“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Kamis, 28 November 2019

Tuhfah: Pembagian Mahabbah (Kecintaan) Ada Empat

Pertama: Mahabbah Ibadah; yaitu cinta kepada Alloh dan mencintai segala yang dicintai Alloh. Alloh -ta'ala- berfirman:
ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ
"Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah". (QS Al-Baqarah: 165)

Penjelasan:
Mahabbah (kecintaan) adalah ibadah hati. Macam mahabbah jenis ini jika dipalingkan kepada selain Alloh adalah syirik. Mahabbah yang merupakan ibadah adalah untuk Alloh dan karena Alloh. Mahabbah yang karena Alloh diantaranya yang ditujukan kepada manusia, waktu maupun tempat. Misalnya kepada orang-orang sholih, kecintaan kepada bulan Ramadhan, dan kecintaan kepada rumah-rumah Alloh. Asal dari seluruh amalan mahabbah - bahwa manusia tidaklah mencintai kecuali untuk sesuatu yang ingin didapatkannya atau sesuatu yang memotivasinya. Dan tidaklah dicintai karena dzatnya kecuali Alloh sebagaimana yang ditegaskan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Oleh karenanya orang yang merealisasikan kecintaan kepada Alloh dan mecintai hal yang dicintai Alloh serta membenci apa yang tidak diridhoi Alloh maka sungguh dia akan mendapatkan manisnya iman dalam hatinya sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dalam As-Shahihain dari Anas secara marfu':

 ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَبِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
"Tiga hal yang jika ada pada diri seseorang maka dia akan merasakan manisnya iman: Seseorang yang menjadikan Alloh dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. Seseorang mencintai orang lain karena Alloh. Dan seseorang yang membenci kembali kepada kekufuran setelah Alloh menyelamatkannya darinya sebagaimana dia tidak suks untuk dilemparkan ke neraka" (HR Bukhari & Muslim).

Tidaklah bersatu kecintaan kepada Alloh dan kecintaan kepada perkara yang dimurkai Alloh dalam hati seorang mukmin yang memiliki keimanan yang sempurna. Adapun keimanan yang kurang sempurna terkadang terkumpul padanya kecintaan kepada sebagian maksiat, sebagaimana yang diriwayatkan dalam shahih Bukhari bahwa ada seorang laki-laki yang dihadirkan ke hadapan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dalam masalah minum khomer. Sebagian shahabat berkata: Semoga Alloh melaknatnya. Betapa seringnya dia dibawa kepada beliau. Maka Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
لا تلعنوه، فإنه يحب الله ورسوله
"Janganlah kalian melaknatnya karena sesungguhnya dia mencintai Alloh dan rasulloh".

Berkata penulis -hafidzahulloh-:
Kedua: Mahabbah Syirkiyah (Kecintaan yang membawa kesyirikan) yaitu cinta kepada selain Alloh seperti cinta kepada Alloh atau lebih sangat lagi. Alloh ta'ala berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ
"Dan di antara manusia ada orang yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah" (QS Al-Baqarah: 165)

Penjelasan:
Kecintaan ini meniadakan pokok keimanan. Kecintaan kepada selain Alloh mencakup manusia dan berhala dan selainnya yang dijadikan tandingan selain Alloh.
Dan firman Alloh dalam ayat: وَمِنَ النَّاس (Dan di antara manusia ) huruf من di sini untuk tab'idh (menunjukkan sebagian) yakni sebagian manusia.

Dan firman Alloh:
مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ
"orang yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah".
Alloh menjelaskan bahwa bentuk tandingan yang mereka jadikan dari selain Alloh adalah kecintaan mereka kepada tandingan-tandingan tersebut. Tandingan-tandingan tersebut terkadang dari manusia atau berhala atau selainnya.

FirmanNya: يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّه "mereka cintainya seperti mencintai Allah" Ibnul Qayyim berkata dalam Madarijus Salikin, ini ada dua penafsiran:
Pertama: Mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut sebagaimana orang-orang mukmin mencintai Rabbnya.
Kedua: mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut sebagaimana mereka mencintai Alloh.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menguatkan pendapat kedua, dan inilah yang benar -in sya Alloh. Sisi yang menjadikan kecintaan ini sebagai syirik adalah bahwa pelakunya memalingkan peribadahan kepada selain Alloh, dan karena taqarrub kepada tandingan-tandingan ini berakibat kepada (melakukan)sebagian amalan yang di antaranya adalah kesyirikan. Dan cukuplah dikatakan mahabbah ini sebgai kesyirikan karena ini adalah ibadah yang ditujukan kepada selain Alloh.

Berkata penulis:
Ketiga: Mahabbabah Maksiat (cinta maksiat); yaitu seperti mencintai keharaman, bid'ah, pelaku kemaksiatan dan pengikut hawa nafsu dan selainnya dari kecintaan yang menyelisihi syariat.

Penjelasan:
Dipersyaratkan 'mahabbah maksiat' adalah tidak menyamai kecintaannya  kepada Alloh atau melebihi, sebab yang demikian itu syirik. Kecintaan kepada maksiat menghilangkan kesempurnaan tauhid dan iman. Bahayanya menimpa pelakunya di dunia dan di akhirat. Dan seseorang bersama yang dicintainya, sebagaimana yang telah datang dari Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dalam As-Shahihain.

Berkata penulis -hafidzahulloh-:
Keempat: Mahabbah Tabi'iyyah (kecintaan karena tabiat) seperti kecintaan kepada anak-anak, keluarga, dirinya dan lain sebagainya dari yang dicintai. Namun haruslah sewajarnya.
Jika seseorang disibukan dari menjalankan ketaatan kepada Alloh lalu dia meninggalkan sebagian kewajibannya maka ini adalah mahabbah maksiat. Apabila berlebih-lebihan (kecintaan tersebut) pada hidupnya dan hatinya, dan dia mencintainya seperti dia mencintai Alloh atau lebih dari itu maka ini adalah mahabbah yang syirik.

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulohu ta'ala- hal 84-88.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)