“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Sabtu, 23 Maret 2019

Ahlus Sunnah tidak melakukan Ilhad dalam Asma' Alloh -ta'ala- & Ayat-AyatNya - 1

Perkataan Penulis -rahimahulloh-:
ولا يلحدون في أسماء الله و آيته

"Mereka tidak melakukan ilhad (penyimpangan) dalam nama-nama dan sifat-sifat Alloh".

Penjelasan:
Perkataan penulis "Mereka tidak melakukan ilhad (penyimpangan)..."; maksudnya: Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Ilhad secara lughah maknanya: Al-Mail (miring/condong). Di antaranya disebut Al-Lahd (liang lahad) dalam kubur karena dibuat miring ke salah satu sisi dan tidak di tengah-tengah. Jika di tengah disebut Syiqq. Lahad lebih baik dari pada Syiqq.

Mereka (Ahlus Sunnah wal jamaah) tidak melakukan penyimpangan dalam nama-nama Alloh, dan tidak pula melakukan penyimpangan dalam ayat-ayatNya. Penulis -rahimahulloh- memberikan faidah kepada kita bahwa ilhad bisa terjadi di dua keadaan: dalam nama-namaNya dan dalam ayat-ayatNya.

Masalah ini-yang disebutkan melalui perkataan penulis- telah ditunjukkan oleh Al-Qur'an. Alloh ta'ala berfirman:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Dan Allah memiliki Asma'ul-Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma'ul-Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan". (QS Al-A'raf: 180)

Dalam ayat ini Alloh menjelaskan akan adanya ilhad dalam nama-namaNya. Dan Alloh ta'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي آيَاتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَا ۗ

"Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran) Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami". (QS Fushilat: 40); dalam ayat ini Alloh menyebutkan adanya ilhad dalam ayat-ayatNya.

Penyimpangan dalam nama-namaNya adalah memalingkannya dari makna yang seharusnya. Ada beberapa macam:

PERTAMA: Menamakan Alloh dengan sesuatu yang tidak Alloh tetapkan untuk diriNya. Sebagaimana perkataan ahli filsafat: "illatun wa failah" (segala sesuatu tumbuh dan hidup karena Alloh -ta'ala-). Dan orang-orang Nasrani menyebut: tuhan bapa dan 'Isa dengan tuhan anak. Ini adalah penyimpangan dalam nama-nama Alloh. Demikian pula seandainya menyebut Alloh dengan nama apa pun yang Alloh tidak menamakan diriNya dengannya, maka dia adalah seorang mulhid (pelaku ilhad) dalam nama-nama Alloh.

Sisi penyimpangannya adalah karena nama-nama Alloh -azza wa jalla- adalah tufiqiyyah (didasarkan pada dalil); maka tidak mungkin menetapkan untukNya kecuali dengan sesuatu yang ditetapkan dengan nash (dalil). Jika engkau menamai Alloh dengan suatu nama yang Dia tidak menamai diriNya dengannya maka engkau telah melakukan ilhad dan penyimpangan dari yang seharusnya.

Menyebut Alloh dengan nama yang Dia tidak menamakan diriNya dengannya adalah adab yang buruk kepada Alloh dan kedzoliman serta bentuk permusuhan dalam hakNya. Sebab, jika ada seseorang memanggilmu dengan selain namamu atau menyebutmu dengan selain sebutanmu maka engkau akan menganggap bahwa dia melecehkanmu dan mendzolimimu. Ini dalam tingkatan makhluk, lalu bagaimana jika (dilakukan) terhadap Khaliq?

Dengan demikian, tidak ada haq bagimu untuk menyebut Alloh dengan suatu sebutan yang Dia tidak menamakan diriNya dengannya. Jika engkau melakukan hal yang demikian maka engkau telah melakukan penyimpangan terhadap nama-nama Alloh.

KEDUA: Mengingkari sesuatu dari nama-namaNya. Ini kebalikan dari yang pertama. Yang pertama menamai Alloh dengan sesuatu yang Dia tidak menamai diriNya dengannya; sedangkan yang kedua ini meniadakan dari Alloh suatu nama yang Dia namai diriNya dengannya. Maka dia telah mengingkari nama. Sama saja dia mengingkari seluruh nama atau sebagiannya yang telah tetap bagi Alloh. Jika dia mengingkarinya maka dia telah melakukan ilhad padanya.

