“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Minggu, 29 Desember 2019

Apakah Seorang Muslim Wajib mengetahui Syarat Lailaha Illalloh?

Pertanyaan:
Apakah seorang Muslim wajib mengetahui syarat La ilaha illalloh? Dan apakah orang yang tidak mengetahui syarat ini dia menjadi kafir?

Jawaban:
Alhamdulillah,
Dari perkara yang dimaklumi dan telah ditetapkan dalam syariat Islam bahwa kalimat tauhid memberikan manfaat bagi seseorang di akhirat; sehingga dia menjadi penghuni surga dan selamat dari api neraka apabila dia mengetahui maknanya dan mengamalkan konsekwensinya.

Syaikh Sulaiman bin Abdulloh bin Muhammad bin Abdul Wahab -rahimahulloh ta'ala- berkata:
" عن عبادة بن الصامت قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ، والجنة حق ، والنار حق ، أدخله الله الجنة على ما كان من العمل ) ...
Dari 'Ubadah bin Shomit -radhiyallohu 'anhu- berkata: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: Barang siapa yang bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Alloh saja yang tiada sekutu bagiNya, dan bahwa Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya, dan bahwa Isa adalah hamba Alloh dan utusanNya, dan kalimatNya yang diletakkan kepada Maryam dan ruh yang berasal dariNya; dan bahwa surga adalah benar, dan neraka adalah benar; maka Alloh akan memasukkannya ke dalam surga dengan amal apa pun yang dia kerjakan..."

Dan sabda beliau: "Barang siapa yang bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Alloh"; yakni orang yang mengucapkan kalimat ini dengan memahami maknanya dan mengamalkan konsekwensinya secara batin dan lahirnya, sebagaimana yang ditunjukkan pada firmanNya:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
"Ketahuilah bahwasannya tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Alloh".(QS Muammad: 19)

إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran dan dia mengetahui".(QS Az-Zukhruf: 48)
Adapun sekedar mengucapkannya tanpa paham maknanya dan tanpa mengerjakan konsekwensinya maka demikian itu tidak bermanfaat (baginya) dengan ijma'. -selesai- (Taisir Al-Azizil Hamid hal 51)

Namun pengetahuan terhadap maknanya dan konsekwensinya ini wajib bagi setiap muslim untuk memahaminya secara global; maka hal ini mencukupinya. Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- tidak menjelaskan hal ini. Ini (syarat lailaha illalloh -pent) memberikan perincian setiap yang baru dalam Islam. Syarat-syarat ini dengan perinciannya ditetapkan dalam kitab-kitab (para ulama).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- berkata:
لا ريب أنه يجب علي كل أحد أن يؤمن بما جاء به الرسول إيماناً عاماً مجملاً، ولا ريب أن معرفة ما جاء به الرسول علي التفصيل فرض على الكفاية، فإن ذلك داخل في تبليغ ما بعث الله به رسوله، وداخل في تدبر القرآن وعقله وفهمه، وعلم الكتاب والحكمة، وحفظ الذكر والدعاء إلي الخير، والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، والدعاء إلي سبيل الرب بالحكمة والموعظة الحسنة، والمجادلة بالتي هي أحسن، ونحو ذلك مما أوجبه الله علي المؤمنين، فهذا واجب علي الكفاية منهم
"Tidak diragukan lagi bahwa wajib bagi setiap individu untuk mengimani apa yang dibawa Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dengan keimanan secara umum dan mujmal(global). Dan tidak diragukan bahwa pengetahuan tentang apa yang dibawa Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa salam- secara terperinci adalah fardhu kifayah sebab yang demikian itu termasuk di dalam tabligh (penyampaian terhadap syariat -pent) yang dengannya Alloh utus RasulNya. Dan termasuk pula dalam tadabbur terhadap Al-Qur'an, memikirkan dan memahaminya, pengetahuan tentang Al-Qur'an dan hikmah, penjagaan terhadap agama dan dakwah kepada kebaikan, amar maruf nahi munkar, berdakwah kepada jalan Alloh dengan hikmah dan nasehat yang baik, bermujadalah (berdebat) dengan cara yang paling baik, dan lain sebagainya dari perkara-perkara yang Alloh wajibkan atas orang-orang yang beriman. Ini adalah fardhu kifayah di antara mereka " -selesai- dari dar'u ta'arudh al-Aql wan An-Naql 1/51.

Dan tidaklah wajib atas setip muslim menghafal syarat-syarat ini dan tidaklah dicela karena tidak adanya pengetahuan hal ini dalam imannya. Tiada lain yang dituntut adalah beramal dengan syarat-syarat ini dan memperbaiki keimanan.

Ini hendaklah diamalkan oleh setiap muslim -meskipun dia awam- selama dia melazimkan hatinya di atas kecintaan kepada Alloh dan rasulNya, mentaati keduanya, mengagungkan nash-nash syariat dan beramal dengan apa yang telah sampai kepadanya sesuai kadar kesanggupannya.

