“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Tampilkan postingan dengan label Aqidah-Wasithiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah-Wasithiyah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Desember 2020

Penjelasan Surat Al-Maidah Ayat 1


Diterjemahkan dari Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 135-137
Ayat yang ke-3:
Firman Alloh -ta'ala-:
أُحِلَّتۡ لَكُم بَهِيمَةُ ٱلۡأَنۡعَٰمِ إِلَّا مَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ غَيۡرَ مُحِلِّي ٱلصَّيۡدِ وَأَنتُمۡ حُرُمٌۗ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ مَا يُرِيدُ

"Hewan ternak dihalalkan bagimu, kecuali yang akan disebutkan kepadamu, dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang berihram (haji atau umrah). Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan yang Dia kehendaki" (QS Al-Ma'idah: 1)

"...dihalalkan bagimu..." yang menghalalkan adalah Alloh -azza wa jalla-. Demikian pula Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- juga menghalalkan dan mengharamkan namun dengan izin dari Alloh -azza wa jalla-.
Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
أحلت لنا ميتتان ودمان
"Dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah".
Dan beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- berkata: "sesungguhnya Alloh mengharamkan atas kalian" yang demikian beliau mengkhabarkan hal tersebut diharamkan. Terkadang beliau mengharamkan suatu yang disandarkan pada diri beliau sendiri namun dengan izin dari Alloh.

Makna بهيمة الأنعام (binatang ternak) yaitu onta, sapi dan kambing. Dan الأنعام  jama' dari نعم. Sebagaimana أسباب jama' dari سبب.
FirmanNya بهيمة dinamakan demikian karena tidak berbicara.
*FirmanNya إِلَّا مَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ "...kecuali yang akan disebutkan kepadamu.." yakni kecuali yang akan disebutkan kepada kalian dalam surat ini yang disebutkan dalam firmanNya -ta'ala-:

حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحۡمُ ٱلۡخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيۡرِ ٱللَّهِ بِهِۦ

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah"(QS Al-Ma'idah: 3)

Istisna' (pengecualian) di sini ada yang terpisah dan ada yang tersambung. (Pengharaman)Bangkai yang berasal binatang ternak maka ini bersambung. Sedangkan (pengharaman) daging babi maka ini terpisah sebab babi tidak termasuk binatang ternak.

* FirmanNya: غَيۡرَ مُحِلِّي ٱلصَّيۡدِ "dengan tidak menghalalkan berburu"  yaitu orang yang membunuhnya ketika ihram; karena orang yang melakukan sesuatu seakan seperti orang menghalalkannya. Dan ٱلصَّيۡدِ hewan darat liar yang boleh dimakan. Ini adalah berburu yang diharamkan dalam ihram.

Dan firmanNya:
إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ مَا يُرِيدُ
"Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan yang Dia kehendaki"
Ini adalah iradah (kehendak) syar'iyyah karena pada kedudukan pensyariatan. Dan bisa juga dikatakan iradah syar'iyyah kauniyah. Dan kita membawa penafsiran hukum kepada hukum kauni dan syar'i. Maka apa pun yang dikehendakiNya secara kauni maka Dia menetapkannya atau menjadikannya terjadi. Dan apa yang Dia kehendaki secara syar'i maka Dia menetapkannya dan untuk para hambaNya.

Dalam ayat ini terdapat nama Alloh yaitu: Alloh. Dan di antara sifatNya yaitu: At-Tahlil (penghalalan), Al-Hukmu (penetapan) dan Al-Iradah (kehendak).

Selasa, 20 Oktober 2020

Penjelasan Surat Al-Baqarah Ayat 253


Diterjemahkan dari kitab syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 134- 135

Ayat yang kedua: Firman Alloh -ta'ala-:

وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُواْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ

"Kalau Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Tetapi Allah berbuat menurut kehendak-Nya" (QS Al-Baqarah: 253)

Huruf لو adalah huruf imtina' lil imtina'. Jika jawabnya berupa penafi'an (peniadaan) dengan ما maka yang paling fasih adalah dengan membuang lam. Jika berupa penetapan maka yang paling banyak adalah dengan tetapnya huruf lam, sebagaimana firman Alloh -ta'ala-:

لَوۡ نَشَآءُ لَجَعَلۡنَٰهُ حُطَٰمٗا

"Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat" (QS Al-Waqi'ah: 65)
Kami katakan kebanyakan dan tidak kami katakan yang paling fasih sebab terdapat penetapan lam dan juga peniadaan lam dalam Al-Qur'an Al-Karim.
لَوۡ نَشَآءُ جَعَلۡنَٰهُ أُجَاجٗا

"Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin". (QS Al-Waqi'ah: 70)
Ucapan kami: 'yang paling fasih adalah dengan membuang lam pada penafian' sebab lam memberikan faidah penekanan sedangkan penafian meniadakan penekanan. Oleh karenanya ucapan penyair:

ولو نعطى الخيار لما افترقنا # ولكن لا خيار مع الليلي
"Seandainya kami diberi pilihan niscaya kami tidak akan berpisah. Namun tidak ada pilihan bersama malam-malam"
menyelisihi yang fasih. Yang fasih :
لو نعطى الخيار ما افترقنا
FirmanNya:
وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُواْ
"Kalau Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan".
Dhammirnya kembalinya kepada orang-orang mukmin dan kafir berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:

وَلَٰكِنِ ٱخۡتَلَفُواْ فَمِنۡهُم مَّنۡ ءَامَنَ وَمِنۡهُم مَّن كَفَرَۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُواْ

"Tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) yang kafir. Kalau Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan". (QS Al-Baqarah: 253)

Di sini terdapat bantahan yang nyata terhadap paham Qadariyah yang mengingkari adanya kaitan antara perbuatan hamba dengan kehendak Alloh sebab Alloh berfirman (yang artinya): "Kalau Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan". Yakni: akan tetapi Alloh menghendaki mereka saling berbunuh-bunuhan, maka mereka pun saling bunuh.
Kemudian Alloh berfirman:
وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ
"Tetapi Allah berbuat menurut kehendak-Nya"
yakni Alloh melakukan apa yang dikehendakiNya. Kehendak di sini adalah kehendak kauniyah.

* FirmanNya: يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ "Allah berbuat menurut kehendak-Nya".
Perbuatan yang dilakukan oleh Alloh -subhanahu wa ta'ala- pada diriNya sendiri adalah fi'l mubasyar (perbuatan langsung). Ada pun dari sisi taqdir yang Dia tetapkan pada para hambaNya adalah perbuatan tidak langsung; sebab sebagaimana yang diketahui bahwasannya manusia tatkala berpuasa, sholat, zakat, haji dan berjihad maka pelakunya adalah manusia, tanpa diragukan. Namun sebagaimana yang diketahui bahwa perbuatannya ini dengan kehendak Alloh.

Tidak benar menyandarkan perbuatan hamba kepada Alloh secara langsung sebab yang secara langsung adalah perbuatan manusia. Namun yang tepat adalah menyandarkan kepada Alloh sebagai bentuk taqdir dan penciptaan.

Ada pun yang Alloh perbuatan Alloh untuk diriNya sendiri seperti bersemayam di atas 'Arsy, berbicara, turun ke langit dunia, tertawa ... dan yang serupa dengan itu maka disandarkan kepada Alloh sebagai perbuatan langsung.
Pada ayat ini terdapat asmaul husna yaitu: Alloh, dan terdapat sifat yaitu: masyi'ah dan fi'l (perbuatan) dan irodah(kehendak).

Kamis, 15 Oktober 2020

Penjelasan Surat Al-Kahfi ayat 39


Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 212 - 134

Firman Alloh -ta'ala-:

وَلَوْلَآ إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ ۚ 

"Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)"(QS Al-Kahfi: 39)

Dan firmanNya:
ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقْتَتَلُوا۟ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ
"Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya"(QS Al-Baqarah: 253)

FirmanNya:
أُحِلَّتْ لَكُم بَهِيمَةُ ٱلْأَنْعَـٰمِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّى ٱلصَّيْدِ وَأَنتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ [٥:١]
"Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya" (QS AlMaidah: 1)

FirmanNya:
فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهْدِيَهُۥ يَشْرَحْ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَـٰمِ ۖ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُۥ يَجْعَلْ صَدْرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجًۭا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى ٱلسَّمَآءِ ۚ
"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit"(QS Al-An'am: 125)

Penjelasan:
Ayat-ayat ini menetapkan dua sifat Al-Masyi'ah (kehendak) dan Al-Iradah (kehendak).

* Ayat pertama adalah firman Alloh -ta'ala-:


وَلَوْلَآ إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ ۚ 

"Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)"(QS Al-Kahfi: 39)
* Lafadz وَلَوْلَآ bermakna: "kenapa tidak...?" sebagai bentuk At-Tahdhidh (maukah atau sudikah). Dan maksudnya di sini sebagai celaan. Maknanya adalah dia mencelanya karena tidak mengucapkan perkataan ini.
* Makna إِذْ دَخَلْتَ "ketika engkau masuk".
* Makna  جَنَّتَكَ; kata الجنة dengan memfathahkan jiim yaitu kebun yang penuh dengan pepohonan. Disebut demikian karena orang yang berada di dalamnya tertutup oleh pepohonan dan dahan-dahannya sehingga dia tertutup di dalamnya. Dan huruf ini (ج dan ن) menunjukkan kepada 'ketertutupan'. Di antaranya kata الجُنة (perisai) -dengan mendhommahkan jiim- yang orang memakainya untuk menutupi dirinya ketika perang.  Di antaranya juga الجِنة -dengan mengkasrahkan jim- yaitu jin; sebab dia tertutup (tidak tampak mata).
* FirmanNya:   جَنَّتَكَ ini lafadz tunggal dan yang dipahami dari ayat-ayat ini dia memiliki dua kebun. Bagaimana penjelasannya di sini disebutkan tunggal padahal dua kebun?
Jawabnya adalah: sesungguhnya lafadz mufrod(tunggal) apabila diidhofahkan (disandarkan) maka menjadi umum mencakup dua kebun. Atau orang yang berbicara ini ingin mengecilkan (meremehkan) nilai dua kebun ini, sebab konteksnya adalah memberikan nasehat dan tanpa ada rasa kagum dengan apa yang Alloh karuniakan kepadanya. Seakan-akan dia berkata: Dua kebun ini adalah satu kebun saja; sebagai bentuk meremehkan keadaannya. Namun bentuk yang pertama lebih dekat pada kaidah-kaidah bahasa Arab; قُلْتَ (engaku katakan) sebagai jawaban لَوْلَآ (mengapa tidak...).

* FirmanNya: مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Lafadz: مَا mengandung kemungkinan mausulah (kata sambung) dan mungkin juga syartiyah (syarat). Jika engkau menjadikannya isim maushul (kata sambung) maka dia menjadi khabar dari mubtada' yang dihilangkan yang perkiraannya: هذا ما شاء الله "ini adalah apa yang dikhendaki Alloh". Ini bukanlah dari kehendakku, kemampuanku dan kekuatanku akan tetapi ini adalah dengan kehendak Alloh. Jika engkau menjadikannya sebagai syartiyyah(syarat) maka fi'il syaratnya adalah:  شَآءَ dan jawab syaratnya dihilangkan yang perkiraannya menjadi مَا شَآءَ ٱللَّهُ كان "apa yang dikehendaki Alloh maka terjadi". Sebagaimana kita katakan: مَا شَآءَ ٱللَّهُ كان وما لم يشاء لم يكن "Apa yang dikehendaki Alloh pasti terjadi dan yang idak dikehendaki tidaklah terjadi". Maksudnya adalah: Sepantasnyalah engkau mengucapkan -maa sya Alloh- tatkala memasuki kebunmu agar engkau tidak menyandarkan itu dari kemampuan dan kekuatanmu serta engkau tidak kagum dengan kebunmu.

*FirmanNya: لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ "tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah". Lafadz لَا (tidak ada) adalah nafiyah lijinsi (meniadakan jenisnya). Dan قُوَّةَ " adalah nakirah pada konteks penafi'an sehingga memberi faidah umum. Dan 'kekuatan' adalah sifat yang memungkinkan bagi seseorang untuk melakukan apa yang diinginkan tanpa ada kelemahan.

Jika ditanyakan: Bagaimana menggabungkan antara keumuman peniadaan sifat kuat kecuali hanya milik Alloh dengan firmanNya -ta'ala-:
ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍۢ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعْدِ ضَعْفٍۢ قُوَّةًۭ
"Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat" (QS Ar-Ruum: 54)

Dan Alloh berfirman tentang kaum Aad:
وَقَالُوا۟ مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِى خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةًۭ ۖ
"Dan mereka berkata: "Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?" Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka?" (QS Ar-Ruum: 15)
Dan Alloh tidak berkata: Tidak ada kekuatan pada mereka (Aad). Dengan demikian Alloh menetapkan kekuatan bagi manusia.

