“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Senin, 07 November 2022

Syarah Ushul Tsalatsah: Sabar Dalam Berdakwah

Syarah Ushul Tsalatsah: Sabar Dalam Berdakwah

Syarah Ushul Tsalaatsah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah hal 7-8.

Perkataan Penulis:
Keempat: "Bersabar menghadapi rintangan dalam mendakwahkannya".

PENJELASAN:
Perkataan penulis: "Sabar menghadapi rintangan dalam mendakwahkannya". 
Sabar yaitu menahan diri untuk tetap mentaati Allah, mengakang jiwa untuk tidak memaksiatiNya, serta tidak membenci ketetapan-ketetapan takdirNya. Sehingga dia bisa mengontrol dirinya untuk tidak membenci, menggerutu, dan jemu. Dia senantiasa bersemangat dalam mendakwahkan Islam meski mendapat rintangan, karena menyakiti para penyeru kebaikan adalah hal biasa dilakukan manusia kecuali mereka yang diberi petunjuk oleh Allah. Allah ta'ala berfirman kepada nabiNya, Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam:
وَلَقَدۡ كُذِّبَتۡ رُسُلٞ مِّن قَبۡلِكَ فَصَبَرُواْ عَلَىٰ مَا كُذِّبُواْ وَأُوذُواْ حَتَّىٰٓ أَتَىٰهُمۡ نَصۡرُنَاۚ 

"Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka". (QS Al-An'am: 34)

Semakin keras gangguan yang mereka terima, semakin dekat pula pertolongan Allah. Pertolongan itu tidaklah hanya diberikan kepada seseorang ketika dia masih hidup sehingga bisa melihat pengaruh dakwahnya terwujud. Bahkan pertolongan itu tetap berlanjut hingga setelah wafatnya dengan digerakkannya hati-hati manusia untuk menerima dakwahnya, mengikutinya, dan berpegang teguh dengannya. Ini juga terhitung sebagai pertolongan kepada da'i tersebut meskipun dia telah wafat. Para juru dakwah hendaklah sabar dan tetap konsisten dengan dakwahnya. Bersabar mengamalkan agama Allah yang ia dakwahkan. Bersabar menghadapi rintangan dakwah. Bersabar menghadapi gangguan yang menimpa dirinya. Lihatlah para rasul - semoga shalawat dan salam tercurah untuk mereka - mereka disakiti dengan lisan dan perbuatan. Allah ta'ala berfirman:
كَذَٰلِكَ مَآ أَتَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُواْ سَاحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٌ

"Demikianlah setiap kali seorang rasul yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, mereka (kaumnya) pasti mengatakan, "Dia itu pesihir atau orang gila." (QS Adz-Dzariyat: 52)
Allah ta'ala berfirman: 
وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا مِّنَ ٱلۡمُجۡرِمِينَۗ 

"Begitulah, bagi setiap nabi, telah Kami adakan musuh dari orang-orang yang berdosa." (QS Al-Furqan: 31)

Namun para da'i hendaklah menghadapi semua itu dengan kesabaran. Perhatikanlah firman Allah Azza wa jalla  kepada rasulNya Shallallahu Alaihi Wasallam.
إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur`ān kepadamu (Muhammad) secara berangsur-angsur". (QS Al-Insan: 23)

Ayat berikutnya yang ditunggu semestinya berbunyi 'bersyukurlah dengan nikmat dari Tuhanmu', namun Allah Azza wa Jalla berfirman:
فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ 

Maka bersabarlah untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu" (QS Al-Insan: 24)

Di sini terdapat isyarat bahwa setiap orang yang mengamalkan Al Quran ini pastilah akan mengalami gangguan yang membutuhkan kesabaran. Lihatlah keadaan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ketika kaumnya memukuli dan berbuat keji kepada beliau. Seraya mengusap darah di wajahnya beliau berdoa:
اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون
"Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui"1

Para da'i itu hendaklah bersabar dan mengharap pahala dari Allah.
Kesabaran itu ada tiga macam:
1. Sabar dalam mentaati Allah.
2. Sabar dalam meninggalkan larangan Allah.
3. Sabar dalam menjalani ketentuan takdir Allah, baik yang Allah takdirkan dengan tanpa campur tangan manusia atau pun yang Dia takdirkan dengan campur tangan manusia, berupa gangguan dan penentangan. Dalilnya adalah firman Allah ta'ala: 

 ( وَٱلۡعَصۡرِ ۝  إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ ۝  إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ)

"Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali, orang-orang yang beriman dan beramal shaleh yang saling menasehati untuk menetapi kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran". (QS  Al Ashr: 1 - 3 )

Note:
1. HR Ibnu Hibban dalam shahihnya 973, At Tabrany dalam Al Kabir 6/120. Silakan dilihat di Shahih Bukhari 3477 dan Muslim 1792.

Minggu, 06 November 2022

Syarah Ushul Tsalatsah: Beramal dan Berdakwah


Syarah Ushul Tsalaatsah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh hal 6-7.

Perkataan Penulis rahimahulloh: 
Kedua: mengamalkannya.
Ketiga: mendakwahkannya.
==================

Penjelasan:
Perkataan penulis "mengamalkannya", yaitu mengamalkan konsekuensi dari makrifah (mengenal) tiga hal di atas ini dengan beriman kepada Allah, merealisasikan ketaatan kepadaNya, melaksanakan perintahNya, dan menjauhi larangan-larangannya; baik ibadah khashah (khusus, manfaatnya hanya untuk pelakunya) maupun ibadah muta'adiyah (ibadah yang manfaatnya juga untuk orang lain). Ibadah khashah misalnya salat, puasa, dan haji. Ibadah muta'adiyah misalnya Amar ma'ruf nahi munkar, jihad, dan yang semisal itu. Amal pada hakekatnya adalah buah ilmu. Orang yang beramal tanpa ilmu, dia serupa dengan Nasrani. Sedangkan orang yang berilmu namun tidak beramal maka dia mirip dengan Yahudi.

Ucapan penulis rahimahulloh: "mendakwahkannya", yaitu mendakwahkan syariat Allah ta'ala yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melalui tiga atau empat tahapan sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firmanNya:

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ 
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmahdan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik." (QS An-Nahl: 125)

Dan yang keempat firmanNya:
۞وَلَا تُجَٰدِلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ إِلَّا بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ إِلَّا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنۡهُمۡۖ 

"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka" (QS Al-Ankabut: 46)

Dakwah ini haruslah berdasarkan ilmu akan syariat Allah agar dakwahnya tegak di atas ilmu dan bashirah (hujah yang jelas). Allah berfirman:
 قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

Katakanlah (wahai Rasulullah), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.”(QS Yusuf: 108)

Bashirah akan terwujud dalam dakwah jika seorang da'i memahami hukum syar'i, metode dakwah, dan kondisi obyek dakwah. Lingkup dakwah sangatlah luas diantaranya dakwah dengan pidato dan memberikan ceramah, dengan makalah, halaqah ilmu,  menulis dan menyebarkan agama melalui karya tulis. Di antaranya juga dakwah pada kalangan tertentu, misalnya ketika seseorang berada di suatu majelis dakwah. Ini adalah lingkup-lingkup dakwah. Namun hendaknya dakwah tersebut tidak membosankan dan memberatkan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara seorang dai memaparkan pembahasan-pembahasan ilmiah di hadapan para jamaah kemudian memulai diskusi. Sebagaimana diketahui bahwa diskusi dan tanya jawab memiliki peran besar dalam memahami dan memahamkan apa yang diturunkan Allah kepada rasulnya. Terkadang cara seperti ini lebih efektif daripada dalam bentuk khutbah dan ceramah sebagaimana yang diketahui. 
Dakwah adalah tugas para rasul Alaihis shalatu  Wassalam dan jalannya orang orang yang mengikuti mereka dengan baik. Tatkala seseorang telah mengenal Dzat yang di ibadahnya, nabinya, dan agamanya, serta mengetahui bahwa Allah lah yang telah memberinya taufik kepada hal tersebut maka hendaknya dia berupaya menyelamatkan saudara-saudaranya dengan mendakwahinya dan memberi kebaikan kepada mereka. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda kepada Ani bin Abi Thalib radhiyallahu anhu:
اﻧﻔﺬ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻠﻚ ﺣﺘﻰ ﺗﻨﺰﻝ ﺑﺴﺎﺣﺘﻬﻢ ﺛﻢ اﺩﻋﻬﻢ ﺇﻟﻰ اﻹﺳﻼﻡ، ﻭﺃﺧﺒﺮﻫﻢ ﺑﻤﺎ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻣﻦ ﺣﻖ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻴﻪ، ﻓﻮاﻟﻠﻪ ﻷﻥ ﻳﻬﺪﻱ اﻟﻠﻪ ﺑﻚ ﺭﺟﻼً ﻭاﺣﺪاً ﺧﻴﺮٌ ﻟﻚ ﻣﻦ ﺣُﻤْﺮ اﻟﻨَّﻌﻢ
"Bergeraklah engkau dengan tenang hingga sampai di wilayah mereka. Kemudian serulah mereka untuk memeluk Islam dan sampaikan hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, seandainya Allah memberi Hidayah kepada seorang saja melalui dirimu itu lebih baik dari pada unta merah" (HR Bukhari 4210 dan Muslim 2406) 
Hadits ini disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim. 
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda dalam riwayat Muslim:
من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجور من تبعهم شيئا، و من دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا
"Orang yang mengajak kepada petunjuk, dia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan orang yang mengajak kepada kesesatan maka dia mendapat dosa seperti dosa orang orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun" (HR muslim 2674) 
Dalam riwayat Muslim lainnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
من دل على خير فله مثل أجر فاعله
"Orang yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia mendapat pahala seperti orang yang mengamalkannya" (HR muslim 1893).

 📚📚📚📒📚📚📚

Senin, 31 Oktober 2022

FATHUL MAJID 185-186: BERDO'ALAH HANYA KEPADA ALLAH


Penulis -rahimahullah- berkata:
Firman Allah ta'ala:
أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُكُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ
"Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?" (QS An Naml: 62)

PENJELASAN:
Allah ta'ala menjelaskan bahwa orang-orang musyrik dari kalangan Arab maupun selainnya mengetahui bahwa tidak ada yang bisa mengabulkan doa orang yang sedang dalam kesulitan dan menghilangkan kesusahan kecuali hanya Allah saja. Allah Subhanahu wa taala menyebutkan hal ini untuk membantah mereka karena menjadikan penolong selainNya. Oleh karenanya Allah berfirman: "Apakah di samping Allah ada tuhan yang lain?" Yaitu yang mampu melakukan hal itu.

Oleh karena tuhan-tuhan mereka tidak mampu mengabulkan doa  ketika mereka dalam kondisi terdesak maka tidak layak menjadikannya sebagai sekutu bagi Allah yang mampu mengabulkan doa orang orang yang mengalami kesulitan ketika berdoa kepadanya dan menghilangkan kesusahan. Ini penafsiran ayat yang paling shahih sebagaimana ayat-ayat sebelumnya:

أَمَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَنۢبَتۡنَا بِهِۦ حَدَآئِقَ ذَاتَ بَهۡجَةٖ مَّا كَانَ لَكُمۡ أَن تُنۢبِتُواْ شَجَرَهَآۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ بَلۡ هُمۡ قَوۡمٞ يَعۡدِلُونَ # أَمَّن جَعَلَ ٱلۡأَرۡضَ قَرَارٗا وَجَعَلَ خِلَٰلَهَآ أَنۡهَٰرٗا وَجَعَلَ لَهَا رَوَٰسِيَ وَجَعَلَ بَيۡنَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ حَاجِزًاۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ

Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untukmu, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah? Kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya. Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). Bukankah Dia (Allah) yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut?Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS An Naml: 60-61)

Dan ayat setelahnya hingga firmanNya:
أَمَّن يَهۡدِيكُمۡ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ وَمَن يُرۡسِلُ ٱلرِّيَٰحَ بُشۡرَۢا بَيۡنَ يَدَيۡ رَحۡمَتِهِۦٓۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ تَعَٰلَى ٱللَّهُ عَمَّا يُشۡرِكُونَ # أَمَّن يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَمَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ قُلۡ هَاتُواْ بُرۡهَٰنَكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ


Bukankah Dia (Allah) yang memberi petunjuk kepada kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Mahatinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan. Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan (makhluk) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (lagi) dan yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Katakanlah, “Kemukakanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang yang benar.” (QS An Naml: 63-64)

Renungkanlah ayat-ayat ini sehingga jelas bagimu bahwa Allah ta'ala membantah orang-orang musyrik dengan sesuatu yang mereka akui terhadap apa yang mereka ingkari yaitu beribadah hanya kepada Allah saja. Sebagaimana dalam surat Al Fatihah:
إِیَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُ
"Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan" (Al Fatihah: 5)

Abu Ja'far bin Jarir berkata:  
"FirmanNya:
أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُكُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ

"Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat". (QS An Naml: 62)

Allah ta'ala mengatakan: "Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang kalian jadikan sekutu bagi Allah, ataukah Allah yang mampu mengabulkan doa orang yang sedang dalam kesulitan ketika dia berdoa kepadaNya dan mampu menghilangkan kesusahan yang datang?
FirmanNya:
وَيَجۡعَلُكُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ
"menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi"
Yaitu menjadikan para penerus di muka bumi setelah orang-orang di antara kalian meninggal. Mereka hidup menggantikannya.

FirmanNya:
أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ
"Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?" Yaitu apakah ada tuhan-tuhan lain yang mampu melakukan demikian untuk kalian dan memberikan nikmat-nikmat yang demikian ini pada kalian?

FirmanNya:
قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ
"Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat" yaitu kalian ingatnya cuma sedikit terhadap keagungan dan pertolonganNya. Kalian mengingat dan mengambil ibrah terhadap hujah-hujah Allah cuma sedikit saja. Oleh karenanya kalian mensekutukan Allah dengan selainNya dalam peribadahan.

Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid oleh Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahulloh 
Terbitan Muassasah Zaad Hal 185 - 186.   

Rabu, 26 Oktober 2022

Syarah Ushul Tsalatsah: Mengenal Allah, NabiNya dan Agama Islam

Syarah Ushul Tsalaatsah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh hal 4-5.

Pertama: Ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal NabiNya dan mengenal Islam beserta dalil dalilnya.

Penjelasan:
Perkataan penulis "Ma'rifatullah (mengenal Allah)" yaitu mengenal Allah azza wa jalla dengan hati. Ma'rifah yang berkonsekwensi menerima syariatNya, tunduk dan patuh kepadaNya, berhukum dengan syariat yang dibawa oleh RasulNya -Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam- . Seorang hamba mengenal TuhanNya dengan merenungkan ayat-ayat syar'iyyah yang terdapat dalam kitab Allah azza wa jalla dan Sunnah rasulNya -shallallahu'alaihi wasallam- . Dan juga dengan memperhatikan ayat-ayat kauniyah yaitu makhluk-makhlukaNya. Tatkala seseorang mengamati ayat-ayat ini maka bertambahlah pengetahuannya dalam mengenal pencipta dan sesembahanNya. Allah -azza wa jalla- berfirman:
وَفِی ٱلۡأَرۡضِ ءَایَـٰتࣱ لِّلۡمُوقِنِینَ  وَفِیۤ أَنفُسِكُمۡۚ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ
"Dan di bumi terdapat tanda-tanda bagi orang yang meyakini. Dan juga dalam dirimu. Apakah kalian tidak melihatnya" (QS Adz Dzariyat: 20-21)

Perkataan penulis: "Ma'rifatu Nabiyyihi (mengenal NabiNya), yaitu mengenal utusanNya, Muhammad shalallahu alaihi wa sallam.  Ma'rifah yang berkonsekwensi menerima petunjuk dan agama yang benar yang beliau bawa, membenarkan segala sesuatu yang beliau kabarkan, mentaati perintahnya, menjauhi larangannya, berhukum dengan syariatnya dan ridha dengan ketetapannya.  Allah ta'ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا یُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ یُحَكِّمُوكَ فِیمَا شَجَرَ بَیۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا یَجِدُوا۟ فِیۤ أَنفُسِهِمۡ حَرَجࣰا مِّمَّا قَضَیۡتَ وَیُسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمࣰا

"Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya". (QS An Nisa: 65)

إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ إِذَا دُعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِیَحۡكُمَ بَیۡنَهُمۡ أَن یَقُولُوا۟ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

"Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka,mereka berkata, "Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung" (QS An Nur: 51)

فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا

"Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur`ān) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya". (QS An-Nisa': 59)

Allah berfirman,
 فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang keluar (secara) sembunyi-sembunyi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih". (QS An-Nur: 63)

Imam Ahmad rahimahulloh berkata:  "Tahukah kamu apa fitnahnya? Fitnahnya ada kesyirikan. Bisa jadi tatkala dia menolak sebagian ucapan beliau  berakibat ada penyimpangan dalam hatinya sehingga dia binasa"

Perkataan penulis:
"Mengenal agama Islam"
Islam dengan makna umum yaitu beribadah kepada Allah dengan syariatNya sejak Dia mengutus para Rasul hingga hari kiamat sebagaimana yang Allah 'azza wa jalla sebutkan dalam banyak ayat yang menunjukkan bahwa syariat terdahulu semuanya adalah Islam. Allah ta'ala  berfirman tentang Ibrahim:
رَبَّنَا وَٱجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَيۡنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةٗ مُّسۡلِمَةٗ لَّكَ 

"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu"(QS Al-Baqarah:128)

Ada pun Islam bermakna khusus sejak diutusnya Nabi shollallohu alaihi wa sallam hanya dikhususkan dengan syariat yang beliau bawa. Sebab syariat yang dibawa Nabi shollallohu alaihi wa sallam menggantikan seluruh syariat terdahulu.  
Sehingga orang yang mengikuti beliau adalah muslim dan yang menyelisihi beliau bukan muslim.  Pengikut para rasul adalah kaum muslim di zamannya. Oleh karenanya Yahudi adalah muslim pada zaman Musa Shallallahu Alaihi Wasallam. Nasrani adalah muslim pada masa Isa Shallallahu Alaihi Wasallam. Adapun semenjak diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mereka  mengingkari beliau sehingga bukan muslim. Agama Islam ini adalah agama yang diterima Allah dan bermanfaat bagi penganutnya. Allah berfirman:

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ 

"Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam". (QS Ali 'Imran: 19)
FirmanNya: 
وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

"Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi". (QS Ali Imron: 85)

Islam di sini adalah Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Agama inilah yang Allah anugerahkan kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan umatnya. Allah ta'ala:
 ٱلۡیَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِینَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَیۡكُمۡ نِعۡمَتِی وَرَضِیتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِینࣰاۚ 
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu" (QS Al Maidah: 3)

Ucapan penulis:
"Dengan dalil-dalilnya"
Lafadz الأدلة bentuk jamak dari دليل  
yaitu yang memberi petunjuk kepada yang dibutuhkan. Dalil-dalil untuk mengetahui hal tersebut di atas adalah dalil syam'iyah dan akal. Adapun dalil Syamsiah yaitu yang ditetapkan dengan wahyu yaitu Alquran dan as-sunnah. Dalil akal yaitu yang ditetapkan melalui penelitian dan pengamatan. Allah Azza wa Jalla banyak menyinggung hal ini dalam kitabnya di banyak ayat. Allah berfirman (misalnya): "Di antara tanda-tanda kekuasaanNya demikian dan demikian". Demikian pula banyak dalil akal yang menunjukkan kepada Allah ta'ala. 

