“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Kamis, 26 November 2020

Fikih Muyassar: Pembahasan Wajib-Wajib Wudhu

Bab Wudhu (4): Pembahasan Wajib-Wajib Wudhu

Pembahasan Keempat: Wajib-wajib wudhu yaitu anggota wudhu (yang wajib dibasuh). Ada enam yaitu:
1. Membasuh wajah dengan sempurna, berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ
"Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu"(QS Al-Maidah: 6)
Dan termasuk membasuh wajah adalah berkumur-kumur dan istinsyaq(menghirup air ke hidung) sebab mulut dan hidung termasuk wajah.
2. Membasuh kedua tangan sampai siku berdasarkan firman Alloh -ta'ala-
وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ
"(Dan basuhlah) tangan-tangan kalian sampai siku"(QS Al-Maidah: 6)
3. Mengusap seluruh kepala termasuk dua telinga. Berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ
"Dan usaplah kepala-kepala kalian" (QS Al-Maidah: 6)
Dan sabda Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
الأذنان من الرأس
"Dua telinga termasuk kepala" (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dishahihkan Syaikh Al-Albany shahih Ibnu Majah dalam As-Silsilah as-Shahihah)
sehingga dengan dengan tidak boleh mengusap sebagian kepala dan membiarkan sebagian yang lain.


4. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki berdasarkan firman Alloh -:
وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
"(Dan basuhlah) kaki-kaki kalian"(QS AlMaidah 6)
5. Tartib (berurutan) karena Alloh -ta'ala- menyebutkannya secara berurutan. Dan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- berwudhu' secara berurutan sesuai yang disebutkan Alloh -subhanahu wa ta'ala-: mulai wajah, lalu kedua tangan, lalu kepala, kemudian kedua kaki sebagaimana hal ini terdapat dalam sifat wudhu'nya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dalam hadits Abdullah bin Zaid dan yang semisalnya.
6. Al-Muwalah (langsung) yakni membasuh anggota wudhu berikutnya setelah membasuh anggota wudhu sebelumnya secara langsung tanpa menundanya karena Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- berwudhu' secara bersambung. Dan berdasarkan hadits Kholid bin Ma'dan:
أن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - رأى رجلاً يصلي وفي ظهر قدمه لُمعَةٌ قدر الدرهم لم يصبها الماء، فأمره أن يعيد الوضوء
"Bahwasannya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- melihat seorang laki-laki sholat sedangkan di punggung kakinya ada bercak seukuran dirham yang tidak tersentuh air. Maka beliau memerintahkan untuk mengulangi wudhu'nya". (HR Ahmad dishahihkan Syaikh Al-Albani).
Seandainya muwalah tidaklah syarat (sahnya wudhu) niscaya beliau memerintahkan mencuci bagian yang terlewatkan (tidak terbasuh) dan beliau tidak memerintahkan mengulangi wudhu secara keseluruhan.
Lum'ah yaitu bagian kulit yang tidak terbasuh air pada saat wudhu atau mandi.


Diterjemahkan dari kitab Fikih Muyassar
المسألة الرابعة: فروضه -أي أعضاؤه-:
وهي ستة:
١ - غسل الوجه بكامله؛ لقوله تعالى: (إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ) [المائدة: ٦]، ومنه المضمضة والاستنشاق؛ لأن الفم والأنف من الوجه.
٢ - غسل اليدين إلى المرفقين؛ لقوله تعالى: (وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ) [المائدة: ٦].
٣ - مسح الرأس كله مع الأذنين؛ لقوله تعالى: (وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ) [المائدة: ٦].
وقوله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (الأذنان من الرأس) (٢). فلا يُجزئ مسح بعض الرأس دون بعضه.
٤ - غسل الرجلين إلى الكعبين؛ لقوله تعالى: (وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ) [المائدة: ٦].
٥ - الترتيب: لأن الله تعالى ذكره مرتباً؛ وتوضأ رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مرتباً على حسب ما ذكر الله سبحانه: الوجه، فاليدين، فالرأس، فالرجلين، كما ورد ذلك في صفة وضوئه - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - في حديث عبد الله بن زيد (١) وغيره.
٦ - الموالاة: بأن يكون غسل العضو عقب الذي قبله مباشرة بدون تأخير، فقد كان النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يتوضأ متوالياً، ولحديث خالد بن معدان: (أن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - رأى رجلاً يصلي وفي ظهر قدمه لُمعَةٌ قدر الدرهم لم يصبها الماء، فأمره أن يعيد الوضوء) (٢)، فلو لم تكن الموالاة شرطاً لأمره بغسل ما فاته، ولم يأمره بإعادة الوضوء كله. واللُّمْعَة: الموضع الذي لم يصبه الماء في الوضوء أو الغسل.


