“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Kamis, 30 Juli 2020

Bersikap Pertengahan Dalam Menggunakan Harta


Apakah berhias dan memakai pakaian-pakaian yang mewah menafikkan zuhud?

Syaikh Sholih bin Fauzan Al-Fauzan -hafidzahulloh- menjawab:

Seseorang hendaklah bersikap pertengahan. Hendaklah bersikap pertengahan. Jika Alloh memberikan nikmat kepadanya hendaklah bersikap pertengahan tidak boros dalam masalah pakaian, wewangian dan kendaraan.
Dan janganlah seperti kondisi orang-orang fakir sehingga mengingkari nikmat Alloh yang diberikan padanya. Bersikap pertengahanlah dalam urusanNya. Sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan antara kikir dan pemborosan.

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُواْ لَمۡ يُسۡرِفُواْ وَلَمۡ يَقۡتُرُواْ

"Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir" (QS Al-Furqan: 67)

Pertengahan antara kikir dan bakhil dengan berlebih-lebihan.

‏🔵 هل التجمل ولبس الملابس الفاخرة ينافي الزهد ؟

قال الشيخ صالح بن فوزان الفوزان
حفظه الله :

يتوسط الإنسان ، الإنسان يتوسط ، إذا أعطاه الله نعمة يتوسط ما يسرف في اللباس والطيب والمراكب.

ولا  يكون كهيئة الفقراء ؛ فيجحد نعمة الله عليه. فليتوسط في أمره ، وخير الأمور الوسط ، https://t.co/CZL9CvdMmX‎

Minggu, 26 Juli 2020

Tidak Ada Yang Mengetahui Perkara Ghaib Kecuali Alloh


Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:
لا يعلم الغيب أحد إلا الله
"Tidak ada yang mengetahui perkara ghaib kecuali Alloh"

Penjelasan:
Kemudian penulis -hafidzahullohu ta'ala- membawakan dalil dalil akan hal itu. Dan kami akan menyusunnya sebagai berikut:

1. Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan para Nabi sebelumnya tidaklah mengetahui perkara yang ghaib kecuali sebagian darinya yang Alloh -ta'ala- ajarkan pada mereka.
Alloh -ta'ala- berfirman:
قُل لَّآ أَقُولُ لَكُمۡ عِندِي خَزَآئِنُ ٱللَّهِ وَلَآ أَعۡلَمُ ٱلۡغَيۡبَ وَلَآ أَقُولُ لَكُمۡ إِنِّي مَلَكٌۖ إِنۡ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَيَّۚ قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلۡأَعۡمَىٰ وَٱلۡبَصِيرُۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.” Katakanlah, “Apakah sama antara orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?”(QS Al-An'am: 50)

Alloh berfirman:

قُل لَّآ أَمۡلِكُ لِنَفۡسِي نَفۡعٗا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُۚ وَلَوۡ كُنتُ أَعۡلَمُ ٱلۡغَيۡبَ لَٱسۡتَكۡثَرۡتُ مِنَ ٱلۡخَيۡرِ وَمَا مَسَّنِيَ ٱلسُّوٓءُۚ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ وَبَشِيرٞ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS Al-A'raf: 188)

Nabi Nuh -alaihis salam- berkata:
وَلَآ أَقُولُ لَكُمۡ عِندِي خَزَآئِنُ ٱللَّهِ وَلَآ أَعۡلَمُ ٱلۡغَيۡبَ
"Dan aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan aku tidak mengetahui yang gaib..." (QS Hud: 31)

Alloh -ta'ala- berfirman:
عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا

"Dia Mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya.(QS Al-Jin: 26-27)

2. Para malaikat tidak mengetahui perkara yang ghaib kecuali yang diajarkan oleh Alloh kepada mereka. Sebagaimana yang Alloh khabarkan tentang mereka bahwa mereka berkata:

قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ

“Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.” (QS  Al-Baqarah: 32)

Alloh -ta'ala- telah mengkabarkan tentang mereka:

حَتَّىٰٓ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمۡ قَالُواْ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمۡۖ قَالُواْ ٱلۡحَقَّۖ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡكَبِيرُ

" Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab, “(Perkataan) yang benar,” dan Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar"(QS Saba': 23)
Dua hal ini tidak disebutkan oleh penulis.

3. Jin tidak mengetahui perkara ghaib. Alloh ta'ala berfirman:
فَلَمَّا قَضَيۡنَا عَلَيۡهِ ٱلۡمَوۡتَ مَا دَلَّهُمۡ عَلَىٰ مَوۡتِهِۦٓ إِلَّا دَآبَّةُ ٱلۡأَرۡضِ تَأۡكُلُ مِنسَأَتَهُۥۖ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ ٱلۡجِنُّ أَن لَّوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٱلۡغَيۡبَ مَا لَبِثُواْ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلۡمُهِينِ

"Maka ketika Kami telah menetapkan kematian atasnya (Sulaiman), tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka ketika dia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentu mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan" (QS Saba': 14)

4. Dukun dan ahli nujum sama sekali tidak mengetahui perkara ghaib. Alloh -ta'ala- berfirman:
قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُۚ وَمَا يَشۡعُرُونَ أَيَّانَ يُبۡعَثُونَ

"Katakanlah (Muhammad), “Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.”(QS An-Naml: 65)

Dan firmanNya:
۞وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ

"Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia" (QS Al-An'am: 59)
FirmanNya:
فَقُلۡ إِنَّمَا ٱلۡغَيۡبُ لِلَّهِ
"Katakanlah, “Sungguh, segala yang gaib itu hanya milik Allah"(QS Yunus: 20)
FirmanNya:
قُلِ ٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا لَبِثُواْۖ لَهُۥ غَيۡبُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ

Katakanlah, “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi" (QS Al-Kahfi: 26)
Dan firmanNya:
وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُطۡلِعَكُمۡ عَلَى ٱلۡغَيۡبِ

" Allah tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang gaib"(QS Ali 'Imran: 179)

Penulis -hafidzahulloh- ta'ala berkata:
عَنِ عبد الله بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " مَفَاتِحُ الغَيْبِ خَمْسٌ لاَ يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ: لاَ يَعْلَمُ أحد مَا يكون فِي غَدٍ إِلَّا اللَّهُ، وَلاَ يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُوْنُ فِي  الأَرْحَامُ إِلَّا اللَّهُ، وَ لَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا؛ وَلَا تَدْرِيْ نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ؛ وَلَا يَعْلَمُ أَحَدٌ مَتَى يَجِيْءُ المَطَرُ إِلَا اللّٰه ، وَلَا يَعْلَمُ مَتَى تَقُوْمُ السَّاعَةُ إِلَا اللّٰه "
"Dari Abdullah bin Umar -radhiyallohu 'anhuma: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Kunci-kunci hal yang ghaib ada lima tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh: tidak ada seorang pun yang tau apa yang akan terjadi besok kecuali Alloh. Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang ada di dalam rahim kecuali Alloh. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan dikerjakan besok. Tidak ada seorang pun yang yang tahu di mana dia akan mati. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan datangnya hujan kecuali Alloh. Dan tidak ada seorang pun yang tahu kapan datangnya hari kiamat kecuali Alloh" (Dikeluarkan Al-Bukhari dan Ahmad dengan sanad shahih)

Penjelasan:
Ucapan beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- : "Kunci-kunci yang ghaib ada 5, tiada yang mengetahuinya kecuali Alloh.." Khabar dari Rasululloh yang perkataannya benar lagi dibenarkan ini menunjukkan akan dustanya orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib dari kalangan dukun, tukang ramal, ahli nujum dan orang-orang upahan seperti penyihir yang mereka memakan harta manusia dengan batil.
Jika ada yang berkata: Sesungguhnya manusia berkata: Besok aku akan melakukan demikian dan demikian, padahal Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- berkata: "tiada jiwa yang mengetahui apa yang akan dilakukan besok"?
Jawabnya: Bahwasannya di sana ada perbedaan antara hasil dan harapan. Terkadang seseorang merencanakan dan memperhitungkan untuk melakukan demikian dan demikian. Kemudian ada penghalang yang menghalangi antara dia dan rencana yang telah dia niatkan untuk mengerjakannya. Berdasarkan hal ini maka manusia tidak bisa mengetahui secara yakin dan bahkan tidak pula dengan dugaan yang kuat bahwa dia besok akan melakukan demikian dan demikian.

