Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 206 - 209
Firman Alloh -ta'ala-:
لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat".(QS Asy-Syuraa: 11)
Dan FirmanNya:
إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًۭا
"Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat"(QSAn-Nisa': 58)
Penjelasan:
Firman Alloh -ta'ala-:
لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat".(QS Asy-Syuraa: 11)
Ayat ini dibawakan oleh penulis untuk menetapkan dua nama di antara nama-nama Alloh dan sifat yang terkandung di dalamnya. Keduanya yaitu As-Samii'(Maha Mendengar) dan Al-Bashir(Maha Melihat). Ayat ini meruoakan bantahan terhadap Muathillah (sekte yang menolak sifat-sifat Alloh).
FirmanNya: لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭ ۖ "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia" ini adalah peniadaan; maka ini termasuk sifat salbiyah (yang ditiadakan). Sedangkan maksudnya adalah menetapkan kesempurnaanNya. Yakni kesempurnaanNya tidak ada sesuatu pun dari makhlukNya yang menyerupaiNya. Kalimat ini merupakan bantahan terhadap tamtsil (penyerupaan Alloh dengan makhlukNya).
FirmanNya: وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ "dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat"; "As-Sam'u memiliki dua makna: Pertama bermakna Al-Mujiib (yang mengabulkan doa). Kedua: Bermakna mendengar suara.
Adapun makna As-Samii' bermakna Al-Mujiib maka para ulama memberikan contoh dengan firman Alloh -ta'la- tentang Ibrahim:
إِنَّ رَبِّى لَسَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ
"Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa".(QS Ibrahim: 39)
maksudnya benar-benar mengabulkan doa.
Adapun As-Samii' yang bermakna mengetahui suara; maka para ulama membaginya menjadi beberapa macam:
Pertama: Pendengaran yang dimaksudkan dengan penjelasan keumuman pendengaran Alloh -azza wa jalla-. Bahwasannya tidak ada suatu suara kecuali Alloh mendengarnya.
Kedua: Pendengaran yang maksudnya pertolongan dan penguatan.
Kedua: Pendengaran yang maksudnya ancaman.
Pertama pertama: Firman Alloh -ta'ala:
۞ قَدْ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوْلَ ٱلَّتِى تُجَـٰدِلُكَ فِى زَوْجِهَا وَتَشْتَكِىٓ إِلَى ٱللَّهِ
"Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah" (QS Mujadilah: 1)
Ayat ini di dalamnya penjelasan bahwa pendengaran Alloh -ta'ala- meliputi segala sesuatu yang bisa didengar. Oleh karenanya 'Aisyah -radhiyallohu 'anha- berkata: "Segala puji bagi Alloh yang pendengaranNya meliputi seluruh suara. Demi Alloh, sesungguhnya aku ada di dalam bilik dan sesungguhnya pebicaraannya sebagiannya tidak terdengar olehku".
Contoh kedua: Sebagaimana firman Alloh -ta'ala- tentang Musa dan Harun:
إِنَّنِى مَعَكُمَآ أَسْمَعُ وَأَرَىٰ
"Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat" (Toha: 46)
Contoh Ketiga: yang maksudnya adalah ancaman dan menakut-nakuti; firman Alloh -ta'ala-:
أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَىٰهُم ۚ بَلَىٰ وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ
"Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka". (QS Az-Zukhruf: 80)
Maksudnya di sini adalah menakut-nakuti mereka dan mengancamnya karena mereka menyembunyikan perkataan yang tidak diridhoi.
Pendengaran dengan makna mengetahui sesuatu yang didengar termasuk sifat dzatiyah meskipun kadang yang didengar terkadang sesuatu yang baru.
Pendengaran dengan makna pertolongan dan penguatan termasuk sifat fi'liyah sebab terkait dengan sebab.
Pendengaran dengan makna dikabulkannya do'a termasuk sifat fi'liyah juga.
* FirmanNya: ٱلْبَصِيرُ (Maha Melihat) yakni meliputi segala sesuatu yang nampak. Dan kata Bashiir (melihat) dimutlakkan dengan Aliim(mengetahui). Maka Alloh -subhanahu wa ta'ala- adalah Maha Melihat. Dia melihat segala sesuatu meski tersembunyi. Alloh -subhanahu wa ta'ala- Maha Melihat maknanya Maha Mengetahui dengan perbuatan-perbuatan para hambaNya. Alloh -ta'ala- berfirman:
وَٱللَّهُ بَصِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan"(QS Al-Hujurat: 18)
Yang kita kerjakan sebagian terlihat dan sebagian tidak terlihat. Penglihatan Alloh dengan demikian terbagi dua, dan semuanya masuk pada firmanNya "Al-Bashir"(Maha Melihat)
Dalm ayat ini ada penetapan dua nama Alloh yaitu: As-Samii'(Maha Mendengar) dan Al-Bashiir(Maha Melihat). Dan ada tiga sifat yaitu: kesempurnaan shifatnya dari peniadaan tamtsil (penyerupaan), pendengaran dan penglihatan Alloh.
