“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Jumat, 25 Desember 2020

Kebanyakan Manusia Hanya Melihat Haknya Atas Alloh


Ibnul Qayyim -rahimahulloh- berkata:
"Jika engkau mengamati keadaan mayoritas manusia, maka engkau dapati mereka hanya melihat pada hak mereka atas Alloh dan tidak melihat pada hak Alloh atas mereka.
Dan dari sinilah mereka terputus dari Alloh, tertutup hati-hati mereka dari mengenalNya, mencintaiNya, kerinduan akan perjumpaan denganNya dan bernikmat-nikmat dengan mengingatNya. Ini adalah puncak kebodohan manusia terhadap Robb-nya dan terhadap dirinya" (Ighatsatul Lahafan: 1/152)

‏قال ابن القيم رحمه الله:
إذا نظرت حال أكثر الناس وجدتهم
ينظرون في حقهم على الله , ولا ينظرون في حق الله عليهم
ومن هاهنا انقطعوا عن الله
وحجبت قلوبهم عن معرفته ومحبته والشوق إلى لقائه والتنعم بذكره
وهذا غاية جهل الإنسان بربه , وبنفسه
[ إغاثة اللهفان  1 / 152 ]


Obat Kerasnya Hati


Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahulloh-:
"Termasuk perkara yang bisa menghilangkan kerasnya hati adalah memperbanyak membaca Al-Qur'an dan merenungi maknanya, dan engkau merasakan -tatkala membacanya- bahwa ini adalah firman Alloh -azza wa jalla-, firman Pencipta langit dan bumi bukan perkataan manusia. Maka pada saat itu engkau akan mengagungkan firmanNya dan engkau mengambil manfaat darinya".

(Tafsir Surat Al-An'am: hal 224)

‏قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله: 
من أسباب إزالة قسوة القلب كثرة قراءة القرآن بتدبر، وأن تشعر وأنت تقرأ أن هذا كلام الله عز وجل، كلام خالق السموات والأرض لا كلام البشر وحينئذ تعظم هذا الكلام وتنتفع به.
(تفسير سورة الأنعام / ص224).

Syarat Taubat: Bertekad Untuk Tidak Mengulangi Dosanya


Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahulloh- berkata:
Manusia jika berbuat dosa kemudian bertaubat dengan sungguh-sungguh, lalu dikalahkan oleh nafsunya sehingga berbuat dosa lagi maka taubatnya yang pertama tetap sah. Apabila dia bertaubat lagi maka taubatnya sah, sebab syarat taubat adalah seseorang BERTEKAT UNTUK TIDAK MENGULANGI dosanya dan bukanlah syarat taubat TIDAK MENGULANG dosanya.

Syarah Kitab Tauhid juz 2/500

‏الإنسان إذا فعل الذنب ثم تاب توبة نصوحا ثم غلبته عليه نفسه مرة أخرى فإن توبته الأولى صحيحة فإذا تاب ثانية فتوبته صحيحة لأن من شروط التوبة أن يعزم أن لا يعود وليس من شروط التوبة ان لا يعود.

📖 (شرح كتاب التوحيد ج2 ص500) ‎#ابن_عثيمين

Ushul Tafsir (3): Turunnya Al-Qur'an antara Ibtidai dan Sababi


(Diterjemahkan dari kitab Ushulun Fit tafsiir karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahulloh- hal 12-13)

3. Turunnya Al-Qur'an antar Ibtidai dan Sababi.
Turunnya Al-Qur'an terbagi atas dua keadaan:
Pertama: Ibtida'i yaitu turunnya ayat Qur'an tanpa ada sebab yang melatarbelakanginya. Dan ini kebanyakan dari ayat Qur'an. Di antaranya firman Alloh -ta'ala-:
وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ
"Dan di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah, “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah dan niscaya kami termasuk orang-orang yang shalih.” (QS At-Taubah: 75)
Ayat ini turun secara ibtida' tentang keadaan sebagian orang-orang munafik. Ada pun yang masyhur bahwa ayat ini turun tentang Tsa'labah bin Hatib dalam kisah yang panjang yang telah disebutkan oleh kebanyakan ahli tafsir dan dipopulerkan oleh mayoritas para pemberi wejangan maka ini kisah lemah yang tidak shahih.

Kedua: Sababy yaitu turunnya ayat didahului oleh sebab yang melatarbelakanginya. Sebabnya bisa berupa:

1. Jawaban Alloh -ta'ala- atas sebuah pertanyaan. Misalnya:
يَسْأَلونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
"Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, “Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji.” (QS Al-Baqarah: 189)

2. Atau suatu kejadian yang membutuhkan penjelasan dan peringatan. Misalnya:
"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja.” (QS At-Taubah: 65)

Dua ayat ini turun berkenaan tentang seorang laki-laki munafik yang berkata di perang Tabuk di suatu perkumpulan:
"Kami tidak pernah melihat orang seperti Qori kita (para pembaca Al-Qur'an) ini yang lebih buncit perutnya, yang lebih dusta lisannya dan lebih pengecut ketika bertemu musuh -yaitu Rasululloh -shollallahu 'alaihi wa sallam- dan para shahabatnya. Maka sampailah berita itu kepada Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- lalu turun Al-Qur'an. Maka datanglah laki-laki tersebut kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- menyampaikan alasannya. Maka beliau menjawab:
أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ
“Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (QS At-Taubah: 65)

3. Atau suatu perbuatan yang terjadi yang membutuhkan penjelasan hukumnya:
قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ
"Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat".(QS Al-Mujadilah: 1)

٣- نزول القرآن ابتدائي وسببي
ينقسم نزول القران إلى قسمين:
الأول: ابتدائي: وهو ما لم يتقدم نزوله سبب يقتضيه، وهو غالب آيات القران، ومنه قوله تعالى: (وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ) (التوبة: ٧٥)

الآيات فإنها نزلت ابتداء في بيان حال بعض المنافقين، وأما ما اشتهر من أنها نزلت في ثعلبة ابن حاطب في قصة طويلة، ذكرها كثير من المفسرين، وروجها كثير من الوعاظ، فضعيف لا صحة له. (١) .

القسم الثاني: سببي: وهو ما تقدم نزوله سبب يقتضيه. والسبب:
أ - ... إما سؤال يجيب الله عنه مثل (يَسْأَلونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ) (البقرة: الآية ١٨٩) .

ب - أو حادثة وقعت تحتاج إلى بيان وتحذير مثل: (وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ) (التوبة: الآية ٦٥) الآيتين نزلتا في رجل من المنافقين قال في غزوة تبوك في مجلس: ما رأينا مثل قرائنا هؤلاء أرغب بطونا، ولا أكذب ألسنا، ولا أجبن عند اللقاء، يعني رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه، فبلغ ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم ونزل القرآن فجاء الرجل يعتذر النبي صلى الله عليه وسلم فيجيبه (أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ) (التوبة: الآية ٦٥) (١) .

ج- أو فعل واقع يحتاج إلى معرفة حكمه مثل: (قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ) (المجادلة: ١)

(١) رواه الطبراني، وفيه على بن يزيد الألهاني وهو متروك.

Kamis, 10 Desember 2020

Contoh Sifat Dzatiyah Dalam Al-Qur'an

Pertanyaan:
Terlah berlalu penjelasan bahwa sifat-sifat Alloh -ta'ala- terbagi atas Dzatiyah dan Fi'liyah. Apa contoh sifat Dzatiyah dari Al-Kitab(Al-Qur'an)?

Jawab:
Misalnya firman Alloh -ta'ala-:
بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ
"Bahkan kedua tanganNya terbuka" (QS Al-Maidah: 64)

 كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
"Segala sesuatu binasa kecuali wajahNya" (Al-Qosos: 88)

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
"tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal." (QS Ar-Rahman: 27)
 وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي
"dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku" (QS Taha: 39)

 أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ
"Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya" (Al-Kahfi: 26)
 إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى
"sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat."(QS Thaha: 46)

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا
"Dia (Allah) mengetahui apa yang di hadapan mereka (yang akan terjadi) dan apa yang di belakang mereka (yang telah terjadi), sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya". (QS Thaha: 110)
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا
"Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung." (QS An-Nisa': 164)

وَإِذْ نَادَى رَبُّكَ مُوسَى أَنِ ائْتِ الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya), “Datangilah kaum yang zhalim itu" (QS Asy-Syu'araa: 10)

 وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ
"Tuhan menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu" (QS Al-A'raf: 22)

 وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ
"Dan (ingatlah) pada hari ketika Dia (Allah) menyeru mereka, dan berfirman, “Apakah jawabanmu terhadap para rasul?” (QS Al-Qashas: 65)
 dan ayat-ayat selainnya.



[مثال لصفات الذات من الكتاب]
س: تقدم أن صفات الله تعالى منها ذاتية وفعلية، فما مثال صفات الذات من الكتاب؟
جـ: مثل قوله تعالى: {بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ} [المائدة: ٦٤] {كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ} [القصص: ٨٨] {وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ} [الرحمن: ٢٧] {وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي} [طه: ٣٩] {أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ} [الكهف: ٢٦] {إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى} [طه: ٤٦] {يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا} [طه: ١١٠] {وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا} [النساء: ١٦٤] {وَإِذْ نَادَى رَبُّكَ مُوسَى أَنِ ائْتِ الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} [الشعراء: ١٠] {وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ} [الأعراف: ٢٢] {وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ} [القصص: ٦٥] وغير ذلك.

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Rabu, 02 Desember 2020

Taisir (77 & 78): Imam Meringankan Sholat Berjamaah

Hadits - 77:

عن أبي هريرة رضيَ الله عَنْهُ أنَ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: "إِذَا صَلى أحَدكُمْ لِلنَاس فَلْيُخَففْ، فَإنَّ فيهم الضعيف والسقِيمَ وَذا الحاجة (١) ، وَإِذَا صَلَّى أحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَليُطَولْ مَا شَاءَ".

Dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu- bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Apabila salah seorang di antara kalian sholat mengimami manusia maka ringankanlah sebab di antara mereka (makmum)ada orang yang lemah, sakit dan orang yang dalam urusan. Dan apabila salah seorang di antara kalian sholat sendirian maka panjangkanlah sesukamu"

Hadits 78:
عَنْ أبي مَسْعُودٍ الأنصاري رَضيَ الله عَنْهُ قَال: جَاءَ رَجُل إِلى رسُولَ الله صلى الله عليه وسلم، فقَالَ: إنِّي لأتَأخَرُ عَنْ صَلاةِ الصُّبْحِ مِنْ أجْلِ فلانٍ مِمَّا يطِيلُ بِنَا.
قالَ: فَمَا رَأَيْتُ النَّبيَ صَلى الله عَلَيْهِ وَسَلمَ غَضبَ في مَوْعِظَةٍ قطُّ أشدَّ مِمَّا غضِبَ يَوَمَئِذٍ، فَقَالَ: "يَا أيها النَّاسُ، إِن مِنْكُمْ مُنَفرِينَ فَأيّكُمْ أمّ النَّاسَ فَلْيُوجِزْ، فَإن مِنْ وَرَائِهِ الْكَبِيرَ وَالصَغِيرَ وَذَا الْحَاجَةِ".

Dari Abu Mas'ud Al-Anshory -radhiyallohu 'anhu- berkata: Seseorang datang kepada Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- lalu berkata: "Sesungguhnya saya benar-benar mengakhirkan sholat subuh karena Fulan yang memanjangkan sholat mengimami kami. 
Ibnu Mas'ud berkata: Aku sama sekali belum pernah melihat Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- marah dalam memberikan nasehat melebihi marahnya pada hari itu.
Beliau bersabda: "Wahai manusia, sesungguhnya di antara kalian ada orang yang membuat lari manusia. Maka siapa pun di antara kalian yang mengimami manusia hendaklah meringankan (sholat). Sesungguhnya di belakangnya ada orang yang renta, anak kecil dan orang yang ada keperluan"
 
Makna Global:
Syariat yang lapang ini datang dengan membawa kemudahan dan meniadakan kesudahan dan kesempitan. Oleh karenanya, sholat yang merupakan bentuk ketaatan yang paling mulia, Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kepada imam untuk meringankannya untuk meringankan dan memudahkan para makmum. Sehingga tatkala mereka selesai dari sholat dalam keadaan berharap untuk mengerjakannya lagi. Dan oleh karena di antara para makmum ada orang-orang yang tidak mampu sholat lama, entah karena lemah atau karena sakit atau karena ada kepentingan. Jika orang yang sholat sendirian maka silahkan dia memanjangkan sholat sesukanya, sebab hal itu tidak memberatkan seorang pun. 
Di antara bentuk ketidaksukaan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dalam pemanjangan sholat yang hal tersebut menyusahkan makmum atau pun menghalangi aktivitas mereka, maka tatkala datang seseorang kepada beliau dan mengatakan bahwa dia mengakhirkan mengerjakan sholat subuh bersama jamaah karena imam yang mengimami mereka terlalu memanjangkan sholat, maka beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- pun sangat marah dan bersabda:
"Sesungguhnya di antara kalian ada orang yang membuat lari manusia dari ketaatan kepada Alloh, membuat mereka benci kepada sholat dan menjadikan sholat berat bagi mereka. Maka siapa di antara kalian yang mengimami manusia hendaklah meringankannya sebab di antara mereka ada orang-orang yang lemah dan sedang dalam urusan.

