Secara Asal Daging Haram dan Hewan Hidup Halal
Hukum asal dari hewan-hewan adalah mubah(untuk dikonsumsi) sedangkan hukum asal sembelihan dan dagingnya adalah haram.
Pertanyaan:
Ada kaidah fiqih yang dibawakan oleh Al-'Alamah As-Sa'dy dalam mandzumahnya, beliau mengatakan: bahwa hukum asal dari luhum (daging) adalah haram. Dan murid beliau, Ibnu Utsaimin, memberikan komentar bahwa hal tersebut tidaklah mencakup hewan-hewan, bahkan hukum asal hewan-hewan adalah mubah. Namun, kaidah ini dalam masalah daging seperti hewan buruan yang jatuh ke dalam air atau hewan sembelihan yang tidak diketahui penyembelihnya.
Dan Al-'Alamah Al-Ulwan telah memberikan bantahan serupa tatkala membantah kaidah ini yang disampaikan Ibnul Qayyim, beliau mengingkarinya. Namun beliau menetapkan sebagaimana yang ditetapkan Ibnu Utsaimin yaitu apabila ada sebab pengharaman dan sebab penghalalan maka didahulukan pengharaman, beliau menyebutkan tentang hewan buruan seandainya jatuh ke air. Beliau membantah kaidah ini dengan berdalil bahwa para shahabat memakan keledai piaraan sebelum diharamkannya dan tidak terdapat dalil penghalalan padanya. Beliau menyebutkan bahwa tidak dijumpai perselisihan pendapat di antara para shahabat tentang kehalalan daging. Ada pun khilaf (perbedaan pendapat) ini berkembang pada kurun setelahnya.
Dan kaidah ini telah disebutkan ahli fikih. Apakah mereka menyebutkannya dalam kitab-kitab mereka akan kemutlakannya, yakni bahwa asal dari daging dan hewan-hewan adalah haram? Dan siapakah ahli fikih mutaqodimin yang memutlakkan kaidah ini dan siapakah yang memberikan batasan dengan perincian yang disebutkan syaikh Ibnu Utsaimin bahwasannya hal tersebut mencakup daging dan bukan hewan-hewan?
Jawaban:
Alhamdulillah
PERTAMA:
Hukum asal dari sembelihan dan daging adalah haram. Sembelihan tidaklah halal kecuali jika kita mengetahui bahwa telah disembelih secara syar'i.
Di antara para ulama yang menetapan ushul ini adalah:
1. Imam Nawawi -rahimahulloh- berkata: "Di dalamnya ada penjelasan kaidah yang penting yaitu apabila ada keraguan pada sembelihan hewan yang mubah: maka tidak halal; sebab hukum asalnya adalah haram. Tidak ada perselisihan dalam hal ini". -selesai- Syarah Shahih Muslim 13/116
2. Ar-Rafi'i -rahimahulloh- berkata: "Dan (hukum asal) daging tidaklah mubah juga. Tidakkah engkau lihat seandainya disembelih ketika akan mati, dan ragu apakah gerakan ketika disembelih adalah gerakan hewan yang sekarat karena sembelihan atau gerakan hewan hidup, maka dikuatkan keharamannya" -selesai- Fathul 'Aziz Syarah Al-Wajiz 1/289
3. Ibnul Qayyim -rahimahulloh- berkata: "kemudian jenis kedua: tetapnya sifat yang ditetapkan oleh hukum, sampai jelas perubahannya. Ini adalah hujah. Seperti tetapnya hukum kesucian, hukum hadats, tetapnya pernikahan, tetapnya kepemilikan, (tetapnya)tanggungan hutang yang membebaninya sampai terbukti adanya perubahan yang menyelisihinya. Dan yang menetapkan syariat (Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-)telah menunjukkan keterkaitan hukum ini pada sabdanya terkait binatang buruan.
