Sebagian perkara syubhat yang menjadi pegangan ahlul bid'ah:
Syubhat Pertama:
Berpegang dengan sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
من سنَّ في الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها إلى يوم القيامة ...
"Barang siapa yang memulai dalam Islam ini sunnah yang baik maka baginya mendapat pahala dan pahala orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat..."
Berdasarkan hadits ini mereka membagi bid'ah menjadi 2 bagian:
Pertama: Bid'ah hasanah(baik).
Kedua: Bid'ah Sayyiah( buruk).
Mereka dibantah dari beberapa sisi.
PERTAMA: Bahwasannya sebab hadits ini -yang mereka berpendapat dengannyan- adalah bahwa sekelompok orang datang kepada Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- mereka mengenakan kain wol. Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- pun menjadi sedih tatkala melihat kemiskinan mereka. Lalu beliau memerintahkan Bilal untuk memanggil: Ash-Sholatul Jamiah. Maka manusia pun berkumpul lalu beliau mengimami mereka sholat dua rekaat kemudian beliau memuja dan memuji Alloh -ta'ala-. Beliau pun memerintahkan bersedekah dan memberikan motivasi untuk bersedekah. Tiba-tiba datang seseorang dengan membawa bungkusan. Hampir-hampir kedua tangannya tak mampu mengangkatnya, bahkan memang tidak mampu mengangkatnya. Kemudian diikuti orang-orang. Ada yang membawa pakaian. Ada yang membawa makanan. Sampai terkumpul bertumpuk-tumpuk di hadapan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Maka wajah beliau sumpringah laksana disepuh emas. Lalu beliau bersabda: "Barang siapa yang memulai sunnah yang baik dalam Islam...dst".
Dari sini kita ketahui bahwa hadits ini memiliki sebab yang tidak mereka ketahui, sebagaimana ini kebiasaan ahlul bid'ah. Mereka mengambil sebagian nash dan terkadang pada bagian yang lain terdapat bantahan dari pendapatnya. Sebagaimana ahlul ta'thil (orang yang menolak sifat Alloh) berdalil dengan firman Alloh:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa denganNya" (QS Asy-Syura: 11)
dan pada kelanjutan ayat membantah pendapat mereka, yaitu firmanNya:
وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ
"Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat"(QS Ash-Shura: 11)
Kebalikan dari mereka adalah ahlul tamtsil (sekte yang menyerupakan Alloh dengan makhluk) mereka berdalalil (dengan potongan ayat ini) dan mereka pura-pura lupa dengan firman Alloh -ta'ala-:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa denganNya" (QS Asy-Syura: 11)
Contoh-contoh semacam ini sangat banyak.
KEDUA: bahwasannya menurut para ulama, perbedaan antara sunnah dan bid'ah sudah menjadi ketetapan. Tidak ada seorang pun ulama yang menafsirkan sunnah dengan bid'ah sebagaimana yang dilakukan mereka ini. Mereka berkata:
من سنَّ في الإسلام سنة حسنة
"Barang siapa yang memulai dalam Islam ini sunnah yang baik..."
mereka berdalil dengan hadits ini untuk membenarkan bid'ah yang mereka ada-adakan. Perkataan mereka seperti yang pertama:
شارت مشرقة و سرت مغربا # شتان بين مشرق و مغرب
"Dia berjalan ke timur, aku berjalan ke barat. Jauh antara timur dan barat"
KETIGA: Para salafus shalih memahami secara keseluruhan bahwa maksud sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-
من سنَّ في الإسلام سنة حسنة
"Barang siapa yang memulai dalam Islam ini sunnah yang baik..."
yaitu maksudnya: barang siapa yang menghidupkan sunnahku yang ditinggalkan manusia atau yang tidak diketahui manusia.
KEEMPAT: adanya hadits-hadits yang di dalamnya terdapat perintah ittiba' ( mengikuti sunnah nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-) dan melarang berbuat bid'ah dan barang siapa yang mengada-adakan bid'ah dalam agama Alloh maka tertolak bid'ahnya.
KELIMA: Bahwasannya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- mengkhabarkan semua bid'ah adalah sesat. Dan lafafz كل termasuk lafadz untuk keumuman dan beliau tidak mengatakan ada bid'ah hasanah(baik) atau bid'ah yang sayyiah(buruk).
Diterjemahkan dari kitab Tuhfatul Murid Syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al-Watr hal 133-136.



0 komentar:
Posting Komentar