“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Minggu, 30 Agustus 2020

Berhati-hatilah Dari Bid'ah dalam Masalah Agama


Penulis -hafidzahulloh- berkata:
احذروا البدع في الدين
"Waspadalah terhadap bid'ah dalam masalah agama"

Penulis berkata:
عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ
"Dari 'Aisyah -radhiyallohu anha- berkata: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-: Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami (Islam) ini yang bukan darinya maka amalan itu tertolak" (HR Bukhari dan Muslim)

Penulis berkata:
Dan dalam riwayat Muslim:
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو ردّ
"Barang siapa yang beramal dengan amalan yang bukan dari urusan (agama) kami maka amalan itu tertolak" (HR Muslim).
Penulis berkata:
عن جابر -رضي الله عنه- قال: كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا خطب يقول: أما بعد، فإن خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ (وكل بدعة.ضلالة)، (وكل ضلالة في النار)
"Dari Jabir -radhiyallohu 'anhu- berkata: Rasululloh apabila hendak berkhotbah berkata: "Amma ba'du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabulloh, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam-, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan. Dan setiap yang diada-adakan adalah bid'ah  (Dan setiap bid'ah adalah kesesatan)(dan setiap kesesatan tempatnya di neraka).
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan ini lafadz dari beliau. Dan diriwayatkan juga oleh An-Nasa'i dan dua tambahan ini darinya).

Penulis berkata:
Renungkanlah -wahai saudaraku muslim- dua hadits nabawi yang mulia shahih yang keduanya datang dari lentera kenabian. Dengan perhatian seksama pada kedua hadits ini engkau akan mendapati keduanya adalah penyembuh bagimu dari segala macam bid'ah yang terjadi pada agama Alloh ini. Demikian itu karena Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- menghukumi setiap kebid'ahan adalah kesesatan. Beliau tidak mengatakan sebagian dan sebagian. Namun beliau berkata: كلّ (seluruhnya) dan كل -wahai saudaraku muslim- adalah lafadz umum. Demikian pula sabda beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو ردّ
"Barang siapa yang beramal dengan amalan yang bukan dari urusan (agama) kami maka amalan itu tertolak" (HR Muslim).
Rooddun artinya marduud (tertolak). Beliau tidak mengatakan: tergantung niat pelakunya namun beliau menghukuminya bahwa amalan itu tertolak. Apabila ada yang mengatakan kepadamu: Tidak setiap bid'ah itu sesat. Dan tidak setiap amalan yang diada-adakan dalam agama ini tertolak. Maka katakan padanya: Siapa yang lebih tahu, engkau ataukah Rasululloh -shollallohu alaihi wa sallam-?
Dan siapa yang lebih bertaqwa, engkau ataukah Rosululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-?
Jika dia berpendapat dengan jelasnya dua hadits ini dan meyakini kandungannya serta mengamalkannya maka itu yang dikehendaki. Namun jika dia tetap pada perkataannya yang sebelumnya yaitu bahwa tidak setiap bid'ah sesat dan tidak setiap perkara yang diada-adakan(dalam ibadah) tertolak maka katakan padanya: Sesungguhnya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wasallam- di satu sisi berkata: "Setiap bid'ah sesat" dan berkata pula: "Barang siapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan dari urusan agama kami maka tertolak". Dan engkau di sisi yang lain  berkata: "Tidak setiap bid'ah sesat dan tidak setiap amalan yang diada-adakan tertolak". Maka katakan padanya: Ini adalah bentuk penentanganmu kepada Rasululloh -shollallohu 'alaihi wasallam-. Dan sebutkanlah padanya firman Alloh -ta'ala-:
وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا
"Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali". (QS An-Nisa': 115)

Ya Alloh, wafatkanlah kami di atas Al-Qur'an dan As-Sunnah dan tolonglah kami dari seluruh bid'ah. Kabulkanlah wahai Rabb semesta alam.

Penjelasan:
Telah ada peringatan dari para salaf akan bid'ah dan pelakunya tatkala padanya terdapat bahaya yang besar. Di antaranya adalah perkataan Ibnu Mas'ud:
اتبعوا ولا تبتدعوا فقد كفيتم
"Ittiba'lah (ikutilah sunnah nabi) dan jangan berbuat bid'ah. Sesungguhnya kalian telah cukup (dengan mengikuti sunnah)"
Beliau juga berkata:
تعلموا العلم قبل أن يقبض، وقبضه أن يذهب أهله، ألا وإياكم والتنطع والتعمق التبدع وعليكم بالعتيق
"Belajarlah kalian ilmu agama sebelum ilmu itu dicabut. Dan dicabutnya adalah dengan diwafatkan para ahlinya. Berhati-hatilah kalian dari sikap memaksakan diri dalam berbicara dan berbuat bid'ah. Dan hendaklah kalian berpegang pada ajaran Rasululloh -shollallohu alaihi wa sallam-".

Ibnu Umar berkata:
كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة
"Setiap bid'ah adalah kesesatan meskipun manusia melihatnya sebagai kebaikan"

Imam Malik -rahimahulloh- berkata:
من ابتدع في الإسلام بدعة يرى أنها حسنة فقد زعم أن محمدا خان الرسالة، لأن الله يقول: (اليوم أكملت لكم دينكم)
"Barang siapa yang membuat suatu bid'ah dalam Islam dan dia menganggap hal itu baik maka sungguh ia telah menuduh Nabi Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- telah mengkhianati risalah kenabian sebab Alloh -ta'ala- berfirman: "Pada hari ini telah aku sempurnakan bagi kalian agama kalian"(QS Al-Maidah: 3)"

Imam Ahmad -rahimahulloh- berkata:
أصول السنة عندنا: التمسك بما كان عليه أصحاب النبي - صلى الله عليه و سلم- والإقتداء، وترك البدع، وكل بدعة.ضلالة
"Pokok-pokok sunnah menurut kami adalah: berpegang teguh pada perkara yang dipegangi oleh para shahabat Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- serta meneladani mereka. Meninggalkan bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan"

Imam Malik berkata:
خير الأمور السالفات على الهدى
وشرّ الأمور المحدثات البدائع
"Sebaik-baik urusan adalah (mengikuti) para salaf yang berada di atas petunjuk;
Dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan lagi bid'ah"

Benarlah orang yang berkatan
وكل خير في اتباع من سلف
وكل شرّ في ابتداع من خلف
"Setiap kebaikan adalah dengan mengikuti para salaf yang telah mendahului,
Dan setiap keburukan adalah pada bid'ahnya orang-orang yang datang setelahnya"

Diterjemahkan dari kitab Tuhfatul Murid Syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al-Watr hal 130-133.

