“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Rabu, 27 Februari 2019

Muqqadimah - Tauhid Asma wa Shifat

Al-'Alamah Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah berkata :
"Akan tetapi yang sering terjadi perselisihan diantara Ahlul Kiblat (kaum muslimin) adalah macam tauhid ketiga, yaitu tauhid Asma wa Shifat. Ini adalah perkara yang banyak manusia terjerumus padanya. Manusia terbagi atas 3 kelompok (dalam masalah ini).
Mereka yaitu: Mumatsil (menyerupakan Alloh dengan makhlukNya), Mu'athil (yang meniadakan sifat-sifat Alloh), Mu'tadil (pertengahan, yaitu Ahlus Sunnah), dan Muathil baik dengan mendustakan (sifat-sifat Alloh) atau merubah-rubahnya (tahrif).
Awal bid'ah yang terjadi di tengah umat ini adalah bid'ah Khawarij di mana pemimpin mereka telah khuruj (keluar) dari ketaatan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam yaitu Dzul Khuwaisiroh dari bani Tamim.

Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam membagikan emas-emas yang datang (dari harta rampasan perang -pent.) kepada orang-orang, Dzul Khuwaisiroh berkata: "Wahai Muhammad berlaku adillah!". Maka ini adalah awal pembangkangan, yang keluar dari Syariat Islam. Kemudian menjadi besar fitnah mereka di akhir-akhir khalifah Utsman -radhiyallohu 'anhu- dan ketika terjadi fitnah antara Ali dan Muawiyah -radhiyallohu 'anhuma-. mereka mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah-darah mereka.
Kemudian muncul bid'ahnya Qodariyah -Majusinya umat ini- , mereka berkata: Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala tidaklah menetapkan perbuatan hamba, dan perbuatan hamba tidak masuk dalam kehendak Allah dan bukan pula ciptaan-Nya. Bahkan tokoh-tokoh mereka dan orang-orang yang ghuluw (berlebihan) di antara mereka mengatakan takdir itu tidaklah dengan pengetahuan Allah dan tidaklah tertulis di dalam Lauh Mahfudz dan Allah tidaklah mengetahui apa yang akan dikerjakan oleh manusia kecuali jika telah terjadi. Mereka berkata: Sesungguhnya perkara-perkara itu (amal perbuatan hamba -pent) adalah sesuatu yang baru (tanpa didahului takdir & ilmu Alloh) yaitu sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Mereka ini muncul di akhir masa shahabat. Mereka sempat menjumpai zaman Abdullah bin Umar radhiyallahu'anhu Ubadah bin As-Shamit dan sejumlah sahabat lainnya, akan tetapi mereka muncul di akhir-akhir masa sahabat.


Kemudian muncul bid'ahnya Irja'(Murji'ah), dan mereka menjumpai kebanyakan dari tabi'in. Murji'ah adalah mereka yang mengatakan: Bahwasannya maksiat tidak berpengaruh terhadap Iman. (Mereka akan bertanya) "engkau seorang mukmin?". Jika engkau mengatakan: Iya. Dia akan berkata kepadamu: "Maksiat tidak akan mempengaruhi keimananmu, engkau berzina, mencuri, meminum khomer, dan membunuh, selama engkau seorang mukmin, maka engkau adalah orang mukmin yang sempurna imannya, meskipun engkau melakukan semua kemaksiatan tersebut.

Akan tetapi menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: "Perkataan Qodariyah dan Murji'ah pada zaman shahabat masih hidup, lalu kemudian para sahabat membantah mereka adalah dalam perkara taat dan maksiat, mukmin dan fasiq, mereka belum berbicara mengenai Rabb (Alloh) dan shifat-shifatNya".
Kemudian muncul kaum cendekia yang mendakwakan bahwa akal didahulukan dari pada wahyu. Mereka menyatakan pendapat diantara dua pendapat -yaitu pendapat Murjiah dan pendapat Khawarij-. Mereka mengatakan: "Orang yang melakukan dosa besar bukanlah seorang mukmin sebagaimana yang dikatakan Murjiah dan bukan pula kafir sebagaimana yang dikatakan Khawarij, akan tetapi dia berada di suatu tempat antara dua tempat, sebagaimana seorang yang bepergian dari suatu kota ke kota lainnya. Tatkala ia berada di tengah perjalanan, maka dia tidaklah di kotanya, juga tidak berada di tempat yang ditujunya. Akan tetapi ia berada di suatu tempat di antara dua tempat. Ini menurut hukum di dunia, adapun di akhirat, maka dia kekal di neraka. Jadi mereka mencocoki khawarij mengenai status di akhirat, akan tetapi status di dunia mereka menyelisihi Khawarij".
Bid'ah ini muncul dan tersebar. Kemudian muncul bid'ah Dzulmah dan Jahmiyah, yaitu bid'ahnya Jahm bin Shofwan dan para pengikutnya yang disebut Jahmiyyah. Muncullah bid'ah ini dan bid'ahnya bukan dalam masalah penamaan (istilah-istilah) dan hukum-hukum, apakah mukmin, kafir atau pun fasiq, atau dalam masalah "almanzilatu baina manzilatain" (Suatu tempat di antara dua tempat), akan tetapi bid'ahnya berkaitan dengan Dzat Kholiq.

