“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Selasa, 30 Juni 2020

Perkara Yang Dimakruhkan Bagi Orang Yang Buang Hajat


Pembahasan ke-5: Perkara yang dimakruhkan bagi orang yang buang hajat.
Makruh saat buang hajat menghadap arah angin berhembus tanpa penutup agar air kencingnya tidak kembali mengenai dirinya. Dimakruhkan bercakap-cakap. 

فقد مرّ رجل والنبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يبول، فسلَّم عليه، فلم يردّ عليه

"Sungguh seorang lewat sedangkan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- sedang kencing. Dia mengucapkan salam kepada beliau namun beliau tidak membalas" (HR Muslim)

Dan dimakruhkan juga kencing di lubang dan yang semisalnya berdasarkan hadits Qatadah dari Abdullah bin Sarjas:
Sesungguhnya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- melarang kencing di lubang. Dikatakan kepada Qatadah: Kenapa dengan lubang? Dia berkata: dikatakan bahwa lubang tempat tinggal jin" (HR Abu Dawud dan An-Nasa'i).
Dan karena dikhawatirkan di dalamnya ada binatang sehingga mengganggunya atau menjadi tempat bagi jin sehingga menyakiti mereka.

Dan makruh masuk WC dengan membawa sesuatu yang di dalamnya ada lafadz dzikir kecuali karena suatu kepentingan. Sebab, nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
كان إذا دخل الخلاء وضع خاتمه
"Apabila beliau hendak masuk WC beliau meletakkan cincinnya"(Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)
Ada pun ketika ada kepentingan dan darurat maka tidak mengapa seperti kepentingan masuk dengan membawa uang kertas yang di dalamnya ada nama Alloh sebab jika dia meninggalkannya di luar mudah diambil pencuri atau pun lupa.

Adapun mushaf maka haram membawanya (ke WC) sama saja apakah kelihatan atau pun tidak kelihatan sebab ia adalah firman Alloh semulia-mulia perkataan. Dan masuk WC dengan membawanya adalah termasuk pelecehan.

Diterjemahkan dari Al-fiqh Al-Muyassar

المسألة الخامسة: ما يكره فعله للمُتَخَلِّي:
يكره حال قضاء الحاجة استقبال مهب الريح بلا حائل؛ لئلا يرتد البول إليه، ويكره الكلام؛ فقد مرّ رجل والنبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يبول، فسلَّم عليه، فلم يردّ عليه (١).
ويكره أن يبول في شَق ونحوه؛ لحديث قتادة عن عبد الله بن سرجس: (أن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - نهى أن يبال في الجُحْر، قيل لقتادة: فما بال الجحر؟ قال: يقال: إنها مساكن الجن) (٢). ولأنه لا يأمن أن يكون فيه حيوان فيؤذيه، أو يكون مسكناً للجن فيؤذيهم.
ويكره أن يدخل الخلاء بشيء فيه ذكْرُ الله إلا لحاجة؛ لأن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - (كان إذا دخل الخلاء وضع خاتمه) (٣).
أما عند الحاجة والضرورة فلا بأس، كالحاجة إلى الدخول بالأوراق النقدية التي فيها اسم الله؛ فإنه إن تركها خارجاً كانت عرضة للسرقة أو النسيان.
أما المصحف فإنه يحرم الدخول به سواء كان ظاهراً أو خفياً؛ لأنه كلام الله وهو أشرف الكلام، ودخول الخلاء به فيه نوع من الإهانة.


(١) رواه مسلم برقم (٣٧٠).
(٢) رواه أبو داود برقم (٢٩)، والنسائي برقم (٣٤). ونقل الحافظ ابن حجر في التلخيص (١/ ١٠٦) تصحيحه عن ابن خزيمة وابن السكن. وقال الشيخ ابن عثيمين: أقل أحواله أن يكون حسناً (الشرح الممتع ١/ ٩٥ - ٩٦).
(٣) رواه أبو داود برقم (١٩)، والترمذي برقم (١٧٤٦)، والنسائي برقم (٥٢٢٨)، وابن ماجه برقم (٣٠٣)، وقال أبو داود بعد إخراجه: هذا حديث منكر. وقال الترمذي: هذا حديث حسن غريب.
وضعفه الألباني؛ وعلى القول بضعف هذا الحديث وعدم صلاحيته للاحتجاج في هذه المسألة، فإن الأولى والأفضل ألا يدخل الخلاء بشيء فيه اسم الله بلا ضرورة؛ إكراماً لاسمه تعالى وإجلالاً.
 

Senin, 29 Juni 2020

Barang siapa tidak menjaga dirinya, maka tidak bermanfaat ilmunya

Ulama berkata:

مَن تَعلَّم القرآنَ والتفسيرَ عَظُمَتْ قِيْمَتُه، ومَن نَظَرَ في الفِقه نَبُلَ قَدْره، ومَن نَظَر في الحَدِيثِ قَوِيَتْ حُجَّته، ومَن نَظَرَ في اللّغةِ رَقَّ طَبْعُه، ومَن نَظَرَ في الحِسَاب جَزُلَ رَأيُهُ، ومَن لمْ يَصُنْ نَفْسَهُ لمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ

 "Barang siapa mempelajari Al-Qur'an dan tafsirnya maka menjadi agunglah kedudukannya. Barang siapa mempelajari fikih maka menjadi mulialah kehormatannya. Barang siapa mempelajari hadits maka menjadi kuatlah hujahnya. Barang siapa mempelajari bahasa maka menjadi lembutlah tabiatnya. Barang siapa mempelajari ilmu hisab(hitung) maka menjadi kuatlah pendapatnya. Barang siapa tidak menjaga dirinya, maka tidak bermanfaat ilmunya".

