“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Sabtu, 27 Juni 2026

Fathul Majid 348-350: Takut Hanya Kepada Allah (bag 4) - Penjelasan Hadits

Fathul Majid 348-350: Takut Hanya Kepada Allah (bag 4) - Penjelasan Hadits

Diterjemahkan dari Kitab Fathul Majid Syarah Kitabit Tauhid

Penulis berkata:
Riwayat dari Abu Sa'id secara marfu':
إِنَّ مِنْ ضَعْفِ الْيَقِينِ أَنْ تُرْضِيَ النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ، وَأَنْ تَحْمَدَهُمْ عَلَى رِزْقِ اللهِ، وَأَنْ تَذُمَّهُمْ عَلَى مَا لَمْ يُؤْتِكَ اللهُ؛ إِنَّ رِزْقَ اللهِ لَا يَجُرُّهُ حِرْصُ حَرِيصٍ، وَلَا يَرُدُّهُ كَرَاهِيَةُ كَارِهٍ
"Sesungguhnya di antara lemahnya keyakinan adalah engkau mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah. Engkau memuji mereka atas rezeki dari Allah dan Engkau mencela mereka atas sesuatu yang tidak diberikan Allah kepadamu. Sesungguhnya rezeki Allah tidak bisa ditarik oleh ketamakan orang yang tamak dan tidak bisa ditolak dengan kebencian orang yang benci"¹

Hadits ini diriwayatkan Abu Nu'aim dalam Al Hilyah dan Al Baihaqy. Al Baihaqy menganggap ada cacat dalam sanadnya karena ada perawi bernama Muhammad bin Marwan As Sudy dan dia berkata: Dha'if (lemah). Dalam sanadnya juga terdapat 'Athiyah Al 'Aufy, Adz Dzahabi menyebutkannya dalam Ad Dhu'afa wal Matrukin dan Musa bin bilal,  Al Azady berkata: Saqith (ada rawi yang sangat lemah). Makna hadits ini benar, dan lengkapnya:
وإن الله بحكمته جعل الروح والفرح في الرضى واليقين، وجعل الهم والحزن في الشك والسخط
"Sesungguhnya Allah dengan hikmahNya menjadikan ketenangan jiwa.dan kegembiraannya dalam sikap ridha dan yakin, dan menjadikan kegundahan dan kesedihan dalam keraguan dan tidak ridha (terhadap ketetapan Allah)"²
Ucapan Beliau: "Sesungguhnya di antara lemahnya keyakinan".  الضعف (Adh Dha'f) artinya lawan dari kuat
Dan اليقين adalah kesempurnaan iman. Ibnu Mas'ud berkata:
اليقين الإيمان كله، والصبر نصف الإيمان
"Yakin adalah keseluruhan iman dan sabar adalah separuh iman"
Diriwayatkan Abu Nu'aim dalam Al Hilyah dan Al Baihaqy dalam Az Zuhd dari haditsnya secara marfu'. Beliau berkata: "Dan termasuk iman dalam hal itu adalah mewujudkan keimanan terhadap takdir yang telah ditetapkan sebelumnya sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas secara marfu.³

فإن استطعت أن تعمل بالرضى في اليقين فافعل، فإن لم تستطع فإن في الصبر على ما تكره خيرا كثيرا ". وفي رواية " قلت: يا رسول الله كيف أصنع باليقين؟ قال: أن تعلم أن ما أصابك لم يكن ليخطئك، وما أخطأك لم يكن ليصيبك "
Jika engkau mampu beramal dengan ridha dalam keyakinan maka lakukanlah. Jika engkau tidak mampu, maka sesungguhnya dalam kesabaran menjalani sesuatu yang tidak engkau sukai terdapat kebaikan yang banyak. Dalam sebuah riwayat: Aku bertanya: Ya Rasulallah bagaimana aku beramal dengan yakin? Beliau menjawab:  Dengan meyakini bahwa apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Dan apa yang luput darimu tidak akan menimpamu⁴.

Sabda beliau:
أن ترضي الناس بسخط الله
"Engkau membuat ridha manusia dengan kemurkaan Allah"
Yaitu engkau lebih mengutamakan keridhaan mereka dibandingkan dengan ridha Allah. Hal itu terjadi ketika dalam hatinya tidak ada pengagungan, pemuliaan, dan rasa segan kepada Allah yang bisa menghalanginya dari mengharapkan ridha makhluk dengan mendatangkan kemurkaan Penciptanya, Rabb-nya, dan penguasanya yang mengendalikan hati, menghilangkan berbagai kesusahan dan mengampuni dosa-dosa.
Dari sisi ini hal itu termasuk jenis kesyirikan karena lebih memilih ridha makhluk dari pada ridha Allah, mendekatkan diri kepada makhluk dengan perkara yang dibenci Allah. Dan tidak ada yang selamat dari hal ini kecuali orang yang diselamatkan Allah dan diberi taufiq untuk mengenal Allah dan mengenal apa yang yang wajib ditetapkan bagi Allah berupa sifat-sifatNya yang sesuai dengan keagunganNya serta mensucikan Allah ta'ala dari segala yang bertentangan dengan kesempurnaanNya, dan juga mengenal  Tauhid-Nya, baik Rububiyah dan Uluhiyah. Wa billahit Taufiq.

