“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Tampilkan postingan dengan label Ushul Tsalaatsah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ushul Tsalaatsah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Januari 2023

Allah saja Yang Berhak Diibadahi

 Diterjemahkan dari Syarah Al Ushul Ats Tsalatsah  Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahulloh hal 24-25.


Penulis rahimahullah berkata:

وَالرَّبُ هُوَ الْمَعْبُودُ (١) ، وَالدَّلِيلُ (٢) قَوْلُهُ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا النَّاسُ (٣) اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ (٤) وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (٥) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشاً (٦) وَالسَّمَاءَ بِنَاءً (٧) وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً (٨) فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَكُمْ (٩) فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَاداً (١٠) وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ} (١١) [سورة البقرة، الآيتين: ٢٠-٢١] .

قَالَ ابْنُ كَثِيرٍ - رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى (١٢) _: "الخَالِقُ لهذه الأشياء هو المستحق للعبادة "

Rabb Dialah Ma'bud (yang diibadahi) (1), dalilnya (2) firman Allah ta'ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ * ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ


"Wahai manusia!(3) Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu(4) dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa(5). (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan(6) bagimu dan langit sebagai atap(7), dan Dialah menurunkan air (hujan)(8) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu(9). Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan(10) bagi Allah, padahal kamu mengetahui(11)". (Al Baqarah: 21-22)


Ibnu Katsir(12) rahimahullah berkata: "Pencipta segala sesuatu yang ada ini, Dialah yang layak untuk diibadahi".


_______________

Penjelasan:

(1). Penulis rahimahullah mengisyaratkan kepada firman Allah ta'ala :

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثاً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ


"Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayan di atas Arasy.Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan perintah menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam". (Al A'raf: 54)

(2). Maksudnya dalil bahwa Rabb (Tuhan) adalah yang layak diibadahi.

(3). Seruan yang ditujukan kepada seluruh manusia dari anak keturunan Adam. Allah 'azza wa jalla memerintahkan kepada mereka untuk beribadah hanya kepadaNya yang tiada sekutu bagiNya. 

(4). FirmanNya: الَّذِي خَلَقَكُم (yang telah menciptakan kalian), ini adalah sifat yang menjelaskan sebab pernyataan sebelumnya, yaitu sembahlah Dia karena Dia-lah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian. Oleh karena Dia adalah Tuhan yang Menciptakan maka wajib bagimu untuk beribadah hanya kepadaNya. Berdasarkan hal ini, kita katakan, wajib bagi orang yang menetapkan Rububiyah Allah untuk beribadah kepadanya saja, jika tidak maka dia telah melakukan hal yang bertentangan.

(5). Maksudnya adalah agar kalian memperoleh ketakwaan. Takwa yaitu mengupayakan penjagaan dari siksa Allah 'azza wa jalla dengan mengikuti perintah-perintahNya dan menjauhi larangan - laranganNya. 

(6). Yaitu Allah menjadikannya hamparan sehingga kita bisa bersenang-senang di atasnya tanpa ada kesulitan dan keletihan sebagaimana orang yang tidur di atas pembaringannya.

(7). Yaitu di atas kita, karena atap berada di atas. Langit menjadi atap bagi penduduk bumi, yaitu atap yang terpelihara, sebagaimana firman Allah ta'ala:

وَجَعَلْنَا السَّمَاءَ سَقْفاً مَحْفُوظاً وَهُمْ عَنْ آيَاتِهَا مُعْرِضُونَ

"Dan Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara, namun mereka tetap berpaling dari tanda-tanda (kebesaran Allah) itu (matahari, bulan, angin, awan, dan lain-lain)." (Al Anbiya': 32)

(8). Yaitu Allah menurunkan air yang suci dari tempat yang tinggi yaitu dari awan. Sebagaimana firman Allah ta'ala:

لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ

"sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternak kamu." (An Nahl: 10)

(9). Maksudnya sebagai pemberian untuk kalian. Dan dalam ayat yang lain:

مَتَاعاً لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ

"Untuk kesenangan bagi kalian dan binatang-binatang ternak kalian" (An Nazi'at: 33)

(10). Maksudnya, Allah -yang telah menciptakan kalian, yang menciptakan orang -orang sebelum kalian, yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, dan yang telah menurunkan hujan dari langit sehingga Dia menumbuhkan tanam-tanaman dengannya yang menjadi rezeki bagi kalian - janganlah kalian jadikan tandingan-tandingan untukNya, hingga kalian ibadahi seperti kalian beribadah kepada Allah, atau kalian mencintainya seperti kalian mencintai Allah. Sebab, hal yang demikian itu tidak pantas bagimu, baik secara akal dan secara syariat. 

