al-Qur'an) dari pada selainnya -sebagaimana yang telah sahih dalam hadits Amr bin Salamah -radhiyallohu 'anhu- bahwa dia mengimami manusia sedangkan dia berumur 7 tahun. Maka masuk barisan shof lebih boleh lagi. 
Jika tidak usia tamyiz maka dia tidak diperintahkan sholat dan tidak memutus shof sholat berdasarkan hadits Anas bin Malik -radhiyallohu 'anhu- ia berkata:
فَقُمْتُ إِلَى حَصِيرٍ لَنَا قَدِ اسْوَدَّ مِنْ طُولِ مَا لُبِسَ، فَنَضَحْتُهُ بِمَاءٍ، فَقَامَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَصَفَفْتُ أَنَا وَاليَتِيمُ وَرَاءَهُ، وَالعَجُوزُ مِنْ وَرَائِنَا، فَصَلَّى لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ انْصَرَفَ
"Kemudian aku berdiri di tikar milik kami yang telah menghitam karena lama digunakan. Lalu aku memercikinya dengan air. Kemudian Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- berdiri di atasnya. Aku dan seorang anak yatim berbaris di belakang beliau sedangkan orang-orang lemah (renta) di belakang kami. Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa salam- mengimami sholat kami dua rekaat lalu kembali"(5)
Yang nampak dari lafadz "yatim" dalam hadits ini adalah anak kecil. Yatim yaitu anak kecil yang kehilangan bapaknya sebelum baligh (6) tanpa ada beda antara mumayiz dan bukan mumayiz; dan tidak dijadikan perbedaan kecuali dengan dalil. Syaukani -rahimahulloh- berkata: "Dalam hadits ini bahwa anak kecil merapatkan pundaknya" (7)

Adapun menyamakan anak kecil yang belum mumayiz dengan tiang atau dengan orang yang tidak sah sholatnya seperti orang kafir, atau wanita bersama laki-laki; maka ini adalah qiyas yang jelas perbedaannya antara orang berakal dan benda mati, antara muslim dan kafir dan antara laki-laki dan perempuan.

Adapun anak kecil perempuan maka di dua kondisi yakni mumayiz atau belum mumayiz maka tidak shaf satu shaf dengan kau laki-laki karena perbedaan jenis dan dia memutus shof sebab ada dan tidak adanya sama.

Jika orang tua si anak perempuan terpaksa harus menjaganya untuk sholat jamaah maka hendaklah si anak ikut sholat di bagian tepi shaf; sebelah kanan atau sebelah kiri sehingga dia (orang tua si anak) menjadikannya seperti bagian akhir tersendiri pada rangkaian shof agar tidak memutus shaf. Dan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- pernah sholat dengan membawa Umamah binti Zainab -radhiyallohu 'anhuma- di pundaknya (8) sampai orang-orang tahu bahwa perbuatan semacam ini diperbolehkan dalam sholat ketika sangat dibutuhksn dan sangat diperlukan.

Bagaimana pun, saya tidak mengetahui adanya dalil yang menetapkan batalnya sholat di kondisi tersebut di atas dengan sebab merusak kelurusan shaf atau ketidak teraturannya.

Hal ini, layak untuk menjadi perhatian bahwa anak kecil yang belum tamyiz jika nampak bandel dan ceroboh atau melakukan hal yang mengganggu di masjid maka yang lebih utama adalah tetap di rumahnya bersama keluarganya sebab dia belum diperintahkan menegakkan sholat ini yang pertama; dan ia mengganggu dengan kebandelan dan tingkahnya kepada orang yang sholat, ini yang kedua. Secara asal kita diperintahkan untuk menghilangkan kemudharatan dan gangguan karena keumuman sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
"Tidak diperbolehkan hal yang berbahaya dan membahayakan" (9)
selama orang tuanya tidak terpaksa untuk menemaninya, (jika terpaksa menemaninya maka diperbolehkan) dengan ditunjukkan dalil hadits Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- menggendong Umamah binti Zainab -radhiyallohu 'anhuma-.(10)
Namun jika perilaku anak tidak bandel dan membuat ribut maka boleh mengajaknya ke masjid sebab Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- melihat Hasan bin Ali -radhiyallohu 'anhuma- ketika beliau ada di atas mimbar lalu bersabda:
«إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ، وَلَعَلَّ اللهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ المُسْلِمِينَ»
"Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid, semoga Alloh mendamaikan dua kelompok besar dari kaum muslimin dengan perantara dirinya" (11)
Dan yang diriwayatkan An-Nasa'i dan Ahmad dari jalan Abdullah bin Syaddad dari bapaknya yakni Syaddad bin Hadi -radhiyallohu 'anhu- beliau berkata:

«خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِحْدَى صَلَاتَيِ العَشِيِّ وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَهُ ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ، فَصَلَّى فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا»، قَالَ أَبِي: «فَرَفَعْتُ رَأْسِي وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَاجِدٌ فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ قَالَ النَّاسُ: «يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ»، قَالَ: «كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي؛ فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ»»

"Rasalulloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- keluar menemui kami di salah satu sholat petang sedangkan beliau membawa Hasan atau Husain. Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- maju kedepan dan meletakkannya kemudian bertakbir untuk memulai sholat. Kemudian beliau sholat di tengah sholatnya dengan sujud yang lama". BApakku berkata: Maka aku mengangkat kepalaku dan ternyata anak kecil itu di atas punggung Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- sedangkan beliau dalam keadaan sujud. Maka aku pun kembali sujud. Tatkala Rasululloh -shollallohu 'alaihi wasallam- selesai dari sholatnya maka para sahabat berkata: Wahai Rasululloh, Engkau sujud di tengah sholat dengan sujud yang engkau panjangkan sampai kami menyangka telah terjadi sesuatu atau telah turun wahyu kepadamu". Beliau bersabda: "Semua itu tidak terjadi, akan tetapi anakku ini menunggangiku dan aku tidak ingin tergesa-gesa untuknya sampai keinginannya terpenuhi" (12). Dan ulama berdalil dengan kedua hadits ini tentang bolehnya memasukkan anak kecil ke masjid.
Adapun hadits:
جَنِّبُوا مَسَاجِدَكُمْ صِبْيَانَكُمْ وَمَجَانِينَكُمْ
"Jauhkan masjid-masjid kalian dari anak-anak kecil kalian dan orang-orang gila" (13)
Maka tidak bisa diangkat untuk berhujah dengannya karena sangat lemah sebagaimana yang dijelaskan Al-Albani -rahimahulloh-.
Dan ilmunya ada di sisi Alloh -ta'ala-

