“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Selasa, 25 Juni 2019

Hukum Mengkhususkan Puasa pada Hari Jum'at.

Pertanyaan:
Apakah bisa dijelaskan kepada kami apakah boleh bagi kita berpuasa sunnah pada hari Jum'at
Jawaban:

Alhamdulillah,
Telah diriwayatkan dalam Shahihain dari hadits Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu- dia berkata: Saya mendengar Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
لا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ
"Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian berpuasa pada hari Jum'at kecuali berpuasa sehari sebelumnya atau sesudahnya" (HR Bukhari: 1849; Muslim: 1929)
Dan Muslim meriwayatkan dalam Sahihnya dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu- dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- beliau bersabda:
لا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ إِلا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ
"Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum'at untuk sholat malam dari malam-malam yang ada; dan jangan pula mengkhususkan hari Jum'at dari hari-hari yang ada untuk berpuasa kecuali puasa yang salah seorang diantara kalian biasa berpuasa (yang bertepatan dengan hari Jum'at)". (HR Muslim Kitab Shiyam: 1930)

Dalam Shahih Al-Bukhari:
Dari Juwairiyah binti Harits -radhiyallohu 'anha- bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam masuk menemuinya pada hari Jum'at dan dia sedang berpuasa. Beliau bertanya: "Apakah kemarin engkau berpuasa?". Dia menjawab: Tidak. Beliau bertanya: "Apakah besok engkau berpuasa?". Dia menjawab: Tidak. Beliau bersabda:"Berbukalah". Hammad bin Al-Ja'd berkata ia mendengar Qatadah berkata: Telah menceritakan kepadaku dari Abu Ayyub bahwa Juwairiyah menceritakan kepadanya maka beliau memerintahkannya dan ia pun berbuka. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam As-Shoum: 1850.

Ibnu Qudamah berkata: "Dimakruhkan mengkhususkan hari Jum'at untuk berpuasa kecuali bertepatan dengan jadwal dia biasa puasa, misal sehari puasa sehari tidak dan bertepatan puasanya pada hari Jumat, dan orang yang kebiasaannya puasa di awal bulan, atau akhir bulan atau pertengahan bulan" (Al-Mughny Juz 3 hal 53).

Imam Nawawi berkata: "Sahabat-sahabat kami (Asy-Syafi'iyyah) memakruhkan hari Jum'at untuk berpuasa. Jika ia meneruskan dari sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, atau bertepatan dengan kebiasaannya berpuasa dengan puasa nadzar di hari sembuhnya dari sakitnya, atau datangnya Zaid dengan bertepatan hari Jum'at maka tidaklah makruh" (Majmu' Syarh Al-Muhadzab Juz 6 hal 479).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- berkata: "Sesungguhnya Sunnah telah berlalu dengan kemakruhan mengkhususkan bulan Rajab untuk berpuasa, dan makruh pula mengkhususkan hari Jum'at untuk berpuasa" (Al-Fatawal Kubra Juz 6 hal 180)

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: "Adapun hari Jum'at maka tidak disunnahkan berpuasa dan dimakruhkan mengkhususkannya berpuasa" (Syarhul Mumti':6/465)

Dikecualikan dari larangan ini orang yang berpuasa sehari sebelumnya atau sesudahnya atau bertepatan dengan hari-hari kebiasaan dia berpuasa; seperti orang yang biasa berpuasa ayyamul bidh(3 hari dipertengahan bulan) atau orang yang biasa berpuasa di hari tertentu seperti puasa di hari Arafah yang bertepatan di hari Jum'at, dan diperbolehkan berpuasa bagi orang yang bernadzar pada hari datangnya Zaid misalnya atau pada hari sembuhnya seseorang. Lihat kitab Fathul Bary oleh Ibnu Hajar.
Demikian pula orang yang mengganti puasa bulan Ramadhan: "Boleh bagi seorang Muslim untuk berpuasa pada hari Jum'at sebagai qodha' puasa Ramadhan meski hanya di hari Jum'at" (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah Juz 10/347)
Demikian pula bila bertepatan hari Asyura' atau hari Arafah dengan hari Jum'at maka tidak mengapa ia berpuasa karena niatnya berpuasa Asyura dan Arafah dan bukan berpuasa di hari Jum'at.
Alohu Muwaffiq.

حكم إفراد يوم الجمعة بالصيام
السؤال - 20049
لو سمحت هل تستطيع أن تخبرني هل يجوز لنا نصوم صيام التطوع يوم الجمعة ؟.
نص الجواب
الحمد لله
ثبت في الصحيحين من حديث أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ( لا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ ) رواه البخاري (1849) ومسلم (1929) ، وروى مسلم في صحيحه عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( لا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ إِلا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ ) ( الصيام/1930) .

وفي الصحيح عَنْ جُوَيْرِيَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهِيَ صَائِمَةٌ فَقَالَ أَصُمْتِ أَمْسِ قَالَتْ لا قَالَ تُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِي غَدًا قَالَتْ لا قَالَ فَأَفْطِرِي وَقَالَ حَمَّادُ بْنُ الْجَعْدِ سَمِعَ قَتَادَةَ حَدَّثَنِي أَبُو أَيُّوبَ أَنَّ جُوَيْرِيَةَ حَدَّثَتْهُ فَأَمَرَهَا فَأَفْطَرَتْ ) رواه البخاري ( الصوم/1850)

قال ابن قدامة : " يُكْرَهُ إفْرَادُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ بِالصَّوْمِ , إلا أَنْ يُوَافِقَ ذَلِكَ صَوْمًا كَانَ يَصُومُهُ , مِثْلُ مَنْ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا فَيُوَافِقُ صَوْمُهُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ , وَمَنْ عَادَتُهُ صَوْمُ أَوَّلِ يَوْمٍ مِنْ الشَّهْرِ , أَوْ آخِرِهِ , أَوْ يَوْمِ نِصْفِهِ . المغني ج/3 ص/53

وقال النووي : قَالَ أَصْحَابُنَا ( يعني الشافعية ) : يُكْرَهُ إفْرَادُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ بِالصَّوْمِ فَإِنْ وَصَلَهُ بِصَوْمٍ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ أَوْ وَافَقَ عَادَةً لَهُ بِأَنْ نَذَرَ صَوْمَ يَوْمِ شِفَاءِ مَرِيضِهِ , أَوْ قُدُومِ زَيْدٍ أَبَدًا , فَوَافَقَ الْجُمُعَةَ لَمْ يُكْرَهْ . المجموع شرح المهذب ج/6 ص/479