Sabda beliau:
وأن تحمدهم على رزق الله
"Dan engkau memuji mereka atas Rezeki Allah"
Yaitu rezeki yang engkau terima melalui perantara tangan-tangan mereka. Dengan menyandarkan rezeki itu kepada mereka dan engkau memuji mereka karenanya. Karena sesungguhnya yang menganugerahi rezeki itu sebenarnya adalah Allah saja, yang telah mentakdirkannya untukmu dan menyampaikannya kepadamu. Jika Allah menghendaki suatu hal, Dia menjadikan sebab-sebab bagi terlaksananya hal itu. Dan ini tidak bertentangan dengan hadits berikut:
من لا يشكر الناس لا يشكر الله
"Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allah"⁵ ⁶
Karena ungkapan syukur kepada mereka adalah dengan mendoakan mereka karena Allah telah mengalirkan nikmat itu melalui tangan mereka. Maka engkau doakan mereka atau membalasnya berdasarkan hadits:
ومن صنع إليكم معروفا فكافئوه، فإن لم تجدوا ما تكافئونه فادعوا له حتى تروا أنكم قد كافأتموه
"Barang siapa yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah. Jika kalian tidak mampu membalasnya maka doakanlah sampai kalian merasa telah membalas kebaikannya"⁷ ⁸
Disandarkannya pelakunya kepada mereka karena mereka menjadi sebab sampainya kebaikan kepadamu. Ada pun yang menetapkan dan mengalirkan nikmat itu hanyalah  Allah saja.

Sabda Beliau -shallallahu 'alaihi wa sallam-:
وأن تذمهم على ما لم يؤتك الله
"Dan engkau mencela mereka karena sesuatu yang tidak Allah berikan untukmu"
Maksudnya karena Allah tidak menetapkan apa yang engkau harapkan itu melalui perantara tangan mereka. Seandainya ditetapkan untukmu niscaya berbagai ketetapan takdir akan mengantarkannya kepadamu. Maka barang siapa yang memahami bahwa satu-satunya yang bisa memberi dan mencegah hanyalah Allah saja, dan bahwa Dia-lah yang memberi rezeki hamba dengan sebab dan tanpa sebab, dan (memberi rezeki) dari arah yang tidak Dia perkirakan, maka dia tidak akan memuji satu makhluk pun atas suatu rezeki (yang dia dapatkan) dan tidak pula mencelanya karena rezeki yang tidak dia dapatkan. Dan dia menyerahkan urusannya kepada Allah, dia bersandar kepadaNya dalam urusan agamanya dan dunianya. Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- sungguh telah menetapkan makna yang demikian ini dengan sabdanya dalam hadits:
إِنَّ رِزْقَ اللَّهِ لَا يَجُرُّهُ حِرْصُ حَرِيصٍ، وَلَا يَرُدُّهُ كَرَاهِيَةُ كَارِهٍ
"Sesungguhnya rezeki Allah tidak dapat didatangkan oleh orang yang tamak, dan tidak dapat ditolak oleh kebencian orang yang membenci"
Sebagaimana firman Allah ta'ala:
مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Apa saja di antara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana."  (QS Fathir: 2)
Syaikhul Islam -rahimahullah- berkata: "Yakin mencakup keyakinan dalam mengerjakan perintah Allah dan keyakinan terhadap janji Allah kepada orang-orang yang mentaatinya. Dan juga mencakup keyakinan terhadap takdir, penciptaan, dan pengaturan Allah. Jika engkau membuat ridha manusia dengan kemurkaan Allah maka engkau belum yakin terhadap janji dan rezekiNya. Sesungguhnya yang mendorong manusia melakukan itu bisa jadi karena keinginan terhadap sesuatu yang ada di tangan. Karena mengharapkan sesuatu dari mereka, maka dia tidak menegakkan kewajiban  yang Allah perintahkan terhadap mereka. Atau karena lemahnya keyakinan terhadap janji Allah kepada orang-orang yang mentaatiNya berupa pertolongan, dukungan, dan pahala di dunia dan di akhirat. Jika engkau mencari ridha Allah, niscaya Allah akan menolongmu, memberi rezeki kepadamu, dan mencukupimu dari ketergantungan kepada mereka.
Dan mencari keridhaan mereka dengan perkara yang dimurkai Allah pada dasarnya timbul karena rasa takut dan harapan kepada mereka dan demikian itu termasuk dari lemahnya keyakinan. Apabila tidak ditakdirkan untukmu sesuatu yang engkau sangka akan mereka berikan untukmu maka urusan itu kembalinya kepada Allah bukan kepada mereka. Sesungguhnya apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki tidak akan terjadi. Apabila engkau mencela mereka karena sesuatu yang tidak Allah takdirkan maka hal itu tanda lemahnya keyakinanmu.
Maka janganlah engkau takut kepada mereka, jangan berharap kepada mereka, dan jangan pula mencela mereka karena egomu dan hawa nafsumu. Akan tetapi, siapa saja yang dipuji Allah rasulNya di antara mereka maka dialah yang terpuji. Dan siapa saja yang dicela Allah dan rasulNya di antara mereka, maka merekalah yang tercela. Tatkala sebagian delegasi Bani Tamim : "Ya Muhammad, berilah aku! Karena sesungguhnya pujianku adalah perhiasan dan celaanku adalah aib". Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Yang demikian itu adalah Allah".⁹
Hadits di atas menunjukkan bahwa iman bertambah dan berkurang, dan bahwasannya amalan masuk dalam hakikat iman.