Catatan:
(1). Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam "As-Sholah" bab: Kapan seorang anak diperintahkan sholat? (No 495) dari hadits Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya Abdullah bin Ar -radhiyallohu 'anhuma. Hadits ini di hasankan An-Nawawi dalam Al-Khulashoh (1/252) di shahihkan Ibn Mulaqqin dalam Al-Badru Al-Munir (3/238) dan Al-Albani dalam Al-Irwa' (1/266).
(2). Lihat Mas'alatal Amri Bis Sholah dalam fatwa no 1049. Al-Mausu'ah: في صفة الأمر في قوله صلَّى الله عليه وسلَّم: «مُرُوا أولادَكم بالصلاة ..
(3). Muttafaqun 'alaih: dikeluarkan Al-Bukhari di dalam Al-Ilmu bab As-Samaru fil Ilmi (117) dan Muslim dalam Sholat Musafirin (763) dari hadits Ibnu Abbas -radhiyallohu 'anhuma.
(4). Dikeluarkan A-Bukhari dalam A-Maghazi bab Man Syahida Fath(4302)
(5). Dikeluarkan Al-Bukhari dalam As-Sholah bab As-Sholatu 'alal Hashri (380) dan Muslim dalam Al-Masajidu wa Mawadhi'us Sholah (658)
(6). Nihayah oleh Ibni Atsir (5/291).
(7). Nailul Authar oleh Asy-Syaukani 4/90
(8). Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam As-Sholah pada bab hamala jariyatan shogirotan ala 'unuqhi fis Sholah (516); dan Muslim dalam Al-Masajidu wa Mawadhius Sholah (543) dari hadits Abu Qatadah -radhiyallohu 'anhu-.
(9). Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam Al-Ahkam bab man banaa fi haqqihi maa yadhurru bijaarih (2341) dari hadits Ibnu Abbas -radhiyalohu 'anhuma-. Nawawi berkata pada hadits no 32 dalam Arbain An-Nawawiyah : "Hadits ini memiliki jalan-jalan periwayatkan yang saling menguatkan". Ibnu Rajab berkata dalam Jami' Ulumu wal Hikam (378): sbagaimana yang dikatakan; dan di shahihkan Al-Albany dalam Al-Irwa': 3/408.
(10). Telah terdahulu takhrijnya lihat catatan kaki no 8.
(11). Dikeluarkan Al-Bukhari dalam As-Sulh bab Qoulin Nabi -sholallohu 'alaihi wa sallam- kepada Hasan bin Ali -radhiyallohu 'anhuma-: Innabni haadza...(2704) dari hadits Abu Bakrah -radhiyallohu 'anhu-.
(12). Dikeluarkan oleh An-Nasa'i dalam shifat Sholat bab : Hal yajuuzu an takuna sajdatun ath-walu min sajdah? (1141) dari hadits Syaddad bin Al-Haad -radhiyallohu 'anhu-. Dishahihkan Al-Albani dalam shifat sholat 148.
(13). Lihat Irwaul Ghalil (7/362) dan Dhoif Al-Jami' (2636) keduanya oleh Al-Albany.


في حكم اصطفاف الصبيِّ غيرِ المميِّز في الصلاة
السؤال:
يَعْمِدُ بعضُ المُصَلِّين إلى اصطحابِ بَنِيهم وبناتِهم إلى المسجد، وغالبًا ما يكون سِنُّهم ما بين سنتين إلى سِتِّ سنواتٍ، وإذا أُقيمَتِ الصلاةُ يصطفُّ الابْنُ أو البنتُ مع والدَيْهما في صفِّ الرجال، فهل هذا جائزٌ؟ وجزاكم اللهُ خيرًا.

الجواب:

الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على مَن أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدِّين، أمَّا بعد:

فالصبيُّ إذا بَلَغَ سَبْعَ سنينَ ـ وهو بدايةُ سِنِّ التمييز على الأصحِّ ـ فإنه تصحُّ مُصافَّتُه مع الرجال؛ لأنه مأمورٌ بالصلاة في قوله صلَّى الله عليه وسلَّم: «مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ»(١)(٢)، وقد صلَّى ابنُ عبَّاسٍ رضي الله عنهما مع النبيِّ صلَّى الله عليه وسلَّم، فأخَذَ برأسِه وجَعَلَه عن يمينِه(٣)، وإذا كانَتْ إمامةُ الصبيِّ تصحُّ إذا كان أَحْفَظَ مِن غيرِه لكتابِ اللهِ تعالى ـ كما ثَبَتَ في حديثِ عمرِو بنِ سَلِمَةَ رضي الله عنه، فقَدْ أمَّ الناسَ وهو ابنُ سبعِ سنينَ(٤) ـ فإنَّ مُصافَّتَه تصحُّ مِنْ بابٍ أَوْلَى.

فإِنْ كان دون سِنِّ التمييزِ فهو غيرُ مأمورٍ بالصلاة، ولا يقطع الصفَّ في الصلاة؛ لمكانِ حديثِ أنسٍ رضي الله عنه قال: «فَقُمْتُ إِلَى حَصِيرٍ لَنَا قَدِ اسْوَدَّ مِنْ طُولِ مَا لُبِسَ، فَنَضَحْتُهُ بِمَاءٍ، فَقَامَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَصَفَفْتُ أَنَا وَاليَتِيمُ وَرَاءَهُ، وَالعَجُوزُ مِنْ وَرَائِنَا، فَصَلَّى لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ انْصَرَفَ»(٥). والظاهرُ مِنْ لفظِ: «اليتيم» في الحديث أنه الصغيرُ، و«اليُتْمُ في الناسِ: فَقْدُ الصبيِّ أباه قبل البلوغ»(٦)، مِنْ غيرِ تفريقٍ بين مميِّزٍ وغيرِ مميِّزٍ، ولا يُصارُ إلى خلافِه إلَّا بدليلٍ، قال الشوكانيُّ ـ رحمه الله ـ: «وفيه أنَّ الصبيَّ يَسُدُّ الجَناحَ»(٧).

