Berpegang kepada Sunnah
Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.
"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".
Amalan tergantung Niatnya
Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu
عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.
Islam Akan Kembali Asing
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ
Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)
Amalan Bid'ah Tertolak
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)
Islam Dibangun di Atas 5 Perkara
عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Agama Adalah Nasehat
عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)
Selasa, 26 Mei 2020
Bab Bejana dari Emas dan Perak
Jumat, 22 Mei 2020
Sisa Minuman Manusia dan Binatang Ternak
Kamis, 21 Mei 2020
Hukum Air Musta'mal Untuk Bersuci
Selasa, 19 Mei 2020
Penjelasan Tauhid Rububiyah
Pertanyaan:
Apakah Tauhid Rububiyah itu?
Jawab:
Yaitu keyakinan yang mantab bahwa Alloh adalah Tuhan segala sesuatu, Pemiliknya, Penciptanya, Pengaturnya, dan yang mengendalikannya. Tiada sekutu dalam kerajaanNya, tidak memerlukan penolong dari kehinaan, tidak ada yang dapat menolak ketetapan dan hukumNya. Tidak ada lawan bagiNya dan tidak ada yang serupa denganNya. Tiada yang setara denganNya dan tidak ada yang bisa menandingi apa pun dari (yang terkandung pada) makna-makna RububiyahNya dan yang terkandung pada nama-nama dan shifat-shifatNya.
Alloh ta'ala berfirman:
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَجَعَلَ ٱلظُّلُمَٰتِ وَٱلنُّورَۖ
"Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan gelap dan terang,". (QS Al-An'am:1)
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Segala puji bagi Alloh, Tuhan seluruh alam" (QS Al-Fatihah: 2)
قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
"Katakanlah (Muhammad), “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Katakanlah, “Allah.” Katakanlah, “Pantaskah kamu mengambil pelindung-pelindung selain Allah, padahal mereka tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi dirinya sendiri?” Katakanlah, “Samakah orang yang buta dengan yang dapat melihat? Atau samakah yang gelap dengan yang terang? Apakah mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah, “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Tuhan Yang Maha Esa, Mahaperkasa.” (QS Ar-Ra'du: 16)
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
"Allah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara mereka yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu yang demikian itu? Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan." (QS Ar-Rum: 40)
هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ
"Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh (sesembahanmu) selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang zhalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata".
(QS Luqman: 11)
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ - أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَل لَا يُوقِنُونَ
"Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).
(QS At-Thur: 35-36)
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا
(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguhhatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?
(QS Maryam: 65)
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat"
(QS Asy-Syura: 11)
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا
"Dan katakanlah, “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak (pula) mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia tidak memerlukan penolong dari kehinaan dan agungkanlah Dia seagung-agungnya".
(QS Al-Isra': 111)
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ - وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
"Katakanlah (Muhammad), “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah! Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka sama sekali tidak mempunyai peran serta dalam (penciptaan) langit dan bumi dan tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.”
Dan syafaat (pertolongan) di sisi-Nya hanya berguna bagi orang yang telah diizinkan-Nya (memperoleh syafaat itu). Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab, “(Perkataan) yang benar,” dan Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar"
(QS Saba': 22-23)
*********
[توحيد الربوبية]
س: ما هو توحيد الربوبية؟
جـ: هو الإقرار الجازم بأن الله تعالى رب كل شيء ومليكه وخالقه ومدبره والمتصرف فيه، لم يكن له شريك في الملك، ولم يكن له ولي من الذل، ولا راد لأمره ولا معقب لحكمه، ولا مضاد له ولا مماثل، ولا سمي له ولا منازع في شيء من معاني ربوبيته، ومقتضيات أسمائه وصفاته، قال الله تعالى: {الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ} [الأنعام: ١] الآيات، بل السورة كلها، وقال تعالى: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} [الفاتحة: ٢] وقال تعالى: {قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ} [الرعد: ١٦] الآيات، وقال تعالى: {اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ} [الروم: ٤٠] وقال تعالى: {هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ} [لقمان: ١١] وقال تعالى: {أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ - أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَل لَا يُوقِنُونَ} [الطور: ٣٥ - ٣٦] الآيات، وقال تعالى: {رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا} [مريم: ٦٥] وقال تعالى: {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ} [الشورى: ١١] وقال تعالى: {وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا} [الإسراء: ١١١] وقال تعالى: {قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ - وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ} [سبأ: ٢٢ - ٢٣] .
مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-
Kamis, 14 Mei 2020
Perbedaan antara lafadz وَ (dan) dan lafadz ثُمَّ (kemudian)
Apa perbedaan antara lafadz وَ (dan) dan lafadz ثُمَّ (kemudian)?
Jawab:
Karena kata hubung wa (dan) berkonsekwensi menyerupakan dan menyamakan. Sehingga orang yang mengatakan: "yang Alloh kehendaki dan engkau kehendaki" menyerupakan kehendak hamba dengan kehendak Alloh. Berbeda dengan kata hubung tsumma (kemudian) berkonsekwensi tabaiyyah (ketergantungan). Jadi, orang yang berkata: "yang Alloh kehendaki kemudian yang engkau kehendaki" berarti dia menetapkan bahwa kehendak hamba bergantung kepada kehendak Alloh -ta'ala- sehingga tidaklah terjadi kecuali setelahnya (kehendak Alloh), sebagaimana firman Alloh -ta'ala-:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
"Tetapi kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah" (QS Al-Insan: 30)
Demikian dengan dengan yang lainnya.
[الفرق بين الواو وثم]
س: ما الفرق بين الواو وثم في هذه الألفاظ؟
جـ: لأن العطف بالواو يقتضي المقارنة والتسوية، فيكون من قال: ما شاء الله وشئت، قارنًا مشيئة العبد بمشيئة الله مسويا بها، بخلاف العطف بثم المقتضية للتبعية، فمن قال: ما شاء الله ثم شئت، فقد أقر بأن مشيئة العبد تابعة لمشيئة الله تعالى، لا تكون إلا بعدها، كما قال تعالى: {وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ} [الإنسان: ٣٠] وكذلك البقية.
مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-
Taisir (69): Imam Berkewajiban Meluruskan Shaf Sholat
Hadits 69:
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رضي الله عنهما , قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم يَقُولُ : (( لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ )) .متفق عليه
Dari Nu'man bin Basyir -radhiyallohu 'anhuma- berkata: Aku mendengar Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Hendaklah kalian benar-benar meluruskan shaf-shaf kalian atau Alloh akan memalingkan wajah-wajah di antara kalian" (Muttafaqun 'alaih)
وَلِمُسْلِمٍ : (( كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم يُسَوِّي صُفُوفَنَا , حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بِهَا الْقِدَاحَ , حَتَّى إذَا رَأَى أَنْ قَدْ عَقَلْنَا عَنْهُ , ثُمَّ خَرَجَ يَوْمًا فَقَامَ , حَتَّى إذَا كَادَ أَنْ يُكَبِّرَ , فَرَأَى رَجُلاً بَادِياً صَدْرُهُ , فَقَالَ : عِبَادَ اللَّهِ , لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ )) .
Dalam riwayat Muslim: "Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- meluruskan shaf-shaf kami sampai seperti merapikan anak panah sampai beliau menganggap bahwa kami telah memahaminya. Kemudian beliau keluar pada suatu hari (untuk mengimami -pent) lalu berdiri hingga ketika hendak takbir beliau melihat seseorang yang dadanya lebih maju dari shaf; lalu beliau bersabda: "Wahai hamba Alloh, hendaklah kalian benar-benar meluruskan shaf-shaf kalian atau Alloh akan memalingkan wajah-wajah di antara kalian". (HR Bukhar 717 dan Muslim 436).
Penjelasan Lafadz Hadits:
1. Makna عَقَلْنَا -dengan memfathahkan qaaf maknanya -kami memahami perintah meluruskan shaf-. Adapun orang yang membacanya dengan ghin kemudian belakangnya fa' dan membacanya: غفلنا (kami telah lalai) maka dia telah keliru.
2. Makna لَتُسَوُّنَّ dengan mendhommahkan ta', memfathahkan siin, mendhommahkan wawu, dan mentasydid nun yakni nun taukid tsaqilah dan diawalnya ada lam sumpah.
3. Makna أَوْ untuk taqsiim (membagi) yakni salah satu dari dua hal yang pasti terjadi; tidak lepas kondisinya dari salah satunya.
4. Makna حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بِهَا الْقِدَاحَ Al-qidah yaitu anak panah kayu yang dibentuk dan diruncingkan. Beliau bersungguh-sungguh dalam merapikan dan meluruskannya.