قال شيخ الإسلام رحمه الله : إن السنة مضت بكراهة إفراد رجب بالصوم ، وكراهة إفراد يوم الجمعة ..أ.هـ الفتاوى الكبرى ج/6 ص/180

قال الشيخ ابن عثيمين : " وأما الجمعة فلا يُسنّ صوم يومها ، ويُكره أن يفرد صومه " ا.هـ .
انظر الشرح الممتع ج/6 ص/465

ويستثنى من هذا النهي : ِمَنْ صَامَ قَبْله أَوْ بَعْده أَوْ اِتَّفَقَ وُقُوعُهُ فِي أَيَّامٍ لَهُ عَادَةٌ بِصَوْمِهَا كَمَنْ يَصُوم أَيَّام الْبِيضِ أَوْ مَنْ لَهُ عَادَةٌ بِصَوْمِ يَوْمٍ مُعَيَّنٍ كَيَوْمِ عَرَفَةَ فَوَافَقَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ , وَيُؤْخَذُ مِنْهُ جَوَازُ صَوْمِهِ لِمَنْ نَذَرَ يَوْم قُدُوم زَيْدٍ مَثَلًا أَوْ يَوْم شِفَاء فُلَانٍ . انظر كتاب فتح الباري لابن حجر .

وكذلك من عليه صوم قضاء من رمضان ، " فيجوز للمسلم أن يصوم يوم الجمعة قضاء عن يوم رمضان ولو منفرداً " فتوى اللجنة الدائمة ج/10 ص/347

وكذلك لو وافق عاشوراء أو عرفة يوم جمعة ، فيصومه ، لأن نيّته عاشوراء وعرفة وليس الجمعة . والله الموفق .

Jumat, 21 Juni 2019

At-Tuhfah: Pembagian Sifat Munafik

Penulis -hafidzahullohu ta'ala- berkata:
"النفاق قسمين"
Nifak (kemunafikan) terbagi dua.

Penjelasan:
Nifak secara bahasa: Ibnu Hajar berkata dalam Al-Fath: yaitu berbedanya yang lahir dengan yang batin.
Jika pada keyakinan iman adalah nifak kekufuran dan jika tidak maka nifak amalan.
Ada yang berkata: sesungguhnya nifak diambil dari الخفية (samar/tersembunyi) dan disebut juga النفق (lubang/terowongan). Dan dikatakan juga نافقاء اليربوع (yaitu lubang hewan sejenis tikus)  Yurbu' (اليربوع) yaitu hewan yang hidup di daratan. Ia menggali rumahnya di dalam tanah dan menjadikannya dua pintu. Satu pintu nampak terbuka dan lainnya tertutup tersembunyi yang di mulut pintunya ada sedikit tutupan. Jika ia terhalang dari pintu yang terbuka maka ia mendorong penutup pintu dengan kepalanya dan lari lewat pintu kedua tersebut.

Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:
Ketahuilah wahai Saudaraku Muslim -semoga Alloh menjauhkanku dan engkau dari kemunafikan dan buruknya akhlak- bahwasannya nifaq terbagi menjadi dua sebagaimana berikut:
Pertama: Nifaq I'tiqadi (keyakinan)
Kedua: Nifaq 'amali (amalan)

Penjelasan Nifaq I'tiqadi
Yaitu pelakunya menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran. Pelaku jenis ini adalah muslim secara dzahir namun kafir dan zindiq secara batin. Jika dia mati dalam keadaan seperti ini maka tempatnya berada di dasar neraka. Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

"(145)Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.
(146)Kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman". (QS An-Nisa': 145-146)

Nifaq 'Amali: ini tidaklah menjadikan kafir pelakunya dan tidak pula menjadikannya keluar dari  Islam dengan adanya tanda-tandanya atau pun sebagiannya.

Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:
Adapun nifaq amali maka sebagaimana yang disebutkan pada dua hadits tentang 5 sifat yang tercela:
1. Dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu- berkata: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
"Tanda-tanda orang munafiq ada tiga: Apabila bicara ia berdusta, bila berjanji mengingkari dan bila dipercaya khianat". (Diriwayatkan Bukhari & Muslim). Dan Muslim memberikan tambahan:
و إن صلى و صام و زعم أنه مسلم
"Meski dia sholat dan puasa dan menyangka dirinya muslim"

2. Dari Abdullah bin 'Amr berkata: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ  كَانَت ْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ 

"Empat hal yang bila ada pada diri seseorang maka dia seorang munafik tulen, dan barang siapa yang ada sebagian darinya maka ada bagian kemunafikan pada dirinya sampai dia meninggalkannya: "Apabila diberi amanah dia berkhianat, apabila berkata dia dusta, bila berjanji mengingkari, dan apabila berdebat dia melampui batas" (HR Bukhari dan Muslim)

Penjelasan:
Para ulama berkata: Fujur yaitu menyimpang dari kebenaran dan berbuat tipu daya untuk menolaknya. Dan ini masuk pada point pertama yaitu kadzib(dusta), dan dusta adalah lawan dari as-sidq (jujur). Dan  dikatakan pula yaitu: berbeda antara perkataan dan perbuatan.
Perkataan beliau: غدر (berkhianat) yaitu membatalkan janjinya dan mengingkarinya. Ibnu Hajar berkata dalam hadits Abu Hurairah: "Dan sisi pembatasan pada tiga tanda bahwasannya hal itu sebagai peringatan bagi selainnya karena asal dari Dien (agama) tercakup pada tiga hal: perkataan, perbuatan dan niat.  Peringatan dari rusaknya ucapan dengan kedustaan, dan atas rusaknya perbuatan dengan khianat dan rusaknya niat dengan pengingkaran janji, karena pengingkaran janji tidaklah dicela kecuali karena ada maksud mengingkari bersamaan dengan perjanjian.
Masuk pada kemunafikan yaitu mengerjakan dan meninggalkan; dan hal berbeda-beda tingkatannya.