(11). Maksudnya kalian mengetahui bahwa tiada tandingan bagiNya, dan bahwa di tanganNya segala penciptaan, rezeki, pengaturan. Jangan engkau jadikan sekutu bagiNya dalam masalah ibadah.

(12). Dia adalah Imaduddin abu Fida' Ismail bin Umar Al Qurasyiad Dimasyqy. Al Hafidz yang masyhur, ahli tafsir dan tarikh. Termasuk murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau wafat tahun 774.


https://shamela.ws/book/11257/69#p1

Minggu, 08 Januari 2023

Tiga Masalah Penting Yang Wajib Diketahui Seorang Hamba

 


(Diterjemahkan dari Syarah Al Ushul Ats Tsalatsah  Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahulloh hal 19-20).
Tiga Landasan Utama yang Wajib Diketahui Seorang Hamba
Pertama: Pengetahuan Hamba akan Rabb-nya.
Penulis rahimahullah berkata:


فإذا قبل لَكَ: مَا الأُصُولُ (١) الثَّلاثَةُ التِي يَجِبُ عَلَى الإنسان معرفتها (٢) ؟ فقل: معرفة العبد ربه (٣) و دينه،(٤) ونبيه محمداً صلى الله عليه وسلم (٥)

"Jika ditanyakan kepadamu, apa tiga landasan pokok(1) yang wajib diketahui oleh setiap manusia(2)?
Maka jawablah: 'Pengetahuan hamba akan Rabb (Tuhan)nya(3), agamanya(4), dan nabinya Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam(5)".

____________________
1. Ushul (الأُصُولُ) jamak dari أصل, yaitu pondasi yang di atasnya dibangun sesuatu.
Contohnya أصل الجدار (pondasi dinding) yaitu sesuatu yang menjadi penopangnya, وأصل الشجرة (pangkal pohon) yang dahan-dahannya berasal dari situ. Allah ta'ala berfirman:


أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

"Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit" (Ibrahim: 24)

Penulis rahimahullah dengan tiga landasan pokok ini ingin memberi isyarat pada tiga hal penting yang akan ditanyakan kepada hamba di alam kuburnya yaitu: Siapa Tuhanmu? Ap agamamu? Dan Siapa nabimu?

2. Penulis rahimahulloh menyampaikan masalah ini dengan pertanyaan agar seseorang memberikan perhatian kepadanya. Sebab, ini adalah masalah penting dan utama. Beliau mengatakan: Sesungguhnya ini adalah tiga prinsip penting yang wajib diketahui setiap orang, karena dia akan ditanya masalah ini di alam kuburnya. Tatkala telah dikubur dan para pengantarnya telah berlalu, dua orang malaikat datang kepadanya lalu mendudukkannya dan menanyakan, siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu? Jika dia seorang mukmin maka menjawab: "Tuhanku adalah Allah, agamaku Islam, dan Nabiku Muhammad". Adapun orang yang tidak memiliki keyakinan (ketika hidup) atau orang munafik, dia menjawab: "Hah, hah, aku tidak tahu. Aku mendengar orang mengatakan sesuatu lalu aku ikut-ikutan".

3. Mengenal Allah tentulah dengan beberapa sarana. Di antaranya dengan mengamati dan merenungkan makhluk-makhluk Allah azza wa jalla. Hal itu menjadikan seseorang mengenal Allah, mengenal keagungan kekuasaanNya, mengetahui kesempurnaan kekuasaanNya, mengetahui hikmahNya, dan mengetahui kasih sayangNya. Allah ta'ala berfirman:


أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang diciptakan Allah" (Al A'raf: 185)
Allah 'azza wa jalla berfirman:


قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا

"Katakanlah, "Aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu agar kamu mencari kebenaran karena Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri" (Saba': 46)
Allah ta'ala berfirman:


إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآياتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang sungguh terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal" (Ali Imran:190)
Allah 'azza wa jalla berfirman:


وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآياتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ

"dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa" (Yunus: 6)
Firman Allah Subhanahu wa ta'ala:


إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآياتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, dan apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti." (Al Baqarah: 164)