Yakni bahwasannya mereka -dalam meluruskan dan merapatkannya- pada satu garis.
Makna Global:
Dalam hadits ini terdapat ancaman bagi orang yang tidak meluruskan shaf-shafnya dalam sholat. Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- telah menekankan bahwasannya jika tidak meluruskan dan merapikan shof maka Alloh akan memalingkan wajah-wajah orang yang tidak lurus shafnya dan tidak merapikannya.
Demikian itu karena tatkala sebagian lebih maju dari pada yang lain dalam shof, maka orang yang lebih maju menjadi sombong dan angkuh kemudian orang yang lebih belakang merespon kesombongannya dengan permusuhan dan kebencian. Maka hati-hati mereka berselisih dan diikuti berpalingnya wajah-wajah mereka karena besarnya permusuhan. Dengan demikian timbullah saling memutuskan dan bercerai-berai dan hilanglah tujuan yang dikehendaki dari sholat jamaah yaitu rasa cinta dan saling menyambung (ukhuwah). Demikian itu karena balasan sesuai dengan jenis amalan.
Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam- mengajari para shahabatnya dengan ucapan dan mendidik mereka dengan perbuatan. Beliau meluruskan mereka dengan tangannya sampai beliau shollallohu 'alaihi wa sallam- menganggap mereka telah mengetahui dan paham. Tiba-tiba saja ada seseorang yang membusungkan dadanya di dalam shof di antara para shahabat. Maka beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- marah dan berkata: "hendaklah kalian benar-benar meluruskan shaf-shaf kalian atau Alloh akan memalingkan wajah-wajah di antara kalian"
HUKUM YANG BISA DIPETIK:
1. Dzohir hadits menunjukkan wajibnya meluruskan shaf dan larangan tidak meluruskannya karena adanya ancaman yang keras.
Namun didapati pada sebagian hadits-hadits yang shahih yang memberikan kelonggaran akan keharusan ini sehingga merubah kepada diunnahkan meluruskannya dan keakruhan yang sangat bagi bengkoknya shof. Ini disimpulkan dari hadits yang sebelumnya yaitu:
فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ تَمَامِ الصَّلاةِ
"sesungguhnya lurusnya shaf termasuk kesempurnaan sholat"
2. Sangat perhatiannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dalam meluruskan shof. Beliau langsung menanganinya dengan tangannya yang mulia. Ini menunjukkan bahwa meluruskan shaf adalah tugas imam.
3. Bahwasannya balasan itu tergantung amalan. Beliau memperingatkan dengan ancaman bahwa Alloh memalingkan wajah-wajah mereka karena mereka berselisih dalam shaf-shaf mereka.
4. Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- marah dengan shaf yang tidak lurus sehingga harus memperhatikan hal ini.
5. Bolehnya ucapan imam antara iqamah dan sholat jika dibutuhkan.
Selasa, 12 Mei 2020
Syirik Lawan Tauhid (2) Syirik Kecil
Pertanyaan:
Apakah syirik kecil itu?
Jawab:
yaitu riya dalam bentuk membagus-baguskan amalan yang semestinya ditujukan untuk Alloh -ta'ala-. Alloh -ta'ala- berfirman:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya"(QS Al-Kahfi: 110)
Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:
أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر
"Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil" (HR Ahmad dan Al Baghawi dalam syarhus sunnah)
Beliau ditanya tentang syirik kecil ini beliau menjawab: Riya'.
Kemudian beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- menjelaskan dalam sabdanya:
يقوم الرجل فيصلي فيزين صلاته لما يرى من نظر رجل إليه
"Seseorang berdiri kemudian sholat lalu membagus-baguskan sholatnya karena dia mengetahui seseorang melihatnya"(Hadits hasan riwayat Ibnu Majah)
Termasuk juga bersumpah dengan selain nama Alloh seperti bersumpah dengan para leluhur, berhala, ka'bah, amanah dan selainnya. Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
لا تحلفوا بآبائكم ولا بأمهاتكم ولا بالأنداد
"Janganlah kalian bersumpah dengan bapak-bapak dan ibu-ibu kalian dan dengan berhala-berhala"(HR Abu Dawud dan An-Nasai dan dishahihkan Syaikh Al Albani)
Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
لا تقولوا والكعبة، ولكن قولوا ورب الكعبة
"Janganlah kalian berkata 'demi ka'bah' tapi katakanlah 'demi Rabb Ka'bah'"(Hadits Shahih riwayat An-Nasa'i)
Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
لا تحلفوا إلا بالله
"Janganlah kalian bersumpah kecuali dengan nama Alloh"(HR Abu Dawud dan An-Nasai)
Nabi -shollallohu alaihi wa sallam- bersabda:
من حلف بالأمانة فليس منا
"Barang siapa yang bersumpah dengan amanah maka dia bukan termasuk golongan kami"(Shahih riwayat Abu Dawud)
Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
من حلف بغير الله فقد كفر أو أشرك
"Barang siapa yang bersumpah dengan selain Alloh maka dia telah berbuat kafir atau syirik"(HR Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, Al Baihaqi dan Hakim)
dalam satu riwayat disebutkan: "dan syirik".
