Sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-: بالقدر خيره و شره "beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk". Yaitu bahwa Alloh telah menetapkan segala sesuatu dari kebaikan dan keburukan. Alloh -ta'ala- berfirman:
الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
"Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(-Nya), dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat" (QS. Al-Furqan: 2)
Tiada sesuatu pun yang terjadi melainkan dengan takdir dan kehendakNya. Apa pun yang dikehendaki Alloh pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki tidak akan terjadi.
Tingkatan takdir ada empat sebagaimana yang terkumpul dalam ucapan penyair:
علم كتابة مولانا مشيئته # وخلقه وهو إيجاد و تكوين
"Ilmu, penulisan Maula kami (Alloh), kehendakNya dan penciptaan (oleh)Nya, yaitu pengadaan dan takwin (pembentukan)"
Tingkatan Pertama: Al-Ilmu, Alloh -ta'ala- berfirman:
والله بكل شيء عليم
"Dan Alloh Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu". (QS Al Baqarah: 282)
Dam firmanNya:
عـٰلم الغيب والشهٰدة
"Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak"(QS Al-An'Am: 73)
Dan firmanNya:
ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ
والله بكل شيء عليم
"Dan Alloh Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu". (QS Al Baqarah: 282)
Dam firmanNya:
عـٰلم الغيب والشهٰدة
"Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak"(QS Al-An'Am: 73)
Dan firmanNya:
ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ
"Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. (QS Al-Baqarah: 255)
Tingkatan kedua:Kitabah (penulisan takdir). Alloh ta'ala berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah". (Al-Hadid: 22)
Dan firmanNya:
وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ
Dan firmanNya:
وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ
"Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan". (QS. Al-Qamar: 52)
Dan dalam Sunan Abu Dawud dan lainnya dari Ubadah bin Shamit secara marfu':
أول ما خلق الله القلم، فقال له: اكتب، وقال: ما أكتب يا ربّ؟ قال: ما هو كائن إلى يوم القيام الساعة
"Pertama kali yang Alloh ciptakan adalah Al-Qalam (pena penulis takdir -pent), lalu Alloh berfirman: Tulislah! Dia bertanya: Apa yang harus aku tulis, Ya Rabb? Alloh berfirman: "Tulislah segala sesuatu sampai hari kiamat" (HR Abu Dawud dan selainnya).
أول ما خلق الله القلم، فقال له: اكتب، وقال: ما أكتب يا ربّ؟ قال: ما هو كائن إلى يوم القيام الساعة
"Pertama kali yang Alloh ciptakan adalah Al-Qalam (pena penulis takdir -pent), lalu Alloh berfirman: Tulislah! Dia bertanya: Apa yang harus aku tulis, Ya Rabb? Alloh berfirman: "Tulislah segala sesuatu sampai hari kiamat" (HR Abu Dawud dan selainnya).
Dan Imam Al-Lalikai telah menyebutkan dalam Syarah Al-I'tiqad dengan sanadnya dari Imam Asy-Syafi'i -rahimahulloh-:
ماشئتَ كان و إن لم أشأ # وما شئتُ إن لم تشأ لم يكن
خلقتَالعباد على ما علمتَ # ففي العلم يجري الفتى و المسن
على ذا مننت و هذا خذلت # و هذا أعنت وذا لم تعن
فمنهم شقيٌّ و منهم سعيد # ومنهم قبيح و منهم حسن
ماشئتَ كان و إن لم أشأ # وما شئتُ إن لم تشأ لم يكن
خلقتَالعباد على ما علمتَ # ففي العلم يجري الفتى و المسن
على ذا مننت و هذا خذلت # و هذا أعنت وذا لم تعن
فمنهم شقيٌّ و منهم سعيد # ومنهم قبيح و منهم حسن
"Apa yang Engkau kehendaki pasti terjadi meski aku tak menghendakinya. Dan apa yang aku kehendaki tak akan terjadi jika Engkau tak menghendakinya.
Engkau menciptakan para hamba berdasarkan apa yang Engkau ketahui. Maka dalam ilmuMu berjalan pemuda dan orang tua.
Kepada orang ini Engkau beri anugerah dan kepada yang ini Engkau hinakan. Kepada yang ini Engkau tolong dan kepada orang ini tidak Engkau tolong.
Di antara mereka ada yang binasa dan ada pula yang binasa. Dan di antara mereka ada yang buruk rupa dan ada pula yang elok rupa".
Dan Imam Syafi'i berkata: "Bantahlah Qodariyah dengan ilmu¹. Jika mereka menetapkannya maka dia telah terbantah. Jika mereka menetang maka mereka kafir".