وإن وجدته غريقاً فلا تأكله ؛ فإنك لا تدري الماءُ قتله أو سهمك
"Jika engkau mendapati binatang buruanmu jatuh ke air maka jangan kau makan; karena engkau tidak tahu air ataukah panahmu yang membunuhnya" (HR Bukhari dan Muslim)
Dan juga sabdanya:
وإن خالطها كلاب من غيرها فلا تأكل ؛ فإنك إنما سميت على كلبك، ولم تسمِّ على غيره
"Jika ada anjing lain yang bersamanya (anjingmu) maka jangan kau makan (hewan buruan tersebut) karena engkau membacakan basmalah pada anjingmu dan bukan pada anjing selainnya"
Tatkala hukum asal dari sembelihan adalah pengharaman, dan (adaanya) keraguan: Apakah terpenuhi syarat mubah atau tidak (pada sembelihan)? Maka binatang buruan tersebut tetap pada hukum asalnya yaitu haram" -selesai dari I'lamul Muwaqi'in 1/339, 340).
Beliau juga mengatakan: "Bahwasannya sembelihan secara asal adalah haram kecuali yang diperbolehkan oleh Alloh dan RasulNya, meskipun bisa diperkirakan kemungkinan antara keharaman dan kehalalannya, namun beramal dengan dalil keharaman lebih utama ditinjau dari tiga sisi:
Pertama: Didukung oleh hukum asal pengharaman.
Kedua : Merupakan sikap kehati-hatian.
Ketiga: Bahwasannya jika ada dua bukti yang saling bertentangan maka keduanya saling menggugurkn dan kembali kepada hukum asal pengharaman" -selesai dari Ahkamu Ahlidz-Dzimmah 1/538, 539.
4. Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata: "Dan apa pun yang secara asal adalah larangan seperti hubungan badan dan daging hewan, maka tidak halal kecuali dengan sesuatu yang pasti kehalalannya dari sembelihannya ataupun dari akadnya. Jika ada keraguan dari hal tersebut karena nampak sebab yang lain maka dikembalikan kepada hukum asal dan ditegakkan padanya. Maka ditegakkan pada hukum asalnya pada pengharaman.
Oleh karenanya nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- melarang makan hewan buruan yang padanya terdapat bekas anak panah selain miliknya, atau anjing selain anjingnya atau mendapati buruannya jatuh ke air. Illatnya: Karena dia tidak tahu apakah matinya karena sebab yang dihalalkan atau selainnya. -Selesai dari jami' Ulumu wal hikam hal 93.
5. Syaikh Abdurrahman As-Sa'dy -rahimahulloh- dalam Mandzumah Al-Qawaid berkata:
"والأصل في الأبضاع واللحوم *** والنفس والأموال للمعصوم
تحريمها حتى يجيء الحلُّ *** فافهم هداك الله ما يُمَلُّ"
"Secara asal dalam masalah jima', daging, jiwa dan harta yang terlindungi adalah haram sampai datang sesuatu yang menghalalkannya. Maka pahamilah semoga Alloh memberikan petunjuk kepadamu kepada yang diharapkan"
Kemudian beliau -rahimahulloh- berkata dalam syarahnya:
"Yakni, bahwasannya secara asal dari hal-hal tersebut adalah haram sampai kita yakin kehalalannya. Asal dari jima' adalah haram. Al-Abdho' artinya menggauli wanita. Tidak halal kecuali dengan yakin kehalalannya; baik dengan pernikahan yang sah maupun dengan kepemilikan hamba sahaya. Demikian pula daging pada asalnya adalah haram sampai yakin kehalalannya.
Dengan demikian, apabila dalam penyembelihan ada dua sebab: mubah dan haram, maka dikuatkan yang haram, (sehingga karena adanya 2 sebab ini)tidak halal hewan sembelian dan buruan". -selesai dari Al-Majmu'ah Al-Kamilah dari tulisan-tulisan Syaikh As-Sa'dy, Al-Fiqh 1/142.
6. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahulloh- berkata: "Secara asal pada hewan potong dan sembelihan adalah haram sampai kita mengetahui bagaimana proses penyembelihannya, yang demikian itu karena di antara syarat-syarat kehalalan adalah bahwa hewan tersebut disembelih atau dipotong dengan cara yang syar'i" -selesai dari Fatawa As-Shoid (hal 26-27) -disusun Abdullah At-Thoyar-.