Adapun mengenal Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam melalui dalil sam'iyyah misalnya dalam firman Allah ta'ala:
مُّحَمَّدٞ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ 

"Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia..." (QS Al-Fath: 29)

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ 

"Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul,sebelumnya telah berlalu beberapa rasul". (QS Ali 'Imran: 144)

Adapun dalil akal dengan mengamati dan memperhatikan tanda-tanda yang demikian jelas yang beliau bawa yang paling Agung adalah kitab Allah Azza wa Jalla Alquran yang berisikan berita-berita yang benar lagi bermanfaat dan hukum-hukum yang mengandung kemaslahatan dan keadilan. Demikian pula hal-hal luar biasa yang terjadi melalui beliau dan berita-berita gaib yang beliau sampaikan yang tidak mungkin diketahui kalau bukan lewat wahyu yang hal itu telah terbukti menjadi nyata.

Syarah Ushul Tsalatsah: Macam macam Pengetahuan


Syarah Ushul Tsalaatsah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh hal 4.

Perkataan penulis:
اعلم - رحمك الله - يجب علينا تعلم أربع مسائل
"Ketahuilah - semoga Allah merahmatimu - , wajib bagi kita untuk mempelajari empat hal".

Penjelasan perkataan penulis. 
(اعلم)
"Ketahuilah".
Ilmu yaitu pengetahuan tentang sesuatu sesuai dengan kenyataannya yang pasti. 
Pengetahuan tentang sesuatu ini ada enam tingkatan: 
Pertama: Ilmu, yaitu pengetahuan tentang sesuatu sesuai dengan kenyataannya yang pasti. 
Kedua: Al Jahlul Basit, yaitu sama sekali tidak mengetahui. 
Ketiga: Al Jahlul Murakkab, yaitu pengetahuan tentang sesuatu yang berbeda dengan kenyataan.
Keempat: Al Wahmu, yaitu pengetahuan tentang sesuatu yang berlawanan dengan yang rajih (yang diunggulkan).
Kelima: Asy Syakk, yaitu pengetahuan tentang sesuatu dengan kemungkinan sama antara yang rajih dan marjuh. 
Keenam: Adz Dzaan,  yaitu pengetahuan tentang sesuatu yang berlawanan dengan yang marjuh.

Ilmu ada dua macam: Dhoruri (tanpa perlu pembuktian) dan Nadzori (dengan pembuktian).
Dharuri yaitu pengetahuan tentang sesuatu secara pasti tanpa perlu penelitian dan pembuktian. Misalnya pengetahuan bahwa api itu panas.
Kedua Nadzari yaitu ilmu yang butuh penelitian dan pembuktian. Contohnya, ilmu tentang wajibnya niat ketika wudhu.

Perkataan penulis:
رحمك الله
Semoga Allah mencurahkan rahmatNya kepadamu sehingga engkau memperoleh apa yang kau inginkan dan selamat dari perkara yang membahayakanmu. Sehingga maknanya, semoga Allah mengampuni dosa dosamu yang telah lalu dan menolongmu serta menjagamu  dari perbuatan dosa di masa yang akan datang.
Ini makna Rahmat jika bersendirian namun jika disandingkan dengan maghfirah (ampunan) maka maghfirah adalah ampunan terhadap dosa-dosa yang telah lalu dan rahmat adalah bimbingan kepada kebaikan dan selamat dari perbuatan dosa di masa yang akan datang. Doa penulis ini -semoga Allah ta'ala merahmatinya- menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya kepada pembaca serta mengharapkan kebaikan untuknya.

Ucapan beliau "Empat permasalahan".
Ini adalah permasalahan yang disebutkan penulis  -rahimahullah- yang mencakup urusan agama secara keseluruhan yang layak mendapat perhatian karena besar manfaatnya.

Syarah Ushul Tsalatsah: Penjelasan Basmalah

Syarah Ushul Tsalaatsah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh hal 3.
بِسْم الله الرحمن الرحيم
Penjelasan:
Penulis -rahimahullah- memulai kitabnya dengan basmallah untuk meneladani Al Qur'an yang diawali dengan basmallah dan mengamalkan hadits:

كلُّ أمر ذي بال لا يبدا فيه بسم الله فهو أبتر

"Setiap urusan yang memiliki kepentingan yang tidak diawali dengan 'bismillah' (menyebut nama Allah) maka urusan itu terputus"1

Dan juga meneladani Rasulullah shalallahu alahi wa sallam yang memulai tulisan-tulisannya dengan basmallah. 
Jar dan Majrur terkait dengan fi'il(kata kerja) yang ditiadakan dan  diakhirkan yang sesuai dengan keadaan. Perkiraannya adalah بسم الله أكتب أو أصنف "Dengan menyebut nama Allah aku menulis atau menyusun tulisan".
Kami menafsirkannya dengan fi'il (kata kerja) karena asal dari amalan adalah perbuatan. 

Kami menafsirkannya dengan fi'il yang diakhirkan karena adanya dua faidah:
Pertama: Mengharapkan keberkahan memulai dengan nama Allah -subhanahu wa ta'ala-.
Kedua: Sebagai pembatasan karena mendahulukan susunan kalimat yang semestinya diakhirkan memberi makna pembatasan.

Kami menafsirkannya dengan 'kata yang sesuai' karena lebih bisa menjelaskan maksud.  Seandainya kita katakan ketika hendak membaca kitab: "Dengan nama Allah kami  memulai" maka tidak diketahui apa yang kita mulai. Akan tetapi "Dengan menyebut nama Allah aku membaca" maka akan lebih jelas maksudnya apa yang akan dimulai.

Allah (الله) nama Maha Pencipta yang Maha Besar dan Maha Luhur. Ini adalah nama yang diikuti oleh seluruh nama sampai pun dalam firman Allah ta'ala:
كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ لِتُخۡرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذۡنِ رَبِّهِمۡ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ۝ ٱللَّهِ ٱلَّذِي لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ وَوَيۡلٞ لِّلۡكَٰفِرِينَ مِنۡ عَذَابٖ شَدِيدٍ۝ 

"Ini adalah kitab yang kami turunkan kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dengan izin Tuhannya kepada jalan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Allah yang memiliki segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dan celakalah orang orang kafir karena adzab yang keras". (QS Ibrahim: 1-2) 

Kami tidak katakan bahwa lafadz Al Jalalah 'Allah' adalah sifat. Namun kita katakan lafadz ini adalah 'athaf Bayan (penggabungan untuk menjelaskan) agar lafadz jalalah ini tidak menjadi tabi' sebagaimana Tabi' dalam na'at ma'ut (sifat dan yang disifati).

Ar Rahman termasuk nama yang dikhususkan untuk Allah Azza wa Jalla saja tidak boleh diberikan kepada selain Allah. Ar Rahman artinya yang memiliki kasih sayang yang luas.

Ar Rahim adalah nama untuk Allah Azza wa Jalla dan juga untuk selainNya. Artinya, Allah lah yang memiliki kasih sayang yang terus-menerus. Ar Rahman artinya yang memiliki kasih sayang yang luas. Ar-Rahim yang memiliki kasih sayang terus-menerus. Jika keduanya digabungkan, Ar Rahim adalah yang memiliki sifat kasih sayang kepada siapapun di antara para hamba yang dikehendakiNya.

يُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ وَيَرۡحَمُ مَن يَشَآءُۖ وَإِلَيۡهِ تُقۡلَبُونَ

"Dia (Allah) mengazab siapa pun yang dikehendakiNya dan memberi rahmat kepada siapa pun yang dikehendakiNya. Dan hanya kepadaNya kalian dikembalikan" (QS Al Ankabut: 21)

Note:
1. As Suyuthi membawakannya dalam Al Jamius Shaghir 6284, dikuatkan oleh Abdul Qaadir Ar Rahawi dalam Al Arba'in dan didha'ifkan Al Alamah Al Albany dalam Dabiful Jami' 4217.

Selasa, 18 Oktober 2022

Fikih Muyassar : Pembahasan Keempat: Rukun-rukun Sholat

Pembahasan Keempat: Rukun-rukun Sholat

Rukun adalah sesuatu yang membentuk ibadah dan ibadah tidaklah sah kecuali dengannya. Bedanya dengan syarat-syarat ibadah adalah: syarat mendahului ibadah dan senantiasa mengikutinya. Adapun rukun adalah pembentuk ibadah itu sendiri berupa ucapan dan perbuatan. 
Sholat memiliki 14 rukun. Tidak bisa gugur karena sengaja, lupa atau pun ketidaktahuan. Penjelasannya sebagai sebagai berikut:
1. Berdiri tegak; pada sholat fardhu bagi orang yang mampu. Berdasarkan firman Allah ta'ala : 
ﻭَﻗُﻮﻣُﻮا ﻟِﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻧِﺘِﻴﻦَ
"Dan laksanakanlah sholat untuk Allah dengan khusyu" (QS Al Baqarah: 238)

Berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam kepada Imran bin Hushain:
ﺻَﻞ ﻗﺎﺋﻤﺎً، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﺗﺴﺘﻄﻊ ﻓﻘﺎﻋﺪاً، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﺗﺴﺘﻄﻊ ﻓﻌﻠﻰ ﺟﻨﺐ
"Sholatlah dengan berdiri. Jika engkau tidak mampu maka dengan duduk. Jika tidak mampu maka dengan berbaring"1
Jika seseorang tidak mampu berdiri di sholat fardhu karena ada udzur seperti karena sakit, takut dan semisalnya maka dia dimaafkan karenanya. Dan Dia sholat sesuai keadaannya dengan duduk atau pun berbaring.
Adapun sholat nafilah (sunnah) maka mengerjakan dengan berdiri hukumnya sunnah dan bukan rukun. Namun sholat dengan berdiri lebih utama dari pada sholat sambil duduk. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :
ﺻﻼﺓ اﻟﻘﺎﻋﺪ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺻﻼﺓ اﻟﻘﺎﺋﻢ
"Sholatnya orang yang duduk pahalanya separoh dari sholatnya orang yang berdiri"2

2. Melakukan takbiratul ihram di permulaannya. Yaitu ucapan : Allahu Akbar, dan tidak bisa diganti lafadz lain. Ini berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam kepada orang yang sholatnya buruk:
 ﺇﺫا ﻗﻤﺖ ﺇﻟﻰ اﻟﺼﻼﺓ ﻓﻜﺒﺮ
"Jika engkau berdiri hendak sholat maka bertakbirlah"3

Sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :
ﺗﺤﺮﻳﻤﻬﺎ اﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ﻭﺗﺤﻠﻴﻠﻬﺎ اﻟﺘﺴﻠﻴﻢ
"Pengharamannya (dari hal yang membatalkannya) adalah takbir dan halalnya (penutupnya) adalah salam"4
Maka sholat tidaklah sah tanpa takbir.

3. Membaca Al Fatihah secara berurutan pada setiap rakaat, berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam:
ﻻ ﺻﻼﺓ ﻟﻤﻦ ﻟﻢ ﻳﻘﺮﺃ ﺑﻔﺎﺗﺤﺔ اﻟﻜﺘﺎﺏ
"Tidak sah sholat bagi orang yang tidak membaca Al Fatihah"5
Dikecualikan dalam hal ini adalah orang yang masbuk (makmum terlambat hadir sholat jamaah): Jika ia mendapati imam sudah ruku' atau mendapati imam berdiri namun tidak memungkinkan baginya membaca Al Fatihah. Demikian pula makmum pada sholat jahr dikecualikan tidak membacanya. Namun jika dia membacanya di sela-sela diamnya imam maka yang demikian itu lebih utama demi menjaga kehati-hatian. 

4. Ruku' di setiap rakaat; berdasarkan firman Allah ta'ala:
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ اﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮا اﺭْﻛَﻌُﻮا ﻭَاﺳْﺠُﺪُﻭا
"Wahai orang-orang yang beriman ruku' dan sujudlah kalian" (Al Hajj: 77)
Dan berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam kepada orang yang sholat dengan buruk:
ﺛﻢ اﺭﻛﻊ ﺣﺘﻰ ﺗﻄﻤﺌﻦ ﺭاﻛﻌﺎً
"Kemudian ruku'lah hingga tumakninah dalam ruku'"6

5&6. Bangkit dari ruku' dan berdiri i'tidal; berdasarkan sabda Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam dalam hadits orang yang buruk sholatnya:
ﻭاﺭﻛﻊ ﺣﺘﻰ ﺗﻄﻤﺌﻦ ﺭاﻛﻌﺎً ﺛﻢ اﺭﻓﻊ ﺣﺘﻰ ﺗﻌﺘﺪﻝ ﻗﺎﺋﻤﺎً
"Ruku'lah hingga tumakninah dalam ruku' kemudian bangkitlah hingga tegak berdiri"

7. Sujud; berdasarkan firman Allah: ﻭَاﺳْﺠُﺪُﻭا "dan sujudlah" (Al Hajj: 77).
Dan berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam dalam hadits tentang orang yang sholatnya buruk.
ﺛﻢ اﺳﺠﺪ ﺣﺘﻰ ﺗﻄﻤﺌﻦ ﺳﺎﺟﺪاً
"Kemudian sujudlah hingga tumakninah dalam sujud"

Dan hendaklah sujud dua kali disetiap rakaat di atas tujuh anggota badan yang telah disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas. Di dalamnya:
ﺃﻣﺮﺕ ﺃﻥ ﺃﺳﺠﺪ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻋﻈﻢ: اﻟﺠﺒﻬﺔ -ﻭﺃﺷﺎﺭ ﺑﻴﺪﻩ ﺇﻟﻰ ﺃﻧﻔﻪ- ﻭاﻟﻴﺪﻳﻦ، ﻭاﻟﺮﻛﺒﺘﻴﻦ، ﻭﺃﻃﺮاﻑ اﻟﻘﺪﻣﻴﻦ
"Aku diperintahkan bersujud di atas tujuh tulang : dahi -beliau berisyarat dengan tangannya ke hidung-, dua tangan, dua lutut dan ujung-ujung (jari) dua kaki.7

8&9. Bangkit dari sujud dan duduk di antara dua sujud. Berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam kepada orang yang buruk sholatnya:
ﺛﻢ اﺭﻓﻊ ﺣﺘﻰ ﺗﻄﻤﺌﻦ ﺟﺎﻟﺴﺎً
"Kemudian bangkitlah hingga engkau duduk dengan tumakninah"
 
10. Tumakninah di seluruh rukun, yaitu tenang. Ukuran lamanya adalah seukuran bacaan wajib dalam tiap rukun. Ini berdasarkan perintah Nabi shollallohu alaihi wa sallam kepada orang yang tidak tumakninah dalam seluruh rukun sholatnya. Dan juga perintah beliau untuk mengulangi kembali sholatnya karena tidak tumakninah. 