Jawabnya: bahwa pengkompromiannya dengan salah satu dari dua kemungkinan:

PERTAMA: Bahwa kekuatan yang ada pada makhluk adalah dari Alloh -azza wa jalla-. Seandainya Alloh tidak memberikan kekuatan kepadanya maka tidaklah dia kuat. Maka kekuatan yang dimiliki manusia adalah makhluk Alloh. Tidak ada kekuatan yang hakiki kecuali (kekuatan) Alloh.

KEDUA: bahwa maksud firmanNya: لا قوة yakni bahwasannya tidak ada kekuatan yang sempurna kecuali (kekuatan) Alloh -azza wa jalla-.

Ringkasnya, laki-laki sholih ini menasehati temannya untuk tidak menyandarkan kemampuan dan kekuatan yang ada pada dirinya dan mengatakan: ini adalah dari kehendak dan kekuatan Alloh.

Dalam ayat ini terdepat penetapan nama Alloh yaitu الله (Alloh), dan penetapan tiga shifat Alloh yaitu: Al-Uluhiyyah, Al-Quwwah(kekuatan) dan Al-Masyiah(kehendak).
Masyiah Alloh adalah kehendak yang bersifat kauni yang merupakan pintu pada perkara-perkara yang Dia cintai maupun tidak. Dan merupakan pintu bagi seluruh hambaNya tanpa terkecuali. Dan pastilah terjadi hal yang Dia kehendaki bagaimana pun kondisinya. Apa pun yang Alloh kehendaki pasti terjadi, baik itu yang Dia cintai dan ridhai atau pun tidak.

######----######

Minggu, 26 Juli 2020

Penjelasan Surat An-Nisaa' ayat 58: Alloh Pemberi Bimbingan Paling Baik

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 209 - 212

Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ
"Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu" (QS An-Nisa': 58)

Ayat ini adalah lanjutan dari firman Alloh -ta'ala-:
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil" (QS An-Nisa': 58)

Alloh -azza wa jalla- memerintahkan untuk menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan di antaranya juga persaksiaan atas seseorang baik atau buruknya. Dan agar ketika kita memutuskan perkara di antara manusia dengan adil. Alloh -subhanahu wa ta'ala- menjelaskan bahwa Dia memerintahkan kepada kita untuk menegakkan kewajiban dalam alur hukum dan hukum itu sendiri. Alur hukum yaitu persaksian masuk dalam keumuman firmanNya: أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا "agar kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya" dan hukum yaitu:  وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن  تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ "dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil". Kemudian Alloh -ta'ala- berfirman: إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ "Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu" asalnya adalah: نِعْمَ ما namun mim dan mim diidghamkan dengan idgham kabiir sebab idgham tidak bisa dilakukan diantara dua huruf yang sejenis kecuali jika yang pertama sukun. Dan di sini menjadi idgham dengan huruf pertama fathah.

FirmanNya:  نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ "memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu". Alloh -subhanahu wa ta' ala- menjadikan perintah dengan dua hal ini -yakni menunaikan amanah dan memutuskan perkara dengan adil- sebagai pengajaran sebab hal ini bisa menjadikan baiknya hati. Dan setiap yang menjadikan baiknya hati maka itu adalah mauidzah (pengajaran/nasehat). Dan menegakkan perintah-perintah ini tidak diragukan lagi menjadikan baiknya hati.

Kemudian Alloh berfirman: إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًۭا "Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat". FirmanNya : كَانَ ini adalah fi'il namun tak terkait dengan waktu 1). Maksudnya adalah penunjukkan pada sifat saja. Yakni, bahwasannya Alloh memiliki sifat maha mendengar dan maha melihat. Hanya saja kita katakan tak terkait dengan waktu sebab seandainya kita tetap membiarkannya dengan penunjukkan waktu (yang telah lampau) niscaya shifat ini telah berakhir2). Dulu di awalnya (Alloh) Maha Mendengar dan Maha Melihat adapun sekarang tidaklah demikian !!!? Jelas diketahui bahwa makna ini jelas rusak dan bathil. Maksudnya hanyalah bahwa Alloh bersifat dengan dua sifat ini yaitu As-Samii(Maha Mendengar) dan Al-Bashir(Maha Melihat) secara terus menerus. Dan كَانَ (kaana) pada konteks ini dimaksudkan untuk tahqiiq (penetapan kebenaran).

FirmanNya:  سَمِيعًۢا بَصِيرًۭا (Maha Mendengar lagi Maha Melihat). Kita katakan sebagaimana kita katakan pada ayat sebelumnya: di dalamnya ada penetapan AsSam'u (pendengaran) untuk Alloh dengan dua maknanya 3) dan penetapan Al-Bashr (penglihatan) Alloh dengan dua maknanya 4).

Abu Hurairah membaca ayat ini dan berkata:
إن الرسول الله - صلى الله عليه وسلم- وضع إبهامه سبابته على عينه وأذنه
"Sesungguhnya Rasululloh shoallohu 'alaihi wa sallam- meletakkan ibu jari dan jari telunjuknya ke matanya dan telinganya"

Maksudnya dengan meletakkan ini adalah sebagai penetapan kebenaran pendengaran dan penglihatan (bagi Alloh) bukan menetapkan mata dan telinga; sebab penetapan tentang mata (bagi Alloh) ada di dalil-dalil yang lain. Adapun telinga (bagi Alloh) menurut ahlus sunnah wal jamaah tidaklah ditetapkan bagi Alloh dan tidak pula dinafi'kan dariNya karena tiada dalil tentang hal itu.
Jika ditanyakan kepadamu: Apakah kita juga mesti melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasululloh -sholallahu 'alaihi wa sallam-?
Jawabnya: Sebagian ulama mengatakan: iya! Lakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasululloh. Engkau tidaklah lebih mendapat petunjuk dari pada Rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam- dan engkau juga tidaklah lebih berhati-hati dari Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dalam menyandarkan kepada Alloh apa yang tidak layak bagiNya.
Di antaranya ada yang mengataan: Tidak ada perlunya engkau melakukannya selama kita mengetahui bahwa maksudnya adalah penetapan kebenaran. Dengan demikian, isyarat ini bukanlah yang dimaksudkan namun dimaksudkan untuk hal yang lain (penetapan mendengar dan melihat bagi Alloh pent). Sehingga dengan demikian tidak perlu berisyarat (dengan cara seperti itu -pent) terlebih jika ditakutkan dengan isyarat seperti ini menjadikan manusia mengkhayalkan tamtsil (permisalan); sebagaimana jika di hadapanmu ada orang awam yang mereka tidak memahami sesuatu sebagaimana mestinya; dengan demikian selayaknya menahan diri dari hal ini. Dan setiap perkataan ada tempatnya tersendiri.
Demikian pula riwayat yang datang dari hadits Ibnu Umar bagaimana Rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
يَأْخُذُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ سَمَاوَاتِهِ وَأَرَضِيهِ بِيَدَيْهِ فَيَقُولُ أَنَا اللَّهُ وَيَقْبِضُ أَصَابِعَهُ وَيَبْسُطُهَا
"Alloh -'azza wa jalla- menggenggam langitlangit dan buinya dengan kedua tanganNya. Lalu berfirman: "Akulah Alloh". Rasululloh menggenggam jari-jarinya dan merenggangkannya" (HR Muslim dari hadits Ibnu Umar -radhiyallohu 'anhuma-)

Dikatakan di sini apa yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah.
Dan faidah yang dapat dari iman kepada dua sifat -As-Sam'u dan Al-Bashor-: kita berhati-hati menyelisihi Alloh dalam perkataan-perkataan kita dan perbuatan-perbuatan kita.
Dalam ayat ini terdapat nama-nama Alloh -ditetapkan dua nama yaitu-: As-Samii' (Maha Mendengar) dan Al-Bashir (Maha Melihat). Dan terdapat shifat-shifat Alloh: ditetapkannya pendengaran, penglihatan, perintah dan nasehat (mau'idzoh).

Catatan Penterjemah:
1). Fi'il adalah kata yang menunjukkan suatu kejadian yang terkait dengan waktu, baik waktu lampau (fi'il madhi), sekarang maupun yang akan datang(fi'il mudhari) dan fi'il yang menuntut pekerjaan setelah waktu pembicaraan. Adapun كَانَ ini masuk pada fi'il madhi. Namun dalam konteks ini kata kaana ini penunjukkan waktunya dinafi'kan (ditiadakan). Jadi hanya menjelaskan tentang sifat Alloh saja.
2). Kaana (كَانَ )untuk waktu yang telah berlalu (fi'il madhi)namun sifat Alloh adalah azali dan abadi. Alloh akan senantiasa bersifat dengan sifat maha melihat dan maha mendengar.
3). As-Sam'u (pendengaran) Alloh maknanya: Mengabulkan do'a dan mendengar segala sesuatu.
4). Al-Bashar (penglihatan) Alloh maknanya: mengetahui segala sesuatu dan melihat segala sesuaatu.

Rabu, 08 Juli 2020

Penjelasan Surat Asy-Syura ayat 11: Tiada Sesuatu pun yang Serupa dengan Alloh

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 206 - 209

Firman Alloh -ta'ala-:
 لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat".(QS Asy-Syuraa: 11)

Dan FirmanNya:
إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًۭا

"Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat"(QSAn-Nisa': 58)

Penjelasan:
Firman Alloh -ta'ala-:
 لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat".(QS Asy-Syuraa: 11)
Ayat ini dibawakan oleh penulis untuk menetapkan dua nama di antara nama-nama Alloh dan sifat yang terkandung di dalamnya. Keduanya yaitu As-Samii'(Maha Mendengar) dan Al-Bashir(Maha Melihat). Ayat ini meruoakan bantahan terhadap Muathillah (sekte yang menolak sifat-sifat Alloh).

FirmanNya:  لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭ ۖ "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia" ini adalah peniadaan; maka ini termasuk sifat salbiyah (yang ditiadakan). Sedangkan maksudnya adalah menetapkan kesempurnaanNya. Yakni kesempurnaanNya tidak ada sesuatu pun dari makhlukNya yang menyerupaiNya. Kalimat ini merupakan bantahan terhadap tamtsil (penyerupaan Alloh dengan makhlukNya).

FirmanNya:  وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ "dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat"; "As-Sam'u memiliki dua makna: Pertama bermakna Al-Mujiib (yang mengabulkan doa). Kedua: Bermakna mendengar suara.
Adapun makna As-Samii' bermakna Al-Mujiib maka para ulama memberikan contoh dengan firman Alloh -ta'la- tentang Ibrahim:
 إِنَّ رَبِّى لَسَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ

"Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa".(QS Ibrahim: 39)
maksudnya benar-benar mengabulkan doa.
Adapun As-Samii' yang bermakna mengetahui suara; maka para ulama membaginya menjadi beberapa macam:
Pertama: Pendengaran yang dimaksudkan dengan penjelasan keumuman pendengaran Alloh -azza wa jalla-. Bahwasannya tidak ada suatu suara kecuali Alloh mendengarnya.
Kedua: Pendengaran yang maksudnya pertolongan dan penguatan.
Kedua: Pendengaran yang maksudnya ancaman.

Pertama pertama: Firman Alloh -ta'ala:
۞ قَدْ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوْلَ ٱلَّتِى تُجَـٰدِلُكَ فِى زَوْجِهَا وَتَشْتَكِىٓ إِلَى ٱللَّهِ
"Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah" (QS Mujadilah: 1)
Ayat ini di dalamnya penjelasan bahwa pendengaran Alloh -ta'ala- meliputi segala sesuatu yang bisa didengar. Oleh karenanya 'Aisyah -radhiyallohu 'anha- berkata: "Segala puji bagi Alloh yang pendengaranNya meliputi seluruh suara. Demi Alloh, sesungguhnya aku ada di dalam bilik dan sesungguhnya pebicaraannya sebagiannya tidak terdengar olehku".

Contoh kedua: Sebagaimana firman Alloh -ta'ala- tentang Musa dan Harun:
 إِنَّنِى مَعَكُمَآ أَسْمَعُ وَأَرَىٰ
"Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat" (Toha: 46)

Contoh Ketiga: yang maksudnya adalah ancaman dan menakut-nakuti; firman Alloh -ta'ala-:
أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَىٰهُم ۚ بَلَىٰ وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ
"Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka". (QS Az-Zukhruf: 80)
Maksudnya di sini adalah menakut-nakuti mereka dan mengancamnya karena mereka menyembunyikan perkataan yang tidak diridhoi.
Pendengaran dengan makna mengetahui sesuatu yang didengar termasuk sifat dzatiyah meskipun kadang yang didengar terkadang sesuatu yang baru.
Pendengaran dengan makna pertolongan dan penguatan termasuk sifat fi'liyah sebab terkait dengan sebab.
Pendengaran dengan makna dikabulkannya do'a termasuk sifat fi'liyah juga.

