“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Rabu, 27 Februari 2019

Muqadimah - Tauhid Rububiyah

Al-'Alamah Muhammad bin Shalih al-utsaimin rahimahullah berkata :
Para ulama rohimahumullah membagi tauhid menjadi tiga:
Pertama: Tauhid Rububiyah yaitu mengesakan Allah subhanahu wa taala dalam tiga perkara yaitu dalam penciptaan, kepemilikan dan pengaturan. Dalilnya adalah firman Allah ta'ala:
ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ
"Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya."(QS Al-A'raf: 54).
Pendalilan dari ayat tersebut bahwasanya : didahulukannya khobar yang seharusnya diakhirkan. Dalam kaidah balaghah mendahulukan yang seharusnya diakhirkan memberikan faedah pembatasan.
Kemudian perhatikanlah pembukaan ayat ini dengan (الا) "ingatlah" menjadi dalil akan tanbih (peringatan) dan taukid (penegasan).
ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ
"Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya."(QS Al-A'raf: 54) bukan kepada selainNya. Maka penciptaan adalah Dia -Allah- dan al-amru(urusan) adalah tadbir (pengaturan).
Adapun 'kepemilikan' maka dalilnya sebagaimana firman Allah ta'ala:
و لله ملك السموات والارض
"Dan milik Allahlah kerajaan langit dan bumi" (QS Al Jatsiyah:27).