(١) رواه البخاري برقم (١)، ومسلم برقم (١٩٠٧).
(٢) رواه الترمذي برقم (٣٧) وابن ماجه برقم (٤٤٣) وصححه الألباني (صحيح سنن ابن ماجه برقم ٣٥٧، والسلسلة الصحيحة برقم ٣٦) وأفاض الشيخ -رحمه الله- في جمع طرقه والكلام عليه.

(١) أخرجه مسلم برقم (٢٣٥).
(٢) رواه أحمد (٣/ ٤٢٤)، وأبو داود برقم (١٧٥)، وصححه الألباني. انظر إرواء الغليل (١/ ١٢٧).

Selasa, 24 November 2020

Pembagian Asmaul Husna dari sisi Pemutlakannya kepada Alloh -'azza wa jalla-



Pertanyaan: Berapa macam pembagian asmaul husna dari sisi pemutlakannya kepada Alloh 'azza wa jalla?

Jawab:
Di antara nama-nama Alloh ada yang dimutlakkan kepada Alloh secara tersendiri maupun dengan nama yang lain, yaitu yang mengandung sifat kesempurnaan dengan mutlak. Seperti  Al-Hayyu (Maha Hidup), Al-Qayyum(Maha Mengurusi MakhlukNya), Al-Ahad (Maha Esa), As-Shomad (Tempat bergantung bagi para makhlukNya).

Dan di antara nama-nama Alloh ada yang dimutlakkan hanya dengan muqabalahnya (sifat kebalikannya).
Yaitu, apabila disebutkan sendirian mengesankan sifat yang kurang seperti Adh-Dhaar (yang memberi mudharat) An-Nafii' (Yang memberi manfaat), Al-Khafidh (Yang Merendahkan) Ar-Rafii' (Yang Meninggikan), Al-Mu'thi (Yang Memberi Karunia) Al-Manii' (Yang Menghalangi),  Al-Mu'izz (Yang Memuliakan) Al-Mudzill (Yang Menghinakan) dan yang semisalnya. Tidak boleh memutlakkan Adh-Dhar (Yang Memberi mudharat), Al-Khafidh (Yang Merendahkan), Al-Manii' (Yang Menghalangi) dan Al-Mudzill (Yang Menghinakan) secara sendirian. Dan nama-nama itu tidak dimutlakkan sama sekali dalam wahyu, dalam Al-Qur'an tidak pula dalam As-Sunnah. Demikian pula namaNya Al-Muntaqim (Pemilik siksaan) tidaklah disebutkan dalam Al-Qur'an kecuali dengan menyebutkan hal yang berkaitan dengannya seperti firman Alloh ta'ala:
إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ
"Sungguh, Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berdosa" (QS Sajdah: 22)
Atau dengan menyandarkan ذو (pemilik) kepada sifat yang musytaq darinya sebagaimana firman Alloh -ta'ala-:
وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ
"Allah Mahaperkasa lagi mempunyai hukuman"(QS Ali Imron: 4)




[أقسام الأسماء الحسنى من جهة إطلاقها على الله عز وجل]
س: كم أقسام الأسماء الحسنى من جهة إطلاقها على الله عز وجل؟
جـ: منها ما يطلق على الله مفردا أو مع غيره، وهو ما تضمن صفة الكمال بأي إطلاق، كالحي القيوم الأحد الصمد ونحو ذلك، ومنها ما لا يطلق على الله إلا مع مقابله، 
وهو ما إذا أفرد أوهم نقصا كالضار النافع، والخافض الرافع، والمعطي المانع، والمعز المذل، ونحو ذلك، فلا يجوز إطلاق الضار ولا الخافض ولا المانع ولا المذل على انفراده، ولم يطلق قط شيء منها في الوحي كذلك لا في الكتاب ولا في السنة، ومن ذلك اسمه تعالى المنتقم، لم يطلق في القرآن إلا مع متعلقه كقوله تعالى: {إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ} [السجدة: ٢٢] أو بإضافة ذو إلى الصفة المشتق منها كقوله تعالى: {وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ} [آل عمران: ٤] .

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-
 

Jumat, 06 November 2020

Pembagian Penunjukkan Asmaul Husna Berdasarkan Kandungannya


Pertanyaan:
Ada berapa macam penunjukkan asmaul husna berdasarkan kandungannya?