Di antara sebab yang bisa mengarahkan seorang hamba untuk mengenal Tuhannya adalah dengan memperhatikan ayat-ayat syariatNya, yaitu wahyu yang dibawa oleh para Rasul -'alaihimus shalatu wa sallam-. Hendaklah seorang hamba memperhatikan ayat-ayat ini beserta kemaslahatan yang banyak yang ada di dalamnya, yang menjadi sarana tegaknya kehidupan hamba di dunia dan di akhirat. Jika dia memperhatikan dan merenungkannya, memperhatikan kandungan ilmu dan hikmah yang ada di dalamnya, lalu dia mendapati keteraturan dan kesesuaiannya untuk kemaslahatan para hamba, maka dengan sarana itu dia akan bisa mengenal Allah azza wa jalla, sebagaimana yang Allah 'azza wa jalla firmankan:


أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافاً كَثِيراً

"Apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an, seandainya Al Qur'an itu bukan diri sisi Allah, niscaya dia akan mendapati perselisihan yang banyak di dalamnya"(An Nisa': 82)
Di antara sebab lain yaitu Ma'rifah yang Allah azza wa jalla karuniakan dalam hati orang yang beriman sehingga dia seolah-olah melihat Allah dengan mata kepalanya. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam tatkala ditanya oleh Jibril tentang Ihsan(?). Beliau shalallahu 'alaihi wa sallam menjawab:


أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فإن لم تكن تراه فإنه يراك

"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihatNya, jika engkau tidak bisa seakan-akan melihatNya sesungguhnya Dia melihatmu"1


(4). Maksudnya mengetahui pokok kedua yaitu mengenal agamaNya (Islam) yang dibebankan untuk diamalkan, yang di dalamnya terdapat hikmah, kasih sayang, dan kebaikan bagi para hambaNya, serta pencegahan dari berbagai keburukan. Bagi orang yang mau merenungkan agama Islam ini dengan sebenar-benarnya berdasarkan Al Qur'an dan As Sunnah, niscaya dia akan mengerti bahwa Islam ini adalah agama yang Haq. Hanya Islam, agama yang bisa menegakkan kemaslahatan bagi hamba.


Tidak selayaknya menilai Islam dengan kondisi kaum muslimin pada hari ini. Sesungguhnya kaum muslimin telah banyak melalaikan ajaran Islam dan melakukan  berbagai pelanggaran yang besar hingga orang yang tinggal di negeri Islam seperti tinggal di lingkungan non Islam.
Agama Islam -segala puji bagi Allah ta'ala- membawa seluruh kemaslahatan yang dibawa oleh agama-agama sebelumnya, dengan keistimewaan sesuai untuk setiap masa, tempat, dan umat. Maksudnya sesuai untuk setiap masa, tempat, dan umat yaitu bahwa dengan berpegang teguh dengan Islam tidak akan menghilangkan kemaslahatan manusia di setiap masa dan tempat. Agama Islam memerintahkan setiap amal kebaikan dan melarang seluruh perbuatan buruk, memerintahkan kepada akhlak yang mulia dan melarang dari akhlak yang  tercela.

(5). Ini adalah pokok ketiga yaitu seseorang mengenal nabinya Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam yang dia dapatkan dengan mempelajari kehidupan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dan juga mempelajari ibadah, akhlak, dakwah, jihad, dan sisi-sisi kehidupan beliau lainnya. Oleh karenanya, setiap orang yang ada keinginan untuk menambah pengetahuan dan keimanannya kepada nabinya seyogyanya dia mempelajari Sirah (perjalanan hidup) beliau sesuai kemampuannya. Bagaimana beliau dalam kondisi perang dan damai, dalam keadaan sempit dan lapang, dan dalam seluruh kehidupan beliau.
Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengikuti Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, secara batin maupun dzahir, serta mewafatkan kita di atas keimanan ini. Sesungguhnya Allah lah penolong dan maha mampu melakukan hal itu.


Note;



https://shamela.ws/book/11257/46#p1

1 Dikeluarkan oleh Muslim, Kitab Al Iman: Bab Bayani Arkanil Iman wal Islam.

Senin, 07 November 2022

Syarah Ushul Tsalatsah: Sabar Dalam Berdakwah

Syarah Ushul Tsalatsah: Sabar Dalam Berdakwah

Syarah Ushul Tsalaatsah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah hal 7-8.

Perkataan Penulis:
Keempat: "Bersabar menghadapi rintangan dalam mendakwahkannya".