Dan perkataan beliau: "Dan tiada seorang pun yang mengetahui kapan turun hujan kecuali Alloh..."

Perkataan beliau: "Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang ada di dalam rahim kecuali Alloh...". Terkadang ada orang yang berkata: Sesungguhnya para dokter menginformasikan bahwa seorang wanita hamil, dan bahwa janinnya hidup atau mati di dalam rahimnya.
Jawaban akan pernyataan ini bahwa mereka (para dokter) tidak mengetahui berapa banyak yang akan menjadi rejekinya, seberapa lama hidupnya, tidak pula mengetahui bahagia dan celakanya. Ini seandainya kita terima bahwa mereka mengetahui jenis kelamin laki-laki dan perempuannya (bayi yang ada di rahim).
Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡأَرۡحَامِۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسٞ مَّاذَا تَكۡسِبُ غَدٗاۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسُۢ بِأَيِّ أَرۡضٖ تَمُوتُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرُۢ

"Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal".(QS Luqman: 34)

Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:
Aku katakan: Dari ayat-ayat dan hadits-hadits yang mulia ini maka menjadi jelaslah bagi para pembaca yang bijaksana akan batilnya apa yang dibawakan para dukun, tukang ramal dan ahli nujum berupa kedustaan dan penyesatan, seperti Mahdi Amiin dan rekannya Al-Maushuful Muhyiah, Qawiir dan yang selainnya dari kalangan para dukun. Karena tidak ada seorang pun yang mengetahui perkara ghaib kecuali Alloh saja yang tiada sekutu bagiNya.

Penjelasan:
Dan dari terdahulu yang dibawakan penulis maka menjadi jelaslah bahwa orang yang mengklaim mengetahui hal ghaib bersama Alloh atau selain Alloh maka dia kafir, wal 'iyadu billah.

Diterjemahkan dari kitab Tuhfatul Murid Syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al-Watr hal 118-122.

Bagian Ketiga: Bersiwak Dengan Apa?

Disunnahkan bersiwak dengan ranting yang basah dan tidak remuk serta tidak melukai mulut. Sesungguhnya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- beraiwak dengan ranting Araak. Beliau bersiwak dengan tangan kanan atau kiri. Permasalahan ini luas (ada keleluasaan untuk bersiwak dengan tangan kanan atau kiri).
Apabila beliau tidak memiliki ranting yang bisa dipakai bersiwak ketika wudhu maka beliau mencukupkannya bersiwak dengan jari-jarinya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib -radhiyallohu 'anhu- dalam shifat wudhu' Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-. (Diriwayatkan Imam Ahmad dalam musndnya dan dishahihkan Ibnu Hajar dalam At-Takhlis)

Diterjemahkan dari Kitab Fiqih Muyassar.

المسألة الثالثة: بم يكون؟
يسن أن يكون التسوك بعود رطب لا يتفتت، ولا يجرح الفم؛ فإن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كان يستاك بعود أراك (١). وله أن يتسوك بيده اليمنى أو اليسرى، فالأمر في هذا واسع.
فإن لم يكن عنده عود يستاك به حال الوضوء، أجزأه التسوك بأصبعه، كما روى ذلك عليُّ بن أبي طالب - رضي الله عنه - في صفة وضوء النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -. (٢)

١) الأرَاك: شجر من الحمض يستاك بقضبانه، واسمه الكَبَاث.
(٢) أخرجه أحمد في المسند (١/ ١٥٨)، وصححه ابن حجر في التلخيص الحبير (١/ ٧٠).

Penjelasan Surat An-Nisaa' ayat 58: Alloh Pemberi Bimbingan Paling Baik

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 209 - 212

Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ
"Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu" (QS An-Nisa': 58)

Ayat ini adalah lanjutan dari firman Alloh -ta'ala-:
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil" (QS An-Nisa': 58)

Alloh -azza wa jalla- memerintahkan untuk menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan di antaranya juga persaksiaan atas seseorang baik atau buruknya. Dan agar ketika kita memutuskan perkara di antara manusia dengan adil. Alloh -subhanahu wa ta'ala- menjelaskan bahwa Dia memerintahkan kepada kita untuk menegakkan kewajiban dalam alur hukum dan hukum itu sendiri. Alur hukum yaitu persaksian masuk dalam keumuman firmanNya: أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا "agar kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya" dan hukum yaitu:  وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن  تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ "dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil". Kemudian Alloh -ta'ala- berfirman: إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ "Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu" asalnya adalah: نِعْمَ ما namun mim dan mim diidghamkan dengan idgham kabiir sebab idgham tidak bisa dilakukan diantara dua huruf yang sejenis kecuali jika yang pertama sukun. Dan di sini menjadi idgham dengan huruf pertama fathah.

FirmanNya:  نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ "memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu". Alloh -subhanahu wa ta' ala- menjadikan perintah dengan dua hal ini -yakni menunaikan amanah dan memutuskan perkara dengan adil- sebagai pengajaran sebab hal ini bisa menjadikan baiknya hati. Dan setiap yang menjadikan baiknya hati maka itu adalah mauidzah (pengajaran/nasehat). Dan menegakkan perintah-perintah ini tidak diragukan lagi menjadikan baiknya hati.

Kemudian Alloh berfirman: إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًۭا "Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat". FirmanNya : كَانَ ini adalah fi'il namun tak terkait dengan waktu 1). Maksudnya adalah penunjukkan pada sifat saja. Yakni, bahwasannya Alloh memiliki sifat maha mendengar dan maha melihat. Hanya saja kita katakan tak terkait dengan waktu sebab seandainya kita tetap membiarkannya dengan penunjukkan waktu (yang telah lampau) niscaya shifat ini telah berakhir2). Dulu di awalnya (Alloh) Maha Mendengar dan Maha Melihat adapun sekarang tidaklah demikian !!!? Jelas diketahui bahwa makna ini jelas rusak dan bathil. Maksudnya hanyalah bahwa Alloh bersifat dengan dua sifat ini yaitu As-Samii(Maha Mendengar) dan Al-Bashir(Maha Melihat) secara terus menerus. Dan كَانَ (kaana) pada konteks ini dimaksudkan untuk tahqiiq (penetapan kebenaran).

FirmanNya:  سَمِيعًۢا بَصِيرًۭا (Maha Mendengar lagi Maha Melihat). Kita katakan sebagaimana kita katakan pada ayat sebelumnya: di dalamnya ada penetapan AsSam'u (pendengaran) untuk Alloh dengan dua maknanya 3) dan penetapan Al-Bashr (penglihatan) Alloh dengan dua maknanya 4).

