“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 03 Maret 2019

Muqaddimah - Penjelasan Dua Kalimat Syahadat

Penulis berkata:
وأشهد أن لا إله إلا الله، وحده، لا شريك له، إقراراً به وتوحيداً".
"Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhaq diibadahi dengan benar melainkan Alloh saja, tiada sekutu bagiNya, aku menetapkan dan mengesakanNya".

Penjelasan:
✔Arti أشهد bermakna 'aku membenarkan dengan hatiku, mengucapkan dengan lisanku sebab syahadat adalah pengucapan dan pengabaran sesuatu yang ada di hati. engkau ketika berada di sisi hakim bersaksi dengan haknya fulan atas fulan. engkau bersaksi dengan lisan mengungkapkan apa yang ada di dalam hati. Dan dipilih syahadat bukan iqror (pengucapan) sebab syahadat asalnya adalah menyaksikan sesuatu, yaitu hadir dan

melihatnya, maka seolah-olah pengabaran ini tentang apa yang ada dihatinya dan diucapkan dengan lisannya, seolah-olah dia melihat perkaranya dengan kedua matanya.

✔ Dan لا إله إلا الله maknanya yaitu لا معبودَ حقٌّ (tiada yang diibadahi dengan benar kecuali Alloh). Dengan demikian khobar لا dihilangkan (yaitu حقٌّ)
dan lafdzul jalalah (yaitu الله) sebagai badalnya.

✔Dan وحده لا شريك له : lafadz وحده (satu-satunya) adalah dari sisi makna adalah penekanan itsbat (penetapan). Sedangkan "لا شريك له (tiada sekutu bagiNya) adalah penekanan nafyi (peniadaan).

✔ Dan إقراراً به وتوحيداً (menetapkan dengannya dan mengesakan-Nya). Lafadz إقراراً adalah masdar, dan boleh juga engkau katakan: ini adalah maf'ul mutlaq karena berupa masdar maknawi dari ucapan beliau أشهد (aku bersaksi). Dan para pakar nahwu berkata: 'Jika masdar bermakna fi'il bukan berupa huruf-hurufnya maka itu adalah masdar maknawi, atau maf'ul mutlaq. Dan apabila bermakna fi'il dan (tersusun dari) huruf-hurufnya maka ini adalah masdar lafdzi. Jadi قُمْتُ قِياماً (aku berdiri tegap) adalah masdar lafdzi sedangkan ُقُمْت وُقُوفاً (aku berdiri tegap) adalah masdar maknawi. Demikian pula جَلَسْتُ جُلُوْساً (Aku duduk) adalah masdar lafdzi sedangkan ُجَلَسْت قعوداً (aku duduk) adalah masdar maknawi.

✔ Dan ucapan beliau وتوحيداً (mengesakan-Nya) adalah masdar yang menguatkan ucapan لا إله إلا الله.

Penulis Berkata:
وأشهد أن محمداً عبده ورسوله
"Dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya".

✔Penjelasan أشهد sebagaimana penjelasan kami yang telah lalu.

✔ Lafadz محمد (Muhammad) beliau adalah putra Abdulloh bin Abdul Mutholib Al Qurasyi Al Hasyimi yang merupakan anak keturunan Ismail bin Ibrahim -'alaihis sholatu wa salam-, manusia yang paling mulia nasabnya.

Nabi yang mulia ini adalah hamba Alloh dan utusanNya. Beliau adalah hamba yang paling kuat dalam beribadah kepada Alloh dan paling kuat dalam merealisasikan peribadahan kepada Alloh. Beliau -alaihis sholatu was salam- berdiri sholat malam sampai bengkak kedua kakinya. Dan dikatakan kepada beliau: Bagaimana engkau beribadah sedemikian rupa padahal dosa-dosamu telah diampuni Alloh baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Maka beliau berkata:
ﺃَﻓَﻼَ ﺃَﻛُﻮﻥُ ﻋَﺒْﺪًﺍ ﺷَﻜُﻮﺭًﺍ ‏
"Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang bersyukur?".

Karena Alloh -ta'ala- memuji hambaNya yang bersyukur, sampai Alloh berkata tentang Nuh -alaihis salam-
إِنَّهُ كَانَ عَبْداً شَكُوراً
"Sesungguhnya Nuh adalah hamba yang bersyukur"(QS Al Isra': 3).

Maka Nabi -alaihis sholatu was salam- ingin sampai pada kedudukan ini, dan beliau beribadah kepada Alloh dengan sebenar-benar ibadah kepadaNya. Oleh karenanya, beliau adalah manusia yang paling bertaqwa dan paling takut kepada Alloh, dan paling kuat dalam berharap apa yang ada di sisi Alloh -ta'ala-.