Note
1. Hadits dha'if. Abu Nu'aim dalam Al Hilyah (5/106),(10/41), dan Al Baihaqy dalam Asy Syu'ab(1/151, 152). Di dha'ifkan Al Albany dalam dha'if Al Jami' (2007)
2. Shahih secara mauquf. Imam Bukhari meriwayatkan secara mu'alaq dalam shahihnya (1/47) dalam kitabul Iman. Al Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Al Fath (1/48): "Imam Thabrani membawakan dengan sanad shahih". Abu Nu'aim mengeluarkannya dalam Al Hilyah dan Al Baihaqy dalam Az Zuhd dari haditsnya secara marfu' dan tidak ada ketetapan pemarfu'annya. Selesai.
3. Dha'if (lemah). Riwayat yang pertama adalah bagian dari hadits yang diriwayatkan Al Hakim (3/541), Abu Nu'aim dalam Al Hilyag (1/314) dengan sanad dha'if. Dan riwayat kedua diriwayatkan oleh Al Ajurri dalam Asy Syari'ah hal 198 dengan sanad lemah juga. Dan hadits ini didhaifkan Ibnu Rajan dalam Jami' Ulumu wal Hikam hal 184.
4. Al Bukhari: Al Iman no 26, Muslim: Al iman no 83, At Tirmidzi: Fadhail Jihad no 1658, An Nasa'i: Manasik Al Hajj no 2624 dan Al Jihad 3130,  Ahmad (2/264), dan Ad Darimi: Al Jihad no 2393.
5. Al Bukhari dalam Al Jihad wa Siyar no 2786, Muslim dalam Al imarah no 1888, At Tirmidzi dalam Fadhailil Jihad no 1660, An Nasa'i dalam Al Jihad no 3105, Abu Dawud dalam Al Jihad no 2486, Ibnu Majah dalam Al Fitan no 3978, dan Ahmad no 3/27.
6. Riwayat Abu Dawud dan At Tirmidzi dan dia berkata Hasan Shahih dan riwayat Ibnu Hibban dari Abu Hurairah.
7. Shahih. Bagian dari hadits Ibnu Umar yang awal haditsnya:
من استعاذكم بالله فأعيذوه، ومن سألكم بالله فأعطوه، ومن دعاكم فأجيبوه, ومن صنع ...
"Siapa yang meminta perlindungan kepada kalian dengan nama Allah maka lindungilah, dan barang siapa yang meminta kepadamu dengan menyebut nama Allah maka berikanlah. Dan barang siapa yang mengundangmu maka penuhilah undangannya. Dan barang siapa yang berbuat baik kepadamu dst" Al Hadits
Riwayat Abu Dawud dalam Kitabuz Zakah no 1673 bab Athiyatu Man sa-ala billah. An Nasa'i dalam Kitabuz Zakah 5/82 bab Man sa-ala billah 'azza wa jalla. Syaikh Al Arnauth berkata dalam takhrij Jami' Al Ushul 11/692 dan sanadnya shahih. Dan dishahihkan Al albany dalam As shahihah no 254.
8. Riwayat Abu Dawud dan An nasa'i dengan sanad shahih, demikian juga dalam Kasyful Khafa'.
9. Hadits Hasan. Ahmad (3/488),(6/393,394) dari Aqra' bin Habis, At Tirmidzi dalam Kitabut Tafsir (3267) dia berkata Hadits Hasan Gharib dari hadits Al Bara' dan dihasankan Al Arnauth dalam takhrij Jami Al Ushul (2/363).

https://shamela.ws/book/2386/366#p1

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)