Berpegang kepada Sunnah
Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.
"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".
Amalan tergantung Niatnya
Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu
عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.
Islam Akan Kembali Asing
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ
Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)
Amalan Bid'ah Tertolak
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)
Islam Dibangun di Atas 5 Perkara
عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Agama Adalah Nasehat
عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)
Rabu, 06 Januari 2021
Pembahasan Kelima:Sunnah-Sunnah Wudhu'
Jumat, 25 Desember 2020
Kebanyakan Manusia Hanya Melihat Haknya Atas Alloh
Ibnul Qayyim -rahimahulloh- berkata:
"Jika engkau mengamati keadaan mayoritas manusia, maka engkau dapati mereka hanya melihat pada hak mereka atas Alloh dan tidak melihat pada hak Alloh atas mereka.
Dan dari sinilah mereka terputus dari Alloh, tertutup hati-hati mereka dari mengenalNya, mencintaiNya, kerinduan akan perjumpaan denganNya dan bernikmat-nikmat dengan mengingatNya. Ini adalah puncak kebodohan manusia terhadap Robb-nya dan terhadap dirinya" (Ighatsatul Lahafan: 1/152)
قال ابن القيم رحمه الله:
إذا نظرت حال أكثر الناس وجدتهم
ينظرون في حقهم على الله , ولا ينظرون في حق الله عليهم
ومن هاهنا انقطعوا عن الله
وحجبت قلوبهم عن معرفته ومحبته والشوق إلى لقائه والتنعم بذكره
وهذا غاية جهل الإنسان بربه , وبنفسه
[ إغاثة اللهفان 1 / 152 ]
Obat Kerasnya Hati
Syarat Taubat: Bertekad Untuk Tidak Mengulangi Dosanya
Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahulloh- berkata:
Manusia jika berbuat dosa kemudian bertaubat dengan sungguh-sungguh, lalu dikalahkan oleh nafsunya sehingga berbuat dosa lagi maka taubatnya yang pertama tetap sah. Apabila dia bertaubat lagi maka taubatnya sah, sebab syarat taubat adalah seseorang BERTEKAT UNTUK TIDAK MENGULANGI dosanya dan bukanlah syarat taubat TIDAK MENGULANG dosanya.
Syarah Kitab Tauhid juz 2/500
الإنسان إذا فعل الذنب ثم تاب توبة نصوحا ثم غلبته عليه نفسه مرة أخرى فإن توبته الأولى صحيحة فإذا تاب ثانية فتوبته صحيحة لأن من شروط التوبة أن يعزم أن لا يعود وليس من شروط التوبة ان لا يعود.
📖 (شرح كتاب التوحيد ج2 ص500) #ابن_عثيمين
Ushul Tafsir (3): Turunnya Al-Qur'an antara Ibtidai dan Sababi
(Diterjemahkan dari kitab Ushulun Fit tafsiir karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahulloh- hal 12-13)
3. Turunnya Al-Qur'an antar Ibtidai dan Sababi.
Turunnya Al-Qur'an terbagi atas dua keadaan:
Pertama: Ibtida'i yaitu turunnya ayat Qur'an tanpa ada sebab yang melatarbelakanginya. Dan ini kebanyakan dari ayat Qur'an. Di antaranya firman Alloh -ta'ala-:
وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ
"Dan di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah, “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah dan niscaya kami termasuk orang-orang yang shalih.” (QS At-Taubah: 75)
Ayat ini turun secara ibtida' tentang keadaan sebagian orang-orang munafik. Ada pun yang masyhur bahwa ayat ini turun tentang Tsa'labah bin Hatib dalam kisah yang panjang yang telah disebutkan oleh kebanyakan ahli tafsir dan dipopulerkan oleh mayoritas para pemberi wejangan maka ini kisah lemah yang tidak shahih.
Kedua: Sababy yaitu turunnya ayat didahului oleh sebab yang melatarbelakanginya. Sebabnya bisa berupa:
1. Jawaban Alloh -ta'ala- atas sebuah pertanyaan. Misalnya:
يَسْأَلونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
"Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, “Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji.” (QS Al-Baqarah: 189)
2. Atau suatu kejadian yang membutuhkan penjelasan dan peringatan. Misalnya:
"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja.” (QS At-Taubah: 65)
Dua ayat ini turun berkenaan tentang seorang laki-laki munafik yang berkata di perang Tabuk di suatu perkumpulan:
"Kami tidak pernah melihat orang seperti Qori kita (para pembaca Al-Qur'an) ini yang lebih buncit perutnya, yang lebih dusta lisannya dan lebih pengecut ketika bertemu musuh -yaitu Rasululloh -shollallahu 'alaihi wa sallam- dan para shahabatnya. Maka sampailah berita itu kepada Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- lalu turun Al-Qur'an. Maka datanglah laki-laki tersebut kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- menyampaikan alasannya. Maka beliau menjawab:
أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ
“Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (QS At-Taubah: 65)
3. Atau suatu perbuatan yang terjadi yang membutuhkan penjelasan hukumnya:
قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ
"Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat".(QS Al-Mujadilah: 1)
٣- نزول القرآن ابتدائي وسببي
ينقسم نزول القران إلى قسمين:
الأول: ابتدائي: وهو ما لم يتقدم نزوله سبب يقتضيه، وهو غالب آيات القران، ومنه قوله تعالى: (وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ) (التوبة: ٧٥)
الآيات فإنها نزلت ابتداء في بيان حال بعض المنافقين، وأما ما اشتهر من أنها نزلت في ثعلبة ابن حاطب في قصة طويلة، ذكرها كثير من المفسرين، وروجها كثير من الوعاظ، فضعيف لا صحة له. (١) .
القسم الثاني: سببي: وهو ما تقدم نزوله سبب يقتضيه. والسبب:
أ - ... إما سؤال يجيب الله عنه مثل (يَسْأَلونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ) (البقرة: الآية ١٨٩) .
ب - أو حادثة وقعت تحتاج إلى بيان وتحذير مثل: (وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ) (التوبة: الآية ٦٥) الآيتين نزلتا في رجل من المنافقين قال في غزوة تبوك في مجلس: ما رأينا مثل قرائنا هؤلاء أرغب بطونا، ولا أكذب ألسنا، ولا أجبن عند اللقاء، يعني رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه، فبلغ ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم ونزل القرآن فجاء الرجل يعتذر النبي صلى الله عليه وسلم فيجيبه (أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ) (التوبة: الآية ٦٥) (١) .
ج- أو فعل واقع يحتاج إلى معرفة حكمه مثل: (قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ) (المجادلة: ١)
(١) رواه الطبراني، وفيه على بن يزيد الألهاني وهو متروك.
Kamis, 10 Desember 2020
Contoh Sifat Dzatiyah Dalam Al-Qur'an
Rabu, 02 Desember 2020
Taisir (77 & 78): Imam Meringankan Sholat Berjamaah