Tabaqaat Asy-Syafi'iyyah oleh Al-Imam As-Subky -rahimahulloh- 2/99

Taisir (71): Makmum Berada di Kanan Imam Jika Sendirian


Hadits 71:
عَنْ عَبْدِ الله بْنِ عبَّاس رضيَ الله عَنْهُمَا قال: بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُونَةَ فَقَامَ النَبيُّ صلى الله عليه وسلم يُصَلى مِنَ الليْل، فَقُمْتُ عن يَسَارهِ فَأخَذ برأسي فأقامني عَنْ يَمِينه.
"Dari Abdullah bin Abbas -radhiyallohu 'anhuma- berkata: "Aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah. Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bangun untuk sholat di malam hari. Aku pun berdiri (ikut sholat) dikiri beliau. Maka beliau memegang kepalaku dan memposisikanku di sebelah kanannya" (HR Bukhari 699 dan Muslim 763)

Makna Global
Shahabat yang mulia, pemukanya ummat, ahli tafsir Qur'an, yang memiliki kesungguhan dan ketekunan dalam memperoleh ilmu dan menelitinya. Bahkan untuk menelusuri suatu ilmu beliau menginap di rumah bibinya, istri Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- untuk melihat secara langsung sholat Tahajjudnya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Tatkala Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- berdiri untuk sholat di malam hari, Ibnu Abbas berdiri untuk sholat bersama beliau. Beliau berdiri di samping kiri Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- sebagai makmum. Karena kanan adalah tempat yang mulia dan itu adalah tempat makmum di samping imam ketika sendiri, maka Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- memegang kepalanya dan memposisikannya di sebelah kanan beliau.

Ikhtilaf Ulama:
Yang masyhur di madzhab Imam Ahmad akan fasad(rusaknya) sholat makmum jika berdiri di sebelah kanan imam jika sebelah kanannya kosong.
Jumhur ulama -di antaranya Imam yang tiga: Abu Hanifah, Malik, dan Syafi'i berpendapat akan keabsahan sholatnya meski sebelah kanannya imam kosong. Ini juga riwayat kedua dari Imam Ahmad. 
Dan sebagian para imam shahabat beliau memilih pendapat ini. Mereka berdalil dengan hadits ini dan ini adalah pendalilan yang jelas pengambilannya. Bersamaan dengan itu mereka juga sepakat bahwa tempat berdirinya makmum yang sendirian yang utama adalah di sebelah kiri imam. 

Kesimpulan Hadits:
1. Yang utama bagi makmum adalah berdiri di samping kanan imam jika dia sendirian.
2. Keabsahan berdirinya makmum di sebelah kiri imam meski sebelah kanannya kosong sebab Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- tidak membatalkan sholatnya Ibnu Abbas.
3. Bahwasannya makmum yang sendirian jika berdiri di kiri imam maka dia berpindah ke kanannya lewat dari belakang sebagaimana yang disebutkan dalam sebagian lafadz-lafadz hadits dalam Shahih Bukhari.
4. Bahwa perbuatan dalam sholat jika disyariatkan untuk keabsahannya maka tidak merusak sholat.
5. Sahnya shaf anak kecil sendirian bersama orang baligh.
6. Disyariatkannya sholat malam dan kesunnahannya.
7. Kesungguhan Ibnu Abbas -radhiyallohu 'anhu-, semagatnya untuk mendapatkan ilmu serta penelusurannya.
8. Tidak disyaratkan bagi keabsahan imam, bahwa seorang imam mesti berniat sebagai imam sebelum masuk sholat.

Diterjemahkan dari Taisiiril Alam Syarah Umdatul Ahkam oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Ali Basam.

Sabtu, 27 Juni 2020

WAS-WAS SETAN DALAM SHOLAT

Berkata Syaikh Al-Utsaimin -rahimahulloh ta'ala-:

Termasuk was-was setan adalah: seseorang sholat ketika dia bertakbir untuk sholat maka terbuka lintasan pikiran dari segala penjuru. Tatkala salam maka sirna darinya. Hal itu menunjukkan (was-was) dari setan yang ingin merusak sholatnya sehingga dia terhalang dari pahala yang besar ini.

(Syarah Riyadhus Shalihin - Syaikh Al-Utsaimin 2/260)

Jumat, 26 Juni 2020

Hal-hal Terlarang Bagi Orang Yang Buang Hajat

Masalah keempat: Hal-hal terlarang bagi orang yang buang hajat
Dilarang kencing di air yang menggenang berdasarkan hadits Jabir dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
أنه نهى عن البول في الماء الراكد
"Beliau melarang kencing di air yang menggenang" (HR Muslim)

Tidak boleh memegang kemaluan dengan tangan kanan ketika kencing dan tidak boleh beristinja' dengannya (tangan kanan). Hal ini berdasarkan sabda Rasululloh -shollallahu 'alaihi wa sallam-:

إذا بال أحدكم فلا يأخذن ذكره بيمينه، ولا يستنجي بيمينه

"Jika salah seorang di antara kalian kencing janganlah sekali-kali memegang kemaluannya dengan tangan kanan dan jangan pula beristinja dengan tangan kanan". (HR Bukhari)

Dan terlarang baginya kencing atau buang air besar di jalan atau di bawah naungan berteduh, di taman umum, di bawah pohon yang berbuah atau di aliran-aliran air. Berdasarkan hadits Muadz ia berkata: Rasululloh -shollallahu 'alaihi wa sallam- bersabda:

اتقوا الملاعن الثلاث: البراز في الموارد، وقارعة الطريق، والظل

"Jauhilah tiga tempat (yang mendatangkan) laknat: berak di saluran air, di tengah jalan dan tempat berteduh"(HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Dan berdasarkan hadits Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu- bahwasannya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:

(اتقوا اللاعنين)، قالوا: وما اللاعنان يا رسول الله؟ قال: (الذي يَتَخَلى في طريق الناس أو في ظلهم)

"Takutlah kalian pada dua (perbuatan yang mengundang) laknat". Sahabat bertanya: Apa itu dua perbuatan yang mengundang laknat wahai Rasululloh? Beliau bersabda: "Yaitu orang yang berak di jalan manusia atau di tempat berteduhnya"(HR Muslim)

Sebagaimana juga dilarang membaca Al-Qur'an, dilarang berijtimar dengan kotoran (binatang) atau tulang atau makanan yang berharga. Berdasarkan hadits Jabir -radhiyallohu 'anhu-:

