“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Tampilkan postingan dengan label Fathul majid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fathul majid. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Mei 2026

Fathul Majid 352-353: Bertawakkal Kepada Allah (bag 1)

Allah ta'ala berfirman:
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
"Dan hendaklah kepada Allah saja kalian bertawakal jika kalian nenar-benar orang yang beriman" (Al Maidah: 23)

Abu Sa'adāt berkata:
Dikatakan 'tawakkala bil amr' jika dia menjamin pelaksanaannya. Dan  'Wakaltu amrī ilā Fulan' jika aku bersandar kepadanya (dalam suatu urusan). Dan 'wakkala fulanun fulanan' jika dia menyerahkan urusannya kepadanya karena percaya akan kemampuannya untuk mencukupi; atau karena dia tidak mampu melaksanakan urusannya sendiri. -selesai-.

Penulis -rahimahullah- membawakan judul dengan ayat ini sebagai penjelasan bahwa tawakkal adalah fardhu, wajib mengikhlaskannya untuk Allah ta'ala. Karena sesungguhnya didahulukannya ma'mul (yaitu pada lafadz 'ala Allah) mengandung makna hashr(pembatasan). Yakni maknanya 'Dan hendaklah hanya kepada Allah saja kalian bertawakkal bukan kepada selainnya'.

Tawakkal ini termasuk jenis ibadah yang paling mencakup dan paling agung karena akan lahir darinya amal-amal shalih.
Jika seseorang bersandar kepada Allah dalam setiap urusannya baik urusan Diniyyah (Agama) maupun urusan dunia, tidak bersandar kepada apa pun selain Allah maka telah benar keikhlasannya dan mu'amalahnya kepada Allah ta'ala. Hal itu termasuk kedudukan yang paling tinggi dari :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
"Hanya kepadaMu saja kami menyembah dan hanya kepadaMu saja kami memohon pertolongan " (Al Fatihah: 5)
Sehingga tidaklah kesempurnaan tauhid yang tiga itu bisa diraih kecuali dengan kesempurnaan tawakkal kepada Allah, sebagaimana dalam ayat ini. Dan juga sebagaimana dalam firman Allah ta'ala:
إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ
"Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah maka hendaklah kalian hanya bertawakkal kepadaNya jika kalian orang yang berserah diri" (Yunus: 84)
Dan firmanNya:
رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلاً
"(Dialah) Tuhan timur dan barat, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, maka jadikanlah Dia sebagai pelindung" (QS Al Muzzamil: 9)
Ayat-ayat yang memerintahkan hal ini sangatlah banyak. Imam Ahmad -rahimahullah- berkata: "Tawakkal adalah amalan hati".
Ibnul Qayyim berkata tentang makna ayat yang dijadikan judul dalam bab ini:
"Maka Allah jadikan tawakkal kepadanya sebagai syarat bagi keimanan. Menunjukkan ketiadaan iman ketika tawakkal ini tidak ada. Dan dalam ayat yang lain:
وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ
"Dan Musa berkata, “Wahai kaumku! Apabila kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya, jika kamu benar-benar orang muslim (berserah diri).” (QS Yunus: 84)
Allah jadikan bukti akan benarnya keislaman dengan tawakkal. Ketika kuat keimanan seorang hamba maka kuat pula tawakkalnya. Jika lemah imannya maka lemah pula tawakkalnya. Jika tawakkalnya lemah maka itu pastilah menjadi tanda lemahnya iman. Allah ta'ala menggandengkan antara tawakkal dan ibadah, antara tawakkal dan iman, antara tawakkal dan taqwa, antara tawakkal dan Islam, dan antara tawakkal dan hidayah.
Maka menjadi jelas bahwa tawakkal pokok dari seluruh tingkatan-tingkatan iman dan ihsan dan seluruh amalan Islam; dan kedudukannya seperti badan terhadap kepala. Sebagaimana kepala tidak akan tegak tanpa badan, maka demikian pula iman, tingkatan-tingkatannya, dan amal-amalnya tidak akan tegak kecuali dengan penyangga tawakkal.
Syaikhul Islam -rahimahullah- berkata: "Dan tidaklah seseorang yang berharap kepada makhluk atau bertawakkal kepadanya kecuali rugilah prasangkanya, sesungguhnya dia musyrik.
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ
"Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh" (QS Al Hajj: 31)

Pensyarah kitab berkata:
Aku katakan: Namun tawakkal kepada Allah terbagi dua:
Pertama: Tawakkal dalam perkara-perkara yang hanya mampu dilakukan oleh Allah, seperti orang-orang yang bertawakkal kepada orang yang telah meninggal, Thagut-thaghut dalam mengharapkan keinginan yang hendak dicapainya berupa pertolongan, penjagaan, rezeki, atau pun syafaat. Maka ini syirik akbar.

Kedua: Bertawakkal dalam sebab-sebab yang dzahir (nampak) seperti bertawakkal kepada penguasa atau sultan dalam perkara yang Allah mampukan dia untuk melakukannya dalam masalah rezeki, menolak gangguan dan yang semisalnya. Maka ini syirik ashghar (kecil).

Ada pun tawakkal yang diperbolehkan yaitu seseorang menyerahkan urusan kepada orang lain untuk menggantikannya dalam perkara yang dia tidak mampu melukannya. Namun dia tidak bersandar kepadanya dalam memperoleh hasil dalam perkara yang dipasrahkan. Bahkan hendaknya dia tetap bersandar kepada Allah untuk mendapatkan kemudahan urusan yang  dia cari sendiri atau melalui wakilnya.
Dan hal itu berupa sebab-sebab yang memang boleh untuk dilakukan dan dia tidak bersandar kepadanya tetapi dia tetap bersandarnya hanya kepada  Dzat yang menjadikan sebab dan akibatnya.

https://shamela.ws/book/2386/370

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)