“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 03 Maret 2019

Muqaddimah - Penjelasan Shalawat Kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-

Penulis berkata:
صلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه وسلم تسليماً مزيداً
"Semoga Alloh melimpahkan sholawat dan salam kepada beliau, keluarga dan shahabat beliau, dan memberikan keselamatan tambahan"

Penjelasan:
Makna صلى الله عليه pendapat yang paling bagus dalam masalah ini adalah sebagaimana yang disampaikan Abu Al-'Aliyah -rahimahulloh-: "Sholawat Alloh kepada rasul-Nya adalah pujian kepada beliau di Al-Malaul A'la"¹. Adapun orang yang menafsirkan sholawat Alloh kepada beliau dengan rahmat, maka ini

pendapat yang lemah sebab rahmat diberikan kepada siapa saja. Oleh karenanya, para ulama bersepakat diperbolehkan engkau mengatakan: Fulan dirahmati Allah. Tapi mereka berbeda pendapat apakah boleh engkau mengatakan: Allah bershalawat kepada Fulan. Hal ini menunjukkan bahwa

sholawat bukankah rahmat dan juga, Allah ta'ala telah berfirman:
أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَة
"Mereka itulah orang-orang yang mendapat sholawat dan rahmat dari Tuhannya". (Al Baqarah: 157).

Dan athof (kata sambung) mengharuskan perbedaan. dengan demikian sholawat lebih khusus daripada rahmat, maka sholawat Allah kepada rasulNya adalah pujianNya kepada beliau di Malaul a'la.

Demikian pula ucapan penulis وعلى آله (dan kepada Aali beliau), kata 'Aali beliau' adalah pengikut agama beliau. Ini jika engkau menyebutkan kata Aali saja atau bersamaan (dengan kata) sahabat, maka kata ini bermakna pengikut di atas agama beliau sejak diutusnya beliau sampai hari kiamat. Dan dalil yang menunjukkan bahwasanya الآل (keluaga) bermakna pengikut di atas agama adalah firman Allah ta'ala tentang Aali Firaun:
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوّاً وَعَشِيّاً وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
"Kepada mereka diperlihatkan neraka, pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Lalu kepada malaikat diperintahkan), “Masukkanlah Fir‘aun dan Aali-nya (kaumnya) ke dalam azab yang sangat keras!” (QS Ghafir:46).
Maksudnya yaitu pengikut agamanya.

Adapun apabila engkau gabungkan dengan 'pengikut' dengan dikatakan: "آله وأتباعه", maka Aali disini maksudnya adalah kaum mukminin dari ahlul bait yakni yakni ahlul bait Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-.

Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak menyebutkan 'atbaa' (pengikut) di sini, beliau berkata: "آله وصحبه", maka kami katakan Aali beliau adalah pengikut beliau di atas agamanya. Dan sahabat beliau adalah setiap orang yang bersama dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam- beriman kepada beliau dan mati dalam keadaan iman. Lalu athaf (disertakannya penyebutan) sahabat kepada (aali) keluarga di sini adalah athaf sesuatu yang khusus kepada umum, karena kata shahabat lebih khusus daripada kemutlakan kata itbaa' (pengikut).

Ucapan penulis: وسلم تسليماً مزيداً "Semoga Alloh memberikan keselamatan tambahan". "Keselamatan" di dalamnya adalah keselamatan dari ketergelinciran,sedangkan dalam sholawat yaitu diperolehnya kebaikan-kebaikan.

Penulis menggabungkan dalam kalimat ini antara permohonan kepada Allah ta'ala agar merealisasikan kebaikan-kebaikan kepada nabiNya, dan yang paling utama yakni pujian kepada beliau di malaul a'laa dan memalingkan dari ketergeliciran, demikian pula kepada orang yang mengikuti Beliau.

Dan kalimat dalam ucapan beliau: "sholawat dan salam" adalah sebagai khobar secara lafadz, namun berupa permintaan secara makna, karena maksudnya di sini adalah do'a (permohonan).

Ucapan penulis: مزيداً bermakna 'yang bertambah' atau 'tambahan' dan maksudnya adalah keselamatan tambahan atas sholawat, sehingga menjadi permohonan keselamatan yang lain setelah sholawat.

Rasul menurut ahli ilmu adalah orang yang diberikan wahyu kepadanya berupa syariat dan diperintahkan untuk menyampaikannya (kepada umatnya). Beliau shallallahu alaihi wassalam diangkat menjadi nabi dengan: اقْرَأْ (Surat al-'Alaq 1-5) dan diutus menjadi rasul dengan surat Al-Mudatsir dengan firman Allah ta'ala: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ} "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan", sampai kepada ayat: {عَلَّمَ الأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ} "Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya". Ini adalah pengangkatan kenabian. Sedangkan ayat {يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ} "Wahai orang yang berselimut, bangun dan berilah peringatan" (QS Al-Muddatsir: 1-2) adalah pengukuhan kerasulan beliau -shallallahu alaihi wasallam-.

=============
Catatan kaki :
1. Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Abul 'Aliyah dalam tafsirnya tentang surat Al Ahzab pada bab: "Innalloha wa malaikatuhu yusholluna alan Nabiy" . Fath (8/532) dan Qadhi Ismail bin Ishaq Al-Jahdhomi memaushulkannya pada "Fadlus sholati 'alan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam " (95) dengan sanad hasan sebagaimana yang disampaikan syaikh Al-Albani.

Diterjemahkan oleh Abu Unais Pati, dengan beberapa editan Ust Abu Said -hafidzahulloh-

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)