نهى النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أن يتمسح بعظم أو ببعر

"Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- melarang ijtimar dengan tulang atau kotoran binatang"(HR Muslim)

Dan dilarang juga buang hajat di pekuburan kaum muslimin. Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:

لا أبالي أوسط القبور قضيت حاجتي، أو وسط السوق؟

"Aku tidak peduli, aku buang hajat di tengah kubur ataukah di tengah pasar (sama buruknya)".(HR Ibnu Majah dan dishahihkan syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil)


Diterjemah dari Fiqih Muyassar

المسألة الرابعة: ما يحرم فعله على من أراد قضاء الحاجة:
يحرم البول في الماء الراكد؛ لحديث جابر عن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (أنه نهى عن البول في الماء الراكد) (٣).
ولا يمسك ذكره بيمينه وهو يبول، ولا يستنجي بها. لقوله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (إذا بال أحدكم فلا يأخذن ذكره بيمينه، ولا يستنجي بيمينه) (٤).
ويحرم عليه البول أو الغائط في الطريق أو في الظل أو في الحدائق العامة أو تحت شجرة مثمرة أو موارد المياه؛ لما روى معاذ قال: قال رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (اتقوا الملاعن الثلاث: البراز في الموارد، وقارعة الطريق، والظل) (٥)، ولحديث أبي هريرة - رضي الله عنه - أن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قال: (اتقوا اللاعنين)، قالوا: وما اللاعنان يا رسول الله؟ قال: (الذي يَتَخَلى في طريق الناس أو في ظلهم) (٦). 
كما يحرم عليه قراءة القرآن، ويحرم عليه الاستجمار بالروث أو العظم أو بالطعام المحترم؛ لحديث جابر - رضي الله عنه -: (نهى النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أن يتمسح بعظم أو ببعر) (٧). ويحرم قضاء الحاجة بين قبور المسلمين، قال النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (لا أبالي أوسط القبور قضيت حاجتي، أو وسط السوق؟) (٨).



(٣) رواه مسلم برقم (٢٨١)، ونحوه عند البخاري برقم (٢٣٩). والراكد: هو الساكن الذي لا يجري.
(٤) رواه البخاري برقم (١٥٤) واللفظ له، ومسلم برقم (٢٦٧).
(٥) رواه أبو داود برقم (٢٦)، وابن ماجه برقم (٣٢٨). وإسناده حسن انظر إرواء الغليل (١/ ١٠٠).
(٦) رواه مسلم برقم (٢٦٩).
(٧) رواه مسلم برقم (٢٦٣).
(٨) رواه ابن ماجه برقم (١٥٦٧) وصححه الألباني في إرواء الغليل (١/ ١٠٢).

Senin, 22 Juni 2020

Taisir (70): Keabsahan Shof Anak Kecil Dalam Sholat

Hadits 70:

 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ  رضي الله عنه : (( أَنَّ جَدَّتَهُ مُلَيْكَةَ دَعَتْ رَسُولَ اللَّهِ  صلى الله عليه و سلم لِطَعَامٍ صَنَعَتْهُ , فَأَكَلَ مِنْهُ , ثُمَّ قَالَ : قُومُوا فَلأُصَلِّيَ لَكُمْ ؟ قَالَ أَنَسٌ : فَقُمْتُ إلَى حَصِيرٍ لَنَا قَدْ اسْوَدَّ مِنْ طُولِ مَا لُبِسَ , فَنَضَحْتُهُ بِمَاءٍ , فَقَامَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّه ( وَصَفَفْتُ أَنَا وَالْيَتِيمُ وَرَاءَهُ , وَالْعَجُوزُ مِنْ وَرَائِنَا . فَصَلَّى لَنَا رَكْعَتَيْنِ , ثُمَّ انْصَرَفَ )) .

Dari Anas bin Malik -radhiyallohu 'anhu- (berkata) bahwasannya neneknya -Mulaikah mengundang Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- untuk makan makanan yang dibuatnya. Lalu beiau menyantapnya; kemudian beliau berkata: "Berdirilah aku akan sholat mengimami kalian". Anas berkata: Maka aku bangkit menuju tikar milik kami yang telah menghitam karena lama dipakai lalu aku mencucinya dengan air. Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- berdiri di atasnya sedangkan aku dan seorang anak yatim membuat shof dibelakang beliau dan orangorang tua dibelakang kami. Beliau mengimami kami sholat dua rekaat lalu kembali.

وَلِمُسْلِمٍ (( أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ  صلى الله عليه و سلم صَلَّى بِهِ وَبِأُمِّهِ فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ , وَأَقَامَ الْمَرْأَةَ خَلْفَنَا )) .
Dalam riwayat Muslim: Bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- sholat mengimami dia dan ibunya. (Anas berkata): Beliau memposisikanku di sebelah kanannya dan memposisikan para wanita di belakang kami.

(HR Bukhari 380 dan Muslim 658 & 660)

Anak Yatim ini adalah Dhumairah kakek dari Husain bin Abdullah bin Dhumairah.

PENJELASAN LAFADZ:
1. Makna  فَنَضَحْتُهُ بِمَاءٍ : memercikinya dengan air; maksudnya adalah mencucinya.

MAKNA GLOBAL:
Mulaikah -radhiyallohu 'anha- mengundang Rasululloh untuk makan makanan yang disediakannya. Alloh -ta'ala- telah menganugerahi Rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam- dengan kemuliaan dan akhlak yang paling tinggi di antaranya ketawadhu'annya yang agung. Beliau -dengan kemuliannya dan ketinggian kedudukannya- memenuhi panggilan orang besar maupun kecil, laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin. Beliau melakukan itu dengan tujuan yang luhur dan maksud yang mulia yaitu menghibur hati orang yang kesusahan, tawadhu' kepada orang-orang miskin, memberi pengajaran kepada orang yang tidak tahu dan tujuan-tujuan terpuji lainnya.

