“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Kamis, 30 Mei 2019

Tafsir Surat Asy-Syura' Ayat 40

Alloh ta'ala berfirman:

(وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ)

"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zhalim". (QS Asy-Syura': 40)

Syaikh Nashir As-Sa'dy dalam kitab tafsirnya mengatakan:
"Alloh -ta'ala- menyebutkan dalam ayat ini tingkatan dalam memberikan hukuman, bahwa di sini ada tiga tingkatan: Adil, Fadhl(utama) dan dzalim.

Tingkatan adil yaitu membalas keburukan dengan keburukan yang sepadan, tidak lebih dan tidak kurang; jiwa dengan jiwa; setiap luka dibalas luka yang sepadan, dan harta dibayar dengan semisalnya

Tingkatan utama: memaafkan dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk. Oleh karenanya Alloh berfirman:
فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
"barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah".
yakni Alloh akan membalasnya dengan pahala yang besar, ganjaran yang banyak. Dan Alloh mensyaratkan dalam pemberian maaf tersebut terdapat kebaikan padanya. Sebagai bukti hal ini adalah apabila pelaku kejahatan tidak layak dimaafkan sedangkan kemaslahatan syariat menghendaki hukuman baginya maka dalam kondisi demikian pemberian maaf tidak diperintahkan.

Dan dengan pahala orang yang memaafkan ditanggung langsung oleh Alloh terdapat motivasi untuk memaafkan dan agar seorang hamba memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan Alloh seperti itu. Sebagaimana ia ingin Alloh memaafkannya maka hendaklah ia memaafkan manusia. Sebagaimana ia suka diampuni Alloh maka hendaklah ia mengampuni orang lain. Karena balasan itu tergantung amalnya.
Adapun tingkatan dzolim telah disebutkan dalam firmanNya:
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِين
"Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang dzalim"
Yakni orang-orang yang mengawali perbuatan kriminal terhadap orang lain, atau orang yang membalas perbuatan jahat melebihi kejahatannya, maka kelebihannya adalah kedzaliman.

Dalam tafsir Muyassar disebutkan:
وجزاء سيئة المسيء عقوبته بسيئة مثلها من غير زيادة، فمن عفا عن المسيء، وترك عقابه، وأصلح الودَّ بينه وبين المعفو عنه ابتغاء وجه الله، فأَجْرُ عفوه ذلك على الله. إن الله لا يحب الظالمين الذين يبدؤون بالعدوان على الناس، ويسيئون إليهم.
"Dan balasan bagi orang yang berbuat keburukan adalah keburukan yang sepadan tanpa tambahan. Barang siapa yang memaafkan orang yang berbuat keburukan dan tidak membalasnya dan memperbaiki hubungan baik antara dirinya dengannya demi mengharap wajah Alloh, maka pahala memaafkan tersebut ditanggung oleh Alloh. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang yang dzolim yaitu orang-orang memulai permusuhan di antara manusia dan menyakiti mereka".

Sabtu, 04 Mei 2019

At-Tuhfah: Syarat Diterimanya Amalan Adalah Ikhlas dan Mutaba'ah

Penulis -hafidzahullohu ta'ala- berkata:
Tidak akan diterima suatu amalan kecuali dengan dua syarat

Ketahuilah -wahai saudaraku muslim, semoga Alloh memberikan hidayah kepadaku dan kepadamu untuk berpegang pada Al-Qur'an dan As-Sunnah- bahwasannya Alloh tidak akan menerima amalan dari siapa pun kecuali dengan dua syarat pokok, yaitu sebagaimana berikut:

Pertama: hendaklah ikhlas hanya untuk Alloh. Sehingga tidak layak bagi pelakunya kecuali hanya mengharapkan wajah Alloh. Dan disebutkan sebagian dari dalil-dalil ikhlas.
Ini adalah makna أشهد أن لا إله الا الله (Aku bersaksi bahwa tiada ilah melainkan Alloh).

Kedua: hendaklah sesuai dengan petunjuk rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan disebutkan hadits Aisyah -radhiyallohu 'anha- dalam shahihain:
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ
"Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami (agama Islam) yang bukan darinya, maka (yang diada-adakan tersebut) tertolak".
Sedangkan dalam hadits Muslim dari beliau juga secara marfu':
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو ردّ
"Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan itu tertolak".

Ini adalah makna أشهد أن محمدا رسول الله (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Alloh).