Jawab:
Ada empat macam:

PERTAMA: isim alam (nama) yang mencakup seluruh makna-makna asmaul husna yaitu Alloh. Oleh karenanya seluruh asmaul menjadi sifat bagiNya, sebagaimana firman Alloh -ta'ala-:
هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ
"Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa" (QS Al-Hasyr: 24) 
Dan yang semacamnya. Dan isim Alloh sama sekali tidak pernah menjadi tabi'(mengikuti) kepada asma selainnya.

KEDUA: asma yang menjadi sifat Dzat Alloh -'azza wa jalla- . Seperti nama Alloh -ta'ala- As-Samii' (Yang Maha Mendengar) yang mengandung pendengaranNya yang melingkupi seluruh suara, baik yang tersembunyi ataupun yang terang terangan. Dan namanya Al-Bashiir (Yang Maha Melihat) yang mengandung penglihatanNya yang melingkupi seluruh yang kelihatan baik yang samar maupun yang jelas. Dan namaNya Al-Aliim(Yang Maha Mengetahui) yang mengandung ilmuNya yang meliputi (segala sesuatu) yang: 
لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرُ
"Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah baik yang di langit maupun yang di bumi, yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar" (QS Saba' : 3)

Dan namaNya Al-Qadiir(Yang Maha Kuasa) yang mengandung kuasaNya atas segala sesuatu baik dalam mengadakan atau pun meniadakan sesuatu.

KETIGA: yaitu nama yang mengandung sifat fi'liyah (perbuatan) Alloh seperti Al-Khaliq (Yang Menciptakan), Ar-Raaziq (Yang Memberi Rezeki), Al-Barii(Yang Mengadakan), Al-Mushowwir (Yang Membentuk Rupa) dan yang selainnya.

KEEMPAT: nama yang mengandung pensucian Alloh -ta'ala- dari seluruh sifat-sifat kekurangan seperti Al-Qudus As-Salam(Yang Maha Suci dan Maha Sejahtera)







[أقسام دلالة الأسماء الحسنى من جهة التضمن]
س: على كم قسم دلالة الأسماء الحسنى من جهة التضمن؟
جـ: هي على أربعة أقسام، الأول: الاسم العلم المتضمن لجميع معاني الأسماء الحسنى وهو الله، ولهذا تأتي الأسماء جميعها صفات له كقوله تعالى: {هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ} [الحشر: ٢٤] ونحو ذلك، ولم يأت هو قط تابعا لغيره من الأسماء.
الثاني: ما يتضمن صفة ذات الله عز وجل كاسمه تعالى السميع المتضمن سمعه، الواسع جميع الأصوات، سواء عنده سرها وعلانيتها، واسمه البصير المتضمن بصره النافذ في جميع المبصرات سواء دقيقها وجليلها، واسمه العليم المتضمن علمه المحيط الذي {لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرُ} [سبأ: ٣] واسمه القدير المتضمن قدرته على كل شيء إيجادا وإعداما، وغير ذلك. 
الثالث: ما يتضمن صفة فعل الله كالخالق الرازق البارئ المصور وغير ذلك. الرابع: ما يتضمن تنزهه تعالى وتقدسه عن جميع النقائص كالقدوس السلام.

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Senin, 02 November 2020

Mushtalahul Hadits(2): Pembagian Kabar Berdasarkan Jalur Periwayatannya: Hadits Mutawatir


Diterjemahkan dari kitab Mushtalahul Hadits karya Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahulloh-

Pembagian khabar berdasarkan jalur periwayatannya yang sampai kepada kita. Berdasarkan jalur periwayatannya kepada kita, khabar terbagi dua macam: Mutawatir dan Ahad.

PERTAMA: MUTAWATIR
Definisi, pembagian beserta contohnya dan faidahnya.

A. Definisi Mutawatir

ما رواه جماعة يستحيل في العادة أن يتواطؤوا على الكذب، وأسندوه إلى شيء محسوس.
Mutawatir yaitu hadits yang diriwayatkan jamaah yang secara kebiasaan mereka mustahil untuk bersepakat untuk berdusta; dan hadits ini disandarkan kepada sesuatu yang dapat diindera.

