“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Tampilkan postingan dengan label musthalah hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musthalah hadits. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Januari 2024

Hadits Ahad: Definisi dan Klasifikasinya Berdasarkan Banyaknya Jalur Periwayatan dan Derajad Keshahihannya

(Diterjemahkan dari Mushtalahul Hadits Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahulloh hal 9-12)

Hadits Ahad

Definisinya: hadits Ahad adalah selain hadits mutawatir.

Berdasarkan jalur periwayatannya terbagi tiga, yaitu: Masyhur, Aziz, dan Gharib.


A. HADITS MASYHUR

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi atau lebih1 namun tidak sampai pada tingkat mutawatir.

Misalnya sabda Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam:

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده

"Muslim yang baik adalah muslim yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisannya maupun tangannya" (HR Bukhari dan Muslim)

B. HADITS AZIZ

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh dua perawi saja.

Misalnya sabda Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين

"Salah seorang di antara kalian tidaklah dikatakan beriman hingga menjadikan aku lebih dia cintai dari pada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya" (HR Bukhari dan Muslim)


C. HADITS GHARIB

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh satu orang rawi saja.

Misalnya adalah sabda Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam:

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى ...

"Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang diniatkannya" (HR Bukhari dan Muslim)


Hadits ini hanya Umar bin Khatab Radhiyallohu 'anhu yang meriwayatkannya dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, yang meriwayatkan dari Umar cuma Alqamah bin Abi Waqqash, yang meriwayatkan dari Alqamah cuma Muhammad bin Ibrahim At Taimy, dan yang meriwayatkan dari Muhammad hanya Yahya bin Sa'id Al Anshary. Semuanya dari kalangan Tabi'in. Kemudian dari Yahya banyak orang yang meriwayatkannya.


Pembagian Hadits Ahad berdasarkan derajadnya terbagi menjadi 5 tingkatan: Shahih Li Dzatihi, Shahih Li Ghairihi, Hasan Li Dzatihi, Hasan Li Ghairihi, dan Dha'if.


A. SHAHIH LI DZATIHI

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang 'adil, kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak terdapat syadz dan illat yang tercela.

Misalnya adalah sabda Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam:

من يرد الله به خيراً يفقهه في الدين

"Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam masalah agama"(HR Bukhari dan Muslim)


Keshahihan hadits bisa diketahui dari tiga hal berikut:

Pertama: Hadits tersebut tercantum dalam kitab hadits yang terakui keshahihannya, apabila penulisnya adalah ulama yang ucapannya dijadikan rujukan dalam penshahihan. Misalnya Shahih Bukhari dan Muslim.

Kedua: hadits tersebut dishahihkan oleh seorang pakar hadits yang ucapannya dijadikan rujukan dalam penshahihan hadits dan tidak terkenal bermudah-mudahan dalam menshahihkannya.

Ketiga: Meneliti para rawi dan cara periwayatannya. Jika terpenuhi syarat-syarat keshahihannya maka dihukumi sebagai hadits shahih.

B. SHAHIH LIGHAIRIHI

Yaitu hadits Hasan lidzatihi yang memiliki jalur periwayatan yang banyak.

Misalnya adalah hadits Abdullah bin 'Amr bin Al Ash Radhiyallahu 'anhuma bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memerintahkannya menyiapkan pasukan lalu kekurangan unta. Lalu Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan:

ابتع علينا إبلاً بقلائص من قلائص الصدقة إلى محلها

"Belilah unta dengan unta-unta muda dari zakat hingga zakat itu sampai pada tempatnya"

Kemudian dia mengambil satu unta dengan ditukar 2 dan 3 unta (muda).

Imam Ahmad meriwayatkan dari jalan Muhammad bin Ishaq,Al Baihaqi meriwayatkan dari jalur Amr bin Syu'aib. Masing-masing jalur periwayatan derajatnya Hasan, jika dikumpulkan keduanya menjadi hadits shahih lighairihi. Dinamakan shahih lighairihi karena jika ditinjau dari masing-masing jalur periwayatan tidak sampai derajad shahih. Namun ketika ditinjau dari dua jalur secara keseluruhan menjadi kuat sehingga mencapai derajad shahih.


C. HASAN LIDZATIHI

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para perawi yang adil dengan hafalan yang kurang kuat, dengan sanad bersambung, serta selamat dari syadz dan 'illat qadihah (cacat tersembunyi yang parah). Tidak ada perbedaan antara Hasan lidzatihi dengan shahih lidzatihi kecuali dalam persyaratan sempurnanya hafalan yang harus terpenuhi dalam hadits shahih, sedangkan dalam hadits Hasan kualitas hafalannya di bawah hadits shahih.