Ikhtilaf Ulama
Di sana ada hadits-hadits shahih yang  menjelaskan sifat sholat Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- yang panjang. Beliau bertakbir lalu ada seseorang yang pergi ke Baqi' lalu menyelesaikan hajatnya. Orang ini kemudian kembali, lalu wudhu' dan masih menjumpai rekaat yang pertama bersama Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- karena beliau membaca surat-surat yang panjang dalam sholat maktubah; seperti surat Al-Baqarah, An-Nisa' dan Al-A'raf. Dan beliau membaca surat-surat mufashol yang panjang seperti Qaf dan At-Thur dan sebagainya.

Dan di sana ada pula hadits-hadits shahih yang menganjurkan untuk meringankan sholat di antaranya adalah dua hadits yang sedang kita bahas ini. Dan beliau pernah membaca Al-Kafirun dan Al-Ikhlas dan yang semisalnya. Dan manusia -dalam mengikuti dalil-dalil ini- mereka berbeda pendapat.
Di antara mereka ada yang berpendapat untuk memanjangkan sholat sebagai pengamalan hadits-hadits yang ada dan sebagian lagi berpendapat untuk meringankan sholat sebagai pengamalan yang ada pada pembahasan ini.
Yang pasti, tidak ada pertentangan di antara hadits-hadits ini -segala puji bagi Alloh- masing-masingnya saling bersesuaian. Akan tetapi sholat ringan atau pun  panjang adalah dua hal yang relatif. Tidaklah dibatasi dengan batasan tertentu karena manusia dalam masalah ini juga berbeda-beda. Orang yang sedang tergesa-gesa melihat sholat yang sedang-sedang saja sebagai sholat yang panjang ada pun ahli ibadah dan ketaatan melihatnya pendek saja.
Maka hendaklah kembali kepada hadits-hadits Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- , keadaan beliau dan sholat beliau serta menyelaraskan antara satu dengan lainnya sehingga nampak kebenaran. 
Imam Ash-Shon'any menyebutkan: Bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- memanjangkan sholatnya karena tau kondisi para makmum beliau. Sedangkan perintah meringankan sholat adalah khusus bagi umat ini.

Kesimpulan hadits:
1. Wajibnya meringankan sholat jamaah dengan tetap menjaga kesempurnaannya.
2. Marahnya beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- kepada orang yang memberatkan sholat dan menganggapnya sebagai pembuat fitnah (masalah).
3. Bolehnya memanjangkan sholat sendiri sesukanya dengan catatan tidak sampai keluar waktu sholat agar tidak berbenturan antara maslahat memanjangkan sholat agar sholatnya sempurna dengan kerusakan karena sholat dilaksanakan di luar waktunya.
4. Keharusan memperhatikan orang-orang yang lemah dan orang yang ada kepentingan tatkala sholat.
5. Tidak mengapa memanjangkan sholat jika jumlah makmum terbatas dan mereka suka dengan sholat yang panjang.
6. Hendakah seseorang itu memudahkan orang lain kepada kebaikan, menjadikan mereka suka kepadanya dan mencintainya sebab hal ini termasuk sikap kelembutan (untuk mengajak orang kepada jalan Alloh -pent) dan merupakan dakwah yang baik kepada Islam.

Diterjemahkan dari Taisiril Alam, Syarah Umdatul Ahkam.
الحديث السادس
عن أبي هريرة رضيَ الله عَنْهُ أنَ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: "إِذَا صَلى أحَدكُمْ لِلنَاس فَلْيُخَففْ، فَإنَّ فيهم الضعيف والسقِيمَ وَذا الحاجة (١) ، وَإِذَا صَلَّى أحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَليُطَولْ مَا شَاءَ".
الحديث السابع
عَنْ أبي مَسْعُودٍ الأنصاري رَضيَ الله عَنْهُ قَال: جَاءَ رَجُل إِلى رسُولَ الله صلى الله عليه وسلم، فقَالَ: إنِّي لأتَأخَرُ عَنْ صَلاةِ الصُّبْحِ مِنْ أجْلِ فلانٍ مِمَّا يطِيلُ بِنَا.
قالَ: فَمَا رأى النَّبيَ صَلى الله عَلَيْهِ وَسَلمَ غَضبَ في مَوْعِظَةٍ قطُّ أشدَّ مِمَّا غضِبَ يَوَمَئِذٍ،فَقَالَ: "يَا أيها النَّاسُ، إِن مِنْكُمْ مُنَفرِينَ فَأيّكُمْ أمّ النَّاسَ فَلْيُوجِزْ، فَإن مِنْ وَرَائِهِ الْكَبِيرَ وَالصَغِيرَ وَذَا الْحَاجَةِ".
المعنى الإجمالي:
جاءت هذه الشريعة السمحة، باليسر والسهولة، وَنَفْى العَنَتِ والحرج.
ولهذا " فإن الصلاة التي هي أجل الطاعات " أمر النبي صلى الله عليه وسلم الإمام التخفيف فيها، لتتيسر وتسهل على المأمومين، فيخرجوا منها وهم لها راغبون. ولأن في المأمومين من لا يطيق التطويل، إما لعجزه. أو مرضه أو حاجته.
فإن كان المصلى منفردا فليطول ما شاء. لأنه لا يضر أحداً بذلك.
ومن كراهته صلى الله عليه وسلم للتطويل، الذي يضر الناس أو يعوقهم عن أعمالهم، أنه لما جاءه رجل وأخبره أنه يتأخر عن صلاة الصبح مع الجماعة، من أجل الإمام الذي يصلى بهم، فيطيل الصلاة، غضب النبي صلى الله عليه وسلم غضبا شديدا، وقال: إن منكم من ينفر الناس عن طاعة الله، ويكرّه إليهم الصلاة ويثقلها عليهم فَأيّكم أمَّ الناس فليوجز، فإن منهم العاجزين وذوى الحاجات.
اختلاف العلماء:
هناك أحاديث صحيحة تصف صلاة النبي صلى الله عليه وسلم بالطول، بحيث يكبر، فيذهب الذاهب إلى البقيع، ويقضى حاجته، ثم يرجع ويتوضأ يدرك الركعة الأولى مع النبي صلى الله عليه وسلم، وبأنه يقرأ في الصلاة المكتوبة بطوال السور، كالبقرة، والنساء، والأعراف، ويقرأ بطوال المفصل "ق " والطور ونحوهما.
وهناك أحاديث صحيحة تحث على التخفيف، منها هذان الحديثان اللذان معنا وأنه يقرأ بـ (قل يا أيها الكافرون) و (الإخلاص) ونحو ذلك.
والناس- تبعاً لهذه الأدلة- مختلفون.
فمنهم من يرى التطويل، عملا بهذه الأحاديث، ومنهم من يرى التخفيف عملاً بما ورد فيها.
والحق، أنه ليس بين هذه الأحاديث تعارض ولله الحمد، وكلها متفقة. ولكن التخفيف والتَّطْوِيل أمران نسبيان، لا يُحَدَّان بِحدّ، لأن الناس في ذلك على بَوْنٍ بعيد.
فالناقرون يرون الصلاة المتوسطة طويلة وأهل العبادة والطاعة يرونها قصيرة.
فليرجع إلى أحاديث النبي صلى الله عليه وسلم وإلى حال صلاته، ويطبق بعضها على بعض، يظهر الحق الفاصل. وقد ذكر الصنعاني: أنه صلى الله عليه وسلم كان يطيل صلاته لعلمه بحال المؤتمين به، وأن الأمر بتخفيف الصلاة خاص بالأمة.
ما يؤخذ من الحديثين:
١- وجوب تخفيف صلاة الجماعة مع الإئتمام.
٢- غضبه صلى الله عليه وسلم على المثقلين، وعدُّه هذا من الفتنة.
٣- جواز تطويل صلاة المنفرد ما شاء، وقيد بأن لا يخرج الوقت وهو في الصلاة. وذلك كيلا تصطدم مصلحة المبالغة بالتطويل من أجل كمال الصلاة مع مفسدة إيقاع الصلاة في غير وقتها.
٤- وجوب مراعاة العاجزين وأصحاب الحاجات في الصلاة.


٥- أنه لا بأس بإطالة الصلاة، إذا كان عدد المأمومين ينحصر وآثروا التطويل.
٦- أنه ينبغي للإنسان أن يسهل على الناس طريق الخير، ويحببه إليهم، ويرغبهم فيه، لأن هذا من التأليف، ومن الدعاية الحسنة إلى الإسلام.
 

(١) ليس في البخاري "وذا الحاجة".

Ushul Tafsir (2): Wahyu Al-Qur'an Yang Pertama Kali Turun


(Diterjemahkan dari kitab Ushulun Fit tafsiir karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahulloh-)

Wahyu Al-Qur'an yang turun pertama kali secara mutlak adalah adalah lima ayat pertama dari surat Al-'Alaq yaitu firman Alloh -ta'ala-:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١) خَلَقَ الْأِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤) عَلَّمَ الْأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya" (QS Al-Alaq: 1-5)
Kemudian terputus wahyu beberapa waktu. Lalu turun lima ayat pertama dari surat Al-Mudatsir:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّر (١) قُمْ فَأَنْذِرْ (٢) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (٣) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (٤) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (٥)
"Wahai orang yang berkemul (berselimut)! bangunlah, lalu berilah peringatan! dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji" (QS Al-Muddatsir: 1-5)

Dalam Ash-Shahihain, shahih Bukhari dan Muslim: Dari 'Aisyah -radhiyallohu 'anha- di awal-awal turunnya wahyu dia berkata: sampai datang kebenaran kepada beliau sedangkan beliau ada di goa Hira'. Datang kepada beliau seorang malaikat lalu berkata: "Bacalah!". Beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- berkata: "Aku tidak bisa membaca"(yaitu: aku tidak tidak mengetahui bacaan) dan disebutkan hadits yang di dalamnya beliau berkata:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق
"Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan"
sampai sabda beliau:
عَلَّمَ الْأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
"Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya" (QS Al-'Alaq: 1-5)
Dan dalam keduanya (Shahihain) dari Jabir -radhiyallohu 'anhu- bahwasannya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda tatkala beliau menceritakan ketika wahyu terputus:
بينا أنا أمشي إذ سمعت صوتاً من السماء
"Tatkala aku berjalan tiba-tiba aku mendengar suara dari langit"
lalu beliau menceritakan haditsnya -yang di dalamnya- Alloh -ta'ala- menurunkan ayat:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّر (١) قُمْ فَأَنْذِرْ (٢)
"Wahai orang yang berselimut. Bangun dan berilah peringatan"
sampai firmanNya:
(وَالرُّجْزَ فَاهْجُر (٥)
"dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji" (QS Al-Muddatsir: 1-5)

Di sana terdapat ayat yang disebut: yang pertama kali turun, dan maksudnya pertama kali turun ditinjau dari sisi tertentu. Sehingga menjadi ayat yang turun pertama terkait suatu hal. Misalnya hadits Jabir -radhiyallohu 'anhu- dalam shahihain: Sesungguhnya Abu Salamah bin Abdurrahman bertanya kepadanya: Surat Al-Qur'an apa yang pertama kali turun? Jabir menjawab: يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (QS Al-Mudatsir ayat 1).
Aku katakan padanya bahwa (yang pertama kali turun) اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (QS Al-Alaq: 1).
Maka Jabir berkata: "Aku hanya mengkhabarkan apa yang dikatakan oleh Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Aku berkhalwat(menyendiri menyepi) di gua Hira'. Tatkala aku sudah selesai berkhalwat aku pun turun..."

Sampai perkataan beliau: "...Maka aku mendatangi Khadijah lalu aku katakan: Selimutilah aku dan guyurlah kepalaku dengan air dingin. Dan turun ayat kepadaku:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ
"Wahai orang yang berselimut" (QS Al-Muddatsir: 1) sampai firmanNya:
وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
"Dan perbuatan dosa maka tinggalkanlah" (QS Al-Muddatsir: 1-5)


Permulaan turunnya wahyu yang disebutkan Jabir -radhiyallohu 'anhu- ini ditinjau dari sisi permulaan turunnya wahyu setelah masa fatrah (terhentinya wahyu untuk beberapa waktu) atau wahyu yang pertama kali turun mengenai diangkatnya beliau sebagai Rasul. Sebab wahyu yang turun berupa surat 'Iqra'' adalah penetapan kenabian Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan wahyu yang turun berupa surat Al-Muddatsir penetapan kerasulan beliau dalam firmanNya (قُمْ فَأَنْذِرْ) "Bangun dan berilah peringatan" (QS Al-Muddatsir: 2)

Oleh karenanya para ulama berkatan Sesungguhnya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- diangkat jadi Nabi dengan surat iqra' (QS Al-Alaq: 1) dan diutus menjadi Rasul dengan surat Al-Muddatsir (QS Al-Muddatsir: 1)

٢- أول ما نزل من القرآن
أول ما نزل من القرآن على وجه الإطلاق قطعا ً الآيات الخمس الأولي من سورة العلق، وهي قوله تعالى: (اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١) خَلَقَ الْأِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤) عَلَّمَ الْأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥) (العلق: ١- ٥) .
ثم فتر الوحي مدة، ثم نزلت الآيات الخمس الأولى من سورة المدثر، وهي قوله تعالى: (يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّر (١) قُمْ فَأَنْذِرْ (٢) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (٣) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (٤) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (٥) (المدثر: ١-٥) . ففي ((الصحيحين)) : صحيح البخاري ومسلم (١) . عن عائشة رضي الله عنها في بدء الوحي قالت: حتى جاءه الحق ٌّ، وهو في غار حراء، فجاءه الملك فقال اقرأ، فقال النبي صلى الله عليه وسلم ما أنا بقارئ (يعني لست أعرف القراءة) فذكر الحديث، وفيه ثم قال: (اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق (١)) إلى قوله: (عَلَّمَ الْأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)) (العلق: ١- ٥) .