B. Mutawatir terbagi dua yaitu mutawatir secara lafadz dan makna, dan mutawatir secara makna saja.
1. Mutawatir secara lafadz dan makna yaitu yang para periwayat bersepakat pada hadits tersebut dari segi lafadz dan maknanya.
Misalnya hadits Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
من كذب عليَّ مُتعمداً فليتبوَّأ مقعدَه من النار
"Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mengambil tempat duduknya dari neraka"(HR Bukhari dan Muslim)
Hadits ini telah diriwayatkan lebih dari enam puluh shahabat di antaranya adalah sepuluh shahabat yang dijamin surga. Dan diriwayatkan dari para shahabat ini oleh banyak orang.
2. Mutawatir secara makna: yaitu hadits yang para periwayatnya bersepakat (sama) dalam maknanya yang global namun masing-masing hadits berbeda-beda dengan lafadznya yang khusus. Misalnya hadits tentang syafaat, mengusap dua khuf(sepatu). Sebagian ulama merangkumnya salam syair:
مما تواترَ حديثُ مَنْ كَذَبْ
وَمَنْ بَنَى للهِ بيتاً واحْتَسَبْ
ورؤيةٌ شَفَاعَةٌ والْحَوضُ
وَمْسُحُ خُفَّيْنِ وَهذى بَعْضُ
"Di antara hadits yang mutawatir adalah hadits مَنْ كَذَبْ dan hadits وَمَنْ بَنَى للهِ بيتاً واحْتَسَبْ dan hadits ru'yah (melihat Alloh bagi penghuni surga), syafaat, telaga Nabi, mengusap dua sepatu dan di antaranya saja"

Hadits Mutawatir dengan pembagiannya ini memberi faidah:
Pertama: berfaidah Ilmu, yaitu kepastian benarnya penisbatan hadits kepada orang yang diambil haditsnya.
Kedua: Beramal dengan kandungannya dengan membenarkannya jika berupa kabar dan mempraktekkannya jika berupa tuntutan (mengerjakannya).

أقسام الخبر باعتبار طرق نقله إلينا:
ينقسم الخبر باعتبار طرق نقله إلينا إلى قسمين: متواتر وآحاد.

الأول - المتواتر:
أ - تعريفه ب - أقسامه مع التمثيل ج - ما يفيده:
أ - المتواتر:
ما رواه جماعة يستحيل في العادة أن يتواطؤوا على الكذب، وأسندوه إلى شيء محسوس.
ب - وينقسم المتواتر إلى قسمين:
متواتر لفظاً ومعنىً، ومتواتر معنىً فقط.
فالمتواتر لفظاً ومعنى: ما اتفق الرواة فيه على لفظه ومعناه.
مثاله: قوله صلّى الله عليه وسلّم: "من كذب عليَّ مُتعمداً فليتبوَّأ مقعدَه من النار" (١) . فقد رواه عن النبي صلّى الله عليه وسلّم أكثر من ستين صحابيًّا، منهم العشرة المبشرون بالجنة، ورواه عن هؤلاء خلق كثير.
والمتواتر معنى: ما اتفق فيه الرواة على معنىً كلي، وانفرد كل حديث بلفظه الخاص.
مثاله: أحاديث الشفاعة، والمسح على الخفين، ولبعضهم:
مما تواترَ حديثُ مَنْ كَذَبْ
وَمَنْ بَنَى للهِ بيتاً واحْتَسَبْ
ورؤيةٌ شَفَاعَةٌ والْحَوضُ
وَمْسُحُ خُفَّيْنِ وَهذى بَعْضُ

جـ - والمتواتر بقسميه يفيد:
أولاً: العلم: وهو: القطع بصحة نسبته إلى من نقل عنه.
ثانياً: العمل بما دل عليه بتصديقه إن كان خبراً، وتطبيقه إن كان طلباً.


(١) انظر: البخاري (١٢٩١) كتاب الجنائز، ٣٤- باب ما يكره من النياحة على الميت ... عن المغيرة. وهو في البخاري أيضا (١١٠) كتاب العلم، ٣٨- باب إثم من كذب على النبي صلى الله عليه وسلم. ومسلم (٣) المقدمة، ٢- باب تغليظ الكذب على رسول الله صلى الله عليه وسلم. وقارن مع كلام الحافظ في << فتح الباري>> (١/٢٠٣- فما بعد) .
  