11. Tasyahud Akhir, berdasarkan ucapan Ibnu Mas'ud radhiyallohu anhu:
ﻛﻨﺎ ﻧﻘﻮﻝ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﻔﺮﺽ ﻋﻠﻴﻨﺎ اﻟﺘﺸﻬﺪ: اﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻋﺒﺎﺩﻩ ﻓﻘﺎﻝ اﻟﻨﺒﻲ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ -: (ﻻ ﺗﻘﻮﻟﻮا اﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ اﻟﻠﻪ، ﻭﻟﻜﻦ ﻗﻮﻟﻮا: اﻟﺘﺤﻴﺎﺕ ﻟﻠﻪ)
"Sebelum diwajibkannya tasyahud kami mengucapkan: Assalâmu 'alallâh min 'ibâdihi (Salam kepada Allah dari hambaNya). Maka Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda: "Jangan engkau ucapkan Assalâmu 'alallâh min 'ibâdihi tapi ucapkanlah Attahiyyâtu lillâh (Segala penghormatan untuk Allah)8.
Ucapan Ibnu Mas'ud radhiyallohu anhu: "Sebelum diwajibkannya tasyahud" menunjukkan bahwa tasyahud itu wajib.

12. Duduk tasyahud akhir karena Nabi shollallohu alaihi wa sallam melakukannya dan senantiasa mengamalkannya. Beliau bersabda: 
ﺻﻠﻮا ﻛﻤﺎ ﺭﺃﻳﺘﻤﻮﻧﻲ ﺃﺻﻠﻲ
"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat"9

13. Mengucapkan salam. Berdasarkan sabda beliau shollallohu alaihi wa sallam:  
ﻭﺗﺤﻠﻴﻠﻬﺎ اﻟﺘﺴﻠﻴﻢ
"Halalnya dengan ucapan salam" 10
Beliau menoleh ke kanan mengucapkan "assalâmu 'alaikum wa rahmatullâh" dan menoleh ke kiri mengucapkan "assalâmu 'alaikum wa rahmatullâh".

14. Tartib (berurutan) rukunnya sebagaimana penjelasan terdahulu karena Nabi shollallohu alaihi wa sallam mengerjakannya dengan berurutan. Beliau bersabda:
  ﺻﻠﻮا ﻛﻤﺎ ﺭﺃﻳﺘﻤﻮﻧﻲ ﺃﺻﻠﻲ
"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat"
Beliau mengajarkannya kepada orang yang buruk shalatnya dengan mengatakan ثم (kemudian) yang menunjukkan berurutan.
 
Bersambung in syaa Alloh...

📚 Diterjemahkan dari Kitab Al-Fiqih Al-Muyassar fi Dhouil Kitabi was Sunnah hal 52-54.

Note:
1. HR Bukhari no. 1117.
2. HR Muslim no. 735
3. HR Bukhari no. 739 dan Muslim no. 397
4. HR Abu Dawud no. 61, Ibnu Majah no. 275, At Tirmidzi no. 3. Syaikh Al Albany berkata: Hasan Shahih dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 224.
5. HR Bukhari no. 756 dan Muslim no. 394
6. HR Bukhari no. 6251 dan Muslim 397.
7. HR Bukhari no. 809 dan Muslim no. 490, 230. Dan ini lafadz Muslim.
8. HR An Nasa'i 2/240 dan dishahihkan Syaikh Al Albany dalam Irwaul Ghalil 319.
9. HR Bukhari no. 631.
10. HR Abu Dawud no. 61,  At Tirmidzi no. 3 dan Ibnu Majah no. 275 dan telah ada pada halaman sebelumnya.

FATHUL MAJID 180-181: MINTALAH REZEKI HANYA KEPADA ALLAH


Penulis rahimahulloh berkata:
Allah berfirman:
 فَٱبۡتَغُواْ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ وَٱعۡبُدُوهُ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥٓۖ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ

"... maka mintalah rezeki dari Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan".(QS Al-Ankabut: 17)

Penjelasan:
Allah memerintahkan hambaNya agar meminta rezeki dariNya saja bukan dari selainNya yang tidak mampu memberikan rezeki untuk mereka sedikit pun dari langit maupun dari bumi. Di dahulukan dzarf (عند الله) sebagai ikhtishash (pengkhususan hanya meminta kepada Allah saja).

FirmanNya   وَٱعۡبُدُوهُ (sembahlah Dia) adalah athaf umum kepada yang khusus, karena meminta rezeki hanya kepadaNya termasuk ibadah yang diperintahkan.

Al 'Imad bin Katsir berkata: فَٱبۡتَغُواْ maksudnya mintalah عِندَ ٱللَّهِ (di sisi Allah) bukan dari selainNya. Sebab, Dia lah yang memilikinya. Adapun selainNya tidak memiliki sedikit pun dari rezeki itu. 

FirmanNya وَٱعۡبُدُوهُ (sembahlah Dia) maknanya yaitu murnikanlah peribadahan hanya untukNya saja yang tiada sekutu bagiNya.  

FirmanNya وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥٓۖ (bersyukurlah kepadaNya) atas nikmat yang dikaruniakanNya kepadamu. 

FirmanNya إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ (hanya kepadaNya kalian dikembalikan) yaitu hari kiamat. Setiap orang akan dibalas sesuai amalannya.

Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid oleh Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahulloh 
Terbitan Muassasah Zaad Hal 180 - 181.

Kamis, 18 Agustus 2022

BUAH KEIMANAN KEPADA KETETAPAN TAQDIR ALLAH


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh berkata: 

"Keimanan kepada Al Qadar (ketetapan takdir Allah) membuahkan ketenangan jiwa dan hati, menghilangkan kesedihan terhadap apa yang tidak diperoleh, dan menghapuskan kegundahan dan kegalauan terhadap masa depan. 

Allah ta'ala berfirman: 
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ لِكَيْ لَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ
"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauḥ Maḥfuẓ) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu." (QS Al Hadid: 22-23)

Orang yang tidak beriman kepada Qadar tentulah akan sedih dan menyesal ketika menghadapi musibah; dan setan akan membukakan seluruh pintu (untuk menyesatkannya). Namun dia akan terlalu gembira dan angkuh serta tertipu tatkala mendapat kesenangan. 

Akan tetapi keimanan kepada Al Qadar akan menghalanginya dari ini semua.

Majmu Fatawa wa Rasaail 2/85

قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله تعالى:
فالإيمان بالقدر فيه راحة النفس والقلب ، وعدم الحزن على ما فات ، وعدم الغم والهم لما يستقبل ، قال الله - تعالىٰ - :
‏{ مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ لِكَيْ لَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ } ،
 والذي لا يؤمن بالقدر لا شك أنه سوف يتضجر عند المصائب ‏ويندم ، ويفتح الشيطان له كل باب ، وأنه سوف يفرح ويبطر، ويغتر إذا أصابته السراء ، لكن الإيمان بالقدر يمنع هذا كله .

📚مجموع فتاوى ورسائل (٨٥/٢)

https://twitter.com/aqwal_ahl_alelm/status/1559965476976984064?t=nQ-EGKc5-9OF-q4PumgwRA&s=19

Sabtu, 16 Juli 2022

ALLAH MENGUTUS RASUL BAGI SETIAP UMMAT

Allah ta'ala berfirman: 
(وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ)
"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah ṭāgūt,”
[Surat An-Nahl 36]

Thoghut yaitu setiap yang diibadahi selain Allah dan ia ridho dengan ibadah tersebut. 

Makna global ayat: Allah subhanahu wa ta'la mengabarkan bahwa Dia telah mengutus seorang Rosul pada setiap masa dan setiap kaum. Ia menyeru mereka untuk beribadah kepada Allah saja dan meninggalkan peribadatan kepada selainNya. Allah senantiasa mengutus para Rasul semenjak terjadinya kesyirikan di tengah manusia pada zaman nabi Nuh hingga Dia mengutus Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam sebagai penutup para Nabi.
Dakwah kepada tauhid dan mencegah dari kesyirikan adalah urgensi dakwah seluruh Rasul dan para pengikutnya.

Faidah Ayat:
1. Hikmah diutusnya para Rasul yaitu dakwah kepada Tauhid dan larangan kepada syirik.
2. Bahwasanya agama para Nabi adalah satu yaitu mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah saja dan meninggalkan kesyirikan meski syariat mereka berbeda beda.
3. Bahwasanya risalah ini umum untuk seluruh umat dan hujjah telah tegak atas setiap hamba.
4. Besarnya permasalahan tauhid dan bahwa tauhid adalah kewajiban bagi setiap ummat.
5. Dalam ayat ini, terdapat penjelasan kandungan لا اله الا الله (tiada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah) berupa nafi (peniadaan) dan itsbat (penetapan). Sehingga ayat ini menunjukkan bahwa tauhid tidak akan tegak melainkan dengan keduanya. Sekedar peniadaan (yaitu lafadz 'tiada tuhan') maka ini bukanlah tauhid. Sedangkan penetapan saja (yaitu lafadz 'kecuali Allah') maka ini juga bukanlah tauhid.

Maraji Al Mulakhas fi Syarhi Kitabut Tauhid Syaikh Shalih AL Fauzan -hafidzahulloh-.

Jumat, 08 Juli 2022

Fikih Muyassar: SYARAT-SYARAT SHOLAT, RUKUN-RUKUNNYA, DALIL-DALILNYA DAN HUKUM ORANG YANG MENINGGALKANNYA

PEMBAHASAN KEEMPAT: SYARAT-SYARAT SHOLAT, RUKUN-RUKUNNYA, DALIL-DALILNYA DAN HUKUM ORANG YANG MENINGGALKANNYA

Pembahasan Pertama: Jumlah Sholat Fardhu (Wajib).
Jumlah Sholat wajib ada lima yaitu: Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya'. Ini sudah disepakati. Dalilnya adalah hadits Thalhah bin Ubaidillah bahwa ada seorang Baduwi bertanya:  
ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﻣﺎﺫا ﻓﺮﺽ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻲَّ ﻣﻦ اﻟﺼﻼﺓ؟ ﻗﺎﻝ: (ﺧﻤﺲ ﺻﻠﻮاﺕ ﻓﻲ اﻟﻴﻮﻡ ﻭاﻟﻠﻴﻠﺔ.. اﻟﺤﺪﻳﺚ)
"Wahai Rasulullah,  sholat apa yang Alloh wajibkan atas diriku?" Beliau menjawab:  "Sholat lima waktu dalam sehari semalam..."¹

Dan hadits Anas radhiyallohu anhu tentang seorang laki-laki dari Baduwi  dan perkataannya kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam: 

ﻭﺯﻋﻢ ﺭﺳﻮﻟﻚ ﺃﻥ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺧﻤﺲ ﺻﻠﻮاﺕ ﻓﻲ ﻳﻮﻣﻨﺎ ﻭﻟﻴﻠﺘﻨﺎ. ﻗﺎﻝ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ -: (ﺻﺪﻕ)

"Utusan anda mengatakan bahwa kami diwajibkan (mengerjakan) sholat lima waktu dalam sehari semalam". Beliau shollallohu alaihi wa sallam menjawab: "Benar".²

Pembahasan Kedua: Kepada Siapa Sholat Diwajibkan?
Diwajibkan kepada setiap muslim yang baligh dan berakal, tidak sedang haid dan nifas. Anak kecil diperintahkan mengerjakannya ketika berusia tujuh tahun dan dipukul (jika tidak mau mengerjakannya) pada usia 10 tahun. Hal ini berdasarkan hadits:
ﺭﻓﻊ اﻟﻘﻠﻢ ﻋﻦ ﺛﻼﺛﺔ) ، ﻓﺬﻛﺮ ﻣﻨﻬﺎ: (ﻭﻋﻦ اﻟﺼَّﺒﻲِّ ﺣﺘﻰ ﻳﺤﺘﻠﻢ)
"Pena diangkat dari tiga orang", beliau menyebutkan salah satunya: "Dari anak kecil sampai dia baligh".
Dan berdasarkan hadits Nabi shollallohu alaihi wa sallam: 
ﻣﺮﻭا ﺃﻭﻻﺩﻛﻢ ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ ﻟﺴﺒﻊ، ﻭاﺿﺮﺑﻮﻫﻢ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻟﻌﺸﺮ، ﻭﻓَﺮِّﻗﻮا ﺑﻴﻨﻬﻢ ﻓﻲ اﻟﻤﻀﺎﺟﻊ
"Perintahkanlah anak-anak kalian mengerjakan sholat pada umur 7 tahun dan pukullah mereka (Jika enggan mengerjakannya) pada umur 10 tahun. Dan pisahkanlah tempat tidur mereka"³
 
Pembahasan Ketiga: Syarat-syarat Sholat⁴
Syarat Sholat ada sembilan:
1. Islam. Tidak sah dikerjakan orang kafir karena amalan mereka telah batal.

2. Berakal. Tidak sah dikerjakan orang gila karena tidak ada beban taklif kepada mereka.

3. Baligh. Tidak wajib dikerjakan anak kecil hingga mereka sampai baligh. Namun, mereka diperintahkan mengerjakannya pada umur 7 tahun dan dipukul (Jika enggan mengerjakannya) pada umur 10 tahun. Hal ini berdasarkan hadits:
ﻣﺮﻭا ﺃﻭﻻﺩﻛﻢ ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ ﻟﺴﺒﻊ ...
"Perintahkanlah anak-anak kalian mengerjakan sholat" Al hadits 

4. Suci dari dua hadats⁵ jika mampu berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Umar:
 ﻻ ﻳﻘﺒﻞ اﻟﻠﻪ ﺻﻼﺓ ﺑﻐﻴﺮ ﻃﻬﻮﺭ
"Allah tidak akan menerima sholat tanpa bersuci"⁶

5. Telah masuk waktunya untuk sholat yang telah ditentukan waktunya; berdasarkan firman Allah ta'ala: 
ﺇِﻥَّ اﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻋَﻠَﻰ اﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎ ﻣَﻮْﻗُﻮﺗًﺎ
"Sesungguhnya sholat diwajibkan yang telah ditentukan waktu-waktunya bagi orang-orang yang beriman" (QS An Nisa': 103)
Dan berdasarkan hadits Jibril tatkala mengimami Nabi shollallohu alaihi wa sallam sholat lima waktu. Kemudia Jibril berkata:
 ﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﻫﺬﻳﻦ اﻟﻮﻗﺘﻴﻦ ﻭﻗﺖ
"Di antara dua waktu ini ada waktu (untuk sholat)"⁷
Sehingga tidak sah sholat sebelum masuk waktunya dan setelah keluar waktunya kecuali jika ada udzur.