Misalnya adalah sabda Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam:

مفتاح الصلاة الطهور وتحريمها التكبير وتحليلها التسليم

"Kunci shalat adalah dengan bersuci, dan pengharamannya adalah takbiratul ihram, dan penghalalannya adalah salam".

Dan di antara hadits yang diduga kuat derajad Hasan adalah yang diriwayatkan Abu Dawud secara bersendirian sebagaimana yang dikatakan Ibnu Shalah.

4. HASAN LIGHAIRIHI

Yaitu hadits dha'if yang memiliki jalur periwayatan yang banyak yang saling menguatkan antara satu dengan lainnya dengan syarat tidak ada perawi kadzab (pendusta) atau dituduh kadzab. Misalnya hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu 'anhu. Beliau berkata:

كان النبي صلّى الله عليه وسلّم إذا مد يديه (٣) في الدعاء لم يردهما حتى يمسح بهما وجهه

"Dahulu Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam jika mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, beliau tidak mengembalikannya hingga mengusapkannya kenwajahnya"

Dikeluarkan oleh at Tirmidzi. Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Maram: hadits ini memiliki penguat-penguat (syawahid) dalam riwayat Abu Dawud dan selainnya. Keseluruhan riwayatnya menjadikan hadits ini menjadi Hasan.

Disebut hadits Hasan lighairihi karena jika ditinjau dari masing-masing jalur periwayatan tidak sampai derajad Hasan, namun ketika dilihat secara keseluruhan jalur periwayatannya menjadi kuat hingga mencapai dejad Hasan.

5. HADITS DHA'IF

Yaitu hadits yang tidak memenuhi syarat shahih dan Hasan.

Misalnya adalah hadits:

احترسوا من الناس بسوء الظن

"Berhati-hatilah kalian dari manusia dengan berprasangka buruk".

Di antara hadits yang diduga sebagai hadits lemah adalah hadits yang diriwayatkan secara bersendirian oleh Al 'Uqaily, Ibnu 'Ady, Al Khatib Al Baghdady, Ibnu 'Asakir dalam Tarikhnya, ad Dailamy dalam Musnad Al Firdaus, at Tirmidzi Al Hakim dalam Nawaridul Ushul -bukan penulis Sunan at Tirmidzi-, Al Hakim, dan Ibnu Jarud dalam tarikh keduanya.


Note:

1. Di setiap thabaqahnya (tingkatannya)

Senin, 02 November 2020

Mushtalahul Hadits(2): Pembagian Kabar Berdasarkan Jalur Periwayatannya: Hadits Mutawatir


Diterjemahkan dari kitab Mushtalahul Hadits karya Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahulloh-

Pembagian khabar berdasarkan jalur periwayatannya yang sampai kepada kita. Berdasarkan jalur periwayatannya kepada kita, khabar terbagi dua macam: Mutawatir dan Ahad.

PERTAMA: MUTAWATIR
Definisi, pembagian beserta contohnya dan faidahnya.

A. Definisi Mutawatir

ما رواه جماعة يستحيل في العادة أن يتواطؤوا على الكذب، وأسندوه إلى شيء محسوس.
Mutawatir yaitu hadits yang diriwayatkan jamaah yang secara kebiasaan mereka mustahil untuk bersepakat untuk berdusta; dan hadits ini disandarkan kepada sesuatu yang dapat diindera.

B. Mutawatir terbagi dua yaitu mutawatir secara lafadz dan makna, dan mutawatir secara makna saja.
1. Mutawatir secara lafadz dan makna yaitu yang para periwayat bersepakat pada hadits tersebut dari segi lafadz dan maknanya.
Misalnya hadits Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
من كذب عليَّ مُتعمداً فليتبوَّأ مقعدَه من النار
"Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mengambil tempat duduknya dari neraka"(HR Bukhari dan Muslim)
Hadits ini telah diriwayatkan lebih dari enam puluh shahabat di antaranya adalah sepuluh shahabat yang dijamin surga. Dan diriwayatkan dari para shahabat ini oleh banyak orang.
2. Mutawatir secara makna: yaitu hadits yang para periwayatnya bersepakat (sama) dalam maknanya yang global namun masing-masing hadits berbeda-beda dengan lafadznya yang khusus. Misalnya hadits tentang syafaat, mengusap dua khuf(sepatu). Sebagian ulama merangkumnya salam syair:
مما تواترَ حديثُ مَنْ كَذَبْ
وَمَنْ بَنَى للهِ بيتاً واحْتَسَبْ
ورؤيةٌ شَفَاعَةٌ والْحَوضُ
وَمْسُحُ خُفَّيْنِ وَهذى بَعْضُ
"Di antara hadits yang mutawatir adalah hadits مَنْ كَذَبْ dan hadits وَمَنْ بَنَى للهِ بيتاً واحْتَسَبْ dan hadits ru'yah (melihat Alloh bagi penghuni surga), syafaat, telaga Nabi, mengusap dua sepatu dan di antaranya saja"