Abu Hurairah membaca ayat ini dan berkata:
إن الرسول الله - صلى الله عليه وسلم- وضع إبهامه سبابته على عينه وأذنه
"Sesungguhnya Rasululloh shoallohu 'alaihi wa sallam- meletakkan ibu jari dan jari telunjuknya ke matanya dan telinganya"

Maksudnya dengan meletakkan ini adalah sebagai penetapan kebenaran pendengaran dan penglihatan (bagi Alloh) bukan menetapkan mata dan telinga; sebab penetapan tentang mata (bagi Alloh) ada di dalil-dalil yang lain. Adapun telinga (bagi Alloh) menurut ahlus sunnah wal jamaah tidaklah ditetapkan bagi Alloh dan tidak pula dinafi'kan dariNya karena tiada dalil tentang hal itu.
Jika ditanyakan kepadamu: Apakah kita juga mesti melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasululloh -sholallahu 'alaihi wa sallam-?
Jawabnya: Sebagian ulama mengatakan: iya! Lakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasululloh. Engkau tidaklah lebih mendapat petunjuk dari pada Rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam- dan engkau juga tidaklah lebih berhati-hati dari Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dalam menyandarkan kepada Alloh apa yang tidak layak bagiNya.
Di antaranya ada yang mengataan: Tidak ada perlunya engkau melakukannya selama kita mengetahui bahwa maksudnya adalah penetapan kebenaran. Dengan demikian, isyarat ini bukanlah yang dimaksudkan namun dimaksudkan untuk hal yang lain (penetapan mendengar dan melihat bagi Alloh pent). Sehingga dengan demikian tidak perlu berisyarat (dengan cara seperti itu -pent) terlebih jika ditakutkan dengan isyarat seperti ini menjadikan manusia mengkhayalkan tamtsil (permisalan); sebagaimana jika di hadapanmu ada orang awam yang mereka tidak memahami sesuatu sebagaimana mestinya; dengan demikian selayaknya menahan diri dari hal ini. Dan setiap perkataan ada tempatnya tersendiri.
Demikian pula riwayat yang datang dari hadits Ibnu Umar bagaimana Rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
يَأْخُذُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ سَمَاوَاتِهِ وَأَرَضِيهِ بِيَدَيْهِ فَيَقُولُ أَنَا اللَّهُ وَيَقْبِضُ أَصَابِعَهُ وَيَبْسُطُهَا
"Alloh -'azza wa jalla- menggenggam langitlangit dan buinya dengan kedua tanganNya. Lalu berfirman: "Akulah Alloh". Rasululloh menggenggam jari-jarinya dan merenggangkannya" (HR Muslim dari hadits Ibnu Umar -radhiyallohu 'anhuma-)

Dikatakan di sini apa yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah.
Dan faidah yang dapat dari iman kepada dua sifat -As-Sam'u dan Al-Bashor-: kita berhati-hati menyelisihi Alloh dalam perkataan-perkataan kita dan perbuatan-perbuatan kita.
Dalam ayat ini terdapat nama-nama Alloh -ditetapkan dua nama yaitu-: As-Samii' (Maha Mendengar) dan Al-Bashir (Maha Melihat). Dan terdapat shifat-shifat Alloh: ditetapkannya pendengaran, penglihatan, perintah dan nasehat (mau'idzoh).

Catatan Penterjemah:
1). Fi'il adalah kata yang menunjukkan suatu kejadian yang terkait dengan waktu, baik waktu lampau (fi'il madhi), sekarang maupun yang akan datang(fi'il mudhari) dan fi'il yang menuntut pekerjaan setelah waktu pembicaraan. Adapun كَانَ ini masuk pada fi'il madhi. Namun dalam konteks ini kata kaana ini penunjukkan waktunya dinafi'kan (ditiadakan). Jadi hanya menjelaskan tentang sifat Alloh saja.
2). Kaana (كَانَ )untuk waktu yang telah berlalu (fi'il madhi)namun sifat Alloh adalah azali dan abadi. Alloh akan senantiasa bersifat dengan sifat maha melihat dan maha mendengar.
3). As-Sam'u (pendengaran) Alloh maknanya: Mengabulkan do'a dan mendengar segala sesuatu.
4). Al-Bashar (penglihatan) Alloh maknanya: mengetahui segala sesuatu dan melihat segala sesuaatu.

Jumat, 24 Juli 2020

Jangan Bengong Sendirian


Wahai Para Pemuda,
Sibukkanlah dirimu meski dengan perkara yang mubah,
Dan berhati-hatilah dirimu dengan waktu nganggur dan sendirian meskipun engkau bersama manusia dengan kebaikan.
Ketahuilah bahwa pertemanan yang amanah meski dalam perkara mubah itu lebih baik dari pada nganggur dan sendirian.
Nganggur dan sendirian adalah pintu masuk dari berbagai keburukan. Kebanyakan dari kemunduran dan berubah adalah karena hal tersebut. (Serigala hanya memangsa kambing yang terpisah sendirian).

‏أيها الشاب 
 أشغل نفسك ولو بالمباح
وإياك والفراغ والوحدة، ولو كنت بين الناس بالخير مذكورا.

واعلم أن الصحبة الآمنة ولو في المباحات خير من الفراغ والوحدة.

فالفراغ مع الوحدة بوابة كثير من الشرور.
وكثير من النكوص والتغير كان في ذلك الحال
(وإنما يأكل الذئب من الغنم القاصية)

dari tweet Syaikh Abdul Aziz Asy-Syayi'

Kamis, 23 Juli 2020

Doa Bisa Menjadi Pengangkat Musibah

Cukuplah Alloh -ta'ala- Sebaik-baik Penolong...

Syaikh Abdul 'Aziz Asy-Syayi berkata:

Bergantung kepada selain Alloh menjadikan urusan tercerai-berai dan binasa. Penyembuhannya adalah dengan melanggengkan doa di setiap waktu:

 اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

"Ya Alloh, cukupilah aku dengan rezekiMu yang halal sehingga tidak butuh lagi dari yang haram. Cukupkanlah aku dengan karuniaMu dari membutuhkan kepada selainMu"

اللهم حبب إلي الإيمان وزينه في قلبي وكره إلي الكفر والفسوق والعصيان واجعلني من الراشدين

"Ya Alloh jadikanlah aku mencintai keimanan dan jadikanlah keimanan itu indah dalam hatiku. Dan jadikanlah aku membenci kekufuran, kefasikan dan maksiat-maksiat. Serta jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk".

Sesungguhnya senantiasa berdoa bisa mengangkat musibah, mengikhlaskan hati dan menjadikan kekuatan di dalamnya sehingga tidaklah ia peduli kecuali dengan apa yang dikehendaki Alloh.

Dari tweet beliau.

Maksiat Penyebab Musibah di Bumi

Ka'ab berkata kepasa Ibnu Abbas -radhiyallohu 'anhuma: 
"Jika engkau melihat pedang-pedang telah terhunus dan darah-darah tertumpah maka ketahuilah sesungguhnya perintah Alloh telah diabaikan di muka bumi sehingga Alloh menghukum mereka dengan sebagian yang lain.
Jika engkau melihat hujan dari langit telah tertahan maka ketahuilah sesungguhnya zakat telah ditahan(enggan membayarkannya) sehingga Alloh pun menahan apa yang ada di sisiNya.
Apabila engkau melihat wabah merajalela maka ketahuilah sesungguhnya zina telah merajalela.

(Hilyatul Auliaa)
‏قال كعب لابن عباس رضي الله عنهما:
 إذا رأيت السيوف قد عريت والدماء قد أُريقت فاعلم أن أمر الله قد ضُيِّع في الأرض، فانتقم الله من بعضهم لبعض،
 وإذا رأيت قطر السماء قد مُنِع فاعلم أن الزكاة قد مُنِعت فمنع الله ماعنده
وإذا رأيت الوباء قد فشا فاعلم أن الزنا قد فشا.

📚حلية الأولياء

Selasa, 14 Juli 2020

Wasiat Kenabian


Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Muslim itu adalah yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisannya dan tangannya" (Hadits)

Wasiat kenabian. Jadikan wasiat ini ada di depan kedua matamu setiap harinya. Janganlah engkau memasuki waktu pagi dan sore dan dalam niatmu untuk memberikan gangguan apa pun yang berbentuk fisik maupun non fisik kepada seorang muslim maupun muslimah meski kecil sekalipun.
Sebab yang demikian ini merupakan kebenaran Islammu. Ada pun memberikan manfaat dan kebaikanmu untuk seorang muslim maupun muslimah maka itu adalah kedudukan yang mulia yang diharapkan dengannya pelakunya mendapatkan derajat yang tinggi di akhirat.