وفيهما (٢) عن جابر رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال وهو يحدث عن فترة الوحي: (بينا أنا أمشي إذ سمعت صوتاً من السماء....)
فذكر الحديث، وفيه، فأنزل الله تعالى: (يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّر (١) قُمْ فَأَنْذِرْ (٢) إلى (وَالرُّجْزَ فَاهْجُر (٥) (المدثر: ١-٥) .
وثمت آيات يقال فيها: أول ما نزل، والمراد أول ما نزل باعتبار شيء معين، فتكون أولية مقيدة مثل: حديث جابر رضي الله عنه في ((الصحيحين)) (٣) . إن أبا سلمة بن عبد الرحمن سأله:
أي القرآن أنزل أول؟ قال جابر: (يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ) (المدثر: ١) قال أبو سلمة: أنبئت أنه
(اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ) (العلق: ١) فقال جابر: لا أخبرك إلا بما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (جاورت في حراء فلما قضيت جواري هبطت ... )
فذكر الحديث وفيه: (فأتيت خديجة فقلت: دثروني، وصبوا علي ماء بارداً، وأنزل علي: (يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ) (المدثر: ١) إلى قوله: (وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ) (المدثر: ١-٥)) .

فهذه الأولية التي ذكرها جابر رضي الله عنه باعتبار أول ما نزل بعد فترة الوحي، أو أول ما نزل في شأن الرسالة؛ لأن ما نزل من سورة اقرأ ثبتت به نبوة النبي صلى الله عليه وسلم، وما نزل من سورة المدثر ثبتت به الرسالة في قوله (قُمْ فَأَنْذِرْ) (المدثر: ٢)
ولهذا قال أهل العلم: إن النبي صلى الله عليه وسلم نبئ ب (اقْرَأْ) (العلق: ١) وأرسل ب الْمُدَّثِّرُ) (المدثر: ١)




(١) أخرجه البخاري، كتاب ب دء الوحي، باب ١: كيف كان بدء الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ... ، أصول في التفسير، حديث رقم ٣؛ ومسلم كتاب الإيمان باب ٧٣: بدء الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، حديث رقم ٤٠٣ {٢٥٢} ١٦٠.
(٢) أخرجه البخاري، كتاب بدء الوحي، باب ١: كيف كان بدء الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، حديث رقم ٤؛ ومسلم كتاب الإيمان باب ٧٣: بدء الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، حديث رقم ٤٠٦ {٢٥٥} ١٦١.
(٣) أخرجه البخاري، كتاب التفسير، باب ٣ قوله: (يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ) حديث رقم٤٩٢٤؛ ومسلم كتاب الإيمان باب ٧٣: بدء الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، حديث رقم ٤٠٩ {٢٥٧} ١٦١
  

Penjelasan Surat Al-Maidah Ayat 1


Diterjemahkan dari Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 135-137
Ayat yang ke-3:
Firman Alloh -ta'ala-:
أُحِلَّتۡ لَكُم بَهِيمَةُ ٱلۡأَنۡعَٰمِ إِلَّا مَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ غَيۡرَ مُحِلِّي ٱلصَّيۡدِ وَأَنتُمۡ حُرُمٌۗ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ مَا يُرِيدُ

"Hewan ternak dihalalkan bagimu, kecuali yang akan disebutkan kepadamu, dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang berihram (haji atau umrah). Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan yang Dia kehendaki" (QS Al-Ma'idah: 1)

"...dihalalkan bagimu..." yang menghalalkan adalah Alloh -azza wa jalla-. Demikian pula Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- juga menghalalkan dan mengharamkan namun dengan izin dari Alloh -azza wa jalla-.
Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
أحلت لنا ميتتان ودمان
"Dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah".
Dan beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- berkata: "sesungguhnya Alloh mengharamkan atas kalian" yang demikian beliau mengkhabarkan hal tersebut diharamkan. Terkadang beliau mengharamkan suatu yang disandarkan pada diri beliau sendiri namun dengan izin dari Alloh.

Makna بهيمة الأنعام (binatang ternak) yaitu onta, sapi dan kambing. Dan الأنعام  jama' dari نعم. Sebagaimana أسباب jama' dari سبب.
FirmanNya بهيمة dinamakan demikian karena tidak berbicara.
*FirmanNya إِلَّا مَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ "...kecuali yang akan disebutkan kepadamu.." yakni kecuali yang akan disebutkan kepada kalian dalam surat ini yang disebutkan dalam firmanNya -ta'ala-:

حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحۡمُ ٱلۡخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيۡرِ ٱللَّهِ بِهِۦ

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah"(QS Al-Ma'idah: 3)

Istisna' (pengecualian) di sini ada yang terpisah dan ada yang tersambung. (Pengharaman)Bangkai yang berasal binatang ternak maka ini bersambung. Sedangkan (pengharaman) daging babi maka ini terpisah sebab babi tidak termasuk binatang ternak.

* FirmanNya: غَيۡرَ مُحِلِّي ٱلصَّيۡدِ "dengan tidak menghalalkan berburu"  yaitu orang yang membunuhnya ketika ihram; karena orang yang melakukan sesuatu seakan seperti orang menghalalkannya. Dan ٱلصَّيۡدِ hewan darat liar yang boleh dimakan. Ini adalah berburu yang diharamkan dalam ihram.

Dan firmanNya:
إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ مَا يُرِيدُ
"Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan yang Dia kehendaki"
Ini adalah iradah (kehendak) syar'iyyah karena pada kedudukan pensyariatan. Dan bisa juga dikatakan iradah syar'iyyah kauniyah. Dan kita membawa penafsiran hukum kepada hukum kauni dan syar'i. Maka apa pun yang dikehendakiNya secara kauni maka Dia menetapkannya atau menjadikannya terjadi. Dan apa yang Dia kehendaki secara syar'i maka Dia menetapkannya dan untuk para hambaNya.

Dalam ayat ini terdapat nama Alloh yaitu: Alloh. Dan di antara sifatNya yaitu: At-Tahlil (penghalalan), Al-Hukmu (penetapan) dan Al-Iradah (kehendak).

Kamis, 26 November 2020

Fikih Muyassar: Pembahasan Wajib-Wajib Wudhu

Bab Wudhu (4): Pembahasan Wajib-Wajib Wudhu

Pembahasan Keempat: Wajib-wajib wudhu yaitu anggota wudhu (yang wajib dibasuh). Ada enam yaitu:
1. Membasuh wajah dengan sempurna, berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ
"Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu"(QS Al-Maidah: 6)
Dan termasuk membasuh wajah adalah berkumur-kumur dan istinsyaq(menghirup air ke hidung) sebab mulut dan hidung termasuk wajah.
2. Membasuh kedua tangan sampai siku berdasarkan firman Alloh -ta'ala-
وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ
"(Dan basuhlah) tangan-tangan kalian sampai siku"(QS Al-Maidah: 6)
3. Mengusap seluruh kepala termasuk dua telinga. Berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ
"Dan usaplah kepala-kepala kalian" (QS Al-Maidah: 6)
Dan sabda Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
الأذنان من الرأس
"Dua telinga termasuk kepala" (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dishahihkan Syaikh Al-Albany shahih Ibnu Majah dalam As-Silsilah as-Shahihah)
sehingga dengan dengan tidak boleh mengusap sebagian kepala dan membiarkan sebagian yang lain.


4. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki berdasarkan firman Alloh -:
وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
"(Dan basuhlah) kaki-kaki kalian"(QS AlMaidah 6)
5. Tartib (berurutan) karena Alloh -ta'ala- menyebutkannya secara berurutan. Dan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- berwudhu' secara berurutan sesuai yang disebutkan Alloh -subhanahu wa ta'ala-: mulai wajah, lalu kedua tangan, lalu kepala, kemudian kedua kaki sebagaimana hal ini terdapat dalam sifat wudhu'nya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dalam hadits Abdullah bin Zaid dan yang semisalnya.
6. Al-Muwalah (langsung) yakni membasuh anggota wudhu berikutnya setelah membasuh anggota wudhu sebelumnya secara langsung tanpa menundanya karena Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- berwudhu' secara bersambung. Dan berdasarkan hadits Kholid bin Ma'dan:
أن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - رأى رجلاً يصلي وفي ظهر قدمه لُمعَةٌ قدر الدرهم لم يصبها الماء، فأمره أن يعيد الوضوء
"Bahwasannya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- melihat seorang laki-laki sholat sedangkan di punggung kakinya ada bercak seukuran dirham yang tidak tersentuh air. Maka beliau memerintahkan untuk mengulangi wudhu'nya". (HR Ahmad dishahihkan Syaikh Al-Albani).
Seandainya muwalah tidaklah syarat (sahnya wudhu) niscaya beliau memerintahkan mencuci bagian yang terlewatkan (tidak terbasuh) dan beliau tidak memerintahkan mengulangi wudhu secara keseluruhan.
Lum'ah yaitu bagian kulit yang tidak terbasuh air pada saat wudhu atau mandi.


Diterjemahkan dari kitab Fikih Muyassar
المسألة الرابعة: فروضه -أي أعضاؤه-:
وهي ستة:
١ - غسل الوجه بكامله؛ لقوله تعالى: (إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ) [المائدة: ٦]، ومنه المضمضة والاستنشاق؛ لأن الفم والأنف من الوجه.
٢ - غسل اليدين إلى المرفقين؛ لقوله تعالى: (وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ) [المائدة: ٦].
٣ - مسح الرأس كله مع الأذنين؛ لقوله تعالى: (وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ) [المائدة: ٦].
وقوله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (الأذنان من الرأس) (٢). فلا يُجزئ مسح بعض الرأس دون بعضه.
٤ - غسل الرجلين إلى الكعبين؛ لقوله تعالى: (وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ) [المائدة: ٦].
٥ - الترتيب: لأن الله تعالى ذكره مرتباً؛ وتوضأ رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مرتباً على حسب ما ذكر الله سبحانه: الوجه، فاليدين، فالرأس، فالرجلين، كما ورد ذلك في صفة وضوئه - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - في حديث عبد الله بن زيد (١) وغيره.
٦ - الموالاة: بأن يكون غسل العضو عقب الذي قبله مباشرة بدون تأخير، فقد كان النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يتوضأ متوالياً، ولحديث خالد بن معدان: (أن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - رأى رجلاً يصلي وفي ظهر قدمه لُمعَةٌ قدر الدرهم لم يصبها الماء، فأمره أن يعيد الوضوء) (٢)، فلو لم تكن الموالاة شرطاً لأمره بغسل ما فاته، ولم يأمره بإعادة الوضوء كله. واللُّمْعَة: الموضع الذي لم يصبه الماء في الوضوء أو الغسل.


(١) رواه البخاري برقم (١)، ومسلم برقم (١٩٠٧).
(٢) رواه الترمذي برقم (٣٧) وابن ماجه برقم (٤٤٣) وصححه الألباني (صحيح سنن ابن ماجه برقم ٣٥٧، والسلسلة الصحيحة برقم ٣٦) وأفاض الشيخ -رحمه الله- في جمع طرقه والكلام عليه.

(١) أخرجه مسلم برقم (٢٣٥).
(٢) رواه أحمد (٣/ ٤٢٤)، وأبو داود برقم (١٧٥)، وصححه الألباني. انظر إرواء الغليل (١/ ١٢٧).

Selasa, 24 November 2020

Pembagian Asmaul Husna dari sisi Pemutlakannya kepada Alloh -'azza wa jalla-



Pertanyaan: Berapa macam pembagian asmaul husna dari sisi pemutlakannya kepada Alloh 'azza wa jalla?

Jawab:
Di antara nama-nama Alloh ada yang dimutlakkan kepada Alloh secara tersendiri maupun dengan nama yang lain, yaitu yang mengandung sifat kesempurnaan dengan mutlak. Seperti  Al-Hayyu (Maha Hidup), Al-Qayyum(Maha Mengurusi MakhlukNya), Al-Ahad (Maha Esa), As-Shomad (Tempat bergantung bagi para makhlukNya).

