“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Jumat, 08 Maret 2019

Penetapan Shifat Alloh Tanpa Tahrif, Ta'thil, Takyif dan Tamtsil - bag 1

Perkataan penulis -rahimahulloh-:
من غير تحريف ولا تعطيل, ومن غير تكييف ولا تمثيل
"Tanpa tahrif, tanpa ta'thil, tanpa takyif, dan tanpa tamtsil"

Penjelasan:
✔ Dalam kalimat ini ada penjelasan sifat keimanan ahlus sunnah terhadap sifat-sifat Alloh -ta'ala-. Ahlus Sunnah wal Jamaah beriman (terhadap sifat-sifat Alloh) dengan keimanan yang tidak terkotori empat hal tadi yaitu: tahrif, ta'thil, takyif dan tamtsil.

✔ TAHRIF: artinya taghyir (merubah), bisa secara lafadz maupun makna. Pada umumnya tahrif secara lafadz tidak terjadi. Seandainya terjadi itu karena kebodohan. Tahrif lafadz yaitu merubah syakal (harakat). Misalnya: Engkau tidak mendapati seseorang yang mengucapkan: الحمدَ لله رب العالمين Alhamdalillahi robbil 'alamiin" yaitu dengan memfathahkan huruf Dal, kecuali memang dia tdak tau. Umumnya demikian.
Namun tahrif makna ini yang sering terjadi. Maka Ahlus Sunnah wal jamaah keimanan mereka terhadap sifat yang Alloh sifatkan untuk diriNya terbebas dari tahrif, yaitu perubahan secara lafadz dan makna. Perubahan secara makna disebut oleh mereka (ahlu ta'rif) dengan takwil, sehingga mereka menyebut diri mereka dengan ahlu takwil untuk mengemas istilah ini agar bisa diterima karena istilah takwil tidak menjadikan manusia lari dan membencinya. Akan tetapi apa yang mereka ikuti ini pada hakekatnya adalah tahrif karena mereka tidak memiliki dalil yang shahih dalam masalah ini, kecuali mereka tidak mau untuk mengatakan : "Ini tahrif". Seandainya mereka mengatakan: "Ini tahrif" sama saja mereka mengumumkan pada diri mereka sendiri untuk menolak ucapannya.

Oleh karenanya penulis -rahimahulloh- menyebutnya dengan tahrif bukan takwil meski kebanyakan para ulama yang yang berbicara masalah ini mengungkapkannya dengan "mentiadakan takwil", mereka berkata: "tanpa takwil".

Akan tetapi ungkapan Penulis ini lebih tepat dengan empat alasan:

✓ Pertama: Ini adalah lafadz yang terdapat dalam Al Qur'an. Alloh ta'ala berfirman:
{يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ}
"Mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya" (QS An Nisa': 46). Dan ungkapan yang dipakai oleh Al Qur'an lebih utama dari pada selainnya karena lebih menunjukkan pada maknanya.

Kedua: Lebih sesuai dengan kondisi mereka, dan lebih dekat kepada sikap adil. Takwil tanpa dalil tidaklah adil untuk disebut takwil. Akan tetapi adil adalah mensifatinya dengan sesuatu yang sesuai yaitu muharrif (ahlu tahrif).

Ketiga: Bahwasannya takwil tanpa dalil adalah batil (salah), harus dijauhi dan dihindari. Dan penggunaan istilah Tahrif di sini lebih membuat orang lari dari padi takwil karena tahrif tidak akan diterima seorang pun. Akan tetapi istilah takwil lebih layyin (lemah), jiwa akan menerimanya, dan ada perincian pada maknanya. Adapun tahrif, dengan hanya kita mengatakan: Ini tahrif. Maka orang orang akan menghindarinya.  Dengan demikian, penggunaan istilah tahrif terhadap orang yang menyelisihi metode salaf lebih tepat dari pada menggunakan istilah takwil.