‏قال ﷺ :(المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده)
‎#وصية_نبوية اجعلها نصب عينيك كل يوم،فلا تصبح وتمسي وفي نيتك إيصال أي أذى مادي أو معنوي مهما صغر لمسلم أو مسلمة.
فإن هذا من علامات صدق إسلامك.
أما إيصال نفعك وخيرك لمسلم أو مسلمة فتلك مرتبة عظيمة يرجى لصاحبها الدرجات الرفيعة في الآخرة

Membaca Ta'awudz Setiap Mengawali Bacaan Al-Qur'an


Meminta perlindungan kepada Alloh dari gangguan setan yang terkutuk disyariatkan setiap kali membaca Al-Qur'an. Tiap kali engkau ingin membaca apa pun dari Al-Qur'an dalam shalat maupun selainnya maka disyariatkan bagimu untuk membaca "audzu billahi minasy syaithonir rojiim" berdasarkan firman Alloh:
فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ

"Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur'an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk."
(Surat An-Nahl, Ayat 98)

Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahulloh-
Fatawa Nurun Ala Darb 4/391

=============
‏التعوذ بالله من الشيطان الرجيم مشروع عند كل قراءة كلما أردت أن تقرأ شيئا من القرآن في الصلاة أو غير الصلاة فإنه مشروع لك أن تقول أعوذ بالله من الشيطان الرجيم لقوله تعالى(فإذا قرأت القرآن فاستعذ بالله من الشيطان الرجيم).

📖 (فتاوى نور على الدرب ج4 ص391) ‎#ابن_عثيمين

Pentingnya Wasilah Yang Halal dalam Mencari Rejeki


Untuk diketahui bahwa saeana yang diharamkan dalam mendapatkan rejeki menghilangkan keberkahan rejeki tersebut dan menjadikan pelakunya berdosa serta hasil keuntungan yang dimakannya menjadi haram. Dan untuk diketahui bahwa rejeki yang sedikit namun halal dan baik adalah lebih baik dari pada yang banyak namun buruk dan haram.

Fatawa Nurun Ala darb 9/7 Syaikh Al-Utsaimin -rahimahulloh-


ليُعلم أن الوسيلة المحرمة لجلب الرزق تنزع بركة الرزق وتوقع صاحبها في الإثم ويكون ما يأكله من أرباحها سحتاً وليُعلم أن الرزق القليل الحلال الطيب خير من الكثير الخبيث الحرام.

📖 (فتاوى نور على الدرب ج9 ص7) ‎#ابن_عثيمين

Kamis, 09 Juli 2020

Kapan Bersiwak Ditekankan

Pembahasan Kedua: Kapan bersiwak ditekankan?
Ditekankan ketika hendak wudhu', ketika bangun tidur, ketika bau mulut telah berubah, ketika hendak membaca Al-Qur'an dan ketika hendak sholat. Demikian pula ketika hendak masuk masjid dan masuk rumah berdasarkan hadits Al-Qodaam bin Syariih dari bapaknya berkata: 

سألت عائشة، قلت: بأيِّ شيء كان يبدأ النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إذا دخل بيته؟ قالت: بالسواك 

"Aku bertanya kepada 'Aisyah. Aku berkata: Memulai dengan apa ketika Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- memasuki rumahnya? Beliau menjawab: "Dengan bersiwak"(HR Muslim)
Demikian pula ditekankan ketika lama diam dan gigi telah menguning sebagaimana hadits terdahulu.,

وكان رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إذا قام من الليل يَشُوصُ (٤) فاه بالسواك

"Dan adalah Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- apabila terbangun di malam hari beliau menggosok mulutnya dengan siwak" (HR Bukhari dan Muslim)

Seorang muslim ketika beribadah dan bertaqarrub kepada Alloh diperintahkan agar dalam kondisi paling bagus dalam hal kebersihan dan kesucian.

Diterjemah dari kitab fiqih muyassar fi dhouil kitabi was sunnah

المسألة الثانية: متى يتأكد؟
ويتأكد عند الوضوء، وعند الانتباه من النوم، وعند تغير رائحة الفم، وعند قراءة القرآن، وعند الصلاة. وكذا عند دخول المسجد والمنزل؛ لحديث القدام بن شريح، عن أبيه قال: سألت عائشة، قلت: بأيِّ شيء كان يبدأ النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إذا دخل بيته؟ قالت: بالسواك (٣). ويتأكد كذلك عند طول السكوت، وصفرة الأسنان، للأحاديث السابقة.
وكان رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إذا قام من الليل يَشُوصُ (٤) فاه بالسواك (٥)، والمسلم مأمور عند العبادة والتقرب إلى الله، أن يكون على أحسن حال من النظافة والطهارة.

(١) أخرجه البخاري في كتاب الصوم ٢/ ٤٠ معلقاً بصيغة الجزم، ورواه أحمد (٦/ ٤٧)، والنسائي (١/ ١٠).
وصححه الألباني في الإرواء (١/ ١٠٥).
(٢) متفق عليه: البخاري برقم (٨٨٧)، ومسلم في كتاب الطهارة برقم (٢٥٢).
(٣) أخرجه مسلم برقم (٢٥٣).
(٤) الشوص: الدلك.
(٥) رواه البخاري في كتاب الوضوء باب السواك برقم (٢٤٥)، ومسلم في كتاب الطهارة باب السواك برقم (٢٥٥).
 

Rabu, 08 Juli 2020

Penjelasan Surat Asy-Syura ayat 11: Tiada Sesuatu pun yang Serupa dengan Alloh

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 206 - 209

Firman Alloh -ta'ala-:
 لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat".(QS Asy-Syuraa: 11)

Dan FirmanNya:
إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًۭا

"Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat"(QSAn-Nisa': 58)

Penjelasan:
Firman Alloh -ta'ala-:
 لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat".(QS Asy-Syuraa: 11)
Ayat ini dibawakan oleh penulis untuk menetapkan dua nama di antara nama-nama Alloh dan sifat yang terkandung di dalamnya. Keduanya yaitu As-Samii'(Maha Mendengar) dan Al-Bashir(Maha Melihat). Ayat ini meruoakan bantahan terhadap Muathillah (sekte yang menolak sifat-sifat Alloh).

FirmanNya:  لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭ ۖ "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia" ini adalah peniadaan; maka ini termasuk sifat salbiyah (yang ditiadakan). Sedangkan maksudnya adalah menetapkan kesempurnaanNya. Yakni kesempurnaanNya tidak ada sesuatu pun dari makhlukNya yang menyerupaiNya. Kalimat ini merupakan bantahan terhadap tamtsil (penyerupaan Alloh dengan makhlukNya).

FirmanNya:  وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ "dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat"; "As-Sam'u memiliki dua makna: Pertama bermakna Al-Mujiib (yang mengabulkan doa). Kedua: Bermakna mendengar suara.
Adapun makna As-Samii' bermakna Al-Mujiib maka para ulama memberikan contoh dengan firman Alloh -ta'la- tentang Ibrahim:
 إِنَّ رَبِّى لَسَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ

"Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa".(QS Ibrahim: 39)
maksudnya benar-benar mengabulkan doa.
Adapun As-Samii' yang bermakna mengetahui suara; maka para ulama membaginya menjadi beberapa macam:
Pertama: Pendengaran yang dimaksudkan dengan penjelasan keumuman pendengaran Alloh -azza wa jalla-. Bahwasannya tidak ada suatu suara kecuali Alloh mendengarnya.
Kedua: Pendengaran yang maksudnya pertolongan dan penguatan.
Kedua: Pendengaran yang maksudnya ancaman.

Pertama pertama: Firman Alloh -ta'ala:
۞ قَدْ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوْلَ ٱلَّتِى تُجَـٰدِلُكَ فِى زَوْجِهَا وَتَشْتَكِىٓ إِلَى ٱللَّهِ
"Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah" (QS Mujadilah: 1)
Ayat ini di dalamnya penjelasan bahwa pendengaran Alloh -ta'ala- meliputi segala sesuatu yang bisa didengar. Oleh karenanya 'Aisyah -radhiyallohu 'anha- berkata: "Segala puji bagi Alloh yang pendengaranNya meliputi seluruh suara. Demi Alloh, sesungguhnya aku ada di dalam bilik dan sesungguhnya pebicaraannya sebagiannya tidak terdengar olehku".