Senin, 24 Agustus 2020

Definisi Bid'ah dan Pembagiannya

Penulis -hafidzahullah- berkata:

تعريف البدعة
"Definisi bid'ah"

Penjelasan:
Bid'ah: yaitu setiap keyakinan, ucapan, atau amalan yang diada-adakan setelah wafatnya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dengan niat untuk beribadah dan mendekatkan diri (kepada Alloh) dan tidak ada dalilnya dari kitab Al-Qur'an maupun Sunnah.

Dan ada pendapat lain yaitu: sesungguhnya bid'ah secara bahasa adalah isim musytaq (kata turunan) dari ibtidaa' (mengadakan) yaitu segala sesuatu yang diada-adakan tanpa ada contoh sebelumnya. Penulis Shahibul Lisan berkata:
بدّع الشيء يبدعه وابتداعه
yakni mengadakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya.

Alloh -ta'ala- berfirman:
بَدِيعُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَإِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ

"(Allah) pencipta langit dan bumi" (QS Al-Baqarah: 117)
yakni Alloh menciptakan keduanya tanpa ada contoh sebelumnya.

Ada yang berpendapat: definisinya secara istilah:
هي طريقة في الدين تضاهي الشريعة يقصد بها التعبد لله ولم علي عهد رسول الله -صلى الله عليه وسلم- ولم يدل عليها الدليل
"Yaitu sebuah tata cara dalam agama yang menyerupai syariat yang hal itu dimaksudkan untuk beribadah kepada Alloh -ta'ala- dan tidak ada pada masa Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan tidak ada dalil padanya".

Penulis -hafidzahulloh- berkata:
أقسام البدعة خمسة: كلها ضلالة و بعضها أشرّ من بعض
"Bid'ah dibagi lima: keseluruhannya kesesatan dan sebagiannya lebih buruk dari pada sebagian yang lain"

Penjelasan:
Penulis telah menyebutkan sebelum penutup kitab bahwa bid'ah hanya terbagi dua saja: Pertama: Bid'ah besar dan kedua: bid'ah kecil. Atau bid'ah yang menyebabkan pelakunya kafir dan yang menyebabkan pelakunya fasik. Atau yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam atau pun yang tidak.

Pembagian bid'ah menjadi lima sebagaimana yang disebutkan penulis:
1. BID'AH I'TIQADIYAH (bid'ah keyakinan). Penulis berkata: yaitu setiap keyakinan yang menyelisihi Al-Qur'an dan As-Sunnah seperti bid'ahnya Khawarij, Mu'tazilah, Murji'ah, Rafidhah dan Ittihadiyah (manunggaling kawulo gusti).

2. BID'AH LAFDZIYAH(bid'ah ucapan) yaitu setiap lafadz yang diucapkan oleh seseorang dalam rangka beribadah yang menyelisihi Al-Qur'an dan As-Sunnah. Misalnya adalah: melafadzkan niat sebelum sholat, dzikir berjamaah dengan suara keras mengiringi sholawat dan juga dzikir dengan suara keras mengiringi jenazah, dan yang selainnya banyak sekali. Sebagiannya terkadang bisa mengantarkan kepada kekufuran seperti berdoa kepada selain Alloh, istighotsah (minta pertolongan) kepada penghuni kubur dan yang semisalnya.

3. BID'AH BADANIYAH (bid'ah terkait amalan badan). Penulis berkata: yaitu setiap gerakan badan manusia dalam rangka ibadah dan menyelisihi Al-Qur'an dan As-Sunnah. Di antaranya adalah melakukan perjalanan jauh untuk ziarah kubur serta thawaf mengelilinginya; membuat majelis untuk membaca dzikir-dzikir pagi dan petang secara berjamaah dan juga menggerak-gerakkan badan ketika membaca dzikir-dzikir dan yang semisalnya.

4. BID'AH MAALIYAH (Bid'ah terkait masalah harta). Penulis berkata: yaitu setiap harta yang dimanfaatkan dalam rangka beribadah pada perkara yang menyelisihi Al-Qur'an dan As-Sunnah. Misalnya bernadzar kepada kubur-kubur dan mewakafkan tanah untuk hal itu dan juga memberi sokongan (dengan harta). Atau memberi sokongan harta untuk memperingati acara-acara maulid, atau untuk membangun kubah di atas kuburan dan yang semisalnya.

5. BID'AH TARKIYAH (bid'ah terkait meninggalkan suatu amal). Penulis berkata: yaitu setiap orang yang meninggalkan suatu perkara agama atau hal yang dibolehkan dalam rangka beribadah. Misalnya orang yang tidak menikah atau tidak makan daging dalam rangka beribadah dan bertaqarrub kepada Alloh. Di antaranya juga mengasingkan diri dari orang banyak.

Diterjemahkan dari kitab Tuhfatul Murid Syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al-Watr hal 127-130.

Jumat, 21 Agustus 2020

Manfaat Bersiwak

Pembahasan keempat: manfaat bersiwak.
Dan di antara faidah bersiwak yang paling penting adalah sebagaimana yang ada pada hadits sebelumnya yaitu alat pembersih mulut di dunia dan mendatangkan ridho Alloh di akhirat. Selayaknya bagi seorang muslim untuk menjaga sunnah ini dan tidak meninggalkannya karena di dalamnya mengandung faidah-faidah yang sangat besar. Terkadang waktu berlalu atas sebagian kaum muslimin sebulan atau dua bulan namun mereka tidak bersiwak, entah karena malas atau pun karena bodoh. Mereka inilah yang telah terluput darinya pahala yang agung faidah yang banyak karena sebab mereka meninggalkan sunnah yang senantiasa diamalkan oleh Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- yang hampir-hampir beliau memerintahkan kepada umatnya dengan perintah wajib seandainya saja beliau tidak khawatir akan memberatkan. Dan disebutkan manfaat lain dari siwak yaitu: menguatkan gigi, mengencangkan gusi, menjernihkan suara dan menjadikan hamba semangat.