وأمَّا إلحاقُ الصبيِّ غيرِ المميِّزِ بالسارية، أو بِمَنْ لا تصحُّ صلاتُه كالكافر، أو المرأةِ مع الرجال؛ فهو قياسٌ ظاهِرُ الفَرْقِ بين العاقل والجماد، والمسلمِ والكافرِ، والذَّكَرِ والأنثى.

وأمَّا الصبيَّةُ ففي كلا الحالتين، مميِّزةً كانَتْ أو غيرَ مميِّزةٍ، فلا تصحُّ مُصَافَّتُها مع الرجال لاختلافِ الجنس، وهي تقطع الصفَّ لأنَّ وجودَها وعَدَمَها سواءٌ.

فإنْ كان وليُّ الصبيَّةِ مضطَرًّا إلى استصحابِها لصلاةِ الجماعة فلها أن تُصَلِّيَ معه في أحَدِ طَرَفَيِ الصفِّ يمينًا أو شِمالًا، فيجعلُها كآخِرِ فردٍ في السلسلة لئلَّا تقطعَ الصفَّ، وقد صلَّى النبيُّ صلَّى الله عليه وسلَّم وهو حاملٌ أُمامةَ بنتَ زينبَ رضي الله عنهما على عاتِقِه(٨) حتَّى يعلمَ الناسُ أنَّ مِثْلَ هذا العملِ سائغٌ في الصلاةِ عند الاضطرار والحاجة.

وعلى كُلٍّ، فإنِّي لا أعلم دليلًا يقضي ببطلانِ الصلاة في الحالات السابقة بسببِ الإخلال بتسويةِ الصفوف أو عدَمِ ترتيبها.

هذا، وجديرٌ بالتنبيه أنَّ الصبيَّ غيرَ المميِّزِ إذا ظَهَرَ منه عَبَثٌ وطيشٌ أو تصرُّفٌ مُؤْذٍ في المسجد فالأَوْلَى إبقاؤُه في بيته مع أهله وذويه لأنه غيرُ مأمورٍ بالصلاة أوَّلًا، ويتأذَّى بعَبَثِه وتشويشِه المُصَلُّون ثانيًا، والأصلُ رَفْعُ الضَّرَرِ وإزالةُ الأذى؛ لعمومِ قوله صلَّى الله عليه وسلَّم: «لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ»(٩) ما لم يُضْطَرَّ وليُّه إلى استصحابه معه؛ فإنه يُسْتَدَلُّ له بحديثِ حَمْلِه صلَّى الله عليه وسلَّم لِأُمامةَ بنتِ زينبَ رضي الله عنهما(١٠).

أمَّا إذا خَلَتْ تصرُّفاتُ الصبيِّ مِنْ عَبَثٍ وتشويشٍ فإنه يجوز إدخالُه المسجدَ؛ لأنَّ النبيَّ صلَّى الله عليه وسلَّم رأى الحسنَ بنَ عليٍّ رضي الله عنهما وهو على المنبر فقال: «إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ، وَلَعَلَّ اللهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ المُسْلِمِينَ»(١١)، ولِما رواه النسائيُّ وأحمدُ مِنْ طريقِ عبدِ اللهِ بْنِ شدَّادٍ عن أبيه شدَّادِ بْنِ الهادِ رضي الله عنه قال: «خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِحْدَى صَلَاتَيِ العَشِيِّ وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَهُ ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ، فَصَلَّى فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا»، قَالَ أَبِي: «فَرَفَعْتُ رَأْسِي وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَاجِدٌ فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ قَالَ النَّاسُ: «يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ»، قَالَ: «كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي؛ فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ»»(١٢)، وقد استُدِلَّ بهما على جوازِ إدخالِ الصبيانِ المساجدَ.

