“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Rabu, 13 Maret 2019

At-Tuhfah - Penjelasan Lailaha illalloh

Makna لا إله إلا الله yaitu لا معبود بحق الا الله (tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh). Dan selain Alloh jika diibadahi maka diibadahi dengan bathil. Alloh ta’ala berfirman:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ

“Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil”(QS Al Hajj: 62)
Alloh ta’ala berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada ilah (sesembaha yang berhak disembah) selain Allah” (QS Muhammad: 19)


PENJELASAN: لا اله الا الله adalah kalimat yang terdiri atas 3 huruf ( yaitu ل ـ ا ـ ه -pent.) yang

mengandung perkara yang dikehendaki Alloh -ta’ala- dari para hambaNya dan pemurnian tauhid kepadaNya.

Kalimat ini memiliki 2 rukun:
Pertama: An-Nafi (yaitu peniadaan sesembahan selain Alloh -pent) dalam ucapan لا اله (tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar).
Kedua: Al-Itsbat (yaitu penetapan bahwa hanya Alloh sesembahan yang haq -pent) dalam ucapan الا الله (kecuali Alloh).
Dan tidaklah sempurna tauhid kecuali dengan dua rukun di atas secara bersamaan. Dengan demikian, penafi’an saja adalah peniadaan total. Jika engkau mencukupkan dengan لا إله artinya engkau tidak menetapkan adanya uluhiyah (sesembahan), tidak menetapkan Alloh maupun selainNya. Dan jika engkau mengatakan الله اله (Alloh adalah sesembahan) dan mencukupkan dengan penetapan ini maka engkau belumlah mengesakan Alloh dalam uluhiyahNya. Masuk juga bersama Alloh -dalam ucapan yang kurang ini- adanya sesembahan selainNya sebab lafadz ini tidak menunjukkan adanya pengesaan Alloh.

Dan maknanya kalimat ini: لا معبود بحق الا الله tiada sesembahan yang benar diibadahi kecuali Alloh. Di antara kesalahan fatal adalah mengartikan maknanya: “tiada sesembahan kecuali (dia adalah) Alloh” sebab perkataan ini memberikan kerancuan bahwa setiap yang diibadahi adalah Alloh, baik berupa berhala-berhala dan patung-patung dan selainnya.
Dan termasuk kesalahan juga adalah mengartikan maknanya: Tiada pencipta selain Alloh.

Dengan sebab kebodohan kebanyakan manusia dengan makna lafadz ini, mereka terjatuh pada kesyirikan dalam keadaan mereka mengucapkan. Kalimat ini menunjukkan peniadaan uluhiyah dari selain Alloh -ta’ala- dan pengesaan Alloh -ta’ala- dalam uluhiyahNya.

Syarat-syarat لا اله الا الله:
Wahhab bin Munabbih berkata -sebagaimana yang diriwayatkan Imam Bukhari-:
لكل مفتاح أسنان، و مفتاح الجنة: لا اله الا الله
“Setiap kunci memiliki gerigi, dan kuncinya surga adalah: lailaha illalloh”.
Dan selainnya berkata: geriginya kunci adalah syarat-syaratnya. Jika engkau membawa kunci yang ada geriginya maka pintu akan terbuka untukmu, namun jika tidak, tidak akan terbuka untukmu.

Dan syaratnya ada 7 sebagaimana yang terangkum dalam ucapan penyair:

علمٌ ـ يقينٌ ـ و اخلاص ـ و صدقك مع # محبة و انقياد والقبول لها
“Ilmu, yakin, ikhlas, shidiq, mahabbah, inqiyad dan qabul”.

PERTAMA: Al-Ilmu (pengetahuan) yang meniadakan jahl (bodoh atau ketidaktahuan), yakni amalan yang didasarkan pada nafi dan itsbat (peniadaan dan penetapan).
Alloh ta’ala berfirman:

إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“… kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini” (QS Az-Zukhruf: 86)
Dan firmanNya:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah” (QS Muhammad: 19)

Sesungguhnya kaum kafir Quraisy mengetahui maknanya dan bahwa maksudnya adalah meniadakan sesembahan selain Alloh. Tatkala mereka diminta untuk mengucapkannya (la ilaha illalloh) mereka berkata:

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Apakah dia menjadikan sesembahan-sesembahan itu sesembahan yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan” (QS Shad: 5)

KEDUA: Yaqin (keyakinan) yang meniadakan syak (keraguan). Alloh ta’ala berfirman:

 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu” (QS Al-Hujurat: 15)

KETIGA: Ikhlas (pemurnian) yang meniadakan syirik. Alloh ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama untukNya” (QS Al-Bayyinah: 5).
Dan firmanNya:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi” (QS Az-Zumar: 65)

KEEMPAT: Sidqu (pembenaran) yang meniadakan kadzib (pendustaan).

KELIMA: Mahabbah (kecintaan) kepada Alloh -subhanahu wa ta’ala-. Alloh berfirman:

فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

“maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya” (QS Al-Ma’idah: 54)

Dan dalam shahihain dari hadits Anas secara marfu’:

ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان …..أن يكون الله ورسوله أحبّ إليه مما سواهما

“Tiga hal yang ada pada diri seseorang yang dengannya ia akan mendapati manisnya iman ….(diantaranya)hendaklah Alloh dan RasulNya lebih dia cintai dari pada selainnya”

KEENAM: Al-Inqiyadu (ketundukan) yang meniadakan tamarrud (penentangan). Alloh ta’ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (An-Nisa’: 65)

Dan firmanNya:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ

“Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” (QS An-Nur: 51)

KETUJUH: Qabul (penerimaan) yang meniadakan Radd(penolakan). Alloh ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka” (QS Al-Ahzab: 36)
Dan kami telah meluaskan pembahasan tentang syarat-syarat yang tujuh ini dari Al Qur’an dan As Sunnah di tempat yang lain.

Tujuh syarat ini tidaklah disyaratkan bagi seorang muslim menghafalnya, tetapi cukup baginya mengamalkannya meski tidak menghafalnya.


Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu’man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh-

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)