“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 03 Maret 2019

Siapakah Al-Firqatun Najiyyah?

✔Perkataan penulis:
"أماّ بعد؛ فهذا اعتقاد الفرقة الناجية المنصورة إلى قيام الساعة؛ أهل السنة والجماعة".
"Amma ba'du, ini adalah keyakinan Al Firqah(golongan) yang selamat dan ditolong (oleh Alloh) sampai tegaknya hari kiamat, Ahlus Sunnah wal Jama'ah".

Penjelasan امّا ini adalah pengganti dari isim syarat dan fi'ilnya. Taqdirnya: "bagaimana pun juga kondisinya". Ibnu Malik berkata:

أما كمهما يك من شيء وفا ... لتلو تلوها وجوباً ألفا
(artinya) اما seperti seperti "mahma yakun min syaiin" (apa pun kondisinya). Dan huruf fa' untuk diikutkan dan pengikutannya wajib dituliskan.

Maka perkataan mereka: amma ba'du taqdirnya adalah:
مهما يكن من شيء بعد هذا، فهذا
"Apa pun kondisinya setelah ini, maka inilah..."

Demikian pula, huruf fa' di sini sebagai penghubung bagi jawaban dan kalimat setelahnya pada posisi jazm sebagai jawab syarat. Dan menurutku memungkinkan makna "أما بعد، فهذا" yakni bahwa lafadz amma adalah huruf syarat dan tafshil (perincian) atau huruf syarat saja tanpa tafshil, sehingga taqdir (perkiraannya): "Adapun setelah menyebutkan ini, maka aku menyampaikan demikian dan demikian". Dan tidak ada pentingnya kami memperkirakannya dengan fiil syarat. Dan kami katakan, bahwa اما adalah huruf yang menggantikan kalimat.

✔ Perkataan penulis فهذا اعتقاد (maka ini adalah keyakinan). Lafadz فهذا (maka ini): penunjukkan yang mengharuskan kepada sesuatu yang ada. Tatkala saya berkata: "Ini..." maka saya menunjuk kepada sesuatu yang bisa diindra dan nampak. Di sini penulis menulis khotbah sebelum menulis kitab dan sebelum menyajikannya kepada khalayak umum. Bagaimana bisa?

Saya katakan: Para ulama mengatakan: Jika penulis menulis Kitab kemudian menulis muqaddimah dan khotbah maka yang disyaratkan kepadanya sesuatu yang ada dan bisa di indra dan tidak ada masalah dalam hal ini. Dan jika belum menulisnya maka penulis mengisyaratkan kepada apa yang ada dalam pikirannya tentang makna-makna yang akan dituliskannya di dalam kitab. Dan ada juga bentuk ketiga yaitu penulis berkata berdasarkan sudut pandang mukhotob (orang yang diajak bicara). Dan mukhotob tidaklah diajak bicara dengannya kecuali setelah kitab disebarkan dan diterbitkan. Seolah-olah dia berkata: "Kitab yang ada di hadapanmu ini isinya demikian dan demikian". Inilah ketiga kemungkinan tersebut.

✔ Kata اعتقاد 'i'taqada' adalah wazan افتعال dari العقد yaitu ikatan. Ini dari Sisi tasrif lughowi. Adapun dalam istilah menurut mereka yaitu hukum akal yang pasti. Dikatakan aku berkeyakinan seperti ini, yakni saya memastikan hal tersebut dalam hatiku. Itu adalah hukum akal yang pasti. Jika sesuai dengan kenyataan maka benar dan jika menyelisihi kenyataan maka fasad (salah). Kita berkeyakinan bahwasanya Allah adalah Ilah yang satu ini adalah shahih (benar), dan keyakinan Nasrani bahwa Allah adalah satu dari yang tiga, maka ini salah karena menyelisihi kenyataan. Dan bentuk pertaliannya dengan makna lughawi adalah jelas, karena hukum yang ada didalam hati terhadap suatu hal, seolah-olah ia terikat kepadanya yang mana tidak akan berpaling darinya.

Perkataan penulis: الفرقة Al Firqah, dengan mengkasrahkan huruf fa' bermakna thoifah (golongan). Alloh ta'ala berfirman:

فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ
"Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka". (QS At Taubah: 122).

Adapun furqoh, dengan mendhommahkan fa, maka ini diambilkan dari kata al iftiraq (perpecahan).

Dan الناجية "an najiyah" adalah isim fail dari نجا artinya selamat. Selamat di dunia dari bid'ah, dan selamat di akhirat dari api neraka.

Dan sisi pendalilannya bahwasannya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:
وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة، كلها في النار إلا واحدة" قالوا: من هي يا رسول الله؟ قال: "من كان على مثل ما أنا عليه وأصحابي
"Umatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu golongan". Shahabat bertanya: "Siapakah yang satu itu wahai Rasululloh?". Beliau bersabda: "Yaitu dia yang berada (pada agama) yang aku dan para shahabatku berada di atasnya"¹.