Diterjemahkan dari kitab fiqih muyassar.
المسألة الرابعة: فوائد السواك:
ومن أهمها ما ورد في الحديث السابق: أنه مطهرة للفم في الدنيا مرضاة للرب في الآخرة. فينبغي للمسلم أن يتعاهد هذه السنة، ولا يتركها؛ لما فيها من فوائد عظيمة. وقد يمر على بعض المسلمين مدة من الوقت كالشهر والشهرين وهم لم يتسوكوا إما تكاسلاً وإما جهلاً، وهؤلاء قد فاتهم الأجر العظيم والفوائد الكثيرة؛ بسبب تركهم هذه السُّنةَ التي كان يحافظ عليها النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وكاد يأمر بها أمته أَمْرَ إيجاب، لولا خوف المشقة.
وقد ذكروا فوائد أخرى للسواك، منها: أنه يقوي الأسنان، ويشد اللثة، وينقي الصوت، وينشط العبد.

Wajibnya Bertawakal Hanya Kepada Alloh

Penulis berkata:

وجوب التوكل على الله وحده
"Wajibnya bertawakal hanya kepada Allah"
Penjelasan:
At-Tawakul (tawakal) secara bahasa maknanya adalah at-tafwiidh (penyerahan). Sebagaimana engkau katakan:
وكلت الأمر إليك
Yakni aku menyerahkan urusan kepadamu.
Secara istilah: Bersandar kepada Alloh dengan sebenar-benarnya dalam menarik manfaat dan menolak mudharat dengan menempuh sebab-sebab yang diizinkan syariat.
Tawakal adalah ibadah hati. Barang siapa memalingkannya kepada selain Alloh maka hal itu merusak tauhid dan keimanannya. Tawakal bertambah seiring bertambahnya iman, dan melemah seiring melemahnya iman. Dan tidak masuk pada pembahasan bab ini seseorang mewakilkan kepada orang lain untuk menyelesaikan urusannya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- berkata:
ترك الأسباب قدح في الشريعة والإعتماد على الأسباب شرك
"Meninggalkan sebab adalah tercela menurut syariat dan bersandar pada sebab adalah kesyirikan".

Ibnul Qayyim berkata dalam Syifa'ul Alil:
من أعظم الجنايات على الشرع ترك الأسباب بزعم أن ذلك ينافي التوكل
"Termasuk sebesar-besar kejahatan pada syariat ini adalah meninggalkan sebab (ikhtiyar) karena menganggap hal itu menafikkan tauhid".

Mengambil sebab-sebab yang disyariatkan menunjukkan kesempurnaan tawakal dan kecerdasannya. Dan meninggalkan sebab menunjukkan kebodohan seseorang terhadap syariat Tuhannya. Barang siapa membaca kisah para nabi terlebih lagi Nabi kita -Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan kisah para shahabat beliau maka dia melihat bahwa mereka termasuk para manusia yang paling besar tawakalnya jika tidak kita katakan yang paling besar bertawakal. Meski demikian sungguh mereka menempuh ikhtiar dan meyakini bahwa hal itu termasuk kesempurnaan tawakal. Sesungguhnya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi serta Ibnu Majah dari Umar:
لو أنكم توكلتم عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ،  لَرَزَقَكُمْ  كَمَا  يَرْزُقُ الطَّيْرَ،  تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
"Seandainya kalian bertawakal kepada Alloh dengan sebenar-benar tawakal kepadaNya, niscaya Alloh pasti akan memberi rezeki pada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki pada burung, pagi-pagi berangkat dengan perut lapar dan kembali dengan perut kenyang"

Penulis -hafidzahulloh- telah menyebutkan sebagian ayat-ayat tentang tawakal. Semuanya menyebutkan di dalamnya perintah untuk bertawakal kepada Alloh -azza wa jalla-. Dalam ayat yang pertama yaitu firman Alloh -azza wa jalla-

فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ
"Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal".(QS Ali 'Imran: 159)

Mengambil sebab kemudian bertawakal kepada Alloh. Kemudian Alloh menyebutkan di akhir ayat bahwa Dia mencintai orang-orang yang bertawakal.

Pada ayat yang kedua Alloh memerintahkan untuk bertawakal kepadaNya dan berpaling dari orang-orang yang bodoh serta tidak adanya ketakutan dari mereka. Alloh -ta'ala- berfirman:
فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًا

"maka berpalinglah dari mereka dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah yang menjadi pelindung". (QS An-Nisa': 81)

Pada ayat yang ketiga Alloh memerintahkan kaum muslimin untuk condong kepada perdamaian jika musuh-musuhnya cenderung pada perdamaian. Dan hal itu jika kaum muslimin pada kondisi lemah. Jika tidak demikian maka ayat ini mansukh (terhapus hukumnya) sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hasan dalam tafsir Ibnu Jarir; selama tidak dikhawatirkan berkhianat. Dan Alloh memerintahkan bertawakal kepadaNya. Alloh berfirman:

۞وَإِن جَنَحُواْ لِلسَّلۡمِ فَٱجۡنَحۡ لَهَا وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ
"Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui"(QS  Al-Anfal: 61)

Pada ayat yang keempat Alloh memerintahkan untuk bertawakal kepada Dzat Yang Maha Hidup yang tidak akan mati. Berbeda halnya dengan orang yang bertawakal kepada sesuatu yang tidak ada kehidupan padanya atau kepada makhluk yang lemah semisalnya. Alloh -ta'ala- berfirman:
وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡحَيِّ ٱلَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِهِۦۚ

"Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup, Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya". (QS Al-Furqan: 58)