Dan di antara nama-nama Alloh ada yang dimutlakkan hanya dengan muqabalahnya (sifat kebalikannya).
Yaitu, apabila disebutkan sendirian mengesankan sifat yang kurang seperti Adh-Dhaar (yang memberi mudharat) An-Nafii' (Yang memberi manfaat), Al-Khafidh (Yang Merendahkan) Ar-Rafii' (Yang Meninggikan), Al-Mu'thi (Yang Memberi Karunia) Al-Manii' (Yang Menghalangi),  Al-Mu'izz (Yang Memuliakan) Al-Mudzill (Yang Menghinakan) dan yang semisalnya. Tidak boleh memutlakkan Adh-Dhar (Yang Memberi mudharat), Al-Khafidh (Yang Merendahkan), Al-Manii' (Yang Menghalangi) dan Al-Mudzill (Yang Menghinakan) secara sendirian. Dan nama-nama itu tidak dimutlakkan sama sekali dalam wahyu, dalam Al-Qur'an tidak pula dalam As-Sunnah. Demikian pula namaNya Al-Muntaqim (Pemilik siksaan) tidaklah disebutkan dalam Al-Qur'an kecuali dengan menyebutkan hal yang berkaitan dengannya seperti firman Alloh ta'ala:
إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ
"Sungguh, Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berdosa" (QS Sajdah: 22)
Atau dengan menyandarkan ذو (pemilik) kepada sifat yang musytaq darinya sebagaimana firman Alloh -ta'ala-:
وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ
"Allah Mahaperkasa lagi mempunyai hukuman"(QS Ali Imron: 4)




[أقسام الأسماء الحسنى من جهة إطلاقها على الله عز وجل]
س: كم أقسام الأسماء الحسنى من جهة إطلاقها على الله عز وجل؟
جـ: منها ما يطلق على الله مفردا أو مع غيره، وهو ما تضمن صفة الكمال بأي إطلاق، كالحي القيوم الأحد الصمد ونحو ذلك، ومنها ما لا يطلق على الله إلا مع مقابله، 
وهو ما إذا أفرد أوهم نقصا كالضار النافع، والخافض الرافع، والمعطي المانع، والمعز المذل، ونحو ذلك، فلا يجوز إطلاق الضار ولا الخافض ولا المانع ولا المذل على انفراده، ولم يطلق قط شيء منها في الوحي كذلك لا في الكتاب ولا في السنة، ومن ذلك اسمه تعالى المنتقم، لم يطلق في القرآن إلا مع متعلقه كقوله تعالى: {إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ} [السجدة: ٢٢] أو بإضافة ذو إلى الصفة المشتق منها كقوله تعالى: {وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ} [آل عمران: ٤] .

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-
 

Jumat, 06 November 2020

Pembagian Penunjukkan Asmaul Husna Berdasarkan Kandungannya


Pertanyaan:
Ada berapa macam penunjukkan asmaul husna berdasarkan kandungannya?

Jawab:
Ada empat macam:

PERTAMA: isim alam (nama) yang mencakup seluruh makna-makna asmaul husna yaitu Alloh. Oleh karenanya seluruh asmaul menjadi sifat bagiNya, sebagaimana firman Alloh -ta'ala-:
هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ
"Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa" (QS Al-Hasyr: 24) 
Dan yang semacamnya. Dan isim Alloh sama sekali tidak pernah menjadi tabi'(mengikuti) kepada asma selainnya.

KEDUA: asma yang menjadi sifat Dzat Alloh -'azza wa jalla- . Seperti nama Alloh -ta'ala- As-Samii' (Yang Maha Mendengar) yang mengandung pendengaranNya yang melingkupi seluruh suara, baik yang tersembunyi ataupun yang terang terangan. Dan namanya Al-Bashiir (Yang Maha Melihat) yang mengandung penglihatanNya yang melingkupi seluruh yang kelihatan baik yang samar maupun yang jelas. Dan namaNya Al-Aliim(Yang Maha Mengetahui) yang mengandung ilmuNya yang meliputi (segala sesuatu) yang: 
لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرُ
"Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah baik yang di langit maupun yang di bumi, yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar" (QS Saba' : 3)

Dan namaNya Al-Qadiir(Yang Maha Kuasa) yang mengandung kuasaNya atas segala sesuatu baik dalam mengadakan atau pun meniadakan sesuatu.

KETIGA: yaitu nama yang mengandung sifat fi'liyah (perbuatan) Alloh seperti Al-Khaliq (Yang Menciptakan), Ar-Raaziq (Yang Memberi Rezeki), Al-Barii(Yang Mengadakan), Al-Mushowwir (Yang Membentuk Rupa) dan yang selainnya.

KEEMPAT: nama yang mengandung pensucian Alloh -ta'ala- dari seluruh sifat-sifat kekurangan seperti Al-Qudus As-Salam(Yang Maha Suci dan Maha Sejahtera)







[أقسام دلالة الأسماء الحسنى من جهة التضمن]
س: على كم قسم دلالة الأسماء الحسنى من جهة التضمن؟
جـ: هي على أربعة أقسام، الأول: الاسم العلم المتضمن لجميع معاني الأسماء الحسنى وهو الله، ولهذا تأتي الأسماء جميعها صفات له كقوله تعالى: {هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ} [الحشر: ٢٤] ونحو ذلك، ولم يأت هو قط تابعا لغيره من الأسماء.
الثاني: ما يتضمن صفة ذات الله عز وجل كاسمه تعالى السميع المتضمن سمعه، الواسع جميع الأصوات، سواء عنده سرها وعلانيتها، واسمه البصير المتضمن بصره النافذ في جميع المبصرات سواء دقيقها وجليلها، واسمه العليم المتضمن علمه المحيط الذي {لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرُ} [سبأ: ٣] واسمه القدير المتضمن قدرته على كل شيء إيجادا وإعداما، وغير ذلك. 
الثالث: ما يتضمن صفة فعل الله كالخالق الرازق البارئ المصور وغير ذلك. الرابع: ما يتضمن تنزهه تعالى وتقدسه عن جميع النقائص كالقدوس السلام.

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Senin, 02 November 2020

Mushtalahul Hadits(2): Pembagian Kabar Berdasarkan Jalur Periwayatannya: Hadits Mutawatir


Diterjemahkan dari kitab Mushtalahul Hadits karya Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahulloh-

Pembagian khabar berdasarkan jalur periwayatannya yang sampai kepada kita. Berdasarkan jalur periwayatannya kepada kita, khabar terbagi dua macam: Mutawatir dan Ahad.

PERTAMA: MUTAWATIR
Definisi, pembagian beserta contohnya dan faidahnya.

A. Definisi Mutawatir

ما رواه جماعة يستحيل في العادة أن يتواطؤوا على الكذب، وأسندوه إلى شيء محسوس.
Mutawatir yaitu hadits yang diriwayatkan jamaah yang secara kebiasaan mereka mustahil untuk bersepakat untuk berdusta; dan hadits ini disandarkan kepada sesuatu yang dapat diindera.

B. Mutawatir terbagi dua yaitu mutawatir secara lafadz dan makna, dan mutawatir secara makna saja.
1. Mutawatir secara lafadz dan makna yaitu yang para periwayat bersepakat pada hadits tersebut dari segi lafadz dan maknanya.
Misalnya hadits Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
من كذب عليَّ مُتعمداً فليتبوَّأ مقعدَه من النار
"Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mengambil tempat duduknya dari neraka"(HR Bukhari dan Muslim)
Hadits ini telah diriwayatkan lebih dari enam puluh shahabat di antaranya adalah sepuluh shahabat yang dijamin surga. Dan diriwayatkan dari para shahabat ini oleh banyak orang.
2. Mutawatir secara makna: yaitu hadits yang para periwayatnya bersepakat (sama) dalam maknanya yang global namun masing-masing hadits berbeda-beda dengan lafadznya yang khusus. Misalnya hadits tentang syafaat, mengusap dua khuf(sepatu). Sebagian ulama merangkumnya salam syair:
مما تواترَ حديثُ مَنْ كَذَبْ
وَمَنْ بَنَى للهِ بيتاً واحْتَسَبْ
ورؤيةٌ شَفَاعَةٌ والْحَوضُ
وَمْسُحُ خُفَّيْنِ وَهذى بَعْضُ
"Di antara hadits yang mutawatir adalah hadits مَنْ كَذَبْ dan hadits وَمَنْ بَنَى للهِ بيتاً واحْتَسَبْ dan hadits ru'yah (melihat Alloh bagi penghuni surga), syafaat, telaga Nabi, mengusap dua sepatu dan di antaranya saja"

Hadits Mutawatir dengan pembagiannya ini memberi faidah:
Pertama: berfaidah Ilmu, yaitu kepastian benarnya penisbatan hadits kepada orang yang diambil haditsnya.
Kedua: Beramal dengan kandungannya dengan membenarkannya jika berupa kabar dan mempraktekkannya jika berupa tuntutan (mengerjakannya).

أقسام الخبر باعتبار طرق نقله إلينا:
ينقسم الخبر باعتبار طرق نقله إلينا إلى قسمين: متواتر وآحاد.

الأول - المتواتر:
أ - تعريفه ب - أقسامه مع التمثيل ج - ما يفيده:
أ - المتواتر:
ما رواه جماعة يستحيل في العادة أن يتواطؤوا على الكذب، وأسندوه إلى شيء محسوس.
ب - وينقسم المتواتر إلى قسمين:
متواتر لفظاً ومعنىً، ومتواتر معنىً فقط.
فالمتواتر لفظاً ومعنى: ما اتفق الرواة فيه على لفظه ومعناه.
مثاله: قوله صلّى الله عليه وسلّم: "من كذب عليَّ مُتعمداً فليتبوَّأ مقعدَه من النار" (١) . فقد رواه عن النبي صلّى الله عليه وسلّم أكثر من ستين صحابيًّا، منهم العشرة المبشرون بالجنة، ورواه عن هؤلاء خلق كثير.
والمتواتر معنى: ما اتفق فيه الرواة على معنىً كلي، وانفرد كل حديث بلفظه الخاص.
مثاله: أحاديث الشفاعة، والمسح على الخفين، ولبعضهم:
مما تواترَ حديثُ مَنْ كَذَبْ
وَمَنْ بَنَى للهِ بيتاً واحْتَسَبْ
ورؤيةٌ شَفَاعَةٌ والْحَوضُ
وَمْسُحُ خُفَّيْنِ وَهذى بَعْضُ

جـ - والمتواتر بقسميه يفيد:
أولاً: العلم: وهو: القطع بصحة نسبته إلى من نقل عنه.
ثانياً: العمل بما دل عليه بتصديقه إن كان خبراً، وتطبيقه إن كان طلباً.


(١) انظر: البخاري (١٢٩١) كتاب الجنائز، ٣٤- باب ما يكره من النياحة على الميت ... عن المغيرة. وهو في البخاري أيضا (١١٠) كتاب العلم، ٣٨- باب إثم من كذب على النبي صلى الله عليه وسلم. ومسلم (٣) المقدمة، ٢- باب تغليظ الكذب على رسول الله صلى الله عليه وسلم. وقارن مع كلام الحافظ في << فتح الباري>> (١/٢٠٣- فما بعد) .
  

Ushul Tafsir (2): Nuzulul Qur'an


(Diterjemahkan dari kitab Ushulun Fit tafsiir karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahulloh-)

Turunnya Al-Qur'an pertama yang turun kepada Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- pada malam lailatul qadar di bulan Ramadhan. Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
"Sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam lailatul qadar" (QS Al-Qadar: 1)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (٣) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (٤)
"sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah" (Ad-Dukhan: 3-4)

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)" (QS Al-Baqarah: 185)

Umur Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- tatkala pertama kali Al-Qur'an turun kepada beliau adalah empat puluh tahun menurut pendapat yang masyhur menurut para ulama. Dan ini telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas -radhiyallohu 'anhuma- , Atho', Sa'id bin Musayyib dan yang selainnya. Ini merupakan usia yang telah mencapai kematangan berfikir, kesempurnaan akal dan intelektualitas.

Dan yang menyampaikan Al-Qur'an dari sisi Alloh kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- adalah Jibril, salah seorang Malaikat Al-Muqarrabin (yang dekat dengan Alloh) yang mulia.

Alloh -ta'ala- berfirman tentang Al-Qur'an:
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٩٢) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (١٩٣) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (١٩٤) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (١٩٥)
"Dan sungguh, (Al-Qur'an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas" (QS Asy-Syuara: 192-195)

Jibril -alaihis salam- memiliki sifat-sifat yang terpuji dan agung berupa kemuliaan, kekuatan, dan kedekatannya kepada Alloh -ta'ala-, memiliki kedudukan dan kehormatan di antara para malaikat, memiliki sifat amanah, kebaikan dan kesucian yang menjadikan ia layak untuk menjadi utusan Alloh -ta'ala- untuk menyampaikan wahyunya kepada para utusanNya. Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (١٩) ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (٢٠) مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِين (٢١ٍ)
"sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ‘Arsy, yang di sana (di alam malaikat) ditaati dan dipercaya."(QS At-Takwiir: 19-21)
عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى (٥) ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى (٦) وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى (٧)
"yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai keteguhan; maka (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli (rupa yang bagus dan perkasa), Sedang dia berada di ufuk yang tinggi."(QS An-Najm: 5-7)

Firman Alloh -ta'ala:
قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدىً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
"Katakanlah, “Rohulkudus (Jibril) menurunkan Al-Qur'an itu dari Tuhanmu dengan kebenaran, untuk meneguhkan (hati) orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS An-Nahl: 102)

Dan Alloh -ta'ala- telah menjelaskan kepada kita sifat-sifat jibril yang membawa turun wahyu Al-Qur'an dari sisi Alloh yang hal ini menunjukkan agungnya Al-Qur'an dan penjagaan Alloh -ta'ala- . Sesungguhnya tidaklah diutus seorang yang agung melainkan dengan membawa urusan yang agung pula.

Bersambung...