Contoh kedua: Sebagaimana firman Alloh -ta'ala- tentang Musa dan Harun:
 إِنَّنِى مَعَكُمَآ أَسْمَعُ وَأَرَىٰ
"Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat" (Toha: 46)

Contoh Ketiga: yang maksudnya adalah ancaman dan menakut-nakuti; firman Alloh -ta'ala-:
أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَىٰهُم ۚ بَلَىٰ وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ
"Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka". (QS Az-Zukhruf: 80)
Maksudnya di sini adalah menakut-nakuti mereka dan mengancamnya karena mereka menyembunyikan perkataan yang tidak diridhoi.
Pendengaran dengan makna mengetahui sesuatu yang didengar termasuk sifat dzatiyah meskipun kadang yang didengar terkadang sesuatu yang baru.
Pendengaran dengan makna pertolongan dan penguatan termasuk sifat fi'liyah sebab terkait dengan sebab.
Pendengaran dengan makna dikabulkannya do'a termasuk sifat fi'liyah juga.

* FirmanNya: ٱلْبَصِيرُ (Maha Melihat) yakni meliputi segala sesuatu yang nampak. Dan kata Bashiir (melihat) dimutlakkan dengan Aliim(mengetahui). Maka Alloh -subhanahu wa ta'ala- adalah Maha Melihat. Dia melihat segala sesuatu meski tersembunyi. Alloh -subhanahu wa ta'ala- Maha Melihat maknanya Maha Mengetahui dengan perbuatan-perbuatan para hambaNya. Alloh -ta'ala- berfirman:
 وَٱللَّهُ بَصِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan"(QS Al-Hujurat: 18)
Yang kita kerjakan sebagian terlihat dan sebagian tidak terlihat. Penglihatan Alloh dengan demikian terbagi dua, dan semuanya masuk pada firmanNya "Al-Bashir"(Maha Melihat)

Dalm ayat ini ada penetapan dua nama Alloh yaitu: As-Samii'(Maha Mendengar) dan Al-Bashiir(Maha Melihat). Dan ada tiga sifat yaitu: kesempurnaan shifatnya dari peniadaan tamtsil (penyerupaan), pendengaran dan penglihatan Alloh.

Dalam ayat ini juga terdapat faidah-faidah yaitu mencukupkan diri untuk tidak berusaha penyerupaan Alloh dengan makhluknya, merasakan keagungan dan kesempurnaanNya, dan kehati-hatian dari melihatmu bermaksiat kepadaNya atau mendengar sesuatu yang tidak diridhaiNya darimu.

Ketahuilah bahwasannya para Ahli Nahwu telah panjang lebar membahas firmanNya: كَمِثْلِهِۦ; mereka berkata: Huruf kaaf masuk pada مِثْلِ dan secara dzahir bahwasannya Alloh memiliki permisalan yang tiada ada yang sepadan dengan permisalan tersebut; karena Dia tidak mengatakan: Tidak ada yang seperti Dia; akan tetapi Alloh berfirman:  لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ "Tiada yang seperti permisalanNya". Ini adalah dzahir ayat dari sisi lafadz bukan dari sisi makna; sebab kalau kita katakan: Ini dzohir ayat dari sisi makna maka dzahir Qur'an  adalah kufur, dan ini mustahil. Oleh karenanya ungkapan para ahli nahwu berbeda beda dalam mengambil kesimpulan tentang ayat ini menjadi beberapa pendapat:

PERTAMA: Huruf kaf adalah zaidah (hanya tambahan) dan perkiraan ucapannya adalah: ليس مثله شيء "Tiada sesuatu yang semisal denganNya". Pendapat ini elegan. Huruf ziyadah (tambahan) pada penafikkan cukup banyak. Sebagaimana dalam firman Alloh -ta'ala-:
وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنثَىٰ
"Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung..." (QS Al-Fathir: 11)
Mereka mengatakan: Sesungguhnya huruf tambahan (ziyadatul huruf) dalam bahasa Arab untuk penekanan adalah hal yang umum.

KEDUA: Mereka berpendapat sebaliknya. Mereka berkata: Sesungguhnya tambahannya adalah مثل sehingga perkiraannya adalah: ليس كهو شيء (Tiada sesuatu pun yang seperti Dia). Tapi pendapat ini lemah. Lemahnya karena tambahan pada isim - isim dalam bahasa Arab sangat sedikit sekali atau sangat jarang, beda dengan huruf. Seandainya kita harus mengatakan (dalam lafadz tersebut) ada tambahan maka tambahannya adalah huruf yaitu kaaf.

KETIGA: Bahwasannya مثل bermaknas sifat. Sehingga maknanya ليس كصفته شيء "Tiada sesuatu pun yang seperti sifatNya". Mereka berpendapat: sesungguhnya Mitslu dan Matsal, Syibh dan Syabh dalam bahasa Arab maknanya sama. Alloh ta'ala berfirman:
مَّثَلُ ٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى وُعِدَ ٱلْمُتَّقُونَ
"perumpamaan jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa"(QS Muhammad: 15)
Maksudnya (مَّثَلُ ) adalah sifatnya. Dan ini masih bisa untuk diterima.

KEEMPAT: bahwa di dalam ayat ini tidak ada tambahan; namun jika engkau katakan:  لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭ konsekwensinya adalah meniadakan permisalan. Jika suatu permisalan tidak ada yang sepadan maka yang ada hanyalah satu. Oleh karenanya tidak ada perlunya kita memperkirakan (permisalan) apa pun. Mereka menyatakan: dan hal seperti ini ada dalam bahasa Arab. Seperti perkataannya: ليس كنثل الفتى زهير "tiada permisalan pemuda yang seperti Zuhair".
Pada kenyataannya, andai pembahasan ini belum bisa memuaskanmu akan tetapi makna ayat sudah jelas. Maknanya bahwasannya Alloh -ta'ala tidak memiliki bandingan yang sepadan. Namun pembahasan ini ada di dalam kitab-kitab. Dan yang kuat kita katakan: bahwasannya huruf Kaaf adalah tambahan akan tetapi penjelasan terakhir -bagi orang yang benar-benar mendalami- dari penjabarannya paling bagus.



Kalam Imam Syafi'i Tentang Syiah


Al-Buwaithy berkata: 
Aku bertanya kepada Imam Asy-syafi'i: "Bolehkah aku sholat dibelakang orang Rafidhah (Syiah)?

Beliau menjawab: Janganlah engkau sholat dibelakang  orang Rafidhah Qadariah dan Murji'ah.
Aku berkata: "Tunjukkan kepada kami ciri-cirinya".

Beliau menjawab: "Barang siapa mengatakan bahwa iman hanyalah ucapan, dia seorang murjiah. Barang siapa mengatakan: Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar bukanlah Imam (pemimpin kaum muslimin) maka dia orang Rafidhah. Barang siapa menganggap masyi'ah (kehendak) adalah dari dirinya sendiri (bukan dari kehendak Alloh) maka dia adalah orang Qadariyah".

Siyar a'lamin nubala 10/31

---------

‏قال البويطي: سألتُ الشافعي: أصلي خلف الرافضي؟

قال: لا تُصلِّ خلف الرافضي، ولا القدري، ولا المرجئ.

قلت: صِفْهم لنا.

قال: من قال: الإيمان قولٌ، فهو مرجئٌ، ومن قال: إن أبا بكرٍ وعمر ليسا بإمامين، فهو رافضي، ومن جعل المشيئة إلى نفسه، فهو قدري.