Pada ayat yang kelima Alloh memerintahkan untuk bertawakal kepada Alloh Al-Aziz ( Maha Perkasa) lagi Ar-Rahiim(Maha Penyayang). Sehingga hal tersebut menjadi rasa tentram bagi orang-orang yang bertawakal karena dia bertawakal kepada yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang, yang tidak mentelantarkannya dan senantiasa mengawasinya lahir dan batin. Alloh berfirman:
وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ، ٱلَّذِي يَرَىٰكَ حِينَ تَقُومُ ، وَتَقَلُّبَكَ فِي ٱلسَّٰجِدِينَ ، إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ
"Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang. Yang melihat engkau ketika engkau berdiri (untuk shalat), dan (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui“ (QS Asy-Syu'ara: 217-220)

Pada ayat yang keenam Alloh -subhanahu wa ta'ala- memerintahkan untuk teguh di atas agamaNya dan bertawakal kepadaNya. Alloh -ta'ala- berfirman:
فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۖ إِنَّكَ عَلَى ٱلۡحَقِّ ٱلۡمُبِينِ

"Maka bertawakallah kepada Allah, sungguh engkau (Muhammad) berada di atas kebenaran yang nyata." (QS An-Naml: 79)

Pada ayat yang ketujuh Alloh -subhanahu wa ta'ala- menyebutkan bahwa tawakal kepadaNya adalah tanda kebenaran iman kepada Alloh. Alloh berfirman:
(وَقَالَ مُوسَىٰ یَـٰقَوۡمِ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ فَعَلَیۡهِ تَوَكَّلُوۤا۟ إِن كُنتُم مُّسۡلِمِینَ * فَقَالُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَا رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةࣰ لِّلۡقَوۡمِ ٱلظَّـٰلِمِینَ * وَنَجِّنَا بِرَحۡمَتِكَ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَـٰفِرِینَ)
"Dan Musa berkata, “Wahai kaumku! Apabila kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya, jika kamu benar-benar orang Muslim (berserah diri).” Lalu mereka berkata, “Kepada Allah-lah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi kaum yang zhalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari orang-orang kafir.” (QS Yunus: 84-86)

Dan firmanNya:
قَالَ رَجُلَانِ مِنَ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمَا ٱدۡخُلُواْ عَلَيۡهِمُ ٱلۡبَابَ فَإِذَا دَخَلۡتُمُوهُ فَإِنَّكُمۡ غَٰلِبُونَۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, “Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman.” (QS Al-Ma'idah: 23)

Pada ayat ke delapan Alloh -azza wa jalla- menjelaskan bahwa bertawakal kepadanya adalah termasuk sifat orang beriman. Dan bertawakal kepada Alloh sebab Dia lah yang layak  untuk itu ( dijadikan tempat bertawakal). Alloh -ta'ala- berfirman:
وَمَا لَنَآ أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنَا سُبُلَنَاۚ وَلَنَصۡبِرَنَّ عَلَىٰ مَآ ءَاذَيۡتُمُونَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُتَوَكِّلُونَ
"Dan mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah, sedangkan Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh, akan tetap bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang yang bertawakal berserah diri.”(QS Ibrahim: 12)
Pada ayat-ayat tersebut Alloh -ta'ala- menjelaskan bahwa wajib bertawakal kepadaNya saja -yang tidak ada sekutu bagiNya- dan tidak bertawakal kepada selainNya. (Barang siapa bertawakal kepada selainNya) sungguh dia telah menggantungkan harapannya kepada sesuatu yang tidak bisa memudharatkannya dan tidak pula bisa memberi manfaat kepadanya.

Meninggalkan sebab-sebab (ikhtiar) dengan anggapan  bahwa hal itu menafikkan tawakkal dan iman adalah kebodohan dan kedunguan, jauh dari pemahaman Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan benar serta bertentangan dengan akal sehat dan fitrah yang lurus.
أَوۡ كَظُلُمَٰتٖ فِي بَحۡرٖ لُّجِّيّٖ يَغۡشَىٰهُ مَوۡجٞ مِّن فَوۡقِهِۦ مَوۡجٞ مِّن فَوۡقِهِۦ سَحَابٞۚ ظُلُمَٰتُۢ بَعۡضُهَا فَوۡقَ بَعۡضٍ إِذَآ أَخۡرَجَ يَدَهُۥ لَمۡ يَكَدۡ يَرَىٰهَاۗ وَمَن لَّمۡ يَجۡعَلِ ٱللَّهُ لَهُۥ نُورٗا فَمَا لَهُۥ مِن نُّورٍ
"Barangsiapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun" (QS An-Nur: 40)

Diterjemahkan dari kitab Tuhfatul Murid Syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al-Watr hal 123-127

Kamis, 20 Agustus 2020

Taisir (73&74): Kewajiban Mengikuti Imam pada Sholat Jamaah

Hadits ke-73:

عَنْ أبي هريرة رضيَ الله عَنْهُ عَنِ النبي صلى الله عليه وسلم قَال: "إِنَّمَا جُعِل الإمام لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَلا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ، فإذا كَبَّرَ فَكَبروا. وإذَا رَكَعَ فَاركعُوا، وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ الله لِمَنْ حَمِدَهُ. فَقُولوا: رَبَنا لَكَ الحَمْد، وإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا، وَإَذَا صَلَّى جَالِساً فَصَلُّوا جُلُوساً أجْمَعُونَ
Dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu- dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- beliau bersabda: "Dijadikannya imam itu tiada lain supaya diikuti oleh karenanya janganlah kalian menyelisihinya. Apabila dia bertakbir maka bertakbirlah. Apabila dia ruku maka ikutilah ruku'. Apabila dia berkata: samiallohu liman hamidah (Alloh mendengar orang yang memujiNya) maka ucapkanlah "rabbana lakalhamdu" (Wahai Rabb kami, untukmulah seluruh pujian). Apabila Dia bersujud maka ikutlah bersujud. Jika dia sholat dengan duduk maka kalian sholat dengan duduk semuanya"