Bisa dilihat di http://www.feqhweb.com/vb/t12384.html#ixzz4j8CCd3No
KEDUA:
Sebagian ahli ilmu memahami perkataan beliau: Secara asal hewan-hewan adalah haram (dimakan) dan maksudnya adalah hewan-hewan yang disembelih bahwasannya haruslah terbukti penyembelihan yang benar (secara syar'i), dan bukan maksudnya hewan-hewan yang masih hidup.
Perkataan Al-Khotobi -rahimahulloh- dalam masalah ini: "Binatang secara asal adalah haram sampai jelas cara penyembelihannya; maka tidaklah dianggap halal dengan sesuatu yang meragukan". -selesai; dari Ma'alimis Sunan 4/282.
Dan perkataan Asy-Syatibi -rahimahulloh-: "Secara asal jima' adalah terlarang kecuali dengan sebab yang disyariatkan. Dan hewan-hewan secara asal adalah terlarang dimakan sampai disembelih dengan cara yang disyariatkan, dan selain itu dari perkara-perkara yang disyariatkan". -selesai dari Al-Muwafaqat 1/401.
KETIGA:
Adapun binatang yang hidup maka secaara asal adalah halal kecuali yang dikecualikan; berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
"Dialah (Alloh) yang telah menjadikan untuk kalian di bumi ini seluruhnya" (QS Al-Baqarah: 29)
Ini adalah dalil bahwa secara asal segala sesuatu adalah mubah (diperbolehkan), termasuk bermacam-macam hewan dan tumbuhan maupun selainnya sampai jelas yang menjadikan haram seperti larangan memakannya. Sebagaimana larangan makan babi, keledai piaraan, binatang buas yang bertaring, burung yang memiliki cakar tajam, atau binatang yang dilarang untuk dibunuh, seperti larangan membunuh burung Hud-Hud dan Surod, atau perintah membunuhnya seperti perintah membunuh ular dan tikus, atau binatang yang berbahaya, atau yang dianggap menjijikkan berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
"yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka" (QS Al-A'raf: 157)
Dalam Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah (338/18): "Karena hewan-hewan yang bisa dimakan kesulitan untuk menyebutkannya, dan secara asal keseluruhannya adalah halal kecuali yang memang dikecualikan sebagai berikut:
Pertama: Babi; diharamkan berdasarkan dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah serta ijma'.
Dan para ulama berselisih pendepat tentang hewan selainnya. Jumhur ahli fikih berpendapat tidak halal memakan setiap binatang buas yang bergigi taring: seperti singa, harimau, macan tutul, serigala, anjing dan yang selainnya; dan setiap burung yang bercakar tajam seperti burung elang dan sejenisnya, sebab Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring dan setiap burung yang berkuku tajam.
kemudian para ulama juga berbeda pendapat tentang kehalalan dan keharaman beberapa jenis hewan seperti kuda, anjing hutan, serigala dan macam-macam burung gagak dan selainya. Bisa dilihat rinciannya dalam pembahasan makanan.
Satu riwayat menurut madzhab Malikiyah berpendapat bahwa boleh dimakan seluruh hewan dari gajah sampai semut dan ulat dan hewan-hewan lainnya kecuali manusia dan babi karena keduanya haram secara ijma'.
Demikian pula menurut mereka tidak ada jenis burung apa pun yang diharamkan, dan ini juga pendapat Al-Laits, Al-Auza'i dan Yahya bin Sa'id. Mereka berhujah dengan keumuman ayat yang membolehkan dan perkataan Abu Darda' dan Ibnu Abbas: "Apa yang Alloh diamkan maka itu dimaafkan".
Kedua: Hewan-hewan yang diperintahkan untuk membunuhnya seperti ular, kalajengking, tikus, setiap binatang buas yang membahayakan seperti singa, serigala dan selainnya sebagaimana penjelasan sebelumnya.
Ketiga: Hewan-hewan yang menjijikan; karena berdasarkan (kaidah) ushul yang dikenal dalam masalah penghalalan dan pengharaman adalah: yang thoyib (baik) dan khobits(buruk). Dan ini menurut Asy-Syafi'i -rahimahulloh- adalah pokok yang agung dan umum. Pondasi dari perkara ini adalah firman Alloh -ta'ala-:
ويحرم عليهم الخبائث
"dan diharamkan untuk mereka yang buruk-buruk" (QS Al A'raf: 157)
يسألونك ماذا أحل لهم قل أحل لكم الطيبات
"Mereka bertanya kepadamu (wahai Rasululloh) apa yang diharamkan untuk mereka. Katakanlah dihalalkan untuk mereka yang baik-baik".(QS Al-Maidah: 4)
-selesai-
Lihat Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah(5/132-147) di dalamnya ada perincian mengenai hewan-hewan darat sebanyak 32 jenis dengan disebutkan adanya khilaf padanya.