Hadits Mutawatir dengan pembagiannya ini memberi faidah:
Pertama: berfaidah Ilmu, yaitu kepastian benarnya penisbatan hadits kepada orang yang diambil haditsnya.
Kedua: Beramal dengan kandungannya dengan membenarkannya jika berupa kabar dan mempraktekkannya jika berupa tuntutan (mengerjakannya).

أقسام الخبر باعتبار طرق نقله إلينا:
ينقسم الخبر باعتبار طرق نقله إلينا إلى قسمين: متواتر وآحاد.

الأول - المتواتر:
أ - تعريفه ب - أقسامه مع التمثيل ج - ما يفيده:
أ - المتواتر:
ما رواه جماعة يستحيل في العادة أن يتواطؤوا على الكذب، وأسندوه إلى شيء محسوس.
ب - وينقسم المتواتر إلى قسمين:
متواتر لفظاً ومعنىً، ومتواتر معنىً فقط.
فالمتواتر لفظاً ومعنى: ما اتفق الرواة فيه على لفظه ومعناه.
مثاله: قوله صلّى الله عليه وسلّم: "من كذب عليَّ مُتعمداً فليتبوَّأ مقعدَه من النار" (١) . فقد رواه عن النبي صلّى الله عليه وسلّم أكثر من ستين صحابيًّا، منهم العشرة المبشرون بالجنة، ورواه عن هؤلاء خلق كثير.
والمتواتر معنى: ما اتفق فيه الرواة على معنىً كلي، وانفرد كل حديث بلفظه الخاص.
مثاله: أحاديث الشفاعة، والمسح على الخفين، ولبعضهم:
مما تواترَ حديثُ مَنْ كَذَبْ
وَمَنْ بَنَى للهِ بيتاً واحْتَسَبْ
ورؤيةٌ شَفَاعَةٌ والْحَوضُ
وَمْسُحُ خُفَّيْنِ وَهذى بَعْضُ

جـ - والمتواتر بقسميه يفيد:
أولاً: العلم: وهو: القطع بصحة نسبته إلى من نقل عنه.
ثانياً: العمل بما دل عليه بتصديقه إن كان خبراً، وتطبيقه إن كان طلباً.


(١) انظر: البخاري (١٢٩١) كتاب الجنائز، ٣٤- باب ما يكره من النياحة على الميت ... عن المغيرة. وهو في البخاري أيضا (١١٠) كتاب العلم، ٣٨- باب إثم من كذب على النبي صلى الله عليه وسلم. ومسلم (٣) المقدمة، ٢- باب تغليظ الكذب على رسول الله صلى الله عليه وسلم. وقارن مع كلام الحافظ في << فتح الباري>> (١/٢٠٣- فما بعد) .
  

Minggu, 25 Oktober 2020

Mushtalahul Hadits(1): Definisi dan Manfaat Mempelajari Ilmu Mustholah Hadits


Diterjemahkan dari kitab Mushtalahul Hadits karya Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahulloh-

Bagian Pertama dari kitab Musthalahul Hadits
Musthalah Hadits:
1. Definisinya
2. Manfaatnya

A. Definisi Mushtalah hadits
علم يعرف به حال الراوي والمروي من حيث القَبول والرد.
"Ilmu untuk mengetahui keadaan rawi(periwayat hadits) dan yang diriwayatkan dari sisi diterima atau pun ditolaknya.

B. Manfaatnya:
معرفة ما يقبل ويرد من الراوي والمروي
Mengetahui rawi dan riwayat mana yang bisa diterima dan ditolak.

Hadits, Khabar, Atsar dan Hadits Qudsi
Hadits: segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- berupa ucapan, perbuatan, ketetapan maupun sifat.
Khabar: semakna dengan hadits; didefinisikan sebagaimana definisi hadits.
Dan ada yang mengatakan bahwa khabar adalah apa yang disandarkan kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan juga disandarkan kepada selain beliau sehingga lebih umum dan lebih luas dari pada hadits.