وأمَّا حديثُ: «جَنِّبُوا مَسَاجِدَكُمْ صِبْيَانَكُمْ وَمَجَانِينَكُمْ»(١٣) فلا ينتهض للاحتجاج به؛ لشدَّةِ ضَعْفِه كما بيَّنه الألبانيُّ ـ رحمه الله ـ(١٤).

والعلمُ عند الله تعالى، وآخِرُ دعوانا أنِ الحمدُ لله ربِّ العالمين، وصلَّى الله على محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدِّين، وسلَّم تسليمًا.

الجزائر في: ٩ مِن ذي القعدة ١٤٣١ﻫ
الموافق ﻟ: ١٧ أكتوبر ٢٠١٠م

(١) أخرجه أبو داود في «الصلاة» باب: متى يُؤْمَر الغلامُ بالصلاة؟ (٤٩٥) مِن حديث عمرو بنِ شعيبٍ عن أبيه عن جدِّه عبد الله بنِ عمرٍو رضي الله عنهما. والحديث حسَّنه النوويُّ في «الخلاصة» (١/ ٢٥٢)، وصحَّحه ابنُ الملقِّن في «البدر المنير» (٣/ ٢٣٨)، والألبانيُّ في «الإرواء» (١/ ٢٦٦).

(٢) انظر مسألةَ الأمر بالصلاة في الفتوى رقم: (١٠٤٩) الموسومة ﺑ: «في صفة الأمر في قوله صلَّى الله عليه وسلَّم: «مُرُوا أولادَكم بالصلاة ..»».

(٣) مُتَّفَقٌ عليه: أخرجه البخاريُّ في «العلم» بابُ السَّمَرِ في العلم (١١٧)، ومسلمٌ في «صلاة المسافرين» (٧٦٣)، مِن حديث ابنِ عبَّاسٍ رضي الله عنهما.

(٤) أخرجه البخاريُّ في «المغازي» بابُ مَن شَهِدَ الفتحَ (٤٣٠٢).

(٥) أخرجه البخاريُّ في «الصلاة» بابُ الصلاة على الحصير (٣٨٠)، ومسلمٌ في «المساجد ومواضع الصلاة» (٦٥٨).

(٦) «النهاية» لابن الأثير (٥/ ٢٩١).

(٧) «نيل الأوطار» للشوكاني (٤/ ٩٠).

(٨) أخرجه البخاريُّ في «الصلاة» باب: إذا حَمَلَ جاريةً صغيرةً على عُنُقه في الصلاة (٥١٦)، ومسلمٌ في «المساجد ومواضع الصلاة» (٥٤٣)، مِن حديث أبي قَتادة رضي الله عنه.

(٩) أخرجه ابنُ ماجه في «الأحكام» بابُ مَن بنى في حقِّه ما يضرُّ بجاره (٢٣٤١) مِن حديث ابنِ عبَّاسٍ رضي الله عنهما. قال النوويُّ في الحديث رقم: (٣٢) مِن «الأربعين النووية»: «وله طُرُقٌ يَقْوى بعضُها ببَعْضٍ»، وقال ابنُ رجبٍ في «جامع العلوم والحِكَم» (٣٧٨): «وهو كما قال»، وصحَّحه الألبانيُّ في «الإرواء» (٣/ ٤٠٨).

(١٠) سبق تخريجه، انظر: الهامش رقم: (٨).

(١١) أخرجه البخاريُّ في «الصلح» بابُ قولِ النبيِّ صلَّى الله عليه وسلَّم للحسن بنِ عليٍّ رضي الله عنهما: «إِنَّ ابْنِي هَذَا...» (٢٧٠٤) مِن حديث أبي بكرة رضي الله عنه.

(١٢) أخرجه النسائيُّ في «صفة الصلاة» باب: هل يجوز أن تكون سجدةٌ أَطْوَلَ مِن سجدةٍ؟ (١١٤١) مِن حديث شدَّادِ بنِ الهاد رضي الله عنه. وصحَّحه الألبانيُّ في «صفة الصلاة» (١٤٨).