Hadits ini memberi penjelasan pada kita makna 'an-najiyah' (yang selamat). Maka siapa pun yang berada pada suatu agama yang Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan para shahabatnya di atasnya maka ia selamat dari bid'ah. Dan كلها في النار إلا واحدة (semuanya ada di dalam neraka kecuali satu): dengan demikian ia selamat dari api neraka. Keselamatan di sini, selamat dari bid'ah di dunia dan selamat dari neraka di akhirat.

Dan المنصورة إلى قيام الساعة (ditolong sampai datangnya hari kiamat). Penulis mengkabarkan hal itu sesuai dengan hadits, tatkala Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:

لا تزال طائفة من أمتي على الحق ظاهرين
"Senantiasa ada segolongan dari ummatku di atas al haqq(kebenaran) mereka menang"².

Makna dzuhur adalah intishor (tertolong), sebagaimana firman Alloh ta'ala:

فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ
"Lalu Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang". (QS Ash-Shof: 14).

Penolongnya adalah Alloh, para malaikatNya, dan kaum mukmin. Maka dia tertolong sampai datangnya hari kiamat. Mendapat pertolongan Robb Azza wa jalla, dari para malaikatnya, dan dari hamba-hambaNya yang beriman. Bahkan terkadang ditolong oleh jin. Jin menolongnya dengan menakut-nakuti musuhnya.

✔ Perkataan penulis إلى قيام الساعة artinya sampai datangnya hari kiamat. Ia ditolong sampai datangnya hari kiamat.
Di sini ada permasalahan, yaitu bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- mengkhabarkan hari kiamat terjadi kepada seburuk-buruk manusia ³. Dan bahwa hari kiamat tidak terjadi sampai tidak ada yang berucap: Alloh! Alloh!⁴ Maka bagaimana engkau mengkompromikan hal ini dengan perkataan: 'sampai datang hari kiamat?'

Jawab: dikatakan bahwa maksudnya adalah sampai dekat datangnya hari kiamat. Sebagaimana sabda beliau dalam riwayat lain:
حتى يأتي أمر الله
"Sampai datang urusan Alloh"⁵.

Atau Maksud 'الى قيام الساعة' yang lain, yaitu ajal mereka, atau kematian mereka, sebab orang yang mati artinya telah datang kiamatnya.

Akan tetapi pendapat pertama yang lebih dekat kepada kebenaran. Mereka ditolong sampai dekat dengan terjadinya hari kiamat. Kami membawakan penafsiran ini karena adanya dalil, dan penafsiran dengan dalil adalah diperbolehkan, sebab semuanya berasal dari sisi Alloh.

✔ Perkataan penulis أهل السنة والجماعة (Ahlus sunnah wal jamaah). Disandarkannya kepada sunnah sebab mereka berpegang teguh dengannya. Sedangkan Al Jamaah karena mereka berkumpul di atasnya. Jika dikatakan kepadamu: Bagaimana mengatakan: 'Ahlus sunnah wal jamaah', karena mereka ini jamaah, maka bagaimana bisa disandarkan sesuatu tersebut kepada dirinya?

Jawabnya: Berdasar asalnya kata jamaah bermakna ijtima' (berkumpul), ini adalah isim masdar. Ini menurut asalnya. Kemudian dinukilkan dari bentuk asal ini kepada suatu kaum yang berkumpul, dan berada di atasnya. Sehingga makna ahlus sunnah wal jamaah yaitu ahlus sunnah wal ijtima'. Mereka disebut ahlus sunnah sebab mereka berpegang teguh kepadanya dan bersatu di atasnya.

Oleh karenanya, firqah ini tidak berpecah belah sebagaimana perpecahan ahlul bid'ah. Kita mendapati ahlul bid'ah seperti Jahmiyyah mereka berpecah belah, Mu'tazilah berpecah belah, Rafidhoh berpecah belah, dan selainnya seperti ahlut ta'thil (meniadakan shifat Alloh) juga berpecah belah. Akan tetapi firqah ini bersatu di atas Al Haq. Meskipun terkadang terjadi beda pendapat di antara mereka, dengan perbedaan pendapat yang tidak memudharatkan. Perbedaan pendapat yang tidak menjadikan sesat antara satu dengan lainnya. Yakni, bahwasannya dada-dada mereka merasa lapang dengannya. Mereka bukan berselisih dalam permasalahan-permasalahan yang terkait aqidah. Misal: Apakah Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- melihat Rabb-nya dengan kedua matanya ataukah tidak? Dan misalnya juga: Apakah adzab kubur menimpa jasad dan ruh, atau menimpa ruh saja? Dan semisal permasalahan yang mereka perselisihkan. Akan tetapi ini permasalan-permasalahan yang terhitung far'iyyah(cabang) dari segi ushul, dan bukan permasalahan ushul. Kemudian, bersamaan dengan hal itu, apabila mereka berselisih pendapat, tidak menyesatkan antara mereka, berbeda dengan ahlul bid'ah. Dengan demikian, mereka berkumpul di atas sunnah, merekalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Dan dapat dipahami dari perkataan penulis -rahimahulloh- bahwa tidak termasuk dalam kelompok ini orang yang menyelisihi jalan mereka. Al-Asyairoh misalnya, dan Al Maturidiyyah, mereka tidak terhitung ahlus sunnah wal jamaah dalam permasalahan ini, sebab mereka menyelisihi metode yang dijalani oleh Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan para shahabatnya di dalam memberlakukan shifat-shifat Alloh -subhanahu wa ta'ala- sesuai hakekatnya.

