“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Tampilkan postingan dengan label Fatawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fatawa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Agustus 2020

Berserikat Pahala Dalam Qurban

Pertanyaan: Apakah boleh berkurban seekor kambing untuk seseorang dan keluarganya?

Jawaban Syaikh bin Baz:
Boleh berkurban satu kambing untuk seseorang dan keluarganya, sebab Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- berkurban setiap tahunnya dengan domba putih bertanduk. Beliau menyembelih salah satunya untuk beliau dan keluarganya. Kedua untuk untuk siapa saja yang mentauhidkan Alloh dari kalangan ummat beliau.

Majmu' fatawa(18-33)

‏🔹 *الإشراك في ثواب الأضحية*

2- هل تجزئ الشاة عن الرجل وأهل بيته؟
قال ابن باز:
*تجزئ الشاة الواحدة عن الرجل وأهل بيته *؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يضحي كل سنة بكبشين أملحين أقرنين يذبح أحدهما عنه وعن أهل بيته، والثاني عمن وحد الله من أمته.  مجموع الفتاوى (18-38)

Rabu, 01 April 2020

Kondisi Darurat yang diperbolehkan memakan yang haram dan Kadar yang Diperbolehkan.

Berikut ini penjelasan Syaikh Utsaimin -rahimahulloh- terkait masalah ini. Penjelasan beliau ini saya nukilkan dari kitab beliau Syarah Hadits Arba'in pada penjelasan hadits ke-9 hal 158-159.

***
Pertanyaan: Bolehkah melakukan hal yang diharamkan ketika kondisi darurat?
Jawab:
Boleh; berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا ٱضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ ۗ
" sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya" (QS Al-An'am: 119)
Barang siapa dalam kondisi terpaksa untuk memakan bangkai maka dia diperbolehkan memakannya. Barang siapa dalam kondisi terpaksa untuk makan daging babi maka boleh dia memakan daging babi... demikian seterusnya. Barang siapa yang terpaksa minum khamer maka boleh dia minum khamer. Namun kondisi darurat yang diperbolehkan bagi seseorang untuk untuk minum khamer hanya dalam satu keadaan yaitu: apabila seseorang tersedak makanan dan tiada yang dia miliki kecuali khamer maka dia meminumnya untuk menghilangkan makanan tadi. Ada pun meminum khamer untuk menghilangkan dahaga maka tidak boleh. Ulama berkata: sebab khamer hanya menambah dahaga orang yang kehausan sehingga tidak bisa menghilangkan daruratnya.

******
Pertanyaan: Jika seseorang terpaksa melakukan hal yang diharamkan apakah boleh melebihi kadar daruratnya? yaitu: apabila diperbolehkan baginya makan bangkai apakah sampai kenyang atau kita katakan: cukuplah untuk bertahan hidup saja?

Jawab: Sebagian ulama mengatakan: wajib baginya untuk sekadar bisa bertahan hidup saja dan tidak boleh kenyang. Namun yang benar adalah dengan perincian pada masalah ini: Apabila dia mengetahui atau menurut perkiraan kuat bahwa dia sebentar lagi akan mendapatkan sesuatu yang halal maka tidak boleh dia sampai kenyang, atau dia memiliki alat untuk mengawetkan daging sewaktu dia butuhkan maka tidak boleh sampai kenyang namun sekedar untuk menghilangkan daruratnya saja. Adapun jika tidak demikian maka sampai kenyang (memakannya).

-selesai perkataan beliau -rahimahulloh-

Rabu, 25 Maret 2020

Apakah Boleh Bagi Muslim yang Sehat Meninggalkan Jum'at dan Jama'ah Karena Khawatir dengan Virus Corona?

Pertanyaan:
Apakah boleh bagi kaum muslimin yang sehat meninggalkan sholat jum'at dan jamaah karena khawatir dengan penyakit corona?

Beliau menjawab -wafaqqahulloh-:

PERTAMA:
Kekhawatiran terhadap musuh yang nyata ketika perang di jalan Alloh tidaklah gugur sholat jamaah. Bagaimana bisa gugur dengan sebab kekhawatiran yang belum pasti karena penyakit?!
وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ
"Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu" (QS An-Nisa': 102)

KEDUA:
Wabah dan penyakit ini sebab sebenarnya adalah dosa dan maksiat. Alloh -ta'ala- berfirman:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri" (QS Asy-Syuraa: 30)
Alloh -azza wajalla- yang berfirman dengan pengetahuan:
 
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)". (Ar-Ruum: 41)
Bukankah Alloh -ta'ala- telah menjelaskan penyembuhnya hanyalah ada pada kembali kepada Alloh dengan bertaubat, istighfar, sholat, baca Al-Qur'an dan do'a. Bukanlah dengan meninggalkan sebagian yang diwajibkan bagi kita berupa sholat Jum'at dan jamaah.

KETIGA:
Firman Alloh -ta'ala-:
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.(QS Al-Hadid: 22)

قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا
"Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami". (QS At-Taubah: 51)
Alloh berfirman:
 قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمْ
"Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh" (QS Ali Imron: 154)
Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
واعلم أن الأمة لواجمعت على أن ينفعوك لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك ولو اجتمعوا على أن يضروك لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك
"Ketahuilah seandainya seluruh ummat bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu niscaya mereka tidak akan bisa kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh tetapkan untukmu. Seandainya mereka bersatu untuk memudharatkanmu niscaya mereka tidak akan mampu kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh tetapkan untukmu" (HR Ahmad & At-tirmudzi dan beliau berkata: hasan shahih).
Keimanan kita kepada Qadha' dan Qadar serta tawakal kita kepada Alloh -jalla wa 'ala- janganlah menghalangi kita dengan meninggalkan perkara yang diwajibkan kepada kita berupa sholat Jum'at dan jamaah karena takut penyakit dan selainnya.

KEEMPAT:
Bukankah Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- telah menyampaikan bagaimana sikap menyikapi Tho'un yaitu tidak boleh memasuki wilayah yang didalanya terjangkiti tho'un dan tidak boleh keluar darinya. Apakah disebutkan di dalamnya untuk meninggalkan jamaah?

KELIMA:
Terjadi wabah Tho'un pada zaman 'Umar bin Khottob-radhiyallohu 'anhu-. Beliau bermusyawarah dalam masalah ini dengan kaum muhajirin, kemudian anshor, kemudian muslim al-fath (yang menghadiri fathul Makkah -pent). Apakah dengan sebab penyakit ini Jumatan dan Jamaah diliburkan?