* FirmanNya: ٱلْبَصِيرُ (Maha Melihat) yakni meliputi segala sesuatu yang nampak. Dan kata Bashiir (melihat) dimutlakkan dengan Aliim(mengetahui). Maka Alloh -subhanahu wa ta'ala- adalah Maha Melihat. Dia melihat segala sesuatu meski tersembunyi. Alloh -subhanahu wa ta'ala- Maha Melihat maknanya Maha Mengetahui dengan perbuatan-perbuatan para hambaNya. Alloh -ta'ala- berfirman:
 وَٱللَّهُ بَصِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan"(QS Al-Hujurat: 18)
Yang kita kerjakan sebagian terlihat dan sebagian tidak terlihat. Penglihatan Alloh dengan demikian terbagi dua, dan semuanya masuk pada firmanNya "Al-Bashir"(Maha Melihat)

Dalm ayat ini ada penetapan dua nama Alloh yaitu: As-Samii'(Maha Mendengar) dan Al-Bashiir(Maha Melihat). Dan ada tiga sifat yaitu: kesempurnaan shifatnya dari peniadaan tamtsil (penyerupaan), pendengaran dan penglihatan Alloh.

Dalam ayat ini juga terdapat faidah-faidah yaitu mencukupkan diri untuk tidak berusaha penyerupaan Alloh dengan makhluknya, merasakan keagungan dan kesempurnaanNya, dan kehati-hatian dari melihatmu bermaksiat kepadaNya atau mendengar sesuatu yang tidak diridhaiNya darimu.

Ketahuilah bahwasannya para Ahli Nahwu telah panjang lebar membahas firmanNya: كَمِثْلِهِۦ; mereka berkata: Huruf kaaf masuk pada مِثْلِ dan secara dzahir bahwasannya Alloh memiliki permisalan yang tiada ada yang sepadan dengan permisalan tersebut; karena Dia tidak mengatakan: Tidak ada yang seperti Dia; akan tetapi Alloh berfirman:  لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ "Tiada yang seperti permisalanNya". Ini adalah dzahir ayat dari sisi lafadz bukan dari sisi makna; sebab kalau kita katakan: Ini dzohir ayat dari sisi makna maka dzahir Qur'an  adalah kufur, dan ini mustahil. Oleh karenanya ungkapan para ahli nahwu berbeda beda dalam mengambil kesimpulan tentang ayat ini menjadi beberapa pendapat:

PERTAMA: Huruf kaf adalah zaidah (hanya tambahan) dan perkiraan ucapannya adalah: ليس مثله شيء "Tiada sesuatu yang semisal denganNya". Pendapat ini elegan. Huruf ziyadah (tambahan) pada penafikkan cukup banyak. Sebagaimana dalam firman Alloh -ta'ala-:
وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنثَىٰ
"Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung..." (QS Al-Fathir: 11)
Mereka mengatakan: Sesungguhnya huruf tambahan (ziyadatul huruf) dalam bahasa Arab untuk penekanan adalah hal yang umum.

KEDUA: Mereka berpendapat sebaliknya. Mereka berkata: Sesungguhnya tambahannya adalah مثل sehingga perkiraannya adalah: ليس كهو شيء (Tiada sesuatu pun yang seperti Dia). Tapi pendapat ini lemah. Lemahnya karena tambahan pada isim - isim dalam bahasa Arab sangat sedikit sekali atau sangat jarang, beda dengan huruf. Seandainya kita harus mengatakan (dalam lafadz tersebut) ada tambahan maka tambahannya adalah huruf yaitu kaaf.

KETIGA: Bahwasannya مثل bermaknas sifat. Sehingga maknanya ليس كصفته شيء "Tiada sesuatu pun yang seperti sifatNya". Mereka berpendapat: sesungguhnya Mitslu dan Matsal, Syibh dan Syabh dalam bahasa Arab maknanya sama. Alloh ta'ala berfirman:
مَّثَلُ ٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى وُعِدَ ٱلْمُتَّقُونَ
"perumpamaan jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa"(QS Muhammad: 15)
Maksudnya (مَّثَلُ ) adalah sifatnya. Dan ini masih bisa untuk diterima.

KEEMPAT: bahwa di dalam ayat ini tidak ada tambahan; namun jika engkau katakan:  لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭ konsekwensinya adalah meniadakan permisalan. Jika suatu permisalan tidak ada yang sepadan maka yang ada hanyalah satu. Oleh karenanya tidak ada perlunya kita memperkirakan (permisalan) apa pun. Mereka menyatakan: dan hal seperti ini ada dalam bahasa Arab. Seperti perkataannya: ليس كنثل الفتى زهير "tiada permisalan pemuda yang seperti Zuhair".
Pada kenyataannya, andai pembahasan ini belum bisa memuaskanmu akan tetapi makna ayat sudah jelas. Maknanya bahwasannya Alloh -ta'ala tidak memiliki bandingan yang sepadan. Namun pembahasan ini ada di dalam kitab-kitab. Dan yang kuat kita katakan: bahwasannya huruf Kaaf adalah tambahan akan tetapi penjelasan terakhir -bagi orang yang benar-benar mendalami- dari penjabarannya paling bagus.



Minggu, 19 April 2020

Penjelasan Sifat Alloh Ar-Razzaq dan Al-Matiin

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 202-205
Firman Alloh -ta'ala-:
إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ
"Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki"(QS Adz-Dzariyat: 58)

Pada ayat ini terdapat penetapan sifat Kekuatan bagi Alloh -azza wa jalla-.
Ayat ini datang setelah firmanNya:
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ - مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍۢ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ 

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan". (QS Adz-Dzariyat: 56-57).

Manusia membutuhkan rezeki dari Alloh -ta'ala-. Alloh tidaklah membutuhkan rezeki dari manusia dan tidak pula menginginkan manusia memberiNya makan.
Lafadz: ٱلرَّزَّاقُ "Maha Pemberi Rezeki", shighah mubalaghah dari Rizq, yaitu pemberian. Alloh -ta'ala- berfirman:
وَإِذَا حَضَرَ ٱلْقِسْمَةَ أُو۟لُوا۟ ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَـٰمَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينُ فَٱرْزُقُوهُم مِّنْهُ 

"Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya)"(QS An-Nisa': 8)
yakni berilah mereka. Manusia membinta kepada Alloh -ta'ala- di sholatya dengan berdo'a: "Allommurzuqnii" (Ya Alloh berilah aku rezeki).
Rezeki terbagi dua: umum dan khusus.
Rezeki yang umum adalah yang memberi manfaat bagi badan, baik yang halal maupun yang haram, dan apakah yang diberi rezeki orang muslim ataukah orang kafir. Oleh karenanya Safariny berkata:

"Rezeki adalah sesuatu yang memberi manfaat baik dari yang halal maupun sebaliknya(haram). Maka uraikanlah dari yang mustahil.
Sebab Dia adalah pemberi rezeki bagi setiap makhluk, dan bukanlah makhluk jika tanpa rezeki"

Sebab jika engkau katakan: sesungguhnya rezeki adalah pemberian yang halal. Niscaya semua yang makan dari sesuatu yang haram tidaklah mendapat rezeki padahal Alloh memberikan kepada mereka hal-hal yang bermanfaat bagi badan-badan mereka. Namun rezeki ada dua macam: yang baik dan yang buruk. Oleh karenanya Alloh berfirman:
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِىٓ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِۦ وَٱلطَّيِّبَـٰتِ مِنَ ٱلرِّزْقِ ۚ

"Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?" (QS Al-A'raf: 32). 
Dan Alloh tidak berfirman: "dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki" saja. Adapun rezeki yang buruk-buruk maka itu haram.

Adapun rezeki yang khusus adalah yang agama tegak dengannya berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih serta rezeki yang halal yang membantu ketaatan kepada Alloh. Oleh karenanya ayat yang mulia ini datang dengan lafadz: ٱلرَّزَّاقُ "Maha pemberi rezeki" dan tidak mengatakan الرازق "yang memberi rezeki", karena banyaknya rezekiNya dan banyaknya yang makhluk yang Dia beri rezeki. Makhluk yang Alloh -azza wa jalla- beri rezeki tidaklah terhitung dari sisi jenisnya, lebih-lebih macamnya, terlebih lagi perindividunya sebab Alloh -ta'ala- berfirman:
۞ وَمَا مِن دَآبَّةٍۢ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya" (QS Huud: 6)
Dan Alloh memberikan rezeki sesuai keadaannya.
Adapun jika ada yang berkata: Oleh karena Alloh adalah Maha Pemberi Rezeki, apakah saya harus berusaha untuk mendapatkan rezeki atau saya tetap tinggal di rumah dan rezeki akan datang kepadaku?
Jawabnya: Kita katakan: berusahalah untuk mendapatkan rezeki. Sebagaimana Alloh adalah Maha Pengampun bukan berarti engkau tidak melakukan usaha untuk mendapatkan ampunan.
Adapun ucapan penyair:
"Gila engkau karena mencari rezeki padahal janin diberi rezeki (padahal)dalam selaputnya"
Ini adalah ucapan yang salah. Adapun perumpamaannya dengan janin; maka jawabnya: dikatakan: janin tidak mungkin diarahkan untuk mencari rezeki sebab dia tidak mampu berbedaa dengan orang yang mampu.

Oleh karenanya Alloh -ta'ala- berfirman:
هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًۭا فَٱمْشُوا۟ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا۟ مِن رِّزْقِهِۦ

"Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya" (QS Al-Mulk: 15)
Haruslah dengan usaha dan hendaklah usaha itu sesuai dengan syariat.

* FirmanNya:  ذُو ٱلْقُوَّةِ "yang Memiliki Kekuatan". Al-Quwwah adalah sifat yang memungkinkan bagi pelakunya mengerjakannya(perbuatan) tanpa disertai kelemahan. Dalilnya adalah firman Alloh -ta'ala-:
 ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍۢ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعْدِ ضَعْفٍۢ قُوَّةًۭ 

"Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat" (QS Ar-Ruum: 54)
Dan Al-Quwwah (kuat) bukanlah Al-Qudrah (Kuasa/Mampu) berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعْجِزَهُۥ مِن شَىْءٍۢ فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَلَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَلِيمًۭا قَدِيرًۭا  

"Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa". (QS Fathir: 44)

Qudrah (kuasa/mampu) lawannya 'ajz(tidak mampu) dan Quwwah(kuat) lawannya adalah dho'f (lemah). Perbedaan keduanya adalah: (pertama)bahwa qudrah sifat untuk yang memiliki perasaan, sedangkan quwwah adalah sifat untuk yang memiliki perasaan dan juga selainnya. Kedua: bahwa quwwah lebih khusus; setiap yang memiliki kekuatan dari yang memiliki perasaan maka dia kuasa, dan tidak setip yang quwwah (kuat) maka dia qoodir(kuasa). Contohnya adalah: engkau katakan: angin itu kuat; dan tidak engkau katakan: kuasa. Engkau katakan: Besi itu kuat; dan tidak engkau katakan: kuasa. Akan tetapi yang memiliki perasaan engkau katakan: dia kuat dan dia kuasa

Tatkala 'Aad berkata: 
مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ 

"Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?" 
Alloh berfirman:
أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِى خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةًۭ ۖ
"Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka?" (QS Fushilat: 15)

FirmanNya:  ٱلْمَتِينُ. Ibnu Abbas -radhiyalohu 'anhuma berkata: Yang Sangat Kokoh. Yakni kokoh kekuatanNya, kokoh dalam ketangguhanNya, dan kokoh dalam seluruh sifat keperkasaanNya. Sifat ini dari segi makna adalah taukid (penguat) dari Al-Qawiy (kekuatan).
Dan boleh bagi kita mensifati Alloh dengan syadid (kokoh/kuat) namun tidak boleh menamaiNya dengan Asy-Syadid, namun kita menamainya dengan Al-Matiin sebab Alloh menamai diriNya dengan nama ini.

Dalam ayat ini ada penetapan dua nama di antara nama-nama Alloh yaitu: Ar-Rozzaq (Yang Maha Pemberi Rezeki) dan Al-Matiin (Yang Maha Kokoh); dan terdapat penetapan tiga sifat yaitu: pemberian rezeki, kekuatan dan yang terkandung pada nama Al-Matiin.
Faidah maslakiyah di dalam mengimani Al-Quwwah dan Ar-Rizq adalah bahwasannya kita tidak akan mencari kekuatan dan rezeki kecuali dari Alloh -ta'ala-; dan kita mengiman bahwasannya setiap kekuatan bagaimanapun besarnya tidak akan mampu menghadapi kekuatan Alloh -ta'ala-.

