“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 26 Januari 2020

Tafsir QS Al Hujurat Ayat 15

Firman Alloh -ta'ala-:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar". (QS Al-Hujurat: 15)

FirmanNya: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ "Sesungguhnya orang-orang mukmin"; yakni yang hakiki.
الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأمْوَالِهِمْ وَأنْفُسِهُم في سبيل الله
"adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah"

Yakni orang yang bisa menggabungkan antara iman dan jihad di jalan Alloh. Sesungguhnya orang yang berjihad terhadap orang-orang kafir hal itu menunjukkan iman yang sempurna dalam hati. Sebab, orang yang berjihad kepada orang lain kepada Islam dan untuk menegakkan syariat-syariatNya, maka jihadnya ini ditujukan untuk dirinya kepada hal itu lebih layak dan lebih utama.
Dan orang yang tidak menguatkan (tekadnya -pent) untuk jihad menunjukkan lemahnya iman. Alloh ta'la mensyaratkan iman dengan tanpa kebimbangan, yaitu keraguan. Sebab iman yang bermanfaat adalah keyakinan yang mantab dengan perkara yang Alloh perintahkan mengimaninya, yang tidak tercampuri keraguan dari sisi mana pun.
FirmanNya: أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (Mereka itulah orang-orang yang benar), yakni mereka yang telah membuktikan keimanannya dengan amal-amal mereka yang baik. Ash-Shidq (kejujuran) adalah klaim yang besar pada segala sesuatu yang diklaim; pelakunya membutuhkan hujah dan bukti. Dan yang paling besar adalah klaim keimanan yang merupakan porosnya kebahagiaan dan keberuntungan yang abadi dan kemenangan yang langgeng. Barang siapa yang mengakui iman dan mengerjakan kewajiban-kewajibannya dan konsekwensi-konsekwensinya maka dia adalah oraang yang shodiq(benar) dan mukmin yang sebenarnya. Dan barang siapa yang tidak demikian maka diketahui bahwa dia tidaklah jujur dengan pengakuannya. Dan tidak ada faidah dari pengakuannya. Sesungguhnya keimanan dalam hati tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh -ta'ala-. Maka menetapkannya dan menafikkannya adalah mengajari Alloh dengan perkara yang tersimpan dalam hati. Dan ini adalah adab dan prasangka yang buruk kepada Alloh.

﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ﴾ أي: على الحقيقة ﴿الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأمْوَالِهِمْ وَأنْفُسِهُم في سبيل الله﴾ أي: من جمعوا بين الإيمان والجهاد في سبيله، فإن من جاهد الكفار، دل ذلك، على الإيمان التام في القلب، لأن من جاهد غيره على الإسلام، والقيام بشرائعه، فجهاده لنفسه على ذلك، من باب أولى وأحرى؛ ولأن من لم يقو على الجهاد، فإن ذلك، دليل على ضعف إيمانه، وشرط تعالى في الإيمان عدم الريب، وهو الشك، لأن الإيمان النافع هو الجزم اليقيني، بما أمر الله بالإيمان به، الذي لا يعتريه شك، بوجه من الوجوه.
وقوله: ﴿أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ﴾ أي: الذين صدقوا إيمانهم بأعمالهم الجميلة، فإن الصدق، دعوى كبيرة في كل شيء يدعى يحتاج صاحبه إلى حجة وبرهان، وأعظم ذلك، دعوى الإيمان، الذي هو مدار السعادة، والفوز الأبدي، والفلاح السرمدي، فمن ادعاه، وقام بواجباته، ولوازمه، فهو الصادق المؤمن حقًا، ومن لم يكن كذلك، علم أنه ليس بصادق في دعواه، وليس لدعواه فائدة، فإن الإيمان في القلب لا يطلع عليه إلا الله تعالى.
فإثباته ونفيه، من باب تعليم الله بما في القلب، وهذا سوء أدب، وظن بالله.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)