KEENAM:
Alloh -ta'ala- berfirman:
واستعينوا بالصبر والصلاة
"Mintalah pertolongan kepada Alloh dengan sabar dan sholat" (QS Al-Baqarah: 45)
Apakah permintaan tolong ini dengan menegakkan sholat di masjid sebagaimana Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- sebagaimana yang dikerjakan beliau ataukah beliau meninggalkan sholat Jum'at dan jamaah.

KETUJUH:
Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
من صلى الصبح في جماعة فهو في ذمة الله ..
"Barang siapa yang sholat subuh berjamaah maka dia berada dalam jaminan Alloh"
Bukankah sudah cukup bahwasannya kita berada di dalam jaminan Alloh? Bukankah Alloh telah mencukupi hambaNya.

KEDELAPAN:
Apabila nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- tidak mengizinkan bagi orang buta meninggalkan jamaah padahal dia (si buta) beralasan tidak ada yang menuntunnya dan bahwa Madinah banyak binatang berbisa dan binatang buas...bagaimana bisa orang yang sehat diizinkan meninggalkannya hanya karena takut sakit?

KESEMBILAN:
Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam apabila beliau ditimpa perkara yang menyusahkannya bersegera mengerjakan sholat. Lalu bagaimana tatkala kita disusahkan virus corona kita meninggalkan sholat Jum'at dan Jama'ah?

KESEPULUH:
Di setiap kota kaum muslimin terdapat masjid jami' yang digunakan sholat jamaah. Dan kaum muslimin pernah tertimpa wabah dan thoun di periode yang lain. Apakah ada dalam sejarah seorang ulama kaum muslimin yang berfatwa untuk menutup masjid-masjid dengan sebab adanya wabah atau thoun?

Selesai ucapan beliau -hafidzahulloh-


Catatan Penterjemah:
Namun jika meninggalkan Jum'at dan jamaah adalah ijtihad dari waliyul amri (peerintah) dalam rangka melindungi kaum muslimin, maka sudah menjadi perkara ushul dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah mendengar dan mentaatinya sebagaimana yang saat ini diserukan oleh pemerintah melalui MUI. Allohu a'lam.


*كتب الشيخ/*
*أحمد الكوري حفظه الله(الموريتانى)*

*سؤال/*
*هل يجوز للمسلمين الأصحاء ترك الجمعة والجماعة خوفاً من المرض (كورونا) ؟!*

*فأجاب وفقه الله:*

*أولاً :-*
*في الخوف من العدو المحقق عند القتال في سبيل الله لم تسقط الجماعة فكيف تسقط بسبب الخوف المتوهم من المرض ؟!*
*《وإذا كنت فيهم فأقمت لهم الصلاة فلتقم طائفة منهم معك...》الآية.*

*ثانياً :-*
*هذه الأوبئة والأمراض سببها الحقيقي هو الذنوب والمعاصي.*
*قال تعالى: 《وما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم》.*
*وقال عز من قائل عليما:《ظهر الفساد في البر والبحر بما كسبت أيدي الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون》.*
*ألم يبين تعالى أن العلاج إنما هو في الرجوع إلى الله بالتوبة والاستغفار والصلاة والتلاوة والدعاء ... وليس في ترك بعض ما أوجب علينا من جمعة وجماعة ؟!!*

*ثالثاً:-*
*قول الله تعالى:*
*《ما أصاب من مصيبة في الأرض ولا في أنفسكم إلا في كتاب من قبل أن نبرأها》.*
*وقال: 《قل لن يصيبنا إلا ما كتب الله لنا》.*
*وقال:《قل لو كنتم في بيوتكم لبرز الذي كتب عليهم القتل إلى مضاجعهم》.*
*وقال صلى الله عليه وسلم((واعلم أن الأمة لواجمعت على أن ينفعوك لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك ولو اجتمعوا على أن يضروك لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك))  رواه أحمد والترمذي وقال حسن صحيح .*
*فإيماننا بالقضاء والقدر وتوكلنا على الله جل وعلا  ألا يمنعنا من ترك ما أوجب علينا من صلاة الجمعة والجماعة خوفاً من المرض وغيره ؟!!!*

*رابعاً:-*
*ألم يتحدث صلى الله عليه وسلم عن كيفية التعامل مع الطاعون وأنه لا يجوز دخول الأرض التي فيها الطاعون ولا الخروج من الأرض التي فيها .. فهل ذكر  فيه ترك صلاة الجماعة؟!!*

*خامساً:-*
*وقع الطاعون في عهد عمر بن الخطاب رضي الله عنه وتشاور في أمره مع المهاجرين ثم الأنصار ثم مسلمة الفتح ..*
*فهل عطلوا بسببه جمعة أو جماعة ؟ !*

*سادساً:-*
*يقول الله سبحانه وتعالى (واستعينوا بالصبر والصلاة) فهل الإستعانة هنا بإقامة الصلاة في المسجد كما كان النبي صلى الله عليه وسلم يؤديها أم بترك الجمع والجماعات ؟!!*


*سابعاً:-*
*يقول صلى الله عليه وسلم 《من صلى الصبح في جماعة فهو في ذمة الله ..》 ألا يكفينا أننا في ذمة الله  ؟! 《أليس الله بكاف عبده》؟!!*

*ثامناً:-*
*إذا كان صلى الله عليه وسلم لم يأذن للأعمى في التخلف عن الجماعة مع قوله بأنه لا قائد له وأن  المدينة كثيرة الهوام والسباع ... كيف يؤذن للصحيح في التخلف عنها لمجرد خوف المرض ؟!*

*تاسعاً:-*
*لقد كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا حزبه أمر بادر إلى الصلاة .. فهل إذا حزبنا فيروس الكورونا نترك صلاة الجمعة والجماعة ؟!!*

*عاشراً:-*
*لقد كان في كل مدينة إسلامية جامع واحد يصلي فيه الجميع .. وقد كان يصيب المسلمين الوباء والطاعون من حين لآخر ..*
*فهل أفتى أحد من علماء المسلمين عبر التاريخ بغلق المساجد بسبب وباء أو طاعون ؟!!*

*انتهى كلامه حفظه الله*
*https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=178172*
*__________________________*
*https://youtu.be/eTC_-8UfGjc*

Rabu, 11 Maret 2020

Bolehkah Makmum Bershalawat Saat Khotib Khutbah Jum'at?

Al-Imam Al-Muhaddits Syaikh Al-Albany -rahimahulloh- ditanya:

Penanya: Apakah boleh mengamini do'a ketika ketika khotib sedang berkhutbah?

Syaikh: Ini tidak diperbolehkan.