Atsar: segala sesuatu yang disandarkan kepada para shahabat atau tabi'in. Dan terkadang juga dimaksudkan untuk hal-hal yang disandarkan kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dengan taqyid (catatan bahwa itu berasal dari beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam) dengan dikatakan: "Dan dalam atsar yang diriwayatkan dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-..."
Hadits Qudsi: sesuatu yang diriwayatkan oleh Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dari Alloh -ta'ala-. Disebut juga dengan hadits Rabbany dan hadits ilahiy.
Misalnya sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-yang diriwayatkan dari Rabb-nya -ta'ala- bahwa Dia berfirman:
أنا عند ظن عبدي بي، وأنا معه حين يذكرني، فإن ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي، وإن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير منهم
"Sesungguhnya Aku sebagaimana prasangka hambaKu kepadaKu. Aku bersamanya ketika ia mengingatKu. Jika dia menyebutKu dalam diriNya maka Aku menyebutnya dalam diriKu. Jika dia menyebutKu dalam kumpulan orang banyak maka aku menyebutnya dalam kumpulan yang lebih baik dari mereka" (HR Bukhari dan Muslim)

Kedudukan hadits Qudsi berada di antara Al-Qut'an dan Hadits Nabawi. Al-Qur'anul Karim dinisbatkan kepada Alloh -ta'ala- baik secara lafadz dan makna. Hadits Nabawi disandarkan kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- secara lafadz dan makna. Sedangkan hadits Qudsi dinisbatkan kepada Alloh -ta'ala- secara makna namun tidak secara lafadz. Oleh karenanya tidak terhitung ibadah dengan membaca lafadz-lafadznya, tidak dibaca dalam sholat dan tidak ada tantangan kepada orang kafir (untuk membuat yang sepadan dengannya sebagaimana tantangan pada ayat-ayat Qur'an -pent.), tidaklah dinukil secara mutawatir sebagaimana Al-Qur'an bahkan dalam hadits Qudsi ada yang shohih, dhaif (lemah) dan maudhu'(palsu).

القسم الأول من كتاب (مصطلح الحديث)
مصطلح الحديث:
أ - تعريفه ب - فائدته:
أ - مصطلح الحديث:
علم يعرف به حال الراوي والمروي من حيث القَبول والرد.
ب - وفائدته:
معرفة ما يقبل ويرد من الراوي والمروي.
الحديث - الخبر - الأثر - الحديث القدسي:
الحديث: ما أضيف إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم من قول، أو فعل، أو تقرير، أو وصف.
الخبر: بمعنى الحديث؛ فَيُعَرَّف بما سبق في تعريف الحديث.
وقيل: الخبر ما أضيف إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم وإلى غيره؛ فيكون أعم من الحديث وأشمل.
الأثر: ما أضيف إلى الصحابي أو التابعي، وقد يراد به ما أضيف إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم مقيداً فيقال: وفي الأثر عن النبي صلّى الله عليه وسلّم.
الحديث القدسي: ما رواه النبي صلّى الله عليه وسلّم عن ربه - تعالى -، ويسمى أيضاً (الحديث الرباني) و (الحديث الإلهي)
مثاله: قوله صلّى الله عليه وسلّم فيما يرويه عن ربه - تعالى - أنه قال: "أنا عند ظن عبدي بي، وأنا معه حين يذكرني، فإن ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي، وإن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير منهم" (١)
ومرتبة الحديث القدسي بين القرآن والحديث النبوي، فالقرآن الكريم ينسب إلى الله تعالى لفظاً ومعنىً، والحديث النبوي ينسب إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم لفظاً ومعنىً (٢) ، والحديث القدسي ينسب إلى الله تعالى معنىً لا لفظاً، ولذلك لا يتعبد بتلاوة لفظه، ولا يقرأ في الصلاة، ولم يحصل به التحدي، ولم ينقل بالتواتر كما نقل القرآن، بل منه ما هو صحيح وضعيف وموضوع.

(١) رواه البخاري (٧٤٠٥) كتاب التوحيد، ١٥- باب قول الله تعالى: (ويحذركم الله نفسه) (آل عمران: ٢٨) . ومسلم (٢٦٧٥) كتاب الذكر والدعاء والتوبة والاستغفار، ١- باب الحث على ذكر الله تعالى.
(٢) يستثنى من ذلك ما علم أن النبي صلى الله عليه وسلم قاله بالوحي كالإخبار عن المغيبات في المستقبل، وكما في حديث يعلى بن أمية في الذي سأل النبي صلى الله عليه وسلم عمن أحرم بالعمرة وهو متضمخ بطيب، فسكت النبي صلى الله عليه وسلم حتى جاءه الوحي بذلك، فمثل هذا ينسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم لفظاً لا معنى (المؤلف) .
  

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)