Kesimpulannya:
Bahwasannya perbedaan antara hewan hidup, daging dan sembelihan adalah pembedaan yang sudah dimaklumi. Hewan hidup secara asal adalah mubah, berbeda halnya dengan daging dan sembelihan yang secara asal adalah haram.
Syaikh Utsaimin -rahimahulloh- pernah ditanya: "Asal daging itu halal ataukah haram?"
Beliau menjawab: "Secara asal daging adalah haram namun tidak demikian dengan hewan. Secara asal hewan adalah halal. Dan asal daging adalah haram sampai kita mengetahui atau menurut dugaan kuat bahwa daging tersebut mubah/halal.
Yakni, seandainya kita ragu pada hewan-hewan tersebut apakah halal ataukah haram? Maka dia halal, kita sembelih dan kita makan. Namun bila kita ragu pada suatu daging apakah dia disembelih ataukah bangkai? Maka secara asal adalah haram, sampai menurut dugaan kuat dia halal..." -selesai dari Liqa' Al-Babul Maftuuh (9/234).
Allohu a'lam.
************
الأصل في الحيوانات الإباحة وفي الذبائح واللحوم التحريم
14-08-2017
السؤال - 273675
ثمة قاعدة فقهية أوردها العلامة السعدي في منظومته نصها أن الأصل في اللحوم الحرمة ، وقد علق عليها تلميذه ابن عثيمين بأنها لا تشمل الحيوانات ، بل هذه الأصل بها الإباحة ، لكن القاعدة في اللحم كصيد سقط في الماء أو ذبيحة مجهول ذابحها ،وقد تكلم العلامة العلوان بكلام بنحو هذا حينما كان يرد على هذه القاعدة في كلام العلامة ابن القيم فأنكرها عليه ، لكن أقر بنحو كلام ابن عثيميين في أنه إذا تداخل سبب تحريم وسبب حل فيقدم التحريم ، وذكر مسألة الصيد لو سقط في الماء ، واستدل على رد القاعدة بأكل الصحابة الحمر الأهلية قبل تحريمها ، ولم يكن قد ورد فيها دليل على حلها ، فذكر أنه لم يكن من خلاف بين الصحابة في حل اللحوم ، أما هذا الخلاف فنشأ فيمن بعدهم ،وقد ذكر هذه القاعدة أهل الفقة ، فهل ذكرها في كتبهم يحمل على إطلاقها من حيث أن الأصل في اللحم والحيوانات الحرمة ؟ ومن الفقهاء المتقدمين أخذ بهذه القاعدة على إطلاقها و من منهم قيدها ضمن التفصيل الذي ذكره الشيخ ابن عثيمين من حيث أنها تشمل اللحوم دون الحيوانات ؟
نص الجواب
الحمد لله
أولا:
الأصل في الذبائح أو اللحوم التحريم، فلا تحل الذبيحة إلا إذا علمنا أنها ذكيت على الوجه المشروع .
ومن كلام أهل العلم في تقرير هذا الأصل:
1- قال النووي رحمه الله: "فيه بيان قاعدة مهمة وهي أنه إذا حصل الشك في الذكاة المبيحة للحيوان : لم يحل؛ لأن الأصل تحريمه، وهذا لا خلاف فيه" انتهى من شرح صحيح مسلم (13/116).
2-وقال الرافعي رحمه الله: "وليست اللحوم على الإباحة أيضاً؛ ألا ترى أنه لو ذبح المشرف على الموت وشك في أن حركته عند الذبح كانت حركة المذبوح أو حياة مستقرة، يغلب التحريم" انتهى من فتح العزيز شرح الوجيز (1/280).