Penanya: Na'am. Dan sholawat kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam?

Syaikh: Tidak boleh. Tidak boleh baca sholawat, tidak boleh bicara, dan tidak boleh baca sholawat kepada Nabi. Berdasarkan sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
إذا قلت لصاحبك يوم الجمعة والإمام يخطب أنصت فقد لغوت
"Apabila engkau berkata kepada temanmu pada hari jumat ketika khotib sedang berkhutbah: "diamlah" maka engkau telah sia-sia (dengan sholat Jumatmu)".

Penanya: Apakah ternasuk juga do'a?Syaikh: Semuanya...Al-Imam Al-Albany -rahimahulloh-.

Sumber: Al-Huda wan Nur (262).

Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi'i -rahimahulloh-
Penanya:Apakah boleh bagi orang yang menghadiri Jum'atan bersholawat kepada Nabi?

Jawab:
Ini adalah masalah yang menjadi ikhtilaf di kalangan ulama mutaqadimun.

Di antara mereka berpendapat bolehnya berdasarkan hadits: "Bakhil adalah orang yang aku disebutkan di sisinya namun tidak bersholawat kepadaku". Dan hadits:"Celakalah seseorang yang aku disebutkan di sisinya namun tidak bersholawat kepadaku".

Dan diantara mereka ada yang berpendapat tidak bolehnya hal tersebut berdasarkan hadits: Barang siapa berbicara saat imam berkhotbah maka tidak ada sholat jum'at baginya.
Dan pendapat terakhir ini yang benar -in sya Alloh-.
Oleh karenanya tidak boleh berbicara sesuatu pun, hendaklah mendengarkan dan diam.
Penanya: Apakah bersholawat secara sirr dalam hatinya kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam?
Syaikh: Yang utama adalah mendengarkan khotbah dan diam.

Sumber: Kitab Rihlatul Akhirah: 153.

سئل الامام المحدث الشيخ الالباني رحمه الله 

السائل : هل يجوز التأمين عند الدعاء والخطيب يخطب؟

الشيخ : هذا لا يجوز .

السائل : نعم...
والصلاة على النبي - صلى الله عليه وسلم - .
الشيخ : لا يجوز لا صلاة ولا كلام ولا صلاة على الرسول

لقول النبي صلى الله عليه وسلم":
( إذا قلت لصاحبك يوم الجمعة والإمام يخطب أنصت فقد لغوت ) .
السائل : ويدخل فيها الدعاء؟
الشيخ : كل شيء .

[الامام الالباني رحمه الله]
المصــدر : الهدى والنور (262)]

الشيخ مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله
- هل يجوز لمن حضر الجمعة ان يصلي على النبي ؟

- الجواب المسألة اختلف فيها العلماء المتقدمون
فمنهم من قال : يجوز لحديث : البخيل من ذُكرت عنده فلم يصلِّ علي ولحديث : رغم أنف امرئٍ ذُكِرت عنده فلم يصلِّ علي

ومنهم من لا يجيز ذلك لحديث : " من تكلم والإمام يخطب فلا جمعة له " .
والراي الأخير هو الصحيح إن شاء الله

لذا فإنه لا يجوز أن يتكلم بشئ فيسمع وينصت

السائل : وهل يصلي في نفسه سراً على النبي - صلى الله عليه وعلى آله وسلم -
الشيخ : الأولى أن يستمع للخطبة وينصت .

【كتاب : ( الرحلة الأخيرة صـ 153】
ــــــ ✵✵ ــــــ ✵✵ــــــ

 أُنشرُوهَا فَنشّرُ العِلمِ مِنْ أَعْظَمِ القُرُبَات

Minggu, 29 Desember 2019

Apakah Seorang Muslim Wajib mengetahui Syarat Lailaha Illalloh?

Pertanyaan:
Apakah seorang Muslim wajib mengetahui syarat La ilaha illalloh? Dan apakah orang yang tidak mengetahui syarat ini dia menjadi kafir?

Jawaban:
Alhamdulillah,
Dari perkara yang dimaklumi dan telah ditetapkan dalam syariat Islam bahwa kalimat tauhid memberikan manfaat bagi seseorang di akhirat; sehingga dia menjadi penghuni surga dan selamat dari api neraka apabila dia mengetahui maknanya dan mengamalkan konsekwensinya.

Syaikh Sulaiman bin Abdulloh bin Muhammad bin Abdul Wahab -rahimahulloh ta'ala- berkata:
" عن عبادة بن الصامت قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ، والجنة حق ، والنار حق ، أدخله الله الجنة على ما كان من العمل ) ...
Dari 'Ubadah bin Shomit -radhiyallohu 'anhu- berkata: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: Barang siapa yang bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Alloh saja yang tiada sekutu bagiNya, dan bahwa Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya, dan bahwa Isa adalah hamba Alloh dan utusanNya, dan kalimatNya yang diletakkan kepada Maryam dan ruh yang berasal dariNya; dan bahwa surga adalah benar, dan neraka adalah benar; maka Alloh akan memasukkannya ke dalam surga dengan amal apa pun yang dia kerjakan..."

Dan sabda beliau: "Barang siapa yang bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Alloh"; yakni orang yang mengucapkan kalimat ini dengan memahami maknanya dan mengamalkan konsekwensinya secara batin dan lahirnya, sebagaimana yang ditunjukkan pada firmanNya:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
"Ketahuilah bahwasannya tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Alloh".(QS Muammad: 19)

إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran dan dia mengetahui".(QS Az-Zukhruf: 48)
Adapun sekedar mengucapkannya tanpa paham maknanya dan tanpa mengerjakan konsekwensinya maka demikian itu tidak bermanfaat (baginya) dengan ijma'. -selesai- (Taisir Al-Azizil Hamid hal 51)