Senin, 23 Maret 2020

Ilmu Alloh Meliputi Segala Sesuatu (Penjelasan QS At-Tholaq 12)

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 200-202

AYAT YANG KE-EMPAT:
FirmanNya:

لِتَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا

"agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu".(QS Ath-Tholaq: 12)

* Lafadz لِتَعْلَمُوٓا۟ "agar kamu mengetahui". Lam-anya lam ta'lil karena Alloh berfirman:
ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَـٰوَ‌ٰتٍۢ وَمِنَ ٱلْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ ٱلْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu".(QS At-Thalaq: 12)
Sesungguhnya Alloh telah menciptakan langit-langit yang tujuh ini dan bumi yang tujuh ini dan menjelaskan kepada kita akan hal itu agar kita mengetahui:"bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu".

Al-Qudrah (kuasa) adalah sifat yang memungkinkan pelaku suatu perbuatan tanpa kelemahan sehingga Dia adalah Maha Berkuasa atas segala sesuau. Mampu mengadakan yang tidak ada dan mentiadakan yang ada. Langit-langit dan bumi awalnya tidak ada lalu Alloh -azza wa jalla- menciptakannya dan mengadakannya dengan susunan yang sempurna ini.

FirmanNya:
وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا
"dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu".(QS Ath-Tholaq: 12)
Segala sesuatu yang kecil maupun yang besar, yang terkait dengan perbuatanNya maupun perbuatan hambaNya, yang telah lampau, yang akan datang ataupun yang sedang terjadi. Semua itu -sungguh ilmu Alloh subhanahu wa ta'ala telah meliputinya.

Alloh -azza wa jalla- menyebutkan ilmu dan qudrah setelah penciptaan sebab penciptaan tidaklah akan sempurna kecuali dengan ilmu dan qudrah. Dan penciptaan menunjukkan kepada ilmu dan qudrah termasuk pada dalalah talazum (penunjukkan atas konskwensi). Dan telah berlalu penjelasannya bahwa nama menunjukkan akan sifat-sifat terbagi atas tiga macam.

Peringatan:
Disebutkan dalam tafsir Al-Jalalain -semoga Alloh mengampuni kita dan beliau- di akhir surat Al-Maidah disebutkan: "Akal mengecualikan Dzat-Nya; Dia tidak berkuasa atas Dzat-Nya".

Kita akan menyanggah ucapan ini dari dua sisi:
PERTAMA: Bahwasannya tidak ada ketetapan bagi akal terhadap perkara yang terkait dengan Dzat Alloh dan sifat-sifatNya bahkan tidak ada ketetapan akal pada seluruh permasalahan ghaib. Tugas akal hanya pasrah secara sempurna. Dan agar kita ketahui bahwa apa yang disebutkan Aloh dari perkara-perkara ini bukanlah yang tidak masuk akal. Karenanya dikatakan: sesungguhnya nash-nash itu tidaklah datang dengan perkara yang tidak masuk akal namun datang dengan hal yang logis yakni dengan sesuatu yang bisa dijangkau akal; sebab akal mendengar apa yang tidak dapat dijangkaunya dan tidak tergambar padanya.

KEDUA: perkataannya: "Dia tidak berkuasa atas Dzat-Nya" ini adalah kesalahan besar. Bagaimana Dia tidak berkuasa atas Dzat-Nya sedangkan Dia berkuasa atas selainnya. Ucapannya ini melazimkan bahwa Dia tidak mampu untuk beristiwa', tidak mampu berbicara, tidak mampu turun ke langit dunia, tidak mampu berbuat demikian dan demikian selamanya. Ini pemikiran yang berbahaya sekali.

Namun jika ada yang berkata: mungkin maksudnya: "Akal mengecualikan Dzat-Nya; Dia tidak berkuasa atas Dzat-Nya" yakni Dia tidak mampu menjadikan kekurangan pada diriNya.
Kita katakan: Sesungguhnya tafsiran ini tidaklah masuk pada keumuman (perkataan tersebut) sehingga butuh pada pengecualian dan pengkhususan karena kemampuan hanyalah terkait segala sesuatu yang mungkin, sebab sesuatu yang tidak mungkin bukanlah sesuatu (yang teranggap), tidak di luar dan tidak pula di dalam pikiran. Qudrah (kemampuan) tidaklah terkait dengan sesuatu yang mustahil berbeda dengan ilmu.

Maka selayaknya bagi setiap insan untuk beradab terhadap permasalahan terkait Rububiyah karena permasalahan ini adalah permasalahan yang agung. Dan wajib bagi seseorang terhadap permasalahan semacam ini untuk berserah diri dan menerimanya.
Dengan demikian kita memutlakkan apa yang Alloh mutlakkan dan kita katakan: Sesungguhnya Alloh maha berkuasa atas segala sesuatu tanpa terkecuali.

Dalam ayat ini terdapat sifat-sifat Alloh -ta'ala-: penetapan keumuman ilmu Alloh dengan bentuk perincian dan penetapan keumuman qudrah (kekuasaan/kemampuan) Alloh -ta'ala-.

Faidah Maslakiyah dari keimanan kepada ilmu dan qudrah yaitu kuatnya rasa muraqabah kepada Alloh (merasa di awasi Alloh) dan takut kepadaNya.

Ilmu Alloh Meliputi Segala Sesuatu (Penjelasan QS Fathir Ayat 11)

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 199-200

Ayat yang ketiga:
وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنثَىٰ وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِۦ ۚ
" Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya" (QS Fathir: 11)


* Maa (مَا) adalah maa nafiyah (peniadaan).
* lafadz  أُنثَىٰ adalah fa'il dari تَحْمِلُ namun mu'rob dengan dhommah muqoddaroh di akhirnya. Tidak dinampakkan karena "isytighal mahal" dengan harakat huruf jarr tambahan.
Di sini ada permasalahan: Bagaimana engkau katakan tambahan padahal di Al-Qur'an tidak ada tambahan?
Jawabnya: Bahwasannya ini adalah tambahan dari sisi i'rab ada pun dari sisi makna maka ini berfaidah dan tiada didapati dalam Al-Qur'an suatu tambahan yang tidak berfaidah. Oleh karenanya kita katakan: Ini adalah tambahan. Tambahan dengan artian tidak bertentangan dengan i'rab apabila dihilangkan. Tambahan dari segi makna yang ditambahkan padanya.
*FirmanNya: مِنْ أُنثَىٰ kata untsa (wanita) ini mencakup jenis manusia maupun hewan-hewan lainnya. Hewan yang mengandung jelas ia masuk dalam ayat ini; seperti sapi, onta, kambing dan yang serupa dengan itu. Dan termasuk pula di dalamnya yang mengandung telur seperti burung-burung; sebab telur dikandung dalam perut burung.

* FirmanNya:  وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِۦ ۚ "dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya" permulaan hamil dengan pengetahuan Alloh dan dipenghujungnya dan keluarnya janin dengan pengetahuan Alloh -azza wa jalla- juga.

Ilmu Alloh Meliputi Segala Sesuatu (Penjelasan QS Al-An'am Ayat 59)

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 193-199

Kemudian Alloh -azza wa jalla- memberikan perincian lain pada ayat yang lain. Alloh -ta'ala- berfirman:
Ayat Ke-Dua:

عِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍۢ فِى ظُلُمَـٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍۢ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَـٰبٍۢ مُّبِينٍۢ [٦:٥٩]

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"(QS Al-An'am: 59)

*Makna عِندَهُۥ (disisiNya) yakni di sisi Alloh, sebagai khobar yang didahulukan. Sedangkan مَفَاتِحُ (kunci-kunci) sebagai mubtada' yang diakhirkan.
Susunan ini memberikan faidah pembatasan dan pengkhususan. Kunci-kunci yang ghaib hanya di sisi Alloh dan tidak di sisi selainNya. Pembatasan ini dikuatkan dengan firmanNya:  لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ (tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri). Dalam kalimat ini ada pembatasan bahwa ilmu tentang perkara ghaib ini hanya di sisi Alloh dengan dua metode:
Pertama: dengan metode mendahulukan dan mengakhirkan.
Kedua: dengan metode peniadaan dan penetapan.

* Kata مَفَاتِحُ dikatakan sebagai jama' dari مفتح dengan mengkasrahkan mim dan memfathahkan ta': miftaah. Atau jama' dari miftaah namun dihilangkan huruf ya' dan ini jarang ditemui. Dan kita mendefinisikan bahwa miftah (kunci) adalah yang dengannya pintu dibuka. Dan ada yang berpendapat: jama' dari maftih; dengan memfathahkan mim dan mengkasrahkan ta' yang artinya perbendaharaan (tempat penyimpanan -pent). Sehingga مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ maknanya adalah perbendaharaanNya. Dan ada yang berpendapat pula bahwa  مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ adalah mabadi' (permulaan) sebab pembuka segala sesuatu adalah di awalnya. Sehingga dengan demikian  مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ maksudnya adalah permulaan yang ghaib sebab hal-hal yang disebutkan ini adalah permulaan terhadap apa yang ada setelahnya.

* Kata ٱلْغَيْبِ masdarnya ghaaba - yaghiibu - ghaiban. Dan maksud ghaib adalah adalah sesuatu yang tidak nampak. Dan ghaib ini perkara yang relatif. Akan tetapi keghaiban yang mutlak ilmunya khusus hanya pada Alloh.

Al-mafaatih ini; sama saja kita katakan bermakna permulaan, atau perbendaharaan atau kunci-kunci maka tidak ada yang mengetaahuinya kecuali Alloh -azza wa jalla-. Tidaklah diketahui oleh seorang malaikat pun, dan tidak pula seorang rasul bahkan utusan yang paling mulia dari kalangan malaikat  -yakni Jibril- bertanya kepada utusan yang paling mulia dari kalangan manusia yaitu -Muhammad shollallohu 'alaihi wa sallam-. Dia bertanya: "Kabarkan kepadaku tentang datangnya hari kiamat". Beliau menjawab:"Yang ditanya tentang hal itu tidaklah lebih mengetahui dari pada yang bertanya". Maksudnya: Sebagaimana engkau tidak mengetahui ilmunya maka aku juga tidak mengetahui ilmunya. Barang siapa yang mengklaim mengetahui datangnya hari kiamat maka dia adalah seorang pendusta dan kafir. Orang yang membenarkannya maka dia juga kafir sebab dia mendustakan Al-Qur'an.

Dan kunci-kunci ini telah dijelaskan oleh manusia yang paling berilmu terhadap firman Alloh yakni Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- tatkala membacakan:
إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۭ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًۭا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍۢ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ
"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".(QS Luqman: 34)

ada lima hal:

PERTAMA: ILMU TENTANG HARI KIAMAT. Ilmu tentang hari kiamat adalah awal pembuka untuk kehidupan akhirat. Dan dinamakan hari kiamat dengan ini (As-Saa'ah) adalah karena hari itu adalah hari yang sangat dahsyat yang ditakut-takuti seluruh manusia dengannya. Dan disebut Al-Haaqqah dan Al-Waqiah. Dan hari kiamat yang mengetahui hanya Alloh. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan terjadinya kecuali Alloh -azza wa jalla-.

KEDUA: TURUNNYA HUJAN. Berdasarkan firmanNya:  وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ (dan Dialah yang menurunkan hujan). ٱلْغَيْثَ adalah masdar. Maknanya adalah hilangnya kekerasan, maksudnya di sini adalah hujan, sebab dengan hujan hilang kekeringan dan kegersangan. Jika Dialah yang menurunkan hujan maka Dia juga yang mengetahui kapan turunnya.
Turunnya hujan merupakan pembuka bagi kehidupan bumi dengan tetumbuhan. Dengan hidupnya tetumbuhan menjadi kebaikan bagi ladang penggembalaan dan seluruh yang terkait dengan kebaikan hamba-hambaNya.
Di sini ada point penting: Alloh berfirman وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ "Dia yang menurunkan Al-Ghaits (hujan yang lebat)". Dan Alloh tidak mengatakan: Dia yang menurunkan hujan. Sebab hujan terkadang turun namun tidak menumbuhkan tanam-tanaman, dan tidak pula deras, tidak pula bumi hidup dengannya. Oleh karenanya telah ada pada shahih Muslim:

ليست السَنَةُ أﻻ طُمْطَروا ، إنما السنة أن تُمْطَرُوا وﻻ تنبت الأرض شيئا
"Bukanlah paceklik itu tidak turun hujan pada kalian, namun paceklik itu hujan turun pada kalian namun tidak menumbuhkan apa-apa"(HR Muslim 2904).
As-Sannah: maknanya al-qahthu (paceklik).

KETIKA: ILMU TENTANG APA YANG ADA DALAM KANDUNGAN. Berdasarkan firmanNya:
 وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ
"dan Dia mengetahui apa yang ada dalam rahim"
yakni rahim perempuan. Alloh -azza wa jalla- mengetahui apa yang ada di dalam kandungan wanita; yakni apa yang ada di dalam perut para ibu dari kalangan manusia maupun selainnya. Keterkaitannya dengan ilmu ini umum terhadap segala sesuatu. Tidak ada yang mengetahui apa yang ada di dalam kandungan kecuali Dia -azza wa jalla- yang telah menciptakannya.