Perhatikanlah bagaimana bid'ah muncul bertahap pada awal-awal Islam hingga sampai pada (permasalahan terkait) Sang Pencipta (Al Kholiq) jalla wa 'ala. Dan mereka memposisikan Al Kholiq pada kedudukan makhluq. Mereka berpendapat sekehendaknya. Mereka berkata: Ini tetap (tsabit) untuk Alloh, dan yang ini tidak tetap. Ini masuk akal untuk dishifatkan kepada Alloh, dan yang ini tidak masuk akal untuk ditetapkan untukNya. Terkait bid'ahnya Jahmiyyah dan Mu'tazilah, maka mereka menjadi beberapa kelompok terkait masalah Asma-asma Alloh dan Sifat-sifatNya sebagai berikut :

PERTAMA, mereka menyatakan: Tidak boleh sama sekali menshifati Alloh, baik dengan wujud (ada) maupun dengan adam (ketiadaan). Karena, jika dishifati dengan wujud maka serupa dengan sesuatu yang ada (makhluk). Dan jika dishifati dengan adam (ketiadaan) maka serupa dengan yang tidak ada. Sehingga wajib meniadakan sifat wujud dan adam dariNya. Dan apa yang mereka nyatakan ini adalah menyerupakan Al Kholiq dengan sifat yang terlarang dan mustahil, sebab menerima sesuatu yang tidak ada dan ada adalah menerima dua hal yang bertolak belakang. Dan dua hal yang bertolak belakang tidak mungkin dikompromikan dan terangkat. Setiap anak Adam yang berakal mengingkari hal ini dan tidak bisa menerimanya. Maka lihatlah bagaimana mereka lari dari sesuatu dan mereka jatuh kepada yang lebih buruk darinya.

KEDUA: Mereka berkata: Kami mensifati Allah dengan peniadaan dan tidak mensifatNya dengan penetapan, yaitu mereka membolehkan untuk meniadakan dari Allah subhanahu wa ta'ala berbagai sifat akan tetapi tidak menetapkan (sifat Alloh), yakni (mereka berkata:) Kami tidak mengatakan Dia Hidup hanya saja kami mengatakan Dia tidak mati dan kami tidak mengatakan dia Maha Mengetahui akan tetapi kami mengatakan Dia tidaklah bodoh dan demikian seterusnya. Mereka berkata: Seandainya engkau menisbatkan Dia (Alloh) dengan sesuatu maka engkau telah menyerupakanNya dengan sesuatu yang ada karena menurut pandangan mereka segala sesuatu yang maujud (ada) adalah serupa. Maka engkau tidaklah menetapkan sesuatu pun untuknya. Adapun peniadaan maka itu adalah sesuatu yang tidak ada.
(Padahal) bersamaan dengan itu, sifat maujud di dalam Al Qur'an dan Sunnah terkait sifat-sifat Allah yang diitsbat (ditetapkan) lebih banyak daripada yang dinafi'kan (ditiadakan). Dikatakan kepada mereka: Sesungguhnya Allah berkata tentang DzatNya "Samii' Bashiir" (Maha Mendengar dan Maha Melihat).
Maka mereka berkata: Ini adalah karena 'penyandaran', maknanya disandarkan kepadaNya pendengaran, bukannya Dia disifati dengannya (yaitu mendengar -pent). Akan tetapi Dia memiliki makhluk yang mendengar ini adalah bab idhofiyah( penyandaran ). Maka Samii'(Maha Mendengar) yaitu bukanlah Dia memiliki pendengaran, akan tetapi dialah yang didengar.
Dan muncul kelompok yang kedua, mereka berkata: "Sifat-sifat ini adalah untuk makhluk-makhlukNya dan bukan (ditetapkan) kepadaNya. Adapun Allah maka tidaklah ditetapkan untuknya suatu sifat pun.