Para ulama kesulitan untuk menggabungkan antara dua hadits ini karena yang pertama memberikan batasan sedangkan yang kedua ada tambahan. Al-Khotobi memberikan jawaban: "Bahwa yang kedua adalah (tambahan) ilmu dari Alloh untuk NabiNya -shollallohu 'alaihi wa sallam-".
Ibnu Hajar berkata: "Tidak ada pertentangan dari kedua hadits ini. Karena sifat-sifat tercela yang menunjukkan semprnanya kemunafikan bukan berarti menjadi tanda (bahwa pelakunya pasti -pent) orang munafik. Bisa jadi tanda-tanda tersebut merupakan sifat asli orang munafik. Dan sifat yang lain jika ditambahkan kepada sifat-sifat tersebut maka kemunafikannya semakin sempurna".

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh- hal 67-70

Kamis, 20 Juni 2019

Fatwa: Bagaimanakah Hukum Puasa Pada Hari Jumat?

Pertanyaan: Bagaimana Hukum Puasa Pada Hari Jumat?
Jawab:
Puasa pada hari Jumat makruh namun tidak mutlak. Puasa pada hari jumat makruh bagi orang yang meniatkannya dan mengkhususkannya untuk puasa, berdasarkan sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
لا تخصوا يوم الجمعة بصيام، ولا ليلتها بقيام
"Jangan mengkhususkan hari jum'at untuk puasa dan jangan pula (mengkhususkan)malamnya untuk sholat malam"

Adapun jika seseorang berpuasa pada hari jum'at karena bertepatan dengan hari dia biasa berpuasa maka hal ini tidak mengapa. Demikian pula apabila dia puasa sebelumnya atau sesudahnya maka tidak mengapa baginya dan tidak makruh.

Contoh Pertama: Apabila kebiasaan seseorang biasa sehari puasa dan sehari tidak puasa lalu bertepatan puasanya dengan hari Jum'at maka tidak mengapa baginya. Demikian pula jika kebiasaannya berpuasa hari Arafah dan bertepatan dengan hari Jum'at maka tidak mengapa dia berpuasa di hari Jum'at dan mencukupkan berpuasa di hari itu saja; sebab dia mengkhususkan berpuasa pada hari itu buka karena hari itu hari Jum'at namun karena hari itu adalah hari 'Arafah. Demikian pula apabila bertepatan dengan hari 'Asyura dan hanya berpuasa di hari itu, maka juga tidak mengapa baginya. Meski yang lebih utama pada hari Asyura dia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.

Contoh Kedua: Berpuasa pada hari Jum'at dengan hari Kamis atau hari Sabtu. Adapun seseorang yang berpuasa pada hari Jum'at tidak ada alasan selain karena itu adalah hari Jum'at, maka kita katakan padanya: Jika kamu ingin berpuasa pada hari Sabtu lanjutkanlah puasamu, jika kamu tidak akan berpuasa di hari Sabtu dan tidak berpuasa di hari kamis maka berbukalah sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- demikian. Allohu Al-Muwafiq.

Dari: Majmu' Fatawa wa Rasai Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-'Utsaimin jilid 20 -Kitabus Shiyam.
الفتاوى ما حكم صيام يوم الجمعة؟

ما حكم صيام يوم الجمعة؟

منذ 2006-12-01

السؤال: ما حكم صيام يوم الجمعة؟

الإجابة: صوم يوم الجمعة مكروه، لكن ليس على إطلاقه، فصوم يوم الجمعة مكروه لمن قصده وأفرده بالصوم، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: "لا تخصوا يوم الجمعة بصيام، ولا ليلتها بقيام".

وأما إذا صام الإنسان يوم الجمعة من أجل أنه صادف صوماً كان يعتاده فإنه لا حرج عليه في ذلك، وكذلك إذا صام يوماً قبله أو يوماً بعده فلا حرج عليه في ذلك، ولا كراهة.

مثال الأول: إذا كان من عادة الإنسان أن يصوم يوماً ويفطر يوماً فصادف يوم صومه الجمعة فلا بأس، وكذلك لو كان من عادته أن يصوم يوم عرفة فصادف يوم عرفة يوم الجمعة فإنه لا حرج عليه أن يصوم يوم الجمعة ويقتصر عليه، لأنه إنما أفرد هذا اليوم لا من أجل أنه يوم الجمعة، ولكن من أجل أنه يوم عرفة، وكذلك لو صادف هذا اليوم يوم عاشوراء واقتصر عليه، فإنه لا حرج عليه في ذلك، وإن كان الأفضل في يوم عاشوراء أن يصوم يوماً قبله، أو يوماً بعده.

ومثال الثاني: أن يصوم مع الجمعة يوم الخميس، أو يوم السبت، أما من صام يوم الجمعة لا من أجل سبب خارج عن كونه يوم جمعة فإننا نقول له: إن كنت تريد أن تصوم السبت فاستمر في صيامك، وإن كنت لا تريد أن تصوم السبت ولم تصم يوم الخميس فأفطر كما أمر النبي صلى الله عليه وسلم بذلك، والله الموفق.

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ

مجموع فتاوى و رسائل الشيخ محمد صالح العثيمين المجلد العشرون - كتاب الصيام.

Selasa, 18 Juni 2019

Hadits 34: Jima’ Mewajibkan Mandi Meski Tidak keluar mani


Hadits 34.
عَنْ أبى هُريرة رضي الله عَنْهُ أنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قالَ ” إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِها الأرْبَعِ، ثم جَهَدَهَا وَجَبَ الغُسْلُ ” وفي لفظ لمسلم ” وَإِن لَمْ يُنْزل “.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seorang duduk di antara empat cabang kemudian dia bersungguh-sungguh maka wajib mandi”. Dan dalam lafadz Muslim: “Meskipun tidak keluar mani”. (HR Bukhari no. 192 dan Muslim 843)

Penjelasan lafadz
1. Arti “شعبها الأربع (cabang yang 4) maksudnya adalah 2 tangan dan 2 kaki dan ini adalah kinayah (kiasan) dari jima’.

2. Arti “ثم جهدها )Kemudian bersungguh-sungguh atasnya) dengan mefathahkan jim dan ha’, maknanya sampai pada puncak keletihan dalam melakukannya, ini adalah kinayah dari penetrasi.

Makna global
Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang maknanya: “Apabila seorang laki-laki duduk diantara cabang yang 4 dari istrinya, yaitu 2 tangan dan 2 kaki, kemudian memasukkan kemaluannya ke farji istrinya, maka ia wajib keduanya mandi janabah, meski tidak sampai keluar mani. Sebab, penetrasi itu sendiri merupakan salah satu sebab wajibnya mandi.