Hadits ke-74:
عَنْ عَائِشَةَ رَضيَ الله عَنهَا قالَتْ: "صَلى رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم في بَيْتِهِ وَهُوَ شَاك فصَلًى جَالِساً، وَصلَّى وَرَاءهُ قَوم قياماً فَأشَار إلَيْهِمْ: أنِ اجْلِسُوا، فلَمَا انصرف قَال: إنَّمَا جُعِلَ الإمَام لِيؤتَمَّ بِهِ، فإذا رَكع فَاركعُوا، وَإِذَا رَفع فَارْفَعُوا، وَإِذَا قال: سمع الله لمن حَمِدَهُ، فقُولُوا: ربَنّاَ وَلَكَ الحمد، وإِذَا صَلى جَالِساً فصَلوا جُلُوساً أجْمَعُونَ
Dari Aisyah -radhiyallohu 'anha- berkata: Rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam- di rumahnya sedangkan beliau sakit maka beliau sholat dengan duduk dan sholat di belakangnya suatu kaum dengan berdiri. Beliau memberi isyarat agar mereka duduk. Tatkala beliau telah selesai sholat beliau bersabda: "Dijadikan imam itu tiada lain supaya diikuti. Bila dia ruku maka rukuklah kalian. Jika dia bangkit maka bangkitlah kalian. Jika dia mengucapkan samiallohu liman hamidah maka ucapkanlah rabbana lakal hamdu. Apabila dia sholat dengan duduk maka sholatlah kalian dengan duduk seluruhnya".

Penjelasan lafadz:
1. Huruf ف pada lafadz فكبروا (bertakbirlah kalian) dan lafadz فاركعوا (rukuklah kalian) ...hingga akhir; adalah untuk tartib dan ta'qib. Makna tartib hendaklah engkau melakukannya setelahnya. Dan ta'qiib engkau mengikuti setelahnya secara langsung. Tidak membarenginya juga tidak tertinggal darinya.
2. Lafadz جعل termasuk fi'il tahwiil yang memiliki 2 maf'ul biih (obyek): yang pertama naibul fa'il dan yang kedua dihilangkan yang taqdir (perkiraannya) adalah إماما
3. Lafadz أجمعون sebagai ta'kiid (penguat) bagi dhamir jama'.
4. Lafadz شاك adalah fa'il dari شكاية yaitu sakit.

Makna Global:
Dari kedua hadits ini terdapat penjelasan cara makmum mengikuti imam. Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- telah membimbing makmum kepada hikmah dijadikannya imam yaitu supaya dicontoh dan diikuti. Maka janganlah dia diselisihi apa pun dalam amalan sholat. Gerakan-gerakannya di perhatikan dengan teliti. Apabila dia bertakbiratul ihram maka kalian pun bertakbir juga. Apabila dia ruku' maka kalian pun ruku' juga setelahnya. Apabila dia mengingatkan kalian bahwa Alloh memperkenankan orang yang memujinya dengan mengucapkan: "samiallohu liman hamidah" maka engkau memuji Alloh -ta'ala- dengan mengucapkan: rabbana lakalhamdu. Apabila dia bersujud maka kalian pun mengikutinya dan bersujud.

Apabila dia sholat dengan duduk karena tidak mampu berdiri -maka untuk merealisasikan mengikutinya- maka kalian sholat sambil duduk meski kalian mampu sholat sambil berdiri.
Aisyah -radhiyallohu 'anha- menyebutkan bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- sedang sakit maka beliau sholat sambil duduk sedangkam para shahabat menyangka bahwa mereka harus sholat berdiri karena mereka mampu berdiri. Maka mereka sholat dibelakang beliau dengan berdiri maka beliau memberi isyarat kepada mereka untuk duduk. 
Tatkala selesai sholat beliau menjelaskan bahwa imam janganlah diselisihi namun di diikuti untuk merealisasikan keikutsertaan yang sempurna sehingga makmum sholat dengan duduk meski pun mereka mampu untuk berdiri karena imamnya sholat dengan duduk.
Khilaf Para Ulama
Ulama beda pendapat tentang sahnya orang yang mengerjakan sholat fardhu bermakmum kepada orang yang sholat sunnah.
Madzhab Malikiyah dan Hanafiyah serta yang masyhur dari madzhab hanabilah berpendapat tidak sah shalatnya. Mereka berdalil dengan hadits yang kita bahas ini:
إنما جعل الإمام ليؤتم به فلا 
"Dijadikannya imam itu tiada lain untuk diikuti maka janganlah kalian menyelisihinya"
Dan jika makmum mengerjakan sholat fardhu sedangkan imamnya sholat nafilah berarti keduanya berbeda dalam niat. Padahal poros amal adalah niat.

Asy-Syafi'i, Al-Auza'i dan Ath-Thobari berpendapat akan sahnya orang yang mengerjakan sholat fardhu kepada orang yang sholat sunnah. Dan ini juga riwayat lain dari Imam Ahmad. Sebagian pengikut beliau memilih pendapat ini: Ibnu Qudamah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim mereka berdalil dengan hadits Mu'adz riwayat Bukhari dan Muslim:
كان يصلي مع النبي صلى الله عليه وسلم، ثم يرجع فيصلى بقومه تلك الصلاة
"Ia sholat bersama Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- kemudian kembali lalu sholat mengimami kaumnya dengan sholat tersebut"
Mereka juga berdalil:
أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى بطائفة من أصحابه في صلاة الخوف ركعتين، ثم سلًم، ثم صلى بالطائفة الأخرى ركعتين، ثم سلم
"Sesungguhnya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- sholat mengimami sekelompok dari para shahabatnya pada sholat khouf dua rekaat kemudian salam. Kemudian sholat dengan kelompok yang lain dua rekaat lalu salam" (HR Abu Dawud)
Dan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- di sholat yang keduanya adalah sholat nafilah(sunnah). 
Dan makna "maka janganlah kalian menyelisihinya" yakni dalam gerakan-gerakan sholat. Dan mereka yang berpendapat sahnya sholat membantah orang yang mengatakan tidak sahnya sholat (fardhu' bermakmum kepada yang sholat nafilah) dengan mengatakan:

Kalian juga mengatakan sahnya orang sholat fardhu bermakmum kepada orang yang sholat nafilah padahal keduanya berbeda dalam niat seperti yang kalian larang. Sehingga menjadikan pendalilan kalian kontradiktif. 
Mereka juga berselisih pendapat tentang sholatnya makmum dengan duduk padahal mampu berdiri yang berada di belakang imam yang tidak mampu berdiri.
Dzohiriyah, Al-Auza'i dan Ishaq berpendapat bahwa makmum sholat di belakang imam yang tidak kuat berdiri dengan duduk meskipun mereka mampu berdiri. Mereka berdalil dengan dua hadits ini dalam permasalahan tersebut dan juga hadits yang serupa maknanya.
Dua Imam yakni Abu Hanifah dan Asy-Syafi'i dan juga juga selain keduanya berpendapat bahwa tidak boleh bagi orang yang mampu berdiri -sholat dibelakang imam yang duduk- kecuali dengan berdiri.
Mereka berdalil dengan riwayat bahwasannya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- sholat tatkala sedang sakit yang mengantar kepada wafatnya dengan duduk, sedangkan Abu Bakar dan para shahabat di belakang beliau dengan berdiri"(Muttafaqun 'alaih)
Mereka membantah hadits bab ini dan yang semisalnya dengan bantahan yang lemah. Dan yang paling bagusnya adalah dua jawaban berikut:
Pertama: bahwasannya hadits-hadits dalam bab ini dan yang serupa dengan keduanya yang menetapkan sahnya sholat makmum yang duduk karena diimami oleh imam yang tidak mampu berdiri telah terhapus dengan hadits sholatnya beliau sambol duduk ketika sakit yang mengantarkan beliau wafat sedangkan para shahabat sholat di belakang beliau dengan berdiri. Dan beliau tidak menyuruh mereka dengan duduk.
Ini adalah jawaban Imam Syafi'i dan yang selain beliau.

Imam Ahmad mengingkari penghapusan hukum ini. Secara asal tidak ada nasikh (penghapusan hukum) di antara nash-nash syar'iyyah. Dan meski memungkinkan jama' (kompromi) antar nash-nash ini wajib merujuk kepadanya karena bisa diamalkan seluruhnya. 

Jawaban Kedua, bantahan bagi mereka yang menyelisihi hadits-hadits pada bab ini: klaim pengkhususan kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau mengimami sambil duduk dan tidak boleh bagi seorang pun setelah beliau. Ini adalah jawaban Imam Malik dan yang mengikuti beliau.

Dan yang mengkhususkan ini menurut mereka adalah hadits As-Sya'bi dari Jabir secara marfu': 

"Janganlah sekali-kali ada orang setelahku yang mengimami dengan duduk"
Dan aku katakan tentang hadits ini bahwa hadits ini tidak shahih dari sisi manapun.
Ibnu Daqiqil Id berkata: "Telah dimaklumi bahwa secara asal adalah tidak adanya pengkhususan sampai ada dalil yang menunjukkannya.
Hadits dhaif ini yang dijadikan dalil akan adanya pengkhususan bertentangan dengan hadits yang lebih shahih darinya yaitu yang dikeluarkan oleh Abu Dawud:
أن أسَيْدَ بْنَ حُضَيْر كان يؤم قومه، فجاء النبي صلى الله عليه وسلم يعوده، فقيل: يا رسول الله، إن إمامنا مريض. فقال: " إذا صلى قاعداً، فصلوا قعوداً
"Sesungguhnya Usaid bin Hudhair mengimami suatu kaum. Lalu datang Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- datang mengunjunginya. Ada yang berkata: "Wahai Rasululloh, sesungguhnya imam kami sakit". Beliau lalu bersabda: "Jika imam sholat dengan duduk maka sholatlah kalian dengan duduk".

Imam Ahmad berpendapat pertengahan dari dua pendapat ini, yaitu jika imam rawatib (tetap) memulai mengimami sholat dengan berdiri lalu dia sakit di tengah-tengah sholat lalu imam duduk maka makmum wajib menyempurnakan sholat dengan berdiri sebagai pengamalan hadits sholatnya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- mengimami Abu Bakar dan para shahabat tatkala beliau sakit yang mengantarkan beliau wafat. Jika imam mulai mengimami dengan duduk maka makmum sholat di belakangnya dengan duduk sebagai istihbab(sunnah) sebagai bentuk pengamalan hadits-hadits dalam bab ini dan yang semisalnya. Ini adalah pengkompromian yang bagus sehingga hadits-hadits shahih yang nampak bertentangan bisa dikompromikan.

Tidak diragukan lagi, bahwa penggabungan di antara dalil-dalil -jika hal itu memungkinkan- itu lebih baik dari pada menasakh(menghapus hukum pada dalil -pent) dan tahrif (mentakwil nash). Pengkompromian ini dikuatkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalany -rahimahullohu ta'ala-.

Kesimpulan hadits:
1. Wajib bagi makmum untuk mengikuti imam dalam sholat dan larangan mendahuluinya.
2. Larangan menyelisihi imam dan batalnya sholat karenanya.
3. Bahwa yang paling utama dalam mutaba'ah adalah amalan makmum dilakukan setelah amalan imam secara langsung. Para ahli fikih berkata: dimakruhkan menyamai dan membarengi imam dalam amalan-amalan sholat ini.
4. Bahwasannya imam apabila sholat dengan duduk -karena tidak mampu berdiri- maka makmum sholat di belakangnya dengan duduk meski mereka mampu berdiri sebagai perealisasian mengikuti imam.
5. Bahwa makmum mengucapkan "ربنا لك الحمد "Wahai Rabb kami bagiMu segala pujian" tatkala imam mengatakan سمع الله لمن حمده ."Alloh mendengar orang yang memujinya". Ibnu Abdil Barr berkata: 

 لا أعلم خلافاً في أن المنفرد يقول: "-سمع الله لمن حمده ". " ربنا ولك الحمد "
"Saya tidak mengetahui adanya perselisihan pendapat bahwa orang yang sholat sendirian mengucapkan 'samiallohu liman hamidah' 'rabbana walakal hamdu'. 