PENJELASAN:
Perkataan penulis: "Sabar menghadapi rintangan dalam mendakwahkannya". 
Sabar yaitu menahan diri untuk tetap mentaati Allah, mengakang jiwa untuk tidak memaksiatiNya, serta tidak membenci ketetapan-ketetapan takdirNya. Sehingga dia bisa mengontrol dirinya untuk tidak membenci, menggerutu, dan jemu. Dia senantiasa bersemangat dalam mendakwahkan Islam meski mendapat rintangan, karena menyakiti para penyeru kebaikan adalah hal biasa dilakukan manusia kecuali mereka yang diberi petunjuk oleh Allah. Allah ta'ala berfirman kepada nabiNya, Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam:
وَلَقَدۡ كُذِّبَتۡ رُسُلٞ مِّن قَبۡلِكَ فَصَبَرُواْ عَلَىٰ مَا كُذِّبُواْ وَأُوذُواْ حَتَّىٰٓ أَتَىٰهُمۡ نَصۡرُنَاۚ 

"Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka". (QS Al-An'am: 34)

Semakin keras gangguan yang mereka terima, semakin dekat pula pertolongan Allah. Pertolongan itu tidaklah hanya diberikan kepada seseorang ketika dia masih hidup sehingga bisa melihat pengaruh dakwahnya terwujud. Bahkan pertolongan itu tetap berlanjut hingga setelah wafatnya dengan digerakkannya hati-hati manusia untuk menerima dakwahnya, mengikutinya, dan berpegang teguh dengannya. Ini juga terhitung sebagai pertolongan kepada da'i tersebut meskipun dia telah wafat. Para juru dakwah hendaklah sabar dan tetap konsisten dengan dakwahnya. Bersabar mengamalkan agama Allah yang ia dakwahkan. Bersabar menghadapi rintangan dakwah. Bersabar menghadapi gangguan yang menimpa dirinya. Lihatlah para rasul - semoga shalawat dan salam tercurah untuk mereka - mereka disakiti dengan lisan dan perbuatan. Allah ta'ala berfirman:
كَذَٰلِكَ مَآ أَتَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُواْ سَاحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٌ

"Demikianlah setiap kali seorang rasul yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, mereka (kaumnya) pasti mengatakan, "Dia itu pesihir atau orang gila." (QS Adz-Dzariyat: 52)
Allah ta'ala berfirman: 
وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا مِّنَ ٱلۡمُجۡرِمِينَۗ 

"Begitulah, bagi setiap nabi, telah Kami adakan musuh dari orang-orang yang berdosa." (QS Al-Furqan: 31)

Namun para da'i hendaklah menghadapi semua itu dengan kesabaran. Perhatikanlah firman Allah Azza wa jalla  kepada rasulNya Shallallahu Alaihi Wasallam.
إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur`ān kepadamu (Muhammad) secara berangsur-angsur". (QS Al-Insan: 23)

Ayat berikutnya yang ditunggu semestinya berbunyi 'bersyukurlah dengan nikmat dari Tuhanmu', namun Allah Azza wa Jalla berfirman:
فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ 

Maka bersabarlah untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu" (QS Al-Insan: 24)

Di sini terdapat isyarat bahwa setiap orang yang mengamalkan Al Quran ini pastilah akan mengalami gangguan yang membutuhkan kesabaran. Lihatlah keadaan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ketika kaumnya memukuli dan berbuat keji kepada beliau. Seraya mengusap darah di wajahnya beliau berdoa:
اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون
"Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui"1

Para da'i itu hendaklah bersabar dan mengharap pahala dari Allah.
Kesabaran itu ada tiga macam:
1. Sabar dalam mentaati Allah.
2. Sabar dalam meninggalkan larangan Allah.
3. Sabar dalam menjalani ketentuan takdir Allah, baik yang Allah takdirkan dengan tanpa campur tangan manusia atau pun yang Dia takdirkan dengan campur tangan manusia, berupa gangguan dan penentangan. Dalilnya adalah firman Allah ta'ala: 

 ( وَٱلۡعَصۡرِ ۝  إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ ۝  إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ)

"Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali, orang-orang yang beriman dan beramal shaleh yang saling menasehati untuk menetapi kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran". (QS  Al Ashr: 1 - 3 )

Note:
1. HR Ibnu Hibban dalam shahihnya 973, At Tabrany dalam Al Kabir 6/120. Silakan dilihat di Shahih Bukhari 3477 dan Muslim 1792.

Minggu, 06 November 2022

Syarah Ushul Tsalatsah: Beramal dan Berdakwah


Syarah Ushul Tsalaatsah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh hal 6-7.