Beliau menghadiri undangan wanita tersebut. Beliau menyantap makanannya. Kemudian beliau memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memberikan pengajaran kepada orang-orang lemah ini yang barang kali mereka tidak bisa turut serta bersama orang-orang terpandang menghadiri majelis beliau yang penuh barakah. Maka beliau memerintahkan mereka berdiri agar beliau bisa mengimami mereka sehingga mereka bisa mempelajari tata cara sholat beliau.

Maka Anas menuju tikar usang yang telah menghitam karena usianya yang sudah lama, lalu dia membersihkannya dengan air. Kemudian Rasululloh -shollallahu 'alaihi wa sallam- sholat mengimami mereka. Anas dan anak yatim tersebut membuat satu shaf di belakang Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Dan wanita tua -yang mengundang Nabi- membuat shaf di belakang Anas dan anak yatim sholat bersama mereka. Beliau mengimami mereka dua rekaat. Kemudin beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- kembali setelah memenuhi undangan dan pengajaran. Semoga Alloh memberikan karunia kepada kita untuk meneladani perilaku dan akhlak beliau.

Perbedaan Pendapat Di Kalangan Ulama
Jumhur perpendapat akan sahnya shofnya anak kecil di sholat fardhu dan nafilah berdalilkan dengan hadits shahih ini sebab Anas mensifati temannya dengan anak yatim.
Dan yang masyhur di madzhab Hanabilah adalah sahnya shof(anak-anak) di sholat nafilah berdasarkan hadits ini namun tidak sah shofnya di sholat fardhu.
Dan sungguh telah berlalu penjelasan bahwa hukum-hukum yang datang untuk salah satu sholat berlaku pula untuk sholat yang lainnya sebab hukum-hukum keduanya adalah satu. Barang siapa yang mengkhususkan hukum salah satunya maka hendaklah dia membawakan dalil dan tidak dengan mengkhususkan. Oleh karenanya yang benar adalah pendapat jumhur. Dan pendapat ini telah dipilih oleh Ibnu Uqail dari Hamabilah dan dibenrkan oleh Ibnu Rajab dalam Al-Qawaid.

KESIMPULAN HADITS
1. Sahnya shaf anak yang belum baligh dalam sholat. Sebab, (kata) yatim dimutlakkan untuk anak yang telah mati bapaknya dan dia belum baligh.
2. Bahwasannya yang paling utama posisi makmum adalah di belakang imam.
3. Bahwasannya posisi shof wanita adalah dibelakang shof laki-laki.
4. Sahnya kondisi wanita dengan satu shaf meski sendirian. Jika mereka (para wanita) lebih dari itu wajib bagi mereka untuk menegakkan (meluruskan) shaf.
5. Bolehnya berjamaah sholat sunnah meski tidak disyariatkan berjamaah jika tidak menjadikan hal tersebut sebagai kebiasaan yang dilakukan terus menerus.
6. Bolehnya sholat dengan tujuan untuk mengajarkannya atau tujuan-tujuan agama yang bermanfaat dan berfaidah lainnya.
7. Tawadhu'nya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan kemuliaan akhlaknya.
8. Dianjurkannya memenuhi undangan  terlebih lagi jika kedatangannya menjadi penghibur perasaannya dan menentramkan hatinya selama bukan walimah pernikahan, sebab hal itu (walimah pernikahan)wajib memenuhi undangan. 
Dan selayaknya untuk memperhatikan kondisi di kesempatan seperti ini dan meluruskan niat. Dengan demikian orang yang memenuhi undangan mendapatkan kebaikan yang banyak terlebih lagi apabila yang memenuhi undangan ini adalah orang terpandang.

Minggu, 21 Juni 2020

Lawan Tauhid Rububiyah


Pertanyaan:
Apakah lawan(kebalikan) dari tauhid Rububiyyah?

Jawab:
Yaitu keyakinan adanya yang ikut andil  bersama Alloh -azza wa jalla-  dalam pengaturan alam semesta. Berupa penciptaan dan peniadaan, atau menghidupkan dan mematikan, atau menarik kebaikan atau menolak keburukan atau selainnya di antara makna-makna Rububiyyah.
Atau keyakinan adanya yang bisa menandingiNya dalam hal apa pun yang terkandung dalam nama-nama dan shifat-shifatNya seperti pengetahuan tentang hal yang ghaib, keangungan, kebesaran dan yang semisalnya.
Alloh ta'ala berfirman:
مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ - يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

"Apa saja di antara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. 
Wahai manusia! Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi?" (QS Fathir: 2-3)

Alloh -ta'ala- berfirman:
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ
"Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya." (QS Yunus: 107)

Alloh -ta'ala- berfirman:
أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ
"“Kalau begitu tahukah kamu tentang apa yang kamu sembah selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan bencana kepadaku, apakah mereka mampu menghilangkan bencana itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat mencegah rahmat-Nya?” Katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nyalah orang-orang yang bertawakal berserah diri.” (QS Az-Zumar: 38)

Alloh -tabaraka wa ta'ala- berfirman:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ
"Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia" (QS Al-An'am: 59)
Alloh -ta'ala- berfirman:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
"Katakanlah (Muhammad), “Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah" (QS An-Naml: 65)

Alloh -ta'ala- berfirman:
وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ
"dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki" (QS Al-Baqarah: 255)

Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
يقول الله تعالى: " العظمة إزاري، والكبرياء ردائي، فمن نازعني واحدا منهما أسكنته ناري
"Alloh -ta'ala- berfirman: Keagungan adalah pakaianKu dan kesombongan adalah selendangku. Barang siapa yang melepaskan salah satu dari keduanya Aku akan menempatkannya di nerakaKu" (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah. Dishahihkan Syaikh Al-Albani. )

[ما يضاد توحيد الربوبية]
س: ما ضد توحيد الربوبية؟
جـ: هو اعتقاد متصرف مع الله عز وجل في أي شيء من تدبير الكون من إيجاد أو إعدام أو إحياء أو إماتة أو جلب خير أو دفع شر أو غير ذلك من معاني الربوبية، أو اعتقاد منازع له في شيء من مقتضيات أسمائه وصفاته كعلم الغيب والعظمة والكبرياء ونحو ذلك، وقال الله تعالى: {مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ - يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ} [فاطر: ٢ - ٣] الآيات، وقال تعالى:
 {وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ} [يونس: ١٠٧] الآية، وقال تعالى: {أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ} [الزمر: ٣٨] وقال تبارك وتعالى: {وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ} [الأنعام: ٥٩] الآيات، وقال تعالى: {قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ} [النمل: ٦٥] وقال تعالى: {وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ} [البقرة: ٢٥٥] وقال النبي صلى الله عليه وسلم: «يقول الله تعالى: " العظمة إزاري، والكبرياء ردائي، فمن نازعني واحدا منهما أسكنته ناري» (١) . وهو في الصحيح.


