“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Sabtu, 23 Maret 2019

At-Tuhfah - Tentang Ihsan dan Penjelasannya

Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:
الإحسان ركن واحد
"Ihsan memiliki satu rukun"
Kemudian beliau menyebutkan hadits tentang ihsan yang muttafaq 'alaih dari Umar bin Khottob -radhiyallohu 'anhu-

Penjelasan:
Al-Ihsan secara lughoh(bahasa) maknanya adalah Al-Itqan(penyempurnaan). Alloh ta'ala berfirman:
الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ

"Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan". (QS As-Sajdah: 7)
Dalam istilah terbagi atas 2 macam:
PERTAMA: Ihsan(berbuat baik) kepada makhluk. Mengandung 3 hal:
1. Badzlun nada: yakni bersungguh-sungguh memberikan kebaikan dalam perkara agama berupa pengajaran dan nasehat; amar ma'ruf dan nahi munkar. Dan kerabat dekat lebih layak mendapat kebaikan kita. Memberikan kebaikan dalam masalah dunia yaitu membantu orang yang membutuhkan, memudahkan orang yang dalam kesulitan dan menolong orang yang dalam kesulitan dengan hartanya, jiwanya dan kedudukannya sebatas kemampuannya. Dan, Alloh tidak membebani jiwa kecuali sebatas kemampuannya.

2. Kafful adza (menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain -pent) dengan tangan dan lisan, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara marfu':
المسلم من سلم المسلمون من لسانه و يده
"Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya"
Dan dalil-dalil dalam masalah ini banyak sekali dari Al-Qur'an dan As-Sunnah.

3. Tholaqotul wajh (wajah yang berseri-seri) yaitu menampakkan wajah yang berseri-seri ketika bertemu saudaranya kaum muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim dari hadits Abu Dzar:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
"Janganlah engkau sekali-kali meremehkan kebaikan apapun, meskipun hanya berjumpa dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri"

KEDUA: Berbuat baik kepada Alloh, sebaaimana yang dijelaskan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
ان تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك

"Engkau beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihatNya, jika tidak bisa maka sesungguhnya Dia melihatmu"
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam Dien.

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh- hal 42-44.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)