(١٣) أخرجه ابنُ ماجه في «المساجد» بابُ ما يُكْرَهُ في المساجد (٧٥٠) مِن حديثِ واثلةَ بنِ الأسقع رضي الله عنه.

(١٤) انظر: «إرواء الغليل» (٧/ ٣٦٢) و«ضعيف الجامع» (٢٦٣٦) كلاهما للألباني.

https://ferkous.com/home/?q=fatwa-1076

Selasa, 12 November 2019

Mereka yang Sabar Atas Gangguan Manusia

Dari Ibnu 'Umar, dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam beliau bersabda:
الْمُــؤْمِنُ الَّــذِي يُــخَالِــطُ النَّــاسَ، وَيَصْــبِرُ عَلَى أَذَاهُــمْ، خَــيْرٌ مِنَ الَّــذِي لاَ يُــخَالِــطُ النَّــاسَ، وَلاَ يَصْــبِرُ عَلَى أَذَاهُــمْ
"Orang mukmin yang berbaur dengan manusia dan bersabar dengan gangguan mereka adalah lebih baik dari pada yang tidak mau berbaur dengan manusia dan tidak abar dengan gangguannya"

Al-'Alamah Zaid Al-Madkholi -rahimahulloh- berkata:
Hadits ini menjelaskan beberapa permasalahan:
(1). Disyariatkannya berbaur dengan manusia dalam rangka amar ma'ruf nahi munkar dan mengajari mereka sebab di dalamnya ada pahala yang besar.
(2). Motivasi untuk bersabar atas gangguan yang menimpa orang yang berdakwah kepada Alloh, amar ma'ruf nahi munkar dan berharap pahala di sisi Alloh -ta'ala-.
(3). Bahaya mengasingkan diri dan menghindar dari berbaur bersama manusia tatkala yang demikian itu menyebabkan luput mendapatkan kemaslahatan Diniyyah dan Duniawiyah; dan yang terpenting adalah kemaslahatan agama.
(4). Dan hal itu seperti tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, menegakkan syiar amar ma'ruf nahi munkar dan mendapatkan teman-teman yang membantunya dalam kebaikan dan menunjukkan kepada kebaikan.

(Syarah Adabul Mufrod 434)

#الـذي_يصـبر_عـلى_أذى_النـاس

❍ عَـنِ ابْنِ عُــمَرَ، عَـنِ النَّــبِيِّ ﷺ قَـالَ :

« الْمُــؤْمِنُ الَّــذِي يُــخَالِــطُ النَّــاسَ، وَيَصْــبِرُ عَلَى أَذَاهُــمْ، خَــيْرٌ مِنَ الَّــذِي لاَ يُــخَالِــطُ النَّــاسَ، وَلاَ يَصْــبِرُ عَلَى أَذَاهُــمْ .»

❐ قـ✍ـال العــلامة زيــد  المــدخلي
           - رحــمه اللّٰه تــعالى -:

« دل هـذا الحـديث على بيـان أمـور :

① - مشــروعية مــخالـطة النــاس من أجــل الأمــر والنــهي ، والتــعليم ؛ لــما في ذلــك من الأجــر العــظيم .

② - الحــث على الصــبر على الأذى الــذي يــنال من دعــا إلى الله ، وأمــر بمــعروف ، ونــهى عن منــكر ، ويحــتسب الأجــر عنــد الله تــعالى .

③ - خــطر العــزلة والابتــعاد عن مخالــطة النــاس ؛ لــما في ذلك من فوــات المــصالح الدينــية والدنيــوية، وأهــمها مــصالح الــدين ،

☜ وذلــك كالتــعاون على البــر والتــقوى ، وإقــامة شعــيرة الأمــر بالمــعروف والنــهي عــن المنــكر ، وكــسب الأصــحاب الــذين يعينــون على الخــير، ويــدلون علــيه .»

📝 |[ شــرح الأدب المــفرد (٤٣٤) ]|

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)