(١) (صحيح) ، رواه أحمد (٢ / ٢٤٨، ٣٧٦، ٤١٤، ٤٢٧، ٤٤٢) ، وأبو داود (٤٠٩٠) ، وابن ماجه (٤١٧٤) ، الحديث صححه الألباني وسكت عنه أبو داود، ورواه مسلم من حديث أبي سعيد وأبي هريرة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم بنحوه (البر ٢٦٢٠) .
 


مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Hal-hal yang Disunnahkan Bagi Orang Yang Buang Hajat


Permasalahan Ketiga: Amalan yang disunnahkan bagi orang yang buang hajat.
Bagi orang yang buang hajat disunnahkan untuk mengucapkan:
بِسْمِ اللّٰهِ اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
"Dengan menyebut nama Alloh. Ya Alloh aku berlindung kepadamu dari setan laki-laki dan setan perempuan"

Ketika sudah selesai dan keluar kakus (mengucapkan):
غُفْرَانَكَ
"(Ya Alloh. Aku memohon) ampunanMu".
Mendahulukan kaki kiri ketika masuk dan kaki kanan ketika keluar. Dan tidak membuka auratnya sampai ia rendah ke tanah.

Apabila di tempat terbuka disunnahkan baginya untuk menjauh (dari manusia) dan menutupi diri sehingga tidak terlihat. Dalil-dalil yang mendasari seluruh hal itu adalah hadits Jabir -radhiyallohu 'anhu- berkata:
خرجنا مع رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - في سفر وكان رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لا يأتي البراز حتى يتغيب فلا يُرى
"Kami keluar bersama Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dalam sebuah perjalanan. Dan Rasululloh -shollallahu 'alaihi wa sallam- tidaklah mendatangi tanah lapang (untuk buang hajat) sampai beliau tidak nampak (dari pandangan manusia) sehingga tidak terlihat" (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Dan hadits Ali -radhiyallohu 'anhu- berkata: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
ستر ما بين الجن وعورات بني آدم إذا دخل الخلاء، أن يقول: بسم الله
"Penutup antara (pendangan) jin dan aurat manusia apabila masuk kakus adalah ucapan : Bismillah" (HR Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)

Dan hadits Anas -radhiyallohu 'anhu- bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- apabila mau masuk WC beliau berkata:
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

"Ya Alloh aku berlindung kepadamu dari setan laki-laki dan setan perempuan" (HR Bukhari dan Muslim)

Dan hadits 'Aisyah -radhiallohu 'anha-:
كان - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إذا خرج من الخلاء قال: غفرانك
"Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- apabila keluar dari WC berkata: (Ya Alloh, aku mohon) ampunanMu"(HR Bukhari dan Muslim)

Hadits Ibnu Umar -radhiyallohu 'anhuma-:
أن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كان إذا أراد الحاجة لا يرفع ثوبه حتى يدنو من الأرض
"Bahwasannya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- apabila buang hajat tidaklah beliau mengangkat pakaiannya sampai dekat dengan tanah (agar tidak nampak aurotnya)"(HR Abu Dawud, Daruquthni dan Al-Hakim)


Ditarjim dari Fikih Muyassar

المسألة الثالثة: ما يسن فعله لداخل الخلاء:
يسن لداخل الخلاء قول: "بسم الله اللهم إني أعوذ بك من الخبث والخبائث". وعند الانتهاء والخروج: "غفرانك". وتقديم رجله اليسرى عند الدخول واليمنى عند الخروج، وأن لا يكشف عورته حتى يدنو من الأرض.

وإذا كان في الفضاء يستحب له الإبعاد والاستتار حتى لا يُرى. وأدلة ذلك كله: حديث جابر - رضي الله عنه - قال: (خرجنا مع رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - في سفر وكان رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لا يأتي البراز حتى يتغيب فلا يُرى) (٣).
وحديث علي - رضي الله عنه - قال: قال رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (ستر ما بين الجن وعورات بني آدم إذا دخل الخلاء، أن يقول: بسم الله) (٤).
وحديث أنس - رضي الله عنه -: كان النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إذا دخل الخلاء قال: (اللهم إني أعوذ بك من الخبث والخبائث) (٥).
وحديث عاثشة رضي الله عنها: (كان - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إذا خرج من الخلاء قال: غفرانك) (١).
وحديث ابن عمر رضي الله عنهما: (أن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كان إذا أراد الحاجة لا يرفع ثوبه حتى يدنو من الأرض) (٢).



(٣) رواه أبو داود برقم (٢)، وابن ماجه برقم (٣٣٥)، واللفظ له، وإسناده صحيح. انظر صحيح ابن ماجه (١/ ٦٠).
(٤) رواه ابن ماجه برقم (٢٩٧)، والترمذي برقم (٦٠٦) وحسنه أحمد شاكر في حاشية الترمذي، وصححه الألباني. صحيح الجامع الصغير برقم (٣٦١١).
(٥) رواه البخاري برقم (١٤٢)، ومسلم برقم (٣٧٥).
(١) رواه البخاري برقم (١٤٨)، ومسلم برقم (٢٦٦).
(٢) رواه أبو داود برقم (١١)، والدارقطني برقم (١٥٨)، والحاكم (١/ ١٥٤). وصححه الدارقطني، والحاكم ووافقه الذهبي، وحَسنه الحافظ ابن حجر، والحازمي، والألباني (انظر: الإرواء برقم ٦١).

