“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Sabtu, 04 Mei 2019

At-Tuhfah: Syarat Diterimanya Amalan Adalah Ikhlas dan Mutaba'ah

Penulis -hafidzahullohu ta'ala- berkata:
Tidak akan diterima suatu amalan kecuali dengan dua syarat

Ketahuilah -wahai saudaraku muslim, semoga Alloh memberikan hidayah kepadaku dan kepadamu untuk berpegang pada Al-Qur'an dan As-Sunnah- bahwasannya Alloh tidak akan menerima amalan dari siapa pun kecuali dengan dua syarat pokok, yaitu sebagaimana berikut:

Pertama: hendaklah ikhlas hanya untuk Alloh. Sehingga tidak layak bagi pelakunya kecuali hanya mengharapkan wajah Alloh. Dan disebutkan sebagian dari dalil-dalil ikhlas.
Ini adalah makna أشهد أن لا إله الا الله (Aku bersaksi bahwa tiada ilah melainkan Alloh).

Kedua: hendaklah sesuai dengan petunjuk rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan disebutkan hadits Aisyah -radhiyallohu 'anha- dalam shahihain:
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ
"Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami (agama Islam) yang bukan darinya, maka (yang diada-adakan tersebut) tertolak".
Sedangkan dalam hadits Muslim dari beliau juga secara marfu':
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو ردّ
"Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan itu tertolak".

Ini adalah makna أشهد أن محمدا رسول الله (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Alloh).

*Penjelasan:
Syaikul Islam Ibnu Taimiyah dan -murid beliau- Ibnul Qayyim menyebutkan dua pondasi pokok ini yang mana suatu amalan tidak akan diterima kecuali dengan keduanya; yang menunjukkan atas dua landasan pokok ini adalah firman Alloh ta'ala:

ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

"Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”(QS Al-Kahfi: 110)

Fudhail bin 'Iyyadh berkata: "Tidaklah amalan itu menjadi shalih sampai amalan itu ikhlas. Dan tidak akan diterima amal yang ikhlas sampai amalan itu benar. Sehingga amalan tersebut ikhlas hanya untuk Alloh dan sesuai dengan sunnah rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-"

Ibnul Qayyim membagi manusia -berdasarkan dua asas pokok ini- menjadi empat golongan (sebagaimana dalam Madarijus Salikin juz 1):

Pertama:
Seseorang yang dalam amalnya ikhlas dan mutabaah(mengikuti sunnah rasululloh). Mereka inilah yang beribadah kepada Alloh dengan benar karena mereka mengikhlaskan amalan kepada Alloh; mereka menjadikan rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- sebagai suri teladan,  dan amalan mereka selaras dengan petunjuk beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Mereka tidak beramal karena manusia sebab mereka mengetahui bahwa manusia tidak mampu memberikan kemanfaatan apa pun. Mereka hanya mengikhlaskan ibadah-ibadah mereka yang lahir dan yang batin, dan mereka jujur dalam mengikuti rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- lahir dan batin.

Kedua:
Seseorang yang tidak ikhlas dan tidak pula mutabaah. Ini adalah keadaan kebanyakan orang-orang yang rusak dan zindiq yang melakukan amalan tanpa memperhitungkan keikhlasan kepada Alloh dan tanpa memperdulikan telah menyelisihi sunnah rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-.

Ketiga,
Seseorang yang beramal dengan ikhlas namun tanpa mutabaah. Ini adalah umumnya (yang dilakukan) orang-orang sufi dan ahli ibadah yang bodoh yang melakukan bid'ah dengan ucapan dan amal mereka dengan meksud mendekatkan diri kepada Alloh. Dan pada hakikatnya hal itu tidaklah menambah kecuali makin jauhnya mereka dari Alloh.

Keempat,
Orang yang mutabaah dalam amal-amal mereka namun tiada keikhlasan padanya sebagaimana orang-orang munafik dan orang-orang yang riya'. Mereka ini tidak mendapatkan manfaat dari amalan-amalannya.
Alloh ta'ala berfirman:
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi".(QS Az-Zumar: 65)

Dan dalil pokok yang pertama (tentang ikhlas) dari sunnah adalah yang terdapat dalam shahihain dari Umar secara marfu':
إنما أعمال بالنيات
"Sesungguhnya amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niat-niatnya".(HR Bukhari & Muslim)

Dan dalil pokok yang kedua (mutabaah) adalah yang terdapat pada shahihain dari hadits Aisyah -radhiyallohu 'anha- secara marfu':

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ
"Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami (agama Islam) yang bukan darinya, maka (yang diada-adakan tersebut) tertolak".(HR Bukhari & Muslim)

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh- hal 63-66.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)