Dalam ayat ini juga terdapat faidah-faidah yaitu mencukupkan diri untuk tidak berusaha penyerupaan Alloh dengan makhluknya, merasakan keagungan dan kesempurnaanNya, dan kehati-hatian dari melihatmu bermaksiat kepadaNya atau mendengar sesuatu yang tidak diridhaiNya darimu.
Ketahuilah bahwasannya para Ahli Nahwu telah panjang lebar membahas firmanNya: كَمِثْلِهِۦ; mereka berkata: Huruf kaaf masuk pada مِثْلِ dan secara dzahir bahwasannya Alloh memiliki permisalan yang tiada ada yang sepadan dengan permisalan tersebut; karena Dia tidak mengatakan: Tidak ada yang seperti Dia; akan tetapi Alloh berfirman: لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ "Tiada yang seperti permisalanNya". Ini adalah dzahir ayat dari sisi lafadz bukan dari sisi makna; sebab kalau kita katakan: Ini dzohir ayat dari sisi makna maka dzahir Qur'an adalah kufur, dan ini mustahil. Oleh karenanya ungkapan para ahli nahwu berbeda beda dalam mengambil kesimpulan tentang ayat ini menjadi beberapa pendapat:
PERTAMA: Huruf kaf adalah zaidah (hanya tambahan) dan perkiraan ucapannya adalah: ليس مثله شيء "Tiada sesuatu yang semisal denganNya". Pendapat ini elegan. Huruf ziyadah (tambahan) pada penafikkan cukup banyak. Sebagaimana dalam firman Alloh -ta'ala-:
وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنثَىٰ
"Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung..." (QS Al-Fathir: 11)
Mereka mengatakan: Sesungguhnya huruf tambahan (ziyadatul huruf) dalam bahasa Arab untuk penekanan adalah hal yang umum.
KEDUA: Mereka berpendapat sebaliknya. Mereka berkata: Sesungguhnya tambahannya adalah مثل sehingga perkiraannya adalah: ليس كهو شيء (Tiada sesuatu pun yang seperti Dia). Tapi pendapat ini lemah. Lemahnya karena tambahan pada isim - isim dalam bahasa Arab sangat sedikit sekali atau sangat jarang, beda dengan huruf. Seandainya kita harus mengatakan (dalam lafadz tersebut) ada tambahan maka tambahannya adalah huruf yaitu kaaf.
KETIGA: Bahwasannya مثل bermaknas sifat. Sehingga maknanya ليس كصفته شيء "Tiada sesuatu pun yang seperti sifatNya". Mereka berpendapat: sesungguhnya Mitslu dan Matsal, Syibh dan Syabh dalam bahasa Arab maknanya sama. Alloh ta'ala berfirman:
مَّثَلُ ٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى وُعِدَ ٱلْمُتَّقُونَ
"perumpamaan jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa"(QS Muhammad: 15)
Maksudnya (مَّثَلُ ) adalah sifatnya. Dan ini masih bisa untuk diterima.
KEEMPAT: bahwa di dalam ayat ini tidak ada tambahan; namun jika engkau katakan: لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭ konsekwensinya adalah meniadakan permisalan. Jika suatu permisalan tidak ada yang sepadan maka yang ada hanyalah satu. Oleh karenanya tidak ada perlunya kita memperkirakan (permisalan) apa pun. Mereka menyatakan: dan hal seperti ini ada dalam bahasa Arab. Seperti perkataannya: ليس كنثل الفتى زهير "tiada permisalan pemuda yang seperti Zuhair".
Pada kenyataannya, andai pembahasan ini belum bisa memuaskanmu akan tetapi makna ayat sudah jelas. Maknanya bahwasannya Alloh -ta'ala tidak memiliki bandingan yang sepadan. Namun pembahasan ini ada di dalam kitab-kitab. Dan yang kuat kita katakan: bahwasannya huruf Kaaf adalah tambahan akan tetapi penjelasan terakhir -bagi orang yang benar-benar mendalami- dari penjabarannya paling bagus.