Keempat: Takwil tidak semuanya tercela.
Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
اللهم فقهه في الدين، وعلمه التأويل
"Ya Alloh, pahamkanlah dia dalam masalah Dien dan ajarkanlah takwil" (1).
Dan Alloh taa'ala berfirman:
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاّ اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ}
"Dan tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Alloh dan orang yang mendalam ilmunya" (QS Ali Imron: 7)
Alloh memuji mereka karena mereka memahami takwil.
Takwil tidak seluruhnya tercela karena takwil memiliki makna yang banyak. Bisa bermakna tafsir, bisa bermakna akibat dan hasil akhir, dan bisa bermakna memalingkan makna dari dzohirnya.

(1) Bermakna tafsir, sebagaimana perkataan kebanyakan para ahli tafsir tatkala menafsirkan ayat; mereka mengatakan: Takwil firman Alloh ini demikian dan demikian, kemudian menyebutkna maknanya. Tafsir ini disebut juga takwil karena kita mentakwilkan kalam (ucapan), yakni kita mentakwilkannya kepada makna yang dimaksudkan.

(2) Takwil dengan makna akibat dari sesuatu, ini jika datang dalam bentuk tuntutan. Maka takwilnya adalah mengerjakannya jika perintah dan meninggalkannya jika berupa larangan. Jika datang dengan bentuk khabar maka takwilnya adalah terjadinya.
Misal dalam khabar adalah firman Alloh ta'ala:
هَلْ يَنْظُرُونَ إِلاّ تَأْوِيلَهُ يَوْمَ يَأْتِي تَأْوِيلُهُ يَقُولُ الَّذِينَ نَسُوهُ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ

"Tiada lain yang mereka tunggu kecuali akibat dan konsekwensi dari yang dikhabarkan kepada mereka", yaitu hari ketika datang apa yang dikhabarkan kepada mereka. Orang-orang yang melupakannya sebelumnya berkata: "Sungguh telah datang para rasul Rabb kami dengan membawa kebenaran". (QS Al A'raf: 53)

Di antaranya juga ucapan Yusuf tatkala kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya bersimpuh sujud, beliau berkata:
هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيايَ مِنْ قَبْلُ
"Ini adalah takwil mimpiku sebelumnya" (QS Yusuf: 100), inilah tafsir kejadian mimpiku. Beliau mengatakan demikian setelah mereka bersujud kepadanya.
Dan contohnya dalam 'tuntutan' sebagaimana perkataan Aisyah -radhiyallohu 'anha: Bahwa Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam- memperbanyak mengucapkan dalam ruku' dan sujudnya setelah diwahyukan kepada beliau firmanNya ta'ala:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
"Apabila datang pertolongan Alloh dan kemenangan" (QS An Nashr:1)
beliau memperbanyak bacaan dalam ruku' dan sujudnya:
سبحانك اللهم ربنا وبحمدك، اللهم اغفر لي
"Maha suci Engkau ya Alloh, Rabb kami, dan pujian untukMu. Ya Alloh ampunilah dosaku". beliau mentakwilkan Al Qur'an(2) yaitu mengamalkannya.

(3) Makna ketiga dari takwil yaitu memalingkan lafadz dari dzahirnya. Jenis ini terbagi atas terpuji dan tercela. Jika ada dalil yang mendasarinya maka terpuji, termasuk bagian pertama, yaitu tafsir. Dan jika tidak ada dalil yang mendasarinya maka ini tercela, dan termasuk tahrif dan bukan takwil.
Macam kedua ini ahlu tahrif bertingkat-tingkat keadaannya dalam permasalahan asma wa shifat Alloh 'azza wa jalla.
Misalnya firman Alloh -ta'ala-:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
"Alloh Ar Rahman bersemayam di atas 'Arsy" (Thoha: 5).
Dzohir lafadz bahwa Alloh -ta'ala- bersemayam di atas 'Arsy: menetap di atasnya dan tinggi di atasnya. Apabila ada yang berkata: Makna 'istawa' adalah istaula alal Arsy(menguasai Arsy) maka kita katakan: Ini adalah takwilanmu, karena engkau memalingkan lafadz dari dzahirnya. Akan tetapi ini adalah tahrif (merubah lafadz) dari hakekatnya karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal itu, bahkan dalil justru menyelisihinya, sebagaimana akan dijelaskan -insya Alloh-.