Syaikh Hafidz Al-Hakamy -rahimahulloh ta'ala- berkata: "Tidaklah bermanfaat orang yang mengatakan lailaha illalloh dengan ucapannya saja kecuali dia menyempurnakannya; yakni syarat-syarat tujuh ini. Dan makna menyempurnakannya yaitu berkumpulnya hal itu dalam diri hamba, berpegang teguh dengannya tanpa adanya pembatal kesempurnaannya (lailaha illalloh).
Dan bukanlah maksudnya menghitung jumlahnya dan menghafalnya. Berapa banyak orang awam yang berkumpul pada dirinya (syarat-syarat ini) dan ia berpegang teguh dengannya namun jika dikatakan kepadanya: "Sebutkanlah (syarat-syaratnya)!", dia tidak bisa menyebutkannya. Dan berapa banyak orang yang menghafal lafadz-lafadznya, meluncur bagaikan anak panah namun engkau lihat dia terjatuh pada hal-hal yang membatalkannya. Taufiq itu ada di tangan Alloh. Allohlah tempat memohon pertolongan. -selesai- dari Maarijil Qobul 2/418.
Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz -rahimahulloh- berkata:
"Wajib atas seluruh kaum muslimin untuk merealisasikan kalimat ini dengan menjaga syarat-syaratnya. Dan kapan di antara kaum muslimin mendapati maknanya dan istiqomah di atasnya maka dia adalah muslim. Haram darah dan hartanya meski tidak mengetahui perincian syarat-syarat ini, sebab tujuannya adalah ilmu yang benar dan beramal dengannya meski pun seoarang mukmin tidak mengetahui perincian syaratsyarat yang dituntut" -selesai- dari majmu' fatawa Syaikh bin Baz (7/58).
Namun pengetahuan tentang syarat-syarat ini adalah termasuk fardhu kifayah. Wajib atas umat ini untuk ada di tengah-tengah mereka rang yang mempelajarinya dan mengajarkannya kepada manusia. Hal ini termasuk menyampaikan syariat yang Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- diutus dengannya. Sebagaimana perkataan Syaikhul Islam terdahulu.
Syaikhul Islam juga berkata: "Ada pun yang diwajibkan bagi setiap individu maka berbeda-beda sesuai dengan kemampuan, kebutuhan dan pemahaman mereka dan apa yang diperintahkan kepada individunya. Maka tidaklah wajib atas orang yang tidak mampu mendengar sebagian ilmu atau pembahasan yang detail sebagaimana yang diwajibkan kepada orang yang mampu akan hal tersebut. Dan wajib bagi orang yang mendengar nash-nash dan pemahamannya berupa ilmu perincian sebagaimana yang diajibkan atas orang yang mendengarnya. Dan wajib atas mufti (orang yang berfatwa), muhaddits dan orang yang berdebat sebagaimana tidak diwajibkan kepada selain mereka. -selesai dari dar'u taarudh al-Aqli wan Naqli (1/52)

Allohu a'lam

السؤال
هل يجب على المسلم معرفة شروط لا إله إلا الله ؟ وهل من لا يعرف الشروط يصبح كافرا ؟
نص الجواب
الجواب :
الحمد لله
مما هو معلوم ومقرر في شريعة الإسلام، أن كلمة التوحيد تنفع صاحبها في الآخرة، فيكون من أهل الجنة، وينجو من النار؛ إذا علم معناها وعمل بمقتضاها.

قال الشيخ سليمان بن عبد الله بن محمد بن عبد الوهاب رحمه الله تعالى:

" عن عبادة بن الصامت قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ، والجنة حق ، والنار حق ، أدخله الله الجنة على ما كان من العمل ) ...

قوله: ( من شهد أن لا إله إلا الله )، أي: من تكلم بهذه الكلمة عارفًا لمعناها، عاملاً بمقتضاها باطنًا وظاهرًا، كما دل عليه قوله: ( فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ) وقوله: ( إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ). أما النطق بها من غير معرفة لمعناها ولا عمل بمقتضاها، فإن ذلك غير نافع بالإجماع " انتهى من " تيسير العزيز الحميد" (ص 51).

لكن هذا العلم بمعناها ومقتضياتها يجب على كل مسلم أن يعلم ذلك على وجه الإجمال فهذا يكفيه، فالنبي صلى الله عليه وسلم لم يعرف عنه أنه كان يفصل لكل جديد في الإسلام هذه الشروط ، بهذا التفصيل المقرر في الكتب.

قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله تعالى:

" لا ريب أنه يجب علي كل أحد أن يؤمن بما جاء به الرسول إيماناً عاماً مجملاً، ولا ريب أن معرفة ما جاء به الرسول علي التفصيل فرض على الكفاية، فإن ذلك داخل في تبليغ ما بعث الله به رسوله، وداخل في تدبر القرآن وعقله وفهمه، وعلم الكتاب والحكمة، وحفظ الذكر والدعاء إلي الخير، والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، والدعاء إلي سبيل الرب بالحكمة والموعظة الحسنة، والمجادلة بالتي هي أحسن، ونحو ذلك مما أوجبه الله علي المؤمنين، فهذا واجب علي الكفاية منهم " انتهى من"درء تعارض العقل والنقل" (1 / 51).

ولا يجب على كل مسلم أن يحفظ هذه الشروط ، ولا يقدح عدم معرفته بها في إيمانه ، وإنما المطلوب هو العمل بهذه الشروط وتصحيح الإيمان .

وهذا يعمل به المسلم – ولو كان عاميا- ما دام عقد قلبه على محبة الله ورسوله ، وطاعتهما ، وتعظيم النصوص الشرعية، والعمل بما بلغه منها بقدر استطاعته .

قال الشيخ حافظ الحكمي رحمه الله تعالى :

" لم ينتفع قائل لا إله إلا الله بنطقه بها مجردا، إلا حيث يستكملها أي: هذه الشروط السبعة. ومعنى استكمالها: اجتماعها في العبد، والتزامه إياها، بدون مناقضة منه لشيء منها.

وليس المراد من ذلك عد ألفاظها، وحفظها ، فكم من عامي اجتمعت فيه، والتزمها، ولو قيل له: اعددها، لم يحسن ذلك.