•سير أعلام النبلاء 10/ 31•
---------

Selasa, 07 Juli 2020

Tiga Golongan Manusia


Syaikh Abdul Aziz Asy-Syayi menulis:

‏١-من تعلم وعلّم لوجه الله كان صديقا
٢-من جاهد وقُتل في سبيل الله كان شهيدا
٣-من تصدق لله كان صالحا

وهؤلاء الثلاثة -بعد الأنبياء- هم:
من الصديقين والشهداء والصالحين

وهؤلاء إذا أرادوا الرياء والسمعة جاء فيهم:
"أول من تسجر بهم النار: عالم ومجاهد ومتصدق"
‎#ابن_تيمية "الفتاوى"٢٨/ ١٧١

1. Barang siapa mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya untuk mengharap wajah Alloh maka dialah orang yang shidiq (benar dengan keimanannya).
2. Barang siapa yang berjihad dan terbunuh di jalan Alloh maka dia syahid.
3. Barang siapa yang bersedekah maka dia orang shalih.

Tiga golongan ini -setelah para nabi- adalah termasuk para shidiqin, syuhada dan sholihin.
Dan mereka ini jika yang dikehendaki riya dan sum'ah maka dia termasuk:  orang yang pertama kali yang dengannya api neraka dinyalakan: Orang berilmu, orang mati syahid dan orang yang bersedekah.

Ibnu Taimiyah Al Fatawa 28/171

Imammu Di Dunia Adalah Imammu di Akhirat.

Al-Imam Ibnu Qudamah berkata:
"Setiap orang yang mengikuti seorang imam di dunia ini baik dalam masalah sunnah atau pun bid'ah, kebaikan maupun keburukan maka dia akan bersamanya di akhirat" (Dzammu ta'wilil Jahmiyyah hal 9) 

Pelajaran:
Berhati-hatilah agar tidak mengikuti pengikut hawa nafsu dan wajib atasmu bersama orang-orang yang di atas shirotol mustaqim dan lurus jalannya, yang benar agamanya, dari kalangan para shahabat Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-, para imam-imam tabi'in, para ulama dan orang-orang yang mendalam keilmuannya.

Ya Alloh jadikanlah kami orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk.

‏قال الإمام ابن قدامة:
(كل من اتبع إماماً في الدنيا في سنة أو بدعة أو خير أو شر كان معه في الآخرة).
"ذم تأويل" الجهمية (ص٩)
الدرس:
احذر من اتباع أهل الأهواء
وعليك بمن صراطهم مستقيم، وسبيلهم قويم، ودينهم حق، من أصحاب النبيﷺ وأئمة التابعين والعلماء الراسخين.
ربّ اجعلنا هداة مهتدين.

Disunnahkannya Bersiwak

Bab Keempat: Siwak dan Sunnah-Sunnah Fitrah.
Di sini ada beberapa pembahasan.
Siwak yaitu menggunakan ranting atau semacamnya pada gigi atau gusi untuk menghilangkan sisa makanan yang menempel padanya dan bau yang tidak sedap.

الباب الرابع: في السواك وسنن الفطرة، وفيه عدة مسائل:
السواك: هو استعمال عود أو نحوه في الأسنان أو اللثة؛ لإزالة ما يعلق بهما من الأطعمة والروائح.
Masalah Pertama: Hukumnya.
Siwak disunnahkan di setiap waktu. Bahkan orang yang berpuasa seandainya ia bersiwak tidaklah mengapa baik di pagi hari atau sore hari sebab Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- menganjurkan secara mutlak dan tidak mengkaitkan dengan waktu tertentu. Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
السواك مطهرة للفم مرضاة للرب
"Siwak itu alat pembersih mulut dan menjadikan dicintai Alloh"(HR Bukhari, Ahmad dan An-Nasa'i)

Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة
"Seandainya tidak memberatkan ummatku pastilah aku perintahkan bersiwak setiap hendak sholat" (HR Bukhari dan Muslim)

المسألة الأولى: حكمه:
السواك مسنون في جميع الأوقات، حتى الصائم لو تَسَوَّك في حال صيامه فلا بأس بذلك سواء كان أول النهار أو آخره؛ لأن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - رغَّب فيه ترغيباً مطلقاً، ولم يقيده بوقت دون آخر، حيث قال - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (السواك مطهرة للفم مرضاة للرب) (١). وقال - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة) (٢).

(١) أخرجه البخاري في كتاب الصوم ٢/ ٤٠ معلقاً بصيغة الجزم، ورواه أحمد (٦/ ٤٧)، والنسائي (١/ ١٠).
وصححه الألباني في الإرواء (١/ ١٠٥).
(٢) متفق عليه: البخاري برقم (٨٨٧)، ومسلم في كتاب الطهارة برقم (٢٥٢).

Senin, 06 Juli 2020

Taisir (72): Larangan Mendahului Gerakan Imam Dalam Sholat


Bab Imamah
Bab ini membahas tentang adab-adab Imam dan makmum serta apa yang diwajibkan bagi keduanya dan yang disunnahkan. Dan di sini juga ada penjelasan yang berkaitan antar keduanya.

Imamah adalah aturan Ilahi. Alloh -subhanahu wa ta'ala- memberi petunjuk kepada kita dengan praktek nyata kepada tujuan-tujuan yang mulia dan tinggi berupa bagusnya ketaatan dan kepatuhan kepada pemimpin di medan jihad dan bagusnya kedisiplinan dan mobilisasi ketentaraan serta gerakan perang. Dan juga pembiasaan dalam kebersamaan dan kedudukan yang sederajad.

Orang kecil berdiri bersama orang besar, orang kaya bersama orang miskin, orang terpandang bersama orang jelata dan lain sebagainya dari rahasia-rahasia yang tidak terbatas. Inilah harapan paling utama yaitu beribadah kepada Alloh -ta'ala- dan tunduk di hadapanNya.

Hadits 72:

عَنْ أبي هُريرة رضيَ الله عنه أنَّ النَبيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " أما يَخْشَى الَّذِي يَرفعُ رأسه قَبْلَ الإمام، أنْ يُحَوِّلَ الله رَأسَهُ رَأسَ حِمَارٍ. أوْ يَجْعَلَ الله صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ؟! ".

Dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu- bahwasannya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Apakah orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam itu tidak takut bahwa Alloh akan mengubah kepalanya menjadi kepala himar, atau menjadikan rupanya seperti rupa himar? (HR Bukhari 691 dan Muslim 427 dan ini lafadz Muslim)

Penjelasan Lafadz:
1. Makna أما ; As-Syaukani berkata: أما khafifah (dibaca tanpa tasydid) adalah huruf pembuka dan asalnya adalah ما nafiyah masuk padanya hamzah istifham (untuk pertanyaan). Dan di sini pertanyaan untuk memburukkan.
2. Kata يخشى artinya يخاف (takut). Dan maknanya adalah: "Hendaklah dia takut" sebab tujuan dari pertanyaan di sini adalah pemberitahuan larangan dari mengangkat kepala sebelum imam.

Makna Global:
Dijadikan imam dalam sholat tiada lain supaya diikuti yang mana gerakan makmum dilakukan setelah gerakan imam. Dengan demikian menjadi benarlah mutabaah (keikutsertaan makmum). Apabila makmum mendahuluinya maka menjadi hilanglah tujuan yang hendak dicapai dari sholat bersama imam. Oleh karenanya telah datang ancaman yang keras ini kepada orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam dengan Alloh jadikan kepalanya menjadi kepala keledai atau menjadikan rupanya seperti rupa himar. Sehingga Alloh mengubah kepalanya dari bentuk yang paling bagus menjadi bentuk yang paling buruk sebagai balasan terhadap bagian tubuh ini yang diangkat (mendahului imam) dan karena adanya celah dalam sholat.

Perbedaan Pendapat Di Kalangan Ulama:
Para ulama bersepakat akan haramnya makmum mendahului imam berdaaarkan ancaman yang keras ini namun mereka berselisih pendapat akan batalnya sholatnya.
Imam Ahmad berpendapat dalam risalahnya "Tidak ada sholat bagi orang yang mendahului imam". Sahabat-sahabat Imam Ahmad berkata: Barang siapa mendahului imamnya satu rukun seperti ruku' atau sujud maka hendaklah ia kembali agar ia melakukan gerakan setelah imamnya. Barang siapa yang tidak melakukan demikian dengan sengaja sampai imam menyusul gerakannya maka batal sholatnya. 

