“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 03 Maret 2019

Termasuk Iman Kepada Alloh: Beriman Terhadap Shifat yang Allah dan RasulNya Shifatkan Untuk DiriNya - bag 1

Perkataan penulis -rahimahulloh-:
ومن الإيمان بالله: الإيمان بما وصف به نفسه في كتابه, وبما وصفه به رسوله محمد صلى الله عليه وسلم
"Dan termasuk iman kepada Alloh adalah beriman kepada sifat yang Alloh tetapkan untuk diriNya".

Penjelasan:
Perkataan penulis: ومن الإيمان (termasuk dari Keimanan) kata من di sini bermakna at-tab'iidh (menunjukkan bagian) karena kita menyebutkan kepada Alloh mengandung empat unsur: Iman akan wujud Alloh, keesaanNya dalam rububiyah, uluhiyah, dan asma wa shifat. Yaitu termasuk bagian iman kepada Alloh adalah beriman kepada shifat yang Alloh tetapkan untuk diriNya.

Perkataan Penulis: "dengan shifat yang Dia tetapkan bagi diriNya di dalam kitabnya". Semestinya dikatakan juga: "dan nama yang Dia namakan diriNya denganNya" akan tetapi penulis -rahimahulloh- hanya menyebutkan shifat saja. Mungkin karena setiap nama pasti mengandung shifat, atau mungkin karena khilaf di dalam masalah asma' (nama-nama Alloh) khilaf yang lemah yang tidak ada yang mengingkarinya kecuali Jahmiyah dan Mu'tazilah ekstrim. Mu'tazilah menetapkan nama. Asy-Sya'irah dan Al-Maturidiyah menetapkan asma', akan tetapi menyelisihi Ahlus Sunnah dalam kebanyakan shifat.

Sekarang kita tanya: Kenapa penulis mencukupkan perkataan "dengan sifat yang Alloh tetapkan untuk diriNya"?
Kita jawab: karena salah satu sebab dari dua kemungkinan: bisa jadi karena setiap nama mengandung shifat, dan bisa jadi karena khilaf dalam permasalahan nama-nama Alloh sangat sedikit dikalangan mereka yang menasabkan dirinya kepada Islam.
✔ Perkataan Penulis: "di dalam kitabNya". "KitabNya" yaitu Al Qur'an. Dan Alloh -ta'ala menyebutnya dengan kitab karena tertulis di Al-Lauhul Mahfudz, dan tertulis di dalam lembaran-lembaran yang berada di tangan para utusan (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Dan demikian juga tertulis di dalam mushaf-mushaf. Kitab ini bermakna maktub (tertulis) dan Alloh menyandarkan kepada diriNya karena kitab ini adalah ucapanNya, yang Alloh berbicara dengannya dengan sebenarnya, Alloh berbicara dengannya dengan setiap huruf-hurufnya. Dalam kalimat ini terdapat beberapa pembahasan:

PERTAMA: Bahwasannya termasuk keimanan kepada Alloh adalah beriman kepada sifat-sifat yang Alloh tetapkan untuk diriNya.
Penjelasannya adalah karena keimanan kepada Alloh -sebagaimana terdahulu- mencakup keimanan kepada nama-namaNya dan shifat-shifatNya. Dzat Alloh dinamai dengan nama-nama(Nya) dan disifati dengan shifat-shifat. Dan adanya dzat saja tanpa shifat-shifat adalah hal yang mustahil. Tidak mungkin di dapati suatu dzat saja tanpa shifat selamanya. Dan terkadang akal membayangkan bahwa ada dzat tanpa shifat akan tetapi bayangannya tidak sebagaimana kenyataan, artinya yang dibayangkannya tidak sesuai dengan yang dilihat. Tidaklah ditemukan di luar sana -yakni dalam kenyataan- ada suatu dzat yang tidak memiliki shifat selamanya.

Akal pikiran terkadang membayangkan misal sesuatu yang memiliki seribu mata, dan masing-masing dari seribu mata tersebut ada seribu hitam dan seribu putih. Dan ia memiliki seribu kaki. Dan setiap kaki memiliki seribu jari. Dan setiap jari memiliki seribu kuku. Dan ia memiliki jutaan rambut, dan setiap rambut terdiri seribu rambut...demikianlah akal membayangkannya meskipun hanya hayalan. Akan tetapi sesuatu yang nyata tidak mungkin didapati sesuatu tanpa shifat. Oleh karenanya, keimanan kepada shifat Alloh termasuk keimanan kepada Alloh. Seandainya tidak ada shifat Alloh melainkan maujud (ada) maka wajib shifat wujud kita tetapkan. Ini sudah menjadi kesepakatan ulama. Dengan demikian, haruslah Alloh memiliki shifat.

