Allah ta'ala berfirman dalam Al Qur'an:
{ تِلۡكَ ٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ نَجۡعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوّٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فَسَادٗاۚ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ }
Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik)itu bagi orang-orang yang bertakwa.
[Surat Al-Qashash: 83]
Syaikh Nashir As Si'dy dalam tafsirnya beliau berkata:
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ
"Negeri akhirat itu" yang dikabarkan Allah ta'ala dalam kitab-kitabNya dan juga dikabarkan oleh para rasulNya -yang menghimpun seluruh kenikmatan dan tersingkir darinya segala yang menyusahkan dan menyedihkan.
نَجْعَلُهَا
"Kami jadikan akhirat itu" sebagai Negeri dan tempat tinggal bagi:
لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا
"bagi orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian di muka bumi (kesombongan) dan tidak berbuat kerusakan di bumi"
Yaitu mereka tidak punya keinginan untuk itu. Maka bagaimana mungkin mereka beramal untuk mencari ketinggian di dunia atas hamba-hamba Allah, dan untuk sombong kepada mereka dan kepada kebenaran?
وَلَا فَسَادًا
"dan tidak pula untuk melakukan kerusakan" ini mencakup seluruh kemaksiatan.
Jika mereka tidak ada keinginan untuk menginginkan ketinggian dan tidak pula melakukan kerusakan di bumi maka hal itu memastikan bahwa keinginan mereka hanyalah ditujukan kepada Allah dan tujuan mereka adalah Negeri akhirat, mereka merendahkan diri kepada para hamba Allah, tunduk pada kebenaran, dan beramal shalih.
Mereka inilah orang-orang yang bertakwa yang mereka akan mendapatkan kesesudahan yang baik. Oleh karenanya Allah ta'ala berfirman:
وَالْعَاقِبَةُ
"Dan kesesudahan (yang baik itu)" yaitu kemenangan dan kesuksesan yang abadi dan langgeng untuk orang yang bertaqwa kepada Allah ta'ala.
Sedangkan selain mereka -seandainya memperoleh sebagian kemewahan dan kenyamanan- maka tidak akan lama dan akan segera sirna. Dari pembatasan ayat yang mulia ini dipahami bahwa orang yang menghendaki ketinggian di muka bumi ini atau kerusakan maka mereka di akhirat tidak mendapat bagian, dan tidak ada bagi mereka bagiannya"
-Selesai ucapan Syaikh Nashir As Si'dy -rahimahullah-
Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya tentang ayat ini:
يُخْبِرُ تَعَالَى أَنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَنَعِيمَهَا الْمُقِيمَ الَّذِي لَا يَحُولُ وَلَا يَزُولُ، جَعَلَهَا لِعِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ الْمُتَوَاضِعِينَ، الَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ، أَيْ: تَرَفُّعًا عَلَى خَلْقِ اللَّهِ وَتَعَاظُمًا عَلَيْهِمْ وَتَجَبُّرًا بِهِمْ، وَلَا فَسَادًا فِيهِمْ
"Allah ta'ala mengabarkan bahwa Negeri akhirat dengan segala kenikmatannya yang abadi yang tidak terhalangi dan tidak pula akan sirna, Allah sediakan untuk hamba-hambaNya yang beriman dan tawadhu' yang tidak menginginkan ketinggian di muka bumi, maksudnya menganggap dirinya lebih tinggi dan lebih mulia dari pada hamba Allah lainnya, tidak sombong kepada mereka, serta berbuat kerusakan di tengah-tengah mereka" -selesai-



0 komentar:
Posting Komentar