“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Jumat, 08 Maret 2019

Penetapan Shifat Alloh Tanpa Tahrif, Ta'thil, Takyif dan Tamtsil - bag 6

Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:

إن الله خلق آدم على صورته
"Sesungguhnya Alloh menciptakan Adam dengan gambaran(bentuk)Nya"¹
dan gambaran menyerupai bentuk aslinya. Dan tidak masuk akal jika suatu gambaran tidak menyerupai aslinya. Aku tulis untukmu sebuah tulisan, kemudian aku masukkan ke foto copy lalu keluar tulisan tersebut. Lalu dikatakan: Ini adalah gambaran yang ini (aslinya). Tidak ada beda antara huruf-huruf dan kalimat-kalimatnya. Sebuah gambaran mirip dengan yang digambar.

Orang yang mengatakan : "Sesungguhnya Alloh menciptakan Adam dengan gambaran(bentuk)Nya" adalah Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- (orang yang) paling mengetahui, paling benar, dan paling semangat memberikan nasehat, dan orang yang paling fasih.

Jawaban Mujmal kami katakan: Tidak mungkin akan bertentangan hadits ini dengan firman Alloh ta'ala:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa denganNya" (Asy-Syura': 11).
Jika Alloh memudahkanmu untuk mengkompromikan, maka kompromikanlah. Namun jika tidak maka katakanlah:
آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا
"Kami beriman dengannya. Semua daru sisi Rabb kami" (QS Ali Imran: 7). Aqidah kita bahwa tiada yang sebanding dengan Alloh. Maka dengan ini engkau tunduk di hadapan Alloh azza wa jalla.

Ini kalam Alloh dan ini sabda RasulNya. Dan semuanya benar. Tidak mungkin satu dengan yang lainnya saling mendustakan sebab seluruhnya adalah khabar dan tidak ada hukum yang diganti. Maka saya katakan: Ini adalah peniadaan sesuatu yang semisal dan penetapan terhadap gambaran (bentuk). Maka katakanlah: Sesungguhnya Alloh tiada yang sebanding denganNya, dan Alloh menciptakan Adam dengan gambaran (bentukNya). Ini adalah ucapan Alloh dan ucapan RasulNya. Semuanya benar dan kita mengimaniNya. Dan kita katakan: Semua dari sisi Rabb kami dan kami diam (dari membicarakannya) dan ini adalah puncak yang kami mampu.

Adapun jawaban terperincinya kita katakan: Sesungguhnya yang mengatakan "Sesungguhnya Alloh menciptakan Adam dengan gambaran (bentuk)Nya adalah Rasul yang mengatakan :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa denganNya" (Asy-Syura': 11).
Dan Rasulululloh tidak mungkin mengucapkan sesuatu yang mendustakan Alloh yang telah mengutusnya. Dan Beliau yang mengucapkan "Alloh menciptakan Adam dengan gambaran (bentuk)Nya" adalah dia yang mengucapkan:
إن أول زمرة تدخل الجنة على صورة القمر
"Sesungguhnya golongan pertama yang masuk surga seperti rembulan"².
Apakah engkau beranggapan bahwa mereka yang masuk surga bagai rembulan itu mirip secara mutlak? Atau engkau berkeyakinan bahwa mereka dalam bentu manusia akan tetapi dengan kecemerlangannya, kebagusannya, keindahannya, bersinarnya wajah dan yang semisalnya menyerupai rembulan, tidak mirip secara mutlak? Jika engkau meyakini yang pertama maka mengharuskan bahwa mereka masuk surga tanpa memiliki mata, tanpa hidung dan tanpa mulut!! Jika kita mau, bisa kita katakan: Mereka masuk surga sedangkan mereka seperti bebatuan. Jika engkau berpendapat dengan yang kedua maka hilanglah masalahnya. Dan menjadi jelaslah bahwa tidak harus bahwa sesuatu yang menyerupai sesuatu yang lain itu mestilah sama persis dari semua sisi. Jika pemahamanmu menolak dan tidak bisa menerima ini, dan berkata: "Saya tidak bisa memahami hal ini kecuali bahwa maknanya adalah serupa"