KEDUA: Bahwasannya shifat Alloh 'azza wa jalla termasuk perkara ghaib dan wajib bagi seseorang dalam mensikapi permasalahan ghaib semacam ini untuk mengimaninya sebagaimana adanya bukan mengembalikan kepada selain nash. Imam Ahmad berkata:
لا يوصف الله إلا بما وصف به نفسه أو وصفه به رسوله، لا يتجاوز القرآن والحديث
"Alloh tidaklah disifati kecuali dengan shifat Dia sifatkan untuk diriNya, atau yang disifatkan oleh RasulNya, tidak melampaui Al Qur'an dan Al Hadits¹.

Yaitu, bahwa kita tidak mensifati Alloh kecuali dengan sifat yang Alloh sifatkan untuk diriNya di dalam kitabNya atau melalui lisan RasulNya -shollallohu 'alaihi wa sallam. Dan hal tersebut ditunjukkan Al Qur'an dan akal.

Adapun dalam Al Qur'an, Alloh 'azza wa jalla berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالأِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ

"Katakanlah (Rasululloh), “Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zhalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.”(QS Al A'raf: 33)

Apabila engkau mensifati Alloh dengan suatu sifat yang Alloh tidak mensifati diriNya dengannya maka engkau telah berbicara tentang Alloh dengan sesuatu yang kamu tidak ketahui. Dan ini haram menurut nash Al Qur'an.
Alloh 'azza wa jalla berfirman:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولا

"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya". (QS Al Isra': 36)

Seandainya kita mensifati Alloh dengan sesuatu yang Alloh tidak sifatkan diriNya dengannya maka kita telah terjatuh dalam larangan Alloh di atas.

Ada pun dalil akal, karena shifat Alloh ta'ala adalah masalah ghaib dan tidak mungkin dalam perkara ghaib bisa dijangkau akal. Dengan demikian kita tidak mensifati Alloh dengan sifat yang Alloh tidak menetapkannya untuk diriNya dan tidak menanyakan kaifiyah sifatnya karena yang demikian tidaklah mungkin. Kita sekarang tidak mengetahui tentang kenikmatan surga yang disifatkan Alloh secara hakikatnya padahal surga adalah makhluk. Di dalam surga terdapat buah-buahan, kurma, delima, dipan-dipan, gelas-gelas dan bidadari. Dan kita tidak tahu hakekat dari yang disebutkan tersebut meski dikatakan: Sifatkan kepada kami!  Kita tidak akan mampu mensifatinya karena Alloh ta'ala berfirman:
فَلا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُون
"Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan". (QS As Sajdah: 17)

Demikian pula firman Alloh ta'ala dalam hadits qudsi:
أعددت لعبادي الصالحين مالا عين رأت ولا أذن سمعت ولا خطر على قلب بشر
"Aku sediakan bagi para hambaku yang sholih sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga dan tidak pernah terlintas di hati manusia"².

Maka jika ini makhluk yang disifati dengan shifat-shifat yang diketahui saja tidak diketahui hakikatnya, maka bagaimana dengan Al-Kholiq (Alloh)?
Contoh yang lain: manusia memiliki ruh, yang tidak akan hidup tanpanya. Seandainya ruh tidak ada dibadannya tidaklah dia hidup. Dan dia tidak bisa menjelaskan ruh seandainya dikatakan kepadanya: "Apa itu ruh yang ada padamu? Apa itu ruh yang seandainya dicabut darimu maka engkau menjadi mayat, dan ketika ada padamu engkau menjadi manusia yang berakal, memahami dan berfikir.
Duduk, melihat dan berfikir namun tidak mampu untuk selamanya padahal sangat dekat, bagian dari dirinya, dalam dirinya dan melekat pada dirinya. Namun dia tidak mampu mengetahuinya padahal ruh ada secara hakikat, yaitu sesuatu yang bisa dilihat, sebagaimana yang dikhabarkan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam bahwasannya apabila ruh dicabut maka diikuti pandangan mata³. Manusia melihat ruhnya ketika dicabut sehingga mata terbuka menyaksikan ruh tatkala keluar ketika matinya. Lalu ruh ini diambil lalu diletakkan di kafan dan dibawa naik kepada Alloh. Meski demikian dia tidak mampu menjelaskan sifat ruh padahal dia sangat dekat, lalu bagaimana dia berusaha mensifati Ar-Rabb(Alloh) dengan sesuatu Alloh tidak mensifati diriNya dengannya?
Dengan demikian, adalah keharusan merealisasikan penetapan sifat-sifat bagi Alloh.
Bersambung ke bagian 2 ....

Catatan Kaki:
1. Lihat Majmu' Fatawa Syaikul Islam (5/26)
2. Diriwayatkan Al Bukhary (3244) Kitabul Bada'ul kholqi bab Maa Jaa'a fi shifatil jannah. Muslim (2824) dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu Kitabul Jannah.
3. Riwayat Muslim (920) dari Ummu Salamah -radhiyallohu 'anha- dalam kitabul janaiz bab fii ighmaadhil mayyit.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)