6. Menutup aurat jika mampu dengan sesuatu yang tidak memperlihatkan warna kulit berdasarkan firman Allah ta'ala: 
ﻳَﺎ ﺑَﻨِﻲ ﺁﺩَﻡَ ﺧُﺬُﻭا ﺯِﻳﻨَﺘَﻜُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﻛُﻞِّ ﻣَﺴْﺠِﺪٍ
"Wahai anak cucu adam pakailah pakaian kalian yang bagus tiap kali memasuki masjid "(QS Al A'raf: 31)
Dan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam: 
ﻻ ﻳﻘﺒﻞ اﻟﻠﻪ ﺻﻼﺓ ﺣﺎﺋﺾ ﺇﻻ ﺑﺨﻤﺎﺭ
"Allah tidak akan menerima sholat wanita yang telah haid kecuali dengan mengenakan khimar"⁸
Aurat laki-laki yang telah baligh adalah antara pusar dan lutut berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam kepada Jabir radhiyallohu anhu: 
ﺇﺫا ﺻﻠﻴﺖ ﻓﻲ ﺛﻮﺏ ﻭاﺣﺪ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻭاﺳﻌﺎً ﻓﺎﻟﺘﺤﻒ ﺑﻪ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺿﻴﻘﺎً ﻓﺎﺗﺰﺭ ﺑﻪ
"Jika engkau sholat dengan satu pakaian, jika lebar berselimutlah dengannya. Jika sempit maka jadikanlah sarung"⁹

Yang paling utama dan paling afdhal adalah menutupi pundaknya dengan kain. Sebab, Nabi shollallohu alaihi wa sallam pernah melarang seseorang yang sholat dengan pakaian yang tidak menutupi pundak. 
Ada pun wanita, seluruh badannya adalah aurat selain wajah dan telapak tangan, kecuali jika ia sholat di depan laki-laki ajnabi  -laki-laki yang bukan mahram- maka ia menutup seluruh tubuhnya berdasarkan Sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam: 
اﻟﻤﺮﺃﺓ ﻋﻮﺭﺓ
"Wanita adalah aurat"¹⁰
 
Dan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam:
ﻻ ﻳﻘﺒﻞ اﻟﻠﻪ ﺻﻼﺓ ﺣﺎﺋﺾ ﺇﻻ ﺑﺨﻤﺎﺭ
"Allah tidak menerima sholat wanita yang sudah haid kecuali dengan memakai khimar"

7. Menjauhkan najis dari badan, pakaian dan tempat sholat jika mampu; berdasarkan firman Allah ta'ala: 
ﻭَﺛِﻴَﺎﺑَﻚَ ﻓَﻄَﻬِّﺮْ
"Dan pakaianmu sucikanlah" (QS Al Mudatsir: 4)
Dan Sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam: 
ﺗَﻨَﺰَّﻫﻮا ﻋﻦ اﻟﺒﻮﻝ؛ ﻓﺈﻥ ﻋﺎﻣﺔ ﻋﺬاﺏ اﻟﻘﺒﺮ ﻣﻨﻪ
"Bersucilah kalian dari air kencing karena umumnya adzab kubur disebabkan karenanya"¹¹
Berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam kepada Asma' tentang darah haid yang mengenai pakaian:
  ﺗﺤﺘُّﻪ، ﺛﻢ ﺗﻘﺮﺻﻪ ﺑﺎﻟﻤﺎء، ﺛﻢ ﺗﻨﻀﺤﻪ، ﺛﻢ ﺗﺼﻠﻲ ﻓﻴﻪ
"Hendaklah engkau menggosoknya kemudian menguceknya dengan air lalu engkau sholat dengan mengenakannya"¹²
Sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam kepada para sahabat setelah orang Baduwi kencing di masjid:
ﺃهرﻳﻘﻮا ﻋﻠﻰ ﺑﻮﻟﻪ ﺳﺠﻼً ﻣﻦ ﻣﺎء
"Tuangkanlah di air kancingnya seember air"¹³
 
8. Menghadap kiblat jika mampu. Berdasarkan firman Allah ta'ala :
ﻓَﻮَﻝِّ ﻭَﺟْﻬَﻚَ ﺷَﻄْﺮَ اﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ اﻟْﺤَﺮَاﻡِ
"Hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram" (Al Baqarah: 144)
Dan berdasarkan hadits:
ﺇﺫا ﻗﻤﺖ ﺇﻟﻰ اﻟﺼﻼﺓ ﻓﺄﺳﺒﻎ اﻟﻮﺿﻮء، ﺛﻢ اﺳﺘﻘﺒﻞ اﻟﻘﺒﻠﺔ
"Apabila kamu berdiri untuk sholat, maka sempurnakanlah wushu lalu menghadaplah ke kiblat"¹⁴

9. Niat; tidak gugur dengan keadaan apa pun. Berdasarkan hadits Umar:
  ﺇﻧﻤﺎ اﻷﻋﻤﺎﻝ ﺑﺎﻟﻨﻴﺎﺕ
"Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya"
Niat itu tempatnya di hati. Hakekat niat adalah tekad untuk melakukan sesuatu. Tidak ada syariat dengan melafadzkannya sebab Nabi shollallohu alaihi wa sallam tidak mengucapkannya dan tidak diriwayatkan dari seorang pun sahabat Nabi yang melakukannya.

Bersambung in syaa Alloh...

📚 Diterjemahkan dari Kitab Al-Fiqih Al-Muyassar fi Dhouil Kitabi was Sunnah hal 50-52.

Note:
1. Riwayat Muslim no 11.
2. Riwayat Muslim no 12.
3. Riwayat Ahmad 3/201, Abu Dawud no 494, At Tirmidzi no 407 dan ia berkata: Hadits Hasan. Dishahihkan Al Hakim dalam Al Mustadrak 1/201 dan dishahihkan Al Albani dalam Al Irwa no 247.
4. Yaitu sesuatu yang menjadi syarat keabsahan sholat.
5. Yang besar dan yang kecil.
6. HR Muslim 224
7. Riwayat Ahmad 3/330, An Nasa'i 1/91, At Tirmidzi  150, dan hadits ini Shahih (Irwaul Ghalil 250)
8. Riwayat Abu Dawud no 627, At Tirmidzi no 375, Ibnu Majah 655 dan dishahihkan AL Albani (Al Irwa' 196). Maksudnya dengan haid adalah sudah sampainya umur mendapatkan beban syariat.
9. Dikeluarkan oleh Al Bukhari no 361, Muslim 3010.
10. Riwayat Tirmidzi 397 dan dishahihkan Syaikh Al Albani (Al Irwa' 273)
11. Diriwayatkan. Ad Daruquthny 1/97 no 453 dan dishahihkan Syaikh Al Albani (Al Irwa no 280)
12. Riwayat Al Bukhari no 227, Muslim 191.
13. Riwayat Al Bukhari 220,
14. Riwayat Al Bukhari 6251 dan Muslim 297







 اﻟﺒﺎﺏ اﻟﺮاﺑﻊ: ﻓﻲ ﺷﺮﻭﻁ اﻟﺼﻼﺓ، ﻭﺃﺭﻛﺎﻧﻬﺎ، ﻭﺃﺩﻟﺔ ﺫﻟﻚ، ﻭﺣﻜﻢ ﺗﺎﺭﻛﻬﺎ.
ﻭﻓﻴﻪ ﻣﺴﺎﺋﻞ:
اﻟﻤﺴﺄﻟﺔ اﻷﻭﻟﻰ: ﻓﻲ ﻋﺪﺩ اﻟﺼﻠﻮاﺕ اﻟﻤﻜﺘﻮﺑﺔ:
ﻋﺪﺩ اﻟﺼﻠﻮاﺕ اﻟﻤﻜﺘﻮﺑﺔ ﺧﻤﺲ، ﻭﻫﻲ: اﻟﻔﺠﺮ ﻭاﻟﻈﻬﺮ ﻭاﻟﻌﺼﺮ ﻭاﻟﻤﻐﺮﺏ ﻭاﻟﻌﺸﺎء. ﻭﻫﻲ ﻣﺠﻤﻊ ﻋﻠﻴﻬﺎ، ﻭﻗﺪ ﺩﻝّ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺣﺪﻳﺚ ﻃﻠﺤﺔ ﺑﻦ ﻋﺒﻴﺪ اﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﺃﻋﺮاﺑﻴﺎً ﻗﺎﻝ: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﻣﺎﺫا ﻓﺮﺽ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻲَّ ﻣﻦ اﻟﺼﻼﺓ؟ ﻗﺎﻝ: (ﺧﻤﺲ ﺻﻠﻮاﺕ ﻓﻲ اﻟﻴﻮﻡ ﻭاﻟﻠﻴﻠﺔ.. اﻟﺤﺪﻳﺚ) (1) ، ﻭﺣﺪﻳﺚ ﺃﻧﺲ - ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ - ﻓﻲ ﻗﺼﺔ اﻟﺮﺟﻞ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ اﻟﺒﺎﺩﻳﺔ، ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻟﻠﻨﺒﻲ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ -: ﻭﺯﻋﻢ ﺭﺳﻮﻟﻚ ﺃﻥ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺧﻤﺲ ﺻﻠﻮاﺕ ﻓﻲ ﻳﻮﻣﻨﺎ ﻭﻟﻴﻠﺘﻨﺎ. ﻗﺎﻝ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ -: (ﺻﺪﻕ) ... اﻟﺤﺪﻳﺚ (2) .
اﻟﻤﺴﺄﻟﺔ اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ: ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺗﺠﺐ؟
ﺗﺠﺐ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﺴﻠﻢ اﻟﺒﺎﻟﻎ اﻟﻌﺎﻗﻞ، ﻏﻴﺮَ اﻟﺤﺎﺋﺾ ﻭاﻟﻨﻔﺴﺎء، ﻭﻳﺆﻣﺮ ﺑﻬﺎ اﻟﺼﺒﻲ ﺇﺫا ﺑﻠﻎ ﺳﺒﻊ ﺳﻨﻴﻦ، ﻭﻳُﻀﺮﺏ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻟﻌﺸﺮ؛ ﻟﺤﺪﻳﺚ: (ﺭﻓﻊ اﻟﻘﻠﻢ ﻋﻦ ﺛﻼﺛﺔ) ، ﻓﺬﻛﺮ ﻣﻨﻬﺎ: (ﻭﻋﻦ اﻟﺼَّﺒﻲِّ ﺣﺘﻰ ﻳﺤﺘﻠﻢ) ، ﻭﻟﻘﻮﻟﻪ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ -: (ﻣﺮﻭا ﺃﻭﻻﺩﻛﻢ ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ ﻟﺴﺒﻊ، ﻭاﺿﺮﺑﻮﻫﻢ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻟﻌﺸﺮ، ﻭﻓَﺮِّﻗﻮا ﺑﻴﻨﻬﻢ ﻓﻲ اﻟﻤﻀﺎﺟﻊ) (3) .
اﻟﻤﺴﺄﻟﺔ اﻟﺜﺎﻟﺜﺔ: ﻓﻲ ﺷﺮﻭﻃﻬﺎ (4) :
ﻭﺷﺮﻭﻃﻬﺎ ﺗﺴﻌﺔ:
1- اﻹﺳﻼﻡ: ﻓﻼ ﺗﺼﺢ ﻣﻦ ﻛﺎﻓﺮ؛ ﻟﺒﻄﻼﻥ ﻋﻤﻠﻪ.
2- اﻟﻌﻘﻞ: ﻓﻼ ﺗﺼﺢ ﻣﻦ ﻣﺠﻨﻮﻥ؛ ﻟﻌﺪﻡ ﺗﻜﻠﻴﻔﻪ.
3- اﻟﺒﻠﻮﻍ: ﻓﻼ ﺗﺠﺐ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﺒﻲ ﺣﺘﻰ ﻳﺒﻠﻎ، ﻭﻟﻜﻦ ﻳﺆﻣﺮ ﺑﻬﺎ ﻟﺴﺒﻊ، ﻭﻳُﻀﺮﺏ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻟﻌﺸﺮ؛ ﻟﺤﺪﻳﺚ: (ﻣﺮﻭا ﺃﻭﻻﺩﻛﻢ ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ ﻟﺴﺒﻊ ... ) اﻟﺤﺪﻳﺚ.
4- اﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻣﻦ اﻟﺤَﺪَﺛﻴﻦ (5) ﻣﻊ اﻟﻘﺪﺭﺓ: ﻟﻘﻮﻟﻪ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ - ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ: (ﻻ ﻳﻘﺒﻞ اﻟﻠﻪ ﺻﻼﺓ ﺑﻐﻴﺮ ﻃﻬﻮﺭ) (6) .
5- ﺩﺧﻮﻝ اﻟﻮﻗﺖ ﻟﻠﺼﻼﺓ اﻟﻤﺆﻗﺘﺔ: ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: (ﺇِﻥَّ اﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻋَﻠَﻰ اﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎ ﻣَﻮْﻗُﻮﺗًﺎ) 
[ اﻟﻨﺴﺎء: 103] 
، ﻭﻟﺤﺪﻳﺚ ﺟﺒﺮﻳﻞ ﺣﻴﻦ ﺃﻡّ اﻟﻨﺒﻲ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ - ﺑﺎﻟﺼﻠﻮاﺕ اﻟﺨﻤﺲ، ﺛﻢ ﻗﺎﻝ: (ﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﻫﺬﻳﻦ اﻟﻮﻗﺘﻴﻦ ﻭﻗﺖ) (7) . ﻓﻼ ﺗﺼﺢ اﻟﺼﻼﺓ ﻗﺒﻞ ﺩﺧﻮﻝ ﻭﻗﺘﻬﺎ، ﻭﻻ ﺑﻌﺪ ﺧﺮﻭﺟﻪ، ﺇﻻ ﻟﻌﺬﺭ.
6- ﺳﺘﺮ اﻟﻌﻮﺭﺓ ﻣﻊ اﻟﻘﺪﺭﺓ ﺑﺸﻲء ﻻ ﻳﺼﻒ اﻟﺒﺸﺮﺓ: ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: (ﻳَﺎ ﺑَﻨِﻲ ﺁﺩَﻡَ ﺧُﺬُﻭا ﺯِﻳﻨَﺘَﻜُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﻛُﻞِّ ﻣَﺴْﺠِﺪٍ) 
[ اﻷﻋﺮاﻑ: 31] 
. ﻭﻗﻮﻟﻪ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ -: (ﻻ ﻳﻘﺒﻞ اﻟﻠﻪ ﺻﻼﺓ ﺣﺎﺋﺾ ﺇﻻ ﺑﺨﻤﺎﺭ) (8) . ﻭﻋﻮﺭﺓ اﻟﺮﺟﻞ اﻟﺒﺎﻟﻎ ﻣﺎ ﺑﻴﻦ اﻟﺴﺮﺓ ﻭاﻟﺮﻛﺒﺔ ﻟﻘﻮﻟﻪ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ - ﻟﺠﺎﺑﺮ - ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ -: (ﺇﺫا ﺻﻠﻴﺖ ﻓﻲ ﺛﻮﺏ ﻭاﺣﺪ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻭاﺳﻌﺎً ﻓﺎﻟﺘﺤﻒ ﺑﻪ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺿﻴﻘﺎً ﻓﺎﺗﺰﺭ ﺑﻪ) (9) . ﻭاﻷﻭﻟﻰ ﻭاﻷﻓﻀﻞ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﻋﻠﻰ ﻋﺎﺗﻘﻪ ﺷﻴﺌﺎً ﻣﻦ اﻟﺜﻴﺎﺏ؛ ﻷﻥ اﻟﻨﺒﻲ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ - ﻧﻬﻰ اﻟﺮﺟﻞ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻓﻲ اﻟﺜﻮﺏ ﻟﻴﺲ ﻋﻠﻰ ﻋﺎﺗﻘﻪ ﻣﻨﻪ ﺷﻲء. ﻭاﻟﻤﺮﺃﺓ ﻛﻠﻬﺎ ﻋﻮﺭﺓ ﺇﻻ ﻭﺟﻬﻬﺎ ﻭﻛﻔﻴﻬﺎ، ﺇﻻ ﺇﺫا ﺻﻠَّﺖ ﺃﻣﺎﻡ اﻷﺟﺎﻧﺐ -ﺃﻱ ﻏﻴﺮ اﻟﻤﺤﺎﺭﻡ- ﻓﺈﻧﻬﺎ ﺗﻐﻄﻲ ﻛﻞ ﺷﻲء؛ ﻟﻘﻮﻟﻪ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ -: (اﻟﻤﺮﺃﺓ ﻋﻮﺭﺓ) (10)
8- اﺳﺘﻘﺒﺎﻝ اﻟﻘﺒﻠﺔ ﻣﻊ اﻟﻘﺪﺭﺓ: ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: (ﻓَﻮَﻝِّ ﻭَﺟْﻬَﻚَ ﺷَﻄْﺮَ اﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ اﻟْﺤَﺮَاﻡِ) 
[ اﻟﺒﻘﺮﺓ: 144] 
، ﻭﻟﺤﺪﻳﺚ: (ﺇﺫا ﻗﻤﺖ ﺇﻟﻰ اﻟﺼﻼﺓ ﻓﺄﺳﺒﻎ اﻟﻮﺿﻮء، ﺛﻢ اﺳﺘﻘﺒﻞ اﻟﻘﺒﻠﺔ) (14) .
9- اﻟﻨﻴﺔ: ﻭﻻ ﺗﺴﻘﻂ ﺑﺤﺎﻝ؛ ﻟﺤﺪﻳﺚ ﻋﻤﺮ: (ﺇﻧﻤﺎ اﻷﻋﻤﺎﻝ ﺑﺎﻟﻨﻴﺎﺕ) . ﻭﻣﺤﻠﻬﺎ اﻟﻘﻠﺐ، ﻭﺣﻘﻴﻘﺘﻬﺎ اﻟﻌﺰﻡ ﻋﻠﻰ اﻟﺸﻲء. ﻭﻻ ﻳﺸﺮﻉ اﻟﺘﻠﻔﻆ ﺑﻬﺎ؛ ﻷﻥ اﻟﻨﺒﻲ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ - ﻟﻢ ﻳﺘﻠﻔﻆ ﺑﻬﺎ، ﻭﻟﻢ ﻳَﺮِﺩْ ﺃﻥ ﺃﺣﺪاً ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻓﻌﻞ ﺫﻟﻚ.
__________

(1) ﺭﻭاﻩ ﻣﺴﻠﻢ ﺑﺮﻗﻢ (11) .
(2) ﺭﻭاﻩ ﻣﺴﻠﻢ ﺑﺮﻗﻢ (12) .
(3) ﺭﻭاﻩ ﺃﺣﻤﺪ (3/201) ، ﻭﺃﺑﻮ ﺩاﻭﺩ ﺑﺮﻗﻢ (494) ، ﻭاﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﺑﺮﻗﻢ (407) ﻭﻗﺎﻝ: "ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ"، ﻭﺻﺤﺤﻪ اﻟﺤﺎﻛﻢ ﻓﻲ اﻟﻤﺴﺘﺪﺭﻙ (1/201) ، ﻭﺻﺤﺤﻪ اﻷﻟﺒﺎﻧﻲ (اﻹﺭﻭاء ﺑﺮﻗﻢ 247) .
(4) ﻭﻫﻲ اﻟﺘﻲ ﻳﺘﻮﻗﻒ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺻﺤﺔ اﻟﺼﻼﺓ.
(5) اﻷﻛﺒﺮ ﻭاﻷﺻﻐﺮ
(6) ﺭﻭاﻩ ﻣﺴﻠﻢ ﺑﺮﻗﻢ (224) .
(7) ﺭﻭاﻩ ﺃﺣﻤﺪ (3/330) ، ﻭاﻟﻨﺴﺎﺋﻲ (1/91) ، ﻭاﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﺑﺮﻗﻢ (150) ﻭﻫﻮ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ (ﺇﺭﻭاء اﻟﻐﻠﻴﻞ ﺑﺮﻗﻢ 250) .