KETIGA: Mereka berkata: Ditetapkan bagi Alloh nama-nama tanpa sifat. Mereka inilah mu'tazilah, mereka menetapkan nama-nama Allah. Mereka berkata: Sesungguhnya Allah (memiliki nama) Sam'i (Maha Mendengar), Bashir (Maha Melihat), Qadir (Maha Kuasa), Aliim (Maha Mengetahui), Hakiim (Maha Bijaksana).
Akan tetapi Qodiir (Maha Kuasa) tanpa qudroh(kuasa), Samii' (Maha Mendengar) tanpa pendengaran, Bashir (Maha Melihat) tanpa penglihatan, 'Aliim (Maha Mengetahui) tanpa ilmu, dan Hakiim (Maha Bijaksana) tanpa hikmah/kebijaksanaan.

KEEMPAT, mereka berkata: Kita menetapkan bagi Allah nama-nama secara hakikatnya (sesuai lafadz sebenarnya) dan kita menetapkan baginya sifat-sifat tertentu yang sesuai akal dan kita mengingkari yang selainnya. Kita menetapkan baginya 7 sifat saja dan sisanya kita menolaknya dengan tahrif dan tidak dengan mendustakannya. Karena jika mereka mengingkarinya dengan pendustaan artinya mereka telah kafir oleh karenanya mereka mengingkarinya dengan tah'rif (merubah lafadz) yang mereka sebut dengan Takwil.
Sifat yang 7 ini mereka kumpulkan dalam perkataan mereka:

له الحياة و الكلام و البصر *** سمع ارادة علم و اقتدر
"Baginya hidup, berbicara, dan melihat.
Mendengar, berkehendak, mengetahui dan berkuasa".

Ini adalah sifat-sifat yang kita menetapkannya karena akal sesuai dengan hal itu. Dan sisanya, kita tidak menetapkan sifat-sifat yang tidak sesuai akal. Dan kita menolak sifat-sifat yang tidak cocok dengan akal. Mereka inilah 'Asyairoh yang mengimani sebagian sifat dan menolak sebagian yang lainnya.
Ini adalah pembagian ta'thil (peniadaan) dalam permasalahan asma' dan shifat Alloh.

و من سن في الإسلام سنة سيئة فعليه وزرها و وزر من عمل بها الى يوم القيامة
"Barang siapa yang menggagas sunnah yang buruk dalam Islam, maka dia mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengikutinya sampai hari kiamat". (HR Muslim, Nasai, Al Humaidi, Ad Darimi, Ibnu Majah, At Tirmidzi, Ahmad, Abdur Razaq, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hiban, dan Al Baihaqy dari jalan Jarir bin Abdillah dari bapaknya secara marfu').

Kesimpulannya, kalian wahai para ikhwah jika kalian menelaah kitab-kitab kelompok yang fokus pada pengumpulan pendapat-pendapat mereka niscaya engkau akan melihat keajaiban yang luar biasa, yang kalian akan mengatakan: "Bagaimana mungkin seorang yang berakal -terlebih seorang mukmin- mengucapkan seperti ini?" Akan tetapi...siapa pun yang tidak Alloh jadikan cahaya untuknya maka tidak ada cahaya baginya. Orang yang Alloh butakan mata batinnya seperti orang yang Alloh butakan matanya. Sebagaimana orang yang buta mata matanya seandainya dia berdiri di depan matahari yang bisa menyilaukan cahaya penglihatan dia tidak akan melihatnya. Demikian pula orang yang telah Alloh butakan bashirohnya seandainya ia berdiri dihadapan cahaya-cahaya kebenaran tidaklah ia melihatnya. Wal 'iyadzu billah.

