Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:
الإحسان ركن واحد
"Ihsan memiliki satu rukun"
Kemudian beliau menyebutkan hadits tentang ihsan yang muttafaq 'alaih dari Umar bin Khottob -radhiyallohu 'anhu-
Penjelasan:
Al-Ihsan secara lughoh(bahasa) maknanya adalah Al-Itqan(penyempurnaan). Alloh ta'ala berfirman:
الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ
"Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan". (QS As-Sajdah: 7)
Dalam istilah terbagi atas 2 macam:
PERTAMA: Ihsan(berbuat baik) kepada makhluk. Mengandung 3 hal:
1. Badzlun nada: yakni bersungguh-sungguh memberikan kebaikan dalam perkara agama berupa pengajaran dan nasehat; amar ma'ruf dan nahi munkar. Dan kerabat dekat lebih layak mendapat kebaikan kita. Memberikan kebaikan dalam masalah dunia yaitu membantu orang yang membutuhkan, memudahkan orang yang dalam kesulitan dan menolong orang yang dalam kesulitan dengan hartanya, jiwanya dan kedudukannya sebatas kemampuannya. Dan, Alloh tidak membebani jiwa kecuali sebatas kemampuannya.
2. Kafful adza (menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain -pent) dengan tangan dan lisan, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara marfu':
المسلم من سلم المسلمون من لسانه و يده
"Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya"
Dan dalil-dalil dalam masalah ini banyak sekali dari Al-Qur'an dan As-Sunnah.
3. Tholaqotul wajh (wajah yang berseri-seri) yaitu menampakkan wajah yang berseri-seri ketika bertemu saudaranya kaum muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim dari hadits Abu Dzar:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
"Janganlah engkau sekali-kali meremehkan kebaikan apapun, meskipun hanya berjumpa dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri"
KEDUA: Berbuat baik kepada Alloh, sebaaimana yang dijelaskan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
ان تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك
"Engkau beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihatNya, jika tidak bisa maka sesungguhnya Dia melihatmu"
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam Dien.
Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh- hal 42-44.



0 komentar:
Posting Komentar