Kita katakan: Di sana ada jawaban yang lain, yaitu bahwasannya penyandaran di sini adalah penyandaran makhluk kepada penciptanya. Perkataan beliau: "Dengan bentukNya" sebagaimana firman Alloh ta'ala dalam penciptaan Adam:
وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي
"Aku meniupkan ruh (ciptaan)Ku kepadanya" (Shad: 72)
Tidak mungkin Alloh bahwa Allah -azza wa jalla- memberikan kepada Adam bagian dari ruh diriNya. Justru maksudnya ruh yang diciptakan Alloh -azza wa jalla-. Akan tetapi penyandarannya kepada Alloh secara khusus adalah sebagai pemuliaannya sebagaimana kita katakan: Hamba Alloh, mencakup orang kafir, muslim, mukmin, syahid, As-Shiddiq, dan Nabi. Akan tetapi jika kita katakan: Muhammad hamba Alloh, maka ini penyandaran secara khusus bukan seperti hamba yang sebelumnya.

Maka ucapan beliau: "Alloh menciptakan Adam dengan gambaran (bentuk)Nya" yaitu dari salah satu gambaran/bentuk yang diciptakan dan dibentuk Alloh. Sebagaimana firman Alloh -ta'ala-:
وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ

"Dan sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)mu, kemudian Kami berfirman kepada para malaikat, “Bersujudlah kamu kepada Adam,” (QS Al-A'raf:11)
dan yang dibentuk adalah Adam, dengan demikian Adam adalah bentukan (ciptaan) Alloh. Yaitu bahwa Alloh adalah yang membentuknya dengan bentukNya yang terhitung sebagai sebagus-bagus bentuk makhluk:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya" (QS At-Tiin: 4).
Penyandaran kepada Alloh yaitu bentuk (ciptaan)dariNya adalah sebagai pemuliaan, seakan-akan Allah -azza wa jalla- benar-benar memberikan perhatian kepada bentuk (Adam) ini. Oleh karenaNya jangan memukul wajah yang dengannya engkau telah mencela fisiknya. Dan janganlah engkau menghinanya dengan mengatakan: 'Semoga Alloh memburukkan wajahmu dan wajah yang seperti wajahmu' yang dengannya engkau telah mencelanya secara makna karena ia adalah bentuk yang telah Alloh ciptakan dan Alloh sandarkan kepada diriNya sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan. Oleh karenanya jangan engkau mencelanya dengan celaan secara fisik maupun maknawi.

Kemudian, apakah jawaban ini termasuk tahrif(merubah makna) atau penyerupaan?
Kita katakan: Penyerupaan. Sebagaimana dalam ucapan: baitulloh, unta Alloh dan hamba Alloh, sebab bentuk ini -yakni bentuknya Adam-terpisah dari Alloh. Dan setiap sesuatu yang disandarkan Alloh kepada diriNya dan terpisah dariNya, maka dia termasuk makhlukNya. Dengan demikian menjadi hilang keruwetannya.
Namun jika ada orng yang berkata: mana yang lebih selamat, makna awal atau makna kedua? Kita katakan: Makna yang pertama lebih selamat. Selama kita mendapati bahwa dzahir bisa lafadz diterima dalam bahasa Arab dan memungkinkan masuk di akal, maka wajib membawa ucapan kepada dzahirnya. Dan kita dapati bahwa suatu bentuk serupa tidak mengharuskan mirip dengan bentuk yang lain. Oleh karenanya yang lebih selamat kita membawanya kepada makna dzahirnya.

Jika dikatakan kepadamu: Gambaran apa yang ada sisi kesamaan antara Alloh dan Adam?
Kita jawab: Sesungguhnya Alloh 'azza wa jalla memiliki wajah, mata, tangan dan kaki, namun tidak mengharuskan hal ini memiliki keserupaan (dari segala sisi) dengan manusia. Di situlah letak persamaannya, namun tidak dalam bentuk yang sama persis. Sebagaimana golongan pertama dari penduduk surga ada persamaan dengan rembulan, akan tetapi tidak sama (dari segala sisi). Dengan demikian benarlah pendapat yang dipegangi Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa seluruh sifat Alloh tidak ada persamaan dengan sifat makhluk-makhlukNya.

