“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Rabu, 27 Februari 2019

Muqaddimah Penulis Syarah


Al-'Alamah Muhammad bin Sholih al-utsaimin rahimahullah berkata :
Kitab ini yang diberi judul "Al Aqidah Al Wasithiyah" yang ditulis oleh pembesar umat ini di zamannya: Abul Abbas Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim bin Abdissalam bin Taimiyah -rahimahullah- wafat tahun 728 H.
Beliau ini memiliki peranan -yang patut disyukuri dan kita berharap kepada Allah agar Allah memberikan ganjaran atas usaha-usaha beliau- dalam membela kebenaran dan menghancurkan pengusung kebatilan. Hal tersebut bisa diketahui oleh setiap orang yang menelaah dan meneliti kitab-kitab beliau. Ini pada hakekatnya adalah nikmat Allah kepada umat ini karena Allah Ta'ala telah mencukupkan dengannya perkara-perkara besar lagi penting dalam masalah aqidah Islamiyah.
Kitab ini adalah kitab yang ringkas yang diberi judul Al Aqidah Al Wasithiyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam karena telah mendatangi beliau, seorang laki-laki dari daerah Wasith. Dia menyampaikan kepada beliau kondisi manusia yang bahu-membahu diatas madzab kesesatan dalam masalah Asma dan sifat Allah. Maka ditulislah risalah aqidah ini yang termasuk sebagai pondasi utama bagi 'aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah terkait permasalahan-permasalahan yang banyak manusia terjerumus dalam perkara Bid'ah dan banyak beredar didalamnya pendapat-pendapat yang tidak jelas.r

Dan sebelum kami memulai pembahasan risalah yang agung ini, kami ingin menjelaskan bahwa keseluruhan risalah-risalah para rasul yang diawali oleh Nabi Nuh -'alaihis salam- dan yang terakhir Muhammad -shallallahu 'alaihi wasallam- semuanya menyeru kepada tauhid.
Allah ta'ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku".
(QS Al-Anbiya': 25)
Dan Allah ta'ala juga berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ
"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thagut”. (QS An-Nahl: 36).
Demikian itu karena makhluk diciptakan oleh Dzat yang Esa yaitu Allah 'azza wa Jalla. Mereka diciptakan untuk beribadah kepadaNya agar hati-hati mereka terikat kepadaNya dalam rangka penghambaan, pengagungan, khauf (takut), raja' (berharap), tawakal, rughbah (harapan) dan ruhbah (cemas), sampai mereka meninggalkan segala sesuatu dari urusan dunia yang tidak bisa membantu mereka dalam mentauhidkan Allah 'azza wa jalla dalam permasalahan ini. Karena engkau adalah makhluk yang sudah pasti engkau adalah milik penciptaMu. Engkau di bawah pengaturanNya dalam segala sesuatu. Oleh karenanya, dakwah para rasul alaihimussalam menyeru kepada perkara yang penting dan agung ini yaitu peribadahtan hanya kepada Allah saja dan tidak menyekutukanNya. Dan tidaklah para rasul yang diutus oleh Allah azza wa jalla kepada manusia menyerukan Tauhid Rububiyah sebagaimana seruan mereka kepada Tauhid uluhiyah. Hal itu karena orang yang mengingkari tauhid Rububiyah sedikit sekali bahkan orang yang mengingkarinya dalam keadaan mengakuinya dalam jiwa jiwa mereka, dan mereka tidak mampu untuk mengingkarinya, kecuali mereka telah hilang akal sehatnya, sehingga mengingkarinya karena kesombongannya.
Diterjemahkan oleh Abu Unais Pati dengan bebarapa editan dari Ust Abu Sa'id At-Tighaly -hafidzahulloh-

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)