Pembahasan Menghadap atau Membelakangi Kiblat ketika Buang Hajat

Permasalahan Kedua: Menghadap kiblat atau membelakanginya ketika buang hajat.
Tidak boleh menghadap kiblat dan tidak boleh pula membelakanginya ketika buang hajat di tempat yang terbuka tanpa penutup berdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshori -radhiyallohu 'anhu-: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
(إذا أتيتم الغائط فلا تستقبلوا القبلة، ولا تستدبروها، ولكن شَرِّقوا أو غَرِّبوا) قال أبو أيوب: فقدمنا الشام، فوجدنا مراحيض قد بُنيت نحو الكعبة، فننحرف عنها، ونستغفر الله
"Apabila kalian mendatangi kakus janganlah kalian menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya akan tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat". Abu Ayyub berkata: Kami datang ke Syam maka kami dapati kakus-kakus dibangun menghadap ka'bah. Lalu kami pun merubah arah darinya. Dan kamo memohon ampun kepada Alloh. (HR Bukhari dan Muslim)

Adapun jika berada di dalam bangunan atau antara dia dan arah kiblat terdapat sesuatu yang menutupinya maka hal itu tidak mengapa. Berdasarkan hadits Ibnu Umar -radhiyallohu 'anhuma- bahwa beliau melihat Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- kencing di rumahnya dengan menghadap Syam dan membelakangi ka'bah. (HR Bukhari dan Muslim)
Dan berdasarkan hadits Marwan Al-Ashghar berkata:
أناخ ابن عمر بعيره مستقبل القبلة، ثم جلس يبول إليه، فقلت: أبا عبد الرحمن، أليس قد نُهي عن هذا؟ قال: بلى إنما نهي عن هذا في الفضاء، أما إذا كان بينك وبين القبلة شيء يسترك فلا بأس
"Ibnu Umar menderumkan ontanya menghadap ka'bah, kemudian beliau duduk kencing ke arahnya. Aku berkata: Wahai Abu Abdirrohman, bukankah hal ini dilarang? Beliau berkata: "Betul. Hal ini terlarang hanyalah di tempat terbuka. Adapun jika antara dirimu dan kiblat ada sesuatu yang menghalangi maka tidak mengapa".(HR Abu Dawud, Daruquthni dan Al-Hakim)

Adapun yang paling utama adalah meninggalkan hal tersebut meskipun berada dalam bangunan. Allohu a'lam.

Ditarjim dari AlFiqhul Muyassar


لمسألة الثانية: استقبال القبلة واستدبارها حال قضاء الحاجة:
لا يجوز استقبال القبلة ولا استدبارها حال قضاء الحاجة في الصحراء بلا حائل؛ لحديث أبي أيوب الأنصاري - رضي الله عنه -: قال رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (إذا أتيتم الغائط فلا تستقبلوا القبلة، ولا تستدبروها، ولكن شَرِّقوا أو غَرِّبوا) قال أبو أيوب: فقدمنا الشام، فوجدنا مراحيض قد بُنيت نحو الكعبة، فننحرف عنها، ونستغفر الله (٤).
أما إن كان في بنيان، أو كان بينه وبين القبلة شيء يستره، فلا بأس بذلك؛ لحديث ابن عمر رضي الله عنهما: (أنه رأى رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يبول في بيته مستقبل الشام مستدبر الكعبة) (١)، ولحديث مروان الأصغر قال: (أناخ ابن عمر بعيره مستقبل القبلة، ثم جلس يبول إليه، فقلت: أبا عبد الرحمن، أليس قد نُهي عن هذا؟ قال: بلى إنما نهي عن هذا في الفضاء، أما إذا كان بينك وبين القبلة شيء يسترك فلا بأس) (٢). والأفضل ترك ذلك حتى في البنيان، والله أعلم.


(٤) رواه البخاري في كتاب الوضوء برقم (١٤٤)، ومسلم برقم (٢٦٤).
(١) رواه البخاري برقم (١٤٨)، ومسلم برقم (٢٦٦).
(٢) رواه أبو داود برقم (١١)، والدارقطني برقم (١٥٨)، والحاكم (١/ ١٥٤). وصححه الدارقطني، والحاكم ووافقه الذهبي، وحَسنه الحافظ ابن حجر، والحازمي، والألباني (انظر: الإرواء برقم ٦١).

Adab-adab Buang Hajat: Istinja' dan Istijmar


Bab ke-3: Masalah buang hajat dan adab-adabnya. Di sini ada beberapa permasalahan:
Permasalahan Pertama: Istinja' dan Istijmar dan salah satunya bisa menggantikan lainnya.

Istinja': membersihkan kotoran yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur) dengan menggunakan air.
Istijmar: mengusapnya (kotoran yang keluar dari qubul atau dubur) dengan benda yang suci, mubah dan bisa membersihkan seperti batu dan yang semisalnya.
Dan boleh memilih salah satunya karena hal tersebut telah diriwayatkan dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Dari Anas -radhiyallohu 'anhu- berkata:
 (كان النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يدخل الخلاء، فأحمل أنا وغلام نحوي إداوة من ماء وعنزة، فيستنجي بالماء)
"Nabi -shoallallohu 'alaihi wa sallam- masuk wc. Maka aku dan anak kecil seusiaku membawakan wadah kecil (dari kulit) berisi air dan tombak kecil. Lalu beliau beristinja' dengan air" (HR Muslim).
وعن عائشة رضي الله عنها، عن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قال: (إذا ذهب أحدكم إلى الغائط، فليستطب بثلاثة أحجار، فإنها تُجزئ عنه)
Dan dari 'Aisyah -radhiyallohu 'anha- dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Jika salah seorang di antara kalian pergi ke tempat buang hajat, hendaklah dia bersuci dengan 3 batu. Maka yang demikian itu mencukupi baginya" (HR Ahmad dan Daruquthni. Ia berkata sanadnya shahih)
Menggabungkan keduanya lebih utama.
Istijmar bisa dilakukan dengan batu atau yang bisa menggantikannya dari setiap sesuatu yang suci, bisa membersihkan dan mubah, seperti tissu, kertas, atau kayu dan yang semisalnya. Sebab Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- beristijmar dengan batu sehingga disamakan apa pun yang semisal dengannya (batu) dalam hal membersihkan.
Dan tidak boleh beristijmar kurang dari tiga usapan berdasarkan hadits Salman -radhiyallohu 'anhu-:
(نهانا -يعني النبي (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) - أن نستنجي باليمين، وأن نستنجي بأقل من ثلاثة أحجار، وأن نستنجي برجيع أو عظم)
"Beliau melarang kami -yakni Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- beristinja' dengan tangan kanan, (melarang) beristinja' dengan batu kurang dari tiga dan (melarang) beristinja' dengan kotoran hewan atau tulang" (HR Muslim)

Diterjemahkan dari Al-Fiqh Al-Muyassar.