Dalam permasalahan takdir terbagi atas tiga kelompok:
Pertama: Kelompok yang ekstrim dalam menetapkan takdir, yaitu Jabariyah. Mereka sampai menuadakan kemampuan dan usaha hamba. Dan mereka menjadikan pelaku amalan yang sebenarnya adalah Alloh baik berupa kebaikan maupun keburukan, yang ma'ruf ataupun yang mungkar, yang hak maupun yang bathil. Maha tinggi Alloh atas apa yang mereka katakan, Maha Luhur dan Maha Besar. Sebabnya adalah mereka memandang nash-nash dengan mata yang buta. Sebagaimana (mereka memahami) firman Alloh ta'ala:
ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ رَمَىٰ ۚ
Pertama: Kelompok yang ekstrim dalam menetapkan takdir, yaitu Jabariyah. Mereka sampai menuadakan kemampuan dan usaha hamba. Dan mereka menjadikan pelaku amalan yang sebenarnya adalah Alloh baik berupa kebaikan maupun keburukan, yang ma'ruf ataupun yang mungkar, yang hak maupun yang bathil. Maha tinggi Alloh atas apa yang mereka katakan, Maha Luhur dan Maha Besar. Sebabnya adalah mereka memandang nash-nash dengan mata yang buta. Sebagaimana (mereka memahami) firman Alloh ta'ala:
ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ رَمَىٰ ۚ
"dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar". (Al-Anfal: 17)
Namun mereka pura-pura buta dari dalil-dalil yang menetapkan qudrah (kemampuan) bagi hamba dan ikhtiyarnya serta kehendaknya yang ada di bawah qudrah, kehendak, takdir dan ilmu Alloh.
Namun mereka pura-pura buta dari dalil-dalil yang menetapkan qudrah (kemampuan) bagi hamba dan ikhtiyarnya serta kehendaknya yang ada di bawah qudrah, kehendak, takdir dan ilmu Alloh.
Kedua: Kelompok yang ekstrim dalam menolak takdir sampai mereka menjadikan hamba sekutu bagi Alloh. Mereka berkata: Sesungguhnya dialah (makhluk) yang menciptakan perbuatan-perbuatannya sendiri, sedangan Alloh tidak menghendakinya dan tidak mengetahuinya. Mereka menyelisihi (madzhab ahlus sunnah -pent) dalam masalah kehendak Alloh dan qudrahNya. Mereka berkata: Sesungguhnya Alloh tidak mampu memberikan petunjuk kepada orang yang sesat atau menyesatkan orang yang mendapat petunjuk. Dan sesungguhnya hamba itu sendiri yang memberi pertunjuk atau menyesatkan dirinya.
Celakanya mereka melihat nash-mash dengan dengan mata yang buta sehingga mereka ghuluw (berlebih-lebihan) dalam menetapkan perbuatan, qudrah, masyiah(kehendak) dan ikhtiyar(pilihan) bagi hamba. Dan mereka pura-pura buta dari dalil-dalil yang menunjuklan bahwa hal itu masuk di bawah kuasa Alloh dan kehendakNya, ilmuNya serta taqdirNya. Mereka inilah Al-Qadariyah.
Celakanya mereka melihat nash-mash dengan dengan mata yang buta sehingga mereka ghuluw (berlebih-lebihan) dalam menetapkan perbuatan, qudrah, masyiah(kehendak) dan ikhtiyar(pilihan) bagi hamba. Dan mereka pura-pura buta dari dalil-dalil yang menunjuklan bahwa hal itu masuk di bawah kuasa Alloh dan kehendakNya, ilmuNya serta taqdirNya. Mereka inilah Al-Qadariyah.
Ketiga: Kelompok pertengahan. Mereka melihat pada nash-nash dengan kedua mata yang jelas. Mereka menetapkan bagi hamba memiliki kehendak, qudrah, dan pilihan sebagaimana yang ditetapkan oleh Alloh dan RasulNya -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan menetapkan hal tersebut berada di bawah qudrah, kehendak, ilmu dan takdir Alloh. Alloh ta'ala berfirman:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
"Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam".(QS At-Takwir: 29)
Dan dalil-dalil seperti ini banyak dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam.
Dan dalil-dalil seperti ini banyak dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam.
Pembagian takdir:
Pertama: Takdir Syamil (keseluruhan) yang mencakup empat tingkatan takdir yang telah lalu.
Kedua: Takdir tahunan. Alloh ta'ala berfirman:
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
Pertama: Takdir Syamil (keseluruhan) yang mencakup empat tingkatan takdir yang telah lalu.