Namun pengetahuan terhadap maknanya dan konsekwensinya ini wajib bagi setiap muslim untuk memahaminya secara global; maka hal ini mencukupinya. Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- tidak menjelaskan hal ini. Ini (syarat lailaha illalloh -pent) memberikan perincian setiap yang baru dalam Islam. Syarat-syarat ini dengan perinciannya ditetapkan dalam kitab-kitab (para ulama).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- berkata:
لا ريب أنه يجب علي كل أحد أن يؤمن بما جاء به الرسول إيماناً عاماً مجملاً، ولا ريب أن معرفة ما جاء به الرسول علي التفصيل فرض على الكفاية، فإن ذلك داخل في تبليغ ما بعث الله به رسوله، وداخل في تدبر القرآن وعقله وفهمه، وعلم الكتاب والحكمة، وحفظ الذكر والدعاء إلي الخير، والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، والدعاء إلي سبيل الرب بالحكمة والموعظة الحسنة، والمجادلة بالتي هي أحسن، ونحو ذلك مما أوجبه الله علي المؤمنين، فهذا واجب علي الكفاية منهم
"Tidak diragukan lagi bahwa wajib bagi setiap individu untuk mengimani apa yang dibawa Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dengan keimanan secara umum dan mujmal(global). Dan tidak diragukan bahwa pengetahuan tentang apa yang dibawa Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa salam- secara terperinci adalah fardhu kifayah sebab yang demikian itu termasuk di dalam tabligh (penyampaian terhadap syariat -pent) yang dengannya Alloh utus RasulNya. Dan termasuk pula dalam tadabbur terhadap Al-Qur'an, memikirkan dan memahaminya, pengetahuan tentang Al-Qur'an dan hikmah, penjagaan terhadap agama dan dakwah kepada kebaikan, amar maruf nahi munkar, berdakwah kepada jalan Alloh dengan hikmah dan nasehat yang baik, bermujadalah (berdebat) dengan cara yang paling baik, dan lain sebagainya dari perkara-perkara yang Alloh wajibkan atas orang-orang yang beriman. Ini adalah fardhu kifayah di antara mereka " -selesai- dari dar'u ta'arudh al-Aql wan An-Naql 1/51.

Dan tidaklah wajib atas setip muslim menghafal syarat-syarat ini dan tidaklah dicela karena tidak adanya pengetahuan hal ini dalam imannya. Tiada lain yang dituntut adalah beramal dengan syarat-syarat ini dan memperbaiki keimanan.

Ini hendaklah diamalkan oleh setiap muslim -meskipun dia awam- selama dia melazimkan hatinya di atas kecintaan kepada Alloh dan rasulNya, mentaati keduanya, mengagungkan nash-nash syariat dan beramal dengan apa yang telah sampai kepadanya sesuai kadar kesanggupannya.

Syaikh Hafidz Al-Hakamy -rahimahulloh ta'ala- berkata: "Tidaklah bermanfaat orang yang mengatakan lailaha illalloh dengan ucapannya saja kecuali dia menyempurnakannya; yakni syarat-syarat tujuh ini. Dan makna menyempurnakannya yaitu berkumpulnya hal itu dalam diri hamba, berpegang teguh dengannya tanpa adanya pembatal kesempurnaannya (lailaha illalloh).
Dan bukanlah maksudnya menghitung jumlahnya dan menghafalnya. Berapa banyak orang awam yang berkumpul pada dirinya (syarat-syarat ini) dan ia berpegang teguh dengannya namun jika dikatakan kepadanya: "Sebutkanlah (syarat-syaratnya)!", dia tidak bisa menyebutkannya. Dan berapa banyak orang yang menghafal lafadz-lafadznya, meluncur bagaikan anak panah namun engkau lihat dia terjatuh pada hal-hal yang membatalkannya. Taufiq itu ada di tangan Alloh. Allohlah tempat memohon pertolongan. -selesai- dari Maarijil Qobul 2/418.
Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz -rahimahulloh- berkata:
"Wajib atas seluruh kaum muslimin untuk merealisasikan kalimat ini dengan menjaga syarat-syaratnya. Dan kapan di antara kaum muslimin mendapati maknanya dan istiqomah di atasnya maka dia adalah muslim. Haram darah dan hartanya meski tidak mengetahui perincian syarat-syarat ini, sebab tujuannya adalah ilmu yang benar dan beramal dengannya meski pun seoarang mukmin tidak mengetahui perincian syaratsyarat yang dituntut" -selesai- dari majmu' fatawa Syaikh bin Baz (7/58).
Namun pengetahuan tentang syarat-syarat ini adalah termasuk fardhu kifayah. Wajib atas umat ini untuk ada di tengah-tengah mereka rang yang mempelajarinya dan mengajarkannya kepada manusia. Hal ini termasuk menyampaikan syariat yang Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- diutus dengannya. Sebagaimana perkataan Syaikhul Islam terdahulu.
Syaikhul Islam juga berkata: "Ada pun yang diwajibkan bagi setiap individu maka berbeda-beda sesuai dengan kemampuan, kebutuhan dan pemahaman mereka dan apa yang diperintahkan kepada individunya. Maka tidaklah wajib atas orang yang tidak mampu mendengar sebagian ilmu atau pembahasan yang detail sebagaimana yang diwajibkan kepada orang yang mampu akan hal tersebut. Dan wajib bagi orang yang mendengar nash-nash dan pemahamannya berupa ilmu perincian sebagaimana yang diajibkan atas orang yang mendengarnya. Dan wajib atas mufti (orang yang berfatwa), muhaddits dan orang yang berdebat sebagaimana tidak diwajibkan kepada selain mereka. -selesai dari dar'u taarudh al-Aqli wan Naqli (1/52)

Allohu a'lam

السؤال
هل يجب على المسلم معرفة شروط لا إله إلا الله ؟ وهل من لا يعرف الشروط يصبح كافرا ؟
نص الجواب
الجواب :
الحمد لله
مما هو معلوم ومقرر في شريعة الإسلام، أن كلمة التوحيد تنفع صاحبها في الآخرة، فيكون من أهل الجنة، وينجو من النار؛ إذا علم معناها وعمل بمقتضاها.

قال الشيخ سليمان بن عبد الله بن محمد بن عبد الوهاب رحمه الله تعالى:

" عن عبادة بن الصامت قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ، والجنة حق ، والنار حق ، أدخله الله الجنة على ما كان من العمل ) ...

قوله: ( من شهد أن لا إله إلا الله )، أي: من تكلم بهذه الكلمة عارفًا لمعناها، عاملاً بمقتضاها باطنًا وظاهرًا، كما دل عليه قوله: ( فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ) وقوله: ( إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ). أما النطق بها من غير معرفة لمعناها ولا عمل بمقتضاها، فإن ذلك غير نافع بالإجماع " انتهى من " تيسير العزيز الحميد" (ص 51).

لكن هذا العلم بمعناها ومقتضياتها يجب على كل مسلم أن يعلم ذلك على وجه الإجمال فهذا يكفيه، فالنبي صلى الله عليه وسلم لم يعرف عنه أنه كان يفصل لكل جديد في الإسلام هذه الشروط ، بهذا التفصيل المقرر في الكتب.

قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله تعالى:

" لا ريب أنه يجب علي كل أحد أن يؤمن بما جاء به الرسول إيماناً عاماً مجملاً، ولا ريب أن معرفة ما جاء به الرسول علي التفصيل فرض على الكفاية، فإن ذلك داخل في تبليغ ما بعث الله به رسوله، وداخل في تدبر القرآن وعقله وفهمه، وعلم الكتاب والحكمة، وحفظ الذكر والدعاء إلي الخير، والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، والدعاء إلي سبيل الرب بالحكمة والموعظة الحسنة، والمجادلة بالتي هي أحسن، ونحو ذلك مما أوجبه الله علي المؤمنين، فهذا واجب علي الكفاية منهم " انتهى من"درء تعارض العقل والنقل" (1 / 51).

ولا يجب على كل مسلم أن يحفظ هذه الشروط ، ولا يقدح عدم معرفته بها في إيمانه ، وإنما المطلوب هو العمل بهذه الشروط وتصحيح الإيمان .

وهذا يعمل به المسلم – ولو كان عاميا- ما دام عقد قلبه على محبة الله ورسوله ، وطاعتهما ، وتعظيم النصوص الشرعية، والعمل بما بلغه منها بقدر استطاعته .

قال الشيخ حافظ الحكمي رحمه الله تعالى :

" لم ينتفع قائل لا إله إلا الله بنطقه بها مجردا، إلا حيث يستكملها أي: هذه الشروط السبعة. ومعنى استكمالها: اجتماعها في العبد، والتزامه إياها، بدون مناقضة منه لشيء منها.

وليس المراد من ذلك عد ألفاظها، وحفظها ، فكم من عامي اجتمعت فيه، والتزمها، ولو قيل له: اعددها، لم يحسن ذلك.

وكم حافظ لألفاظها، يجري فيها كالسهم ، وتراه يقع كثيرا فيما يناقضها، والتوفيق بيد الله، والله المستعان " انتهى من "معارج القبول" (2 / 418).

وقال الشيخ عبد العزيز بن باز رحمه الله تعالى:

" فالواجب على جميع المسلمين أن يحققوا هذه الكلمة، بمراعاة هذه الشروط، ومتى وجد من المسلم معناها، والاستقامة عليه: فهو مسلم، حرام الدم والمال، وإن لم يعرف تفاصيل هذه الشروط، لأن المقصود هو العلم بالحق، والعمل به ، وإن لم يعرف المؤمن تفاصيل الشروط المطلوبة " انتهى من "مجموع فتاوى الشيخ ابن باز" (7 / 58).

لكن العلم بهذه الشروط هو من فروض الكفاية ، فيجب على الأمة أن يوجد فيهم من يعلم هذه الشروط ويعلمها الناس ، وهذا داخل في تبليغ ما بعث الله به رسوله صلى الله عليه وسلم ... كما في كلام شيخ الإسلام السابق .

وقد قال شيخ الإسلام أيضا:

" وأما ما وجب على أعيانهم فهذا يتنوع بتنوع قدرهم وحاجتهم ومعرفتهم، وما أمر به أعيانهم، فلا يجب علي العاجز عن سماع بعض العلم، أو عن فهم دقيقه، ما يجب على القادر على ذلك، ويجب على من سمع النصوص وفهمها، من علم التفصيل؛ ما لا يجب على من لم يسمعها، ويجب علي المفتي والمحدث والمجادل، ما لا يجب على من ليس كذلك " انتهى من"درء تعارض العقل والنقل" (1 / 52).

والله أعلم.

www.ferkous.com

Selasa, 03 Desember 2019

Bab Disunahkan Bersalaman ketika Bertemu Saudaranya

Dari Syarah Riyadus Shalihin Syaikh Utsaimin.

٨٨٥ - عن أبي الخطاب قتادة قال قلت لأنس أكانت المصافحة في أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قال نعم رواه البخاري

Dari Abu Al-Khottob Qotadah berkata: Aku bertanya kepada Anas: Apakah para shahabat Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersalaman? Beliau menjawab: iya. (HR Bukhari)

٨٨٦ - وعن أنس رضي الله عنه قال لما جاء أهل اليمن قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قد جاءكم أهل اليمن وهم أول من جاء بالصافحة رواه أبو داود بإسناد صحيح

Dan dari Anas -radhiyallohu 'anhu- berkata: tatkala datang orang-orang Yaman, Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Telah datang kepada kalian penduduk Yaman, dan merekalah yang pertama kali yang mengamalkan bersalaman" (Diriwayatkan Abu Dawud dengan sanad shahih).

٨٨٧ - وعن البراء رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان إلا غفر لهما قبل أن يفترقا رواه أبو داود

Dari Baraa' -radhiyallohu 'anhu- berkata: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa salla- bersabda: Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu saling bersalaman kecuali diampuni keduanya sebelum berpisah" (HR Abu Dawud)

٨٨٨ - وعن أنس رضي الله عنه قال قال رجل يا رسول الله الرجل منا يلقى أخاه أو صديقه أينحني له قال لا قال أفيلتزمه ويقبله قال لا قال قيأخذ بيده ويصافحه قال نعم رواه
 الترمذي وقال حديث حسن

Dari Anas -radhiyallohu 'anhu- berkata: Seorang laki-laki berkata: "Seseorang di antara kami bertemu saudaranya atau temannya apakah dia membungkuk (sebagai penghormatan) kepadanya?" Beliau bersabda: "Tidak". Dia berkata: "Apakah dia memeluknya dan menciumnya?". Jawab beliau: "Tidak". Dia berkata lagi:"Dia mengambil tangannya dan bersalaman dengannya?". Beliau menjawab: "Iya". (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan).

Penulis -Imam Nawawi rahimahulloh- menggabungkan bab ini dalam kitab Riyadhus Shalihin dengan Adab Salam dan meminta izin serta yang terkait dengan bab itu. Di antaranya: Mushafahah(bersalaman). Apakah disunnahkan bagi seseorang jika bertemu saudaranya bersalaman dengannya. Jawabnya: iya, disunnahkan baginya hal itu sebab hal itu termasuk adabnya para shahabat -radhiyallohu 'anhum- sebgaiman yang ditanyakan Qatadah kepada Anas bin Malik -radhiyallohu 'anhu-; apakah para shahabat Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersalaman. Ia berkata: iya. Bersalaman dengan tangan kanan dan jika melakukan hal itu maka keduanya diampuni sebelum berpisah. Ini menunjukkan keutamaan bersalaman ketika bertemu.
Ini apabila ia bertemu untuk bercakap-cakap dengannya, atau yang semisal dengan hal itu. Adapun sekedar bertemu di pasar maka tidaklah hal tersebut termasuk tuntunan shahabat. Yakni apabila engkau melewati manusia di pasar maka cukuplah mengucapkan salam untuk mereka. Dan jika engkau berhenti dan berbincang-bincang sesuatu dengannya maka salamilah dia.
Kemudian sepatutnya kita ketahui bahwa sebagian orang jika salam dari sholat yang fardhu ia bersalaman dengan saudaranya dan terkadang berkata kepadanya: تقبل الله أو قبول (semoga Alloh menerima atau qabuul). Lafadz qabuul ini adalah bid'ah. Para shahabat tidak pernah mengamalkan yang demikian. Hanyalah cukup orang yang sholat mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri "assalmu 'alaikum wa rahmatulloh".