(8) ﺭﻭاﻩ ﺃﺑﻮ ﺩاﻭﺩ ﺑﺮﻗﻢ (627) ، ﻭاﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﺑﺮﻗﻢ (375) ، ﻭاﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﺑﺮﻗﻢ (655) ، ﻭﺻﺤﺤﻪ اﻷﻟﺒﺎﻧﻲ (اﻹﺭﻭاء ﺑﺮﻗﻢ 196) . ﻭاﻟﻤﻘﺼﻮﺩ ﺑﺎﻟﺤﺎﺋﺾ: اﻟﺘﻲ ﺑﻠﻐﺖ ﺳﻦ اﻟﺘﻜﻠﻴﻒ.
(9) ﺃﺧﺮﺟﻪ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﺑﺮﻗﻢ (361) ، ﻭﻣﺴﻠﻢ ﺑﺮﻗﻢ (3010) .
(10) ﺭﻭاﻩ اﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﺑﺮﻗﻢ (397) ، ﻭﺻﺤﺤﻪ اﻷﻟﺒﺎﻧﻲ (اﻹﺭﻭاء ﺑﺮﻗﻢ 273) .
(11) ﺭﻭاﻩ اﻟﺪاﺭﻗﻄﻨﻲ (1/97) ﺑﺮﻗﻢ (453) ، ﻭﺻﺤﺤﻪ اﻷﻟﺒﺎﻧﻲ (اﻹﺭﻭاء ﺑﺮﻗﻢ 280) .
(12) ﺭﻭاﻩ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﺑﺮﻗﻢ (227) ، ﻭﻣﺴﻠﻢ ﺑﺮﻗﻢ (291) .
(13) ﺭﻭاﻩ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﺑﺮﻗﻢ (220) .
(14) ﺭﻭاﻩ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﺑﺮﻗﻢ (6251) ، ﻭﻣﺴﻠﻢ ﺑﺮﻗﻢ (397) .

MANUSIA YANG PALING BURUK

Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda:
إن شر الناس منزلة عند ﷲ يوم القيامة
من ودعه أو تركه الناس اتقاء فحشه
"Sesungguhnya orang yang paling buruk  di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang dijauhi atau ditinggalkan manusia karena takut keburukannya" (HR Muslim)

Al Alamah Abdul Muhsin Al Abbad hafidzahulloh berkata :
"Dia bermulut keji dan menghina orang lain sehingga orang-orang pun berusaha menjauhinya dan menghindari berurusan dengannya sebab dia akan menyakiti mereka"
Syarah Sunan Abu Dawud

‏قالﷺ:
(( إن شر الناس منزلة عند ﷲ يوم القيامة
من ودعه أو تركه الناس اتقاء فحشه ))
رواه مسلم
---------
قال العلامة عبد المحسن العباد:
( عنده بذاءة في اللسان وعنده تطاول على الناس، فالناس يحرصون على أن يتخلصوا منه ولايدخلون معه في مصادمات، ﻷنه يؤذيهم )
شرح سنن أبي داود

https://twitter.com/ALSALAFYY/status/1543253404629213186?t=_HP0NbCT7ETY5BiyEfrlcA&s=19

Kamis, 07 Juli 2022

ISLAM BERMAKNA UMUM DAN ISLAM BERMAKNA KHUSUS

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh berkata:
"Mengenal Agama Islam"
Islam dengan makna umum adalah penghambaan kepada Allah dengan syariatNya sejak Allah mengutus para RasulNya sampai datangnya hari kiamat.  Sebagaimana yang Allah azza wa jalla- sebutkan di banyak ayat menunjukkan bahwa syariat terdahulu seluruhnya adalah Islam (berserah diri kepada Allah azza wa jalla). Allah ta'ala berfirman tentang Ibrahim alaihis salam:
(رَبَّنَا وَٱجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَكَ وَمِن ذُرِّیَّتِنَاۤ أُمَّةࣰ مُّسۡلِمَةࣰ لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبۡ عَلَیۡنَاۤۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِیمُ)

"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepadaMu dan dari anak keturunan kami (juga) umat yang berserah diri kepadaMu" (Surat Al-Baqarah 128)

Islam dengan makna khusus sejak diutusnya Nabi -shalallahu alaihi wasallam-; dikhususkan dengan yang dibawa oleh Nabi Muhammad -shalallahu alaihi wasallam-. Sebab, agama yang dibawa oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam menghapus seluruh agama terdahulu. Sehingga orang yang mengikuti beliau adalah muslim. Ada pun orang yang tidak mengikuti beliau bukanlah orang Islam.
Orang yang mengikuti para rasul adalah kaum muslimin di zaman mereka. Yahudi adalah muslim di zaman Musa alaihis salam. Nashrani adalah muslim di zaman Isa alaihis salam. Adapun sejak diutusnya Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam mereka adalah kafir, bukan muslim.

Syarah Al Ushul Ats Tsalatsah Ibnu Utsaimin -rahimahulloh- hal 5.

TUJUAN PENCIPTAAN JIN DAN MANUSIA

Allah ta'ala berfirman:
(وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ)
"Tidaklah Aku (Allah) menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu" [Surat Adz-Dzariyat 56]

Dalam ayat ini Allah ta'ala mengkabarkan bahwa Dia tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepadaNya. Ayat ini adalah penjelasan hikmah penciptaan mereka. Allah tidaklah butuh kepada mereka sebagaimana butuhnya para pemimpin kepada para budaknya agar membantunya untuk mendapatkan rezeki dan makanan. Namun Allah hanya menginginkan kebaikan bagi mereka (para hambaNya).

Ada pun definisi ibadah yang paling tepat adalah sebagaimana yang dijelaskan para ulama: 
"Suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin".

Sedangkan makna tauhid secara istilah adalah mengesakan Allah dalam beribadah.

Penjelasan yang bisa dipetik dari ayat ini adalah:
1. Wajibnya mengesakan Allah dalam beribadah bagi bangsa jin dan manusia.
2. Penjelasan tentang hikmah diciptakannya jin dan manusia.
3. Bahwasannya Sang Khalik (Pencipta) adalah yang berhak untuk diibadahi bukan selainNya yang tidak mampu menciptakan. Di sini juga terdapat bantahan bagi penyembah berhala dan selainnya.
4. Penjelasan tidak butuhnya Allah kepada hambaNya dan butuhnya para makhluk kepadaNya. Sebab, Dia adalah pencipta sedangkan mereka adalah yang diciptakan.
5. Adanya hikmah dalam perbuatan Allah ta'ala.

Rujukan: Syarah Kutabut Tauhid oleh Syaikh Shalih Al Fauzan hafidzahulloh.

Minggu, 12 Juni 2022

MAKNA FIRMAN ALLAH SURAT HUD AYAT 7

Pertanyaan: Allah -ta'ala- berfirman:

ليبلوكم أيُّكم أحسنُ عملاً
"Untuk menguji kalian siapakah yang paling baik amalannya" (QS Huud: 7). Apakah ayat ini dipahami bahwa yang terpenting adalah bagusnya amalan tanpa dilihat dari banyak dan konsistennya?

Jawab:
Ini menunjukkan bahwa bagusnya amalan itu lebih penting. Bagusnya amalan itu lebih penting dari pada banyaknya. Meskipun banyaknya amalan itu yang diharapkan namun yang lebih penting dari banyak (amalan) adalah bagusnya amalan.
Olleh karenanya ada yang berkata kepada Abu 'Ali bin Al Fudhail bin 'Iyadh: "Wahai Abu 'Ali, apa maksudnya amalan yang paling bagus?" Dia menjawab: "Yang paling ikhlas dan paling benar". "APa amalan yang paling ikhlash dan yang paling benar?".
Dia menjawab: "Sesungguhnya suatu amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak diterima dan jika benar tetapi tidak ikhlas juga tidak diterima hingga amalan itu ikhlas dan benar".
"Wahai Abu Ali, apa maksudnya ikhlas dan benar?"
Dia menjawab: "Ikhlas yaitu hendaknya amalan itu untuk Allah semata. Benar yaitu hendaknya amalan itu sesuai sunnah".

Oleh karenanya, memperhatikan bagusnya amalan lebih utama dan lebih penting daripada banyaknya. Hendaknya seorang mukmin memperhatikan ikhlasnya amalan dan bersihnya dari riya dan macam-macam syirik lainnya serta memperhatikan kesesuaiannya dengan syariat agar tidak tercampur dengan bid'ah.
Ini lebih penting dari pada banyaknya. Jika ini sudah benar baru dia memperbanyak amalannya yang sudah benar tersebut -yang sudah benar ikhlasnya dan sudah benar mengikuti sunnah-. Adapun hanya memperbanyak amalan tanpa memperhatikan keikhlasan dan mutaba'ah (mengikuti sunnah) ini tidaklah benar. Hendakah perhatian kepada keikhlasan dan mengikuti sunnah lebih diutamakan dari pada banyaknya".

Sumber:
https://binbaz.org.sa/fatwas/2746/%D9%85%D8%B9%D9%86%D9%89-%D9%82%D9%88%D9%84%D9%87-%D8%AA%D8%B9%D8%A7%D9%84%D9%89-%D9%84%D9%8A%D8%A8%D9%84%D9%88%D9%83%D9%85-%D8%A7%D9%8A%D9%83%D9%85-%D8%A7%D8%AD%D8%B3%D9%86-%D8%B9%D9%85%D9%84%D8%A7

معنى قوله تعالى: {ليبلوكم أيُّكم أحسنُ عملاً}
السؤال:
يقول تعالى: لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا [هود:7]، فهل يُفهم من هذه الآية: أنَّ المهم هو حُسن العمل دون النظر إلى كثرته ودوامه؟

الجواب:
هذا يدل على أنَّ الحُسن أهم، إحسان العمل أهم من كثرته، وإن كانت الكثرةُ مطلوبةً، لكن الأهم من الكثرة إحسان العمل.
ولهذا قيل لأبي علي ابن الفُضيل بن عياض: يا أبا علي، ما معنى أحسن العمل؟ قال: "أخلصه وأصوبه"، قيل: ما أخلصه؟ وما أصوبه؟ قال: «إنَّ العمل إذا كان خالصًا ولم يكن صوابًا لم يُقبل، وإن كان صوابًا ولم يكن خالصًا فلم يُقبل، حتى يكون خالصًا صوابًا"، قيل: يا أبا علي، ما هو الخالص الصواب؟ قال: "الخالص: أن يكون لله، والصواب: أن يكون على السنة".
فالاهتمام بإحسان العمل أعظم وأوْلى من الكثرة، فكون المؤمن يهتم بإخلاص العمل وتنقيته من الرياء وغيره من أنواع الشرك، ويهتم بمُطابقته للشريعة، وألا يكون فيه ابتداعٌ؛ هذا أهم من الكثرة، وإذا صحَّ له هذا فليُكثر من العمل الذي صحَّ له فيه هذا -صحَّ له فيه الإخلاص، وصحَّ له فيه الصدق- أما أن يهتم بالكثرة من غير عنايةٍ بالإخلاص وعنايةٍ بالصدق -يعني: المُتابعة- فهذا لا، يجب أن يكون الاهتمام بالإخلاص والمُتابعة أعظم من الكثرة.

MOTIVASI AGAR BERSABAR DALAM BERDAKWAH

Penanya: Sebagian pemuda yang berpegang dengan agamanya harus berjuang meskipun di rumah orang tuanya sendiri. Sebab mereka harus berjuang melawan kemungkaran yang masuk di rumah-rumah (mereka) yang merusak hati-hati manusia. Mohon bimbingan dari anda.

Jawaban Syaikh Bin Baz -rahimahullah-:
Wajib baginya untuk bersabar. Baik pemuda maupun selain pemuda haruslah bersabar. Jika ada musibah di rumahnya hendaklah dia bersabar. Ini adalah zaman kesabaran. Ini adalah zaman fitnah dan ujian. Hendaklah dia bersabar dan berjuang semampunya serta memohon ampunan Allah atas hal tersebut. 
Jika dia mampu tinggal di suatu rumah sendirian, karena mereka tidak mau menyambutnya (utk meninggalkan kemungkaran) dan tidak mau menurutinya untuk menghilangkan kemungkaran maka tidak mengapa dia pisah rumah sendiri jika mampu. Jika tidak bisa, hendaklah dia berusaha sungguh-sungguh dan bertaqwa kepada Allah. Allah tidak membebani hamba kecuali sebatas kemampuannya dan janganlah dia turut menghadiri kemungkaran.

Tahapan mengingkari kemungkaran ada tiga: Dengan tangan, kemudian dengan lisan kemudian dengan hati. Pertama dengan tangan jika dia mampu. Jika dia adalah pemilik rumah, dia mampu melakukan apa yang dia mampui. Jika dia bukan pemilik rumah, bahkan dia terpaksa tinggal bersama orang tuanya dan kakak-kakaknya maka dia mengingkari dengan lisan semampunya. Jika mereka tidak memperdulikannya maka ia ingkari dengan hatinya. Jika dia mampu memisahkan diri tinggal di rumah sendiri hendaklah ia lakukan. Itulah jihad di kehidupan ini, kehidupan jihad, negeri jihad; harus sabar. Harus berjihad sesuai kemampuan. Bertaqwalah kepada Allah sesuai kemampuanmu.

Penanya: Apakah ini termasuk jihad?
Syaikh: Tidak diragukan; mengingkari kemungkaran termasuk jihad.


الحث على الصبر في الدعوة إلى الله
السؤال:
بعض الشباب المتمسك بدينه أصبح يحارب حتى في بيوت آبائه؛ لأنهم يحاربون المنكرات التي دخلت البيوت التي أفسدت قلوب الناس، نرجو توجيهكم.
الجواب:
عليه أن يصبر، على الشباب، وعلى غير الشباب أن يصبر، إذا دخل البلاء البيت عليه أن يصبر، هذا زمان الصبر، وزمان الفتن والمحن، عليه أن يصبر، ويجاهد حسب طاقته، ويسأل الله العون على ذلك.

وإذا استطاع أن يستقل بنفسه في بيت وحده إذا لم يستجيبوا له، ولم يطاعوه على إزالة المنكرات، فلا مانع أن يستقل إن استطاع في بيت وحده، وإذا لم يستطع فليجاهد، وليتق الله، ولا يكلف الله نفسًا إلا وسعها، ولا يحضر المنكر.

فدرجات إنكار المنكر ثلاث: اليد، ثم اللسان، ثم القلب، الأول بيده إذا استطاع، إذا كان رب البيت هو يستطيع أن يفعل ما يقدر عليه، وإذا كان ليس هو رب البيت، بل مجبور معه آباؤه، معه أبوه وإخوانه الكبار؛ فلينكر ما استطاع بلسانه، فإن لم يستجيبوا؛ أنكر بقلبه، فإن استطاع أن يفارق، ويستقل في بيت فعل ذلك، فهو جهاد هذه الحياة، حياة الجهاد، ودار الجهاد، فلا بدّ من الصبر، ولا بدّ من المجاهدة حسب الطاقة، فاتقوا الله ما استطعتم . 

السؤال: يعتبر هذا في الجهاد؟

الجواب: ما في شك، إنكار المنكرات من الجهاد.

Selasa, 07 Juni 2022

Kapan melakukan takbir intiqal ketika sholat?

Pertanyaan 82627
Tatkala Imam sholat, kapankah dia bertakbir semisal untuk ruku.? Apakah dia bertakbir sebelum ruku',  atau ketika (bergerak hendak) ruku' ataukah ketika telah di posisi ruku'? 