Termasuk juga perkataan: Apa yang Alloh kehendaki dan engkau kehendaki. Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda kepada orang yang mengatakan demikian:
أجعلتني لله ندا بل ما شاء الله وحده
"Apakah engkau akan menjadikan tandingan bagi Alloh. Katakanlah: apa yang dikehendaki Alloh saja"(Hadits Hasan dan shahih lighairihi diriwayatkan Ahmad, Ibnu Majah, An-Nasai, Ibnu Majah, At-Thohawi, Abu Nu'aim dan Al Bukhari dalam Al-Adab)
Termasuk juga perkataan: "Kalaulah bukan karena Alloh dan engkau, tidaklah aku (selamat) jika tidak karena Alloh dan engkau, dan yang selmisalnya. Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
لا تقولوا ما شاء الله وشاء فلان، ولكن قولوا ما شاء الله ثم شاء فلان
"Janganlah engkau mengatakan 'dikehendaki Alloh dan fulan' namun katakanlah 'dikehendaki Alloh lalu fulan'"(Shahih riwayat Ahmad, Abu Dawud, Baihaqi dan At-Thahawi)
[الشرك الأصغر]
س: ما هو الشرك الأصغر؟
جـ: هو يسير الرياء الداخل في تحسين العمل المراد به الله تعالى، قال الله تعالى: {فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا} [الكهف: ١١٠] وقال النبي صلى الله عليه وسلم: «أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر» (١) فسئل عنه فقال: (الرياء) ، ثم فسره بقوله صلى الله عليه وسلم: «يقوم الرجل فيصلي فيزين صلاته لما يرى من نظر رجل إليه» (٢) .
ومن ذلك الحلف بغير الله كالحلف بالآباء والأنداد والكعبة والأمانة وغيرها، قال صلى الله عليه وسلم: «لا تحلفوا بآبائكم ولا بأمهاتكم ولا بالأنداد» (٣) وقال صلى الله عليه وسلم: «لا تقولوا والكعبة، ولكن قولوا ورب الكعبة» (١) . وقال صلى الله عليه وسلم: " «لا تحلفوا إلا بالله» (٢) وقال صلى الله عليه وسلم: «من حلف بالأمانة فليس منا» (٣) وقال صلى الله عليه وسلم: «من حلف بغير الله فقد كفر أو أشرك» (٤) وفي رواية: (وأشرك) .
ومنه قوله: ما شاء الله وشئت. وقال النبي صلى الله عليه وسلم للذي قال ذلك: «أجعلتني لله ندا بل ما شاء الله وحده» (٥) . ومنه قول: لولا الله وأنت، وما لي إلا الله وأنت، وأنا داخل على الله وعليك، ونحو ذلك. قال صلى الله عليه وسلم: «لا تقولوا ما شاء الله وشاء فلان، ولكن قولوا ما شاء الله ثم شاء فلان» (١) . قال أهل العلم: ويجوز لولا الله ثم فلان، ولا يجوز لولا الله وفلان.
****************
(١) (صحيح) ، رواه أحمد (٥ / ٤٢٨، ٤٢٩) ، والبغوي في شرح السنة (١٤ / ٣٢٤) عن عمرو بن أبي عمرو، وعن عاصم بن عمر بن قتادة عن محمود بن لبيد قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الحديث، وهذا إسناد جيد رجاله كلهم ثقات، رجال الشيخين غير محمود بن لبيد فإنه من رجال مسلم وحده.