Perkataan Penulis rahimahulloh: 
Kedua: mengamalkannya.
Ketiga: mendakwahkannya.
==================

Penjelasan:
Perkataan penulis "mengamalkannya", yaitu mengamalkan konsekuensi dari makrifah (mengenal) tiga hal di atas ini dengan beriman kepada Allah, merealisasikan ketaatan kepadaNya, melaksanakan perintahNya, dan menjauhi larangan-larangannya; baik ibadah khashah (khusus, manfaatnya hanya untuk pelakunya) maupun ibadah muta'adiyah (ibadah yang manfaatnya juga untuk orang lain). Ibadah khashah misalnya salat, puasa, dan haji. Ibadah muta'adiyah misalnya Amar ma'ruf nahi munkar, jihad, dan yang semisal itu. Amal pada hakekatnya adalah buah ilmu. Orang yang beramal tanpa ilmu, dia serupa dengan Nasrani. Sedangkan orang yang berilmu namun tidak beramal maka dia mirip dengan Yahudi.

Ucapan penulis rahimahulloh: "mendakwahkannya", yaitu mendakwahkan syariat Allah ta'ala yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melalui tiga atau empat tahapan sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firmanNya:

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ 
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmahdan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik." (QS An-Nahl: 125)

Dan yang keempat firmanNya:
۞وَلَا تُجَٰدِلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ إِلَّا بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ إِلَّا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنۡهُمۡۖ 

"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka" (QS Al-Ankabut: 46)

Dakwah ini haruslah berdasarkan ilmu akan syariat Allah agar dakwahnya tegak di atas ilmu dan bashirah (hujah yang jelas). Allah berfirman:
 قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

Katakanlah (wahai Rasulullah), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.”(QS Yusuf: 108)

Bashirah akan terwujud dalam dakwah jika seorang da'i memahami hukum syar'i, metode dakwah, dan kondisi obyek dakwah. Lingkup dakwah sangatlah luas diantaranya dakwah dengan pidato dan memberikan ceramah, dengan makalah, halaqah ilmu,  menulis dan menyebarkan agama melalui karya tulis. Di antaranya juga dakwah pada kalangan tertentu, misalnya ketika seseorang berada di suatu majelis dakwah. Ini adalah lingkup-lingkup dakwah. Namun hendaknya dakwah tersebut tidak membosankan dan memberatkan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara seorang dai memaparkan pembahasan-pembahasan ilmiah di hadapan para jamaah kemudian memulai diskusi. Sebagaimana diketahui bahwa diskusi dan tanya jawab memiliki peran besar dalam memahami dan memahamkan apa yang diturunkan Allah kepada rasulnya. Terkadang cara seperti ini lebih efektif daripada dalam bentuk khutbah dan ceramah sebagaimana yang diketahui. 
Dakwah adalah tugas para rasul Alaihis shalatu  Wassalam dan jalannya orang orang yang mengikuti mereka dengan baik. Tatkala seseorang telah mengenal Dzat yang di ibadahnya, nabinya, dan agamanya, serta mengetahui bahwa Allah lah yang telah memberinya taufik kepada hal tersebut maka hendaknya dia berupaya menyelamatkan saudara-saudaranya dengan mendakwahinya dan memberi kebaikan kepada mereka. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda kepada Ani bin Abi Thalib radhiyallahu anhu:
اﻧﻔﺬ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻠﻚ ﺣﺘﻰ ﺗﻨﺰﻝ ﺑﺴﺎﺣﺘﻬﻢ ﺛﻢ اﺩﻋﻬﻢ ﺇﻟﻰ اﻹﺳﻼﻡ، ﻭﺃﺧﺒﺮﻫﻢ ﺑﻤﺎ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻣﻦ ﺣﻖ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻴﻪ، ﻓﻮاﻟﻠﻪ ﻷﻥ ﻳﻬﺪﻱ اﻟﻠﻪ ﺑﻚ ﺭﺟﻼً ﻭاﺣﺪاً ﺧﻴﺮٌ ﻟﻚ ﻣﻦ ﺣُﻤْﺮ اﻟﻨَّﻌﻢ
"Bergeraklah engkau dengan tenang hingga sampai di wilayah mereka. Kemudian serulah mereka untuk memeluk Islam dan sampaikan hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, seandainya Allah memberi Hidayah kepada seorang saja melalui dirimu itu lebih baik dari pada unta merah" (HR Bukhari 4210 dan Muslim 2406) 
Hadits ini disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim. 
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda dalam riwayat Muslim:
من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجور من تبعهم شيئا، و من دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا
"Orang yang mengajak kepada petunjuk, dia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan orang yang mengajak kepada kesesatan maka dia mendapat dosa seperti dosa orang orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun" (HR muslim 2674) 
Dalam riwayat Muslim lainnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
من دل على خير فله مثل أجر فاعله
"Orang yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia mendapat pahala seperti orang yang mengamalkannya" (HR muslim 1893).