Ibnu Hajar berkata: Adapun imam maka dia mengucapkan 'sami'alloh liman hamidah' dan memujinya (rabbana wa lakalhamdu), ia menggabungkan keduanya. Telah shahih dalam riwayat Bukhari bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- menggabungkan keduanya.
6. Bahwa di antara hikmah dijadikannya imam dalam sholat adalah untuk diikuti.
7. Bolehnya berisyarat dalam sholat untuk suatu kebutuhan.
8. Dalam hadits ini ada penekanan untuk mengikuti imam. Dan hal itu di dahulukan dari amalan-amalan sholat selainnya. Sesungguhnya berdiri (dalam sholat) telah gugur dari makmum yang mampu berdiri padahal hal itu adalah salah satu rukun sholat. Semua itu untuk kesempurnaan mengikuti imam.
9. Dari hadits ini diambil faidah kewajiban taat kepada pemimpin dan waliyul amri dan menjaga persatuan, serta menghindari perselisihan dan perpecahan dengan pemimpin.
Maka syariat ilahiyah ini tiada lain kecuali untuk melatih kita untuk mendengar dan taat serta membaguskan ketaatan  dan persatuan di samping beribadah kepada Alloh -subhanahu wa ta'ala-. Betapa agung Islam ini, betapa tinggi syariat-syariatnya dan betapa mulia tujuan-tujuannya. 
Semoga Alloh memberikan taufik kaum muslimin agar mereka mau merenungkan agamanya dan mengikutinya sehingga persatuan mereka terjaga, barisan mereka kokoh , menjadi tinggi kalimat-kalimat mereka. Maka tidak ada kebaikan kecuali dalam persatuan dan saling memahami. Dan tiada keburukan kecuali dengan perpecahan dan perselisihan serta perdebatan yang batil.

وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

"Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar".(QS  Al-Anfal: 46)

************

Diterjemah dari Taisir Alam Syarah Umdatul Ahkam.