قال الحافظ: وهو صحابي صغير وجُلّ روايته عن الصحابة (أفاده الشيخ الألباني في الصحيحة ٩٥١) .
(٢) (حديث حسن. والجزء الذي احتج به الحافظ الحكمي " صحيح لغيره " أو نقول صحيح المتن) ، رواه ابن ماجه (٤٢٠٤) بسند حسن على الراجح، وقد قال الإمام البوصيري عن سند ابن ماجه: " هذا إسناد حسن. كثير بن زيد وربيع بن عبد الرحمن مختلف فيهما "، رواه الإمام أحمد من حديث أبي سعيد أيضا والبيهقي، ورواه أحمد بن منيع ثنا كثير، فذكره بزيادة في أوله كما أوردته في زوائد المسانيد العشرة. اهـ.
قلت: وكثير بن زيد صدوق يخطئ، وربيع مقبول كما قال الحافظ، يعني عند المتابعة، وقد توبع خاصة في الجزء المحتج به في الحديث لما رواه ابن خزيمة (٩٣٧) ، وصححه بإيراده أيضا محتجا به، وقد احتج به أيضا الحافظ المنذري في الترغيب بتصديره بـ " عن "، وهو من حديث محمود بن لبيد قال: خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: " أيها الناس، إياكم وشرك السرائر، قالوا: يا رسول الله، وما شرك السرائر؟ قال: يقوم الرجل فيصلي فيزين صلاته جاهدا لما يرى من نظر الناس إليه، فذلك شرك السرائر ".
(٣) (صحيح) ، رواه أبو داود (٣٢٤٨) ، والنسائي (٧ / ٥) ، وسكت عنه الإمام أبو داود، وصححه الألباني.
(١) (صحيح) ، رواه النسائي (٣٧٧٣) ، قال الحافظ في الإصابة (٤ / ٣٢٩) : أخرجه النسائي وسنده صحيح، وقد رواه النسائي في الكبرى (٣ / ٣٢٩) . أخرجه النسائي وسنده صحيح، وقد رواه النسائي في الكبرى (٣ / ١٢٤) وفيه ". . فأمرهم إذا أرادوا أن يحلفوا أن يقولوا ورب الكعبة. . ". ولم نره واللفظ الذي أورده المؤلف.
(٢) تقدم رقم (٣) .
(٣) (صحيح) ، رواه أبو داود (٣٢٥٣) حدثنا أحمد بن يونس، ثنا زهير، ثنا الوليد بن بن ثعلبة الطائي، عن أبي بريدة، عن أبيه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، الحديث. وقد قال الشيخ الألباني: وهذا إسناد صحيح رجاله كلهم ثقات اهـ.
(٤) (صحيح) رواه أحمد (٢ / ٣٤، ٦٧، ٦٩، ٨٦، ١٢٥) ، ورواه أبو داود (٣٢٥١) ، والترمذي (١٥٣٥) ، والحاكم (٤ / ٢٩٧) ، والبيهقي (١٠ / ٢٩) ، وقد سكت عنه الإمام أبو داود، وقال الإمام الترمذي: هذا حديث حسن، وقال الحاكم: هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه، ووافقه الذهبي، وقد صححه أيضا الألباني.
(٥) (سنده حسن وهو صحيح لغيره) ، رواه أحمد (١ / ٢١٤، ٢٢٤، ٢٨٣، ٣٤٧) ، وابن ماجه (٢١١٧) ، والنسائي (في الكبرى) ، والطحاوي (١ / ٩٠) ، وأبو نعيم (٤ / ٩٩) ، ورواه أيضا البخاري في الأدب (٧٨٣) ، قال الحافظ العراقي: رواه النسائي في الكبرى وابن ماجه بإسناد حسن، اهـ. (إتحاف ٧ / ٥٧٤) وقد جاء الحديث عن طرق عن الأجلح عن يزيد بن الأصم عن ابن عباس إلا أن ابن عساكر قال: " الأعمش " بدل " الأجلح "، والأجلح هذا هو ابن عبد الله أبو حجية الكنزي، وهو صدوق شيعي كما في التقريب، وبقية رجاله ثقات، رجال الشيخين، فالإسناد حسن وله شواهد تصححه.