*Penjelasan:
Syaikul Islam Ibnu Taimiyah dan -murid beliau- Ibnul Qayyim menyebutkan dua pondasi pokok ini yang mana suatu amalan tidak akan diterima kecuali dengan keduanya; yang menunjukkan atas dua landasan pokok ini adalah firman Alloh ta'ala:

ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

"Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”(QS Al-Kahfi: 110)

Fudhail bin 'Iyyadh berkata: "Tidaklah amalan itu menjadi shalih sampai amalan itu ikhlas. Dan tidak akan diterima amal yang ikhlas sampai amalan itu benar. Sehingga amalan tersebut ikhlas hanya untuk Alloh dan sesuai dengan sunnah rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-"

Ibnul Qayyim membagi manusia -berdasarkan dua asas pokok ini- menjadi empat golongan (sebagaimana dalam Madarijus Salikin juz 1):

Pertama:
Seseorang yang dalam amalnya ikhlas dan mutabaah(mengikuti sunnah rasululloh). Mereka inilah yang beribadah kepada Alloh dengan benar karena mereka mengikhlaskan amalan kepada Alloh; mereka menjadikan rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- sebagai suri teladan,  dan amalan mereka selaras dengan petunjuk beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Mereka tidak beramal karena manusia sebab mereka mengetahui bahwa manusia tidak mampu memberikan kemanfaatan apa pun. Mereka hanya mengikhlaskan ibadah-ibadah mereka yang lahir dan yang batin, dan mereka jujur dalam mengikuti rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- lahir dan batin.

Kedua:
Seseorang yang tidak ikhlas dan tidak pula mutabaah. Ini adalah keadaan kebanyakan orang-orang yang rusak dan zindiq yang melakukan amalan tanpa memperhitungkan keikhlasan kepada Alloh dan tanpa memperdulikan telah menyelisihi sunnah rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-.

Ketiga,
Seseorang yang beramal dengan ikhlas namun tanpa mutabaah. Ini adalah umumnya (yang dilakukan) orang-orang sufi dan ahli ibadah yang bodoh yang melakukan bid'ah dengan ucapan dan amal mereka dengan meksud mendekatkan diri kepada Alloh. Dan pada hakikatnya hal itu tidaklah menambah kecuali makin jauhnya mereka dari Alloh.

Keempat,
Orang yang mutabaah dalam amal-amal mereka namun tiada keikhlasan padanya sebagaimana orang-orang munafik dan orang-orang yang riya'. Mereka ini tidak mendapatkan manfaat dari amalan-amalannya.
Alloh ta'ala berfirman:
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi".(QS Az-Zumar: 65)

Dan dalil pokok yang pertama (tentang ikhlas) dari sunnah adalah yang terdapat dalam shahihain dari Umar secara marfu':
إنما أعمال بالنيات
"Sesungguhnya amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niat-niatnya".(HR Bukhari & Muslim)

Dan dalil pokok yang kedua (mutabaah) adalah yang terdapat pada shahihain dari hadits Aisyah -radhiyallohu 'anha- secara marfu':

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ
"Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami (agama Islam) yang bukan darinya, maka (yang diada-adakan tersebut) tertolak".(HR Bukhari & Muslim)

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh- hal 63-66.

At-Tuhfah: Syarat Diterimanya Amalan Adalah Ikhlas dan Mutaba'ah

Penulis -hafidzahullohu ta'ala- berkata:
Tidak akan diterima suatu amalan kecuali dengan dua syarat

Ketahuilah -wahai saudaraku muslim, semoga Alloh memberikan hidayah kepadaku dan kepadamu untuk berpegang pada Al-Qur'an dan As-Sunnah- bahwasannya Alloh tidak akan menerima amalan dari siapa pun kecuali dengan dua syarat pokok, yaitu sebagaimana berikut:

Pertama: hendaklah ikhlas hanya untuk Alloh. Sehingga tidak layak bagi pelakunya kecuali hanya mengharapkan wajah Alloh. Dan disebutkan sebagian dari dalil-dalil ikhlas.
Ini adalah makna أشهد أن لا إله الا الله (Aku bersaksi bahwa tiada ilah melainkan Alloh).

Kedua: hendaklah sesuai dengan petunjuk rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan disebutkan hadits Aisyah -radhiyallohu 'anha- dalam shahihain:
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ
"Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami (agama Islam) yang bukan darinya, maka (yang diada-adakan tersebut) tertolak".
Sedangkan dalam hadits Muslim dari beliau juga secara marfu':
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو ردّ
"Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan itu tertolak".

