KETIGA: Kita tidak mensifati Alloh dengan sesuatu yang Alloh tidak mensifati diriNya dengannya.
Dalilnya juga berdasarkab nash dan akal. Telah kami sebutkan dari nash dua ayat. Adapun secara akal kita katakan: Ini (sifat-sifat Alloh)adalah perkara ghaib yang tidak mungkin bisa dijangkau oleh akal. Kami telah memberikan dua contoh sebelumnya.
KEEMPAT: Wajibnya menjalankan nash-nash yang datang dari Al-Qur'an dan Al-Hadits sesuai dzohirnya dan tidak mendahuluinya.
Misalnya tatkala Alloh mensifati diriNya bahwa Dia memiliki 2 mata, apakah kita akan mengatakan: maksud mata disitu bukanlah mata yang sebenarnya (?). Seandainya kita mengatakan demikian maka kita tidak mensifati Alloh dengan dengan sifat yang Alloh tetapkan untuk diriNya.
Dan ketika Alloh mensifati diriNya bahwa diriNya punya tangan:
بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَان
"Bahkan kedua tanganNya terbuka" (QS Al Maidah: 64).
Seandainya kita katakan: SesungguhNya Alloh tidak memiliki tangan yang hakiki akan tetapi maksudnya adalah nikmat-nikmat yang Dia sempurnakan untuk para hambaNya. Apakah kita mensifati Alloh dengan sifat yang Dia tetapkan untuk diriNya? Tidak!
KELIMA: Umumnya ucapan penulis mencakup setiap sifat yang Alloh tetapkan untuk diriNya dari sifat-sifat Dzatiyah Ma'nawiyah maupun Khobariyah dan sifat-sifat fi'liyah.
Sifat Dzatiyah yaitu sifat yang senantiasa ada dan akan selalu ada. Sifat ini terbagi dua yaitu ma'nawiyah dan khobariyah.
Ma'nawiyah yaitu misalnya: Al-Hayah (Maha Hidup), Al-Ilmu (Maha Mengetahui), Al-Qudroh(Maha Berkuasa), Al-Hikmah(Maha Bijaksana) dan yang semisalnya...ini sebagai contoh bukan sebagai pembatasan.
Khobariyah, misalnya: Al-Yadain (dua tangan), Al-Wajhu(Wajah), Al-'Ainain (dua mata) dan yang semisal dengan itu dari sifat yang disebutkan. Perbandingannya anggota badan kita. Maka Alloh ta'ala senantiasa memiliki dua tangan, wajah dan dua mata, dan tidak akan terjadi sesuatu yang baru padanya.
Sebagaimana Alloh selamanya Maha Hidup, Alloh selamanya Maha Mengetahui, Alloh selamanya Maha Berkuasa dan demikian seterusnya. Yakni, tidaklah hidupNya terbarukan, tidak pula kemahakuasaanNya terbarui, tidaklah pendengarannya terbarui akan tetapi Dia disifati dengan sifat ini sejak azali dan akan selamanya abadi.
Saya misalnya, ketika mendengar adzan sekarang, bukanlah artinya saya memiliki pendengaran baru ketika mendengar adzan akan tetapi pendengaran saya sudah ada sejak diciptakan Alloh, akan tetapi suara yang saya dengar itulah yang baru. Dan ini tidak berpengaruh pada sifat (pendengaran saya). Para ulama -rahimahumulloh- mengistilahkannya dengan menyebutnya Shifat Dzatiyah. Mereka berkata karena senantiasa ada pada dzatNya, dan senantiasa ada padaNya.
Shifat Fi'liyah adalah sifat yang terkait dengan kehendak Alloh. Sifat ini ada 2 macam:
(PERTAMA:) Sifat yang memiliki sebab yang diketahui, misal: ridho. Alloh -azza wa jalla- jika mendapati sebab yang Dia ridho, maka Dia ridho, sebagaimana firman Alloh ta'ala:
إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُم
"Jika kamu kafir (ketahuilah) maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu dan Dia tidak meridhai kekafiran hamba-hamba-Nya. Jika kamu bersyukur, Dia meridhai kesyukuranmu itu" (QS Az-Zumar: 7)
(KEDUA:) Sifat yang tidak memiliki sebab yang diketahui. Misal: An-Nuzul (turun) ke langit dunia di sepertiga malam terakhir. Di antara shifat-shifat tersebut ada shifat dzatiyah dan fi'liyah secara bersamaan. Kalam (bicara)adalah sifat fi'liyah berdasarkan perbagiannya, akan tetapi berdasarkan asalnya adalah sifat dzatiyah, karena Alloh akan senantiasa bersifat kalam, akan tetapi Dia berbicara sesuai kehendakNya dan kapan Dia menghendakiNya, sebagaimana akan dijelaskan ketika membahas sifat Kalam -insya Alloh-.
Para ulama -rahimahumulloh- mengistilahkan dengan menyebutnya Sifat Fi'liyah karena merupakan perbuatan Alloh -subhanahu wa ta'ala. Banyak dalil-dalil dari Al Qur'an mengenai sifat ini, misal:
وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفّاً صَفّاً
"Dan datang Robb-mu dan para malaikat berbaris-baris" (QS Al-Fajr: 22)
هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّك
"Yang mereka nanti-nantikan hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka, atau kedatangan Tuhanmu" (QS Al-An'am: 158)
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
"Alloh ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Alloh" (QS Al Maidah:119)
وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ
"tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka" (QS At-Taubah: 46)
أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُون
"yaitu kemurkaan Allah, dan mereka akan kekal dalam azab" (QS Al-Maidah: 80)
Dan tidaklah ada dalam penetapannya kepada Alloh ada sisi kekurangannya, bahkan ini adalah kesempurnaanNya yang Dia berbuat apa yang Dia kehendaki. Dan mereka ini kaum yang mentahrif mengatakan: "Menetapkan (shifat Alloh) dari sifat naqish (yang kurang layak menurut akal mereka -pent)". Oleh karenanya mereka mengingkari seluruh sifat fi'liyah. Alloh tidak punya sifat yaji'u (datang kepada para hambaNya di hari kiamat), tidak ridho, tidak murka, tidak benci, tidak mencintai....mereka mengingkari semua sifat ini. Mereka mengklaim bahwa ini adalah sifat-sifat (yang menunjukkan sesuatu) yang baru, dan sesuatu yang baru tidak didapati kecuali pada sesuatu yang baru juga.
Dan ini adalah klaim yang batil karena berseberangan dengan nash sehingga batil dengan sendirinya sebab kejadian yang baru tidak mengharuskan pelakunya juga baru.
*****************
Diterjemahkan dari Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Utsaimin -rahimahulloh-



0 komentar:
Posting Komentar