Kesimpulan hadits:
1. Wajibnya mandi janabah karena masuknya dzakar ke farji meski tidak keluar mani.
2. Hadits ini menjadi nasikh(penghapus) bagi hadits Abu Sa’id (الماء من الماء ) “wajibnya mandi itu karena melihat air (orgasme)” yang dipahami sebagai pembatasan sebab tidaklah mandi kecuali karena keluar mani.

Hadits 33: Najiskah Mani?

Hadits 33:
بيان حكم المني
عن عَائِشَة قَالَتْ: كنتُ أغْسِل الْجَنَابةَ مَنْ ثَوبِ رَسولِ الله صلى الله عليه وسلم فيخرج إلى الصلاةِ وإن بُقَعَ الْمَاءِ في ثَوْبِهِ. وفِي لفظ مسلم “لقد كُنْتُ أفرُكهُ مِن ثَوْبِ رَسولَ الله صلى الله عليه وسلم فَركاً فيصَلي فِيهِ “.

Dari Aisyah radhiallahu anha berkata aku membersihkan mani dari pakaian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kemudian beliau keluar untuk shalat sedangkan sisa air masih ada di pakaiannya. Dalam lafadz Muslim: “Aku mengeriknya dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan satu kerikan Kemudian beliau salat dengan memakainya”. (HR Bukhari & Muslim).

Mana Global
Aisyah radhiyallahu ‘anha menyebutkan bahasanya pakaian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terkena mani karena janabah.
Terkadang masih basah maka ‘Aisyah mencucinya dengan air kemudian beliau memakainya untuk sholat sedangkan airnya belum kering dari pakaiannya. Terkadang mani sudah kering dan ketika itu ‘Aisyah mengeriknya dari pakaian beliau. Kemudian beliau salat dengan mengenakannya.

Perbedaan Pendapat Ulama
Ulama berselisih pendapat tentang najisnya mani.
Madzhab Hanafiah dan Malikiyah berpendapat tentang najisnya. Mereka berdalil dengan hadits-hadits tentang dicucinya pakaian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diantaranya adalah Hadits dalam bab ini.
Sedangkan As Syafii, Ahmad, Ahlul Hadits, Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan selain mereka dari kalangan ahli fiqih berpendapat bahwa mani adalah suci. Mereka berdalil dengan dalil-dalil yang banyak di antaranya sebagai berikut:

1. Shahihnya hadits-hadits ‘Aisyah mengerik mani dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan kering dengan kukunya seandainya hal itu najis tidaklah cukup kecuali dengan air sebagaimana (mensucikan dari) seluruh najis yang lainnya.

2. Bahwasanya mani adalah asal dari manusia dan pembentuknya maka tidaklah layak sesuatu yang asalnya najis dan kotor kemudian Allah memuliakannya dan mensucikannya.

3. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan untuk mencucinya dan menjaga diri darinya sebagaimana air kencing.

4. Mereka menjawab tentang hadis-hadis tentang mencucinya bahwasanya mencuci tidak menunjukkan akan kenajisannya sebagaimana mencuci dahak dan selainnya hal itu tidak menunjukkan akan kenajisannya.
Bersih dari najis dan kotoran dituntut oleh syariat.

Kesimpulan Hadits
1. Sucinya mani dan tidak adanya kewajiban untuk mencucinya dari badan pakaian dan selainnya.

2. Disunnahkan untuk membersihkannya dari pakaian dan badan dengan mencucinya ketika mani masih basah dan mengeriknya ketika kering.

Terjemah: Taisiril Alam Syarah Umdatul Ahkam.

Hadits 32: Hukum Wanita Mimpi Basah

Hadits ke-32:
عَنْ أم سَلَمَةَ زَوْج النبي صلى الله عليه وسلم قَالتْ: جَاءَتْ أم سُلَيْمٍ- امْرَأةُ أبي طَلحَةَ- إلَى رَسُول الله صلى الله عليه وسلم فَقَاَلَتْ: يَا رَسُولَ الله، إِن الله لا يستحي مِنَ الْحَق هَل عَلى المَرأةِ مِنْ غُسْل إِذَا هي احْتَلَمَتْ؟ فَقَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: “نَعَمْ، إِذاَ هِيَ رَأتِ اْلمَاءَ “.

Dari Ummu Salamah istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata: Ummu Sulaim Istri Abu Thalhah datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: Ya Rasulallah, sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran. Apakah seorang wanita harus mandi apabila dia mimpi basah? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata: “ya apabila dia melihat air”. (HR Bukhari dan Muslim)

Makna Global
Ummu Sulaim Al Anshoriyah datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk bertanya kepada beliau.
Tatkala pertanyaannya berkaitan dengan kemaluan yang itu merupakan sesuatu yang umumnya mengundang rasa malu untuk dibahas. Ia memulai pertanyaannya dengan kata pembukaan sehingga menjadi ‘ringan’ perasaan orang-orang yang mendengarnya.

Ia berkata: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla adalah Maha Benar. Tidak terhalangi dari menjelaskan kebenaran -yang mengandung sesuatu yang mengundang rasa malu di dalamnya- karena sebab malu, selama dalam penjelasannya ada faedah.

Tatkala Ummu sulaim menyampaikan kata pembuka yang menghaluskan pertanyaannya, maka dia masuk ke pada inti pertanyaan. Ia berkata: “Apakah seorang wanita wajib mandi apabila terbayangkan di dalam tidurnya bahwa dia berjima’?”
Makam Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Iya, dia wajib mandi apabila mendapati keluarnya air karena syahwat”.

Faedah Hadits
1. Seorang wanita wajib mandi tatkala mimpi basah, apabila keluar air mani.

2. Seorang wanita bisa keluar mani sebagaimana laki-laki dan oleh karena itu ada kemiripan pada anaknya, sebagaimana yang disyaratkan pada hadis yang lain.

3. Menetapkan sifat al Haya’ (malu) kepada Allah jalla wa ‘ala dengan penetapan yang sesuai dengan keagungan-Nya. Bahwasannya Dia tidak malu dari menjelaskan kebenaran -karena disebabkan rasa malu-. Berkata Ibnu Qoyyim dalam Al badai’: “Sesungguhnya sifat negatif yang murni tidak termasuk dalam sifat-sifat Allah ta’ala kecuali apabila mengandung penetapan. Demikian pula pengkhabaran sesuatu yang negatif tentangNya sebagaimana firman Allah ta’ala:
“لا تأخذه سنة ولا نوم
“Dia tidak mengantuk dan tidak tidur tidur”. yang mana hal itu mengandung kesempurnaan hidup dan kesempurnaan penanganannya terhadap urusan”.