Oleh karenanya, sudah semestinya kita senantiasa memohon kepada Alloh untuk tetap teguh dalam masalah ini, dan agar Dia tidak menggelincirkan hati-hati kita setelah Dia memberi hidayah kepada kita, sebab ini adalah perkara yang sangat penting. Dan syaithon masuk ke Bani Adam dari setiap sisi dan arah dan memberikan keraguan padanya dalam masalah aqidahnya, agamanya, kitab Alloh dan sunnah rosulNya. Demikianlah hakekat bid'ah yang menyebar di tengah umat Islam.

Namun -walhamdulillah- tidaklah seseorang membuat-buat bid'ah kecuali Alloh telah menakdirkan baginya -dengan karunia dan kemurahanNya- orang yang akan menjelaskan bid'ah tersebut dan membantahnya.
Dan ini merupakan kesempurnaan yang ditunjukkan oleh firman Allah tabaraka wa ta'ala:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya". (QS Al Hijr: 9)

Ini merupakan penjagaan Allah kepada agama ini. Dan ini juga sesuai hikmah Allah 'azza wa jalla karena Allah ta'ala menjadikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai penutup para nabi dan risalah ini tidak bisa tidak harus tetap ada di bumi kalaulah tidak demikian niscaya manusia akan punya hujjah dihadapan Allah. Dan ketika risalah harus senantiasa ada di bumi, melazimkan bahwa Allah menakdirkan -sesuai dengan HikmahNya- setiap bid'ah akan ada orang yang menjelaskannya dan menyingkap aurotnya (kesesatannya). Dan ini adalah kesimpulannya.
Oleh karenanya aku senantiasa sampaikan kepada kalian: bersemangatlah dalam menuntut ilmu. Sesungguhnya di negeri ini -di masa mendatang- jika kita tidak bersenjatakan ilmu yang dibangun diatas Al Kitab dan As Sunnah maka nyaris akan terjadi kepada kita sebagaimana yang telah terjadi kepada selain kita di negari-negari Islam. Negari ini sekarang ini menjadi target musuh-musuh Islam. Mereka mengarahkan anak panahnya dengan tujuan untuk menyesatkan penduduknya. Oleh karena itu bersenjatalah kalian dengan ilmu, sampai kalian berada diatas kebenaran dalam agama kalian dan sampai kalian menjadi mujahidin-mujahidin dengan lisan-lisan dan dengan pena-pena kalian untuk (melawan) musuh-musuh Allah subhanahu wa ta'ala.

Semua bid'ah ini tersebar setelah masa sahabat. Para sahabat radhiyallahu anhum tidak pernah mereka membicarakan masalah-masalah ini, karena mereka Langsung bertalaqqi (mengambil langsung) dari Al Kitab dan As-Sunnah sesuai dengan dzohirnya dan sesuai yang dikehendaki fitrah. Dan fitrah yang selamat maka dia akan selamat. Akan tetapi datang para pelaku bid'ah ini mereka mengada-adakan bid'ah didalam agama Alloh ta'ala: entah karena sedikitnya ilmu mereka, atau kurangnya pemahaman mereka, atau karena ada tujuan-tujuan buruk mereka. Mereka membuat kerusakan dalam urusan dunia dengan bid'ah yang mereka adakan.
Akan tetapi sebagaimana yang kami katakan: Sesungguhnya Allah ta'ala dengan -hikmahNya, pujianNya, kebaikanNya dan fadilahNya- tidaklah suatu bid'ah muncul kecuali Allah telah menakdirkan baginya orang yang akan membantahnya dan menjelaskannya.
Dan dari sekian banyak orang-orang yang telah menjelaskan bid'ah dan tegak dengan sempurna dalam membantahnya yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh -- dan aku memohon kepada Allah untukku dan untuk kalian untuk mengumpulkan kita dengannya di surga yang penuh kenikmatan.
Beliau ini -yang dengannya Allah telah memberikan manfaat dengan keutamaan yang ada pada beliau- dan memberikan karunia kepada umat ini dengan yang semisalnya- menulis kitab "Al-Aqidah" ini sebagaimana aku katakan sebagai jawaban terhadap orang yang memintanya dari salah satu penduduk Wasith yang telah mengadukan kepada beliau tentang kondisi manusia yang bergelimang dalam bid'ah dan meminta kepada beliau untuk menuliskan kitab aqidah ini dan beliau pun menuliskannya.


Diterjemahkan oleh Abu Unais Pati dengan beberapa editan ust Abu Sa'id hafidzohulloh

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)