Dan yang shahih adalah apa yang dinyatakan imam Ahmad dalam risalahnya yaitu bahwa hanya mendahului imam secara sengaja membatalkan sholat. Pendapat inilah yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- sebab ancaman berkonsekwensi larangan dan larangan berkonsekwensi fasad (batal sholatnya)

Kesimpulan Hadits:
1. Pengharaman mengangkat kepala ketika sujud sebelum imam serta ancamannya menunjukkan akan larangannya sebab tidaklah ada ancaman kecuali kepada perkara yang diharamkan. Sungguh Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- mengancam dengan perubahan wajah dan hal itu merupakan hukuman yang paling berat.
2. Disamakan juga (secara hukum) seluruh gerakan mendahului imam dan hal ini bukanlah sekedar qiyas semata. Tambahan qiyas yang shahih telah dikeluarkan oleh Al-Bazzar dari hadits Abu Hurairah secara marfu':
الذي يخفض ويرفع قبل الإمام إنما ناصيته بيد الشيطان
"Orang yang merundukkan dan mengangkat kepalanya sebelum imam ubun-ubunnya ada di tangan setan".

3. Wajibnya makmum mengikuti imam dalam sholat.
4. Bahwasannya balasan sesuai dengan amalannya. Tatkala mengangkat pada bagian kepala diganjar dengan ancaman akan dirubah (kepalanya). 
5. Orang yang mendahului imam terancam dengan dirubah kepalanya menjadi rupa himar karena antara dirinya dengan keledai terdapat keserupaan dalam kebodohan dan kepandiran sebab orang yang mendahului imam andainya mengetahui niscaya dia tidak akan melakukan gerakan sholat dengan mendahului imamnya. Tidak ada untungnya mendahului imam justru menunjukkan kebodohan dan lemahnya akal.
6. Mendahului imam menunjukkan keinginannya untuk buru-buru keluar dari sholat. Penyakit itu obatnya adalah memperingatkan pelakunya bahwa dia tidak akan salam sebelum imam.
7. Ancaman dengan perubahan rupa menjadi himar bagi orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam adalah hal yang mungkin. Akan tetapi belum ada realitanya. Dan bisa jadi maksud dari perubahan rupa adalah perubahan tabiat menjadi dungu seperti keledai.


Diterjemah dari Taisir Alam Syarah Umdatul Ahkam.
بَابُ الإمَامَة
هذا باب يذكر فيه آداب الإمام والمأموم، وما يجب على كُل منهما، ويستحب وفيه بيان علاقة بعضهما ببعض.
والإمامة نظام إلهيّ، يرشدنا الله سبحانه وتعالى فيه- عَملِيّاً- إلى مقاصد سنية، وأهداف سامية، من حسن الطاعة، والاقتداء بالقُوَاد في مواطن الجهاد ومن حسن النظام والتعبئة للأعمال العسكرية، والحركات الحربية، ومن تعود على المواساة والمساواة.

حيث يقف الصغير مع الكبير، والْغَنىُّ مع الفقير، والشريف مع الوضيع، إلى غير ذلك من أسرار تفوت الحصر.
هذا والمقصد الأسمى هو عبادة الله تعالى، والخضوع بين يديه.

الحديث الأول
عَنْ أبي هُريرة رضيَ الله عنه أنَّ النَبيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " أما يَخْشَى الَّذِي يَرفعُ رأسه قَبْلَ الإمام، أنْ يُحَوِّلَ الله رَأسَهُ رَأسَ حِمَارٍ. أوْ يَجْعَلَ الله صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ؟! ".
غريب الحديث:
١- "أما": قال الشوكاني: " أما " مخففة- حرف استفتاح وأصلها " ما " النافية، دخلت عليها همزة الاستفهام، وهى- هنا- استفهام توبيخ.
٢- "يخشى": يخاف. والمعنى: فليخَفْ، لأن الغرض من الاستفهام هنا الإشعار بالنهي عن رفع الرأس قبل الإمام.
المعنى الإجمالي:
إنما جعل الإمام في الصلاة ليقتدى به ويؤتم به، بحيث تقع تنقلات المأموم بعد تنقلاته، وبهذا تحقق المتابعة.
فإذا سابقه المأموم، فاتت المقاصد المطلوبة من الإمامة، لذا جاء هذا الوعيد الشديد على من يرفع رأسه قبل إمامه، بأن يجعل الله رأسه رأس حمار، أو يجعل صورته صورة حمار، بحيث يمسخ رأسه من أحسن صورة إلى أقبح صورة، جزاءً لهذا العضو الذي حصل منه الرفع والإخلال بالصلاة.
اختلاف العلماء في السبق:
اتفق العلماء على تحريم مسابقة المأموم للإمام لهذا الوعيد الشديد.
ولكن اختلفوا في بطلان صلاته، فالجمهور أنها لا تبطل.
قال الإمام أحمد في رسالته " ليس في سبق الإمام صلاة ". وأصحاب الإمام يقولون: من سبق إمامه بركن كركوع أو سجود، فعليه أن يرجع ليأتي به بعد الإمام، فإن لم يفعل عمداً حتى لحقه الإمام فيه، بطلت صلاته.
والصحيح ما ذكره في الرسالة من أن مجرد السبق عمدا يبطل الصلاة وهو اختيار شيخ الإسلام "ابن تيمية" رحمه الله، لأن الوعيد يقتضي النهي، والنهي يقتضي الفساد.
الاستنباطات من الحديث:
١- تحريم رفع الرأس في السجود قبل الإمام والوعيد فيه دليل على منعه، إذ لا وعيد إلا على محرم وقد أوعد عليه بالمسخ وهو من أشد العقوبات.
٢- يلحق بذلك مسابقة الإمام في كل تنقلات الصلاة وليس ذا من باب القياس وحده فزيادة على القياس الصحيح أخرج البزار من حديث أبي هريرة مرفوعاً " الذي يخفض ويرفع قبل الإمام إنما ناصيته بيد الشيطان ".
٣- وجوب متابعة المأموم للإمام في الصلاة.
٤- أن الجزاء من جنس العمل، فحين كان الرفع في الرأس، جوزِيَ بالوعيد بالمسخ.
٥- توعد المسابق بالمسخ إلى صورة الحمار، لما بينه وبين الحمار من المناسبة والشبه في البلادة والغباء، لأن المسابق إذا كان يعلم أنه لن ينصرف من الصلاة قبل إمامه، فليس هناك نتيجة في المسابقة، فدل على غبائه وضعف عقله.
٦- تدل مسابقة الإمام على الرغبة في استعجال الخروج من الصلاة، وذلك مرض دواؤه أن يتذكر صاحبه أنه لن يسلم قبل الإمام.
٧- الوعيد بتغيير صورة من يرفع رأسه قبل الإمام إلى صورة حمار أمر ممكن، وهو من المسخ، ولكنه لم ينقل وقوعه. ويحتمل أن يرجع المعنى من تحويل الصورة إلى تحويل النحيزة وذلك بأن يصبح بليداً كالحمار.
 
 

Minggu, 05 Juli 2020

Arti Sholat Bagi Seorang Muslim


Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh- berkata:
‏‎#الصلاة ذكر وبذكر الله تطمئن القلوب وصلة بين العبد وربه يقوم المصلي بين يدي ربه خاشعاً ذليلاً يسبح بحمده ويتلو كتابه ويعظمه بقوله وفعله ويثني عليه بما هو أهله ويسأله حاجات دينه ودنياه فهي روضة يانعة فيها من كل زوج بهيج.

📖 (صفة الصلاة ص21) ‎#ابن_عثيمين

Sholat adalah dzikir. Dan dengan dzikir kepada Alloh hati menjadi tenang. Sholat adalah penghubung antara hamba dengan Rabbnya. Orang yang sholat berdiri di hadapan Rabbnya dengan khusyu' dan merendahkan diri. Bertasbih dengan memujiNya. Membaca kitabNya dan mengagungkanNya dengan ucapan dan perbuatan. Ia memujinya dengan pujian yang Dia memang layak dengan pujian itu. Hamba meminta kebutuhankebutuhannya kepadaNya baik untuk urusan agamanya maupun dunianya. Sholat adalah taman yang ranum yang di dalamnya terdapat pepohonan berpasangan yang indah.