الباب الثالث: في قضاء الحاجة وآدابها، وفيه عدة مسائل:
المسألة الأولى: الاستنجاء والاستجمار وقيام أحدهما مقام الآخر:
الاستنجاء: إزالة الخارج من السبيلين بالماء. والاستجمار: مسحه بطاهر مباح مُنْقِ كالحجر ونحوه. ويجزئ أحدهما عن الآخر؛ لثبوت ذلك عن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: فعنَ أنس - رضي الله عنه - قال: (كان النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يدخل الخلاء، فأحمل أنا وغلام نحوي إداوة من ماء وعنزة، فيستنجي بالماء) (١). وعن عائشة رضي الله عنها، عن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قال: (إذا ذهب أحدكم إلى الغائط، فليستطب بثلاثة أحجار، فإنها تُجزئ عنه) (٢). والجمع بينهما أفضل.
والاستجمار يحصل بالحجارة أو ما يقوم مقامها من كل طاهر مُنْقِ مباح، كمناديل الورق والخشب ونحو ذلك؛ لأن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كان يستجمر بالحجارة فيلحق بها ما يماثلها في الإنقاء. ولا يجزئ في الاستجمار أقل من ثلاث مسحات؛ لحديث سلمان - رضي الله عنه -: (نهانا -يعني النبي (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) - أن نستنجي باليمين، وأن نستنجي بأقل من ثلاثة أحجار، وأن نستنجي برجيع أو عظم) (٣).

(١) رواه مسلم برقم (٢٧١)، والإداوة: إناء صغير من جلد.
(٢) أخرجه أحمد (٦/ ١٠٨)، والدارقطني برقم (١٤٤) وقال: إسناد صحيح.
(٣) رواه مسلم برقم (٢٦٢)، والرجيع: العَذرَةُ والروْثُ.

Selasa, 16 Juni 2020

Bersuci dengan Bejana dari Kulit Bangkai

Masalah ke-Empat: Bersuci dari bejana-bejana yang terbuat dari kulit bangkai:
Kulit bangkai jika disamak menjadi suci dan boleh dipergunakan berdasarkan sabda Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
أيما إهاب دبغ فقد طهر
"Kulit apa saja yang disamak maka sungguh telah menjadi suci" (HR Tirmidzi dan Muslim).
Dan juga karena Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- pernah melewati bangkai kambing lalu beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
(هلَّا أخذوا إهابها فدبغوه فانتفعوا به)؟ فقالوا: إنها ميتة. قال: (فإنما حَرُمَ أكلُهَا)
"Kenapa kalian tidak mengambil kulitnya lalu kalian samak sehingga kalian bisa mengambil manfaat darinya?". Para shahabat berkata: "Sesungguhnya ini adalah bangkai". Beliau bersabda: "Yang haram hanyalah memakannya". (HR Muslim dan Ibnu Majah).

Dan ini adalah jika bangkai tersebut termasuk hewan yang halal sembelihannya. Adapun jika tidak, maka tidak bisa suci dengan disamak.

Adapun bulunya adalah suci -yakni bulu bangkai hewan yang halal dimakan ketika hidupnya- adapun dagingnya maka najis dan haram dimakan. Berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:

 إِلَّآ أَن يَكُونَ مَيۡتَةً أَوۡ دَمٗا مَّسۡفُوحًا أَوۡ لَحۡمَ خِنزِيرٖ فَإِنَّهُۥ رِجۡسٌ 
"... kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi – karena semua itu kotor – " (QS Al-An'am:145)

Disamak dengan membersihkan penyakit dan kotoran yang ada pada kulit dengan menggunakan unsur yang dilarutkan kedalam air seperti garam dan yang semacamnya atau dengan tumbuh-tumbuhan yang biasa dipakai seperti daun akasia atau ar'ar (tanaman mirip pinus) dan sejenisnya.

Adapun hewan yang tidak halal dengan disembelih maka tidak menjadi suci. Oleh karenanya kulit kucing dan hewan yang lebih kecil tidak menjadi suci dengan disamak meskipun ketika hidup statusnya suci.
Dan kulit hewan yang diharamkan memakannya meskipun suci ketika hidup tidaklah menjadi suci dengan disamak.

Ringkasnya: bahwa setiap hewan yang mati dan termaauk hewan yang boleh dimakan dagingnya maka kulitnya menjadi suci dengan disamak. Dan setiap hewan yang mati dan bukan termasuk hewan yang boleh dimakan dagingnya maka kulitnya tidak menjadi suci dengan disamak.

المسألة الرابعة: الطهارة في الآنية المتخذة من جلود الميتة:

جلد الميتة إذا دبغ طهر وجاز استعماله لقوله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (أيما إهاب (٤) دبغ فقد طهر) (٥). ولأنه - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مرّ على شاة ميتة فقال - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (هلَّا أخذوا إهابها فدبغوه فانتفعوا به)؟ فقالوا: إنها ميتة. قال: (فإنما حَرُمَ أكلُهَا) (٦). 