Adapun membungkuk ketika bertemu atau memeluk dan merangkulnya maka sesungguhnya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang membungkuk, beliau berkata: Tidak. Berkata lagi orang yang bertanya: Apakah merangkulnya dan memeluknya? Beliau berkata: Tidak. Apabila berjumpa tidak perlu merangkulnya yakni merengkuh pundaknya dan tidak pula memeluknya dan membungkuk kepadanya. Dan membungkuk lebih keras dan lebih besar lagi (larangannya) karena padanya ada bentuk ketundukan kepada selain Alloh -azza wa jalla-, sebagaimana yang dilakukan untuk Alloh ketika ruku' sehingga terlarang namun hendaklah bersalaman dan ini cukup, kecuali jika di sana ada sebab maka merangkul dan menciumnya tidak mengapa seperti datang dari safar atau semisalnya.
Seandainya ada yang berkata bagaimana mendudukkan ucapan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- tentang tidak boleh membungkuk dengan firman Alloh -ta'ala- tentang saudara Yusuf -alaihissalam-  tatkala mereka menemuinya dan ia berkata :
وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ * وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ

Dan dia berkata, “Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.” Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semua) tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). (QS Yusuf: 99-100)

Jawabannya bahwa hal itu pada syariat terdahulu, sedangkan syariat kita Al-Islamiyah telah mengjapus dan melarangnya. Maka tidak boleh seseorang bersujud kepada orang lain meskipun tidak dimaksudkan ibadah; atau membungkuk karena membungkuk telah dilarang Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- . Jika seseorang bertemu denganmu dan tidak mengetahui masalah ini dan membungkuk kepadamu, maka nasehatilah dan jelaskanlah. Katakan kepadanya: Ini terlarang, janganlah membungkuk dan janganlah merendahkan diri kecuali kepada Alloh saja. Dan mencium tangan tidaklah mengapa jika memang orang tersebut pantas untuk itu.
Allohu muwaffiq.

****

٨٨٥ - عن أبي الخطاب قتادة قال قلت لأنس أكانت المصافحة في أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قال نعم رواه البخاري

٨٨٦ - وعن أنس رضي الله عنه قال لما جاء أهل اليمن قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قد جاءكم أهل اليمن وهم أول من جاء بالصافحة رواه أبو داود بإسناد صحيح

٨٨٧ - وعن البراء رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان إلا غفر لهما قبل أن يفترقا رواه أبو داود

٨٨٨ - وعن أنس رضي الله عنه قال قال رجل يا رسول الله الرجل منا يلقى أخاه أو صديقه أينحني له قال لا قال أفيلتزمه ويقبله قال لا قال قيأخذ بيده ويصافحه قال نعم رواه
 الترمذي وقال حديث حسن

الشرح:

هذا الباب عقده المؤلف النووي رحمه الله في كتاب رياض الصالحين بآداب السلام والاستئذان وما يتعلق بذلك فمنها: المصافحة هل يسن للرجل إذا لقي أخاه أن يصافحه والجواب نعم يسن له ذلك لأن هذا من آداب الصحابة رضي الله عنهم كما سأل قتادة أنس بن مالك رضي الله عنه هل كانت المصافحة في أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قال نعم ويصافحه باليد اليمنى وإذا حصل ذلك فإنه يغفر لهما قبل أن يفترقا وهذا يدل على فضيلة المصافحة إذا لاقاه وهذا إذا كان لاقاه ليتحدث معه أو ما أشبه ذلك أما مجرد الملاقاه في السوق فما كان هذا من هدي الصحابة يعني إذا مررت بالناس في السوق يكفي أن يسلم عليهم وإذا كنت تقف إليه دائما وتتحدث إليه بشيء فصافحه ثم ينبغي أن نعرف أن بعض الناس إذا سلم من الصلاة إذا كانت فرضا صافح أخاه وأحيانا يقول له تقبل الله أو قبول ...
قبول وهذا من البدع فما كان الصحابة يفعلون هذا وإنما يكفي أن يسلم المصلي عن يمينه وعن يساره السلام عليكم ورحمة الله.
وأما الانحناء عند الملاقاة أو المعانقة والالتزام فإن النبي صلى الله عليه وسلم سئل عن ذلك أننحني قال لا قال السائل أيلتزمه ويعانقه قال لا فإذا لاقاه فإنه لا يلتزم أي لا يضمه إليه ولا يعانقه ولا ينحني له والانحناء أشد وأعظم لأن فيه نوعا من الخضوع لغير الله عز وجل بمثل ما يفعل لله في الركوع فهو منهي عنه ولكنه يصافحه وهذا كاف إلا إذا كان هناك سبب فإن المعانقة أو التقبيل لا بأس به كأن كان قادما من سفر أو نحو ذلك فإن قال قائل كيف يكون قول الرسول صلى الله عليه وسلم لا ينحني له مع قول الله تعالى في إخوة يوسف لما دخلوا عليه وقال ادخلوا مصر إن شاء الله آمنين ورفع أبويه على العرش وخروا له سجدا فالجواب عن هذا أنه في شريعة سابقة وشريعتنا الإسلامية قد نسخته ومنعت منه فلا يجوز لأحد أن يسجد لأحد وإن لم يرد بذلك العبادة أو ينحني فإن الانحناء منع منه الرسول صلى الله عليه وسلم إذا قابلك أحد يجهل هذا الأمر وانحنى لك
 فانصحه وأرشده قل له هذا ممنوع لا تنحن ولا تخضع إلا لله وحده وتقبيل اليد لا بأس به إذا كان الرجل أهلا لذلك والله الموفق

Minggu, 01 Desember 2019

Apakah Setiap Khariqul Adah (Kejadian Luar Biasa) Pada Seseorang Adalah Karomah?