وكم حافظ لألفاظها، يجري فيها كالسهم ، وتراه يقع كثيرا فيما يناقضها، والتوفيق بيد الله، والله المستعان " انتهى من "معارج القبول" (2 / 418).

وقال الشيخ عبد العزيز بن باز رحمه الله تعالى:

" فالواجب على جميع المسلمين أن يحققوا هذه الكلمة، بمراعاة هذه الشروط، ومتى وجد من المسلم معناها، والاستقامة عليه: فهو مسلم، حرام الدم والمال، وإن لم يعرف تفاصيل هذه الشروط، لأن المقصود هو العلم بالحق، والعمل به ، وإن لم يعرف المؤمن تفاصيل الشروط المطلوبة " انتهى من "مجموع فتاوى الشيخ ابن باز" (7 / 58).

لكن العلم بهذه الشروط هو من فروض الكفاية ، فيجب على الأمة أن يوجد فيهم من يعلم هذه الشروط ويعلمها الناس ، وهذا داخل في تبليغ ما بعث الله به رسوله صلى الله عليه وسلم ... كما في كلام شيخ الإسلام السابق .

وقد قال شيخ الإسلام أيضا:

" وأما ما وجب على أعيانهم فهذا يتنوع بتنوع قدرهم وحاجتهم ومعرفتهم، وما أمر به أعيانهم، فلا يجب علي العاجز عن سماع بعض العلم، أو عن فهم دقيقه، ما يجب على القادر على ذلك، ويجب على من سمع النصوص وفهمها، من علم التفصيل؛ ما لا يجب على من لم يسمعها، ويجب علي المفتي والمحدث والمجادل، ما لا يجب على من ليس كذلك " انتهى من"درء تعارض العقل والنقل" (1 / 52).

والله أعلم.

www.ferkous.com

Sabtu, 28 Desember 2019

Makna Syahadat La ilaha illalloh

Pertanyaan:
Apa makna syahadat lailaha illalloh?

Jawab:
Maknanya peniadaan peribadahan kepada apa pun selain Alloh -ta'ala- dan menetapkannya untuk Alloh -azza wa jalla- saja yang tiada sekutu bagiNya dalam peribadahan kepadaNya. Sebagaimana juga tiada sekutu bagiNya pada kekuasaanNya.
Alloh -ta'ala- berfirman:
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

"Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil, dan sungguh Allah, Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar". (QS Al-Hajj: 62)

[معنى شهادة أن لا إله إلا الله]
س: ما معنى شهادة أن لا إله إلا الله؟
جـ: معناها نفي استحقاق العبادة عن كل ما سوى الله تعالى وإثباتها لله عز وجل وحده لا شريك له في عبادته، كما أنه ليس له شريك في ملكه، قال الله تعالى: {ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ} [الحج: ٦٢]

Dalil Syahadat La ilaha illalloh


[Dalil Syahadat La ilaha illalloh]
Pertanyaan:
Apa dalil syahadat La ilaha illalloh?

Jawab:
Firman Alloh -ta'ala:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم

"Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa, Maha-bijaksana". (QS Ali Imron: 18)

Firman Alloh -ta'ala-:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
"Ketahuilah bahwasannya tiada ilah melainkan Alloh"(QS Muhammad: 19)

Firman Alloh -ta'ala-:
وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا اللَّه
"Dan tiada ilah melainkan Alloh"(QS Ali Imron: 62)

Dan firmanNya -ta'ala-:
مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَه
"Allah tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan (yang lain) bersama-Nya" (QS Al-Mukminun: 91)

FirmanNya -ta'ala-:
قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا
"Katakanlah (Wahai Rasululloh), “Jika ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagai-mana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai ’Arsy.”(QS Al-Isra': 42)
Dan ayat-ayat selainnya.

[دليل شهادة أن لا إله إلا الله]
س: ما دليل شهادة أن لا إله إلا الله؟
جـ: قول الله تعالى: {شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ} [آل عمران: ١٨] وقوله تعالى: {فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ} [محمد: ١٩] وقوله تعالى: {وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا اللَّهُ} [آل عمران: ٦٢] وقوله تعالى: {مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ} [المؤمنون: ٩١] الآيات، وقوله تعالى: {قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا} [الإسراء: ٤٢] الآيات، وغيرها.

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Kedudukan Dua Kalimat Syahadat Dalam Islam

[Kedudukan Dua Kalimat Syahadat Dalam Islam]

[Kedudukan Dua Kalimat Syahadat Dalam Islam]
Pertanyaan:
Bagaimana kedudukan dua kalimat syahadat dalam agama Islam?

Jawab:
Seorang hamba tidaklah masuk kedalam agama ini kecuali dengan keduanya (syahadatain). Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ
"Orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan RasulNya" (QS An-Nuur: 62)

Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله
"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Alloh dan bahwa Muhammad adalah hambaNya utusanNya" (HR Bukhari & Muslim)
dan banyak lagi dalil yang lain.

[محل الشهادتين من الدين]
س: ما محل الشهادتين من الدين؟
جـ: لا يدخل العبد في الدين إلا بهما، قال الله تعالى: {إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ} [النور: ٦٢] وقال النبي صلى الله عليه وسلم: «أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله» " (٣) . الحديث، وغير ذلك كثير.
****

(٣) رواه البخاري (٢٥، ١٣٩٩) ، ومسلم (الإيمان / ٣٢، ٣٣، ٣٤، ٣٥، ٣٧) ، وغيرهما.