Ushul Tafsir (2): Nuzulul Qur'an


(Diterjemahkan dari kitab Ushulun Fit tafsiir karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahulloh-)

Turunnya Al-Qur'an pertama yang turun kepada Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- pada malam lailatul qadar di bulan Ramadhan. Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
"Sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam lailatul qadar" (QS Al-Qadar: 1)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (٣) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (٤)
"sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah" (Ad-Dukhan: 3-4)

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)" (QS Al-Baqarah: 185)

Umur Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- tatkala pertama kali Al-Qur'an turun kepada beliau adalah empat puluh tahun menurut pendapat yang masyhur menurut para ulama. Dan ini telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas -radhiyallohu 'anhuma- , Atho', Sa'id bin Musayyib dan yang selainnya. Ini merupakan usia yang telah mencapai kematangan berfikir, kesempurnaan akal dan intelektualitas.

Dan yang menyampaikan Al-Qur'an dari sisi Alloh kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- adalah Jibril, salah seorang Malaikat Al-Muqarrabin (yang dekat dengan Alloh) yang mulia.

Alloh -ta'ala- berfirman tentang Al-Qur'an:
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٩٢) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (١٩٣) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (١٩٤) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (١٩٥)
"Dan sungguh, (Al-Qur'an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas" (QS Asy-Syuara: 192-195)

Jibril -alaihis salam- memiliki sifat-sifat yang terpuji dan agung berupa kemuliaan, kekuatan, dan kedekatannya kepada Alloh -ta'ala-, memiliki kedudukan dan kehormatan di antara para malaikat, memiliki sifat amanah, kebaikan dan kesucian yang menjadikan ia layak untuk menjadi utusan Alloh -ta'ala- untuk menyampaikan wahyunya kepada para utusanNya. Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (١٩) ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (٢٠) مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِين (٢١ٍ)
"sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ‘Arsy, yang di sana (di alam malaikat) ditaati dan dipercaya."(QS At-Takwiir: 19-21)
عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى (٥) ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى (٦) وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى (٧)
"yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai keteguhan; maka (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli (rupa yang bagus dan perkasa), Sedang dia berada di ufuk yang tinggi."(QS An-Najm: 5-7)

Firman Alloh -ta'ala:
قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدىً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
"Katakanlah, “Rohulkudus (Jibril) menurunkan Al-Qur'an itu dari Tuhanmu dengan kebenaran, untuk meneguhkan (hati) orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS An-Nahl: 102)

Dan Alloh -ta'ala- telah menjelaskan kepada kita sifat-sifat jibril yang membawa turun wahyu Al-Qur'an dari sisi Alloh yang hal ini menunjukkan agungnya Al-Qur'an dan penjagaan Alloh -ta'ala- . Sesungguhnya tidaklah diutus seorang yang agung melainkan dengan membawa urusan yang agung pula.

Bersambung...

١- نزول القرآن

نزل القرآن أول ما نزل على الرسول صلى الله عليه وسلم في ليلة القدر في رمضان، قال الله تعالى: (إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ) (القدر: ١) (إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (٣) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (٤) (الدخان: ٣-٤) . (شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ) (البقرة: الآية ١٨٥) .
وكان عمر النبي صلى الله عليه وسلم أول ما نزل عليه أربعين سنة على المشهور عند أهل العلم، وقد روي عن ابن عباس رضي الله عنهما وعطاء وسعيد بن المسيِّب وغيرهم. وهذه السِّن هي التي يكون بها بلوغ الرشد وكمال العقل وتمام الإدراك.
والذي نزل بالقرآن من عند الله تعالى إلى النبي صلى الله عليه وسلم، جبريل أحد الملائكة المقربين الكرام،

قال الله تعالى عن القرآن: (وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٩٢) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (١٩٣) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (١٩٤) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (١٩٥) (الشعراء: ١٩٢- ١٩٥) .

وقد كان لجبريل عليه السلام من الصفات الحميدة العظيمة، من الكرم والقوة والقرب من الله تعالى والمكانة والاحترام بين الملائكة والأمانة والحسن والطهارة؛ ما جعله أهلاً لأن يكون رسول الله تعالى بوحيه إلى رسله قال الله تعالى: (إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ " (١٩) ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (٢٠) مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِين (٢١ٍ) (التكوير: ١٩- ٢١) . وقال: (عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى (٥) ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى (٦) وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى (٧) (لنجم: ٥-٧) .

وقال: (قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدىً وَبُشْرَى
 لِلْمُسْلِمِينَ) (النحل: ١٠٢) وقد بين الله تعالى لنا أوصاف جبريل الذي نزل بالقرآن من عنده وتدل على عظم القرآن وعنايته تعالى فإنه لا يرسل من كان عظيما إلا بالأمور العظيمة.

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)