Pertanyaan:
Apakah karomah wali itu benar adanya? Dan apakah setiap khoriqul 'adah (kejadian diluar kebiasaan) menunjukkan akan kebenaran orang yang memilikinya? Mohon kami diberikan penjelasan dengan perincian. Jazakallohu khoiron.

Jawab:

الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلامُ على مَنْ أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصَحْبِهِ وإخوانِه إلى يوم الدِّين، أمَّا بعد:
Karomah adalah sesuatu yang Alloh jalankan melalui tangan sebagian dari para waliNya yang mukmin berupa kejadian yang di luar kebiasaan dalam perkara pengetahuan, mukasyafah, kemampuan dan pengaruh yang tidak berkaitan dengan dakwah kenabian dan bukan pula permulaannya.
Masalah khoriqul 'adah -dalam karomah- hanya Alloh -ta'ala- berikan kepada orang yang secara dzohirnya beriman dan beramal sholih serta iltizamnya dalam mengikuti Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- terbebani dengan syariat. Karomah tidaklah diperoleh kecuali dengan barakahnya mengikuti Nabi. Maka adanya karomahnya para wali -pada hakikatnya- adalah dari mu'jizatnya para Nabi.

Adapun kejadian di luar nalar yang terjadi pada para pendusta, orang sesat dan orang yang menyimpang  secara manhaj dan aqidah dari kalangan penyembah sesembahan lain selain Alloh, atau mengklaim mengetahui rahasia alam atau mengetahui yang ghaib, atau orang yang berdoa kepada yang mati atau yang hidup seperti jin dan manusia dengan meyakini mampu memberikan manfaat dan mudharat; seperti tukang sihir, dukun, tukang tenung dan yang semisalnya Maka yang demikian ini adalah tipuan syaiton dan ulah iblis bukanlah dari karomah sama sekali. (1).
Dengan kriteria tersebut maka nampak juga mu'jizat yang Alloh -ta'ala- tampakkan melalui tangan para rosul dan para nabi yang mereka menyampaikan kabar tentang Alloh -ta'ala- dan mereka menghadapi tantangan para hamba dengan mu'jizat agar mereka membenarkannya (para rasul) dan mengikuti dakwah mereka serta apa yang mereka bawa.
Berdasarka hal ini maka tidaklah mesti kejadian luar biasa secara dzatnya menunjukkan kebenaran orang yang memilikinya dan tidak pula (menunjukkan) kewaliannya. Terkadang justru istidraj dan tipuan. Terkadang sebagai ujian sehingga menjadi bahagia suatu kaum dengannya dan menjadi sedih kaum yang lainnya.
Hal ini; dan di antara contoh karomah yang berupa ilmu dan mukasyafah yaitu kisah Khoidhir (2) dan Musa -'alaihi wa sallam- dan apa yang Alloh tampakkan melalui tangannya berupa tiga kejadian yang dianggap Musa -alaihis salam- sebagai perkara besar: melubangi perahu, pembunuhan anak kecil dan menegakkan dinding. Dan juga pengkhabaran Abu Bakar -radhiyalohu 'anhu- bahwa di kandungan istrinya adalah anak perempuan; Alloh pun membenarkan dugaannya dan dijadikan hal itu sebagai karomah baginya (3). Dan seruan Umar bin Khottob -radhiyallohu 'anhu- sedangkan beliau berada di atas mimbarnya di Madinah. Dia berseru: "Wahai Sariyah bin Zunaim, gunung!!" sedangkan dia (Sariyah bin Zunaim) di Iraq mendengarnya.(4)
Adapun contoh karomah dalam masalah qudrah (kemampuan) dan ta'tsir yaitu kisah Ashabul Kahfi dan tinggalnya mereka di dalamnya dalam keadaan hidup selama 309 tahun. Kisah Maryam ketika dia diberi buah-buahan musim dingin di musim panas, dan buah-buahan musim panas di musim dingin. Maka takjublah Zakariya akan hal itu dan berkata:
يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللهِ
"Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". (QS Ali Imron: 37)
Dan kisah Sarah istri Ibrahim Al-Khalil -'alaihis salam- yang diberi kabar gembira oleh para utusan (malaikat) dengan Ishaq. Alloh -ta'ala- berfirman:
وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ. قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ. قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللهِ رَحْمَتُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
"Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya'qub. Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh". Para malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah".(QS Hud: 71-73)
Demikian pula kisah tentang seseorang yang memiliki ilmu dari Kitab bersama Sulaiman -'alaihi sholatu was salam-; Alloh -ta'ala- berfirman:
قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِنَ الكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
"Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".(QS An-Naml: 40)

Dan yang semisal ini banyak sekali(5). Karomahnya para wali akan senantiasa ada sampai hari kiamat. Dan ini menunjukkan bahwasannya (karomah para wali) dijumpai bersamaan dengan kejadian-kejadian dan sebab-sebab yang menuntut terjadinya musabab (yakni karomah -pent). Dan peletakan(karomah itu sendiri -pent) ada peristiwa lain yang tidak diketahui ilmu manusia dan tidak dapat diperoleh dengan amal-amal mereka dan sebab-sebab mereka.
Dengan demikian, Ahlus Sunnah wal jamaah beriman dengan karomah para wali yang shahih sebagai kewajiban dan bahwa karomah itu benar adanya. Ada pun yang tidak jelas maka hukumnya adalah tawaquf (menahan diri tidak berkomentar) dengan menetapkan kemungkinan kejadiannya tanpa menetapkan dan menafikkan. Dan mereka (Ahlus Sunnah) dengan hal ini menyelisihi Mu'tazilah dan yang semodel mereka dalam pengingkarannya terhadap karomah para wali.
Dan ilmunya ada di sisi Alloh -ta'ala-.
وآخرُ دعوانا أنِ الحمدُ للهِ ربِّ العالمين، وصَلَّى اللهُ على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسَلَّم تسليمًا.

Aljazair, 19 Jumadal Ula 1430 H bertepatan 14 Mei 2009.

ferkous.com
######
Note: catatan kaki ada pada teks asli dibawah tulisan ini.
#########

في كرامات الأولياء

السـؤال:

هل كراماتُ الأولياء حقٌّ؟ وهل كلُّ خارقةٍ للعادة تدلُّ على صِدقِ مَن ظهرت على يديه؟ أفيدونا مع التفصيل جزاكم الله خيرًا.

الجـواب:

الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلامُ على مَنْ أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصَحْبِهِ وإخوانِه إلى يوم الدِّين، أمَّا بعد:

فالكرامةُ هي ما يجريه اللهُ على يد بعض أوليائه المؤمنين من خوارق العادات في العلوم والمكاشفات والقدرة والتأثير غيرَ مقرونٍ بدعوة النبوَّة ولا مقدِّمةٍ لها.