١- نزول القرآن

نزل القرآن أول ما نزل على الرسول صلى الله عليه وسلم في ليلة القدر في رمضان، قال الله تعالى: (إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ) (القدر: ١) (إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (٣) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (٤) (الدخان: ٣-٤) . (شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ) (البقرة: الآية ١٨٥) .
وكان عمر النبي صلى الله عليه وسلم أول ما نزل عليه أربعين سنة على المشهور عند أهل العلم، وقد روي عن ابن عباس رضي الله عنهما وعطاء وسعيد بن المسيِّب وغيرهم. وهذه السِّن هي التي يكون بها بلوغ الرشد وكمال العقل وتمام الإدراك.
والذي نزل بالقرآن من عند الله تعالى إلى النبي صلى الله عليه وسلم، جبريل أحد الملائكة المقربين الكرام،

قال الله تعالى عن القرآن: (وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٩٢) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (١٩٣) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (١٩٤) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (١٩٥) (الشعراء: ١٩٢- ١٩٥) .

وقد كان لجبريل عليه السلام من الصفات الحميدة العظيمة، من الكرم والقوة والقرب من الله تعالى والمكانة والاحترام بين الملائكة والأمانة والحسن والطهارة؛ ما جعله أهلاً لأن يكون رسول الله تعالى بوحيه إلى رسله قال الله تعالى: (إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ " (١٩) ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (٢٠) مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِين (٢١ٍ) (التكوير: ١٩- ٢١) . وقال: (عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى (٥) ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى (٦) وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى (٧) (لنجم: ٥-٧) .

وقال: (قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدىً وَبُشْرَى
 لِلْمُسْلِمِينَ) (النحل: ١٠٢) وقد بين الله تعالى لنا أوصاف جبريل الذي نزل بالقرآن من عنده وتدل على عظم القرآن وعنايته تعالى فإنه لا يرسل من كان عظيما إلا بالأمور العظيمة.

Jumat, 30 Oktober 2020

Penunjukkan Asmaul Husna dan Contoh-Contohnya

Pertanyaan:
Ada berapa macam penunjukkan Asmaul Husna?

Jawab:
Ada tiga macam:
1. Penunjukkan kesesuainnya dengan  Dzat (Alloh).
2. Penunjukkannya pada sifat-sifat yang terkandung dari nama-namaNya yang berakar kata darinya.
3.  Penunjukkannya pada sifat-sifat lainnya yang tidak berakar kata dari nama-namaNya yang merupakan konsekwensi darinya.

Pertanyaan: Apa contohnya?
Jawab:
Misalnya adalah nama Alloh -ta'ala- Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang menunjukkan pada Dzat yang memiliki nama ini yaitu Alloh -azza wa jalla- .
Dan (penunjukkannya) pada sifat yang terkandung dari akar kata namNya yaitu Ar-Rahmah (kasih sayang). Dan penunjukkannya pada sifat-sifat selainnya yang tidak berakar kata dari namaNya (Ar-Rahman dan Ar-Rahiim) sebagai bentuk konsekwensinya seperti sifat Al-Hayaah (Maha Hidup) dan Al-Qudrah (Maha Mampu). Dan demikian pula seluruh nama-namaNya.
Hal ini berbeda dengan makhluk yang terkadang dinamakan hakiim(Baijaksana) akan terapi dia bodoh, atau Hakam(yang memutuskan hukum dengan adil) terkadang dia dzalim, atau Aziz (Perkasa) namun dia lemah, atau dinamai Syariif(mulia) namun orang hina, dinamai Kariim(mulia) namun rendah jiwanya, dinamai sholih namun dia tholih (jahat), dinamai Sa'iid (bahagia) namun dia orang yang celaka, dinamai Asad (singa), Handzolah (sejenis labu yang pahit) dan Alqomah(labu) namun dia tidaklah demikian. Maka Alloh -subhanahu wa ta'ala- dan segala pujian bagiNya; Dia sebagaimana yang Dia sifatkan atas diriNya melebihi pensifatan makhluk atas diriNya.


[دلالة الأسماء الحسنى وأمثلتها]
س: على كم نوع دلالة الأسماء الحسنى؟
جـ: هي على ثلاثة أنواع، دلالتها على الذات مطابقة، ودلالتها على الصفات المشتقة منها تضمنا، ودلالتها على الصفات التي ما اشتقت منها التزاما.
س: ما مثال ذلك؟
جـ: مثال ذلك اسمه تعالى الرحمن الرحيم يدل على ذات المسمى، وهو الله عز وجل مطابقة، وعلى الصفة المشتق منها وهي الرحمة تضمنا، وعلى غيرها من الصفات التي لم تشتق منها كالحياة والقدرة التزاما، وهكذا سائر أسمائه، وذلك بخلاف المخلوق، فقد يسمى حكيما وهو جاهل، وحكما وهو ظالم، وعزيزا وهو ذليل، وشريفا وهو وضيع وكريما وهو لئيم، وصالحا وهو طالح، وسعيدا وهو شقي، وأسدا وحنظلة وعلقمة وليس كذلك، فسبحان الله وبحمده هو كما وصف نفسه، وفوق ما يصفه به خلقه.

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Contoh Asmaul Husna Dalam Hadits

Contoh Asma'ul Husna dari hadits.

Pertanyaan:
Apa contoh Asma'ul Husna dari As-Sunnah (hadits)?

Jawab:
Misalnya adalah sabda Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
لا إله إلا الله العظيم الحليم، لا إله إلا الله رب العرش العظيم، لا إله إلا الله رب السماوات ورب الأرض ورب العرش الكريم
"Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Alloh yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tiada ilah melainkan Alloh Robb 'Arsy yang agung. Tiada ilah melainkan Alloh Robb langit dan Robb bumi dan Robb Arsy yang mulia" (HR Bukhari dan Muslim)

Dan sabda Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
يا حي يا قيوم يا ذا الجلال والإكرام
يا بديع السماوات والأرض
"Wahai (Alloh) Dzat yang hidup, wahai Dzat yang senantiasa mengurusi makhlukNya. Wahai Dzat yang memiliki kemuliaan. Wahai Dzat yang menciptakan langit dan bumi"
(HR Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa'i, Al-Hakim dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Dan sabda beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم
"Dengan menyebut nama Alloh yang dengan namaNya tidak ada sesuatu pun yang bisa membahayakan baik di bumi maupun di langit. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"
(HR Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa'i dan At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Sabda beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
اللهم عالم الغيب والشهادة، فاطر السماوات والأرض، رب كل شيء ومليكه
"Ya Alloh yang mengetahui hal yang ghaib dan yang nampak, wahai Pencipta langit dan bumi, wahai Tuhannya segala sesuatu dan yang menguasainya" (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ad-Darimi, dan Al Hakim. Dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Sabda beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
اللهم رب السماوات السبع، ورب العرش العظيم، ربنا ورب كل شيء، فالق الحب والنوى، منزل التوراة والإنجيل والقرآن، أعوذ بك من شر كل ذي شر أنت آخذ بناصيته، أنت الأول فليس قبلك شيء، وأنت الآخر فليس بعدك شيء، وأنت الظاهر فليس فوقك شيء، أنت الباطن فليس دونك شيء
"Ya Alloh, Tuhan langit yang tujuh dan Tuhan 'Arsy yang agung. Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu. Yang menumbuhkan butir-butir (padi-padian) dan biji (kurma), Yang menurunkan Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Aku berlindung kepadaMu dari segala sesuatu yang memiliki keburukan. Engkaulah yang memegang ubun-ubunnya. Engkaulah Al-Awwal tidak ada sesuatu pun sebelum Engkau. Engkaulah Al-Akhir, tidak ada sesuatu pun sesudahMu. Engkaulah Adz-Dzahir, tidak ada sesuatu pun di atasMu. Engkaulah Al-Bathin tidak ada sesuatu pun di bawahMu.(HR Muslim dan At-Tirmidzi)

Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
اللهم لك الحمد، أنت نور السماوات والأرض ومن فيهن، ولك الحمد أنت قيوم السماوات والأرض ومن فيهن
"Ya Alloh, bagiMu seluruh pujian. Engkau adalah cahaya langit dan bumi dan siapa pun yang ada di dalamnya. Dan bagiMu lah seluruh pujian. Engkaulah pengurus langit dan bumi dan siapa pun yang ada di dalamNya".(HR At-Tirmidzi, dan dia berkata hadits Hasan Shahih)

Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
اللهم إني أسألك بأني أشهد أنك أنت الله لا إله إلا أنت الأحد الصمد الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد
"Ya Alloh, sesungguhnya aku memohon kepadaMu dengan aku bersaksi bahwa sesungguhya Engkau adalah Alloh, tiada Ilah melainkan Engkau Al-Ahad (Maha Esa), As-Shomad(tempat bergantung) yang tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada sesuatu pun yang setara denganNya" (HR Tirmidzi, dia berkata hadits Hasan Gharib)

Sabda beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
يا مقلب القلوب
"Wahai (Alloh) Dzat yang membolak balikkan hati"(HR At-Tirmidzi, Al-Bukhari dan Ibnu Majah)

Dan hadits-hadits semacam ini banyak.

[مثال الأسماء الحسنى من السنة]
س: ما مثال الأسماء الحسنى من السنة؟
جـ: مثل قوله صلى الله عليه وسلم: «لا إله إلا الله العظيم الحليم، لا إله إلا الله رب العرش العظيم، لا إله إلا الله رب السماوات ورب الأرض ورب العرش الكريم» (١) وقوله صلى الله عليه وسلم: «يا حي يا قيوم يا ذا الجلال والإكرام
يا بديع السماوات والأرض» (١) وقوله صلى الله عليه وسلم: «بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم» (٢) وقوله صلى الله عليه وسلم: «اللهم عالم الغيب والشهادة، فاطر السماوات والأرض، رب كل شيء ومليكه» (٣) . الحديث، وقوله صلى الله عليه وسلم: «اللهم رب السماوات السبع، ورب العرش العظيم، ربنا ورب كل شيء، فالق الحب والنوى، منزل التوراة والإنجيل والقرآن، أعوذ بك من شر كل ذي شر أنت آخذ بناصيته، أنت الأول فليس قبلك شيء، وأنت الآخر فليس بعدك شيء، وأنت الظاهر فليس فوقك شيء، أنت الباطن فليس دونك شيء» (٤) . الحديث، وقوله صلى الله عليه وسلم: «اللهم لك الحمد، أنت نور السماوات والأرض ومن فيهن، ولك الحمد أنت قيوم السماوات والأرض ومن فيهن» (١) . الحديث، وقوله صلى الله عليه وسلم: «اللهم إني أسألك بأني أشهد أنك أنت الله لا إله إلا أنت الأحد الصمد الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد» (٢) . وقوله صلى الله عليه وسلم: «يا مقلب القلوب» (٣) . الحديث، وغير ذلك كثير.

(١) (صحيح) من حديث أنس ولفظه: ". . بديع السماوات والأرض، يا ذا الجلال والإكرام، يا حي يا قيوم. . " رواه أحمد (٣ / ١٢٠، ١٥٨، ٢٤٥) ، وأبو داود (١٤٩٥) ، والنسائي (٣ / ٥٢) ، وسكت عنه الإمام أبو داود، وقد صححه الشيخ الألباني ورواه الحاكم (١ / ٥٠٤) وقال: هذا حديث صحيح على شرط مسلم، ولم يخرجاه ووافقه الذهبي.
(٢) (صحيح) من حديث عثمان بن عفان رضي الله عنه، رواه أحمد (١ / ٦٢، ٦٦، ٧٢) ، وأبو داود (٥٠٨٨) ، والترمذي (٣٣٨٨) ، وابن ماجه (٣٨٦٩) ، قال الإمام الترمذي: حسن صحيح غريب وسكت عنه الإمام أبو داود، وقال الحافظ العراقي: رواه أصحاب السنن وابن حبان والحاكم وصححه من حديث عثمان، اهـ. قال الزبيدي: وكذلك رواه عبد الله بن أحمد في زوائد المسند وابن السني وأبو نعيم في الحلية والضياء في المختارة، ورواه ابن أبي شيبة في المصنف بلفظ: " من قال ذلك إذا أصبح وإذا أمسى ثلاث مرات. . " (إتحاف ٥ / ١٣١، ١٣٢) ، وقد صححه الشيخ الألباني.

(٣) (صحيح) من حديث أبي هريرة وعبد الله بن عمرو. رواه أحمد (١ / ٩، ١٠، ١٤، ٢ / ١٩٦، ٢٩٧) ، وأبو داود [٥٠٦٧] ، والترمذي [٣٥٢٩] ، والدارمي [٦٢٩٢] ، والحاكم [١ / ٥١٣] ، وقد صححه الألباني وقال الحاكم: هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه، ووافقه الذهبي، قال الشيخ شاكر: إسناده صحيح، وقال الترمذي: هذا حديث حسن غريب من هذا الوجه.
(٤) رواه مسلم (الذكر ٦١، ٦٢، ٦٣) ، وأحمد (٢ / ٣٨١، ٤٠٤، ٥٣٦) .
 
(١) رواه البخاري (٧٤٣١، ٧٤٢٦) ، ومسلم (الذكر / ٨٣) .