3-وقال ابن القيم رحمه الله: "ثم النوع الثاني : استصحاب الوصف المُثْبِت للحُكم ، حتى يثبت خلافه ، وهو حجة ، كاستصحاب حكم الطهارة ، وحكم الحدث ، واستصحاب بقاء النكاح ، وبقاء المِلك ، وشغل الذمة بما تشغل به ، حتى يثبت خلاف ذلك ، وقد دل الشارع على تعليق الحكم به في قوله في الصيد : (وإن وجدته غريقاً فلا تأكله ؛ فإنك لا تدري الماءُ قتله أو سهمك) ، وقوله : (وإن خالطها كلاب من غيرها فلا تأكل ؛ فإنك إنما سميت على كلبك، ولم تسمِّ على غيره).
لمَّا كان الأصل في الذبائح : التحريم ، وشك : هل وجد الشرط المبيح أم لا ؟ بقي الصيد على أصله في التحريم" انتهى من "إعلام الموقعين" (1/339، 340).
وقال أيضاً: "إن باب الذبائح على التحريم، إلا ما أباحه الله ورسوله، فلو قدر تعارض دليلي الحظر والإباحة، لكان العمل بدليل الحظر أولى لثلاثة أوجه:
أحدها: تأييده الأصل الحاظر.
الثاني: أنه أحوط.
الثالث: أن الدليلين إذا تعارضا تساقطا ورجعا إلى أصل التحريم" انتهى من أحكام أهل الذمة (1/538، 539).
4-وقال ابن رجب الحنبلي : "وما أصله الحظر، كالأبضاع ولحوم الحيوان: فلا يحل إلا بيقين حله من التذكية والعقد، فإن تردد في شيء من ذلك لظهور سبب آخر: رجع إلى الأصل، فبنى عليه، فيبني فيما أصله الحرمة، على التحريم .
ولهذا نهى النبي عن أكل الصيد الذي يجد فيه الصائد أثر سهم غير سهمه ، أو كلب غير كلبه، أو يجده قد وقع في ماء ؛ وعلل: بأنه لا يدري هل مات من السبب المبيح له أو من غيره" انتهى من جامع العلوم والحكم ص93.
5-وقال الشيخ عبد الرحمن السعدي رحمه الله في منظومة القواعد :
"والأصل في الأبضاع واللحوم *** والنفس والأموال للمعصوم
تحريمها حتى يجيء الحلُّ *** فافهم هداك الله ما يُمَلُّ".
ثم قال رحمه الله في شرحها:
"يعني أن الأصل في هذه الأشياء التحريم حتى نتيقن الحل.
فالأصل في الأبضاع : التحريم . والأبضاع: وطء النساء، فلا يحل إلا بيقين الحل، إما بنكاح صحيح، أو ملك يمين .
وكذلك اللحوم، الأصل فيها التحريم، حتى يُتيقن الحل.
ولهذا إذا اجتمع في الذبيحة سببان: مبيح ، ومحرِّم، غلِّب التحريم، فلا يحل المذبوح والمصيد" انتهى من المجموعة الكاملة لمؤلفات الشيخ السعدي، الفقه (1/ 142) .
6-وقال الشيخ محمد بن صالح العثيمين : "الأصل في الذبائح والذكاة التحريم ، حتى نعلم كيف وقع الذبح، وكيف وقعت الذكاة، وذلك لأن من شروط الحل : أنه ذكي أو ذبح على وجه شرعي" انتهى من فتاوى الصيد (ص26-27) إعداد : عبدالله الطيار.
وينظر:
http://www.feqhweb.com/vb/t12384.html#ixzz4j8CCd3No
ثانيا:
قد يعبر بعضهم بقوله: الأصل في الحيوان التحريم، ويريد الحيوان المذبوح وأنه لابد من ثبوت التذكية المعتبرة، ولا يريد الحيوان الحي .
ومن ذلك قول الخطابي رحمه الله : "البهيمة أصلها على التحريم ، حتى تتيقن وقوع الذكاة؛ فهي لا تستباح بالأمر المشكوك" انتهى من معالم السنن (4/282).
وقول الشاطبي رحمه الله: "فالأصل في الأبضاع المنع ، إلا بالأسباب المشروعة، والحيوانات : الأصل في أكلها المنع ، حتى تحصل الذكاة المشروعة، إلى غير ذلك من الأمور المشروعة" انتهى من الموافقات (1/401).