Bentuk ilhadnya adalah: tatkala Alloh telah menetapkan nama untuk diriNya; maka wajib bagi kita untuk menetapkan nama tersebut untukNya. Jika kita meniadakannya; maka ini ilhad dan penyimpangan nama-namaNya dari yang seharusnya.

Dan di sana, ada di antara manusia yang mengingkari nama-nama Alloh, seperti kelompok ekstrim Jahmiyah. Mereka berkata: Alloh tidak memiliki nama selamanya. Mereka berkata: "Kalau engkau menetapkan nama untuk Alloh; maka engkau telah menyerupakannya dengan makhluk". Dan perkataan ini sudah jelas batil dan tertolak.

KETIGA: Mengingkari nama-nama yang menunjukkan akan sifat. Dia menetapkan nama tapi mengingkari sifat yang terkandung dalam nama tersebut. Misalnya mereka mengatakan: Sesungguhnya Alloh Samii' (Maha Mendengar) tanpa memiliki sifat pendengaran, Aliim (Maha Mengetahui) tanpa sifat ilmu, Kholiq (Maha Pencipta) tanpa sifat penciptaan, Qadir (Maha Kuasa) tanpa memiliki qudrah (kemampuan)...seperti ini sudah dikenal di kalangan Mu'tazilah. Ini tidak masuk akal!

Kemudian mereka ini menjadikan nama-nama Alloh hanya sekedar nama yang berbeda-beda. Mereka berkata: As-Samii' (Maha Mendengar) bukanlah Al-Aliim (Maha Mengetahui), namun semuanya tanpa makna! As-Samii' tidak menunjukkan pendengaran, dan Al-Aliim tidak menunjukkan pengetahuan. Hanya sekedar nama !!

Di antara mereka lainnya berkata: Nama-nama ini adalah satu; ada Aliim, Samii', dan Bashiir semuanya sama, tidak ada bedanya kecuali hanya susunan hurufnya saja. Mereka menjadikan nama-nama Alloh sesuatu yang satu !!

Semua ini tidak masuk akal. Oleh karenanya kami katakan: Sesungguhnya tidak mungkin benar keimanan terhadap nama-nama Alloh sampai engkau menetapkan sifat-sifat yang terkandung di dalamnya.

Dan memungkinkan bagi kita di sini mengatakan tentang penunjukkan nama; bahwa nama-nama Alloh memiliki tiga macam penunjukkan:

Pertama: Dalalah Al-Muthobaqoh (penunjukkan kesesuaian -pent) yaitu penunjukkan lafadz atas seluruh yang dimaksudkan (makna lafadz tersebut -pent). Berdasarkan ini, maka setiap nama (Alloh) menunjukkan kepada sesuatu yang disebut dengan nama tersebut, yaitu Alloh; dan atas seluruh sifat turunan dari nama tersebut.

Kedua: Dalalah At-Tadhommun (penunjukkan atas sesuatu yang terkandung padanya -pent): Yaitu penunjukkan lafadz atas sebagian yang dimaksudkannya. Berdasarkan hal ini, maka penunjukkan nama atas dzatnya saja atau atas sifatnya saja adalah dalalah At-Tadhomun.

Ketiga: Dalalah Al-Iltizam (penunjukkan kepada konsekwensi -pent): yaitu penunjukkan atas sesuatu yang dipahami; bukan dari lafadz nama, namun didapatkan dari kelazimannya (konsekwensinya). Oleh karenanya kita menyebutnya dalalah Al-Iltizam.

Misal kata Al-Kholik (Maha Pencipta): ini adalah nama yang menunjukkan kepada Dzat Alloh dan menunjukkan kepada sifat Pencipta. Dengan demikian ditinjau dari penunjukkannya kepada dua hal tersebut disebut dalalah Al-Muthobaqah; karena lafadz menunjukkan kepada seluruh yang dimaksudkannya. Tidak diragukan tatkala engkau berkata: Al-Kholiq; maka engkau memahami Pencipta dan sifat Penciptaan.
Dan dari sisi penunjukkannya kepada Al-Kholik saja atau pada sifat penciptaan saja disebut dalalah Tadhomun, karena menunjukkan kepada sebagian maknanya.
Dari sisi penunjukkannya kepada ilmu dan qudrah(kekuasaan)disebut dilalah iltizam sebab tidak mungkin penciptaan kecuali dengan ilmu dan qudrah. Maka penunjukkannya kepada qudrah dan ilmu adalah dilalah iltizam.

