Perkataan Penulis:
الإِيْمَانُ نُطْقٌ بِاللِّسَانِ وَاعْتِقَادٌ بِالجَنَّانِ وَ عَمَلٌ بِالْجَوَارِحِ وَ الْأَرْكَانِ
"Iman yaitu ucapan dengan lisan, keyakinan dengan hati dan amalan dengan fisik dan anggota badan"
Maksud بالجنان yaitu dengan hati. Dan بِالْجَوَارِحِ وَ الْأَرْكَانِ yaitu anggota badan yang digunakan untuk mengamalkannya. Dalam definisi ini bahwasannya iman adalah ucapan, perbuatan dan keyakinan. Berbeda dengan ahlul bid'ah dari kalangan Murji'ah dan yang selain mereka.
Perkataan Penulis: "(Iman) Bertambah dan berkurang", akan datang penjelasannya.
Islam dan Iman jika bergandengan maknanya berbeda, namun jika terpisah maka maknanya satu.
Misalnya yang bergandengan adalah firman Alloh -azza wa jalla-:
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
"Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin" (QS Al-Ahzab: 35)
Dan firmanNya:
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا
"Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (Islam)". [QS. Al-Hujurat: 14]
Apabila keduanya bergandengan maka Islam menunjukkan amalan-amalan dzohir, sedangkan Iman menunjukkan amalan-amalan batin.
Dan contoh yang terpisah adalah firman Alloh ta'ala:
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
"Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”(QS Ali Imran: 64)
Maka Islam disini mencakup iman, karena disebutkan bersendirian. Dan contoh iman yang disebutkan sendirian:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)". [QS. Al-Hashr 18]
Kata iman disini di dalamnya mencakup Islam.
Di antara dalil-dalil tentang bertambah dan berkurangnya iman.
Termasuk bagian dari keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama'ah bahwasannya iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Berbeda dengan ahlul bid'ah yang menjadikan iman hanya satu bagian saja, tidak bertambah dengan ketaatan dan tidak berkurang dengan kemaksiatan. Diantara dalil yang menunjukkan bertambahnya iman adalah firman Allah ta'ala:
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
"(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”(QS. Ali Imran: 173)
Dan firmanNya:
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَٰذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا
"Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu menambah keimanan dan keislaman mereka". (QS Al-Ahzab: 22)
Dan firmanNya:
وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا ۙ
"Agar orang yang beriman bertambah imannya". (QS. Al Muddatsir: 31)
Diantara dalil tentang berkurangnya iman adalah hadits di dalam shahihain (riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim -pent.)dari hadits Abu Hurairah bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda-:
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَاإِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
"Iman itu memiliki sekitar 70 cabang, yang paling utama adalah ucapan lailaha illalloh dan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah bagian dari iman" (HR Bukhari dan Muslim)
Yang menjadi point bahasan dari hadits adalah bahwasannya cabang iman bertingkat-tingkat dari sisi keutamaannya. Barangsiapa membawa (amalan) yang lebih utama maka imannya lebih sempurna. Dan barang siapa membawa amalan yang sedikit maka imannya pun sedikit dan berkurang.
**************
Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:
Dan dari Abu Sa'id al Khudri -radhiyallohu 'anhu- berkata: Aku mendengar Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
"Barang siapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran hendaklah dia rubah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman". (HR. Muslim)
Penjelasan:
Point dari hadits adalah "dan itulah selemah-lemah iman". Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- memulai dari tingkatan yang paling tinggi kemudian yang lebih bawah dan lebih bawah. Barang siapa yang merubahnya dengan tangannya maka lebih sempurna imannya dari pada yang merubah dengan lisannya padahal memungkinkan baginya merubah dengan tangannya, dan lebih utama lagi (bagi orang yang merubah dengan tangannya ini -pent.) dari pada orang yang merubah dengan hatinya padahal memungkinkan baginya merubah dengan tangannya.
Dan barang siapa yang merubah dengan lisannya maka lebih sempurna imannya dari pada yang merubah dengan hatinya padahal dia mampu merubah dengan tangannya.
Hal ini apabila tidak ada maslahat ketika merubah dengan lisan saja atau hati saja. Segala sesuatu yang sesuai tempatnya adalah baik. Jika merubah suatu kemungkaran menimbulkan kemungkaran lebih besar maka meninggalkannya adalah wajib.
Dan di antara dalil semisal itu yang menunjukkan berkurangnya keimanan adalah yang diriwayatkan Al Bukhari bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda tentang para wanita:
مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ
"Tidaklah aku melihat orang yang kurang akal dan agamanya mampu menghilangkan (mengalahkan) akal seorang laki-laki yang kokoh daripada salah seorang di antara kalian". (HR Bukhari & Muslim)
Point haditsnya adalah 'kurangnya agama'. Dan di antara hadits lain yang yang juga menunjukkan hal itu adalah dalam riwayat Muslim dari hadits Abu Hurairah secara marfu':
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
"Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Alloh dari pada mukmin yang lemah". (HR Muslim)
Point dari hadits ini adalah kuatnya iman lebih baik dari pada lemahnya iman.
Note:
Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh-



0 komentar:
Posting Komentar