4. Rasa malu semestinya tidak menghalangi seseorang untuk mempelajari ilmu, termasuk masalah-masalah yang mengundang rasa malu.

5. Termasuk adab dan penyampaian yang baik, memulai ucapan yang mengundang rasa malu dengan mukadimah yang sesuai keadaan sebagai pembukaan ucapan untuk memperhalus penyampaian, dan agar tidak dianggap kasar.

Minggu, 16 Juni 2019

Secara Asal Daging Haram dan Hewan Hidup Halal

Secara Asal Daging Haram dan Hewan Hidup Halal
Hukum asal dari hewan-hewan adalah mubah(untuk dikonsumsi) sedangkan hukum asal sembelihan dan dagingnya adalah haram.

Pertanyaan:
Ada kaidah fiqih yang dibawakan oleh Al-'Alamah As-Sa'dy dalam mandzumahnya, beliau mengatakan: bahwa hukum asal dari luhum (daging) adalah haram. Dan murid beliau, Ibnu Utsaimin, memberikan komentar bahwa hal tersebut tidaklah mencakup hewan-hewan, bahkan hukum asal hewan-hewan adalah mubah. Namun, kaidah ini dalam masalah daging seperti hewan buruan yang jatuh ke dalam air atau hewan sembelihan yang tidak diketahui penyembelihnya.

Dan Al-'Alamah Al-Ulwan telah memberikan bantahan serupa tatkala membantah kaidah ini yang disampaikan Ibnul Qayyim, beliau mengingkarinya. Namun beliau menetapkan sebagaimana yang ditetapkan Ibnu Utsaimin yaitu apabila ada sebab pengharaman dan sebab penghalalan maka didahulukan pengharaman, beliau menyebutkan tentang hewan buruan seandainya jatuh ke air. Beliau membantah kaidah ini dengan berdalil bahwa para shahabat memakan keledai piaraan sebelum diharamkannya dan tidak terdapat dalil penghalalan padanya. Beliau menyebutkan bahwa tidak dijumpai perselisihan pendapat di antara para shahabat tentang kehalalan daging. Ada pun khilaf (perbedaan pendapat) ini berkembang pada kurun setelahnya.

Dan kaidah ini telah disebutkan ahli fikih. Apakah mereka menyebutkannya dalam kitab-kitab mereka akan kemutlakannya, yakni bahwa asal dari daging dan hewan-hewan adalah haram? Dan siapakah ahli fikih mutaqodimin yang memutlakkan kaidah ini dan siapakah yang memberikan batasan dengan perincian yang disebutkan syaikh Ibnu Utsaimin bahwasannya hal tersebut mencakup daging dan bukan hewan-hewan?

Jawaban:
Alhamdulillah
PERTAMA:
Hukum asal dari sembelihan dan daging adalah haram. Sembelihan tidaklah halal kecuali jika kita mengetahui bahwa telah disembelih secara syar'i.
Di antara para ulama yang menetapan ushul ini adalah:
1. Imam Nawawi -rahimahulloh- berkata: "Di dalamnya ada penjelasan kaidah yang penting yaitu apabila ada keraguan pada sembelihan hewan yang mubah: maka tidak halal; sebab hukum asalnya adalah haram. Tidak ada perselisihan dalam hal ini". -selesai- Syarah Shahih Muslim 13/116

2. Ar-Rafi'i -rahimahulloh- berkata: "Dan (hukum asal) daging tidaklah mubah juga. Tidakkah engkau lihat seandainya disembelih ketika akan mati, dan ragu apakah gerakan ketika disembelih adalah gerakan hewan yang sekarat karena sembelihan atau gerakan hewan hidup, maka dikuatkan keharamannya" -selesai- Fathul 'Aziz Syarah Al-Wajiz 1/289

3. Ibnul Qayyim -rahimahulloh- berkata: "kemudian jenis kedua: tetapnya sifat yang ditetapkan oleh hukum, sampai jelas perubahannya. Ini adalah hujah. Seperti tetapnya hukum kesucian, hukum hadats, tetapnya pernikahan, tetapnya kepemilikan, (tetapnya)tanggungan hutang yang membebaninya sampai terbukti adanya perubahan yang menyelisihinya. Dan yang menetapkan syariat (Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-)telah menunjukkan keterkaitan hukum ini pada sabdanya terkait binatang buruan.
وإن وجدته غريقاً فلا تأكله ؛ فإنك لا تدري الماءُ قتله أو سهمك
"Jika engkau mendapati binatang buruanmu jatuh ke air maka jangan kau makan; karena engkau tidak tahu air ataukah panahmu yang membunuhnya" (HR Bukhari dan Muslim)
Dan juga sabdanya:
وإن خالطها كلاب من غيرها فلا تأكل ؛ فإنك إنما سميت على كلبك، ولم تسمِّ على غيره
"Jika ada anjing lain yang bersamanya (anjingmu) maka jangan kau makan (hewan buruan tersebut) karena engkau membacakan basmalah pada anjingmu dan bukan pada anjing selainnya"

Tatkala hukum asal dari sembelihan adalah pengharaman, dan (adaanya) keraguan: Apakah terpenuhi syarat mubah atau tidak (pada sembelihan)? Maka binatang buruan tersebut tetap pada hukum asalnya yaitu haram" -selesai dari I'lamul Muwaqi'in 1/339, 340).

Beliau juga mengatakan: "Bahwasannya sembelihan secara asal adalah haram kecuali yang diperbolehkan oleh Alloh dan RasulNya, meskipun bisa diperkirakan kemungkinan antara keharaman dan kehalalannya, namun beramal dengan dalil keharaman lebih utama ditinjau dari tiga sisi:
Pertama: Didukung oleh hukum asal pengharaman.
Kedua : Merupakan sikap kehati-hatian.
Ketiga: Bahwasannya jika ada dua bukti yang saling bertentangan maka keduanya saling menggugurkn dan kembali kepada hukum asal pengharaman" -selesai dari Ahkamu Ahlidz-Dzimmah 1/538, 539.

4. Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata: "Dan apa pun yang secara asal adalah larangan seperti hubungan badan dan daging hewan, maka tidak halal kecuali dengan sesuatu yang pasti kehalalannya dari sembelihannya ataupun dari akadnya. Jika ada keraguan dari hal tersebut karena nampak sebab yang lain maka dikembalikan kepada hukum asal dan ditegakkan padanya. Maka ditegakkan pada hukum asalnya pada pengharaman.
Oleh karenanya nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- melarang makan hewan buruan yang padanya terdapat bekas anak panah selain miliknya, atau anjing selain anjingnya atau mendapati buruannya jatuh ke air. Illatnya: Karena dia tidak tahu apakah matinya karena sebab yang dihalalkan atau selainnya. -Selesai dari jami' Ulumu wal hikam hal 93.

5. Syaikh Abdurrahman As-Sa'dy -rahimahulloh- dalam Mandzumah Al-Qawaid berkata:

"والأصل في الأبضاع واللحوم *** والنفس والأموال للمعصوم
تحريمها حتى يجيء الحلُّ *** فافهم هداك الله ما يُمَلُّ"
"Secara asal dalam masalah jima', daging, jiwa dan harta yang terlindungi adalah haram sampai datang sesuatu yang menghalalkannya. Maka pahamilah semoga Alloh memberikan petunjuk kepadamu kepada yang diharapkan"

Kemudian beliau -rahimahulloh- berkata dalam syarahnya:
"Yakni, bahwasannya secara asal dari hal-hal tersebut adalah haram sampai kita yakin kehalalannya. Asal dari jima' adalah haram. Al-Abdho' artinya menggauli wanita. Tidak halal kecuali dengan yakin kehalalannya; baik dengan pernikahan yang sah maupun dengan kepemilikan hamba sahaya. Demikian pula daging pada asalnya adalah haram sampai yakin kehalalannya.
Dengan demikian, apabila dalam penyembelihan ada dua sebab: mubah dan haram, maka dikuatkan yang haram, (sehingga karena adanya 2 sebab ini)tidak halal hewan sembelian dan buruan". -selesai dari Al-Majmu'ah Al-Kamilah dari tulisan-tulisan Syaikh As-Sa'dy, Al-Fiqh 1/142.

6. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahulloh- berkata: "Secara asal pada hewan potong dan sembelihan adalah haram sampai kita mengetahui bagaimana proses penyembelihannya, yang demikian itu karena di antara syarat-syarat kehalalan adalah bahwa hewan tersebut disembelih atau dipotong dengan cara yang syar'i" -selesai dari Fatawa As-Shoid (hal 26-27) -disusun Abdullah At-Thoyar-.
Bisa dilihat di http://www.feqhweb.com/vb/t12384.html#ixzz4j8CCd3No

KEDUA:
Sebagian ahli ilmu memahami perkataan beliau: Secara asal hewan-hewan adalah haram (dimakan) dan maksudnya adalah hewan-hewan yang disembelih bahwasannya haruslah terbukti penyembelihan yang benar (secara syar'i), dan bukan maksudnya hewan-hewan yang masih hidup.
Perkataan Al-Khotobi -rahimahulloh- dalam masalah ini: "Binatang secara asal adalah haram sampai jelas cara penyembelihannya; maka tidaklah dianggap halal dengan sesuatu yang meragukan". -selesai; dari Ma'alimis Sunan 4/282.
Dan perkataan Asy-Syatibi -rahimahulloh-: "Secara asal jima' adalah terlarang kecuali dengan sebab yang disyariatkan. Dan hewan-hewan secara asal adalah terlarang dimakan sampai disembelih dengan cara yang disyariatkan, dan selain itu dari perkara-perkara yang disyariatkan". -selesai dari Al-Muwafaqat 1/401.

KETIGA:
Adapun binatang yang hidup maka secaara asal adalah halal kecuali yang dikecualikan; berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
"Dialah (Alloh) yang telah menjadikan untuk kalian di bumi ini seluruhnya" (QS Al-Baqarah: 29)
Ini adalah dalil bahwa secara asal segala sesuatu adalah mubah (diperbolehkan), termasuk bermacam-macam hewan dan tumbuhan maupun selainnya sampai jelas yang menjadikan haram seperti larangan memakannya. Sebagaimana larangan makan babi, keledai piaraan, binatang buas yang bertaring, burung yang memiliki cakar tajam, atau binatang yang dilarang untuk dibunuh, seperti larangan membunuh burung Hud-Hud dan Surod, atau perintah membunuhnya seperti perintah membunuh ular dan tikus, atau binatang yang berbahaya, atau yang dianggap menjijikkan berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
"yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka" (QS Al-A'raf: 157)
Dalam Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah (338/18): "Karena hewan-hewan yang bisa dimakan kesulitan untuk menyebutkannya, dan secara asal keseluruhannya adalah halal kecuali yang memang dikecualikan sebagai berikut:

Pertama: Babi; diharamkan berdasarkan dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah serta ijma'.
Dan para ulama berselisih pendepat tentang hewan selainnya. Jumhur ahli fikih berpendapat tidak halal memakan setiap binatang buas yang bergigi taring: seperti singa, harimau, macan tutul, serigala, anjing dan yang selainnya; dan setiap burung yang bercakar tajam seperti burung elang dan sejenisnya, sebab Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring dan setiap burung yang berkuku tajam.
kemudian para ulama juga berbeda pendapat tentang kehalalan dan keharaman beberapa jenis hewan seperti kuda, anjing hutan, serigala dan macam-macam burung gagak dan selainya. Bisa dilihat rinciannya dalam pembahasan makanan.

Satu riwayat menurut madzhab Malikiyah berpendapat bahwa boleh dimakan seluruh hewan dari gajah sampai semut dan ulat dan hewan-hewan lainnya kecuali manusia dan babi karena keduanya haram secara ijma'.
Demikian pula menurut mereka tidak ada jenis burung apa pun yang diharamkan, dan ini juga pendapat Al-Laits, Al-Auza'i dan Yahya bin Sa'id. Mereka berhujah dengan keumuman ayat yang membolehkan dan perkataan Abu Darda' dan Ibnu Abbas: "Apa yang Alloh diamkan maka itu dimaafkan".

Kedua: Hewan-hewan yang diperintahkan untuk membunuhnya seperti ular, kalajengking, tikus, setiap binatang buas yang membahayakan seperti singa, serigala dan selainnya sebagaimana penjelasan sebelumnya.