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Kedudukan Dua Kalimat Syahadat Dalam Islam

[Kedudukan Dua Kalimat Syahadat Dalam Islam]

[Kedudukan Dua Kalimat Syahadat Dalam Islam]
Pertanyaan:
Bagaimana kedudukan dua kalimat syahadat dalam agama Islam?

Jawab:
Seorang hamba tidaklah masuk kedalam agama ini kecuali dengan keduanya (syahadatain). Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ
"Orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan RasulNya" (QS An-Nuur: 62)

Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله
"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Alloh dan bahwa Muhammad adalah hambaNya utusanNya" (HR Bukhari & Muslim)
dan banyak lagi dalil yang lain.

[محل الشهادتين من الدين]
س: ما محل الشهادتين من الدين؟
جـ: لا يدخل العبد في الدين إلا بهما، قال الله تعالى: {إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ} [النور: ٦٢] وقال النبي صلى الله عليه وسلم: «أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله» " (٣) . الحديث، وغير ذلك كثير.
****

(٣) رواه البخاري (٢٥، ١٣٩٩) ، ومسلم (الإيمان / ٣٢، ٣٣، ٣٤، ٣٥، ٣٧) ، وغيرهما.

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Dalil Definisi Ad-Dien (Islam) dengan Lima Rukun secara Terperinci

[Dalil Definisi Ad-Dien (Islam) dengan Lima Rukun secara Terperinci]

Pertanyaa:
Apakah dalil definisi Ad-Dien (Islam) dengan lima rukun secara terperinci?

Jawab:
Sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- pada hadits pertanyaan Jibril kepada beliau tentang Ad-Dien:
الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله، وتقيم الصلاة، وتؤتي الزكاة،وتصوم رمضان، وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا
"Islam yaitu engkau bersaksu bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Alloh dan Muhammad Rasululloh, engkau menegakkan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan, berhaji ke Baitulloh jika engkau menempuh jalan ke sana".
Dan sabda beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
بني الإسلام على خمس
"Islam dibangum di atas 5 perkara...."
Beliau lalu menyebutkannya hanya saja beliau mendahulukan penyebutan haji sebelum puasa Ramadhan.
Keduanya ada di kitab shahihain (Bukhari & Muslim).

****
[الدليل على تعريف الدين بالأركان الخمسة عند التفصيل]
س: ما الدليل على تعريفه بالأركان الخمسة عند التفصيل؟
جـ: قوله صلى الله عليه وسلم في حديث سؤال جبريل إياه عن الدين: «الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله، وتقيم الصلاة، وتؤتي الزكاة،وتصوم رمضان، وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا» (١) وقوله صلى الله عليه وسلم: «بني الإسلام على خمس» (٢) فذكر هذه غير أنه قدم الحج على صوم رمضان وكلاهما في الصحيحين.

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Rabu, 25 Desember 2019

Makna Islam dan Tingkatan-Tingkatan Dinul Islam

[Tingkatan-tingkatan Dienul Islam]
Pertanyaan:
Berapakah Tingkatan Agama Islam?

Jawab:
Ada tiga tingkatan yaitu: Islam, Iman dan Ihsan. Jika masing-masing disebutkan secara mutlak maka mencakup Islam secara keseluruhan.
***

[Makna Islam]
Pertanyaan:
Apakah makna Islam?

Jawab:
Maknanya berserah diri kepada Alloh dengan tauhid, tunduk patuh kepadaNya dengan ketaatan, dan bersihnya dari kesyirikan. Alloh ta'ala berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّه
"Dan siapakah orang yang lebih baik agamanya dari pada orang dengan ikhlas berserah diri kepada Alloh" (QS An-Nisa': 125)

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
"Dan barangsiapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul (tali) yang kokoh". (QS Luqman: 22)

فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِين
"Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)" (QS Al-Hajj: 34)
***

[Dalil bahwa agama Islam ini telah mencukupi secara mutlak]

Pertanyaan:
Apa dalil bahwa agama Islam ini telah mencukupi secara mutlak?

Jawab:
Alloh ta'ala berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
"Sesungguhnya agama yang diridhoi Alloh adalah Islam" (QS Ali Imron: 19)

Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:
بدأ الإسلام غريبا وسيعود غريبا كما بدأ
"Islam pertama kali datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awalnya" (HR Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya)
Dan juga sabda beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
أفضل الإسلام إيمان بالله
"Seutama-utama Islam adalah beriman kepada Alloh" (HR Muslim dari Abu Hurairah -radhiyallohu anhu-).
***

[مراتب دين الإسلام]
س: كم مراتب دين الإسلام؟
جـ: هو ثلاث مراتب: الإسلام والإيمان والإحسان، وكل واحد منها إذا أطلق شمل الدين كله.

[معنى الإسلام]
س: ما معنى الإسلام؟
جـ: معناه الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، والخلوص من الشرك، قال الله تعالى: {وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ} [النساء: ١٢٥] وقال تعالى: {وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى} [لقمان: ٢٢] وقال تعالى: {فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ} [الحج: ٣٤] .