Kedua: Takdir tahunan. Alloh ta'ala berfirman:
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
"Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah"(QS Ad-Dukhan: 4) dan firmanNya:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ
"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi". (QS Ad-Dukhan: 3)
Ketiga: Takdir Harian. Alloh -ta'ala- berfirman:
ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
" Setiap waktu Dia dalam kesibukan". (QS Ar-Rahman: 29)
Sebagian ahli tafsir berkata: maksudnya yaitu (kesibukan) dari memberikan dan mencegah dari suatu kaum. Menghidupkan dan mematikan suatu kaum, dan demikian seterunya.
Sebagian ahli tafsir berkata: maksudnya yaitu (kesibukan) dari memberikan dan mencegah dari suatu kaum. Menghidupkan dan mematikan suatu kaum, dan demikian seterunya.
Keempat: Takdir terkait umur. Alloh -ta'ala- berfirman:
ۚ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا فِي كِتَابٍ ۚ
ۚ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا فِي كِتَابٍ ۚ
"Dan tidak dipanjangkan umur seseorang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). (QS Fatir: 11)
Dan juga dalam hadits Ibnu Mas'ud yang masyhur bahwa Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ إِلَيْهِ الْمَلَكَ، فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَعَمَلِهِ وَأَجَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ
Dan juga dalam hadits Ibnu Mas'ud yang masyhur bahwa Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ إِلَيْهِ الْمَلَكَ، فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَعَمَلِهِ وَأَجَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ
"Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya berupa nuthfah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, lalu menjadi segumpal daging selama itu pula. Kemudian Alloh mengutus kepadanya seorang malaikat lalu meniupkan ruh kepadanya (janin) dan diperintahkan dengan 4 perintah: menuliskan rejekinya, amalnya, ajalnya, dan celaka atau bahagianya" (HR Bukhari dan Muslim).
Perbedaan Qadha' dan Qadar
Adapun Al-Qadar maknanya adalah sesuatu yang telah ditetapkan Alloh -ta'ala- sejak azali berupa kebaikan maupun keburukan. Qadha' dan Qadar jika dikumpulkan maka maknanya berbeda dan jika terpisah maknanya satu. Dan Ibnu Umar berkata sebagaimana yang ada di shahih Muslim tatakala terdengar kabar bahwa ada suatu kaum yang mengingkari qadar dengan mengatakan: Sesungguhnya perkara ini adalah sesuatu yang baru (artinya tidak didahului takdir). Maka Ibnu Umar berkata: "Sampaikanlah kepada mereka bahwa Abu 'Abdirrahman (Ibnu Umar -radhiyallohu 'anhu) berlepas diri dari mereka. Demi Alloh, seandainya mereka menginfakkan emas sebesar gunung Uhud Alloh tidak akan menerima darinya sampai ia beriman kepada Qodho dan Qodar"
Dan dalam kitab shahih bahwa para shahabat -radhiyallohu 'anhum- berkata:
يا رسول الله، أنعمل في أمر أنف أم في أمر قد فرغ منه؟ قال: بل في أمرن قد فرغ منه. قالوا : فعلام العمل؟ قال: اعملوا فكلٌّ ميسر لما خلق له.
ثم قرأ قوله تعالى (فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى) (وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى) (فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى) (وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى) (فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى) (الليل: ٥-١٠)
Adapun Al-Qadar maknanya adalah sesuatu yang telah ditetapkan Alloh -ta'ala- sejak azali berupa kebaikan maupun keburukan. Qadha' dan Qadar jika dikumpulkan maka maknanya berbeda dan jika terpisah maknanya satu. Dan Ibnu Umar berkata sebagaimana yang ada di shahih Muslim tatakala terdengar kabar bahwa ada suatu kaum yang mengingkari qadar dengan mengatakan: Sesungguhnya perkara ini adalah sesuatu yang baru (artinya tidak didahului takdir). Maka Ibnu Umar berkata: "Sampaikanlah kepada mereka bahwa Abu 'Abdirrahman (Ibnu Umar -radhiyallohu 'anhu) berlepas diri dari mereka. Demi Alloh, seandainya mereka menginfakkan emas sebesar gunung Uhud Alloh tidak akan menerima darinya sampai ia beriman kepada Qodho dan Qodar"
Dan dalam kitab shahih bahwa para shahabat -radhiyallohu 'anhum- berkata:
يا رسول الله، أنعمل في أمر أنف أم في أمر قد فرغ منه؟ قال: بل في أمرن قد فرغ منه. قالوا : فعلام العمل؟ قال: اعملوا فكلٌّ ميسر لما خلق له.