Ketiga: Hewan-hewan yang menjijikan; karena berdasarkan (kaidah) ushul yang dikenal dalam masalah penghalalan dan pengharaman adalah: yang thoyib (baik) dan khobits(buruk). Dan ini menurut Asy-Syafi'i -rahimahulloh- adalah pokok yang agung dan umum. Pondasi dari perkara ini adalah firman Alloh -ta'ala-:
ويحرم عليهم الخبائث
"dan diharamkan untuk mereka yang buruk-buruk" (QS Al A'raf: 157)
يسألونك ماذا أحل لهم قل أحل لكم الطيبات
"Mereka bertanya kepadamu (wahai Rasululloh) apa yang diharamkan untuk mereka. Katakanlah dihalalkan untuk mereka yang baik-baik".(QS Al-Maidah: 4)
-selesai-
Lihat Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah(5/132-147) di dalamnya ada perincian mengenai hewan-hewan darat sebanyak 32 jenis dengan disebutkan adanya khilaf padanya.

Kesimpulannya:
Bahwasannya perbedaan antara hewan hidup, daging dan sembelihan adalah pembedaan yang sudah dimaklumi. Hewan hidup secara asal adalah mubah, berbeda halnya dengan daging dan sembelihan yang secara asal adalah haram.
Syaikh Utsaimin -rahimahulloh- pernah ditanya: "Asal daging itu halal ataukah haram?"
Beliau menjawab: "Secara asal daging adalah haram namun tidak demikian dengan hewan. Secara asal hewan adalah halal. Dan asal daging adalah haram sampai kita mengetahui atau menurut dugaan kuat bahwa daging tersebut mubah/halal.
Yakni, seandainya kita ragu pada hewan-hewan tersebut apakah halal ataukah haram? Maka dia halal, kita sembelih dan kita makan. Namun bila kita ragu pada suatu daging apakah dia disembelih ataukah bangkai? Maka secara asal adalah haram, sampai menurut dugaan kuat dia halal..." -selesai dari Liqa' Al-Babul Maftuuh (9/234).
Allohu a'lam.

************

الأصل في الحيوانات الإباحة وفي الذبائح واللحوم التحريم
14-08-2017

السؤال - 273675
ثمة قاعدة فقهية أوردها العلامة السعدي في منظومته نصها أن الأصل في اللحوم الحرمة ، وقد علق عليها تلميذه ابن عثيمين بأنها لا تشمل الحيوانات ، بل هذه الأصل بها الإباحة ، لكن القاعدة في اللحم كصيد سقط في الماء أو ذبيحة مجهول ذابحها ،وقد تكلم العلامة العلوان بكلام بنحو هذا حينما كان يرد على هذه القاعدة في كلام العلامة ابن القيم فأنكرها عليه ، لكن أقر بنحو كلام ابن عثيميين في أنه إذا تداخل سبب تحريم وسبب حل فيقدم التحريم ، وذكر مسألة الصيد لو سقط في الماء ، واستدل على رد القاعدة بأكل الصحابة الحمر الأهلية قبل تحريمها ، ولم يكن قد ورد فيها دليل على حلها ، فذكر أنه لم يكن من خلاف بين الصحابة في حل اللحوم ، أما هذا الخلاف فنشأ فيمن بعدهم ،وقد ذكر هذه القاعدة أهل الفقة ، فهل ذكرها في كتبهم يحمل على إطلاقها من حيث أن الأصل في اللحم والحيوانات الحرمة ؟ ومن الفقهاء المتقدمين أخذ بهذه القاعدة على إطلاقها و من منهم قيدها ضمن التفصيل الذي ذكره الشيخ ابن عثيمين من حيث أنها تشمل اللحوم دون الحيوانات ؟

نص الجواب

الحمد لله
أولا:
الأصل في الذبائح أو اللحوم التحريم، فلا تحل الذبيحة إلا إذا علمنا أنها ذكيت على الوجه المشروع .
ومن كلام أهل العلم في تقرير هذا الأصل:
1- قال النووي رحمه الله: "فيه بيان قاعدة مهمة وهي أنه إذا حصل الشك في الذكاة المبيحة للحيوان : لم يحل؛ لأن الأصل تحريمه، وهذا لا خلاف فيه" انتهى من شرح صحيح مسلم (13/116).
2-وقال الرافعي رحمه الله: "وليست اللحوم على الإباحة أيضاً؛ ألا ترى أنه لو ذبح المشرف على الموت وشك في أن حركته عند الذبح كانت حركة المذبوح أو حياة مستقرة، يغلب التحريم" انتهى من فتح العزيز شرح الوجيز (1/280).

3-وقال ابن القيم رحمه الله: "ثم النوع الثاني : استصحاب الوصف المُثْبِت للحُكم ، حتى يثبت خلافه ، وهو حجة ، كاستصحاب حكم الطهارة ، وحكم الحدث ، واستصحاب بقاء النكاح ، وبقاء المِلك ، وشغل الذمة بما تشغل به ، حتى يثبت خلاف ذلك ، وقد دل الشارع على تعليق الحكم به في قوله في الصيد : (وإن وجدته غريقاً فلا تأكله ؛ فإنك لا تدري الماءُ قتله أو سهمك) ، وقوله : (وإن خالطها كلاب من غيرها فلا تأكل ؛ فإنك إنما سميت على كلبك، ولم تسمِّ على غيره).

لمَّا كان الأصل في الذبائح : التحريم ، وشك : هل وجد الشرط المبيح أم لا ؟ بقي الصيد على أصله في التحريم" انتهى من "إعلام الموقعين" (1/339، 340).

وقال أيضاً: "إن باب الذبائح على التحريم، إلا ما أباحه الله ورسوله، فلو قدر تعارض دليلي الحظر والإباحة، لكان العمل بدليل الحظر أولى لثلاثة أوجه:

أحدها: تأييده الأصل الحاظر.

الثاني: أنه أحوط.

الثالث: أن الدليلين إذا تعارضا تساقطا ورجعا إلى أصل التحريم" انتهى من أحكام أهل الذمة (1/538، 539).

4-وقال ابن رجب الحنبلي : "وما أصله الحظر، كالأبضاع ولحوم الحيوان: فلا يحل إلا بيقين حله من التذكية والعقد، فإن تردد في شيء من ذلك لظهور سبب آخر: رجع إلى الأصل، فبنى عليه، فيبني فيما أصله الحرمة، على التحريم .

ولهذا نهى النبي عن أكل الصيد الذي يجد فيه الصائد أثر سهم غير سهمه ، أو كلب غير كلبه، أو يجده قد وقع في ماء ؛ وعلل: بأنه لا يدري هل مات من السبب المبيح له أو من غيره" انتهى من جامع العلوم والحكم ص93.

