Al-'Alamah Muhammad bin Shalih al-utsaimin rahimahullah berkata :
Pembagian Kedua, yakni Tauhid Uluhiyah adalah mengesakan Allah Azza wa Jalla dalam ibadah. Agar engkau tidak menjadi hamba kepada selain Allah. Engkau tidaklah beribadah kepada malaikat, nabi, wali, manusia, ibu ataupun bapak dan engkau tidak beribadah kecuali kepada Allah saja. Engkau mengesakan Allah 'azza wa jalla dengan penghambaan dan peribadatan. Oleh karenanya Tauhid Uluhiyah disebut juga dengan tauhid ibadah. Dari sisi penyandarannya kepada Allah disebut dengan Tauhid Uluhiyah, dan dari sisi penyandarannya kepada hamba dia disebut tauhid ibadah.
Ibadah dibangun di atas 2 perkara yang agung yaitu kecintaan dan pengagungan. Hal itu diperoleh dari firman Allah ta'ala:
ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا
"Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas".(QS Al-Anbiya': 90)
Mahabbah (kecintaan) akan melahirkan rughbah (harapan), sedangkan pengagungan akan melahirkan ruhbah (rasa segan) dan takut. Oleh karenanya ibadah mencakup perintah-perintah dan larangan-larangan. Adapun perintah dibangun di atas rughbah (harapan) dan permintaan untuk sampai kepada Dzat yang memerintahkan. Sedangkan larangan dibangun diatas pengagungan dan rasa takut kepada Yang Maha Agung.
Apabila engkau mencintai Allah azza wa jalla maka engkau berharap apa yang ada di sisi-Nya dan engkau berharap bisa sampai kepadaNya dengan mencari jalan yang mengantarkan kepadaNya. Dan engkau mengerjakan ketaatan dengan ketaatan yang paling sempurna. Lalu apabila engkau mengagungkannya, engkau akan takut padaNya. Tatkala engkau ada keinginan untuk melakukan maksiat maka engkau merasakan keagungan Alloh Maha Pencipta azza wa jalla sehingga engkau pun menjauhinya.
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ
"Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian". (QS Yusuf: 24).
Ini adalah nikmat Allah kepadamu, tatkala Engkau ingin berbuat maksiat engkau mendapati Allah di hadapanmu, lalu engkau takut dan menjauhi maksiat karena engkau beribadah kepada Allah dengan rasa harap dan rasa takut.
APAKAH ARTI IBADAH?
Ibadah dimutlakkan kepada dua hal yaitu fi'il (perbuatan) dan maf'ul (obyek yang diibadahi).
Dimutlakkan kepada perbuatan yaitu At-Ta'abbud "peribadahan", sebagaimana dikatakan: عبد الرجل ربه عبادة و تعبدا "Seseorang beribadah kepada Tuhannya dengan peribadatan dan penghambaan".
Pemutlakannya kepada at-ta'abbud (peribadahan) dari sisi pemutlakan isim masdar kepada masdar.
Kita mengetahui sisi pemutlakannya kepada fi'il (perbuatan) bahwasanya ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah azza wa jalla dengan kecintaan dan pengagungan dengan mengerjakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Setiap orang yang merendahkan diri dihadapan Allah maka dia mendapatkan kemuliaan Allah.
ۚ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ
Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya. (QS Al-Munafiqun: 8).
Sedangkan ibadah dimutlakkan kepada maf'ul (obyek untuk ibadah) yaitu al-mutta'abud bih (amalan-amalan ibadah) yang makna ini didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan perkataan beliau -rahimahulloh-:
العبادة اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الظاهرة والباطنة
"Ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah berupa perkataan dan perbuatan, baik yang nampak maupun yang tersembunyi"(Risalah Al-Ubudiyyah Majmu' Fatawa, 10/149)
Ini adalah amalan-amalan yang kita beribadah kepada Alloh dengan kewajiban mengesakanNya. Tidak boleh memalingkan ibadah-ibadah tadi kepada selain-Nya, seperti shalat, puasa, zakat, haji, doa, nadzar, rasa takut dan tawakal dan selain itu dari bentuk-bentuk ibadah.
Jika engkau tanyakan: "Apa dalilnya bahwasannya Allah itu Esa di dalam Uluhiyyah?".
Jawabannyanya : "banyak sekali dalil-dalil tentang hal itu, diantaranya:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلاّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُون
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku"(QS Al Anbiya': 25).
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thagut”
(QS An Nahl: 36).
Dan juga firman Alloh -ta'ala-:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاّ هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْم
Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu". (QS Ali Imron: 18)
Seandainya tidak ada keutamaan ilmu kecuali kebaikan ini (niscaya sudah cukup), yang mana Alloh telah mengkhabarkan bahwa tidaklah seseorang mempersaksikan tentang Uluhiyah kecuali dia adalah seorang ahli ilmu. Kita memohon kepada Alloh agar memasukkan kita kedalam golongan mereka.
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِماً بِالْقِسْط
Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan".
(QS Ali Imron: 18)
Kemudian Alloh ta'ala menetapkan persaksian ini dengan firmanNya:
لا إِلَهَ إِلاّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم
"Tiada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Dia. Dan dia adalah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana"(QS Ali Imron: 18)
Maka ini adalah dalil yang jelas bahwasanya tiada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah azza wa jalla. Aku bersaksi bahwasannya tidak ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah. Dan kalian pun bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Ini adalah persaksian yang benar.