Jika engkau katakan: dikatakan sekarang ini: mereka (para ahli) menjadi tahu jenis kelamin laki-laki atau perempuan dalam rahim. Apakah ini benar?

Kita katakan: "Ini adalah perkara yang benar adanya dan tidak mungkin diingkari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui kecuali setelah terbentuk janin dan kelihatan jenis kelamin laki-laki atau perempuannya. Janin ini ada kondisi-kondisi lain yang mereka tidak mengetahuinya. Mereka tidak mengetahui kapan lahirnya. Mereka tidak mengetahui apabila dia lahir sampai kapan dia akan hidup. Mereka tidak mengetahui nantinya dia bahagia atau celakanya. Mereka juga tidak mengetahui nantinya dia kaya atau miskin dan selainnya yang merupakan perkara-perkara yang tidak diketahui.

Dengan demikian, kebanyakan perkara-perkara yang terkait dengan janin tidak diketahui manusia. Maka benarlah keumuman firmanNya : وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ "dan Dia mengetahui apa yang ada dalam rahim".

KEEMPAT: PENGETAHUAN TENTANG HARI ESOK. Yakni, hari setelah hari ini. Berdasarkan firmanNya:
 وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۭ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًۭا
"Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok".
Dan ini adalah pembuka bagi hal yang dikerjakan pada waktu yang akan datang. Jika manusia tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh dirinya maka ketidaktahuannya dengan apa yang akan dilakukan selainnya lebih tidak tahu lagi.

Namun jika ada yang berkata: saya mengetahui yang akan terjadi esok, saya akan pergi ke tempat Fulan, atau membaca atau mengunjungi kerabatku.
Kita katakan: terkadang seseorang memastikan bahwa dia akan mengerjakannya namun ada penghalang yang merintangi antara dia dan rencananya.

KELIMA: PENGETAHUAN TENTANG TEMPAT MATINYA. Hal ini berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍۢ تَمُوتُ ۚ
"Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati"
Tiada seorang pun yang mengetahui apakah dia mati di negerinya atau di negeri lain. Di negeri Islam ataukah di negeri yang penduduknya kafir. Dan dia juga tidak mengetahui apakah dia nantinya mati di daratan atau di lautan atau di angkasa. Ini adalah hal yang kita saksikan.

Dan seseorang tidak mengetahui jam berapa dia mati. Apabila dia tidak mungkin mengetahui di mana dia akan mati meski terkadang dia menentukan tempat (dia ingin meninggal. Demikian pula dia tidak mengetahui kapan dan jam berapa dia mati.

Ini adalah lima perkara yang merupakan pembuka bagi hal yang ghaib yang tiada yang mengetahuinya kecuali Alloh. Dan disebut dengan kunci-kunci keghaiban. Sebab, pengetahuan tentang apa yang ada di dalam rahim adalah pembuka bagi kehidupan dunia.
FirmanNya: وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۭ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًۭا "Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok" adalah pembuka bagi amalan yang akan dilakukan pada hari besok.  وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍۢ تَمُوتُ "Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati" adalah pembuka bagi kehidupan akhirat sebab jika manusia telah mati maka dia masuk alam akhirat. Telah berlalu penjelasan tentang pengetahuan tentang hari kiamat dan penurunan hujan. Menjadi jelas bahwa kunci-kunci ini semua adalah permulaan bagi perkara yang akan datang berikutnya.  إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".

* Kemudian Alloh -azza wa jalla- berfirman:
 وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ
"dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan" (QS Al-An'am: 59)
Ini umum. Siapakah yang mampu menghitung berbagai jenis (makhluk) yang ada di daratan? Berapa banyak dunia binatang, hasyarat (sejenis serangga dan semisalnya -pent), gunung-gunung, pepohonan, dan sungai-sungai; hal-hal yang tidaklah diketahui kecuali Alloh -azza wa jalla-. Demikian pula lautan yang di dalamnya terdapat kondisi alam yang tidaklah diketahui kecuali penciptaNya -azza wa jalla. Mereka (para ahli) mengatakan bahwa jenis kehidupann lautan tiga kali lipat dari pada daratan; sebab lautan lebih luas dari pada daratan.

* FirmanNya:
 وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا
"dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)"(QS Al-An'am: 59)
Ini perincian. Maka daun mana saja yang jatuh; yang ada di pohon manapun baik yang kecil maupun yang besar; yang dekat maupun yang jauh maka Alloh -ta'ala- mengetahuinya. Berdasarkan hal ini terdapat 'maa nafiyah' dan 'min zaidah' sehingga menjadi lafadz yang umum. Dan daun yang diciptakan maka Dia lebih mengetahuinya; sebab (Alloh) Yang Mengetahui apa yang jatuh maka Dia juga mengetahui apa yang diciptakanNya.
Lihatlah kepada luasnya ilmu Alloh -ta'ala-; segala sesuatu yang terjadi maka Dia mengetahuinya sampai perkara yang belum terjadi dan akan terjadi Dia mengetahuinya.
Alloh berfirman:
وَلَا حَبَّةٍۢ فِى ظُلُمَـٰتِ ٱلْأَرْضِ
"dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi" (QS Al-An'am: 59).
Biji kecil yang tidak diketahui ujungnya di kegelapan bumi Alloh -azza wa jalla- mengetahuinya.

* Kata ظُلُمَـٰتِ "kegelapan" adalah jama' dari dzulmah. Kita anggaplah ada sebuah biji kecil yang tenggelam di dasar samudera pada malam yang gelap dan hujan lebat. Maka kegelapannya: Pertama: lumpur samudera; Kedua: air samudera; Ketiga: hujan; Keempat: mendung; Kelima: malam. Ini adalah lima kegelapan di kegelapan bumi. Meski demikian biji ini diketahui dan dilihat oleh Alloh -azza wa jalla-.

* Lafadz وَلَا رَطْبٍۢ وَلَا يَابِسٍ "dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering" maka ini umum. Segala sesuatu mungkin dia basah dan mungkin dia kering.

* Lafadz إِلَّا فِى كِتَـٰبٍۢ مُّبِينٍۢ "melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"(QS Al-An'am: 59. Kitab bermakna maktub. Mubin yakni yang menampakkan dan jelas; sebab ابان bisa dipakai untuk mutaaddi (membutuhkan objek) dan lazim (tanpa membutuhkan objek). Dikatakan: 'abanal fajr' (fajar telah nampak) maksudnya fajar telah kelihatan.
Dan dikatakan 'abanal haqq' maksudnya menampakkannya (kebenaran). Maksud kitab di sini adalah lauh mahfudz.
Segala sesuatu ini diketahui oleh Alloh -subhanahu wa ta'ala- dan telah tertulis di sisiNya di lauh Mahfudz. Sebab tatkala Alloh menciptakan qalam (pena); maka Alloh memerintahkan kepadanya: Tulislah! Qalam bertanya: Apa yang harus aku tulis? Alloh berfirman: Tulislah segala sesuatu yang ada sampai hari kiamat. (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-Hakim dan dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shohihah).
Maka Qalam menuliskannya dalam sekejab segala sesuatu yang terjadi sampai hari kiamat. Kemudian Alloh -subhanahu wa ta'ala- menjadikan kitab-kitab di tangan para malaikat. Malaikat menuliskan apa yang diperbuat manusia sebab yang ada di lauh mahfudz telah tertulis di dalamnya apa yang diinginkan manusia untuk mengerjakannya. Sedangkan yang ditulis para Malaikat adalah yang manusia akan diberi balasan atasnya. Oleh karenanya Alloh -ta'ala- berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ ٱلْمُجَـٰهِدِينَ مِنكُمْ وَٱلصَّـٰبِرِينَ
"Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu" (QS Muhammad: 31)
Adapun pengetahuannya bahwa hambaNya si Fulan akan bersabar atau tidak bersabar maka ini sudah tertulis sebelumnya namun tidaklah berkonsekwensi pahala maupun hukuman.

Sabtu, 29 Februari 2020

Ilmu Alloh Meliputi Segala Sesuatu (Penjelasan QS Saba' ayat 2)

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 191-193

Firman Alloh -ta'ala-:
يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى ٱلْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۚ
"Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang ke luar daripadanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya" (QS Saba': 2)

عِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍۢ فِى ظُلُمَـٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍۢ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَـٰبٍۢ مُّبِينٍۢ [٦:٥٩]

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"(QS Al-An'am: 59)

وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنثَىٰ وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِۦ

"Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya". (QS Fathir: 11)

لِتَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا

"agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu".(QS Ath-Tholaq: 12)

Penjelasan:
Ayat-ayat ini berisi perincian tentang sifat Al-Ilmu (Mengetahui):
Ayat yang pertama firman Alloh -ta'ala-:


يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى ٱلْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۚ
"Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang ke luar daripadanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya" (QS Saba': 2)
Ini adalah perincian pada penjelasan sebelumnya tentang keumuman ilmu Alloh -ta'ala-:
Lafadz مَا adalah isim maushul yang memberi faidah umum. Setiap yang masuk ke bumi seperti hujan, biji-bijian yang ditabur ke bumi, orang yang mati, cacing, semut dan yang selainnya. Dan "apa yang ke luar daripadanya" seperti air, tetumbuhan dan yang serupa dengan itu. Dan "apa yang turun dari langit" seperti hujan, wahyu, para malaikat dan urusan Alloh -azza wa jalla-. Dan "dan apa yang naik kepadanya" seperti amal-amal sholih, para malaikat, ruh-ruh dan do'a.

Di sini dikatakan: "dan apa yang naik kepadanya" maka fiil menjadi muta'addi dengan 'fi'. Dan dalam surat Al-Ma'arij:
تَعْرُجُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَيْهِ
"Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Alloh"  (QS Al Maarij: 4)
Disini dimutaaddikan dengan 'ilaa' dan pada asalnya adalah ini. Adapun bentuk mutaaddi dengan 'fii' pada firmanNya: يَعْرُجُ فِيهَا "naik kepadanya'.

Jawabnya: Ali Nahwu Bashrah dan Kufah berselisih pendapat dalam masalah seperti ini. Ahli Nahwu Basrah berpendapat: bahwasannya fi'il membentuk suatu makna yang sesuai bersama dengan huruf. Sedangkan ahli Nahwu Kufah berkata: justru huruf yang membentuk suatu makna yang sesuai bersama dengan fi'il.

Berdasarkan pendapat yang pertama: firman Alloh -ta'ala-: يَعْرُجُ فِيهَا (masuk ke langit) mengandung makna يدخل (masuk); sehingga maknanya: dan apa-apa yang naik dan masuk kepadanya (langit). Berdasarkan hal ini maka dalam ayat ini ada dalil akan dua hal yaitu naik dan masuk.

Adapun berdasarkan pendapat kedua; maka kita katakan: 'fii' bermakna 'ilaa' sehingga hal ini sebagai bentuk penggantian di antara huruf-huruf.

Akan tetapi pada penjelasan ini engakau tidak mendapati bahwa pada ayat ini ada makna yang baru. Padanya hanya ada perbedaan lafadz 'ilaa' (ke) dengan lafadz 'fi' (di dalam). Oleh karenanya maka pendapat yang pertama yang lebih tepat yaitu bahwasannya fi'il (kata kerja) mencakup suatu makna yang sesuai bersamaan dengan huruf.

Pada permasalahan ini terdapat perbandingan dalam bahasa Arab; Alloh -ta'ala- berfirman:
عَيْنًۭا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ
"(yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum" (QS Al-Insan: 6)
Dan mata air diminum darinya; adapun yang diminum dengannya adalah bejana. Berdasarkan pendapat ulama Kufah lafadz يَشْرَبُ بِهَا huruf ba' bermakna من (dari). Sedangkan menurut pendapat ulama Bashrah maka fi'il يَشْرَبُ membentuk makna yang sesuai bersama dengan huruf ba' dan makna yang sesuai adalah terpuaskan dari dahaga. Dan sebagaimana diketahui bahwa tidaklah terpuaskan dari dahaga kecuali setelah minum. Sehingga fi'il ini mengandung makna pada puncaknya yaitu terpuaskan dari dahaga.
Demikian pula kita katakan pada ayat: وَمَا يَعْرُجُ فِيهَ "dan apa yang naik kepadanya" tidaklah masuk ke langit kecuali setelah naik kepadanya. Dengan demikian fi'il ini mengandung maknanya yang puncak.

Pada ayat ini Alloh -azza wa jalla- keumuman ilmuNya pada segala sesuatu dengan berbagai perinciannya kemudian Alloh merinci lagi pada ayat yang lain dengan perincian lainnya. Bersambung ....

