Perkataan Penulis -hafidzahulloh ta'ala-:
Rukun Islam yang Lima
عبد الله بن عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنهما - قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: "بُني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وحج البيت، وصوم رمضان"
Dari Abdullah bin Umar bin Al Khotthob -radhiyallohu anhuma- berkata: Aku mendengar Rasululoh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Islam di bangun atas lima perkara: (1)Syahadat lailaha illalloh (tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Alloh) dan Muhamad utusan Alloh, (2)menegakkan sholat (3) menunaikan zakat, (4) berhaji ke baotulloh, (5) puasa Ramadhan" (HR Bukhari dan Muslim).
Pengertian Iman
هو نطق باللسان، واعتقاد بالجنان، وعمل بالجوارح والأركان، يزيد بالطاعة و ينقص بالمعصية
"Iman yaitu diucapkan dengan lisan, diyakini dalam hati, dan diamalkan dengan anggota badan. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan"
*****************
Penjelasan:
Rukun yaitu bagian dari sesuatu yang paling kuat. Pengertian Islam sudah berlalu penjelasannya.
Sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam:
بُني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله
"Islam di bangun atas lima perkara: Syahadat lailaha illalloh dan Muhamad utusan Alloh"
Syahadat yaitu pengkhabaran tentang sesuatu berdasarkan pengetahuan tentangnya disertai keyakinan akan kebenaran dan adanya (sesuatu yang dikhabarkan tersebut).
Ucapan beliau -shollallohu alaihi wa sallam: lailaha illalloh telah terdahulu penjelasannya.
Ucapan beliau -shollallohu alaihi wa sallam: "Muhammad utusan Alloh" hal ini berkonsekwensi mengikuti dan membenarkan segala sesuatu yang beliau bawa.
Ucapan beliau -shollallohu alaihi wa sallam: وإقام الصلاة"Dan menegakkan sholat" yaitu konsisten dalam mengerjakannya dan menunaikannya sesuai dengan yang dikehendaki (Alloh ta'ala).
Dan barang siapa yang meninggalkannya karena penentangan dan pengingkaran maka dia telah kafir berdasarkan firman Alloh ta'ala:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki" (QS An-Nisa': 48)
Dan berdasarkan sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wasallam- dalam Shohihain dari hadits Abu Dzar:
يخرج من النار من قال : لاإله الا الله
"Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan lailaha illalloh".
Dan dalil-dalil yang semisal dengan ini.
Sebagian ulama mengkafirkan orang yang meninggalkan sholat. Di antara dalil-dalil sebagaimana yang telas disebutkan dalam hadits bahwa Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
العهد الذي بيننا و بينهم الصلاة. فمن تركها فقد كفر
"Perjanjian antara kita dengan mereka adalah sholat. Barang siapa meninggalkannya maka dia telah kafir" -diriwayatkan oleh ashabus sunan dari Abu Buraidah-.
Sedangkan yang diriwayatkan Muslim dari hadits Jabir secara marfu':
بين الرجل والشرك والكفر ترك الصلاة
"Batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah dengan meninggalkan sholat" (HR Muslim).
Adapun yang nampak kebenarannya adalah perkataan jumhur (yaitu kafirnya orang yang meninggalkan sholat -pent) -Allohu a'lam-. Dan berpanjang lebar menguraikan masalah ini bukan disini tempatnya.
Ucapan beliau -shollallohu alaihi wa sallam: وإيتاء الزكاة "Menunaikan Zakat", yaitu mengeluarkan sebagian dari nishab (kadar harta yang wajib dizakati -pent) hauli (sudah dimiliki selama setahun -pent) kepada selain keturunan Bani Mutholib dan Bani Hasyim. Allah ta'ala telah menjadikan di dalam kewajiban zakat kemaslahatan bagi harta dan pemiliknya serta kemaslahatan bagi kaum fakir. Barang siapa yang mengingkari kewajibannya maka dia telah kafir. Barang siapa yang tidak mau mengeluarkannya sedangkan dia mengakui kewajibannya maka diambil paksa dan diambil pula bersamanya separuh hartanya.
Ucapan beliau -shollallohu alaihi wa sallam:وحج البيت "Berhaji ke baitulloh", dan ini terkait dengan kemampuan seseorang. Barang siapa mengingkari kewajibannya dia telah kafir. Allah -ta'ala- berfirman:
ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
"Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam" (QS Ali Imron: 97)
Ucapan beliau -shollallohu alaihi wa sallam: وصوم رمضان "Puasa di bulan Ramadhan". Dan ini merupakan salah satu dari rukun-rukun Islam. Barang siapa yang mengingkari kewajibannya berarti dia telah kafir meski dia berpuasa. Barang siapa dengan sengaja tidak berpuasa sedangkan dia mengakui kewajibannya maka dia telah melakukan salah satu dosa besar. Barang siapa bertaubat, maka Alloh mengampuninya. Alloh -ta'ala- berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ
"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. (QS Al-Baqarah: 185)
Note:
Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh- hal. 21-25.



0 komentar:
Posting Komentar