5-وقال الشيخ عبد الرحمن السعدي رحمه الله في منظومة القواعد :

"والأصل في الأبضاع واللحوم *** والنفس والأموال للمعصوم

تحريمها حتى يجيء الحلُّ *** فافهم هداك الله ما يُمَلُّ".

ثم قال رحمه الله في شرحها:

"يعني أن الأصل في هذه الأشياء التحريم حتى نتيقن الحل.

فالأصل في الأبضاع : التحريم . والأبضاع: وطء النساء، فلا يحل إلا بيقين الحل، إما بنكاح صحيح، أو ملك يمين .

وكذلك اللحوم، الأصل فيها التحريم، حتى يُتيقن الحل.

ولهذا إذا اجتمع في الذبيحة سببان: مبيح ، ومحرِّم، غلِّب التحريم، فلا يحل المذبوح والمصيد" انتهى من المجموعة الكاملة لمؤلفات الشيخ السعدي، الفقه (1/ 142) .

6-وقال الشيخ محمد بن صالح العثيمين : "الأصل في الذبائح والذكاة التحريم ، حتى نعلم كيف وقع الذبح، وكيف وقعت الذكاة، وذلك لأن من شروط الحل : أنه ذكي أو ذبح على وجه شرعي" انتهى من فتاوى الصيد (ص26-27) إعداد : عبدالله الطيار.

وينظر:

http://www.feqhweb.com/vb/t12384.html#ixzz4j8CCd3No
ثانيا:

قد يعبر بعضهم بقوله: الأصل في الحيوان التحريم، ويريد الحيوان المذبوح وأنه لابد من ثبوت التذكية المعتبرة، ولا يريد الحيوان الحي .

ومن ذلك قول الخطابي رحمه الله : "البهيمة أصلها على التحريم ، حتى تتيقن وقوع الذكاة؛ فهي لا تستباح بالأمر المشكوك" انتهى من معالم السنن (4/282).

وقول الشاطبي رحمه الله: "فالأصل في الأبضاع المنع ، إلا بالأسباب المشروعة، والحيوانات : الأصل في أكلها المنع ، حتى تحصل الذكاة المشروعة، إلى غير ذلك من الأمور المشروعة" انتهى من الموافقات (1/401).
ثالثا:

أما الحيوان الحي : فالأصل فيه الحل إلا ما استثني؛ لقوله تعالى: (هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا) البقرة/29

وهي دليل على أن الأصل في الأشياء الإباحة، ويدخل في ذلك الحيوانات والنباتات وغيرها، حتى يثبت موجب التحريم، كالنهي عن أكله، كما نهي عن أكل الخنزير، والحمر الأهلية، أو أكل كل ذي ناب من السباع ، وكل ذي مخلب من الطير، أو النهي عن قتله، كالنهي عن قتل الهدهد والصُّرد، أو الأمر بقتله، كالأمر بقتل الحية والفأر، أو ثبوت ضرره، أو كونه مستخبثا؛ لقوله تعالى: (وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ) الأعراف/157

وفي الموسوعة الفقهية (18/ 336):

" ما يتأتى أكله من الحيوان يصعب حصره، والأصل في الجميع الحل في الجملة إلا ما استثني فيما يلي:

الأول الخنزير: فهو محرم بنص الكتاب والسنة وعليه الإجماع.

واختلفوا فيما عداه من الحيوان: فذهب جمهور الفقهاء إلى أنه لا يحل أكل كل ذي ناب من السباع: كالأسد، والنمر، والفهد، والذئب، والكلب وغيرها، ولا ذي مخلب من الطير كالصقر، والبازي. والنسر، والعقاب والشاهين وغيرها. لأنه عليه الصلاة والسلام نهى عن كل ذي ناب من السباع، وعن كل ذي مخلب من الطير.

ثم اختلفوا في تحليل وتحريم بعض آحاد الحيوان، كالخيل، والضبع، والثعلب، وأنواع الغراب وغيرها. ينظر تفصيلها في مصطلح (أطعمة) .

وانعقد المذهب عند المالكية في رواية، أنه يؤكل جميع الحيوان من الفيل إلى النمل والدود، وما بين ذلك ، إلا الآدمي والخنزير فهما محرمان إجماعا.

وكذلك لا يحرم عندهم شيء من الطير في رواية، وبه قال الليث والأوزاعي، ويحيى بن سعيد. واحتجوا بعموم الآيات المبيحة، وقول أبي الدرداء وابن عباس: ما سكت الله عنه فهو مما عفا عنه .

الثاني: ما أمر بقتله كالحية، والعقرب، والفأرة، وكل سبع ضارٍ كالأسد، والذئب، وغيرهما مما سبق.

الثالث: المستخبثات: فإن من الأصول المعتبرة في التحليل والتحريم : الاستطابة، والاستخباث. ورآه الشافعي رحمه الله الأصل الأعظم والأعم. والأصل في ذلك قوله تعالى: (ويحرم عليهم الخبائث) ، وقوله تعالى: (يسألونك ماذا أحل لهم قل أحل لكم الطيبات) " انتهى.

وينظر: الموسوعة الفقهية (5/ 132- 147) ففيها تفصيل الكلام على الحيوان البري وأنه ثلاثة عشر نوعا، مع ذكر الخلاف الوارد فيها.

والحاصل :

أن التفريق بين الحيوان الحي، واللحم أو الذبيحة، تفريق معلوم ثابت، وأن الأصل في الحيوان الحي الإباحة، بخلاف اللحم أو الذبيحة فالأصل فيها التحريم.

وقد سئل الشيخ ابن عثيمين رحمه الله: " الأصل في اللحوم هو الحل أو التحريم؟

فأجاب: الأصل في اللحوم التحريم لا في الحيوان، الأصل في الحيوان الحل ، والأصل في اللحوم التحريم حتى نعلم أو يغلب على ظننا أنها مباحة.

يعني: لو شككنا في هذا الحيوان هل هو حلال أو حرام؟ فهو حلال فنذكيه ونأكله، لكن لو شككنا في هذا اللحم هل هو مذكى أو ميتة؟ فالأصل التحريم، حتى يغلب على ظننا أنه حلال..." انتهى من لقاء الباب المفتوح (234/ 9).

والله أعلم.

Sumber: Islamqa.info

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)