Jumat, 28 Februari 2020

Penjelasan Shifat Alloh Al-Aliim dan Al-Khabir

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 190-191

*Firman Alloh -ta'ala-: ( ٱلْعَلِيمُ ٱلْخَبِيرُ )"Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS At-tahrim: 3)

Penjelasan:
* Tentang ٱلْعَلِيمُ telah berlalu penjelasannya.
* Makna ٱلْخَبِيرُ yaitu mengetahui perkara-perkara yang tersembunyi. Sehingga sifat ini merupakan sifat yang khusus setelah penyebutan sifat yang umum. Kita katakan: Al-Aliim artinya mengetahui perkara-perkara yang nampak sedangkan Al-Khabir mengetahui perkara-perkara yang tersembunyi. Sehingga pengtahuan tentang perkara-perkara yang tersembunyi disebutkan dua kali: pertama dengan bentuk umum dan kedua dengan bentuk khusus agar tidak ada yang menyangka bahwa ilmunya hanya khusus dalam perkara yang dzahir saja.

Sebagaimana hal ini terjadi pada makna-makna maka hal ini juga terjadi pada individu-individu. Misalnya:
تَنَزَّلُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا
"Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril"(QS Al-Qadar: 4)

 Ar-Ruuh adalah Jibril dan dia dari kalangan malaikat. Kita katakan: Para malaikat, dan di antaranya Jibril. Dan dikhususkannya penyebutan Jibril sebagai bentuk pemuliaan untuknya. Sehingga dia disebutkan dua kali: pertama dalam bentuk umum dan kedua dengan bentuk khusus.
Pada ayat ini terdapat nama-nama Alloh ta'ala yaitu: Al-Aliim dan Al-Khobir, dari shifatnya: Al-Ilmu (mengetahui yang dzahir) dan Al-Khubroh (mengtahui yang bathin).

Dan di dalamnya terdapat faidah-faidah maslakiyah (berkenaan dengan pensucian jiwa -pent); Bahwasannya keimanan seseorang akan perkara ini akan menambahkan rasa takut dan khasyahnya kepada Alloh, baik dalam kesendirian maupun ketika dalam keramaian.

Penjelasan Nama Alloh Al-'Aliim (Maha Mengetahui) dan Al-Hakiim (Maha Bijaksana)

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 187 - 190

Perkataan Penulis:
Alloh ta'ala berfirman:
 وَهُوَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ
"Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (QS At-Tahrim: 2)

* Firman Alloh: وَهُوَ ٱلْعَلِيمُ  "Dan Dia Maha Mengetahui". Telah dijelaskan tentang pengertian Al-Ilmu. Dan telah berlalu bahwa Al-Ilmu adalah sifat yang sempurna. Telah berlalu pula penjelasan bahwa Ilmu Alloh meliputi segala sesuatu.
* Adapun Al-Hakiim: penyusunnya adalah huruf: ح ك مُ yang menunjukkan pada حكم (hukum) dan إحكام(tepat/sesuai). Pada makna awal maka Hakiim bermakna Al-Haakim (yang menetapkan hukum); sedangkan pada makna kedua Al-Hakiim bermakna Al-Muhkim (Yang Menyempurnakan).
Dengan demikian; nama yang mulia ini menunjukkan bahwa hukum itu hanya milik Alloh. Dan menunjukkan bahwa Alloh tersifati dengan bijaksana. Karena makna Al-Ihkam adalah Al-Itqaan (kesempurnaan), yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Maka dalam ayat ini terdapat penetapan hukum dan hikmah:
Hanya Alloh -azza wa jalla- sajalah Al-Hakim (menetapkan hukum) dan hukum Alloh ada yang Kauniyah dan Syar'iyyah:
* Hukum Alloh yang Syar'iyyah adalah yang dibawa para rosul dan terdapat dalam kitab-kitabNya berupa syariat-syariat agama.
* Hukum Alloh yang kauniyah yaitu segala sesuatu yang Dia tetapkan untuk para hambaNya berupa penciptaan, rizki, hidup, mati dan yang serupa dengan itu dari makna-makna Rububiyah dan konsekwensi-konsekwensinya.
Dalil hukum syar'i yaitu firman Alloh -ta'ala- dalam surat Mumtahanah:
ذَ‌ٰلِكُمْ حُكْمُ ٱللَّهِ ۖ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ ۚ
"Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu" (QS Mumtahanah: 10)

Dan dalil hukum kauniyah adalah firman Alloh -ta'ala- tentang salah satu saudara Yusuf:
فَلَنْ أَبْرَحَ ٱلْأَرْضَ حَتَّىٰ يَأْذَنَ لِىٓ أَبِىٓ أَوْ يَحْكُمَ ٱللَّهُ لِى ۖ وَهُوَ خَيْرُ ٱلْحَـٰكِمِينَ
"Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya".(QS yusuf: 80)
Adapun firman Alloh -ta'ala- :
أَلَيْسَ ٱللَّهُ بِأَحْكَمِ ٱلْحَـٰكِمِينَ
"Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?" (QS At-Tiin: 8)
mencakup hukum kauniyah dan syar'iyah. Alloh -azza wa jalla- adalah Maha Bijaksana dengan hukum kauniyahNya dan hukum Syar'iyyahNya. Dan Dia pula yang tepat dalam menetapkan hukum keduanya. Masing-masing dari kedua hukum tersebut selaras dengan hikmahNya.
namun di antara hikmah-hikmah tersebut ada yang kita ketahui dan ada pula yang tidak kita ketahui; oleh karenanya Alloh -ta'ala- berfirman:
وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًۭا [١٧:٨٥]
"dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".(QS Al-Isra': 85)
Kemudian; hikmah itu ada dua macam:
PERTAMA: hikmah pada keadaan sesuatu atas tatacara dan keadaan yang ada padanya. Seperti sholat yang merupakan ibadah besar yang didahuui dengan bersuci dari hadats dan najis dan dikerjakan dengan tatacara tertentu berupa berdiri, duduk, ruku' dan sujud. Dan seperti zakat: yang merupakan ibadah kepada Alloh -ta'ala- dengan menuanaikan sebagian dari harta yang berkembang pada umumnya untuk orang yang membutuhkannya; atau untuk kaum muslimin yang ada kebutuhan pada mereka seperti untuk orang mualaf.

KEDUA: hikmah yang ada pada tujuan dari suatu hukum; dimana seluruh hukum Alloh ta'ala-memiliki tujuan yang terpuji dan buah yang mulia. Maka lihatlah hikmah Alloh pada hukumNya yang kauni. Tatkala manusia ditimpa musibah-musibah yang besar untuk tujuan-tujuan yang terpuji, sebagaimana firman Alloh -ta'ala-:
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)".(QS Ruum: 41)
Pada ayat ini ada bantahan perkataan orang: Sesungguhnya hukum-hukum Alloh -ta'ala- idaklah untuk suatu hikmah tapi murni kehendakNya.

Pada ayat ini terdapat nama-nama Alloh: Al-Aliim (Yang Maha Mengetahui) dan Al-Hakiim (Yang Maha Bijaksana); dan sifat-sifatNya Al-Ilmu dan Al-Hikmah.
Di dalamnya ada faidah-faidah maslakiyah (berhubungan dengan pensucian jiwa -pent): bahwa keimanan kepada ilmu Alloh dan hikmahNya berkonsekwensi pada kedamaian hati yang sempurna terhadap perkara yang telah ditetapkan berupa hukum-hukum kauniyah maupun syar'iyyah karena hal tersebut bersumber dari ilmu dan hikmah (Alloh -ta'ala-). Sehingga sirna kegundahan jiwa darinya dan menjadi lapang dadanya.

Minggu, 09 Februari 2020

Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah: Bertawakallah Hanya Kepada Alloh

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 184 - 187
Perkataan penulis -rahimahulloh-:
Firman Alloh -subhanahu wa ta'ala-:
وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱلْحَىِّ ٱلَّذِى لَا يَمُوتُ
"Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati" (QS Al-Furqan: 58)

* FirmanNya: وَتَوَكَّلْ (bertawakallah). At-Tawakul berasal dari وكل الشيء على غيره (menyerahkan sesuatu kepada selainnya) yakni memasrahkan kepadanya. Maka tawakkal kepada selainnya maknanya menyerahkan kepadanya.
Sebagian ulama mendefinisikan tawakal kepada Alloh dengan: benarnya bersandar kepada Alloh dalam mendapatkan kemanfaatan dan menolak kemudharatan dengan dibarengi kepercayaan kepada Alloh -subhanahu wa ta'ala- dan melakukan sebab-sebab yang benar.
Bersandar yang benar maksudnya adalah engkau bersandar kepada Alloh dengan sebenar-benar bersandar; dengan tidak meminta kecuali kepada Alloh; tidak meminta pertolongan kecuali kepada Alloh; tidak berharap kecuali hanya kepada Alloh dan tidak takut kecuali kepada Alloh. Bersandar kepada Alloh -azza wa jalla- dalam mendapatkan manfaat dan menolak kemudharatan. Dan tidaklah cukup bersandar tanpa keyakinan kepadaNya dan melakukan sebab yang diizinkanNya. Engkau yakin tanpa keraguan dengan melakukan sebab yang diizinkan mencapaiNya.
Barangsiapa yang tidak bersandar kepada Alloh dan bersandar pada kemampuannya maka dia akan dihinakan. Dalil hal ini adalah peristiwa yang menimpa para sahabat bersama Nabinya Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- pada saat perang Hunain tatkala Alloh berfirman:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍۢ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ
"Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu)"
Tatkala mereka berkata: "Hari ini sekali-kali kita tidak akan dikalahkan oleh golongan yang sedikit"

فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًۭٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ * ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًۭا لَّمْ تَرَوْهَا
"maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya". (QS At-Taubah: 25-26)
Dan barang siapa yang bertawakal kepada Alloh namun tidak melakukan sebab yang diizinkan oleh Alloh untuk mendapatkannya maka dia tidaklah benar(tawakalnya). Bahkan tanpa melakukan sebab-sebab adalah kebodohan menurut akal dan naqis (kurang) dalam agama sebab hal itu adalah bentuk celaan yang jelas terhadap hikmah Alloh.
Tawakal kepada Alloh adalah separoh dari agama sebagaimana yang difirmankan oleh Alloh -ta'ala-:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan". (Al-Fatihah: 5)
Dan permintaan tolong kepada Alloh adalah buah dari tawakal:
فَٱعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ
"maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya".(QS Hud: 123)

Oleh karenanya; orang yang bertawakal kepada selain Alloh tidak lepas dari tiga keadaan:

Pertama: Bertawakal dengan penyandaran dan peribadahan; ini syirik besar. Seperti berkeyakinan bahwa yang ditawakali adalah yang mendatangkan untuknya setiap kebaikan dan menolak darinya seluruh keburukan. Maka ia pun menyerahkan urusannya kepadanya dengan sebenar-benarnya dalam mendapatkan manfaat dan menolak kemudharatan dengan dibarengi dengan rasa takut dan harap, sama saja apakah yang ditawakali itu hidup atau mati; sebab tawakal semacam ini tidaklah boleh ditujukan kecuali kepada Alloh.
Kedua: Bertawakal kepada selain Alloh dengan suatu penyandaran namun dengan keyakinan bahwa hal itu hanyalah sebab dan bahwasannya urusannya diserahkan kepada Alloh. Seperti tawakalnya kebanyakan manusia kepada raja dan pemimpin untuk mendapatkan pekerjaan. Ini adalah jenis syirik kecil.
Ketiga: Menyerahkan urusan kepada seseorang yang mewakilinya dan yang menyerahkan adalah orang yang statusnya berada di atasnya. Seperti seseorang mewakilkan dalam perkara jual beli dan semacamnya yang termasuk perwakilan. Maka ini boleh dan tidak meniadakan tawakal kepada Alloh. Dan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- pernah mewakilkan kepada para sahabatnya dalam perkara jual beli dan semacamnya.

* Dan firmanNya:  عَلَى ٱلْحَىِّ ٱلَّذِى لَا يَمُوتُ "kepada (Allah) yang hidup (kekal) Yang tidak mati". Para ulama mengatakan: Jika suatu hukum dikaitkan dengan suatu sifat menunjukkan akan pentingnya sifat tersebut.
Seandainya seseorang berkata: Kenapa bunyi ayatnya: "Bertawakallah kepada yang Maha Kuat dan Maha Perkasa"; sebab kekuatan dan keperkasaan lebih sesuai dengan yang kontek?
Jawabnya: Bahwasannya tatkala berhala-berhala yang ditawakali oleh mereka ini keadaannya adalah mati; sebagaimana yang difirmankan Alloh -ta'ala-:
وَٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْـًۭٔا وَهُمْ يُخْلَقُونَ * أَمْوَ‌ٰتٌ غَيْرُ أَحْيَآءٍۢ ۖ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
"Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan". (QS An-Nahl: 20-21)
Maka Alloh berfirman: Bertawakallah kepada Dzat yang tidak memiliki sifat seperti berhala-berhala ini; Dia yang hidup dan tidak akan mati. Alloh berfirman pada ayat yang lain:
وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱلْعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ
"Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang" (QS Asy-Syu'araa': 217)
sebab 'izzah (keperkasaan) sesuai pada konteks ini.