(١) رواه البخاري (١١٢٠، ٦٣١٧) ، ومسلم (مسافرين / ١٩٩) .
(٢) (صحيح) رواه ابن ماجه (٣٨٥٧) ، والترمذي (٣٤٧٥) ، وأحمد (٥ / ٣٤٩، ٣٥٠، ٣٦٠) من حديث بريدة الأسلمي، ورواه الحاكم (١ / ٢٦٧) ، والنسائي (١٣٠١) من حديث محجن بن الأدرع، قال الترمذي: هذا حديث حسن غريب، وقال الحاكم: هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه، ووافقه الذهبي، وقد صححه الألباني.
(٣) (صحيح) ، رواه الترمذي (٣٥٢٢) ، وأحمد (٦ / ٢٩٤، ٣١٥) من حديث أم سلمة، ورواه أحمد (٤ / ١٨٢) من حديث نواس بن سمعان، ورواه الحاكم (٢ / ٢٨٨) من حديث جابر بن عبد الله، ورواه أحمد أيضا (٦ / ٩١، ٢٥١) من حديث عائشة رضي الله عنها، ورواه الترمذي أيضا (٢١٤٠) من حديث أنس بن مالك، قال الإمام الترمذي: (هذا حديث حسن) قلت: قال ذلك الترمذي على حديث أم سلمة وحديث أنس، لكنه عقب على حديث أنس بقوله: وحديث أبي سفيان عن أنس أصح. قال الألباني معقبا على تحسين الترمذي: قلت: وهو على شرط مسلم (مشكاة ١٠٢) ، وقد صححه في تعليقه على كتاب السنة لابن أبي عاصم (١ / ح ٢٢٥) .
 

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Rabu, 28 Oktober 2020

Taisir (76): Penjelasan Bacaan Amiin setelah Bacaan Al-Fatihah dalam Sholat

Hadits - 76
عَنْ أبي هُريرةَ رضيَ الله عَنْهُ أنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: "إذَا أمّنَ الإمَامُ فَأمّنُوا، فَإنًهُ من وافَقَ تَأمِينُهُ تَأمين اْلملائِكَةِ، غفِرَ له مَا تَقدمَ مِنْ ذَنِبه ".
"Dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu- bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Apabila imam mengucapkan amin maka ucapkanlah amin. Barang siapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan aminnya malaikat maka baginya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu" (HR Bukhari dan Muslim)

Makna Global:
Do'a Al-Fatihah adalah do'a yang paling baik dan paling bermanfaatnya. Oleh karena itu disyariatkan bagi orang yang sholat -baik imam maupun makmum atau pun yang sholat sendirian- untuk mengucapkan amin setelahnya, sebab ucapan amin adalah stampelnya (penutup) do'a. Oleh karenanya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kita mengucapkan amin ketika imam mengucapkan amin sebab waktu itu adalah waktu malaikat mengucapkan 'amin'. Barang siapa yang ucapan aminnya berbarengan dengan ucapan aminnya malaikat maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni oleh Alloh.

Ini adalah keberuntungan yang nyata dan kesempatan yang berharga yaitu diampuninya dosa-dosa dengan sebab-sebab yang mudah. Maka tidak ada yang terluput darinya kecuali memang orang-orang yang terhalang (mendapatkannya).

Perbedaan pendapat para ulama:
Imam Malik dalam salah satu riwayatnya berpendapat bahwa mengucapkan amin tidak disyariatkan bagi imama. Beliau menakwilkan hadits kepada makna: Jika bacaan imam sampai pada pengucapan amin dia tidak perlu mengucapkan amin.

Asy-Syafi'i dan Ahmad berpendapat akan disunanhkannya mengucapkan amiin bagi setiap imam, makmum dan orang yang sholat sendirian berdasarkan dzahir dari hadits yang kita bahas ini dan hadits-hadits selainnya.
Adz-Dzohiriyah berpendapat wajib bagi setiap orang yang sholat. Ini yang nampak dari hadits bagi para makmum sebab perintah berkonsekwensi pewajiban. 
Hukum-hukum yang dapat disimpulkan dari hadits:

1. Disyariatkannya mengucapkan 'amin' bagi imam, makmum dan orang yang sholat sendirian.
2. Sesungguhnya para malaikat mengaminkan do'anya orang-orang yang sholat. Dan yang jelas bahwa maksud mereka yang menghadiri sholat tersebut adalah malaikat di bumi dan di langit. Hal ini berdasarkan riwayat yang dibawakan oleh Al-Bukhari bahwa Nabi-shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
إذا قال أحدكم آمين، قالت الملائكة في السماء: آمين، فوافق أحدهما الآخر، غفر الله له ما تقدم من ذنبه
"Apabila salah seorang dari kalian mengucapkan 'amin' maka para malaikat di langit mengucapkan 'amin' sehingga berbarengan satu dengan lainnya. Alloh mengampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu"
3. Keutamaan ucapan 'amiin' bahwa hal itu adalah sebab diampuninya dosa-dosa. Akan tetapi menurut para ulama peneliti bahwa ampunan dalam hadits ini dan yang semisalnya adalah khusus dosa-dosa kecil. Ada pun dosa-dosa besar maka tiada lain dengan cara taubat.
4. Hendaklah orang yang berdo'a dan orang yang mengaminkan do'a dengan menghadirkan hati (khusyu' dan sungguh-sungguh -pent).
5. Imam Bukhari berdalilkan dengan hadits ini akan disyariatkannya imam membaca dengan jahr (keras) bacaan amiin sebab dikaitkan antara aminnya makmum dengan aminnya, dan tidak ada makmun yang mengetahuinya (ucapan amin imam -pent) kecuali dengan mendengarnya. Ini adalah pendapat jumhur.
6. Termasuk hal utama bagi orang berdo'a adalah menyerupai malaikat dalam segala sifatnya yang menjadi sebab terkabulnya do'a, seperti tunduk, khusyu' dan suci, halal pakaian, minuman dan makanan, hadirnya hati, dan senantiasa menghadapkan jiwa kepada Alloh dalam segala keadaan.

Diterjemah dari Taisir Alam Syarah Umdatul Ahkam.

الحديث الخامس
عَنْ أبي هُريرةَ رضيَ الله عَنْهُ أنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: "إذَا أمّنَ الإمَامُ فَأمّنُوا، فَإنًهُ من وافَقَ تَأمِينُهُ تَأمين اْلملائِكَةِ، غفِرَ له مَا تَقدمَ مِنْ ذَنِبه ".
المعنى الإجمالي:
دعاء فاتحة الكتاب هو أحسن الدعاء وأنفعه، لذا شرع للمصلى- إماما كان أو مأموماً أو منفرداً- أن يُؤَمن بعده، لأن التأمين طابع الدعاء.
فأمرنا النبي صلى الله عليه وسلم أن نؤمن إذا أمن الإمام، لأن ذلك هو وقت تأمين الملائكة، ومن وافق تأمينه تأمين الملائكة، غفر له ما تقدم من ذنبه.
وهذه غنيمة جليلة وفرصة ثمينة، ألا وهى غفران الذنوب بأيسر الأسباب، فلا يُفَوِّتها إلا محروم.
اختلاف العلماء:
ذهب مالك في إحدى الروايتين عنه، إلى أن التأمين لا يشرع في حق الإمام، وتأوَّل الحديث على معنى: إذا بلغ الإمام موضع التأمين، ولم يقصد التامين نفسه.
وذهب الشافعي وأحمد، إلى استحباب التأمين لكل من الإِمام والمأموم والمنفرد، لظاهر الحديث الذي معنا، وغيره.
وذهبت الظاهرية، إلى الوجوب على كل مصل.
وهو ظاهر الحديث في حق المأمومين، لأن الأمر يقتضي الوجوب.
ما يؤخذ من الحديث من الأحكام:
١- مشروعية التأمين للإمام، والمأموم، والمنفرد.
٢- أن الملائكة تؤمن على دعاء المصلين. والأظهر أن المراد منهم الذين
يشهدون تلك الصلاة من الملائكة في الأرض والسماء، واستدل لذلك بما أخرجه البخاري من أنه صلى الله عليه وسلم قال: " إذا قال أحدكم آمين، قالت الملائكة في السماء: آمين، فوافق أحدهما الآخر، غفر الله له ما تقدم من ذنبه ".
٣- فضيلة التأمين، وأنه سبب في غفران الذنوب.
لكن عند محققي العلماء أن التكفير في هذا الحديث وأمثاله، خاصُّ بصغائر الذنوب، أما الكبائر، فلا بد لها من التوبة.
٤- أنه ينبغي للداعي والمؤمّن على الدعاء، أن يكون حاضر القلب.
 ٥- استدل البخاري بهذا الحديث على مشروعية جهر الإمام بالتأمين، لأنه علق تأمين المؤتمين بتأمينه ولا يعلمونه إلا بسماعه. وهذا قول الجمهور.
٦- من الأفضل للداعي أن يشابه الملائكة في كل الصفات التي تكون سبباً في الإجابة، كالتضرع والخشوع والطهارة، وحل الملبس والمشرب والمأكل، وحضور القلب، والإقبال على الله في كل حال.

Minggu, 25 Oktober 2020

Mushtalahul Hadits(1): Definisi dan Manfaat Mempelajari Ilmu Mustholah Hadits


Diterjemahkan dari kitab Mushtalahul Hadits karya Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahulloh-

Bagian Pertama dari kitab Musthalahul Hadits
Musthalah Hadits:
1. Definisinya
2. Manfaatnya

A. Definisi Mushtalah hadits
علم يعرف به حال الراوي والمروي من حيث القَبول والرد.
"Ilmu untuk mengetahui keadaan rawi(periwayat hadits) dan yang diriwayatkan dari sisi diterima atau pun ditolaknya.

B. Manfaatnya:
معرفة ما يقبل ويرد من الراوي والمروي
Mengetahui rawi dan riwayat mana yang bisa diterima dan ditolak.

Hadits, Khabar, Atsar dan Hadits Qudsi
Hadits: segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- berupa ucapan, perbuatan, ketetapan maupun sifat.
Khabar: semakna dengan hadits; didefinisikan sebagaimana definisi hadits.
Dan ada yang mengatakan bahwa khabar adalah apa yang disandarkan kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan juga disandarkan kepada selain beliau sehingga lebih umum dan lebih luas dari pada hadits.

Atsar: segala sesuatu yang disandarkan kepada para shahabat atau tabi'in. Dan terkadang juga dimaksudkan untuk hal-hal yang disandarkan kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dengan taqyid (catatan bahwa itu berasal dari beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam) dengan dikatakan: "Dan dalam atsar yang diriwayatkan dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-..."
Hadits Qudsi: sesuatu yang diriwayatkan oleh Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dari Alloh -ta'ala-. Disebut juga dengan hadits Rabbany dan hadits ilahiy.
Misalnya sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-yang diriwayatkan dari Rabb-nya -ta'ala- bahwa Dia berfirman:
أنا عند ظن عبدي بي، وأنا معه حين يذكرني، فإن ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي، وإن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير منهم
"Sesungguhnya Aku sebagaimana prasangka hambaKu kepadaKu. Aku bersamanya ketika ia mengingatKu. Jika dia menyebutKu dalam diriNya maka Aku menyebutnya dalam diriKu. Jika dia menyebutKu dalam kumpulan orang banyak maka aku menyebutnya dalam kumpulan yang lebih baik dari mereka" (HR Bukhari dan Muslim)

Kedudukan hadits Qudsi berada di antara Al-Qut'an dan Hadits Nabawi. Al-Qur'anul Karim dinisbatkan kepada Alloh -ta'ala- baik secara lafadz dan makna. Hadits Nabawi disandarkan kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- secara lafadz dan makna. Sedangkan hadits Qudsi dinisbatkan kepada Alloh -ta'ala- secara makna namun tidak secara lafadz. Oleh karenanya tidak terhitung ibadah dengan membaca lafadz-lafadznya, tidak dibaca dalam sholat dan tidak ada tantangan kepada orang kafir (untuk membuat yang sepadan dengannya sebagaimana tantangan pada ayat-ayat Qur'an -pent.), tidaklah dinukil secara mutawatir sebagaimana Al-Qur'an bahkan dalam hadits Qudsi ada yang shohih, dhaif (lemah) dan maudhu'(palsu).

القسم الأول من كتاب (مصطلح الحديث)
مصطلح الحديث:
أ - تعريفه ب - فائدته:
أ - مصطلح الحديث:
علم يعرف به حال الراوي والمروي من حيث القَبول والرد.
ب - وفائدته:
معرفة ما يقبل ويرد من الراوي والمروي.
الحديث - الخبر - الأثر - الحديث القدسي:
الحديث: ما أضيف إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم من قول، أو فعل، أو تقرير، أو وصف.
الخبر: بمعنى الحديث؛ فَيُعَرَّف بما سبق في تعريف الحديث.
وقيل: الخبر ما أضيف إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم وإلى غيره؛ فيكون أعم من الحديث وأشمل.
الأثر: ما أضيف إلى الصحابي أو التابعي، وقد يراد به ما أضيف إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم مقيداً فيقال: وفي الأثر عن النبي صلّى الله عليه وسلّم.
الحديث القدسي: ما رواه النبي صلّى الله عليه وسلّم عن ربه - تعالى -، ويسمى أيضاً (الحديث الرباني) و (الحديث الإلهي)
مثاله: قوله صلّى الله عليه وسلّم فيما يرويه عن ربه - تعالى - أنه قال: "أنا عند ظن عبدي بي، وأنا معه حين يذكرني، فإن ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي، وإن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير منهم" (١)
ومرتبة الحديث القدسي بين القرآن والحديث النبوي، فالقرآن الكريم ينسب إلى الله تعالى لفظاً ومعنىً، والحديث النبوي ينسب إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم لفظاً ومعنىً (٢) ، والحديث القدسي ينسب إلى الله تعالى معنىً لا لفظاً، ولذلك لا يتعبد بتلاوة لفظه، ولا يقرأ في الصلاة، ولم يحصل به التحدي، ولم ينقل بالتواتر كما نقل القرآن، بل منه ما هو صحيح وضعيف وموضوع.