[الدليل على شموله الدين كله عند الإطلاق]
س: ما الدليل على شموله الدين كله عند الإطلاق؟
جـ: قال الله تعالى: {إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ} [آل عمران: ١٩] وقال النبي صلى الله عليه وسلم: «بدأ الإسلام غريبا وسيعود غريبا كما بدأ» (١) وقال صلى الله عليه وسلم: «أفضل الإسلام إيمان بالله» (٢) . وغير ذلك كثير.
***
(١) رواه مسلم (الإيمان / ٢٣٢) ، والترمذي (٢٦٢٩) ، وابن ماجه (٣٩٨٦، ٣٩٨٧) ، وغيرهم.
(٢) رواه مسلم من حديث أبي هريرة رضي الله عنه، قال: " سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الأعمال أفضل؟ قال: إيمان بالله. . ". (الإيمان ١٣٥) ، ورواه أحمد (٤ / ١١٤) ، وعبد الرزاق (١١ / ١٢٧) من حديث عمرو بن عتبة.

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Selasa, 24 Desember 2019

Apakah Syarat-syarat Ibadah

Apakah Syarat-syarat Ibadah

[Syarat-syarat ibadah]
Pertanyaan:
Ada berapa syarat-syarat ibadah?

Jawab:
Ada tiga: Pertama: benarnya tekat yang merupakan syarat adanya ibadah. Kedua: niat yang ikhlas. Ketiga: bersesuaian dengan syariat yang Alloh -ta'ala- perintahkan agar beragama dengannya. Dan keduanya adalah syarat diterimanya amal.

[Benarnya Tekad]
Pertanyaan:
Apakah yang dimaksud dengan benarnya tekad?

Jawab:
Yaitu meninggalkan bermalasan dan berlambat-lambat serta mencurahkan seluruh usahanya dalam menyelaraskan antara ucapannya dengan perbuatannya. Alloh -ta'ala- berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ - كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? * (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan". (QS As-Shaf: 2-3)

[Makna Niat yang Ikhlas]
Pertanyaan:
Apa makna niat yang ikhlash?

Jawab:
Yaitu seorang hamba menujukan seluruh ucapannya dan perbuatannya yang lahir dan yang batin untuk mengharapkan wajah Alloh -ta'ala-. Alloh 'azza wa jalla- berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء
"Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, " (QS Al-Bayyinah: 5)

وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى - إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى
"dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Mahatinggi". (QS Al-Lail: 19-20)

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورً
"Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanyalah untuk mengharap wajah Alloh, kami tidak mengharapkan balasan dan tidak pula terima kasih" (QS Al-Insan: 9)

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيب
"Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat". (QS Asy-Syura: 20)
Dan ayat-ayat selainnya.

[Syariat yang Alloh -ta'ala- perintahkan agar hanya beragama dengannya]
Pertanyaan:
Apa itu syariat yang Alloh perintahkan agar hanya beragama dengannya?

Jawab:
Yaitu syariat yang lurus agama Ibrahim -'alaihissalam-. Alloh -tabaraka wa ta'ala-:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
"Sesungguhnya agama di sisi Alloh adalah Islam"(QS Ali Imron: 19)

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا
"Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa".

وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَه
"Dan orang yang membenci agama Ibrahim, hanyalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri" (QS Al-Baqarah: 130)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِين
"Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi". (QS Ali Imron: 85)

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّه
"Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan (diridhai) Allah? " (QS Asy-Syura: 21)

Dan ayat-ayat selainnya.

****

[شروط العبادة]
س: كم شروط العبادة؟
جـ: ثلاثة: الأول صدق العزيمة وهو شرط في وجودها، والثاني إخلاص النية، والثالث موافقة الشرع الذي أمر الله تعالى أن لا يدان إلا به، وهما شرطان في قبولها.

[صدق العزيمة]
س: ما هو صدق العزيمة؟
جـ: هو ترك التكاسل والتواني وبذل الجهد في أن يصدق قوله بفعله، قال الله تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ - كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ} [الصف: ٢ - ٣] .

[معنى إخلاص النية]
س: ما معنى إخلاص النية؟
جـ: هو أن يكون مراد العبد بجميع أقواله وأعماله الظاهرة والباطنة ابتغاء وجه الله تعالى، قال الله عز وجل: {وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ} [البينة: ٥] وقال تعالى: {وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى - إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى} [الليل: ١٩ - ٢٠] وقال تعالى: {إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا} [الإنسان: ٩] وقال تعالى: {مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ} [الشورى: ٢٠] وغيرها من الآيات.

[الشرع الذي أمر الله تعالى أن لا يدان إلا به]
س: ما هو الشرع الذي أمر الله تعالى أن لا يدان إلا به؟
جـ: هي الحنيفية ملة إبراهيم عليه السلام، قال تبارك وتعالى: {إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ} [آل عمران: ١٩] وقال تعالى: {أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا} [آل عمران: ٨٣] وقال تعالى: {وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ} [البقرة: ١٣٠] وقال تعالى: {وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [آل عمران: ٨٥]
 وقال تعالى: {أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ} [الشورى: ٢١] وغيرها من الآيات.

Senin, 23 Desember 2019

Taisir (56): Besarnya Keutamaan Sholat Berjamaah atas Sholat Sendirian

Hadits 56:

عَنْ أبى هريرة رضي الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسلّم: "صَلاةُ الرجل في الجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلاتِهِ في بَيْتهِ وَفي سُوقِهِ خَمْسَة (١) وَعِشرِينَ ضِعْفاً، وَذلِكَ أنَهُ إذا تَوَضَّأ فأحْسَنَ الوضوء. ثم خَرَجَ إِلى اْلمَسْجدِ لا يُخْرِجُهُ إِلاّ الصلاةُ. لم يَخْطُ خُطْوَةً إلاَّ رُفِعَتْ لَهُ دَرَجَةٌ، وَحُط عَنْهُ بِهَا خَطِيئَة، فَإذا صَلى لَمْ تَزَلِ اْلمَلائِكَةُ تُصَلِّى عَلَيْهِ مَا دَام في مُصلاّهُ: اللهُمَّ صَلّ عَلَيهِ، اللهم اغْفِرْ له، اللهُمَّ ارحَمْهُ، وَلا يَزَال في صَلاةٍ مَا انْتَظر الصلاةَ " متفق عليه واللفظ للبخاري.

"Dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu- berkata: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Sholatnya seseorang secara berjamaah dilipatgandakan (pahalanya) terhadap sholatnya di rumahnya atau di pasarnya sebanyak dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena jika dia berwudhu' dan membaguskan wudhu'nya lalu pergi ke masjid yang dia pergi hanya untuk tujuan sholat, maka tidaklah dia mengayunkan satu langkah kecuali akan diangkat satu derajadnya dan dihapus satu kesalahannya. Apabila dia sholat maka malaikat senantiasa bersholawat untuknya selama dia masih ada di tempat sholatnya: "Ya Alloh limpahkanlah sholawat untuknya. Ya Alloh ampunilah dia. Ya Alloh rahmatilah dia" senantiasa dia berada dalam sholat selama dia menunggu sholat (selanjutnya)" (HR Bukhari 647 dan Muslim 6490

Makna Global:
Hadits ini mengisyaratkan akan keutamaan sholat berjamaah atas sholat munfarid. Sesungguhnya barang siapa yang sholat berjamaah akan dilipatkan pahalanya atas orang yang sholat sendirian dengan dua puluh lima kali lipat. Dan bahwasannya sebab dilipatgandakannya ini adalah karena orang yang hendak sholat apabila dia berwudhu' lalu dia membaguskan wudhu'nya, kemudia dia keluar dari rumahnya dengan niat yang ikhlas, tidaklah dia keluar untuk suatu tujuan kecuali untuk sholat; sehingga tidaklah dia mengayunkan satu langkah kecuali diangkat satu derajadnya dan dihapus satu kesalahannya.

Apabila dia sholat di masjid bersama jamaah maka senantiasa malaikat bersholawat untuknya dan mendoakan rahmat untuknya selama dia berada di tempat sholatnya. Malaikat berkata dalam do'anya dan permohonan rahmatnya: Ya Alloh ampunilah dia, ya Alloh rahmatilah dia.

Di antara sebab-sebab dilipatgandakan (pahala) sholat jamaah atas sholat munfarid yaitu selama dia masih menunggu sholat bersama jamaah maka dia mendapat pahala dalam penantiannya seperti pahala orang yang sedang sholat, sebab dia tidaklah menahan diri (di masjid) kecuali untuk menunggu sholat jamaah.

Dan inilah faidah yang besar; dan tidaklah bermalas-malas untuk mendapatkannya kecuali orang yang terhalang dan merugi.

Ikhtilaf Ulama:
Para ulama berselisih pendapat dalam upaya mengkompromikan antara hadits 27 derajad dengan hadits 25 derajad namun semua upaya mereka ini berupa dugaan dan perkiraan saja.
Dan yang paling dekat kepada pendapat yang shahih adalah: jumlah yang sedikit tidaklah menafikkan jumlah yang banyak sebab yang dipahami dari bilangan bukanlah yang maksudkan menurut pendapat yang shohih dari para ulama ushul. Bilangan tersebut masuk dalam cakupannya.

Kesimpulan hadits:
1. Keutamaan sholat berjamaah di masjid dan dilipatgandakan pahalanya. Keutamaan jamaah diperoleh dengan jumlah jamaah berapapun asalkan sesuai dengan pengertian jamaah. Bahwasannya banyaknya jumlah (jamaah) menjadikan mendapatkan tambahan pahala. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunan dan Ahmad dari hadits Ubay bin Ka'ab secara marfu':"Sesungguhnya sholatnya seseorang bersama satu orang lebih banyak pahalanya dari pada sholat sendirian, dan sholatnya bersama dua orang lebih baik dari pada sholatnya bersama satu orang".
2. Kekurangan sholat munfarid(sendirian) dan sedikitnya keutamaan dibandingkan sholat berjamaah.
3. Bahwasannya berjamaah bukanlah syarat sholat, diperbolehkan sholat sendirian dengan sangat sedikitnya segi pahala.
4. Bahwasannya semua keutamaan berupa ditinggikannya derajad, dihapusnya kesalahan-kesalahan dan permohonan ampun malaikat diperoleh oleh karena bagusnya wudhu, keluarnya dari rumah ke masjid dengan niat sholat yang ikhlas. Maka pahala yang disebutkan tersebut didapatkan karena terkumpulnya amalan-amalan tersebut, seandainya ada bagian yang kurang maka tidaklah baginya mendapatkan pahala yang disebutkan tersebut.
5. Bahwasannya orang yang menunggu sholat pahalanya seperti orang yang mengerjakan sholat.

Jumat, 20 Desember 2019

Hadits 55: Bab Keutamaan dan Wajibnya Sholat Jamaah

Termasuk dari ketinggian syariat ini: bahwa syariat ini memerintahkan kebersamaan dalam kebanyakan ibadah-ibadahnya yang hal tersebut bentuk muktamar Islamiyah. Padanya berkumpul kaum muslimin untuk saling berinteraksi, saling mengenal dan saling bermusyawarah dalam urusan-urusan mereka, saling tolong menolong untuk menyelesaikan permasalahan mereka dan saling bertukar pikiran di dalamnya.