Bentuk yang lain: bahwa Al-Hayyu (Maha Hidup) adalah nama yang mencakup seluruh sifat-sifat yang sempurna dalam kehidupan. Dan karena kesempurnaan kehidupanNya -azza wa jalla- maka Dia pantas sebagai tempat bertawakal.

FirmanNya:  لَا يَمُوتُ "tidak mati"; yakni karena kesempurnaan hidupnya Dia tidak akan mati sehingga ada keterkaitannya dengan sebelumnya. Maksudnya adalah faidah bahwa kehidupanNya ini adalah sempurna dan tidak diikuti kefanaan.
Dalam ayat ini terdapat nama-nama Alloh: Al-Hayyu. Dan didalamnya juga ada sifat-sifatNya: hidup, tidak mati yang mencakup kesempurnaan hidupNya. Dalam ayat ini ada dua sifat dan satu nama Alloh.

Rabu, 29 Januari 2020

Memahami Asma Alloh: Al-Awwal Al-Akhir Adz-Dzohir Al-Bathin

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 180 - 184

Perkataan Penulis:
Dan firman Alloh -subhanahu wa ta'ala-:
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu". (QS Al-Hadid: 3)

Penjelasan:
* "Dan firman Alloh -subhanahu wa ta'ala-" ini adalah athaf (kelanjutan) kepada lafadz 'surah' pada perkataan penulis: ما وصف نفسه في سورة الإخلاص "Dan yang Alloh sifati diriNya dalam surat Al-ikhlash".

* FirmanNya الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ (Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin). Ini adalah 4 nama; masing-masingnya saling berlawanan, pada waktu dan pada tempat. Memberi faidah akan pengetahuan Alloh -subhanahu wa ta'ala- meliputi segala sesuatu baik yang awal maupun yang akhir, demikian pula terhadap tempat. Maka di dalamnya ada pengetahuan yang meliputi waktu dan tempat.

*FirmanNya هُوَ الْأَوَّلُ (Dialah Yang Awal): Al-Awwal; Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- menjelaskan dengan sabdanya: الذي ليس قبله شيء "Yang tidak ada sesuatu pun yang mendahuluiNya"(1).
Di sini beliau menjelaskan penetapan dengan penafikan (peniadaan). Beliau mejadikan sifat subutiyah menjadi sifat salbiyah. Dan telah kami sebutkan sebelumnya bahwa sifat-sifat Subutiyah lebih sempurna dan lebih banyak; kenapa (Nabi mejadikan sifat subutiyah menjadi sifat salbiyah -pent)?
Kita katakan: Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam menjelaskan hal itu sebagai penekanan terhadap Al-Awwaliyah (Sifat Al-Awwal). Yakni sifat ini adalah mutlak. Awwaliyah yang bukan awwaliyah yang disandarkan (pada sesuatu yang lain/relatif).
Dikatakan: Ini adalah awwal ditinjau dari yang setelahnya dan padanya ada sesuatu yang lain sebelumnya. Sehingga penafsirannya dengan peniadaan  lebih bisa menjelaskan secara umum bahwa itu adalah awwaliyah yang mutlak. Oleh karenanya beliau bersabda: "Yang tidak ada sesuatu pun yang mendahuluiNya". Dan ini ditinjau dari pendahuluan dari sisi zaman/waktu.

* FirmanNya وَالْآخِرُ (dan Dia Yang Akhir) dijelaskan oleh Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dengan sabdanya: الذي ليس بعده شيء (yang tidak ada sesuatu pun setelahNya). Dan tidaklah bahwa ini menunjukkan akan batas akhir Alloh; sebab di sana ada hal-hal yang abadi sedangkan mereka adalah makhluk; seperti surga dan neraka. Sehingga makna وَالْآخِرُ (dan Dia Yang Akhir) bahwa ilmuNya meliputi segala sesuatu; maka tidaklah adz-dzuhur yang berarti tinggi. Sebagaimana firman Alloh ta'ala:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ
"Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama" (QS At-Taubah: 33)
Yakni (لِيُظْهِرَهُ) maksudnya agar Dia meninggikannya.
Misal lain ظهر الدابة (punggung binatang melata) karena ada dibaian atasnya.
Diantaranya juga firman Alloh -ta'ala-:
فَمَا اسْطَاعُوا أَن يَظْهَرُوهُ
"Maka mereka tidak bisa mendakinya" (QS Al-Kahfi: 97)
yakni melampauinya.
Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- berkata dalam menafsirkannya:
الذي ليس فوقه شيء
"Yang tiada sesuatu pun di atasNya"
Dia tinggi di atas segala sesuatu.

* Makna وَالْبَاطِنُ (AlBathin): Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- menjelaskannya:
الذي ليس دونه شيء
"Tiada sesuatu pun di bawahNya"
Ini adalah kinayah (kiasan) akan pengetahuanNya yang meliputi segala sesuatu.
Namun maknanya bahwasannya Dia (Alloh) -'azza wa jalla- bersamaan dengan ketinggianNya Dia Bathin; sehingga ketinggianNya tidaklah menafikkan kedekatanNya -azza wa jalla-. Al-Bathin lebih dekat kepada makna Al-Qorib (dekat).

Perhatikanlah empat Nama ini; engkau mendapatinya saling berpasangan dan semuanya adalah khabar dari Mubtada' yang satu namun dengan peghubung huruf athaf. Dan khabar-khabar dengan penghubung huruf athaf lebih kuat dari pada khabar-khabar yang yang tidak berpenghubung huruf athaf. Misalnya:
وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ * ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ * فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ

"Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang mempunyai 'Arsy, lagi Maha Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya." (QS Al-Buruj: 14-16)
Ini adaah khabar-khabar yang tidak berpenghubung huruf athaf. Namun terkadang asma-asma Alloh dan shifat-shifatNya bergandengan dengan wawu athaf, faidahnya:
Pertama: Penekanan terhadap (kata) yang sebelumnya; sebab tatkala engkau menghubungkan(kata yang mengikuti -pent) dengannya, maka engkau menjadikannya (kata pertama yang diikuti -pent) sebagai pokok. Dan sesuatu yang pokok adalah kuat.
Kedua: Memiliki faidah pengumpulan; namun tidak berkonsekwensi banyaknya yang disifati. Tidakkah engkau melihat firman Alloh -ta'ala-:
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى * الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ * وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ
"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi, yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk," (QS Al-A'la: 1-3)
Maka yang Maha Tinggi adalah Dia yang telah Menciptakan dan menyempurnakan dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.
Jika engkau berkata: Umumnya athaf itu berkonsekwensi berbeda-beda (beragam).
Jawabnya: Betul. Akan tetapi perbedaan yang terkadang pada individunya, terkadang pada shifat-shifatnya. Dan ini adalah perbedaan pada shifat. Terkadang perbedaan secara lafadz bukan maknanya; sebagaimana perkataan penyair:
فالقى قولها كذبا و مينا
"Maka dia melontarkan perkataan dusta dan bohong".
Maka al-mainu(bohong) adalah al-kadzibu(dusta), namun bersamaan dengan itu di athafkan kepadanya karena perbedaan lafadz namun maknanya sama. Perbedaan bisa karena 'aini (perindividunya), maknawi atau lafadz. Jika engkau katakan: Telah datang Zaid yang mulia, pemberani lagi 'alim. Ini adalah perbedaan secara makna. Namun jika engkau katakan: Ucapan ini dusta dan bohong. Maka ini adalah perbedaan lafadz.
Ayat yang mulia ini memberikan kesimpulan kepada kita penetapan empat nama Alloh; yaitu: Al-Awwal, Al-Akhir, Adz-Dzohir dan Al-Bathin.
Dan memberikan kesimpulan kepada kita lima shifat yaitu: shifat awaliyah (yang awal), akhiriyah (yang akhir), dzohiriyah (yang dzohir), bathiniyah (yang bathin) dan keumuman ilmu (Alloh).
Dan dari penggabungan nama-nama ini memberikan faidah: Alloh -ta'ala- ilmunya meliputi waktu dan tempat; sebab terkadang penggabungan shifat-shifat itu terdapat tambahan shifat.
Apabila ada yang berkata: Apakah nama-nama ini saling melazimkan (mengandung konsekwensi sebaliknya-pent); maksudnya tatkala engkau mengatakan: Al-Awwal maka harus engkau katakan Al-Akhir, atau boleh menyendirikan antara satu dengan yang lain?
Yang nampak bahwa sifat-sifat yang berpasangan ini saling melazimkan. Jika engkau katakan: Al-Awwal; maka katakan Al-Akhir. Jika engkau katakan Adz-Dzohir maka katakanlah Al-Bathin agar tidak meniadakan shifat yang berpasangan yang menunjukkan akan ilmu Alloh.

* FirmanNya:
وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu". (QS Al-Hadid: 3)
Ini menyempurnakan empat sifat yang sebelumnya; yakni, bersamaan dengan itu Dia Mengetahui segala sesuatu.
Ini dengan bentuk umum yang tidak bisa dikhususkan selamanya. Keumuman ini mencakup perbuatan-perbuatanNya dan perbuatan para hamba; baik secara keseluruhannya maupun sebagiannya. Dia mengetahui apa yang terjadi dan akan terjadi. Mencakup perkara yang wajib, yang jaiz dan yang mustahil. Ilmu Alloh -ta'ala- luas, mencakup dan meliputi (segala sesuatu). Tidak ada sesuatu pun yang terkecualikan. Adapun ilmu Alloh tentang hal yang wajib adalah seperti ilmuNya tentang diriNya dan tentang sifat-sifatNya yang sempurna.
Adapun ilmuNya tentang hal yang mustahil misalnya dalam firmanNya:
لَوْ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ
"Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa".(QS Al-Anbiya': 22)
إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخْلُقُوا۟ ذُبَابًۭا وَلَوِ ٱجْتَمَعُوا۟ لَهُۥ ۖ
"Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya". (QS Al-Hajj: 73)
Adapun ilmuNya mengenai hal yang jaiz maka seluruh yang Alloh khabarkan tentang makhluk-makhukNya maka ini termasuk yang jaiz:
يعلم ما تسرون وما تعلنون
"Dia mengetahui yang yang kalian sembunyikan dan yang kalian nampakkan" (QS An-Nahl: 19)
Dengan demikian, ilmu Alloh -ta'ala- meliputi segala sesuatu.

Dan buah yang diperoleh dari keimanan bahwa Alloh mengetahui segala sesuatu adalah kesempurnaan muroqobatulloh (merasa diawasi oleh Alloh -azza wajalla-) dan takut kepadaNya; yang menjadikan dia tidak mengabaikan perintahNya dan tidak ada keinginan pada perkara yang dilarangNya.


Note:
1). Riwayat Muslim 2713 dari hadits Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu.

Faidah Ayat Kursi

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 180

Perkataan Penulis:
ولهذا كان من قرأ هذه الآية في ليلة؛ لم يزل عليه من الله حافظ وﻻ يقربه شيطان حتى يصبح
"Oleh karenanya, orang yang membaca ayat ini di malam hari senan senantiasa dia akan mendapatkan penjagaan dari Alloh dan tidak akan di dekati oleh syaiton".

Penjelasan:
Ini adalah petikan dari hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu- pada kisah Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- memintanya untuk menjaga zakat dan syaiton mengambil zakat itu. Dan ucapannya kepada Abu Hurairah: Jika engkau beranjak ke tempat tidurmu; maka bacalah ayat kursi اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ""Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah dengan benar) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)" sampai akhir ayat; maka senantiasa engkau mendapat penjagaan dari Alloh dn syaiton tidak akan mendekatimu sampai subuh. Lalu Abu Hurairah mengkhabarkan hal itu kepada nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Maka beliau bersabda: "Sesungguhnya telah jujur kepadamu padahal dia adalah pendusta".

