“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Jumat, 08 Maret 2019

Keimanan Terhadap Shifat yang Allah dan RasulNya Shifatkan Untuk Dirinya - bag 4


Perkataan Penulis:
yaitu وبما وصفه به رسوله  (dan sebagaimana yang disifatkan oleh rasulNya). Pensifatan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- kepada Alloh terbagi tiga: dengan ucapan, perbuatan, dan taqrir (ketetapan).

✔ Adapun dengan ucapan maka ini yang banyak, misal:
ربنا!  الله الذي في السماء! تقدس اسمك. أمرك في السماء والارض.
"Wahai Rabb kami. Alloh yang ada di langit. NamaMu tersucikan. UrusanMu di langit dan di Bumi".
Dan ucapan beliau ketika bersumpah:
لا، ومقلب القلوب
"Tidak, demi Yang Membolak Balikkan hati"¹

✔ Adapun dengan perbuatan lebih sedikit dari pada dengan perkataan. Misalnya isyarat beliau ke langit mempersaksikan kepada Alloh atas persaksian umatnya bahwa beliau telah menyampaikan risalah pada saat haji wada' di Arafah. Beliau berkhotbah di hadapan manusia dan berkata: "Apakah aku telah menyampaikan?". Mereka berkata: "Iya". tiga kali. Beliau bersabda: "Ya Alloh, saksikanlah". Beliau mengangkat jari tunjuknya ke langit lalu mengarahkannya ke manusia². Ini adalah pensifatan Alloh ta'ala dengan ketinggianNya dengan jalan perbuatan.
Dan ketika datang kepada beliau seorang laki-laki mengadu: "Ya Rasululloh! Harta benda telah binasa .... Lalu beliau mengangkat kedua tangannya³. Ini juga pensifatan kepada Alloh dengan ketinggian dengan perbuatan.
Dan juga hadits-hadits lainnya yang menunjukkan perbuatan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- apabila menyebutkan sifat-sifat Alloh.

Terkadang Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam menyebutkan sebagian sifat Alloh dengan ucapan dan dikuatkan denga perbuatan. Hal itu ketika beliau membaca ayat :
ان الله كان سميعا بصيرا
"Sesungguhnya Alloh Maha mendengar dan Maha Melihat" (QS An Nisa': 58).
Beliau meletakkan ibu jari beliau ke telinga kanannya dan telunjuknya ke matanya (4). Ini adalah penetapan pendengaran dan penglihatan dengan ucapan dan perbuatan. Dan karenanya kita katakan: Sesungguhnya penetapan Rasulullah -shollallohu 'alaihi wa sallam- terhadap sifat-sifat Alloh terkadang dengan ucapan dan terkadang dengan perbuatan, terkadang digabungkan dan terkadang dipisahkan.

✔Adapun dengan ketetapan, lebih sedikit lagi dibandingkan dengan yang sebelumnya. Misal, penetapan beliau kepada jariyah (budak perempuan) yang beliau uji dengan pertanyaan: "Dimana Alloh?". Ia menjawab: "Di langit". Maka beliau membenarkannya dan berkata: "Bebaskanlah dia".⁵
Dan sebagaimana ketetapan beliau kepada rahib Yahudi, ketika ia datang kepada Rasulullah -sholallohu alaihi wa sallam- dan berkata: Sesungguhnya kami mendapati (dalam kitab suci) bahwa Alloh ta'ala meletakkan langit-langit di satu jari, bumi-bumi di satu jari, dan tanah di satu jari ...sampai akhir hadits. Maka Nabi -shollallohu 'alaihi wa salam- tertawa membenarkan perkataannya"⁶. Ini adalah iqrar (penetapan beliau).
Jika ada yang bertanya: Apa dalilnya kewajian beriman dengan shifat yang RasulNya tetapkan untuk diriNya?
Kita katakan: Dalilnya adalah firman Alloh ta'ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ

"Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur'an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya". (QS An-Nisa': 136)

Seluruh ayat ini didalamnya menjelaskan bahwa Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- adalah seorang mubaligh yang menunjukkan akan wajibnya membenarkan apa yang beliau sampaikan dari sifat-sifat Alloh karena beliau telah mengkhabarkan dan menyampaikan kepada manusia. Setiap yang beliau sampaikan adalah dari Alloh ta'ala. Dan karena Rasululloh -alahi shollatu wa sallam-adalah manusia yang paling berilmu tentang Alloh, paling bersemangat dalam memberikan nasehat kepada hamba-hamba Alloh, manusia yang paling benar perkataannya, dan paling fasih dalam mengungkapkan pembicaraan. Sehingga terhimpun padanya 4 sifat diterimanya ucapan beliau: Berilmu, ahli menasehati, jujur, dan pemberi penjelasan. Maka wajib bagi kita untuk menerima setiap yang bliau sampaikan dari Rabb-nya. Beliau ini -demi Alloh- paling fasih, paling semangat memberikan nasehat, dan paling berilmu dari pada mereka yang mereka ikuti dari kalangan ahli mantiq dan ahli filsafah. Bersamaan dengan ini beliau berkata:
سبحانك، لا احصي ثناء عليك، انت كما اثنيت على نفسك.
"Maha Suci Engkau! Aku tidak dapat menghitung pujian untukMu. Engkau sebagaimana pujianMu atas diriMu"⁶.

Note:
1. Akan ada hadits yang panjang dalam masalah ini di awal juz 2 insya Alloh.

2. Diriwayatkan Muslim (1218) dari Jabir bin Abdulloh -radhiyallohu 'anhuma.

3. Diriwayatkan Al Bukhari (1013 dan 1014), Muslim (897) dari Anas bin Malik radhiyallohu 'anhu.

4. Berkata Al Hafidz dalam Al Fath (13/373), dikeluarkan Abu Dawud dengan sanad qowiy (kuat) berdasarkan syarat Muslim, dari riwayat Abu Yunus dari Abu Hurairah;
رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقرأها، يعني قوله تعلى:  ان الله يأمركم أن تؤدوا الأمانات الى أهلها ....الى قوله: إن الله كان سميعا بصيرا،
ويضع إصبعيه
"Aku melihat Rasulullah -shollallohu 'alaihi wa sallam membacanya; yaitu membaca firman Alloh -ta'ala-: "Sesungguhnya Alloh memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah-amanah itu kepada yang berhak" sampai kepada firman Alloh ta'ala: "Sesungguhnya Alloh adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat" dan beliau meletakkan jarinya.

Abu Yunus berkata: Abu Hurairah meletakkan ibu jarinya ke telinganya dan telunjuknya ke matanya. Hadits ini di shahihkan syaikh Al Albani dalam Sahih Abu Daud 4738.

5. Kisah budak perempuan diriwayatkan Imam Muslim 537 dari hadits Mu'awiyah bin Al Hakam As Sulami-radhiyallohu 'anhu.

6. Diriwayatkan Al Bukhari 4811, Muslim 2786; 19, dari Abdulloh bin Mas'ud -radhiyallohu 'anhu.

6. Diriwayatkan Muslim (486) dari 'Aisyah radhiyallohu 'anha.

*****************
Diterjemahkan dari Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Utsaimin -rahimahulloh-

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)