(١) (صحيح) من حديث حذيفة. رواه أحمد (٥ / ٣٨٤، ٣٩٤، ٣٩٨) ، وأبو داود (٤٩٨٠) ، والبيهقي (٣ / ٢١٦) ، والطحاوي (١ / ٩٠) من طرق عن شعبة عن منصور بن المعتمر سمعت عبد الله بن يسار عن حذيفة به، وهذا سنده صحيح، رجاله كلهم ثقات، رجال الشيخين، غير عبد الله بن يسار وهو الجهني وهو ثقة، وثقه النسائي وابن حبان.
مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-
Syirik Lawan Tauhid (1) Syirik Besar
Pertanyaan:
Apakah lawan dari Tauhid Uluhiyah?
Jawab:
Lawannya adalah syirik. Dan syirik ini ada dua: Syirik besar yang menghapuskan tauhid secara keseluruhan dan syirik kecil yang menghilangkan kesempurnaannya.
Pertanyaan:
Apakah syirik besar itu?
Jawab:
Yaitu seorang hamba menjadikan tandingan selain Alloh. Dia mensejajarkannya dengan Rabb semesta alam. Mencintainya seperti mencintai Alloh. Dia takut kepadanya seperti takutnya kepada Alloh. Dia berlindung kepadanya. Berdoa kepadanya. Takut kepadanya. Berharap kepadanya. Mencintainya. Bertawakal kepadanya. Mentaatinya dalam kemaksiatan kepada Alloh. Atau mengikutinya dalam perkara yang tidak diridhai Alloh. Dan yang serupa dengan itu.
Alloh ta'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar."(QS An Nisa': 48)
Alloh -ta'ala- berfirman:
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
"Barang siapa mensekutukan Alloh maka dia telah sesat dengan kesesatan yang jauh". (QS An-Nisa: 116)
Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ
"Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka" (QS Al Maidah: 72)
FirmanNya:
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ
"Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh" (QS Al-Hajj: 31)
Dan ayat-ayat selainnya.
Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئا
"Hak Alloh atas para hamba adalah agar mereka beribadah hanya kepadaNya dan tidak mensekutukanNya dengan suatu apa pun, dan hak hamba atas Alloh adalah bahwa Alloh tidak akan mengadzab orang yang tidak mensekutukanNya dengan suatu apa pun"(HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Dan sama saja keluar dari Islam orang yang terang-terangan melakukan kesyirikan ini seperti kafir Quraisy dan selainnya, dan yang menyembunyikan (kesyirikan) seperti orang-orang munafik dan orang-orang yang membuat makar atas Islam yang mereka menampakkan Islam dan menyembunyikan kekufuran. Alloh ta'ala berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا - إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ
"Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman"(QS An-Nisa': 145-146)
Dan ayat-ayat selainnya.
[ما يضاد توحيد الإلهية]
س: ما هو ضد توحيد الإلهية؟
جـ: ضده الشرك، وهو نوعان: شرك أكبر ينافيه بالكلية، وشرك أصغر ينافي كماله.
[الشرك الأكبر]
س: ما هو الشرك الأكبر؟
جـ: هو اتخاذ العبد من دون الله ندا يسويه برب العالمين يحبه كحب الله ويخشاه كخشية الله ويلتجئ إليه ويدعوه ويخافه ويرجوه ويرغب إليه ويتوكل عليه، أو يطيعه في معصية الله، أو يتبعه على غير مرضاة الله، وغير ذلك، قال تعالى: {إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا} [النساء: ٤٨] وقال تعالى: {وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا} [النساء: ١١٦] وقال تعالى: {إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ} [المائدة: ٧٢]
وقال تعالى: {وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ} [الحج: ٣١] وغير ذلك من الآيات، وقال النبي صلى الله عليه وسلم: «حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئا» (١) وهو في الصحيحين.
ويستوي في الخروج بهذا الشرك عن الدين المجاهر به ككفار قريش وغيرهم، والمبطن له كالمنافقين المخادعين الذين يظهرون الإسلام ويبطنون الكفر، قال الله تعالى: {إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا - إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ} [النساء: ١٤٥ - ١٤٦] وغير ذلك من الآيات.
(١) رواه البخاري (٢٨٥٦، ٥٩٦٧، ٦٢٦٧، ٦٥٠٠) ، ومسلم (الإيمان / ٤٨، ٥١) ، وأحمد (٣ / ٢٦٠، ٢٦١) والترمذي (٢٦٤٣) ، وابن ماجه (٤٢٦٩) .
مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-