الحديث الثاني
عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "إنما جعل الإمام ليؤتم به، فلا تختلفوا عليه، فإذا كبر فكبروا. وإذا ركع فاركعوا، وإذا قال: سمع الله لمن حمده. فقولوا: ربنا لك الحمد، وإذا سجد فاسجدوا، وإذا صلى جالسا فصلوا جلوسا أجمعون ".
الحديث الثالث
عن عائشة رضي الله عنها قالت: "صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم في بيته وهو شاك فصلى جالسا، وصلى وراءه قوم قياما فأشار إليهم: أن اجلسوا، فلما انصرف قال: إنما جعل الإمام ليؤتم به، فإذا ركع فاركعوا، وإذا رفع فارفعوا، وإذا قال: سمع الله لمن حمده، فقولوا: ربنا ولك الحمد، وإذا صلى جالسا فصلوا جلوسا أجمعون ".
الغريب:
١- "الفاء الواقعة في (فكبروا) و (فاركعوا) ... إلخ ": للترتيب والتعقيب، ومعنى الترتيب، أن تقع بعده، والتعقيب بأن تليه مباشرة، فلا تساوه ولا تتأخر عنه.
٢- "جعل": من أفعال التحويل تأخذ مفعولين: أحدهما نائب الفاعل، والثاني محذوف تقديره. "إماما".
٣- "أجمعون": تأكيد لضمير الجمع.
٤- "شاك": اسم فاعل من الشكاية وهي المرض.
المعنى الإجمالي:
في هذين الحديثين بيان صفة اقتداء المأموم بالإمام، ومتابعته له.
فقد أرشد النبي صلى الله عليه وسلم المأمومين إلى الحكمة من جعل الإمام وهي أن يقتدي به ويتابع، فلا يختلف عليه بعمل من أعمال الصلاة، وإنما تراعى تنقلاته بنظام فإذا كبر للإحرام، فكبروا أنتم كذلك، وإذا ركع فاركعوا بعده، وإذا ذكركم أن الله مجيب لمن حمده بقوله: " سمع الله لمن حمده " فاحمدوه تعالى بقولكم:
"ربنا لك الحمد". وإذا سجد فتابعوه. واسجدوا. وإذا صلى جالسا لعجزه، عن القيام -فتحقيقا للمتابعة- صلوا جلوسا، ولو كنتم على القيام قادرين.
 فقد ذكرت عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم اشتكى من المرض فصلى جالسا وكان الصحابة يظنون أن عليهم القيام لقدرتهم عليه، فصلوا وراءه قياما فأشار إليهم، أن اجلسوا.
فلما انصرف من الصلاة أرشدهم إلى أن الإمام لا يخالف، وإنما يوافق لتحقق المتابعة التامة والاقتداء الكامل، بحيث يصلى المأموم جالسا مع قدرته على القيام لجلوس إمامه العاجز.
اختلاف العلماء:
اختلف العلماء في صحة ائتمام المفترض بالمتنفل.
فذهب المالكية والحنفية، والمشهور من مذهب الحنابلة: إلى عدم الصحة، مستدلين بهذا الحديث الذي معنا "إنما جعل الإمام ليؤتم به فلا تختلفوا عليه ".
وكون المأموم مفترضا والإمام متنفلا مخالفة بينهما في النية. وهو من أشد أنواع الاختلاف ولأن مدار العمل على النية.
وذهب الشافعي، والأوزاعى، والطبري إلى صحة ائتمام المفترض بالمتنفل، وهى رواية أخرى عن الإمام أحمد، اختارها من أصحابه: ابن قدامة، وشيخ الإسلام ابن تيمية وابن القيم مستدلين بحديث معاذ المتفق عليه: " كان يصلي مع النبي صلى الله عليه وسلم، ثم يرجع فيصلى بقومه تلك الصلاة".
ويستدلون أيضا: "أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى بطائفة من أصحابه في صلاة الخوف ركعتين، ثم سلم، ثم صلى بالطائفة الأخرى ركعتين، ثم سلم " رواه أبو داود.
والنبي عليه الصلاة والسلام -في الصلاة- الثانية متنفل.
ومعنى " فلا تختلفوا عليه " أي في أفعال الصلاة.
والقائلون بصحة الصلاة، يلزمون غير المصححين لها بأن يقولوا: أنتم أيضا تصححون صلاة المفترض بالمتنفل مع اختلافهما في النية، كالتي تمنعونها، فيلزمكم التناقض في الاستدلال.
واختلفوا أيضا في صلاة المأمومين جلوسا مع القدرة على القيام خلف الإمام العاجز عن القيام.
فذهبت الظاهرية، والأوزاعي، وإسحاق، إلى أن المأمومين يصلون خلف الإمام العاجز عن القيام جلوسا، ولو كانوا قادرين على القيام.
واستدلوا على ذلك بهذين الحديثين، وما ورد في
معناهما.
وذهب الإمامان أبو حنيفة، والشافعي، وغيرهما، إلى أنه لا يجوز للقادر على القيام أن يصلي خلفه القاعد إلا قائما.
واحتجوا "بأن النبي صلى الله عليه وسلم صلى في مرض موته قاعدا، وصلى أبو بكر، والناس خلفه قياما " متفق عليه.
وأجاب هؤلاء عن حديثي الباب ونحوهما بأجوبة ضعيفة، وأحسنها جوابان: الأول: أن حديثي الباب وما شابههما مما يثبت صحة صلاة القاعد العاجز بالقاعد القادر منسوخة بحديث صلاته في مرض موته بالناس قاعدا وهم قائمون خلفه، ولم يأمرهم بالقعود.
وهذا الجواب للإمام الشافعي وغيره.
وأنكر الإمام " أحمد " النسخ، والأصل عدم النسخ بين النصوص الشرعية وأنه مهما أمكن الجمع بينها، وجب المصير إليه، لأنه إعمال لها جميعا. الجواب الثاني من أجوبة المخالفين لحديثي الباب: دعوى التخصيص بالنبي صلى الله عليه وسلم، بأن يؤم جالسا، ولا يصح لأحد بعده.
هذا جواب الإمام " مالك " وجماعة من أتباعه.
والمخصص -عندهم- حديث للشعبي عن جابر مرفوعا: " لا يؤمن أحد بعدى جالسا ".
وأجيب عن هذا الحديث بأنه لا يصح بوجه من الوجوه.
وقال ابن دقيق العيد، قد عرف أن الأصل عدم التخصيص حتى يدل عليه دليل.
وقد عارض هذا الحديث الضعيف المستدل به على التخصيص حديث أصح منه، وهو ما أخرجه أبو داود " أن أسيد بن حضير كان يؤم قومه، فجاء النبي صلى الله عليه وسلم يعوده، فقيل: يا رسول الله، إن إمامنا مريض. فقال: " إذا صلى قاعدا، فصلوا قعودا ".
وذهب الإمام " أحمد " إلى التوسط بين هذين القولين.
وهو إن ابتدأ بهم الإمام الراتب الصلاة قائما، ثم اعتل في أثنائها فجلس أتموا خلفه قياما وجوبا، عملا بحديث صلاة النبي صلى الله عليه وسلم بأبي بكر والناس، حين مرض مرض الموت.
وإن ابتدأ بهم الصلاة جالسا صلوا خلفه جلوسا، استحبابا. عملا بحديثي الباب ونحوهما وهو جمع حسن، تتلاقى فيه الأحاديث الصحيحة المتعارضة.
 ولاشك أن الجمع بين النصوص -إذا أمكن- أولى من النسخ والتحريف.
وقد قوي هذا الجمع الحافظ ابن حجر رحمه الله تعالى.
ما يؤخذ من الحديثين:
١- وجوب متابعة المأموم للإمام في الصلاة وتحريم المسابقة.
٢- تحريم مخالفته وبطلان الصلاة بها.
٣- أن الأفضل في المتابعة، أن تقع أعمال المأموم بعد أعمال الإمام مباشرة. قال الفقهاء: وتكره المساواة والموافقة في هذه الأعمال.
٤- أن الإمام إذا صلى جالسا -لعجزه عن القيام- صلى خلفه المأمون جلوسا ولو كانوا قادرين على القيام، تحقيقا للمتابعة والاقتداء.
٥- أن المأموم يقول: " ربنا لك الحمد " حينما يقول الإمام: " سمع الله لمن حمده ". وقال ابن عبد البر: لا أعلم خلافا في أن المنفرد يقول: "-سمع الله لمن حمده ". " ربنا ولك الحمد " وقال ابن حجر: وأما الإمام فيستمع ويحمد، جمع بينهما فقد ثبت في البخاري أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يجمع بينهما.
٦- أن من الحكمة في جعل الإمام في الصلاة، الاقتداء والمتابعة.
٧- جواز الإشارة في الصلاة للحاجة.
٨- في الحديث دليل على تأكيد متابعة الإمام، وأنها مقدمة على غيرها من أعمال الصلاة، فقد أسقط القيام عن المأمومين القادرين عليه، مع أنه أحد أركان الصلاة، كل ذلك لأجل كمال الاقتداء.
٩- ومنه يؤخذ تحتم طاعة القادة وولاة الأمر ومراعاة النظام، وعدم المخالفة والانشقاق على الرؤساء.
فما هذه الشرائع الإلهية إلا لتعويدنا على السمع والطاعة، وحسن الاتباع والائتلاف، بجانب التعبد بها لله سبحانه وتعالى.
وما أعظم الإسلام وأسمى تشريعاته، وأجل أهدافه!!
وفق الله المسلمين إلى التبصر بدينهم واتباعه، فيجتمع شملهم، وتتوحد صفوفهم، وتعلو كلمتهم فما الخير إلا في الاجتماع والتفاهم، وما الشر إلا بالتفرق والاختلاف، والمراء الباطل. {وأطيعوا الله ورسوله، ولا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم واصبروا إن الله مع الصابرين} .
 
 

Selasa, 04 Agustus 2020

Berserikat Pahala Dalam Qurban

Pertanyaan: Apakah boleh berkurban seekor kambing untuk seseorang dan keluarganya?

Jawaban Syaikh bin Baz:
Boleh berkurban satu kambing untuk seseorang dan keluarganya, sebab Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- berkurban setiap tahunnya dengan domba putih bertanduk. Beliau menyembelih salah satunya untuk beliau dan keluarganya. Kedua untuk untuk siapa saja yang mentauhidkan Alloh dari kalangan ummat beliau.

Majmu' fatawa(18-33)

‏🔹 *الإشراك في ثواب الأضحية*

2- هل تجزئ الشاة عن الرجل وأهل بيته؟
قال ابن باز:
*تجزئ الشاة الواحدة عن الرجل وأهل بيته *؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يضحي كل سنة بكبشين أملحين أقرنين يذبح أحدهما عنه وعن أهل بيته، والثاني عمن وحد الله من أمته.  مجموع الفتاوى (18-38)

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)