Kita banyak menyimak dari kitab-kitab yang kita baca mengistilahkan tasybih (penyerupaan). Mereka menyebutnya dengan tasybih sedangkan yang mereka maksud adalah tamtsil. Mana yang lebih sesuai, kita mengungkapkannya dengan tasybih ataukah tamtsil?
Kita katakan, dengan istilah tamtsil lebih layak.

Pertama: Karena al Qur'an mengungkapkan dengan kata ini:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
"Tiada sesuatu pun yang serupa dengannya" (Asy-Syura': 11),
فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَاداً
"Maka janganlah engkau menjadikan tandingan bagi Alloh" (QS Al Baqarah: 22)
dan yang semisalnya.
Setiap istilah yang dipilih oleh Al Qur'an maka itu lebih baik dari pada selainnya sebab kita tidak menjumpai perkataan yang lebih fasih dari pada Al Qur'an, dan lebih menunjukkan kepada makna yang dimaksud dari pada Al-Qur'an. Dan Alloh lebih tahu tentang apa yang Dia kehendaki dari kalamNya. Maka sesuai dengan Al-Qur'an itulah yang lebih tepat, sehingga kita mengungkapkannya dengan: meniadakan tamtsil. Demikianlah di seluruh pembahasan, sesungguhnya sesuai dengan nash dalam masalah lafadz lebih utama dari pada menyebutkan lafadz sinonim atau yang mendekati maknanya.

Kedua: Bahwasannya tasybih menurut sebagian ulama adalah menetapkan sifat, sehingga Ahlus Sunnah dijuluki musyabihah. Jika kita katakan: tanpa tasybih, sedangkan ada orang yang tidak paham tentang tasybih kecuali penetapan sifat sehingga seolah-olah kita berkata kepadanya: Tanpa menetapkan sifat ! Jadi makna tasybih menimbulkan pengertian yang rusak.Oleh karenanya adil dalam masalah ini lebih utama.

Ketiga: Bahwa meniadakan tasybih (keserupaan) secara mutlak adalah tidak benar, sebab tidaklah ada di antara dua hal dari suatu dzat atau shifat kecuali ada di antara keduanya persamaan dari sebagian sisinya. Adanya persamaan adalah jenis dari tasyabuh. Seandainya engkau menafikkan keserupaan secara mutlak niscaya engkau meniadakan setiap persamaan yang ada pada Kholik dan makhluk dalam segala hal.
Misalnya: wujud (ada). Sama secara asal antara Kholik dan makhluk ini adalah jenis persamaan dan jenis tasyabuh, namun berbeda di antara dua sifat wujud ini. Wujud Kholik adalah keharusan sedangkan wujud makhluk tidak demikian.
Demikian pula pendengaran, padanya terdapat persamaan. Manusia memiliki pendengaran dan Kholik juga memiliki pendengaran, namun keduanya berbeda. Akan tetapi adanya pendengaran ada kesamaan (antara Kholik dan Makhluk).
Jika kita katakan tanpa tasybih, dan kita mutlakkan tanpa tasybih maka menjadi rancu masalahnya.

Dengan demikian maka kita mengetahui bahwa ungkapan dengan tamtsil lebih tepat berdasarkan tiga tinjauan ini.

Jika ditanyakan kepadamu: Apa perbedaan antara takyif dan tamtsil?

Jawabnya: Perbedaan antara keduanya dari dua sisi:
Pertama: Bahwa tamtsil menyebutkan sifat dengan terikat pada sesuatu yang semisal. Engkau katakan tangan Fulan seperti tangannya fulan. Sedangkan takyif menyebutkan sifat tanpa mengaitkan dengan sesuatu yang semisal. Misal engkau katakan: tangan fulan bentuknya seperti ini dan itu.
Dengan demikian kita katakan: Setiap pelaku tamtsil adalah pelaku takyif, dan tidak sebaliknya.

Kedua: Bahwa takyif tidaklah terjadi kecuali pada sifat dan keadaan. Sedangkan tamtsil bisa terjadi pada dua hal tersebut dan juga bisa pada jumlah. Sebagaimana dalam firman Alloh ta'ala:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ

Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa". (QS At-Tholaq: 12) yakni pada jumlahnya.

Note:

1. Diriwayatkan Al Bukhari (6227), mUSLIM (2612) dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu-
2. Diriwayatkan Al Bukhari (3254) dan Muslim (2834) dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu-.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)