وهذا فيما إذا كانت الميتة مما تحلها الذكاة وإلا فلا.
أما شعرها فهو طاهر -أي شعر الميتة المباحة الأكل في حال الحياة- وأما اللحم فإنه نجس، ومحرم أكله. لقوله تعالى: (إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ) [الأنعام: ١٤٥].
ويحصل الدبغ بتنظيف الأذى والقذر الذي كان في الجلد، بواسطة مواد تضاف إلى الماء كالملح وغيره، أو بالنبات المعروف كالقَرَظ أو العرعر ونحوهما.
وأما ما لا تحله الذكاة فإنه لا يطهر، وعلى هذا فجلد الهرة وما دونها في الخلقة لا يطهر بالدبغ، ولو كان في حال الحياة طاهراً.
وجلد ما يحرم أكله ولو كان طاهراً في الحياة فإنه لا يطهر بالدباغ.
والخلاصة: أن كل حيوان مات، وهو من مأكول اللحم، فإنَّ جلده يطهر بالدباغ، وكل حيوان مات، وليس من مأكول اللحم، فإن جلده لا يطهر بالدباغ.
 


(٤) الإهاب: الجلد قبل أن يدبغ.
(٥) رواه الترمذي برقم (١٦٥٠)، ومسلم برقم (٣٦٦) بلفظ: (إذا دبغ الإهاب فقد طهر) من حديث ابن عباس.
(٦) رواه مسلم برقم (٣٦٣)، وابن ماجه برقم (٣٦١٠).


مصدر: الفقه الميسر في ضوء الكتاب و السنة

Jumat, 12 Juni 2020

Hukum Berkaitan Bejana-Bejana Orang Kafir


Permasalahan Ketiga: Bejana-bejana orang kafir
Hukum asal menggunakan bejana-bejana orang kafir adalah boleh kecuali jika diketahui kenajisannya maka yang demikian tidak boleh menggunakannya kecuali setelah dicuci. Berdasarkan hadits Abu Tsa'labah Al-Khusyani dia berkata: 
قلت يا رسول الله إنا بأرض قوم أهل كتاب، أفنأكل في آنيتهم؟ قال: (لا تأكلوا فيها إلا أن لا تجدوا غيرها فاغسلوها، ثم كلوا فيها)
Aku bertanya kepada Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-: Sesungguhnya kami berada di wilayah Ahlul Kitab. Apakah kami boleh makan dengan menggunakan wadah-wadah mereka? Beliau bersabda: "Janganlah kalian makan dengan menggunakannya kecuali kalian tidak mendapati selainnya. Maka cucilah lalu makan dengan menggunakannya"
(HR Bukhari dan Muslim)
المسألة الثالثة: آنية الكفار:
الأصل في آنية الكفار الحل، إلا إذا عُلمت نجاستها، فإنه لا يجوز استعمالها إلا بعد غسلها؛ لحديث أبي ثعلبة الخشني قال: قلت يا رسول الله إنا بأرض قوم أهل كتاب، أفنأكل في آنيتهم؟ قال: (لا تأكلوا فيها إلا أن لا تجدوا غيرها فاغسلوها، ثم كلوا فيها) (١).
Apabila tidak diketahui kenajisannya karena pemiliknya tidak dikenal dengan bersentuhan dengan najis maka boleh menggunakannya sebab yang demikian ini telah diriwayatkan secara shahih bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan para shahabat beliau mengambil air untuk berwudhu' dari wadah seorang wanita musyrik (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim). Dan juga karena Alloh -ta'ala- menghalalkan untuk kita makanan ahlul kitab. Dan terkadang mereka menghidangkannya untuk kita dengan bejana-bejana mereka. Sebagaimana undangan pemuda Yahudi kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- untuk menyantap roti gandum dan lemak yang berbau dan beliau makan sebagiannya. (Diriwayatkan Ahmad dan dishahihkan Al-Albani dalam Al-Irwa').

وأما إذا لم تُعلم نجاستها بأن يكون أهلها غير معروفين بمباشرة النجاسة، فإنه يجوز استعمالها؛ لأنه ثبت أن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وأصحابه أخذوا الماء للوضوء من مَزَادة امرأة مشركة (٢)، ولأن الله سبحانه قد أباح لنا طعام أهل الكتاب، وقد يقدِّمونه إلينا في أوانيهم، كما دعا غلام يهودي النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - على خبز شعير وإهالَة سَنِخَة فأكل منها (٣).

(١) رواه البخاري برقم (٥٤٧٨)، ومسلم برقم (١٩٣٠).
(٢) رواه البخاري في كتاب التيمم باب الصعيد الطيب رقم (٣٤٤) ومسلم كتاب المساجد باب قضاء الصلاة الفائتة برقم (٦٨٢)، والمزادة: قربة كبيرة يزاد فيها جلد من غيرها.
(٣) أخرجه أحمد (٣/ ٢١٠، ٢١١). وصححه الألباني في الإرواء (١/ ٧١) والإهالة: الشحم والزيت. والسنخة: المتغيرة الريح.

مصدر: الفقه الميسر في ضوء الكتاب و السنة

Hukum Menggunakan Bejana Yang ditambal dengan Emas dan Perak


Masalah Kedua: Hukum menggunakan bejana yang ditambal dengan emas dan perak.

Jika bejana ditambal dengan emas dan perak diharamkan menggunakan bejana tersebut secara mutlak karena masuk pada keumuman nash. Adapun jika ditambal dengan perak dan sedikit maka boleh menggunakan bejana tersebut berdasarkan hadits Anas -radhiyallohu 'anhu- beliau berkata:
انكسر قدح رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فاتخذ مكان الشعْب سلسلة من فضة
"Wadah minum Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- retak lalu beliau merekatkan bagian yang retak dengan perak" (HR Bukhari 3109).


المسألة الثانية: حكم استعمال الإناء المُضَبَّب (٤) بالذهب والفضة:
إن كانت الضبة من الذهب حرم استعمال الإناء مطلقاً؛ لدخوله تحت عموم النص، أما إن كانت الضبة من الفضة وهي يسيرة فإنه يجوز استعمال الإناء؛ لحديث أنس - رضي الله عنه - قال: (انكسر قدح رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فاتخذ مكان الشعْب سلسلة من فضة) (٥)

(٥) رواه البخاري برقم (٣١٠٩).

من كتاب: الفقه الميسر في ضوء الكتاب والسنة

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)