Oleh karenanya, tidak benar orang yang berkata: Sesungguhnya Ahlus Sunnah wal Jamaah ada 3 yaitu: Salafiyun, Asy-'ariyun dan Maturidiyun, ini salah!!
Kami katakan: Bagaimana mungkin semuanya Ahlus Sunnah padahal mereka berbeda-beda?! Maka, bukankah setelah kebenaran itu kecuali kesesatan?! Dan bagaimana mungkin semuanya Ahlus Sunnah padahal antara satu dengan yang lain saling bertentangan?! Ini tidaklah mungkin, kecuali jika memungkinkan berkumpulnya dua hal yang bertolak belakang. Na'am. Jika tidak, maka tidak diragukan lagi bahwa salah satunya adalah yang ahlus sunnah. Maka siapa dia? Al Asy-ariyah, Maturidiyyah, ataukah salafiyyah? Kami katakan: Barang siapa yang sesuai dengan sunnah, maka dialah Ahlus sunnah. Dan barang siapa yang menyelisihi sunnah maka dia bukanlah Ahlus Sunnah. Kami katakan: As Salaf adalah Ahlus Sunnah wal jamaah.

Dan tidaklah benar pensifatan kepada selain mereka selamanya. Dan ucapan dilihat menurut hakikatnya. Agar kita melihat, bagaimana kita bisa memberikan julukan orang yang menyelisihi sunnah dengan Ahlus Sunnah? Tidak mungkin. Dan mana mungkin kita mengatakan tiga kelompok yang berbeda bahwasannya mereka ini bersatu? Persatuan macam mana? Ahlus sunnah wal jamaah adalah as Salaf secara aqidah, sampai yang terakhir menjelang hari kiamat. Apabila di atas sunnahnya Nabi shollallohu alaihi wa sallam dan para shahabatnya maka dia adalah seorang salafy.

==============
Catatan kaki:
1. Diriwayatkan At Tirmidzi (2641) Kitabul Iman, Bab Ma jaa'a fi iftiroqi hadzihil ummah. Al-Lalikai dalam Syarhus Sunnah 147. Al Hakim (1/129). Al-Ajuriy (15 & 16) dari hadits Abdulloh bin 'Amr -radhiyallohu 'anhuma- dengan sanadnya terdapat Abdurrahman bin Ziyad an'am Al Ifriqy yang dia dhoif karena buruk hafalannya. Akan tetapi hadits ini ada syahid dari Anas -radhiyallohu 'anhu- yang dikeluarkan At-Thobrony dalam Ad-Dhoghir (724) dan Al Uqaily dalam Ad-Dhu'afa'(2/262) sehingga terangkat menjadi hasan.

2. Diriwayatkan sejumlah shahabat -radhiyallohu 'anhum-, ini adalah hadits mutawatir, sebagaimana sebagaimana yang dikatakan: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam "Iqtidhaus Shirath" (1/69), Al Kitany dalam "Nadzmul Muntanashir" (94), AzZabidy dalam "Luqatul Laly al Muntanatsir" p68), Al Albany dalam Sholatul Idain (hal 39-40). Dikeluarkan Imam Bukgari dalam kitabul Manaqib/ bab sualul Musyrikina an yariyahumun Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam Ayah. Muslim dalam kitabul Imarah bab qouluhu shollallohu 'alaihi wa sallam " La tazalu thoifah..."

3. Diriwayatkan Muslim (2949) dari Abdulloh bin Mas'ud -radhiyallohu 'anhu- dalam 'kitabul fitan' bab 'qurbis sa'ah'.

4. Diriwayatkan oleh Muslim 148 dari Anas bin Malik -radhiyallohu 'anhu- dalam kitab Al-Iman bab dzahaabul Imani fi akhiriz zaman.

5. Diriwayatkan Al Bukhari 7312 dan Muslim 1920.

Diterjemahkan oleh Abu Unais Pati dengan beberapa editan dari Ust Abu Said -hafidzahulloh

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)