Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 190-191
*Firman Alloh -ta'ala-: ( ٱلْعَلِيمُ ٱلْخَبِيرُ )"Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS At-tahrim: 3)
Penjelasan:
* Tentang ٱلْعَلِيمُ telah berlalu penjelasannya.
* Makna ٱلْخَبِيرُ yaitu mengetahui perkara-perkara yang tersembunyi. Sehingga sifat ini merupakan sifat yang khusus setelah penyebutan sifat yang umum. Kita katakan: Al-Aliim artinya mengetahui perkara-perkara yang nampak sedangkan Al-Khabir mengetahui perkara-perkara yang tersembunyi. Sehingga pengtahuan tentang perkara-perkara yang tersembunyi disebutkan dua kali: pertama dengan bentuk umum dan kedua dengan bentuk khusus agar tidak ada yang menyangka bahwa ilmunya hanya khusus dalam perkara yang dzahir saja.
Sebagaimana hal ini terjadi pada makna-makna maka hal ini juga terjadi pada individu-individu. Misalnya:
تَنَزَّلُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا
"Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril"(QS Al-Qadar: 4)
Ar-Ruuh adalah Jibril dan dia dari kalangan malaikat. Kita katakan: Para malaikat, dan di antaranya Jibril. Dan dikhususkannya penyebutan Jibril sebagai bentuk pemuliaan untuknya. Sehingga dia disebutkan dua kali: pertama dalam bentuk umum dan kedua dengan bentuk khusus.
Pada ayat ini terdapat nama-nama Alloh ta'ala yaitu: Al-Aliim dan Al-Khobir, dari shifatnya: Al-Ilmu (mengetahui yang dzahir) dan Al-Khubroh (mengtahui yang bathin).
Dan di dalamnya terdapat faidah-faidah maslakiyah (berkenaan dengan pensucian jiwa -pent); Bahwasannya keimanan seseorang akan perkara ini akan menambahkan rasa takut dan khasyahnya kepada Alloh, baik dalam kesendirian maupun ketika dalam keramaian.



0 komentar:
Posting Komentar