ثالثا:
أما الحيوان الحي : فالأصل فيه الحل إلا ما استثني؛ لقوله تعالى: (هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا) البقرة/29
وهي دليل على أن الأصل في الأشياء الإباحة، ويدخل في ذلك الحيوانات والنباتات وغيرها، حتى يثبت موجب التحريم، كالنهي عن أكله، كما نهي عن أكل الخنزير، والحمر الأهلية، أو أكل كل ذي ناب من السباع ، وكل ذي مخلب من الطير، أو النهي عن قتله، كالنهي عن قتل الهدهد والصُّرد، أو الأمر بقتله، كالأمر بقتل الحية والفأر، أو ثبوت ضرره، أو كونه مستخبثا؛ لقوله تعالى: (وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ) الأعراف/157
وفي الموسوعة الفقهية (18/ 336):
" ما يتأتى أكله من الحيوان يصعب حصره، والأصل في الجميع الحل في الجملة إلا ما استثني فيما يلي:
الأول الخنزير: فهو محرم بنص الكتاب والسنة وعليه الإجماع.
واختلفوا فيما عداه من الحيوان: فذهب جمهور الفقهاء إلى أنه لا يحل أكل كل ذي ناب من السباع: كالأسد، والنمر، والفهد، والذئب، والكلب وغيرها، ولا ذي مخلب من الطير كالصقر، والبازي. والنسر، والعقاب والشاهين وغيرها. لأنه عليه الصلاة والسلام نهى عن كل ذي ناب من السباع، وعن كل ذي مخلب من الطير.
ثم اختلفوا في تحليل وتحريم بعض آحاد الحيوان، كالخيل، والضبع، والثعلب، وأنواع الغراب وغيرها. ينظر تفصيلها في مصطلح (أطعمة) .
وانعقد المذهب عند المالكية في رواية، أنه يؤكل جميع الحيوان من الفيل إلى النمل والدود، وما بين ذلك ، إلا الآدمي والخنزير فهما محرمان إجماعا.
وكذلك لا يحرم عندهم شيء من الطير في رواية، وبه قال الليث والأوزاعي، ويحيى بن سعيد. واحتجوا بعموم الآيات المبيحة، وقول أبي الدرداء وابن عباس: ما سكت الله عنه فهو مما عفا عنه .
الثاني: ما أمر بقتله كالحية، والعقرب، والفأرة، وكل سبع ضارٍ كالأسد، والذئب، وغيرهما مما سبق.
الثالث: المستخبثات: فإن من الأصول المعتبرة في التحليل والتحريم : الاستطابة، والاستخباث. ورآه الشافعي رحمه الله الأصل الأعظم والأعم. والأصل في ذلك قوله تعالى: (ويحرم عليهم الخبائث) ، وقوله تعالى: (يسألونك ماذا أحل لهم قل أحل لكم الطيبات) " انتهى.
وينظر: الموسوعة الفقهية (5/ 132- 147) ففيها تفصيل الكلام على الحيوان البري وأنه ثلاثة عشر نوعا، مع ذكر الخلاف الوارد فيها.
والحاصل :
أن التفريق بين الحيوان الحي، واللحم أو الذبيحة، تفريق معلوم ثابت، وأن الأصل في الحيوان الحي الإباحة، بخلاف اللحم أو الذبيحة فالأصل فيها التحريم.
وقد سئل الشيخ ابن عثيمين رحمه الله: " الأصل في اللحوم هو الحل أو التحريم؟
فأجاب: الأصل في اللحوم التحريم لا في الحيوان، الأصل في الحيوان الحل ، والأصل في اللحوم التحريم حتى نعلم أو يغلب على ظننا أنها مباحة.
يعني: لو شككنا في هذا الحيوان هل هو حلال أو حرام؟ فهو حلال فنذكيه ونأكله، لكن لو شككنا في هذا اللحم هل هو مذكى أو ميتة؟ فالأصل التحريم، حتى يغلب على ظننا أنه حلال..." انتهى من لقاء الباب المفتوح (234/ 9).
والله أعلم.
Sumber: Islamqa.info