والأمر الخارق للعادة -في الكرامة- إنما يجريه الله تعالى على مَنْ ظاهرُه الإيمان والعملُ الصالح والتزامه بمتابعة نبيٍّ كُلِّف بشريعةٍ، فالكرامةُ لا تحصل إلاَّ ببركةِ متابعة النبيِّ، فكان وقوع كرامات الأولياء -في حقيقة الأمر- من معجزات الأنبياء.

أمَّا خوارق العادات التي تظهر على أيدي أهل الدَّجل والضلال والانحراف السلوكيِّ والعقديِّ ممَّن يدعو مع الله إلهًا آخر أو يدَّعي معرفةَ أسرار الكون والاطِّلاعَ على الغيب أو من يدعو الأمواتَ والأحياء من الجنِّ والإنس معتقدًا نَفْعَهم وضرَّهم، كالسحرة والكهنة والمشعوذة ونحو ذلك؛ فإنما هي أحوالٌ شيطانيةٌ وخوارق إبليسيةٌ ليست من الكرامة في شيءٍ(١).

وبهذا المعيار السابق تظهر –أيضًا- خوارق المعجزة التي يجريها الله تعالى على أيدي الرسل والأنبياء الذين يخبرون عن الله تعالى ويتحدَّوْن بالمعجزة العبادَ لتصديقهم والإقرار بدعوتهم وما أُرسلوا به.

وعليه فلا تدلُّ خوارق العادات في ذاتها على صدقِ مَن ظهرت على يديه ولا على ولايته، فقد تكون استدراجًا أو مَكْرًا، وقد تُعَدُّ ابتلاءً فيسعد بها قومٌ ويشقى آخَرون.

هذا، ومن أمثلة الكرامة في باب العلوم والمكاشفات: قصَّة الخَضِر(٢) مع موسى عليه السلام وما أجرى الله على يده من الوقائع الثلاث التي استعظمها موسى عليه السلام: خرق السفينة، وقتل الصبيِّ، وتقويم الجدار، وكإخبار أبي بكرٍ رضي الله عنه أنَّ في بطن امرأته أنثى فصدَّق الله ظنَّه وجعل ذلك كرامةً له(٣)، ونداء عمر بن الخطَّاب رضي الله عنه وهو على منبره بالمدينة فقال: «يا سارية بنَ زُنَيْم، الجبلَ» وهو بالعراق فسمعه(٤).

أمَّا أمثلة الكرامة في باب القدرة والتأثير: فقصَّة أصحاب الكهف ومكوثهم فيه أحياء ثلاثمائةٍ سنينَ وازدادوا تسعًا، وقصَّة مريم حيث كانت تؤتى بفاكهة الشتاء في الصيف وفاكهة الصيف في الشتاء، فعجب من ذلك زكريَّا وقال: ﴿يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللهِ﴾ [آل عمران: ٣٧] وقصَّة «سارَة» زوجة إبراهيم الخليل عليه السلام التي بشَّرها الرسل بإسحاق، وقال تعالى: ﴿وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ. قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ. قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللهِ رَحْمَتُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ﴾ [هود: ٧١-٧٣]، وكذلك في قصَّة الذي عنده علمٌ من الكتاب مع سليمان عليه الصلاة والسلام، قال تعالى: ﴿قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِنَ الكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ﴾ [النمل: ٤٠]، ونحو ذلك كثيرٌ(٥)، ولا تزال كرامات الأولياء جاريةً إلى قيام الساعة. وهذا يدلُّ على أنه يوجد مع السنن والأسباب المقتضية للمسبَّبات الموضوعة لها سننٌ أخرى لا يقع علمُ البشر عليها ولا تدركها أعمالُهم وأسبابهم.

هذا، وأهل السنَّة والجماعة يؤمنون بما صحَّ من كرامات الأولياء وجوبًا وأنها حقّ، أمَّا ما لم يثبت فحكمه التوقُّف فيه مع الإقرار بإمكان وقوعه من غير إثباته ولا نفيه، وهم بذلك يخالفون المعتزلةَ ومن وافقهم في إنكارهم لكرامات الأولياء(٦).

والعلمُ عند اللهِ تعالى، وآخرُ دعوانا أنِ الحمدُ للهِ ربِّ العالمين، وصَلَّى اللهُ على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسَلَّم تسليمًا.

الجزائر في: ١٩ جمادى الأولى ١٤٣٠ﻫ
الموافق ﻟ: ١٤ ماي ٢٠٠٩م

(١) انظر: «قاعدة في المعجزات والكرامات» لابن تيمية (١١/ ٣١١)، وانظر رسالته: «الفرقان بين أولياء الرحمن وأولياء الشيطان» وفي «مجموع الفتاوى» (١١/ ٢٧٦-٢٨٢).

(٢) وهذا إذا ما تقرَّر أنَّ الخضر وليٌّ و ليس نبيًّا وهو قول أكثر العلماء. [انظر: «مجموع الفتاوى» لابن تيمية (٤/ ٤٩٧)، «تفسير ابن كثير» (٤/ ١٨٧)].

(٣) أخرجه مالك في «الموطإ» (٢/ ٧٥٢)، والبيهقي في «السنن الكبرى» (١١٩٤٨)، والطحاوي في «شرح معاني الآثار» (٤/ ٨٨)، واللالكائي في «شرح أصول الاعتقاد» (٩/ ١٢٤)، عن عائشة رضي الله عنها. قال الألباني في «الإرواء» (٦/ ٦٢): «وهذا إسنادٌ صحيحٌ على شرط الشيخين».

(٤) أخرجه البيهقي في «الاعتقاد» (٣١٤)، وأبو نعيم في «دلائل النبوَّة» (٢/ ٥٧٩)، واللالكائي في «شرح أصول الاعتقاد» (٩/ ١٢٨)، عن ابن عمر رضي الله عنهما، وحسَّنه ابن حجر في «الإصابة» (٢/ ٣)، والألباني في «السلسلة الصحيحة» (٣/ ١٠١).

(٥) للاطِّلاع على مجموعةٍ من وقائع كرامات الأولياء يراجع الجزء التاسع (٩) المتعلِّق ﺑ «كرامات أولياء الله» من كتاب «شرح اعتقاد أهل السنَّة و الجماعة» لأبي القاسم اللالكائي رحمه الله.

(٦) انظر: «شرح العقيدة الطحاوية» لابن أبي العزِّ (٥٥٨-٥٦٤).

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)