Jawab:
Alhamdulillah
Setiap orang yang sholat (baik imam, makmum, maupun orang yang sholat sendirian) diperintahkan hendaknya takbirnya untuk ruku' bersamaan dengan gerakan (menuju ruku')  
Hendaklah ia memulai takbir ketika bergerak membungkuk dan berakhir ketika telah di posisi ruku'. Takbirnya berada di antara dua rukun, antara berdiri dan ruku'. 
Sunnah menunjukkan bahwa takbir berbarengan dengan gerakan yang dituju ke ruku', ke sujud dan bangkit darinya. Sebagaimana yang yang diriwayatkan dalam Shahihain dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu, dia berkata: 
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاةِ يُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْكَعُ ، ثُمَّ يَقُولُ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حِينَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ ، ثُمَّ يَقُولُ وَهُوَ قَائِمٌ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْد ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَهْوِي ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَسْجُدُ ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ، ثُمَّ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي الصَّلاةِ كُلِّهَا حَتَّى يَقْضِيَهَا ، وَيُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ مِنْ الثِّنْتَيْنِ بَعْدَ الْجُلُوسِ
"Dahulu Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam apabila bangkit hendak sholat beliau bertakbir ketika berdiri, lalu bertakbir ketika ruku' lalu mengucapkan "Sami'allohu liman hamidah" ketika menegakkan punggungnya dari posisi ruku. Kemudian tatkala sudah tegak berdiri beliau mengucapkan "Rabbana lakal hamdu". Lalu beliau bertakbir ketika turun (untuk sujud) lalu beliau bertakbir ketika beliau bangkit (dari sujudnya) lalu beliau melakukannya di seluruh sholatnya sampai selesai. Dan beliau bertakbir ketika bangkit dari dari duduk tasyahud awal"
(HR Bukhari 789 dan Muslim 392)

Hadits ini jelas (menunjukkan) bahwa takbir untuk ruku' ketika bergerak hendak ruku'. Takbir sujud adalah ketika turun ke sujud. Takbir bangkit dari sujud ketika bergerak bangkit ....dst. Imam Nawawi menyebutkannya dalam Syarah Muslim dan menyatakan bahwa ini adalah madzhabnya jumhur ulama.

Di antara para ahli fikih ada yang ekstrim dalam masalah ini. Mereka berpendapat bahwa kalau orang yang sholat memulai takbir sedangkan dia masih di posisi berdiri belum bergerak membungkuk atau menyempurnakan takbir setelah sampai ruku' hal itu tidaklah sah. Dia tidaklah (dianggap)bertakbir sebab dia bertakbir bukan pada tempatnya. Menurut ulama yang berpendapat wajibnya takbir maka batal sholatnya jika dilakukan dengan sengaja tapi jika lupa maka haruslah sujud sahwi. Dan yang Shahih bahwa hal ini dimaafkan agar tidak memberatkan.

Al Mardawi dalam Al Inshaf 2/59 berkata: Al Majdi dan lainnya berkata: "Semestinya takbir untuk turun, bangkit dan berdiri mulainya adalah dari mulai perpindahan dan berakhir dengan berakhirnya gerak perpindahan. Jika ia menyempurnakan takbir di tengah gerakan maka sah (yakni jika dia bertakbir di antara dua rukun tanpa memanjangkan atau mengulurnya) karena hal ini tidaklah keluar dari tempat takbir, tanpa ada perselisihan. 

Jika dia memulai takbir sebelum (bergerak ke rukun berikut)nya atau menyempurnakannya setelah sempurna (rukun berikutnya) maka sebagian takbir terjadi di luar tempatnya maka ia seperti tidak bertakbir sebab tidak menyempurnakannya ditempat yang semestinya. Serupa dengan ini adalah orang yang menyempurnakan bacaannya (alfatihah atau surat) sambil ruku'. Atau seperti orang yang memulai baca tasyahud sebelum duduk.

Hal ini bisa jadi tidak mengapa karena untuk menjaga agar bisa demikian menyulitkan dan orang banyak lupanya. Sehingga (pendapat) menjadi batal karenanya atau mesti sujud sahwi adalah memberatkan" (Selesai dengan ringkas)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh berkata: 
"Para Fuqaha rahimahullah berkata: Jika seseorang bertakbir sebelum bergerak merunduk atau menyempurnakannya setelah sampai posisi ruku' maka tidak sah. Sebab mereka berpendapat karena takbir ini ada di perpindahan gerakan sehingga tempat membacanya di antara dua rukun. Jika dia membacanya di rukun yang awal maka tidak sah. Jika Dia memasukkannya di rukun berikutnya maka tidak sah. Sebab, itu adalah posisi yang tidak disyariatkan membaca dzikir (takbir) ini. Berdiri tidak diperintahkan baca takbir. Ruku' juga tidak diperintahkan baca takbir. Takbir hanya ada di antara berdiri dan ruku'.

Memang pendapat ini memiliki sisi tinjauan.  Akan tetapi karena takbir adalah isyarat perpindahan (gerakan sholat)  semestinya ada di posisi perpindahan (gerakan).
Akan tetapi pendapat bahwa menyempurnakannya setelah sampai posisi ruku' atau memulainya sebelum bergerak turun bisa membatalkan sholat maka ini memberatkan manusia. Sebab, jika engkau mengamati kondisi orang-orang pada saat ini niscaya kau dapati kebanyakan orang tidak mengamalkan ini. Ada orang yang bertakbir sebelum bergerak turun dan ada  yang sampai ruku' belum selesai takbir.

Paling anehnya sebagian para imam yang bodoh berijtihad dengan ijtihad yang keliru. Dia berkata: "Aku bertakbir hanya kalau sudah posisi ruku', karena kalau aku bertakbir sebelum sampai posisi ruku' maka makmum akan mendahuluiku sehingga mereka sudah merunduk sebelum aku sampai ruku'. Terkadang mereka sudah ruku' padahal aku belum sampai ruku'".
Ini termasuk ijtihad yang nyeleneh. Engkau telah merusak ibadahmu berdasarkan pendapat sebagian ulama demi memperbaiki ibadah orang lain yang tidak disuruh mendahuluimu tapi diperintahkan untuk mengikutimu.

Oleh karenanya kita katakan: Ini adalah ijtihad yang bukan pada tempatnya dan kita juluki mujtahid yang berijtihad demikian dengan orang bodoh kuwadrat. Sebab dia tidak tahu kalau sebenarnya dirinya bodoh.
Oleh karenanya kita katakan: bertakbirlah dari ketika bergerak turun dan berusahalah untuk selesai sebelum engkau sampai posisi ruku'. Namun, jika engkau telah ruku'  duluan sebelum selesai bertakbir maka tidaklah mengapa.

Maka yang benar adalah jika ia memulai takbir sebelum turun ke ruku' dan menyempurnakan setelahnya maka tidak mengapa. Jika ia memulai takbir ketika bergerak merunduk dan menyelesaikan takbir ketika telah sampai posisi ruku' maka tidak masalah. Tapi yang utama adalah di antara dua rukun jika memungkinkan. Demikian juga "Sami'allohu liman hamidah" dan seluruh takbir intiqaal (perpindahan). Ada pun jika tidak memulai (takbir) kecuali setelah sampai ke rukun berikutnya maka tidak dianggap bertakbir"
Selesai dari Syarhul Mumti' oleh Syaikh Utsaimin rahimahulloh. 


متى تكون تكبيرات الانتقال في الصلاة ؟
 السؤال 82627
عندما يصلي الإمام , فمتى يكبر مثلا للركوع هل يكبر قبل أن يركع أم أثناء الركوع أم بعد الركوع ؟.
الجواب
الحمد لله.

المشروع لكل مصلٍّ ( الإمام والمأموم والمنفرد ) أن يكون تكبيره للركوع مقارنا لحركته ، فيبدأ التكبير حال انحنائه ، ويختمه قبل أن يصل إلى حد الركوع ؛ فيقع تكبيره بين الركنين ، القيام والركوع .

وقد دلت السنة على أن التكبير يقارن الحركة المقصودة من ركوع ، وسجود ، وقيام منه ، كما في الصحيحين عن أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قال : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاةِ يُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْكَعُ ، ثُمَّ يَقُولُ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حِينَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ ، ثُمَّ يَقُولُ وَهُوَ قَائِمٌ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْد ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَهْوِي ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَسْجُدُ ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ، ثُمَّ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي الصَّلاةِ كُلِّهَا حَتَّى يَقْضِيَهَا ، وَيُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ مِنْ الثِّنْتَيْنِ بَعْدَ الْجُلُوسِ ) رواه البخاري (789) ومسلم (392) .


فهذا الحديث ظاهرٌ في أن التكبير للركوع يكون أثناء انحنائه إلى الركوع ، وتكبير السجود أثناء نزوله إلى السجود ، وتكبير الرفع من السجود أثناء رفعه ...... وهكذا ، ذكره النووي في "شرح مسلم" ، وذكر أنه مذهب جمهور العلماء .


ومن الفقهاء من شدد في ذلك ، ورأى أنه لو بدأ المصلي التكبير وهو قائم قبل أن ينحني ، أو أكمله بعد وصوله إلى الركوع أن ذلك لا يجزئه ، ويكون تاركا للتكبير ؛ لأنه أتى به في غير موضعه ، وعلى القول بوجوب التكبير : تبطل صلاته إن تعمد ذلك ، وإن فعله سهوا لزمه السجود للسهو ، والصحيح أنه يعفى عن ذلك دفعاً للمشقة .

قال المرداوي في "الإنصاف" (2/59) : " قال المجد وغيره : ينبغي أن يكون تكبير الخفض والرفع والنهوض ابتداؤه مع ابتداء الانتقال , وانتهاؤه مع انتهائه . فإن كمّله في جزء منه أجزأه [ أي إذا أوقعه بين الركنين دون أن يبسطه ويمده ] ; لأنه لا يخرج به عن محله بلا نزاع .

وإن شرع فيه قبله , أو كمّله بعده , فوقع بعضه خارجا عنه , فهو كتركه ; لأنه لم يكمله في محله ، فأشبه من تمم قراءته راكعا , أو أخذ في التشهد قبل قعوده .

ويحتمل أن يعفى عن ذلك ; لأن التحرز منه يعسر , والسهو به يكثر , ففي الإبطال به أو السجود له مشقة . " انتهى باختصار .

وقال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله : " قال الفقهاء رحمهم الله : لو بدأ بالتكبير قبل أن يهوي ، أو أتمه بعد أن يصل إلى الركوع ؛ فإنه لا يجزئه . لأنهم يقولون : إن هذا تكبير في الانتقال فمحله ما بين الركنين ، فإن أدخله في الركن الأول لم يصح ، وإن أدخله في الركن الثاني لم يصح ؛ لأنه مكان لا يشرع فيه هذا الذكر ، فالقيام لا يشرع فيه التكبير ، والركوع لا يشرع فيه التكبير ، إنما التكبير بين القيام والركوع .

ولا شك أن هذا القول له وجهة من النظر ؛ لأن التكبير علامة على الانتقال ؛ فينبغي أن يكون في حال الانتقال .
ولكن القول بأنه إن كمله بعد وصول الركوع ، أو بدأ به قبل الانحناء يبطل الصلاة فيه مشقة على الناس ، لأنك لو تأملت أحوال الناس اليوم لوجدت كثيرا من الناس لا يعملون بهذا ، فمنهم من يكبر قبل أن يتحرك بالهوي ، ومنهم من يصل إلى الركوع قبل أن يكمل .

والغريب أن بعض الأئمة الجهال اجتهد اجتهادا خاطئا وقال : لا أكبر حتى أصل إلى الركوع ، قال : لأنني لو كبرت قبل أن أصل إلى الركوع لسابقني المأمومون ، فيهوون قبل أن أصل إلى الركوع ، وربما وصلوا إلى الركوع قبل أن أصل إليه ، وهذا من غرائب الاجتهاد ؛ أن تفسد عبادتك على قول بعض العلماء ؛ لتصحيح عبادة غيرك ؛ الذي ليس مأمورا بأن يسابقك ، بل أمر بمتابعتك .

ولهذا نقول : هذا اجتهاد في غير محله ، ونسمي المجتهد هذا الاجتهاد : "جاهلا جهلا مركبا" ؛ لأنه جهل ، وجهل أنه جاهل .
إذا ؛ نقول : كبر من حين أن تهوي ، واحرص على أن ينتهي قبل أن تصل إلى الركوع ، ولكن لو وصلت إلى الركوع قبل أن تنتهي فلا حرج عليك .


فالصواب : أنه إذا ابتدأ التكبير قبل الهوي إلى الركوع ، وأتمه بعده فلا حرج ، ولو ابتدأه حين الهوي ، وأتمه بعد وصوله إلى الركوع فلا حرج ، لكن الأفضل أن يكون فيما بين الركنين بحسب الإمكان . وهكذا يقال في : "سمع الله لمن حمده " وجميع تكبيرات الانتقال . أما لو لم يبتدئ إلا بعد الوصول إلى الركن الذي يليه ، فإنه لا يعتد به " انتهى من "الشرح الممتع".

والله أعلم .

https://islamqa.info/ar/answers/82627/%D9%85%D8%AA%D9%89-%D8%AA%D9%83%D9%88%D9%86-%D8%AA%D9%83%D8%A8%D9%8A%D8%B1%D8%A7%D8%AA-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%86%D8%AA%D9%82%D8%A7%D9%84-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%84%D8%A7%D8%A9

Jumat, 27 Mei 2022

PERBENDAHARAAN SURGA

Syaikh Ibnu Baz rahimahulloh berkata: 
 لَا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
"Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah".

Ini adalah kalimat yang agung. Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Musa Al Asy'ary radhiyallohu anhu tentang kalimat ini:
"Maukah engkau aku tunjukkan salah satu harta simpanan di surga? Yaitu:  
لَا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
"Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah".

Selayaknya memperbanyak dzikir ini di setiap waktu, di pagi dan sore hari dan waktu selainnya".

Majmu' Fatawa Imam Ibnu Baz 

‏" لا حول ولا قوة إلا بالله"
" كلمة عظيمة قال فيها النبي صلى الله عليه وسلم لأبي موسى الأشعري رضي الله عنه: «ألا أدلك على كنز من كنوز الجنة: لا حول ولا قوة إلا بالله» فينبغي الإكثار منها كل وقت في الصباح والمساء وغيرهما ". 
- مجموع الفتاوى لـ الإمام ابن باز
#santri #mintobasuki #gabus 

https://twitter.com/A__alsh3/status/1529446603194523648?t=iexYXU06w6FTUZOYzRdBtA&s=19

DOSA SYIRIK TIDAK DIAMPUNI JIKA TIDAK BERTAUBAT

Alloh ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ

"Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki" (QS An Nisa: 48 & 116)


Al 'Alamah Muhammad Amaan  Al Jamii rahimahulloh berkata: 

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ

"Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik..." yaitu bagi orang yang mati di atas kesyirikan.  Dan maknanya bukanlah: orang yang berbuat syirik (menyekutukan Allah)  seandainya ia bertaubat dan kembali (ke jalan yang benar), Alloh tidak mengampuninya. Bukan  demikian makna ayat tersebut. Makna ayat adalah: barang siapa yang mati sedangkan dia menjadikan tandingan bagi Allah (mensekutukanNya)  maka Alloh tidak akan mengampuninya, dia masuk neraka kekal selamanya.  


‏وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ

"Dan Dia (Alloh) mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki". Selain dosa syirik terkadang Alloh mengampuninya tanpa (pelakunya) bertaubat; dengan banyaknya amal kebaikan yang mengungguli keburukannya, dengan adanya pemberi syafaat untuknya, dengan musibah-musibah yang menghapusnya dan hal-hal lain yang bisa menggugurkan dosa. 


Ada pun kesyirikan haruslah bertaubat sebelum matinya. Ada pun orang yang mati dengan membawa dosa selain syirik maka urusannya terserah Allah"

Syarah Al Qawaidul Arbaa': 44.



  قَوْلُهُ تَعَالَى : { إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن 

    يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ } 

▪️العلامة محمد أمان الجامي رحمه الله :

     { إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ } : أي لمن مات على الشِّرك، وليس معنى ذلك: أن مَن أشرك بالله لو ‏تابَ وأنابَ أنَّ الله لا يغفر له ، ليس هذا معنى الآية، معنى الآية: مَن مات وهو يدعو من دون الله ندًّا لا يَغفِر الله له؛ فيدخل النار خالدًا مخلَّدًا .

{ وَيَغْفِرْ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ } : ما دون ذلك قد يغفره الله بدون توبة، بأن تكثر حسناته وتغلب على سيِّئاته،‏وبأن يقيِّض له الشُّفعاء، وبأن يكفِّر عنه بالمصائب، وبأشياء كثيرة من المكفرات، أما الشِّرك فلابدَّ من توبة قبل الموت، أما مَن مات على ما دون الشِّرك فأمرُه إلى الله .