Ini adalah makna أشهد أن محمدا رسول الله (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Alloh).

*Penjelasan:
Syaikul Islam Ibnu Taimiyah dan -murid beliau- Ibnul Qayyim menyebutkan dua pondasi pokok ini yang mana suatu amalan tidak akan diterima kecuali dengan keduanya; yang menunjukkan atas dua landasan pokok ini adalah firman Alloh ta'ala:

ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

"Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”(QS Al-Kahfi: 110)

Fudhail bin 'Iyyadh berkata: "Tidaklah amalan itu menjadi shalih sampai amalan itu ikhlas. Dan tidak akan diterima amal yang ikhlas sampai amalan itu benar. Sehingga amalan tersebut ikhlas hanya untuk Alloh dan sesuai dengan sunnah rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-"

Ibnul Qayyim membagi manusia -berdasarkan dua asas pokok ini- menjadi empat golongan (sebagaimana dalam Madarijus Salikin juz 1):

Pertama:
Seseorang yang dalam amalnya ikhlas dan mutabaah(mengikuti sunnah rasululloh). Mereka inilah yang beribadah kepada Alloh dengan benar karena mereka mengikhlaskan amalan kepada Alloh; mereka menjadikan rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- sebagai suri teladan,  dan amalan mereka selaras dengan petunjuk beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Mereka tidak beramal karena manusia sebab mereka mengetahui bahwa manusia tidak mampu memberikan kemanfaatan apa pun. Mereka hanya mengikhlaskan ibadah-ibadah mereka yang lahir dan yang batin, dan mereka jujur dalam mengikuti rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- lahir dan batin.

Kedua:
Seseorang yang tidak ikhlas dan tidak pula mutabaah. Ini adalah keadaan kebanyakan orang-orang yang rusak dan zindiq yang melakukan amalan tanpa memperhitungkan keikhlasan kepada Alloh dan tanpa memperdulikan telah menyelisihi sunnah rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-.

Ketiga,
Seseorang yang beramal dengan ikhlas namun tanpa mutabaah. Ini adalah umumnya (yang dilakukan) orang-orang sufi dan ahli ibadah yang bodoh yang melakukan bid'ah dengan ucapan dan amal mereka dengan meksud mendekatkan diri kepada Alloh. Dan pada hakikatnya hal itu tidaklah menambah kecuali makin jauhnya mereka dari Alloh.

Keempat,
Orang yang mutabaah dalam amal-amal mereka namun tiada keikhlasan padanya sebagaimana orang-orang munafik dan orang-orang yang riya'. Mereka ini tidak mendapatkan manfaat dari amalan-amalannya.
Alloh ta'ala berfirman:
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi".(QS Az-Zumar: 65)

Dan dalil pokok yang pertama (tentang ikhlas) dari sunnah adalah yang terdapat dalam shahihain dari Umar secara marfu':
إنما أعمال بالنيات
"Sesungguhnya amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niat-niatnya".(HR Bukhari & Muslim)

Dan dalil pokok yang kedua (mutabaah) adalah yang terdapat pada shahihain dari hadits Aisyah -radhiyallohu 'anha- secara marfu':

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ
"Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami (agama Islam) yang bukan darinya, maka (yang diada-adakan tersebut) tertolak".(HR Bukhari & Muslim)

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh- hal 63-66.

Kamis, 02 Mei 2019

At-Tuhfah: Definisi Ibadah dan Macam-Macamnya

At-Tuhfah: Definisi Ibadah dan Macam-Macamnya
العبادة هي اسم جامع لكل ما يحبه الله و يرضاه من الأقوال والأعمال الظاهرة والباطنة
"Ibadah yaitu isim yang mencakup setiap yang dicintai Alloh dan diridhoiNya berupa perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan; yang dzahir maupun yang batin".

********
Penjelasan: العبادة diambil dari التعبد yaitu ketundukan dan merendahkan diri.
Sebagaimana perkataanmu: طريق معبدة  yakni مذللة.
Sedangkan secara istilah sebagaimana yang disampaikan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:
هي اسم جامع لكل ما يحبه الله و يرضاه من الأقوال والأعمال الظاهرة والباطنة
"Ibadah yaitu isim yang mencakup setiap yang dicintai Alloh dan diridhoiNya berupa perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan; yang dzahir maupun yang batin".
Ibnu Katsir berkata: Peribadahan kepada Alloh -ta'ala- yaitu: mentaatinya dengan amalan-amalan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang.

Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:
Pembagian Ibadah ada lima:
1. Ibadah I'tiqadiyah: yaitu seorang muslim meyakini bahwa  Alloh 'azza wa jalla adalah Pencipta, Pemberi Rezeki, yang Menghidupkan, yang Mematikan, yang Mengatur seluruh urusan hamba-hambaNya, yang layak untuk diibadahi satu-satunya dan tidak ada sekutu bagiNya dalam doa, penyembelihan, nadzar dan yang selainnya. Dan Dia disifati dengan sifat mulia, kesempurnaan, kebesaran, keagungan dan yang selain itu dari macam keyakinan.

Penjelasan:
Dan mungkin dari ungkapan penulis di atas bisa diringkas dengan lebih ringkas dan lebih mencakup bahwa ibadah i'tiqadiyah yaitu meyakini keesaan Alloh ta'ala pada seluruh kekhususanNya berupa Uluhiyyah, Rububiyyah, dan Asma' wa shifat.

Dan kebalikan dari ungkapan ini adalah: meyakini bahwa ada selain Alloh yang bersekutu dengan Alloh dalam Uluhiyyah dan RububiyyahNya, atau (ada yang)secara independen memiliki kedua sifat tersebut selain Alloh, atau meyakini dalam permasalahan nama-nama dan sifat-sifat Alloh dengan keyakinan yang menyelisihi aqidah Salaf dari Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Penulis -hafidzahullohu ta'ala- berkata:
2. Ibadah Lafdziyah: seperti mengucapkan syahadat "lailaha illalloh wa muhammad rasululloh", membaca Al-Qur'an, berdoa, dzikir-dzikir dan yang selainnya.

Penjelasan:
Dan ungkapan penulis di atas memungkinkan untuk diringkas; bahwa ibadah lafdziyah yaitu memanfaatkan lisan untuk perkara-perkara yang dicintai dan diridhoi berupa ucapan-ucapan. Paling utamanya adalah lailaha illalloh.

Kebalikan dari definisi ini adalah mengucapkan kata-kata yang dibenci Alloh dan tidak diridhoiNya berupa kekufuran, kefasikan dan maksiat.

Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:
3. Ibadah Badaniyah, seperti berdiri (ketika sholat), ruku', sujud, puasa, amalan-amalan haji, hijrah, jihad dan lain-lain dari macam ibadah badaniyah.

Penjelasan:
Ringkasan dari ungkapan penulis yaitu: memanfaatkan anggota badan dalam hal-hal yang dicintai dan diridhoi Alloh berupa amalan-amalan badaniyah seperti sholat dan lainnya.
Kebalikannya adalah menggunakan anggota badan atau menggunakan sebagian anggota badan untuk hal-hal yang tidak dicintai dan tidak diridhoi Alloh, seperti mencuri, menghalang-halangi jalan, dan lain sebagainya.

Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:
4. Ibadah Maliyah (harta) seperti zakat, sedekah, dan yang semisalnya.
Penjelasan: bisa juga dikatakan: mempergunakan harta untuk bertaqarrub(beribadah) kepada Alloh, seperti zakat, shodaqah, dan lain sebagainya.

Kebalikannya yaitu menggunakan harta atau sebagiannya untuk sesuatu yang tidak diridhoi Alloh seperti untuk membeli hal-hal yang diharamkan, atau untuk sesuatu yang mubadzir dan berlebih-lebihan, atau untuk memerangi agama Alloh dan para wali-waliNya.

Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:
5. Ibadah Tarkiyah yaitu seorang muslim meninggalkan seluruh keharaman, kesyirikan, dan bid'ah dalam rangka mentaati syariat Alloh. Ini adalah ibadah tarkiyah; diberi pahala orang yang meninggalkan keharaman demi mengharap wajah Alloh.

Penjelasan: Kesimpulannya adalah seorang muslim meninggalkan perkara yang diharamkan oleh Alloh dan rasulNya -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan apa yang Alloh dan rasulNya melarangnya sebagai bentuk peribadahan.

Kebalikannya terjatuh pada perkara-perkara yang diharamkan oleh Alloh dan rasulNya berupa perkataan dan perbuatan yang dzahir dan yang batin.

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh- hal 59-63.

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)