Minggu, 15 Desember 2019

Kandungan Ayat Kursyi Dalam Permasalahan Asma' wa Shifat (bag 5)

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 173 - 175

Dan (ayat ini) mengandung 26 dari shifat-shifat Alloh. Di antara 5 shifat terkandung dalam 5 nama tadi.
KEENAM: KeesaanNya dalam Uluhiyah.
KETUJUH: Peniadaan mengantuk dan tidur dari diriNya karena kesempurnaan Hayyah dan Qoyyumiyah (kemandirian & mengurusi seluruh makhlukNya).
KEDELAPAN: Keumuman kekuasaannya; berdasarkan firmanNya:
لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ
"Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi"
KESEMBILAN: Pengesaan Alloh -azza wa jalla- dalam kepemilikan. Kita menyimpulkannya dari didaahulukannya khobar.
KESEPULUH: kuat dan sempurnanya otoritasNya; berdasarkan firmanNya:
مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
"Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya?"
KESEBELAS: penetapan al-'indiyyah, dan ini menunjukkan bahwa Alloh tidak berada di setiap tempat. Ini bantahan terhadap Hululiyyah.
KEDUABELAS: penetapan adanya izin dari Alloh berdasarkan firmanNya: إِلَّا بِإِذْنِهِ (kecuali dengan izinNya).
KETIGABELAS: keumuman ilmu Alloh -ta'ala- berdasarkan firmanNya:
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ
"Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka"
KEEMPATBELAS DAN KELIMABELAS: Bahwa Alloh -subhanahu wa ta'ala- tidak lupa apa yang telah terjadi; berdasarkan firmanNya: وَمَا خَلْفَهُمْ (apa yang ada dibelakang mereka) dan mengetahui apa yang akan terjadi berdasarkan firmanNya: مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ (apa yang ada di depan mereka).
KEENAMBELAS: sempurnanya keagungan Alloh; oleh karenanya makhluk tidak mampu untuk mencapainya.
KETUJUHBELAS: Penetapan kehendak Alloh, berdasarkaa firmanNya  إِلَّا بِمَا شَاءَ (kecuali dengan apa yang Dia kehendaki).
KEDELAPANBELAS: penetapan kursi, yaitu tempat kedua kaki.
KESEMBILAN BELAS, DUAPULUH DAN DUA PULUH SATU: penetapan keagungan, kekuatan dan kekuasaanNya; berdasarkan firmanNya:  وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ "Kursi Allah meliputi langit dan bumi"; sebab besarnya makhluk menunjukkan kebesaran penciptannya.
KEDUAPULUHDUA, DUA PULUH TIGA DAN DUA PULUH EMPAT: sempurnanya ilmuNya, rahmatNya dan penjagaanNya; berdasarkan firmanNya:  ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا "Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya".

KEDUAPULUHLIMA: penetapan ketinggian Alloh berdasarkan firmanNya:  وَهُوَ الْعَلِيُّ (dan Alloh adalah Maha Tinggi).
Dan madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah bahwa Alloh -subhanahu wa ta'ala- tinggi dengan Dzat-Nya. Dan ketinggian Alloh ini adalah termasuk sifat Dzatiyh yang azali dan abadi.

Dan dua kelompok telah menyelisihi Ahlus Sunnah dalam masalah tersebut: Satu kelompok yang mengatakan: Sesungguhnya Alloh berada di setiap tempat dengan Dzat-Nya! Dan kelompok yang lain mengatakan: sesungguhnya Alloh tidak di atas alam, tidak di bawahnya, tidak pula di dalam alam, tidak di kanan, tidak di kiri, tidak terpisah dari alam dan tidak bersatu dengan alam!

Mereka yang mengatakan bahwa Alloh ada di setiap tempat berdalil dengan firman Alloh -ta'ala-:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ

"Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada". (QS Al-Mujadilah: 7)
dan berdalil pula dengan firman Alloh -ta'ala-:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
"Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan". (QS Al-Hadid: 4)
Berdasarkan ini; maka Alloh tidaklah tinggi dengan Dzat-Nya tetapi tinggi menurut mereka adalah ketinggian sifat.

Adapun mereka yang mengatakan: Sesungguhnya Alloh tidaklah disifati dengan arah. Mereka berkata: Sebab jika kita mensifatinya dengan hal itu tentulah Alloh itu jism (badan); dan jism itu penyerupaan dan ini berkonsekwensi tamtsil (menyerupakan Alloh dengan makhluk). Karena hal ini maka kami mengingkari bahwa Dia ada di arah mana saja.
Namun kita membantah kedua golongan ini dari dua sisi:
Sisi Pertama: Salahnya pendalilan mereka.
Sisi Kedua: Penetapan kebalikan dari perkataan ereka dengan dalil-dalil yang qath'i.

(I) PERTAMA: Kita katakan kepada orang yang menganggap bahwa Alloh dengan dzatNya ada di setiap tempat: klaim kamu ini klaim yang batil. Terbantahkan oleh dalil naqli dan aqli (akal):

Adapun dalil naqli: Sesungguhnya Alloh -ta'ala- menetapkan untuk diriNya bahwa diriNya AL-'Aliy (Yang Maha Tinggi). Dan ayat yang engkau jadikan dalil itu tidaklah menunjukkan akan klaimmu (Alloh ada di mana-mana) sebab ma'iyyah (kebersamaan) tidak mengharuskan hulul (manunggal) dalam setiap tempat. Tidakkah engkau mendengar perkataan orang Arob: Rembulan bersama kita, sedangkan tempatnya ada di langit? Dan seseorang berkata: Istriku bersamaku; padahal dia di timur dan istrinya di barat? Dan seorang komandan berkata kepaada pasukannya: Berangkatlah kalian ke medan perang dan aku bersama kalian; padahal dia berada di ruang kendali dan pasukannya ada di medan perang. Tidaklah ma'iyah (kebersamaan) itu berkonsekwensi yang menemani dan ditemani ada di stu tempat selamanya. Ma'iyyah terbatasi maknanya tergantung pada penyandarannya. Maka terkadang kita katakan: Susu ini padanya ada air. Ini adalah ma'iyyah (kebersamaan) yang mengharuskan percampuran. Dan seseorang berkata: Hartaku ada padaku; padahal hartanya ada di rumah tidak dibawanya. Dan ia berkata ketika membawa hartanya: hartaku ada padaku; dan hartanya dia bawa. Maka ini adalah satu kata namun berragam maknanya tergantung penyandarannya. Berdasarkan hal ini kita katakan: Kebersamaan Alloh -azza wa jalla- dengan makhluknya sesuai dengan kemulianNya (Alloh subhanahu wa ta'ala) sebagaimana dengan kseluruhan sifat-sifatNya. Maka ini adalah kebersamaan yang sempurna dan hakiki namun Dia ada di langit.

Adapun dalil aqli akan bathilnya perkataan mereka; maka kita katakan: ketika aku berkata: Sesungguhnya Alloh bersamamu di setiap tempat. Maka ini mengandung konsekwensi yang bathil. Konsekwensinya adalah:

Pertama: Bisa jadi berbilang atau terbagi-bagi. Ini adalah konsekwensi yang batil tanpa diragukan lagi. Dan bathilnya konsekwensi (pemikiran mereka) menunjukkan akan bathilnya pemikiran mereka.

Kedua: kita katakan: tatkala aku katakan: Sesungguhnya Alloh bersamamu di berbagai tempat. Maka ini berkonsekwensi bertambah dengan bertambahnya manusia dan berkurang dengan berkurangnya manusia.

Ketiga: Pemikiran ini berkonsekwensi tidak adanya pensucian Alloh dari tempat-tempat yang kotor. Tatkala aku katakan: Sesungguhnya Alloh bersamamu ketika engkau ada di kakus. Maka ini adalah sebesar-besar celaan kepada Alloh -'azza wa jalla-.

(II) KEDUA; kita katakan kepada mereka:
Pertama: Sesungguhnya peniadaanmu terhadap arah (bagi Alloh) berkonsekwensi peniadaan terhadap Alloh -azza wa jalla-; sebab tidaklah kita mengetahui sesuatu yang tidak ada di atas alam dan tidak pula dibawahnya, tidak dikiri dan tidak dikanan, tidak bersatu dan tidak berpisah; kecuali sesuatu itu memang tidak ada. Oleh karenanya berkata sebagian ulama: "Jika dikatakan kepada kita: Sifatkanlah Alloh dengan ketiadaan! Maka kita tidak mendapati pensifatan yang lebih tepat untuk peniadaan kecuali dengan sifat seperti ini".
Kedua: Perkataanmu: "Penetapan arah (untuk Alloh) berkonsekwensi tajsiim (anggapan Alloh punya jisim/wujud jasmani)!". Kami akan mengajakmu diskusi tentang kata jisim:
Apakah jisim ini yang karenanya engkau hindarkan manusia dari menetapkan sifat-sifat Alloh?! Apakah maksud kalian jisim itu adalah sesuatu yang tersusun dari bagian-bagian yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya; yang tidak mungkin tegak kecuali dengan bergabungnya bagian-bagian ini?! Jika maksudmu ini maka kami pun tidak meyakininya. Dan kami katakan: Sesungguhnya Alloh tidak memiliki jisim dengan makna ini. Dan barang siapa berkata: Sesungguhnya penetapan ketinggianNya berkonsekwensi adanya jisim ini maka perkataannya hanyalah klaim semata. Cukuplah kita katakan:
Ini tidaklah bisa diterima!! Namun jika yang kalian maksudkan dengan jisim adalah Dzat yang berdiri sendiri yang menyandang sifat yang sesuai, maka kami menetapkannya. Dan kita katakan: Sesungguhnya Alloh -ta'ala- memiliki Dzat; dan Dia berdiri sendiri (mandiri) yang memiliki sifat kesempurnaan; dan ini yang diketahui oleh seluruh manusia.

Dengan demikian menjadi jelaslah batilnya perkataan mereka yang meyakini bahwa Alloh dengan Dzat-Nya ada di setiap tempat. Atau (mengatakan) bahwa Alloh -ta'ala- tidaklah ada di atas alam tidak pula di bawahnya, tidak bergabung dan tidak pula terpisah. Namun kita katakan bahwa Dia -azza wa jalla- bersemayam di atas Arsy-Nya.

Adapun dalil-dalil tentang ketinggian (Alloh -ta'ala-)yang telah membantah perkataan kedua golongan dan yang telah menguatkan pendapat Ahlus Sunnah wal Jama'ah maka banyak sekali dalilnya tidaklah terhitung jumlahnya. Adapun klasifikasinya ada lima yaitu: Al-Qur'an, As-Sunnah, Ijma', Akal dan Fithrah.

Adapun dari Al-Qur'an; maka beracam-macam dalil tentang ketinggian Alloh di antaranya tentang penjelasan tentang al-'Uluww (ketnggian Alloh) dan Al-Fauqiyyah (Alloh ada di atas), naiknya sesuatu kepadaNya dan turunnya sesuatu dariNya dan yang serupa dengan itu.

Adapun dari As-Sunnah maka beragam penunjukannya; dan telah bersesuaian As-Sunnah dengan 3 macamnya (Qoliyah, Fi'liyah dan Taqririyah -pent) akan ketinggian Alloh dengan DzatNya. Telah shahih ketinggian Alloh dengan Dzat-Nya dalam As-Sunnah dari perkataan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- perbuatannya dan ketetapannya.

Adapun dari Ijma'; maka kaum muslimin telah ijma' (sepakat) sebelum kemunculan kelompok-kelompok bid'ah ini bahwa Alloh -ta'ala- bersemayam di atas 'Arasy-Nya di atas para makhlukNya. Telah berkata syaikhul Islam: Tidaklah ada dalam firman Alloh dan tidak pula sabda rasul-Nya dan tidak pula ucapan shahabat dan tidak pula yang mengikuti mereka dengan baik yang menunjukkan -tidaklah secara nash dan tidak pula secara dzahir- bahwa Alloh ta'ala tidaklah di atas Arsy dan tidak di langit. Bahkan seluruh perkataan mereka bersepakat bahwa Alloh berada di atas segala sesuatu. -selesai-

Adapun dari Akal; maka kia katakan: Semua tahu bahwa al-Uluww (ketinggian) adalah sifat yang sempurna. Jika ini adalah sifat kesempurnaan maka wajib untuk ditetapkan bagi Alloh; karena sesungguhnya Alloh tersifati dengan sifat-sifat yang sempurna. Oleh karenanya kita katakan: Adalah bisa jadi Alloh ada di atas, atau di bawah atau sejajar. Adapun di bawah dan sejajar ditiadakan (dari sifat Aloh -pent) sebab di bawah naqish (kurang sempurna) dari segi makna. Sedangkan sejajar adalah naqish karena sama dengan makhluk dan menyerupainya (tamtsil); maka tidaklah tersisa kecuali sifat Uluw (ketinggian). Dan ini adalah bentuk lain dari dalil akal.

Adapun dari Fithrah; maka kita katakan: Tidaklah ada seorag hamba yang berkata: Ya Robb! kecuali didapati dalam hatinya secara naluri mengarah ke atas.

Maka bersesuaianlah lima dalil ini.
Adapun ketinggian sifat-sifat Alloh; maka ini adalah ijma' bagi setiap orang yang beragama atau yang mengaku dirinya muslim.

KEDUAPULUH ENAM: Penetapan Al-Adzomah (keagungan) untuk Alloh 'azza wa jalla- berdasarkan firmanNya: الْعَظِيمُ.
#######


 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)