Apabila ada orang yang berkata: "Bagaimana engkau menetapkan persaksian tersebut (tiada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Alloh)?, bersamaan dengan itu Allah ta'ala menetapkan adanya tuhan-tuhan selainnya sebagaimana firmanNya:
وَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ
"Dan janganlah engkau menyeru bersama Allah dengan Tuhan yang lain" (QS. Al Qoshos: 88).
Demikian juga firmanNya:
وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِه
Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu". (QS Al Mukminun: 117)
فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ شَيْ
"Karena itu tidak bermanfaat sedikit pun bagi mereka sesembahan yang mereka sembah selain Allah" (QS Huud: 101).
Sebagaimana firmannya juga:
أَإِفْكاً آلِهَةً دُونَ اللَّهِ تُرِيدُون
"Apakah kamu menghendaki kebohongan dengan sesembahan selain Allah itu?". (QS As Shofat: 86).
Dan ayat-ayat lainnya. Bagaimana engkau menggabungkan antara nash-nash tersebut dengan bahwasannya "tiada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah".
Bahwasanya sesembahan selain Allah adalah bathil, itu hanya sekedar penamaan saja (dengan menyebut mereka sebagai tuhan, pent.).
إِنْ هِيَ إِلاّ أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ
"Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)nya". (QS An Najm: 23).
Maka ketuhanannya adalah batil, meskipun diibadahi dan orang-orang yang sesat menyembahnya, karenan sesembahan tadi tidak layak untuk diibadahi. Benar mereka adalah tuhan-tuhan yang diibadahi akan tetapi mereka adalah tuhan yang bathil.
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِل
" Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang sebenarnya dan apa saja yang mereka seru selain Allah adalah batil". (QS Luqman: 30).
Keduanya (Rububiyah dan Uluhiyah)ini adalah termasuk dalam macam tauhid, tidaklah ada yang menentangnya dan tidak pula mengingkarinya seorang pun dari ahlul qiblat yang mengaku Islam karena Allah Ta'ala esa dalam rububiyah dan uluhiyahNya. Akan tetapi ada setelahnya orang yang mendakwahkan ketuhanan manusia. Seperti Rafidhah yang ghuluw (melampaui batas)misalnya yang mereka mengatakan: Sesungguhnya Ali adalah tuhan. Sebagaimana yang dilakukan pemimpin mereka Abdullah bin Saba dimana ketika ia datang kepada Ali bin Abi Tholib radhiyallahu anhu dan berkata kepadanya: "Engkau adalah Allah yang haq".
Akan tetapi Abdullah bin Saba ini asalnya adalah seorang Yahudi, masuk agama Islam dengan mengaku pengikut Ahlul Bait untuk merusak agama orang-orang Islam sebagaimana hal itu dikatakan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: "Sesungguhnya orang ini melakukan (kerusakan) sebagaimana yang dilakukan oleh Paulus ketika dia masuk ke dalam agama Nasrani untuk merusak agama Nasrani".
Orang ini -yakni Abdullah bin Saba- berkata kepada Ali Bin Abi Thalib radhiallahu anhu: "Engkau adalah Allah yang sebenarnya". Dan Ali bin Abi Tholib tidak Ridho ada seseorang yang memposisikan beliau melebihi kedudukannya. Sampai kemudian, beliau radhiallahu anhu karena kejujuran, keadilannya, keilmuannya dan keluasan pengetahuannya beliau berkata di atas mimbar Kuffah: "Sebaik-baik umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar kemudian Umar". Beliau menggumumkan hal itu saat berkhotbah. Dan telah banyak dinukil dari beliau mengenai hal ini. Dan orang yang mengatakan demikian, yang mengakui keutamaan ahli ilmu dari kalangan manusia, lalu bagaimana beliau bisa ridha untuk dikatakan kepada beliau: "Sesungguhnya engkau adalah Allah". Oleh karenanya beliau mencela mereka dengan celaan yang paling buruk dan memerintahkan untuk menggali parit-parit, kemudian diisi oleh kayu bakar, kemudian dinyalakan api. Kemudian beliau datang membawa orang-orang ini dan melemparkan mereka ke dalam api dan membakarnya, karena kebohongan mereka sangatlah besar, sehingga tidak diperlakukan dengan persuasif -Wal 'iyadzu billah-
Ada yang berpendapat bahwa Abdullah bin Saba menyelamatkan diri dan para sahabat tidak berhasil menangkapnya. Intinya bahwa Ali bin Abi Tholib radhiyallahu anhu membakar Saba'iyyah dengan api karena mereka menyerukan ketuhanan kepadanya.
Maka kami katakan setiap orang dari kalangan Ahlul qiblah tidak mengingkari kedua macam tauhid ini yaitu tauhid rububiyah dan Tauhid uluhiyah, meskipun kita didapati pada sebagian Ahlul Bid'ah, sampai ada yang menyembah manusia.
Diterjemahkan oleh Abu Unais Pati dengan beberapa editan Ust Abu Sa'id -hafizhahulloh-.



0 komentar:
Posting Komentar