📚 شرح القواعد الأربع : (44)

Selasa, 24 Mei 2022

Fikih Muyassar: Waktu Waktu Sholat Fardhu

Bab Ketiga: Waktu waktu Sholat
Sholat wajib lima kali dalam sehari semalam. Setiap sholat memiliki waktu tertentu yang telah ditetapkan Syariat. Alloh ta'ala berfirman:

ﺇِﻥَّ اﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻋَﻠَﻰ اﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎ ﻣَﻮْﻗُﻮﺗً

"Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan  waktunya atas orang-orang yang beriman" (QS An Nisa': 103)

Maksudnya diwajibkan pada waktu-waktu yang telah ditentukan sehingga tidak sah sholat sebelum masuk waktunya.
Waktu-waktu sholat ini dasarnya adalah hadits Ibnu 'Umar radhiyallohu anhuma bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

ﻭﻗﺖ اﻟﻈﻬﺮ ﺇﺫا ﺯاﻟﺖ اﻟﺸﻤﺲ ﻭﻛﺎﻥ ﻇﻞ اﻟﺮﺟﻞ ﻛﻄﻮﻟﻪ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﺤﻀﺮ اﻟﻌﺼﺮ، ﻭﻭﻗﺖ اﻟﻌﺼﺮ ﻣﺎ ﻟﻢ ﺗﺼﻔﺮ اﻟﺸﻤﺲ، ﻭﻭﻗﺖ ﺻﻼﺓ اﻟﻤﻐﺮﺏ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳَﻐِﺐِ اﻟﺸﻔﻖ، ﻭﻭﻗﺖ ﺻﻼﺓ اﻟﻌﺸﺎء ﺇﻟﻰ ﻧﺼﻒ اﻟﻠﻴﻞ اﻷﻭﺳﻂ، ﻭﻭﻗﺖ ﺻﻼﺓ اﻟﺼﺒﺢ ﻣﻦ ﻃﻠﻮﻉ اﻟﻔﺠﺮ ﻣﺎ ﻟﻢ ﺗﻄﻠﻊ اﻟﺸﻤﺲ

"Waktu Dzuhur adalah ketika matahari condong (ke barat) dan bayangan seseorang sama panjang dengan dirinya selama belum datang waktu Ashar. Waktu Ashar selama matahari belum menguning.  Waktu sholat Maghrib sebelum hilang warna jingga (di langit). Waktu sholat Isya sampai pertengahan malam. Dan waktu sholat Subuh dari terbitnya fajar sampai sebelum terbitnya matahari"¹

Sholat Dzuhur awal waktunya adalah condongnya matahari (ke barat) yakni tergelincirnya dari tengah langit ke arah barat. Waktunya sampai bayangan benda sama dengan panjang bendanya. Disunnahkan menyegerakannya di awal waktu, kecuali jika cuaca sangat terik, disunnahkan diundur sampai cuaca teduh.² Hal  ini berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam:

ﺇﺫا اﺷﺘﺪ اﻟﺤﺮ ﻓﺄﺑﺮﺩﻭا ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ ﻓﺈﻥ ﺷﺪﺓ اﻟﺤﺮ ﻣﻦ ﻓﻴﺢ ﺟﻬﻨﻢ

"Jika panas terik maka tunggulah sholat sampai cuaca teduh karena panas yang sangat terik berasal dari hembusan Jahannam"³

Waktu Ashar mulainya dari akhir waktu Dzuhur -yaitu panjang bayangan sama dengan panjang bendanya- dan berakhir dengan terbenam matahari yaitu di akhir menguningnya matahari dan disunnahkan menyegerakannya di awal waktu. Shalat Ashar adalah sholat Wustha yang telah Allah sebutkan dalam firmanNya:

ﺣَﺎﻓِﻈُﻮا ﻋَﻠَﻰ اﻟﺼَّﻠَﻮَاﺕِ ﻭَاﻟﺼَّﻼَﺓِ اﻟْﻮُﺳْﻄَﻰ ﻭَﻗُﻮﻣُﻮا ﻟِﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻧِﺘِﻴﻦَ

"Jagalah seluruh sholat itu dan sholat Wustha dan kerjakanlah sholat dengan khusyu'". (QS Al Baqarah: 238)

Nabi shollallohu alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menjaga sholat Ashar ini. Beliau bersabda:

ﻣﻦ ﻓﺎﺗﺘﻪ ﺻﻼﺓ اﻟﻌﺼﺮ ﻓﻜﺄﻧﻤﺎ ﻭُﺗﺮَ ﺃﻫﻠﻪ ﻭﻣﺎﻟﻪ

"Orang yang terlewat (tidak mengerjakan) sholat Ashar seolah-olah telah tercabut keluarga dan hartanya"⁴

Beliau juga bersabda:

ﻣﻦ ﺗﺮﻙ ﺻﻼﺓ اﻟﻌﺼﺮ ﻓﻘﺪ ﺣﺒﻂ ﻋﻤﻠﻪ

"Barang siapa meninggalkan sholat Ashar maka telah gugur amalannya"⁵

Waktu sholat Maghrib dari tenggelamnya matahari sampai hilangnya awan merah⁶; berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam:

ﻭﻗﺖ ﺻﻼﺓ اﻟﻤﻐﺮﺏ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻐﺐ اﻟﺸﻔﻖ

"Waktu sholat Maghrib sebelum hilang awan jingga"⁷

Disunnahkan mensegerakan di awal waktu berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :

ﻻ ﺗﺰاﻝ ﺃﻣﺘﻲ ﺑﺨﻴﺮ، ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﺆﺧﺮﻭا اﻟﻤﻐﺮﺏ ﺣﺘﻰ ﺗﺸﺘﺒﻚ اﻟﻨﺠﻮﻡ

"Umatku akan senantiasa dalam kebaikan selama tidak mengakhirkan hingga bintang-bintang bertaburan"⁸

Kecuali ketika malam di Muzdalifah bagi yang sedang ihram untuk haji maka disunnahkan menundanya sampai dikerjakan bersama sholat Isya dengan jama' ta'khir.
Ada pun sholat Isya' awal waktunya adalah hilangnya awan jingga sampai pertengahan malam. Berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam:

ﻭﻗﺖ ﺻﻼﺓ اﻟﻌﺸﺎء ﺇﻟﻰ ﻧﺼﻒ اﻟﻠﻴﻞ اﻷﻭﺳﻂ

"Dan waktu sholat Isya' sampai pertengahan malam"⁹

Disunnahkan menunda Isya' sampai akhir waktu yang utama selama tidak memberatkan. Dimakruhkan tidur sebelumnya dan bincang-bincang yang tidak bermanfaat setelahnya. Hal ini berdasarkan hadits Abu Barzakh radhiyallohu anhu:

ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ - ﻛﺎﻥ ﻳﻜﺮﻩ اﻟﻨﻮﻡ ﻗﺒﻞ اﻟﻌﺸﺎء، ﻭاﻟﺤﺪﻳﺚ ﺑﻌﺪﻫﺎ

"Rasululloh shollallohu alaihi wa sallam tidak suka tidur sebelum Isya' dan bincang-bincang setelahnya"¹⁰

Waktu sholat fajar(Subuh) dari terbitnya fajar kedua (fajar shadiq) sampai terbitnya matahari. Disunnahkan mensegerakannya jika sudah jelas terbit fajar.

Ini adalah waktu-waktu yang disyariatkan mengerjakan sholat lima waktu padanya sehingga kaum muslimin  wajib terikat dengannya, menjaga waktu-waktunya dan tidak menundanya karena Alloh mengancam orang-orang yang menunda waktunya. Alloh ta'ala berfirman:

  ﻓَﻮَﻳْﻞٌ ﻟِﻠْﻤُﺼَﻠِّﻴﻦَ اﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻫُﻢْ ﻋَﻦْ ﺻَﻼَﺗِﻬِﻢْ ﺳَﺎﻫُﻮﻥَ

"Maka kecelakaanlah bagi orang yang sholat, yaitu yang mereka lalai dari sholatnya" (QS Al Maun: 4-5)

Alloh ta'ala berfirman:

ﻓَﺨَﻠَﻒَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻫِﻢْ ﺧَﻠْﻒٌ ﺃَﺿَﺎﻋُﻮا اﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻭَاﺗَّﺒَﻌُﻮا اﻟﺸَّﻬَﻮَاﺕِ ﻓَﺴَﻮْﻑَ ﻳَﻠْﻘَﻮْﻥَ ﻏَﻴًّﺎ

"Maka datanglah generasi setelah meraka, mereka mensia-siakan sholat dan mengikuti hawa nafsunya. Suatu saat nanti mereka akan menemui kesesatan(di neraka)" (QS Maryam: 59)

Al Ghay dalam ayat ini maksudnya adalah siksaan yang pedih yang dilipatgandakan, keburukan dan kerugian di neraka Jahanam. 'Iyadzu billah.
Mengerjakan sholat pada waktu-waktunya termasuk amalan yang dicintai Allah dan paling utama. Nabi shollallohu alaihi wa sallam pernah ditanya:

ﺃﻱُّ اﻟﻌﻤﻞ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ؟ ﻗﺎﻝ: (اﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﻭﻗﺘﻬﺎ

"Amalan apakah yang paling dicintai Alloh? Beliau menjawab: "Sholat pada waktunya"¹¹

Bersambung in syaa Alloh...

📚 Diterjemahkan dari Kitab Al-Fiqih Al-Muyassar fi Dhouil Kitabi was Sunnah hal 48-49.

Note:
1). Riwayat Muslim no 612.
2). Yaitu mendekati sholat Ashar.
3). Riwayat Muslim no 615, dan Al Bukhari no 533-534.
4). Muttafaqun alaih: Al Bukhari no 552 dan Muslim no 626, 201. Lafadz ini dari Imam Muslim. Arti ﻭﺗﺮ ﺃﻫﻠﻪ ﻭﻣﺎﻟﻪ : "keluarga dan hartanya dicabut (oleh Alloh) darinya"; atau dia kehilangan keluarga dan hartanya.
5. Riwayat Bukhari no 553.
6). Syafaq yaitu warna merah yang terlihat ketika matahari tenggelam sampai waktu Isya'. Warna merah ini terlihat setelah tenggelamnya matahari.
7). Riwayat Muslim no 173, 1/427. Ini bagian dari hadits tentang waktu-waktu sholat yang panjang.
8). Riwayat Ahmad 4/174, Abu Dawud no 418, Hakim 1/190-191 dan dia menshahihkannya berdasarkan syarat Imam Muslim dan Adz Dzahaby menyetujuinya.
9). Riwayat Muslim no 173. Ini bagian dari hadits tentang waktu-waktu sholat yang panjang.
10). Dikeluarkan oleh Imam Bukhari no 468 dan Muslim no 647.
11). Muttafaqun 'alaih.  Riwayat Bukhari no 527 dan Muslim no 85, 139.

Kamis, 19 Mei 2022

METODE YANG TEPAT DALAM MEMBERIKAN NASEHAT DAN BERDAKWAH

Pertanyaan:

Bagaimakah metode yang tepat dalam memberikan nasehat dan berdakwah?

Jawaban Syaikh bin Baz -rahimahulloh-:

Metode yang tepat dalam berdakwah dan memberikan nasehat adalah yang telah dijelaskan dan diperintahkan Alloh kepada para hambaNya untuk mengikutinya sebagaimana yang termaktub dalam Al Qur'an yang mulia. Allah berfirman:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

"Katakanlah kepada para hambaKu hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik"(QS Al Isra': 53)

FirmanNya:

 وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

"Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia" (QS Al Baqarah: 83)

FirmanNya:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ 

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (QS An Nahl: 125)

FirmanNya:

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ 

"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka"(QS Al Ankabut: 46)

Dan firmanNya kepada Nabinya Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- dalam surat Ali Imran:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu."(QS Ali Imran: 159)

Firman Alloh -ta'ala- tatkala mengutus Musa dan Harun kepada Fir'aun:

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut"."(QS Thaha: 44)

Dan Sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:

إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه ولا ينزع من شيء إلا شانه

"Sesungguhnya, kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah tercabut dari sesuatu kecuali akan memperburuknya" 

Dan do'a Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:

اللهم من ولي من أمر أمتي شيئًا فرفق بهم فارفق به، اللهم ومن ولي من أمر أمتي شيئًا فشق عليهم فاشقق عليه

"Ya, Alloh, barang siapa yang menjadi pemimpin apa pun bagi urusan umatku lalu dia berlaku lembut kepada mereka maka kasihani dia dan barang siapa yang menjadi pemimpin apa pun untuk urusan umatku lalu dia mempersulit mereka maka persulitlah dia" (Diriwayatkan Imam Muslim dalam shahihnya)

Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:

 الدين النصيحة، الدين النصيحة، الدين النصيحة، قيل: لمن يا رسول الله؟ قال: لله، ولكتابه، ولرسوله، ولأئمة المسلمين، وعامتهم

"Agama adalah nasehat, agama adalah nasehat, agama adalah nasehat" Ada yang bertanya: 'Untuk siapa wahai Rasululloh?'. Beliau menjawab: "Untuk Alloh, untuk kitabNya, untuk rasulNya, untuk para pemimpin kaum muslimin dan rakyatnya".

Ayat-ayat dan hadits-hadits yang semakna dengan ini sangatlah banyak. Menjadi keharusan bagi para ulama, pemimpin dan para da'i untuk menempuh metode yang telah dijelaskan oleh Alloh dan RasuNya -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Hendaknya mereka menasehati manusia dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan mereka dengan metode yang telah digariskan oleh Alloh -subhanahu wa ta'ala- dan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Barang siapa yang bertindak dzalim dan menentang serta tidak berpengaruh bimbingan dan nasehat ini maka wajib bagi pemimpin (kaum muslimin) menghukum dengan hukuman yang syar'i. Dan orang yang layak untuk mendapatkan hukuman had atau pun ta'zir maka haruslah diterapkan hukum Alloh kepadanya dengan perantara ulil Amri (pemimpin kaum muslimin) atau pun yang mewakilinya dalam hal ini, sebagai langkah pencegahan dan antisipasi hal serupa sekaligus sebagai penjagaan bagi masyarakat Islam dari segala bentuk unsur negatif.

Semoga Alloh meluruskan kesalahan serta memperbaiki hati dan amal kita, memberikan taufik kepada para pemimpin kepada hal-hal yang diridhaiNya dan memberikan kebaikan kepada para hambaNya, memperbaiki keadaan seluruh kaum muslimin, memberikan karunia pemahaman agama kepada mereka dan meneguhkan mereka di atas kebenaran. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

Semoga sholawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga serta shahabatnya.




الأسلوب المناسب للنصيحة والدعوة إلى الله

السؤال:

ما هو الأسلوب المناسب للنصيحة والدعوة إلى الله سبحانه؟

الجواب:

الأسلوب المناسب في الدعوة إلى الله والنصيحة هو الأسلوب الذي أرشد الله إليه، وأمر به عباده في كتابه الكريم في قوله سبحانه: وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ الآية [الإسراء:53]، وقوله : وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا [البقرة:83]، وقوله سبحانه: ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ [النحل:125]، وقوله سبحانه: وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ الآية [العنكبوت:46].

وقوله  يخاطب نبيه محمدًا ﷺ في آل عمران: فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ [آل عمران:159]، وقوله سبحانه لما بعث موسى وهارون إلى فرعون: فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى [طه:44]، وقول النبي ﷺ: إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه ولا ينزع من شيء إلا شانه، وقوله ﷺ: اللهم من ولي من أمر أمتي شيئًا فرفق بهم فارفق به، اللهم ومن ولي من أمر أمتي شيئًا فشق عليهم فاشقق عليه، أخرجه مسلم في صحيحه، وقوله ﷺ: الدين النصيحة، الدين النصيحة، الدين النصيحة، قيل: لمن يا رسول الله؟ قال: لله، ولكتابه، ولرسوله، ولأئمة المسلمين، وعامتهم.



والآيات والأحاديث في هذا المعنى كثيرة؛ فالواجب على العلماء والأمراء والدعاة إلى الله  أن ينهجوا هذا المنهج الذي أرشد الله إليه وأرشد إليه رسوله ﷺ. وأن ينصحوا الناس ويعالجوا مشاكلهم بالطريق التي أرشد الله إليها سبحانه وأرشد إليها رسوله ﷺ ومن ظلم واعتدى ولم ينفع فيه التوجيه والنصيحة وجب على ولاة الأمر أن يعاقبوه بالعقوبات الشرعية.

ومن ثبت عليه ما يوجب إقامة الحد أو التعزير وجب تنفيذ حكم الله فيه بواسطة أولي الأمر ومن يستنيبونه في ذلك ردعا له ولأمثاله وحماية للمجتمع الإسلامي من جميع أنواع الفساد.

سدد الله الخطا وأصلح القلوب والأعمال، ووفق أولي الأمر لكل ما فيه رضاه وصلاح عباده، وأصلح أحوال المسلمين جميعا ومنحهم الفقه في الدين وثبتهم على الحق إنه جواد كريم، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه[1].

هذا السؤال موجه لسماحته من جريدة عكاظ بمناسبة دخول شهر رمضان المبارك عام1413. (مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز 27/359).

Minggu, 27 Maret 2022

Fikih Muyassar : Ucapan orang yang mendengar adzan dan do'a setelah adzan

Bab Kedua: Adzan dan Iqomah.
Pembahasan Kelima: Ucapan orang yang mendengar adzan dan do'a setelah adzan
Orang yang mendengar adzan disunnahkan mengucapkan sebagaimana yang diucapkan Muadzin; berdasarkan hadits Abu Sa'id bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda:
ﺇﺫا ﺳﻤﻌﺘﻢ اﻟﻨﺪاء ﻓﻘﻮﻟﻮا ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻝ اﻟﻤﺆﺫﻥ
"Jika kalian mendengar adzan maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan muadzin"¹. 
Kecuali dalam hai'alatain, maka dianjurkan bagi orang yang mendengar adzan mengucapkan: ﻻَ ﺣَﻮْﻝَ ﻭَﻻَ ﻗُﻮَّﺓَ ﺇِﻻَّ ﺑِﺎﻟﻠﻪ "Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh" setelah Muadzin mengucapkan ﺣَﻲَّ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﻼﺓ "Marilah menunaikan sholat" dan demikian pula setelah mengucapkan ﺣَﻲَّ ﻋﻠﻰ اﻟﻔﻼﺡ "Marilah menuju kemenangan" berdasarkan hadits Umar bin Khothob dalam masalah ini².
Apabila ketika adzan sholat subuh Muadzin mengucapkan ِاﻟﺼَّﻼَﺓُ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦَ اﻟﻨَّﻮْﻡ "Sholat itu lebih utama dari pada tidur" maka pendengar adzan mengucapkan seperti itu juga. Dan lafadz ini tidak disunnahkan ketika iqamah. 