(١) رواه البخاري (٧٤٠٥) كتاب التوحيد، ١٥- باب قول الله تعالى: (ويحذركم الله نفسه) (آل عمران: ٢٨) . ومسلم (٢٦٧٥) كتاب الذكر والدعاء والتوبة والاستغفار، ١- باب الحث على ذكر الله تعالى.
(٢) يستثنى من ذلك ما علم أن النبي صلى الله عليه وسلم قاله بالوحي كالإخبار عن المغيبات في المستقبل، وكما في حديث يعلى بن أمية في الذي سأل النبي صلى الله عليه وسلم عمن أحرم بالعمرة وهو متضمخ بطيب، فسكت النبي صلى الله عليه وسلم حتى جاءه الوحي بذلك، فمثل هذا ينسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم لفظاً لا معنى (المؤلف) .
  

Sabtu, 24 Oktober 2020

Ushul Tafsir (1): Al-Qur'anul Karim


(Diterjemahkan dari kitab Ushulun fit Tafsir karya Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahulloh-)

Al-Qur'an secara bahasa mashdar dari قرأ yang bermakna تلا (membaca) atau bermakna جمع (mengumpulkan). Sebagaimana perkataanmu: قرأ قرءاً وقرآناً sebagaimana perkataanmu: غفر غَفْراً وغٌفرانا . Ada pun makna yang pertama (تلا) maka Al-Qur'an adalah mashdar isim maf'ul yakni bermakna متلوّ (yang dibaca). Ada pun berdasarkan makna yang kedua جَمَعَ (mengumpulkan) menjadi masdar yang bermakna isim fa'il yakni bermakna yang mengumpulkan karena Al-Qur'an mengumpulkan khabar-khabar dan hukum-hukum.
Dan Al-Qur'an secara syariat adalah kalam Alloh -ta'ala- yang diturunkan kepada RasulNya dan penutup para Nabi-Nya Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- yang diawali dari surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Naas. Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنْزِيلاً
"Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur'an kepadamu secara berangsur-angsur"(QS Al-Insan: 23)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآناً عَرَبِيّاً لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
"Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Qur'an berbahasa Arab, agar kamu mengerti" (QS Yusuf: 2)

Sesungguhnya Alloh -ta'ala- telah menjaga Al-Qur'an yang agung ini dari perubahan, penambahan, pengurangan dan penggantian dimana Alloh -azza wa jalla- menjamin untuk menjaganya. Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
"Sesungguhnya kamilah yang telah menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an) dan sesungguhnya kami yang pasti akan menjaganya"(QS Al-Hijir: 9)

Oleh karenanya, masa yang panjang telah berlalu dan tidak ada seorang pun dari kalangan musuh-musuhNya yang berusaha untuk merubahnya, atau menambahi, atau mengurangi, atau menggantinya kecuali Alloh singkap rahasianya Alloh beberkan urusannya.

Alloh -ta'ala- telah mensifati Al-Qur'an dengan sifat-sifat yang banyak yang menunjukkan akan keagungannya, keberkahannya, pengaruhnya dan universalannya. Dan Al-Qur'an adalah hakim (pemutus perkara) bagi kitab-kitab sebelumnya.
Alloh -ta'ala- berfirman:
وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعاً مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ
"Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang (dibaca) berulang-ulang dan Al-Qur'an yang agung." (QS Al-Hijr: 87)

وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ
"Demi Al-Qur'an yang mulia" (QS Qaf: 1)
Dan firmanNya:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
"Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran" (QS Shad: 29)

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Dan ini adalah Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan dengan penuh berkah. Ikutilah, dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat" (QS Al-An'am: 155)

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ
"dan (ini) sesungguhnya Al-Qur'an yang sangat mulia"(QS Al-Waqi'ah: 77)

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
"Sungguh, Al-Qur'an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus"(QS Al-Isra': 9)

Firman Alloh -ta'ala-:
لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعاً مُتَصَدِّعاً مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir" (QS Al-Hasyr: 21)

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَاناً فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ (١٢٤) وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْساً إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُون
"Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, maka (dengan surah itu) akan menambah kekafiran mereka yang telah ada dan mereka akan mati dalam keadaan kafir" (QS At-Taubah: 124-125)

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ
"Al-Qur'an ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai (Al-Qur'an kepadanya)" (QS Al-An'am: 19)

فَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَاداً كَبِيراً
"Maka janganlah engkau taati orang-orang kafir, dan berjuanglah terhadap mereka dengannya (Al-Qur'an) dengan (semangat) perjuangan yang besar" (QS Al-Furqan: 52)

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدىً وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ) (النحل: الآية ٨٩)
"Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (Muslim)"(QS An-Nahl: 89)

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِناً عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ
"Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah"(QS Al-Ma'idah: 48)

Al-Qur'anul Karim adalah sumber syariat Islam yang Nabi Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- diutus membawanya kepada seluruh manusia. Alloh -ta'ala- berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيراً

"Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia)." (QS Al-Furqan: 1)

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (١) اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَوَيْلٌ لِلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيد (٢ٍ)
"(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji. Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Celakalah bagi orang yang ingkar kepada Tuhan karena siksaan yang sangat berat" (QS Ibrahim: 1-2)

Dan sunnah Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- adalah sumber syariat juga sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Qur'an. Alloh -ta'ala- berfirman:
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظاً
"Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka" (QS An-Nisa': 80)
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالاً مُبِيناً
"Barang siapa yang bermaksiat kepada Alloh dan RasulNya maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata"(QS Al-Ahzab: 36)
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah" (QS Al-Ahzab: 7)

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
 وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌرَحِيمٌ

"Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang"(QS Ali Imron: 31)

#####000####
1). Dan mungkin juga bermakna isim maf'ul yakni yang dikumpulkan karena dikumpulkan dalam mushaf-mushaf dan di dada-dada (hafalan).

القرآن الكريم
القرآن في اللغة: مصدر قرأ بمعني تلا، أو بمعني جمع، تقول قرأ قرءاً وقرآناً، كما تقول: غفر غَفْراً وغٌفرانا ً، فعلى المعني الأول (تلا) يكون مصدراً بمعني اسم المفعول؛ أي بمعني متلوّ، وعلى المعني الثاني: (جَمَعَ) يكون مصدراً بمعني اسم الفاعل؛ أي بمعني جامع لجمعه الأخبار والأحكام (١) .
والقرآن في الشرع: كلام الله تعالى المنزل على رسوله وخاتم أنبيائه محمد صلى الله عليه وسلم، المبدوء بسورة الفاتحة، المختوم بسورة الناس. قال تعالى: (إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنْزِيلاً) (الانسان: ٢٣) وقال: (إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآناً عَرَبِيّاً لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ) (يوسف: ٢) .
وقد حمى الله تعالى هذا القرآن العظيم من التغيير والزيادة والنقص والتبديل، حيث تكفل عز وجل بحفظه فقال: (إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ) (الحجر: ٩) ولذلك مضت القرون الكثيرة ولم يحاول أحد من أعدائه أن يغير فيه، أو يزيد، أو ينقص، أو يبدل، إلا هتك الله ستره، وفضح أمره.

وقد وصفه الله تعالى بأوصاف كثيرة، تدل على عظمته وبركته وتأثيره وشموله، وأنه حاكم على ما قبله من الكتب.

قال الله تعالى: (وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعاً مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ) (الحجر: ٨٧) . ... (وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ) (ق: الآية ١) . وقال تعالى: (كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ) (ص: ٢٩) (وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ) (الأنعام: ١٥٥)
(إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ) (الواقعة: ٧٧) (إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ) (الإسراء: الآية ٩) .
وقال تعالى: (لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعاً مُتَصَدِّعاً مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ) (الحشر: ٢١) (وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَاناً فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ (١٢٤) وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْساً إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُون (١٢٥) (التوبة: ١٢٤-١٢٥) (وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ) (الأنعام: الآية ١٩) (فَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَاداً كَبِيراً) (الفرقان: ٥٢) . وقال تعالى: (وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدىً وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ) (النحل: الآية ٨٩) (وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِناً عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ) (المائدة: الآية ٤٨) .

والقرآن الكريم مصدر الشريعة الإسلامية التي بعث بها محمد صلى الله عليه وسلم إلى كافة الناس، قال الله تعالى: (تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيراً) (الفرقان: ١) (كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (١) اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَوَيْلٌ لِلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيد (٢ٍ) (ابراهيم: ١-٢) .
وسنة النبي صلى الله عليه وسلم مصدر تشريع أيضاً كما قرره القرآن، قال الله تعالى: (مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظاً) (النساء: ٨٠) (وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالاً مُبِيناً) (الأحزاب: الآية ٣٦) (وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا) (الحشر: الآية ٧) (قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
 وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌرَحِيمٌ) (آل عمران: ٣١)

(١) ويمكن أن يكون بمعني اسم المفعول أيضاً، أي بمعني مجموع؛ لأنه جٌمع في المصاحف والصدور.
  

Contoh Asmaul Husna Dalam Al-Qur'an


Pertanyaan:
Apa contoh asmaul husna dari Al-Qur'an?

Jawab:
Misalnya ada firman Alloh -ta'ala-:
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
"Sesungguhnya Alloh adalah Maha Tinggi dan Maha Besar" (QS An-Nisa': 34)

إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا
"Sungguh, Allah Mahalembut, Maha Mengetahui". (QS Al-Ahzab: 34)

إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا
"Sungguh, Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa". (QS Fatir: 44)

إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
"Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Melihat".(QS An-Nisa': 58)

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا
"Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana"(QS An-Nisa': 56)

إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا
"Sesungguhnya Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"(QS An-Nisa': 23)
إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
"Sesungguhnya Alloh Maha Pengasih lagi Penyayang kepada mereka" (QS At-Taubah: 117)
وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ
"Allah Mahakaya, Maha Penyantun." (QS Al-Baqarah: 263)

إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
"Sesungguhnya Allah Maha Terpuji, Maha Pengasih.”(QS Huud: 73)

إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ
"Sesungguhnya Tuhanku Maha Pemelihara segala sesuatu" (QS Huud: 57)

إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ
"Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS Huud: 61)

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
"Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu" (QS An-Nisa': 1)

وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا
"Cukuplah Allah yang menjadi pelindung." (QS An-Nisa': 81)

وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا
"Dan cukuplah Allah sebagai pengawas" (QS An-Nisa':6)

وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا
"Allah Mahakuasa atas segala sesuatu" (QS An-Nisa': 85)

أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
"Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" (QS Fussilat: 53)

إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطٌ
"Sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu" (QS Fussilat: 54)

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya)" (QS Al-Baqarah: 255)

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS Al-Hadid: 3)

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ - هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ - هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى
"Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah" (QS Al-Hasyr: 22-24)



[مثال الأسماء الحسنى من القرآن]
س: ما مثال الأسماء الحسنى من القرآن؟
جـ: مثل قوله تعالى: {إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا} [النساء: ٣٤]- {إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا} [الأحزاب: ٣٤]- {إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا} [فاطر: ٤٤]- {إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا} [النساء: ٥٨]- {إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا} [النساء: ٥٦]- {إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا} [النساء: ٢٣]- {إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ} [التوبة: ١١٧]- {وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ} [البقرة: ٢٦٣]- {إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ} [هود: ٧٣]- {إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ} [هود: ٥٧]- {إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ} [هود: ٦١]- {إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا} [النساء: ١]- {وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا} [النساء: ٨١]- {وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا} [النساء: ٦]- {وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا} [النساء: ٨٥]- {أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ} [فصلت: ٥٣]- {إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطٌ} [فصلت: ٥٤]- وقال تعالى: {اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ} [البقرة: ٢٥٥] وقال تعالى: {هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ} [الحديد: ٣] وقوله تعالى: {هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ - هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ - هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى} [الحشر: ٢٢ - ٢٤] وغيرها من الآيات.