 📚📚📚📒📚📚📚

Rabu, 26 Oktober 2022

Syarah Ushul Tsalatsah: Mengenal Allah, NabiNya dan Agama Islam

Syarah Ushul Tsalaatsah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh hal 4-5.

Pertama: Ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal NabiNya dan mengenal Islam beserta dalil dalilnya.

Penjelasan:
Perkataan penulis "Ma'rifatullah (mengenal Allah)" yaitu mengenal Allah azza wa jalla dengan hati. Ma'rifah yang berkonsekwensi menerima syariatNya, tunduk dan patuh kepadaNya, berhukum dengan syariat yang dibawa oleh RasulNya -Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam- . Seorang hamba mengenal TuhanNya dengan merenungkan ayat-ayat syar'iyyah yang terdapat dalam kitab Allah azza wa jalla dan Sunnah rasulNya -shallallahu'alaihi wasallam- . Dan juga dengan memperhatikan ayat-ayat kauniyah yaitu makhluk-makhlukaNya. Tatkala seseorang mengamati ayat-ayat ini maka bertambahlah pengetahuannya dalam mengenal pencipta dan sesembahanNya. Allah -azza wa jalla- berfirman:
وَفِی ٱلۡأَرۡضِ ءَایَـٰتࣱ لِّلۡمُوقِنِینَ  وَفِیۤ أَنفُسِكُمۡۚ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ
"Dan di bumi terdapat tanda-tanda bagi orang yang meyakini. Dan juga dalam dirimu. Apakah kalian tidak melihatnya" (QS Adz Dzariyat: 20-21)

Perkataan penulis: "Ma'rifatu Nabiyyihi (mengenal NabiNya), yaitu mengenal utusanNya, Muhammad shalallahu alaihi wa sallam.  Ma'rifah yang berkonsekwensi menerima petunjuk dan agama yang benar yang beliau bawa, membenarkan segala sesuatu yang beliau kabarkan, mentaati perintahnya, menjauhi larangannya, berhukum dengan syariatnya dan ridha dengan ketetapannya.  Allah ta'ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا یُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ یُحَكِّمُوكَ فِیمَا شَجَرَ بَیۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا یَجِدُوا۟ فِیۤ أَنفُسِهِمۡ حَرَجࣰا مِّمَّا قَضَیۡتَ وَیُسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمࣰا

"Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya". (QS An Nisa: 65)

إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ إِذَا دُعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِیَحۡكُمَ بَیۡنَهُمۡ أَن یَقُولُوا۟ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

"Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka,mereka berkata, "Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung" (QS An Nur: 51)

فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا

"Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur`ān) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya". (QS An-Nisa': 59)

Allah berfirman,
 فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang keluar (secara) sembunyi-sembunyi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih". (QS An-Nur: 63)

Imam Ahmad rahimahulloh berkata:  "Tahukah kamu apa fitnahnya? Fitnahnya ada kesyirikan. Bisa jadi tatkala dia menolak sebagian ucapan beliau  berakibat ada penyimpangan dalam hatinya sehingga dia binasa"

Perkataan penulis:
"Mengenal agama Islam"
Islam dengan makna umum yaitu beribadah kepada Allah dengan syariatNya sejak Dia mengutus para Rasul hingga hari kiamat sebagaimana yang Allah 'azza wa jalla sebutkan dalam banyak ayat yang menunjukkan bahwa syariat terdahulu semuanya adalah Islam. Allah ta'ala  berfirman tentang Ibrahim:
رَبَّنَا وَٱجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَيۡنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةٗ مُّسۡلِمَةٗ لَّكَ 

"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu"(QS Al-Baqarah:128)

Ada pun Islam bermakna khusus sejak diutusnya Nabi shollallohu alaihi wa sallam hanya dikhususkan dengan syariat yang beliau bawa. Sebab syariat yang dibawa Nabi shollallohu alaihi wa sallam menggantikan seluruh syariat terdahulu.  
Sehingga orang yang mengikuti beliau adalah muslim dan yang menyelisihi beliau bukan muslim.  Pengikut para rasul adalah kaum muslim di zamannya. Oleh karenanya Yahudi adalah muslim pada zaman Musa Shallallahu Alaihi Wasallam. Nasrani adalah muslim pada masa Isa Shallallahu Alaihi Wasallam. Adapun semenjak diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mereka  mengingkari beliau sehingga bukan muslim. Agama Islam ini adalah agama yang diterima Allah dan bermanfaat bagi penganutnya. Allah berfirman:

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ 

"Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam". (QS Ali 'Imran: 19)
FirmanNya: 
وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

"Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi". (QS Ali Imron: 85)

Islam di sini adalah Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Agama inilah yang Allah anugerahkan kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan umatnya. Allah ta'ala:
 ٱلۡیَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِینَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَیۡكُمۡ نِعۡمَتِی وَرَضِیتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِینࣰاۚ 
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu" (QS Al Maidah: 3)

Ucapan penulis:
"Dengan dalil-dalilnya"
Lafadz الأدلة bentuk jamak dari دليل  
yaitu yang memberi petunjuk kepada yang dibutuhkan. Dalil-dalil untuk mengetahui hal tersebut di atas adalah dalil syam'iyah dan akal. Adapun dalil Syamsiah yaitu yang ditetapkan dengan wahyu yaitu Alquran dan as-sunnah. Dalil akal yaitu yang ditetapkan melalui penelitian dan pengamatan. Allah Azza wa Jalla banyak menyinggung hal ini dalam kitabnya di banyak ayat. Allah berfirman (misalnya): "Di antara tanda-tanda kekuasaanNya demikian dan demikian". Demikian pula banyak dalil akal yang menunjukkan kepada Allah ta'ala. 

Adapun mengenal Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam melalui dalil sam'iyyah misalnya dalam firman Allah ta'ala:
مُّحَمَّدٞ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ 

"Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia..." (QS Al-Fath: 29)

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ 

"Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul,sebelumnya telah berlalu beberapa rasul". (QS Ali 'Imran: 144)

Adapun dalil akal dengan mengamati dan memperhatikan tanda-tanda yang demikian jelas yang beliau bawa yang paling Agung adalah kitab Allah Azza wa Jalla Alquran yang berisikan berita-berita yang benar lagi bermanfaat dan hukum-hukum yang mengandung kemaslahatan dan keadilan. Demikian pula hal-hal luar biasa yang terjadi melalui beliau dan berita-berita gaib yang beliau sampaikan yang tidak mungkin diketahui kalau bukan lewat wahyu yang hal itu telah terbukti menjadi nyata.

Syarah Ushul Tsalatsah: Macam macam Pengetahuan


Syarah Ushul Tsalaatsah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh hal 4.

Perkataan penulis:
اعلم - رحمك الله - يجب علينا تعلم أربع مسائل
"Ketahuilah - semoga Allah merahmatimu - , wajib bagi kita untuk mempelajari empat hal".

Penjelasan perkataan penulis. 
(اعلم)
"Ketahuilah".
Ilmu yaitu pengetahuan tentang sesuatu sesuai dengan kenyataannya yang pasti. 
Pengetahuan tentang sesuatu ini ada enam tingkatan: 
Pertama: Ilmu, yaitu pengetahuan tentang sesuatu sesuai dengan kenyataannya yang pasti. 
Kedua: Al Jahlul Basit, yaitu sama sekali tidak mengetahui. 
Ketiga: Al Jahlul Murakkab, yaitu pengetahuan tentang sesuatu yang berbeda dengan kenyataan.
Keempat: Al Wahmu, yaitu pengetahuan tentang sesuatu yang berlawanan dengan yang rajih (yang diunggulkan).
Kelima: Asy Syakk, yaitu pengetahuan tentang sesuatu dengan kemungkinan sama antara yang rajih dan marjuh. 
Keenam: Adz Dzaan,  yaitu pengetahuan tentang sesuatu yang berlawanan dengan yang marjuh.

Ilmu ada dua macam: Dhoruri (tanpa perlu pembuktian) dan Nadzori (dengan pembuktian).
Dharuri yaitu pengetahuan tentang sesuatu secara pasti tanpa perlu penelitian dan pembuktian. Misalnya pengetahuan bahwa api itu panas.
Kedua Nadzari yaitu ilmu yang butuh penelitian dan pembuktian. Contohnya, ilmu tentang wajibnya niat ketika wudhu.

Perkataan penulis:
رحمك الله
Semoga Allah mencurahkan rahmatNya kepadamu sehingga engkau memperoleh apa yang kau inginkan dan selamat dari perkara yang membahayakanmu. Sehingga maknanya, semoga Allah mengampuni dosa dosamu yang telah lalu dan menolongmu serta menjagamu  dari perbuatan dosa di masa yang akan datang.
Ini makna Rahmat jika bersendirian namun jika disandingkan dengan maghfirah (ampunan) maka maghfirah adalah ampunan terhadap dosa-dosa yang telah lalu dan rahmat adalah bimbingan kepada kebaikan dan selamat dari perbuatan dosa di masa yang akan datang. Doa penulis ini -semoga Allah ta'ala merahmatinya- menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya kepada pembaca serta mengharapkan kebaikan untuknya.