Dengan demikian, menjadi jelas bahwa seseorang ketika mengingkari salah satu dari dalalah (penunjukan) di atas maka dia telah menyimpang dalam nama-namaNya. Meski ia berkata: Saya beriman dengan nama Al-Kholiq atas dzatNya, namun tidak mengimani sifat penciptaan maka dia telah menyimpang dalam nama-namaNya. Dan seandainya ia berkata: Aku meyakini bahwa Al-Kholik menunjukkan kepada dzat Alloh dan kepada sifat penciptaanNya; namun tidak menunjukkan sifat ilmu dan qudrah, maka kita katakan ini juga penyimpangan. Maka menjadi keharusan bagi kita untuk menetapkan setiap konsekwensi dari nama ini. Mengingkari sesuatu dari konsekwensi yang ditunjukkan oleh nama Alloh berupa sifatNya adalah penyimpangan dalam namaNya; baik penunjukkan kepada sifat ini berupa dalalah Muthobaqah, Tadhomun, maupun Iltizam.

Kita akan memberikan permisalan yang konkrit yang akan menjadi jelas dengannya tiga macam dalalah ini. Seandainya engkau katakan: Saya memiliki rumah. Maka kata 'rumah' ini memiliki tiga macam dalalah. Dipahami dari kata 'rumah' menunjukkan kepada keseluruhan unit rumah adalah dalalah muthobaqah. Dan penunjukkannya kepada ruang duduk saja, kamar mandinya saja, atau aulanya saja adalah dalalah tadhomun; sebab bagian tersebut adalah bagian dari rumah. Dan penunjukkan lafadz atas sebagian dari maknanya adalah dalalah tadhomun. Dan bukti bahwa di sana ada tukang bangunan yang membangunnya adalah dalalah iltizam; sebab setiap rumah pastilah ada yang membangunnya.

KEEMPAT: Termasuk penyimpangan dalam nama-namaNya yaitu menetapkan nama-nama bagi Alloh dan sifat-sifatNya akan tetapi menjadikannya petunjuk bagi tamtsil (penyerupaan dengan makhlukNya); yakni sebagai dalil bahwa penglihatan Alloh seperti penglihatan kita, ilmuNya seperti ilmu kita, ampunanNya seperti ampunan kita dan seterusnya... Ini adalah bentuk penyimpangan; sebab memalingkannya dari yang seharusnya; sebab yang wajib adalah menetapkannya (sifat-sifat Alloh) tanpa tamtsil (penyerupaan).

KELIMA: Yaitu menukilkan nama-nama tersebut sebagai sesembahan-sesembahan (selain Alloh), atau membuat derivat(turunan) dari nama-nama tersebut untuk sesembahan-sesembahan. Misalnya menyebut sesuatu yang disembah dengan tuhan; ini adalah penyimpangan. Atau membuat kata turunan dari nama-nama Alloh untuk nama-nama sesembahan. Misal: Al-Laata dari Al-Ilah; Al-'Uzza dari Al-'Aziz; Manat dari Al-Mannaan. Kita katakan, ini juga bentuk ilhad dalam nama-nama Alloh; karena yang wajib bagimu adalah menjadikan nama-nama Alloh khusus untukNya; tidak melampau dan melebihinya sehingga engkau membuat derivat dari nama-namaNya untuk sesembahan (selain Alloh).
Ini Adalah macam ilhad terhadap nama-nama Alloh.
Maka Ahlus Sunnah wal jamaah tidak melakukan penyimpangan dalam nama-nama Alloh selamanya; bahkan mereka memperlakukannya sebagaimana yang dikehendaki Alloh subhanahu wa ta'ala; dan menetapkan keseluruhan macam-macam dalalah(penunjukannya), sebab mereka berpendapat bahwa yang menyelisihi hal itu adalah bentuk ilhad (penyimpangan)

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)