Beliau adalah hamba Allah dan konsekuensi dari peribadatannya kepada Allah adalah Beliau tidaklah mampu menimbulkan kemudhorotan dan memberikan kemanfaatan bagi dirinya sendiri dan orang lain dan tiada pula bagi Beliau memiliki hak Rububiyah sama sekali, bahkan beliau adalah hamba yang membutuhkan dan memerlukan Alloh, memohon dan berdoa kepadaNya, berharap dan takut kepadaNya. Bahkan Alloh memerintahkannya untuk memberitahukan dan menyampaikan secara tegas bahwa beliau tidak memiliki kuasa apa pun dalam permasalahan ini. Alloh berfirman:

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

"Katakanlah (Wahai Rusululloh), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS Al-A'raf: 188).

Dan Alloh memerintahkan kepada beliau untuk mengatakan:

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ
"Katakanlah (Wahai Rusululloh), “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS Al-An'am: 50).

Alloh juga memerintahkan beliau untuk mengatakan:

قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا ؛ قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا ؛
إِلَّا بَلَاغًا

"Katakanlah (Wahai Rusululloh), “Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan kebaikan.”
Katakanlah (Wahai Rusululloh), “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya. (Aku hanya) menyampaikan" (QS Al Jin: 21-23).

Lafadz الا adalah istitsna munqothi', maknanya yaitu menyampaikan penjelasan dan risalah dari Alloh.

Kesimpulannya bahwasannya Muhammad -semoga sholawat dan salam dari Alloh tercurah kepada beliau- adalah hamba Alloh, dan konsekwensi peribadahan ini tidak ada hak baginya sedikit pun dari perkara-perkara rububiyyah sama sekali.

Dan kalaulah Muhammad Rosululloh -semoga sholawat dan salam tercurah kepada beliau- demikian keadaannya, maka bagaimana sikapmu dengan hamba-hamba Alloh yang di bawah beliau?, Mereka tidak mampu memberikan mudharat dan manfaat pada diri mereka sendiri, tidak pula pada selainnya selamanya. Dengan demikian menjadi jelas bodohnya orang-orang yang menyeru orang-orang yang mereka klaim sebagai penolong-penolong selain Alloh -azza wa jalla-.

✔ Ucapan beliau: ورسوله (dan rasulNya). Ini juga sifat yang tidak boleh diberikan kepada seorang pun setelah Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- karena beliau adalah penutup para Nabi. Beliau adalah utusan Alloh yang telah sampai pada suatu tempat yang tidak dicapai seorang pun, bahkan juga tidak dicapai oleh para malaikat -sebagaimana yang kami ketahui-, kecuali para malaikat pemikul 'Arsy. Beliau sampai di atas langit ke tujuh, sampai kepada tempat terdengarnya suara pena-pena (penulis) taqdir yang Alloh -azza wa jalla- menetapkan (ketetapan-ketetapan) untuk hambaNya. Tidak ada seorang pun menurut pengetahuan kami yang sampai pada tingkatan ini. Dan Alloh -azza wa jalla- berbicara kepada beliau tanpa perantara. Alloh mengutus beliau kepada seluruh makhlukNya, dan menguatkan beliau dengan ayat-ayat yang agung yang tidak diberikan kepada manusia atau pun rasul-rasul sebelum beliau, yaitu Al Qur'an Al Adzim. Sesungguhnya Al Qur'an ini tidak ada bandingannya dengan mukjizat-mukjizat para nabi sebelumnya selamanya. Alloh ta'ala berfirman dalam masalah ini:
وَقَالُوا لَوْلا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَاتٌ مِنْ رَبِّهِ قُلْ إِنَّمَا الآياتُ عِنْدَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِم

Dan mereka (orang-orang kafir Mekah) berkata, ”Mengapa tidak diturunkan mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?” Katakanlah (Wahai Rusululloh), ”Mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Aku hanya seorang pemberi peringatan yang jelas. Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) yang dibacakan kepada mereka?" (QS Al-Ankabut: 50-51).

Ini cukup dari segala sesuatu, akan tetapi bagi orang yang memiliki hati atau orang yang mau mendengarkan sedangkan dia menyaksikan. Ada pun orang yang berpaling, maka dia akan berkata sebagaimana perkataan orang-orang sebelumnya: هذا أساطير الأولين (ini adalah dongeng orang-orang terdahulu).

Kesimpulannya: Bahwasannya Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam adalah Rasul Alloh dan penutup para nabi. Alloh menutup kenabian dan kerasulan dengan beliau juga, sebab kenabian telah tiada padahal kenabian ini lebih umum dari kerasulan, maka ketiadaan kerasulan lebih khusus lagi. Sebab ketiadaan yang umum mengharuskan ketiadaan yang khusus. Maka Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam adalah penutup para nabi.

Diterjemahkan oleh Abu Unais Lasmin pati dengan beberapa editan Ust Abu Said -hafidzahulloh-

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)