Ucapan beliau "Empat permasalahan".
Ini adalah permasalahan yang disebutkan penulis  -rahimahullah- yang mencakup urusan agama secara keseluruhan yang layak mendapat perhatian karena besar manfaatnya.

Syarah Ushul Tsalatsah: Penjelasan Basmalah

Syarah Ushul Tsalaatsah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh hal 3.
بِسْم الله الرحمن الرحيم
Penjelasan:
Penulis -rahimahullah- memulai kitabnya dengan basmallah untuk meneladani Al Qur'an yang diawali dengan basmallah dan mengamalkan hadits:

كلُّ أمر ذي بال لا يبدا فيه بسم الله فهو أبتر

"Setiap urusan yang memiliki kepentingan yang tidak diawali dengan 'bismillah' (menyebut nama Allah) maka urusan itu terputus"1

Dan juga meneladani Rasulullah shalallahu alahi wa sallam yang memulai tulisan-tulisannya dengan basmallah. 
Jar dan Majrur terkait dengan fi'il(kata kerja) yang ditiadakan dan  diakhirkan yang sesuai dengan keadaan. Perkiraannya adalah بسم الله أكتب أو أصنف "Dengan menyebut nama Allah aku menulis atau menyusun tulisan".
Kami menafsirkannya dengan fi'il (kata kerja) karena asal dari amalan adalah perbuatan. 

Kami menafsirkannya dengan fi'il yang diakhirkan karena adanya dua faidah:
Pertama: Mengharapkan keberkahan memulai dengan nama Allah -subhanahu wa ta'ala-.
Kedua: Sebagai pembatasan karena mendahulukan susunan kalimat yang semestinya diakhirkan memberi makna pembatasan.

Kami menafsirkannya dengan 'kata yang sesuai' karena lebih bisa menjelaskan maksud.  Seandainya kita katakan ketika hendak membaca kitab: "Dengan nama Allah kami  memulai" maka tidak diketahui apa yang kita mulai. Akan tetapi "Dengan menyebut nama Allah aku membaca" maka akan lebih jelas maksudnya apa yang akan dimulai.

Allah (الله) nama Maha Pencipta yang Maha Besar dan Maha Luhur. Ini adalah nama yang diikuti oleh seluruh nama sampai pun dalam firman Allah ta'ala:
كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ لِتُخۡرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذۡنِ رَبِّهِمۡ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ۝ ٱللَّهِ ٱلَّذِي لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ وَوَيۡلٞ لِّلۡكَٰفِرِينَ مِنۡ عَذَابٖ شَدِيدٍ۝ 

"Ini adalah kitab yang kami turunkan kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dengan izin Tuhannya kepada jalan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Allah yang memiliki segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dan celakalah orang orang kafir karena adzab yang keras". (QS Ibrahim: 1-2) 

Kami tidak katakan bahwa lafadz Al Jalalah 'Allah' adalah sifat. Namun kita katakan lafadz ini adalah 'athaf Bayan (penggabungan untuk menjelaskan) agar lafadz jalalah ini tidak menjadi tabi' sebagaimana Tabi' dalam na'at ma'ut (sifat dan yang disifati).

Ar Rahman termasuk nama yang dikhususkan untuk Allah Azza wa Jalla saja tidak boleh diberikan kepada selain Allah. Ar Rahman artinya yang memiliki kasih sayang yang luas.

Ar Rahim adalah nama untuk Allah Azza wa Jalla dan juga untuk selainNya. Artinya, Allah lah yang memiliki kasih sayang yang terus-menerus. Ar Rahman artinya yang memiliki kasih sayang yang luas. Ar-Rahim yang memiliki kasih sayang terus-menerus. Jika keduanya digabungkan, Ar Rahim adalah yang memiliki sifat kasih sayang kepada siapapun di antara para hamba yang dikehendakiNya.

يُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ وَيَرۡحَمُ مَن يَشَآءُۖ وَإِلَيۡهِ تُقۡلَبُونَ

"Dia (Allah) mengazab siapa pun yang dikehendakiNya dan memberi rahmat kepada siapa pun yang dikehendakiNya. Dan hanya kepadaNya kalian dikembalikan" (QS Al Ankabut: 21)

Note:
1. As Suyuthi membawakannya dalam Al Jamius Shaghir 6284, dikuatkan oleh Abdul Qaadir Ar Rahawi dalam Al Arba'in dan didha'ifkan Al Alamah Al Albany dalam Dabiful Jami' 4217.

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)