Kemudian bersholawat kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam; dilanjutkan berdo'a:
اﻟﻠﻬﻢ ﺭَﺏَّ ﻫﺬﻩ اﻟﺪﻋﻮﺓ اﻟﺘﺎﻣَّﺔِ ﻭاﻟﺼﻼﺓ اﻟﻘﺎﺋﻤﺔِ، ﺁﺕِ ﻣﺤﻤﺪاً اﻟﻮﺳﻴﻠﺔَ ﻭاﻟﻔﻀﻴﻠﺔَ، ﻭاﺑﻌﺜْﻪُ ﻣﻘﺎﻣﺎً ﻣﺤﻤﻮﺩاً اﻟﺬﻱ ﻭﻋﺪﺗﻪ
"Ya Alloh, Tuhan Pemilik seruan yang sempurna ini dan sholat yang ditegakkan; karuniakanlah kepada Muhammad Al-Wasilah dan keutamaan serta bangkitkanlah dia pada Maqam Mahmud (kedudukan yang terpuji) yang telah Engkau janjikan untuknya"³ 


Note:
1. Riwayat Al Bukhari no 621 dan Muslim no 1093.
2. Riwayat Muslim no 385.
3. Riwayat Bukhari no 614 dan di dalamnya ada lafadz:
ﺃﻥ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﺫﻟﻚ ﺣﻠﺖ ﻟﻪ ﺷﻔﺎﻋﺔ اﻟﻨﺒﻲ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ - ﻳﻮﻡ اﻟﻘﻴﺎﻣﺔ.
"Bahwa orang yang mengucapkan demikian maka wajib baginya mendapatkan syafaat Nabi shollallohu alaihi wa sallam pada hari kiamat"
 
اﻟﻤﺴﺄﻟﺔ اﻟﺨﺎﻣﺴﺔ: ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻟﻪ ﺳﺎﻣﻊ اﻷﺫاﻥ، ﻭﻣﺎ ﻳﺪﻋﻮ ﺑﻪ ﺑﻌﺪﻩ:
ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻟﻤﻦ ﺳﻤﻊ اﻷﺫاﻥ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻝ اﻟﻤﺆﺫﻥ؛ ﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﺳﻌﻴﺪ ﺃﻥ اﻟﻨﺒﻲ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ - ﻗﺎﻝ: (ﺇﺫا ﺳﻤﻌﺘﻢ اﻟﻨﺪاء ﻓﻘﻮﻟﻮا ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻝ اﻟﻤﺆﺫﻥ) (5) . ﺇﻻ ﻓﻲ اﻟﺤَﻴْﻌَﻠَﺘَﻴْﻦ، ﻓﻴﺸﺮﻉ ﻟﺴﺎﻣﻊ اﻷﺫاﻥ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ: "ﻻ ﺣﻮﻝ ﻭﻻ ﻗﻮﺓ ﺇﻻ ﺑﺎﻟﻠﻪ" ﻋﻘﺐ ﻗﻮﻝ اﻟﻤﺆﺫﻥ: ﺣَﻲَّ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﻼﺓ، ﻭﻛﺬا ﻋﻘﺐ ﻗﻮﻟﻪ: ﺣَﻲَّ ﻋﻠﻰ اﻟﻔﻼﺡ؛ ﻟﺤﺪﻳﺚ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ اﻟﺨﻄﺎﺏ - ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ - ﻓﻲ ﺫﻟﻚ (6) .
ﻭﺇﺫا ﻗﺎﻝ اﻟﻤﺆﺫﻥ ﻓﻲ ﺻﻼﺓ اﻟﺼﺒﺢ: اﻟﺼﻼﺓ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ اﻟﻨﻮﻡ، ﻓﺈﻥ اﻟﻤﺴﺘﻤﻊ ﻳﻘﻮﻝ ﻣﺜﻠﻪ، ﻭﻻ ﻳُﺴَﻦُّ ﺫﻟﻚ ﻋﻨﺪ اﻹﻗﺎﻣﺔ.
ﺛﻢ ﻳﺼﻠﻲ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺒﻲ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ -، ﺛﻢ ﻳﻘﻮﻝ: "اﻟﻠﻬﻢ ﺭَﺏَّ ﻫﺬﻩ اﻟﺪﻋﻮﺓ اﻟﺘﺎﻣَّﺔِ ﻭاﻟﺼﻼﺓ اﻟﻘﺎﺋﻤﺔِ، ﺁﺕِ ﻣﺤﻤﺪاً اﻟﻮﺳﻴﻠﺔَ ﻭاﻟﻔﻀﻴﻠﺔَ، ﻭاﺑﻌﺜْﻪُ ﻣﻘﺎﻣﺎً ﻣﺤﻤﻮﺩاً اﻟﺬﻱ ﻭﻋﺪﺗﻪ" (7)


(5) ﺭﻭاﻩ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﺑﺮﻗﻢ (621) ، ﻭﻣﺴﻠﻢ ﺑﺮﻗﻢ (1093) .
(6) ﺃﺧﺮﺟﻪ ﻣﺴﻠﻢ ﺑﺮﻗﻢ (385) .
(7) ﺃﺧﺮﺟﻪ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﺑﺮﻗﻢ (614) ، ﻭﻓﻴﻪ: ﺃﻥ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﺫﻟﻚ ﺣﻠﺖ ﻟﻪ ﺷﻔﺎﻋﺔ اﻟﻨﺒﻲ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ - ﻳﻮﻡ اﻟﻘﻴﺎﻣﺔ.

Sabtu, 26 Maret 2022

Fikih Muyassar: Sifat Adzan dan Iqomah

Bab Kedua: Adzan dan Iqomah.
Pembahasan Keempat: Sifat Adzan dan Iqomah 
Tata cara adzan dan Iqomah: 
Adzan dan Iqomah memiliki tatacara yang telah dijelaskan oleh nash-nash nabawiyah. Di antaranya adalah hadits Abu Mahdzurah bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam mengajarinya adzan secara pribadi; beliau bersabda: Kau ucapkan:

اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ؛ اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ
 أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ؛ أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ
اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ؛ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ؛
لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ
Artinya
Alloh Maha besar, Alloh Maha besar (2x)
Aku bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Alloh (2x)
Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Alloh (2x)
Marilah menegakkan sholat (2x) 
Marilah menuju kemenangan (2x)
Alloh Maha besar Alloh Maha besar (1x)
Tiada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Alloh (1x)¹

Adapun lafadz iqamah yaitu:
اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ
أَشْهَدُ اَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّااللهُ
اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ
حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ
قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ ،قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ
اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ
لَاإِلٰهَ إِلاَّاللهُ
Artinya:
"Alloh Maha besar, Alloh Maha besar;
Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Alloh,
Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Alloh;
Marilah menuju sholat;
Marilah menuju kemenangan;
Sholat telah ditegakkan, sholat telah ditegakkan;
Alloh Maha besar, Alloh Maha besar,
Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Alloh".

Hal ini berdasarkan hadist Anas radhiyallohu anhu.
ﺃﻣﺮ ﺑﻼﻝٌ ﺃﻥ ﻳﺸﻔﻊ اﻷﺫاﻥ، ﻭﺃﻥ ﻳﻮﺗﺮ اﻹﻗﺎﻣﺔ ﺇﻻ اﻹﻗﺎﻣﺔ
"Bilal diperintahkan untuk menggenapkan adzan dan mengganjilkan iqamah kecuali lafadz iqamah" ²

Sehingga kalimat adzan dua kali dua kali sedangkan lafadz iqamah sekali sekali kecuali ucapan "Qad Qaamatis sholah" dibaca dua kali berdasarkan hadits terdahulu.
 
Ini adalah sifat adzan dan iqamah yang dianjurkan sebab Bilal mengumandangkan adzan baik mukim maupun dalam perjalanan bersama Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam hingga beliau wafat. 
Jika Muadzin mentarji'³ dalam adzan atau menggenapkan iqamah maka ini tidak mengapa sebab ini masuk ranah ikhtilaf(beda pendapat) yang diperbolehkan. Dan di sunnahkan pada adzan subuh setelah mengucapkan "Hayya alal Falaah" melantunkan   اﻟﺼﻼﺓ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ اﻟﻨﻮﻡ (ash Sholaatu khoirum  minan nauum)⁴ "Sholat itu lebih utama dari pada tidur" dua kali sebagaimana yang diriwayatkan Abu Mahdzurah bahwa Rasululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda kepadanya:
ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺃﺫاﻥ اﻟﺼﺒﺢ ﻗﻠﺖ: اﻟﺼﻼﺓ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ اﻟﻨﻮﻡ
"Jika pada adzan Subuh maka engkau ucapkan: ash Sholaatu khoirum  minan nauum (Sholat itu lebih utama dari pada tidur)"⁵.


__________

Note:
1. Diriwayatkan Abu Dawud no 503, Ibnu Majah no 708 dan dishahihkan Syaikh Al Albani ( Sahih Sunan Ibnu Mamah no 581)
2. Diriwayatkan Al Bukhari no 605 dan Muslim no 378, dan lafadz ini milik Al Bukhari.
3. Tarjih yaitu mengulang. Yaitu, merendahkan suaranya di dua kalimat syahadat kemudian mengulanginya dengan suara tinggi sebagaimana yang diriwayatkan Abu Dawud no 503.
4. Yaitu At Tatswib dari kata ﺛﺎﺏ ﻳﺜﻮﺏُ artinya kembali. Tatkala Muadzin mengucapkan kalimat ini di sholat subuh maka dia kembali darinya kepada ucapan yang mengandung anjuran untuk Segera menuju sholat.
5. Diriwayatkan An Nasa'i (2/7, 8) dan dishahihkan syaikh Al Albani (Sahih Sunan An Nasai  no 628).


اﻟﻤﺴﺄﻟﺔ اﻟﺮاﺑﻌﺔ: ﻓﻲ ﺻﻔﺔ اﻷﺫاﻥ ﻭاﻹﻗﺎﻣﺔ:
ﻛﻴﻔﻴﺔ اﻷﺫاﻥ ﻭاﻹﻗﺎﻣﺔ: ﻭﻟﻬﻤﺎ ﻛﻴﻔﻴﺎﺕ ﻭﺭﺩﺕ ﺑﻬﺎ اﻟﻨﺼﻮﺹ اﻟﻨﺒﻮﻳﺔ، ﻭﻣﻨﻬﺎ ﻣﺎ ﺟﺎء ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻣﺤﺬﻭﺭﺓ، ﺃﻥ اﻟﻨﺒﻲ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ - ﻋﻠﻤﻪ اﻷﺫاﻥ ﺑﻨﻔﺴﻪ، ﻓﻘﺎﻝ: (ﺗﻘﻮﻝ: اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ، اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ، اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ، اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ، ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ، ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ، ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪاً ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪاً ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، ﺣَﻲَّ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﻼﺓ، ﺣَﻲَّ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﻼﺓ، ﺣَﻲَّ ﻋﻠﻰ اﻟﻔﻼﺡ، ﺣَﻲَّ ﻋﻠﻰ اﻟﻔﻼﺡ، اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ، اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ، ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ) (2) .
ﻭﺃﻣﺎ ﺻﻔﺔ اﻹﻗﺎﻣﺔ ﻓﻬﻲ: (اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ، ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ، ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪاً ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، ﺣَﻲَّ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﻼﺓ، ﺣَﻲَّ ﻋﻠﻰ اﻟﻔﻼﺡ، ﻗﺪ ﻗﺎﻣﺖ اﻟﺼﻼﺓ ﻗﺪ ﻗﺎﻣﺖ اﻟﺼﻼﺓ، اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ، ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ) ؛ ﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﻧﺲ - ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ -

ﻗﺎﻝ: (ﺃﻣﺮ ﺑﻼﻝٌ ﺃﻥ ﻳﺸﻔﻊ اﻷﺫاﻥ، ﻭﺃﻥ ﻳﻮﺗﺮ اﻹﻗﺎﻣﺔ ﺇﻻ اﻹﻗﺎﻣﺔ) (1) .
ﻓﺘﻜﻮﻥ ﻛﻠﻤﺎﺕ اﻷﺫاﻥ ﻣﺮﺗﻴﻦ ﻣﺮﺗﻴﻦ، ﻭﻛﻠﻤﺎﺕ اﻹﻗﺎﻣﺔ ﻣﺮﺓ ﻣﺮﺓ، ﺇﻻ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ: (ﻗﺪ ﻗﺎﻣﺖ اﻟﺼﻼﺓ) ﻓﺘﻜﻮﻥ ﻣﺮﺗﻴﻦ؛ ﻟﻠﺤﺪﻳﺚ اﻟﻤﺎﺿﻲ.
ﻓﻬﺬﻩ ﺻﻔﺔ اﻷﺫاﻥ ﻭاﻹﻗﺎﻣﺔ اﻟﻤﺴﺘﺤﺒﺔ؛ ﻷﻥ ﺑﻼﻻً ﻛﺎﻥ ﻳﺆﺫﻥ ﺑﻪ ﺣﻀﺮاً ﻭﺳﻔﺮاً ﻣﻊ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ - ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻣﺎﺕ. ﻭﺇﻥ ﺭَﺟﻊ (2) ﻓﻲ اﻷﺫاﻥ، ﺃﻭ ﺛﻨَّﻰ اﻹﻗﺎﻣﺔ، ﻓﻼ ﺑﺄﺱ؛ ﻷﻧﻪ ﻣﻦ اﻻﺧﺘﻼﻑ اﻟﻤﺒﺎﺡ. ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﺃﺫاﻥ اﻟﺼﺒﺢ ﺑﻌﺪ ﺣَﻲَّ ﻋﻠﻰ اﻟﻔﻼﺡ: اﻟﺼﻼﺓ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ اﻟﻨﻮﻡ (3) ﻣﺮﺗﻴﻦ؛ ﻟﻤﺎ ﺭﻭﻯ ﺃﺑﻮ ﻣﺤﺬﻭﺭﺓ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ - ﻗﺎﻝ ﻟﻪ: (ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺃﺫاﻥ اﻟﺼﺒﺢ ﻗﻠﺖ: اﻟﺼﻼﺓ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ اﻟﻨﻮﻡ) (4) .

(2) ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺑﻮ ﺩاﻭﺩ ﺑﺮﻗﻢ (503) ، ﻭاﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﺑﺮﻗﻢ (708) ، ﻭﺻﺤﺤﻪ اﻷﻟﺒﺎﻧﻲ (ﺻﺤﻴﺢ ﺳﻨﻦ اﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﺑﺮﻗﻢ 581) .

(1) ﺃﺧﺮﺟﻪ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﺑﺮﻗﻢ (605) ، ﻭﻣﺴﻠﻢ ﺑﺮﻗﻢ (378) ﻭاﻟﻠﻔﻆ ﻟﻠﺒﺨﺎﺭﻱ.
(2) اﻟﺘﺮﺟﻴﻊ: اﻟﺘﺮﺩﻳﺪ، ﺑﻤﻌﻨﻰ ﺃﻧﻪ ﻳﺨﻔﺾ ﺻﻮﺗﻪ ﻓﻲ اﻟﺸﻬﺎﺩﺗﻴﻦ، ﺛﻢ ﻳﻌﻴﺪﻫﻤﺎ ﺑﺮﻓﻊ اﻟﺼﻮﺕ، ﻛﻤﺎ ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺑﻮ ﺩاﻭﺩ ﺑﺮﻗﻢ (503) .
(3) ﻭﻫﻮ اﻟﺘﺜﻮﻳﺐ، ﻣﻦ ﺛﺎﺏ ﻳﺜﻮﺏُ: ﺇﺫا ﺭﺟﻊ، ﻓﺎﻟﻤﺆﺫﻥ ﺣﻴﻦ ﻳﻘﻮﻝ ﻫﺬﻩ اﻟﺠﻤﻠﺔ ﻓﻲ ﺻﻼﺓ اﻟﺼﺒﺢ، ﻓﻬﻮ ﺭﺟﻮﻉ ﻣﻨﻪ ﺇﻟﻰ ﻛﻼﻡ ﻓﻴﻪ اﻟﺤﺚ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﺒﺎﺩﺭﺓ ﺇﻟﻰ اﻟﺼﻼﺓ.
(4) ﺃﺧﺮﺟﻪ اﻟﻨﺴﺎﺋﻲ (2/7، 8) ، ﻭﺻﺤﺤﻪ اﻷﻟﺒﺎﻧﻲ (ﺻﺤﻴﺢ ﺳﻨﻦ اﻟﻨﺴﺎﺋﻲ ﺑﺮﻗﻢ 628) .

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)