“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Selasa, 26 Maret 2019

Hadits 20: Bersungguh-Sungguh Dalam Bersiwak

Hadits 20
عَنْ أبِي مُوسَى الأشعري رضِىَ الله عَنْهُ قاَل: أتيْتُ النبي صلى الله عليه وسلم وهُوَ يَستَاكُ بِسِوَاكٍ رَطْبٍ (١) قَالَ وطَرَف السوَاكِ عَلى لِسَانِهِ، وَهو يَقُولُ: أُع أُع، وَالسوَاك في فِيهِ كَأنَهُ يَتَهَوَّع.

Dari Abu Musa Al-‘Asy’ariy radhiyallohu ‘anhu berkata: Aku menemui Nabi shollallohu’alaihi wa sallam- dan beliau sedang bersiwak dengan siwak basah. Dia berkata: Ujung siwak itu ada di lidah beliau, dan terdengar suara U'-u', dan siwak berada di lidahnya, seakan-akan beliau mau muntah.

Penjelasan Lafadz:
1. Arti أُع أُع Menggambarkan suara orang yang mau muntah, asalnya hu'-hu' huruf Ha’ diganti hamzah.

2. Arti كأنه يتهوع yatahawwa’, yaitu muntah hanya sebatas suara saja.

Makna Global:
Abu Musa Al-‘Asy’ary menceritakan bahwasannya beliau menemui Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- dan beliau sedang bersiwak dengan siwak basah, karena lebih sempurna membersihkan (gigi) serta tidak remuk di mulut, sehingga mengganggu. Nabi terkadang –shollallohu ‘alaihi wa sallam- memasukkan siwak ke lidahnya, dan bersungguh-sungguh dalam bersiwak, sehingga membuat beliau seperti hendak muntah.

Kesimpulan hadits:
(1). Di syariatkannya bersiwak dengan ranting yang basah. Dan sesungguhnya siwak adalah bagian dari ibadah dan pendekatan diri kepada Alloh.
(2). Disyariatkan bersungguh-sungguh dalam bersiwak, sebab bersungguh-sungguh dalam bersiwak lebih bisa membersihkan secara sempurna.
(3). Sesekali waktu menggunakan siwak untuk membersihkan lidah.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)