Ayat ini menunjukkan tentang keesaan subhanahu wa taala dalam kepemilikan. Dan bentuk pendalilannya dari ayat ini -sebagaimana sebelumnya- mendahulukan khobar yang seharusnya diakhirkan.
Dengan demikian maka Ar-Robb (Alloh) azza wa jalla, Esa dalam penciptaan, kepemilikan dan pengaturan.
Jika engkau katakan: "Bagaimana cara engkau mengkompromikan antara apa yang engkau telah tetapkan diatas dengan kenyataan penetapan adanya penciptaan oleh selain Allah ta'ala sebagaimana firman Allah ta'ala:
ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
"Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik". (QS Al-Mu'minun: 14).
Dan sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam tentang para penggambar makhluk bernyawa:
"يقال لهم: أحيوا ما خلقتم"
"Dikatakan kepada mereka: "Hidupkan yang kamu ciptakan"(HR Bukhori dan Muslim)
Dan sebagaimana firman Allah ta'ala dalam hadis Qudsi:
ومن أظلم ممن ذهب يخلق كخلقي
"Siapakah yang lebih dzolim daripada orang yang berusaha menciptakan sebagaimana ciptaanku" (HR Bukhari & Muslim)
Bagaimana engkau mengkompromikan ucapanmu, bahwa Allah esa dalam penciptaan dengan nash-nash tersebut?
Jawabannya: "Bahwasanya penciptaan adalah mengadakan sesuatu, dan ini adalah kekhususan bagi Allah ta'ala. Adapun mengubah sesuatu dari suatu bentuk ke bentuk yang lain maka yang demikian ini bukanlah penciptaan yang sebenarnya, meskipun disebut sebagai penciptaan dilihat dari sudut pandang pembuatan. Akan tetapi dalam kenyataannya hal itu bukanlah penciptaan yang sempurna. Misalnya seorang tukang kayu membuat pintu dari kayu, maka dikatakan dia menciptakan pintu. Akan tetapi bahan-bahan pembuatannya, yang menciptakannya adalah Allah azza wa jalla. Manusia seluruhnya bahkan yang paling pakar sekalipun tidak akan mampu menciptakan kayu selamanya dan tidak akan mampu menciptakan biji-bijian dan juga tidak akan mampu menciptakan seekor lalat pun.
Simaklah firman Allah ta'ala berikut:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ
"Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah". (QS Al Hajj: 73)
Isim الَّذِينَ adalah isim maushul yang mencakup segala sesuatu yang diseru selain Allah baik berupa batu, manusia, malaikat dan selainnya. Semuanya yang mereka sembah selain Allah:
لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ
"Sekali-kali tidak akan mampu menciptakan seekor lalat meskipun mereka bersatu untuk menciptakannya".
Dan seandainya masing-masing bersendirian untuk melakukannya, maka lebih tidak mampu lagi.
وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ۚ
"Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu".
Sampai berhala-berhala yang mereka sembah selain Alloh, seandainya lalat itu mengambil sesuatu darinya maka mereka tidak akan mampu untuk menariknya kembali dari lalat yang lemah tersebut. Dan seandainya lalat tersebut berada pada raja yang paling kuat di bumi dan menghisap minyak wanginya, maka raja tersebut tidak akan mampu mengambil kembali minyak wanginya tersebut dari lalat tadi. Dan demikian pula seandainya lalat tersebut berada pada makanannya (tentu mereka tidak akan mampu merebutnya kembali). Maka dengan demikian Allah azza wa jalla adalah pencipta satu-satunya.
Kemudian seandainya engkau katakan: "Bagaimana engkau mengkompromikan antara ucapanmu bahwasannya Allah Esa dalam penguasaan, dengan adanya penetapan kepemilikan bagi makhluk-makhlukNya, sebagaimana firman Allah ta'ala:
أَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَفَاتِحَهُ
"Atau rumah-rumah yang kalian miliki kuncinya" (QS An Nur: 61).
إِلاّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ
"Kecuali kepada istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki".
Maka jawabannya:
"mengkompromikan antara keduanya ada dua bentuk:
✔Pertama, bahwasanya kepemilikan manusia terhadap sesuatu tidaklah mutlak dan menyeluruh. aku memiliki apa yang berada di tanganku, namun namun aku tidak memiliki apa yang berada di tanganmu, namun segala sesuatu adalah milik Allah azza wa jalla. Maka dari sisi cakupan, kepemilikan Allah 'azza wa jalla lebih mencakup dan lebih luas dan itu adalah kepemilikan yang sempurna.
✔Kedua: bahwasannya kepemilikanku terhadap sesuatu ini bukankah kepemilikan yang sebenarnya yang bisa aku pergunakan sebagaimana yang aku kehendaki, akan tetapi aku memanfaatkannya sebagaimana yang diperintahkan oleh syariat dan sebagaimana yang diizinkan oleh Pemilik yang Hakiki yaitu Allah azza wa jalla. Seandainya aku membeli satu dirham dengan dua dirham, aku tidaklah bisa memilikinya -secara syariat- dan hal itu tidak halal bagiku. Dengan demikian kepemilikanku terbatas.
Demikian pula aku tidak punya kepemilikan sedikit pun pada perkara-perkara yang telah ditetapkan, karena tasharuf(pengaturannya) adalah hak Alloh. aku tidak bisa mengatakan kepada Budakku yang sakit: "Sembuhlah! Lalu ia pun sembuh. Dan aku tidak mampu pula mengatakan kepada budakku yang sehat tapi pelit: "Sakitlah! Lalu ia pun jatuh sakit. Akan tetapi tasharruf yang sebenarnya adalah hak Allah 'azza wa jalla. Seandainya Dia berkata kepadanya: "Sembuhlah! Maka ia akan sembuh". Dan seandainya Dia berkata kepadanya: "Sakitlah! Maka ia pun jatuh sakit".
Dengan demikian aku tidak memiliki kemampuan untuk bertindak secara mutlak baik secara syar'i dan maupun qodari. Kepemilikanku disini terbatas dari sisi tasharruf (kewenangan dalam menggunakannya) dan kurang dari sisi cakupan dan keumumannya. Oleh karenanya menjadi jelas bagi kita bagaimana ke-Esaan Allah 'azza wa jalla dalam kepemilikan.
Adapun tadbir (pengaturan) Maka manusia juga bisa mengatur akan tetapi kita katakan pengaturannya adalah terbatas sebagaimana dua point diatas dalam keterangan tentang kepemilikan. Tidak setiap sesuatu aku mampu melakukan pengaturan padannya. Akan tetapi aku hanya mampu memberikan pengaturan kepada sesuatu yang berada dibawah genggamanku atau kepemilikanku. Demikian pula aku tidak mampu untuk memberikan pengaturan kecuali sesuai dengan ketentuan syariat yang diperbolehkan kepadaku di dalam pengaturannya.
Dengan demikian menjadi jelas bawa perkataan kami bahwa Allah 'azza wa jalla Esa dalam penciptaan, kepemilikan dan pengaturan secara umum, menyeluruh dan mutlak. Dan tidak ada pengecualian padanya sedikitpun karena setiap yang kami sampaikan tidaklah bertentangan dengan apa yang telah tetap dari Allah azza wa jalla dalam permasalahan tersebut.
Diterjemahkan oleh Abu Unais Pati dengan beberapa editan dari Ust Abu Sa'id At Tighaly -hafidzahulloh-

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)