Adapun firman Alloh ta'ala:
أَتَى أَمْرُ اللَّهِ فَلا تَسْتَعْجِلُوه
"Telah datang urusan  Alloh maka janganlah engkau tergesa-gesa) (QS An Nahl: 1). Makna "Telah datang urusan Alloh", maknanya adalah akan datang urusan Alloh. Ini menyelesihi dzahir lafadz akan tetapi ada dalil yang menunjukkan hal itu yaitu firmanNya: ِ فَلا تَسْتَعْجِلُوه "Maka janganlah engkau tergesa-gesa".
Demikian pula firmanNya -ta'ala-:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم
"Apabila engkau membaca Al Qur'an maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari Syaiton yang terkutuk" (QS An-Nahl: 98)
yakni maksudnya: apabila engkau hendak membaca (Al Qur'an) -bukannya ketika telah selesai membaca Al Qur'an- katakanlah: "Aku berlindung kepada Alloh dari gangguan setan yang terkutuk" karena kita mengetahui dari As-Sunnah bahwasannya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- apabila hendak membaca Al Qur'an berlindung kepada Alloh dari setan yang terkutuk(3) bukan tatkala selesai membacanya. Maka ini adalah takwil seperti ini adalah benar.
 
Demikian pula dengan ucapan Anas bin Malik bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- apabila hendak memasuki kakus berkata:
"أعوذ بالله من الخبث والخبائث"
Aku berlindung kpada Alloh dari setan laki-laki dan perempuan"(4) maka makna "idza dakhola" maksudnya adalah apabila hendak masuk, karena berdzikir kepada Alloh tidak layak di tempat seperti ini. Oleh karenanya kita membawa ucapan idza dakhola kepada makna apabila ia hendak masuk. Ini adalah takwil yang didasari dalil adalah benar dan para ulama tidak menganggap sebagai tafsir.
Oleh karenanya kita katakan: Penamaan tahrif lebih tepat dari pada takwil yang tidak didasari dengan dalil, karena lafadz itu juga terdapat dalam Al Qur'an, dan lafadz ini dilekatkan kepada metodenya ahlu tahrif, dan karena lafadz ini juga lebih menjauhkan orang dari jalan yang menyelisihi jalannya salaf, dan karena tahrif semuanya tercela. Hal ini berbeda dengan takwil yang terkadang tercela dan terpuji. Oleh karenanya, ungkapan dengan tahrif lebih tepat dari pada takwil karena empat alasan ini.

Note:
1. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (2396), Al Fasawy dalam Al Ma'rifah wat Tarikh (1/494) dan dishahihkan syaikh Ahmad Sakir. Diriwayatkan Al Bukhari (75 dan 143) dengan lafadz: "Ya Alloh ajarilah dia Al Qur'an".
2. Diriwayatkan Al Bukhari (4967 dan 4968), Muslim (484) dari "Aisyah -radhiyallohu 'anha.
3. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Al Baihaqi dalam sunannya sebagaimana dalam Ad-Darul Mantsur dari Jubair bin Muth'im bahwasannya Nabi -shollalohu 'alaihi wa sallam- tatkala masuk mengerjakan sholat bertakbir kemudian mengucapkan: A'udzu billahi minassyaithonir rojim"
4. Diriwayatkan oleh Bukhari (142), Muslim (375), dari Anas radhiyallohu 'anhu.

*****************
Diterjemahkan dari Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Utsaimin -rahimahulloh-

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)