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Selasa, 20 Oktober 2020

Penjelasan Surat Al-Baqarah Ayat 253


Diterjemahkan dari kitab syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 134- 135

Ayat yang kedua: Firman Alloh -ta'ala-:

وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُواْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ

"Kalau Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Tetapi Allah berbuat menurut kehendak-Nya" (QS Al-Baqarah: 253)

Huruf لو adalah huruf imtina' lil imtina'. Jika jawabnya berupa penafi'an (peniadaan) dengan ما maka yang paling fasih adalah dengan membuang lam. Jika berupa penetapan maka yang paling banyak adalah dengan tetapnya huruf lam, sebagaimana firman Alloh -ta'ala-:

لَوۡ نَشَآءُ لَجَعَلۡنَٰهُ حُطَٰمٗا

"Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat" (QS Al-Waqi'ah: 65)
Kami katakan kebanyakan dan tidak kami katakan yang paling fasih sebab terdapat penetapan lam dan juga peniadaan lam dalam Al-Qur'an Al-Karim.
لَوۡ نَشَآءُ جَعَلۡنَٰهُ أُجَاجٗا

"Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin". (QS Al-Waqi'ah: 70)
Ucapan kami: 'yang paling fasih adalah dengan membuang lam pada penafian' sebab lam memberikan faidah penekanan sedangkan penafian meniadakan penekanan. Oleh karenanya ucapan penyair:

ولو نعطى الخيار لما افترقنا # ولكن لا خيار مع الليلي
"Seandainya kami diberi pilihan niscaya kami tidak akan berpisah. Namun tidak ada pilihan bersama malam-malam"
menyelisihi yang fasih. Yang fasih :
لو نعطى الخيار ما افترقنا
FirmanNya:
وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُواْ
"Kalau Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan".
Dhammirnya kembalinya kepada orang-orang mukmin dan kafir berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:

وَلَٰكِنِ ٱخۡتَلَفُواْ فَمِنۡهُم مَّنۡ ءَامَنَ وَمِنۡهُم مَّن كَفَرَۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُواْ

"Tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) yang kafir. Kalau Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan". (QS Al-Baqarah: 253)

Di sini terdapat bantahan yang nyata terhadap paham Qadariyah yang mengingkari adanya kaitan antara perbuatan hamba dengan kehendak Alloh sebab Alloh berfirman (yang artinya): "Kalau Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan". Yakni: akan tetapi Alloh menghendaki mereka saling berbunuh-bunuhan, maka mereka pun saling bunuh.
Kemudian Alloh berfirman:
وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ
"Tetapi Allah berbuat menurut kehendak-Nya"
yakni Alloh melakukan apa yang dikehendakiNya. Kehendak di sini adalah kehendak kauniyah.

* FirmanNya: يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ "Allah berbuat menurut kehendak-Nya".
Perbuatan yang dilakukan oleh Alloh -subhanahu wa ta'ala- pada diriNya sendiri adalah fi'l mubasyar (perbuatan langsung). Ada pun dari sisi taqdir yang Dia tetapkan pada para hambaNya adalah perbuatan tidak langsung; sebab sebagaimana yang diketahui bahwasannya manusia tatkala berpuasa, sholat, zakat, haji dan berjihad maka pelakunya adalah manusia, tanpa diragukan. Namun sebagaimana yang diketahui bahwa perbuatannya ini dengan kehendak Alloh.

Tidak benar menyandarkan perbuatan hamba kepada Alloh secara langsung sebab yang secara langsung adalah perbuatan manusia. Namun yang tepat adalah menyandarkan kepada Alloh sebagai bentuk taqdir dan penciptaan.

Ada pun yang Alloh perbuatan Alloh untuk diriNya sendiri seperti bersemayam di atas 'Arsy, berbicara, turun ke langit dunia, tertawa ... dan yang serupa dengan itu maka disandarkan kepada Alloh sebagai perbuatan langsung.
Pada ayat ini terdapat asmaul husna yaitu: Alloh, dan terdapat sifat yaitu: masyi'ah dan fi'l (perbuatan) dan irodah(kehendak).

Sabtu, 17 Oktober 2020

Dzikir yang Kering



Syaikh Ibnu Al-Utsaimin -rahimahulloh- berkata:
Betapa seringnya lisan kita berdzikir namun dengan hati yang lalai. Hal ini tidak diragukan lagi mengurangi pahala dan pengaruh dzikir itu berupa shalihnya hati, ketergantungan kepada Alloh , inabah (kembali bertaubat) kepadaNya dan yang selainnya.

Tafsir surat Al-Hadid hal 539 (Syaikh Utsaimin -rahimahulloh-)

‏ما أكثر ذكرنا باللسان مع غفلة الجنان وهذا لا شك أنه ينقص الثواب وينقص الآثار المترتبة على الذكر من صلاح القلب والاتجاه إلى الله والإنابة إليه وغير ذلك.

📖 (تفسير سورة الحديد ص539) ‎#ابن_عثيمين

Jumat, 16 Oktober 2020

Ushul Fiqih: Definisi Ushul Fikih


(Diterjemahkan dari kitab Al-Ushul min ilmil Ushul karya Syaikh Utsaimin -rahimahulloh- halaman:

Ushul Fikih
Definisi:
Ushul Fikih didefinisikan dari dua tinjauan:
PERTAMA: ditinjau dari kata penyusunnya yaitu ditinjau dari kata ushul dan kata fiqih.
Al-Ushul (الأصول)  adalah jama' dari ashlu (الأصل), yaitu sesuatu yang menjadi dasar bagi bangunan lainnya. Misalnya أصل الجدار yaitu pondasinya. أصل الشجرة (pokok pohon) yaitu yang menjadi pangkal bagi dahan-dahannya. Alloh -ta'ala- berfirman:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
"Tidakkah kamu memperhatikan bagai-mana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit" (QS Ibrahim: 24)

Fiqih secara bahasa adalah alfahmu (pemahaman). Misalnya adalah firman Alloh -ta'ala- :
وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةٗ مِّن لِّسَانِي يَفۡقَهُواْ قَوۡلِي

"dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku" (QS Ta-Ha: 27- 28)

Sedangkan secara istilah yaitu:
معرفة الأحكام الشرعية العملية بأدلتها التفصيلية.
"Mengetahui hukum-hukum syar'i amaliah dengan dalil-dalil yang terperinci"


Maksud perkataan kami: معرفة (pengetahuan) yaitu: ilmu dan dzan(dugaan kuat); sebab pengetahuan hukum-hukum syar'i kadang secara yakin dan kadang berdasar dugaan kuat sebagaimana dalam kebanyaan permasalahan fikih.
Maksud perkataan kami: الأحكام الشرعية (hukum-hukum syar'i) yaitu hukum-hukum yang diambil dari syar'i seperti wajib, haram. Maka tidak termasuk dari perkataan kami ini hukum-hukum logika; seperti pengetahuan bahwa keseluruhan lebih besar dari pada sebagian. Dan hukum-hukum adat (kebiasaan) seperti turunnya embun pada malam yang bercurah hujan tinggi tatkala cuacananya cerah.

Maksud perkataan kami: العملية (amaliah) yaitu yang tidak terkait dengan aqidah, seperti sholat dan zakat. Sehingga keluar dari pembahasan ini permasalahan yang terkait dengan akidah seperti pengesaan Alloh (tauhid) dan pengetahuan mengenai nama-nama dan shifat-shifat Alloh. Hal ini tidak disebut fikih secara istilah.

Dan maksud perkataan kami: بأدلتها التفصيلية (dengan dalil-dalilnya yang rinci) yaitu dalil-dalil fikih yang disertakan dalam masalah-masalah fikih yang rinci. Sehingga ushul fiqih tidak termasuk dalam pembahasan ini sebab pembahasan dalil dalam ushul fiqih hanyalah dalam permasalahan yang umum.

KEDUA: ditinjau dari keberadaannya sebagai istilah bagi disiplin ilmu tertentu maka didefinisikan dengan:

علم يبحث عن أدلة الفقه الإجمالية وكيفية الاستفادة منها وحال المستفيد
"Ilmu yang mempelajari tentang dalil-dalil fiqih yang umum dan cara mengambil kesimpulan hukum darinya, serta keadaan orang yang mengambil kesimpulan hukum tersebut".

Maksud perkataan kami: الإجمالية (umum/global) yaitu kaidah-kaidah umum misal perkataan mereka: "Perintah adalah untuk pengwajiban. Larangan adalah untuk pengharaman.  Shihah (sah) berkonsekwensi pemberlakuan".
Maka dalil-dalil yang rinci keluar dari pembahasan ini. Tidaklah dalil-dalil tersebut disebutkan dalam ushul fiqih kecuali sebagai permisalan bagi penerapan kaidah.

Maksud perkataan kami: وكيفية الاستفادة منها (cara mengambil kesimpulan hukum darinya) yaitu mengetahui bagaimana menyimpulkan hukum dari dalil-dalilnya dengan mempelajari hukum-hukum lafadz dan yang ditunjukan olehnya dari hal yang umum, khusus, mutlak, muqayyad, nasikh, mansukh dan yang selainnya. Dengan mengetahuinya bisa mengambil kesimpulan hukum-hukumnya dari dalil-dalil fiqih.

Maksud perkataan kami:وحال المستفيد  mengetahui keadaan orang yang mengambil kesimpulan hukum yaitu mujtahid. Disebut dengan mustafid sebab dia sendiri yang mengambil kesimpulan hukum-hukum dari dalil-dalilnya karena dia telah sampai pada derajad untuk berijtihad. Maka mengetahui mujtahid, syarat-syarat ijtihad, hukumnya dan lain sebagainya dibahas dalam ushul fiqih.

Faidah Ushul Fiqih:
Sesungguhnya ushul fiqih adalah ilmu yang kedudukannya mulia, sangat penting dan memiliki banyak manfaat. Faidahnya yaitu memungkinkan seseorang untuk mendapatkan kemampuan yang dengannya dia bisa mengeluarkan hukum-hukum dari dalil-dalilnya di atas dasar yang benar.
Orang yang pertama kali mengumpulkannya sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri adalah Imam Syafi'i Muhammad bin Idris -rahimahulloh-. Kemudian para ulama mengikutinya. Maka mereka menulis tulisan yang beragam dari yang berupa prosa, syair, yang ringkas dan yang panjang lebar sehingga menjadi bidang ilmu yang berdiri sendiri yang memiliki kedudukan dan keistimewaan sendiri.

أصُول الفِقْه
تعريفه:
أصول الفقه يعرّف باعتبارين:
الأول: باعتبار مفردَيهِ؛ أي: باعتبار كلمة أصول، وكلمة فقه.
فالأصول: جمع أصل، وهو ما يبنى عليه غيره، ومن ذلك أصل الجدار وهو أساسه، وأصل الشجرة الذي يتفرع منه أغصانها قال الله تعالى: {أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ} [ابراهيم:٢٤].
والفقه لغة: الفهم، ومنه قوله تعالى: {وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي} [طه:٢٧]
واصطلاحاً: معرفة الأحكام الشرعية العملية بأدلتها التفصيلية.
فالمراد بقولنا: «معرفة»؛ العلم والظن؛ لأن إدراك الأحكام الفقهية قد يكون يقينيًّا، وقد يكون ظنيًّا، كما في كثير من مسائل الفقه.
والمراد بقولنا: «الأحكام الشرعية»؛ الأحكام المتلقاة من الشرع؛ كالوجوب والتحريم، فخرج به الأحكام العقلية؛ كمعرفة أن الكل أكبر من الجزء والأحكام العادية؛ كمعرفة نزول الطل في الليلة الشاتية إذا كان الجو صحواً.
والمراد بقولنا: «العملية»؛ ما لا يتعلق بالاعتقاد؛ كالصلاة والزكاة، فخرج به ما يتعلق بالاعتقاد؛ كتوحيد الله ومعرفة أسمائه وصفاته، فلا يسمّى ذلك فقهاً في الاصطلاح.
والمراد بقولنا: «بأدلتها التفصيلية»؛ أدلة الفقه المقرونة بمسائل الفقه التفصيلية؛ فخرج به أصول الفقه؛ لأن البحث فيه إنما يكون في أدلة الفقه الإجمالية.
الثاني: باعتبار كونه؛ لقباً لهذا الفن المعين، فيعرف بأنه: علم يبحث عن أدلة الفقه الإجمالية وكيفية الاستفادة منها وحال المستفيد.
فالمراد بقولنا: «الإجمالية»؛ القواعد العامة مثل قولهم: الأمر للوجوب والنهي للتحريم والصحة تقتضي النفوذ، فخرج به الأدلة التفصيلية فلا تذكر في أصول الفقه إلا على سبيل التمثيل للقاعدة.
والمراد بقولنا: «وكيفية الاستفادة منها»؛ معرفة كيف يستفيد الأحكام من أدلتها بدراسة أحكام الألفاظ ودلالاتها من عموم وخصوص وإطلاق وتقييد وناسخ ومنسوخ وغير ذلك، فإنَّه بإدراكه يستفيد من أدلة الفقه أحكامها.
والمراد بقولنا: «وحال المستفيد»؛ معرفة حال المستفيد وهو المجتهد، سمي مستفيداً؛ لأنه يستفيد بنفسه الأحكام من أدلتها لبلوغه مرتبة الاجتهاد، فمعرفة المجتهد وشروط الاجتهاد وحكمه ونحو ذلك يبحث في أصول الفقه.
فائدة أصول الفقه:
إن أصول الفقه علم جليل القدر، بالغ الأهمية، غزير الفائدة، فائدته: التَّمَكُّن من حصول قدرة يستطيع بها استخراج الأحكام الشرعية من أدلتها على أسس سليمة.
وأول من جمعه كفنٍ مستقل الإمام الشافعي محمد بن إدريس رحمه الله، ثم تابعه العلماء في ذلك، فألفوا فيه التآليف المتنوعة، ما بين منثور، ومنظوم، ومختصر، ومبسوط حتى صار فنًّا مستقلًّا، له كيانه، ومميزاته.
 
  

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)