Ibnu Utsaimin rahimahulloh; 
Shifatush Sholah hal 21.

Sabtu, 04 Juli 2020

Peran Orang Tua Sebagai Pendidik



Syaikh Ahmad bin Abdul Karim AlKhudhair berkata:
"Aku mendengar dari Bapakku -Syaikh Abdul Karim Al-Hudhair -hafidzahulloh- di banyak kesempatan di majelisnya mengatakan: Sangat disayangkan sekali kebanyakan orang tua tersibukkan (sehingga lalai) dari mendidik anak-anaknya. Apabila orang tua tidak mengambil peran pendidikan ini maka akan diambil oleh orang lain. Jika kebetulan mendapatkan pendidik yang penuh kasih sayang dan pemberi nasehat yang menuntut tangannya niscaya hal itu menjadi sebab bagi hidayahnya namun jika sebaliknya dia akan diambil oleh orang-orang buruk yang menyesatkannya dari jalan yang lurus".

Ya Alloh, perbikilah anak-anak kami.

Rabu, 01 Juli 2020

Haramnya Mengikatkan Jimat dan Tamimah


Berkata Penulis -hafidzahulloh-:
تحريم تعليق الحروز والتمائم
"Haramnya mengikatkan jimat dan tamimah"

Penjelasan:
Mengikatkannya terkadang ke manusia, hewan, kendaraan atau rumah atau suatu tempat.
Al-Huruz yaitu istilah mengenai apa yang dilakukan oleh dukun, araf atau pun penyihir berupa jimat dan tas kecil yang di dalamnya terdapat sesutu yang telah disebutkan sebelumnya, atau rumah kerang, atau potongan kuku atau ekor kelinci, atau manik-manik dan semisalnya.

Hukum huruz dan tamimah
Jika huruz ini di dalamnya ada kesyirikan berupa doa kepada selain Alloh dan semisalnya maka ini adalah syirik besar. Apabila ini adalah istilah tentang klenik, atau kerang atau manik-manik dan semisalnya, maka barang siapa berkeyakinan bahwa itu bisa bermanfaat atau bermudharat (sebagai sekutu) bersama Alloh atau dari siapa pun selain Alloh maka syirik besar. Barang siapa meyakini hanya sekedar sebab dan bahwasannya yang memberi manfaat dan kemudharatan adalah Alloh maka ini adalah syirik kecil sebab dia menjadikan sesuatu yang bukan sebab syar'i dan qadari sebagai sebab. Ada pun tamimah dari Al-Qur'an maka yang shahih maka menggantungkannya dianggap sebagai bid'ah. Dalam masalah ini ada peringatan-peringatan yang telah kami sebutkan pada bagian akhir pada syarah kitabut tauhid.

Penulis -hafidzahulloh- berkata:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْبَلَ إِلَيْهِ رَهْطٌ، فَبَايَعَ تِسْعَةً وَأَمْسَكَ عَنْ  وَاحِدٍ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، بَايَعْتَ تِسْعَةً وَتَرَكْتَ هَذَا؟ قَالَ: " إِنَّ عَلَيْهِ تَمِيمَةً " فَأَدْخَلَ يَدَهُ فَقَطَعَهَا، فَبَايَعَهُ، وَقَالَ: " مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

"Dari 'Uqbah bin Amir Al Juhhany -radhiyallohu 'anhu- bahwa sekelompok orang menghadap Rasululloh -shollallohu 'alaihi wasallam-. Lalu beliau membaiat yang sembilan dan membiarkan satu orang. Maka mereka berkata: Ya Rasululloh, engkau membaiat sembilan orang dan engkau biarkan (tanpa dibaiat) orang ini?"
Beliau menjawab: "Sesungguhnya orang ini memakai jimat"
Lalu beliau merogohkan tangannya, memutuskannya lalu membaiatnya. Kemudian belia mengatakan: "Barang siapa yang menggantungkan jimat maka dia telah berbuat syirik".
(Diriwayatkan Oleh Ahmad dengan sanad shahih)

Penulis berkata:
"Dari Imad bin Tamim -radhiyallohu 'anhu- bahwasannya Abu Basyir Al-Anshari mengkhabarkan kepadanya bahwa dia bersama Rasululloh -shollallohu alaihi salam dalam suatu perjalanan. Dia berkata: Rasululloh -shollallahu alaihi wa sallam- mengutus seseorang: 
 لَا يَبْقَيَنَّ فِي رَقَبَةِ بَعِيرٍ قِلَادَةٌ مِنْ وَتَرٍ أَوْقِلَادَةٌ إِلَّا قُطِعَتْ
"Jangan engkau biarkan di leher onta adanya kalung (jimat) dari tali atau kalung apa pun kecuali engkau potong" (Muttafaqun alaih)

Penjelasan:
Sebabnya adalah bahwa mereka beranggapan bahwa benang jimat ini yang menangkal 'ain. Dan ini adalah syirik sebagaimana yang telah lalu.

Perkataan beliau: "pada leher unta" ini sebagai bentuk keumuman sebab seandainya ada pada kaki depan onta atau kaki belakang atau bahkan jika selain onta pun maka perkataan beliau juga mencakupnya.
Perkataan beliau: قِلَادَةٌ مِنْ وَتَرٍ (dari tali) yakni benang pengikat.
Perkataan beliau: أَوْقِلَادَةٌ  (atau kalung) yakni kalung apa saja selain tali.

Penulis -hafidzahulloh- berkata:
Dan dari Ruwaifi' bin Tsabit bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
يَا رُوَيْفِعُ، لَعَلَّ الْحَيَاةَ سَتَطُولُ بِكَ بَعْدِيْ فَأَخْبِرِ النَّاسَ أَنَّهُ مَنْ عَقَدَ لِحْيَتَهُ، أَوْ تَقَلَّدَ وَتَرًا، أَوْ اسْتَنْجَى بِرَجِيعِ دَابَّةٍ أَوْ عَظْمٍ، فَإِنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  بَرِيءٌ مِنْهُ
"Wahai Ruwaifi, boleh jadi umurmu panjang setelahku. Maka khabarkanlah kepada manusia bahwasannya barang siapa yang mengikat jenggotnya, atau mengikatkan benang (untuk jimat) atau beristinja' dengan kotoran binatang atau tulang maka sesunguhnya Muhammad berlepas diri darinya". Dikeluarkan oleh An-Nasa'i dengan sanad shahih.

Penjelasan: 
Hadits ini adalah salah satu dari bukti-bukti kenabian karena Ruwaifi' berumur panjang.

Perkataan beliau: mengikat jenggotnya. Ada yang mengatakan bahwasannya mereka melakukan hal tersebut si masa jahiliyah sebagai bentuk kesombongan. Ada yang berpendapat pula hal tersebut sebagai penangkal 'ain (penyakit karena pandangan mata).

Perkataan beliau: "atau mengikatkan benang". Hal ini mereka lakukan dengan anggapan bisa menangkal 'ain.

Perkataan beliau: "Atau beristinja' dengan kotoran binatang atau tulang".  Ar-Rajii' yaitu kotoran binatang. Demikian itu karena tulang adalah makanan saudara-saudara kita dari kalangan jin, sedangkan kotoran hewan adalah makanan binatang-binatang mereka.

Perkataan beliau: "Maka sesungguhnya Muhammad berlepas diri darinya". Ini adalah bukti bahwa perbuatan-perbuatan termasuk dosa-dosa besar sebab Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- berlepas diri dari pelakunya. Dan sesungguhnya Alloh -azza wa jalla- menggantikan untuk kita dari kesyirikan-kesyirikan dan sihir-sihir ini dengan dzikir-dzikir syar'i yang diajarkan oleh Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- .

Diterjemahkan dari kitab Tuhfatul Murid Syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al-Watr hal 114-118.


 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)