Dan kebersamaan semacam ini di dalamnya terdapat manfaat-manfaat yang besar dan faidah-faidah yang banyak yang tidak terhitung, berupa pengajaran bagi orang yang tidak tahu, menolong orang yang lemah, elembutkan hati, menampakkan kemulian Islam dan menegakkan syi'ar-syi'arnya.

Dan yang pertama dari muktamar ini adalah sholat jamaah di masjid yang merupakan muktamar kecil di antara para penduduk suatu kampung. Mereka berkumpul sehari semalam lima kali di masjid-masjid mereka, mereka saling berinteraksi, saling kenal, dan merealisasikan inti persatuan Islam yang agung.

Hadits 55:

عَن عَبْدِ الله بن عُمَرَ رَضِيَ الله عنهمَا: أنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: " صَلاةُ الْجَمَاعَةِ أفضَل مِنْ صَلاةِ الفذ بِسَبْع وعِشرِيِنَ دَرَجَةً "
Dari Abdullah bin Umar -radhiyallohu 'anhuma- bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Sholat berjamaah lebih utama 27 derajad dari pada sholat sendirian" (HR Bukhari 645 dan Muslim 650).

Penjelasan Lafadz.
1. Makna الفذ -dengan fa' dan dzal yang bertitik- maknanya Al-Fard(sendirian).
2. Makna  دَرَجَةً (derajad) Ibnu Atsir berkata: Tidak dikatakan bagian atau pun porsi atau pun yang semisal itu sebab beliau memaksudkannya pahala dari sisi ketinggian. Derajad-derajad kepada arah ketinggian.

Makna Global:
Hadits ini mengisyaratkan akan keutaman sholat bersama jamaah atas sholat munfarid; sebab sholat jamaah -yang di dalamnya terdapat faidah-faidah agung dan kemaslahatan-kemaslahatan yang banyak- mengungguli dan melebihi sholat munfarid dengan 27 derajad pahala, karena antara kedua amalan ini ada perbedaan yang besar dalam melaksanakan tujuan dan merealisasikan kemasahatan.
Dan tidak diragukan lagi barang siapa yang mengabaikan keuntungan yang besar ini maka dia telah rugi.

Kesimpulan hadits:
1. Didalamnya ada keutamaan sholat bersama jamaah.
2. Di dalamnya ada penjelasan akan sedikitnya pahala sholat sendirian bila dibandingkan sholat jamaah.
3. Perbedaan besar dari sisi pahala antara sholat jamaah dan sholat munfarid.
4. Sahnya sholat munfarid dan pembolehannya sebab lafadz 'afdholu' (lebih utama) pada hadis di atas menunjukkan bahwa kedua sholat ini masing-masing punya keutamaan. Namun yang satu lebih banyak dari pada yang lain. Ini bagi orang yang tidak punya udzur; ada pun orang yang punya udzur maka nash-nash menunjukkan pahalanya sempurna.

Rabu, 18 Desember 2019

Haramnya Berdo'a Kepada Selain Alloh

Perkataan Penulis -hafidzahullah-:
تحريم دعاءغير الله
Haramnya doa kepada selain Alloh.
****

Penjelasan:
Dan doa kepada selain Alloh mencakup doa kepada orang mati dari kalangan para Nabi, orang sholih dan selain mereka. Dan memcakup juga kepada Jin, doa kepada bintang, kepada patung dan berhala.
Do'a terbagi dua macam:
Pertama: Doa mas'alah.
Kedua: doa ibadah. Dan semua itu jika dipalingkan kepada Alloh syirik.

Penulis -hafidzahulloh ta'ala wa rahimah- dalil-dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah yang menjelaskan bahwasannya do'a adalah ibadah. Barang siapa yang memalingkan ibadah kepada selain Alloh maka sungguh dia telah berbuat syirik.

Dan kami akan mengurutkan dalil-dalil dengan metode pembagian yang mudah dibawah judulnya untuk mempermudah menghafalnya dan memahaminya.

(1). Do'a kepada Alloh adalah ibadah. Alloh -ta'ala- berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

"Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS Ghafir: 60)

(2). Haramnya berdo'a kepada selain Alloh. Alloh -ta'ala- berfirman:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah" (QS Al-Jinn: 18)
وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ

"Dan jangan (pula) engkau sembah tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia". (QS Al-Qasas: 88)

فَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتَكُونَ مِنَ الْمُعَذَّبِينَ

"Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) tuhan selain Allah, nanti kamu termasuk orang-orang yang diazab".(QS Ash-Shu'ara: 213)

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

"Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung".(QS Al-Mu'minun: 117)

(3). Siapa yang berdo'a kepada selain Alloh maka sesungguhnya sesembahan itu tidak bisa memberi manfaat dan mudhorot. Alloh ta'ala berfirman:
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

"Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah, sebab jika engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zhalim.”(QS Yunus: 106)

(4). Barang siapa yang berdoa kepada selain Alloh, maka sesembahan itu tidak dapat mengabulkan untuknya. Alloh -ta'ala- berfirman:
لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ ۖ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ ۚ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

"Hanya kepada Allah doa yang benar. Berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat mengabulkan apa pun bagi mereka, tidak ubahnya seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air agar (air) sampai ke mulutnya. Padahal air itu tidak akan sampai ke mulutnya. Dan doa orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka".(QS Ar-Ra'd: 14)

(5). Apa yang mereka sembah selain Alloh maka itu adalah batil. Alloh -ta'ala- berfirman:
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

"Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil, dan sungguh Allah, Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar".(QS. Al-Hajj: 62)

(6). Penjelasan akan lemah dan ketidakberdayaan apa yang disembah selain Alloh. Alloh -ta'ala- berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ * مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

"Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah. Mereka tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya.  " (QS. Al-Hajj: 73-74)

(7). Bahwasannya orang yang menyeru selain Alloh maka dia hanyalah menyeru sesuatu yang bukan apa-apa, dan menggantungkan harapannya kepada sesuatu yang tidak ada. Alloh -ta'ala- berfirman:
مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ * إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui. Sungguh, Allah mengetahui apa saja yang mereka sembah selain Dia. Dan Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana".(QS Al-Ankabut: 41 - 42)

(8). Bahwa apa yang mereka sembah selain Alloh tidak mampu berbuat apa pun, dan bahwasannya kebaikan seluuhnya ada di tangan Alloh. Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ ۖ

"Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah hanyalah berhala-berhala, dan kamu membuat kebohongan. Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki dari Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya". (QS Al-Ankabut: 17)

Dan firmanNya:
ۚ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ

"Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari".(QS Fatir: 13)

(9).  Penjelasan bahwa apa yang mereka seru selain Alloh todaklah mendengar orang yang menyerunya. Dan seandainya mendengarnya tidaklah mampu mengabulkan. Dan pad hari kiamat mengingkari kesyirikan orang yang menyerunya. Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

"Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu, dan sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh (Allah) Yang Mahateliti". (QS Fatir: 14).

(10). Penjelasan bahwa apa yang disembah selain Alloh tidak mampu menghilangkan kemudhorotan dan tidak mampu menahan rahmat. Alloh -ta'ala- berfirman:
ۚ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ ۚ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

"Katakanlah, “Kalau begitu tahukah kamu tentang apa yang kamu sembah selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan bencana kepadaku, apakah mereka mampu menghilangkan bencana itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat mencegah rahmat-Nya?” Katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nyalah orang-orang yang bertawakal berserah diri.” (QS Az-Zumar: 38)

(11). Penjelasan bahwa apa yang disembah selain Alloh tidak mampu menciptakan sesuatu pun sedangkan mereka justru diciptakan. Alloh ta'ala berfirman:
قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ۖ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَٰذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

"Katakanlah (wahai Rasululloh), “Terangkanlah (kepadaku) tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepadaku apa yang telah mereka ciptakan dari bumi atau adakah peran serta mereka dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepadaku kitab yang sebelum (Al-Qur'an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu orang yang benar.”(QS. Al-Ahqaf: 4)

وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ * أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ ۖ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

"Dan (berhala-berhala) yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala itu) benda mati, tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui kapankah (penyembahnya) dibangkitkan".(QS An-Nahl:20 - 21)

(12). Penjelasan bahwa orang yang menyembah kepada selain Alloh maka dia adalah manusia yang paling sesat. Alloh -ta'ala- berfirman:
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ * وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ

"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang menyembah selain Allah (sembahan) yang tidak dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat), sesembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan yang mereka lakukan kepadanya". (QS Al-Ahqaf:5 - 6)

(13). Penjelasan bahwa Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- tidaklah mampu memberikan manfaat dan mudhorot kepada orang lain. Alloh -ta'ala- berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا *
قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا
"Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.” Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu.”(QS Al-Jinn: 20-21)

(14). Penjelasan bahwa siapa yang disembah selain Alloh dari kalangan malaikat dan manusia adalah hamba Alloh. Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ ۖ فَادْعُوهُمْ فَلْيَسْتَجِيبُوا لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

"Sesungguhnya mereka (berhala-berhala) yang kamu seru selain Allah adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah mereka lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu orang yang benar".(QS Al-A'raf: 194)

(15). Penjelasan bahwa orang yang mereka sembah selain Alloh dari kalangan malaikat dan orang-orang shalih adalah para hamba Alloh dan mencari jalan kepada Rabb-nya. Alloh -ta'ala- berfirman:
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sungguh, azab Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti.”(QS Al-Isra': 57)

(16). Penjelasan bahwa do'a adalah ibadah. Dari Nu'man bin Basyir -radhiyallohu 'anhuma- berkata: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Do'a adalah ibadah". Kemudian beliau membaca:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

"Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”(QS Ghafir: 60)

Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam ash-sholah (2/76, 77), At-Tirmidzi dalam tiga tempat, dan Ibn
Majah dalam Ad-dua'.

(17). Dari Abdullah bin Abbas -radhitallohu 'anhuma- bahwa beliau suatu hari membonceng (unta ) di belakang Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-, lalu beliau berkatanya:

: "يا غلام إني أعلمك كلمات: احفظ الله يحفظك، احفظ الله تجده تجاهك، إذا سألت فاسأل الله، وإذا استعنت فاستعن بالله، واعلم أنّ الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك، وإن اجتمعوا على أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك، رفعت الأقلام وجفت الصحف

"Wahai Ananda, aku akan mengajarimu beberapa nasehat: jagalah Alloh, niscaya Alloh akan menjagamu. Jagalah Alloh niscaya engkau akan mendapatiNya dihadapanmu. Apabila engkau meminta, memintalah kepada Alloh. Jika engakau meminta, maka memintalah pada Alloh, jika engkau minta tolong minta tolonglah pada Alloh. Ketahuilah, seandainya seluruh manusia bersatu untuk memberikan suatu manfaat untukmu, maka tidak akan mampu melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkannya untukmu. Dan seandainya seluruh manusia bersatu untuk memudharatkanmu, niscaya mereka tidak akan memudharatkamu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkannya untukmu".

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulohu ta'ala- hal 88-94.

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)