ثم قرأ قوله تعالى (فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى) (وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى) (فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى) (وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى) (فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى) (الليل: ٥-١٠)
"Ya, Rasululloh, apakah kita beramal ini sesuatu yang baru (yang belum ditakdirkan sebelumnya -pent) atau amalan ini telah selesai ditentukan takdirnya?". Beliau: "Bahkan, telah ditentukan takdirnya". Mereka berkata: "Lalu untuk apa kita beramal?". Beliau bersabda: "Beramallah kalian karena semuanya telah dimudahkan kepada yang ditakdirkan untuknya. Kemudian beliau membaca:
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى) (وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى) (فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى) (وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى) (فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى)
Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan), dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan) (QS Al-Lail: 5-10)
Dan tidak boleh bagi siapapun untuk beralasan dengan takdir sebagai pembenaran terhadap kemaksiatannya kepada Alloh -ta'ala- terhadap hukuman yang dijatuhkan kepadanya. Justru Alloh memerintahkannya untuk mentaatiNya, melarangnya dari perbuatan maksiat, mengutus kepadanya para rasulNya, dan menurunkan kitab-kitabNya. Alloh telah memerintahkan amar ma'ruf dan nahi munkar, menjadikan untuknya akal dan pilihan. Alloh menghiasi ketaatan untuknya, dan memburukkan kemaksiatan untuknya. Dan apa yang Alloh telah tuliskan atasnya ketika dia berada di perut ibunya atau dia berada di tulang sulbi bapaknya tiada lain semua itu telah ditetapkan dengan ilmuNya yang terdahulu dan pengetahuanNya yang menyeluruh terhadap apa yang telah terjadi dan akan terjadi, dan sesuatu yang tidak terjadi bagaimana seandainya terjadi. Dan Alloh memiliki hujjah (alasan) yang kuat dan kebijaksanaan yang sempurna. Dia tidak ditanya terhadap apa yang Dia perbuat, justru manusia lah yang akan ditanya (pada hari kiamat). Dan Rabb-mu tidaklah mendzalimi seorang pun.
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى) (وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى) (فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى) (وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى) (فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى)
Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan), dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan) (QS Al-Lail: 5-10)
Dan tidak boleh bagi siapapun untuk beralasan dengan takdir sebagai pembenaran terhadap kemaksiatannya kepada Alloh -ta'ala- terhadap hukuman yang dijatuhkan kepadanya. Justru Alloh memerintahkannya untuk mentaatiNya, melarangnya dari perbuatan maksiat, mengutus kepadanya para rasulNya, dan menurunkan kitab-kitabNya. Alloh telah memerintahkan amar ma'ruf dan nahi munkar, menjadikan untuknya akal dan pilihan. Alloh menghiasi ketaatan untuknya, dan memburukkan kemaksiatan untuknya. Dan apa yang Alloh telah tuliskan atasnya ketika dia berada di perut ibunya atau dia berada di tulang sulbi bapaknya tiada lain semua itu telah ditetapkan dengan ilmuNya yang terdahulu dan pengetahuanNya yang menyeluruh terhadap apa yang telah terjadi dan akan terjadi, dan sesuatu yang tidak terjadi bagaimana seandainya terjadi. Dan Alloh memiliki hujjah (alasan) yang kuat dan kebijaksanaan yang sempurna. Dia tidak ditanya terhadap apa yang Dia perbuat, justru manusia lah yang akan ditanya (pada hari kiamat). Dan Rabb-mu tidaklah mendzalimi seorang pun.
Note penterjemah:
1. Ilmu di sini maksudnya Ilmu Alloh yang meliputi segala sesuatu yang akan terjadi yang ini diingkari oleh Qadariyah. Qadariyah ini adalah sekte yang mengingkari takdir dan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah sesuatu baru yang tidak didahului qodho' dan qadar Allah. Dan mereka mengatakan bahwa Alloh tidak mengetahui amalan-amalan hamba kecuali sesudah terjadinya.
1. Ilmu di sini maksudnya Ilmu Alloh yang meliputi segala sesuatu yang akan terjadi yang ini diingkari oleh Qadariyah. Qadariyah ini adalah sekte yang mengingkari takdir dan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah sesuatu baru yang tidak didahului qodho' dan qadar Allah. Dan mereka mengatakan bahwa Alloh tidak mengetahui amalan-amalan hamba kecuali sesudah terjadinya.
Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh- hal 35-42



0 komentar:
Posting Komentar